Pasukan Gajah Majapahit, Benar Ada? - CocokPedia
Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pasukan Gajah Majapahit, Benar Ada?



Pasukan Gajah Majapahit, Benar Ada? Gajah Mada berdiri tegap di tengah-tengah rakyat Majapahit dan dengan lantang mengucapkan sumpahnya. "Jika aku telah mengalahkan Nusantara, aku (baru akan) melepaskan puasa. Jika aku telah mengalahkan Gurun, Seram, Tanjung Pura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, demikianlah aku (baru akan) melepaskan puasa." Artinya selama belum menyatukan dan mengalahkan kerajaan-kerajaan lain di dunia, maka ia tidak akan berhenti berperang.

Kemudian dengan lantang pula ia mengingatkan, ”Aku Gajah Mada, memerintahkan kepada seluruh keluarga besar kerajaan dan rakyat Majapahit, tolong dengarkan baik-baik dan camkan! Sampaikan kepada keluarga dan anak-anak cucu kalian bahwa Majapahit besar bukan karena Gajah Madanya, Majapahit besar bukan karena raja dan kekuatannya, tapi Majapahit juga besar karena pasukan Gajahnya.” Suara Gajah Mada lantang, membumi, memekik setelah memproklamasikan Sumpah Palapa.

Pernyataan dan Sumpah Palapa tersebut dikumandangkan setelah memenangkan perang terhadap Kerajaan Siam, yang sekarang bernama Thailand. Kemenangan Majapahit membawa perubahan besar terhadap kemajuan kerajaan Majapahit. Beberapa bidang berkembang dengan pesat. Di antaranya, kian majunya bidang perdagangan, bidang pertahanan dan strategi perang, serta yang tak kalah pentingnya adalah bidang kesenian dan kebudayaan.


Oleh-oleh kemenangan atas Siam, pasukan Majapahit membawa banyak rampasan perang antara lain 300 ekor Gajah Putih, beberapa ilmuan perang gerilya, beberapa ahli bidang ilmu seni dan budaya, dan seperangkat gamelan. Kekalahan Siam tanpa banyak korban jiwa. Beberapa hari pertempuran telah membuat Raja Siam menyerah dan tunduk di bawah kekuasaan kerajaan Majapahit. Raja dan permaisuri Siam serta beberapa keluarga dan pejabat tinggi kerajaan selamat. Kemenangan kerajaan Majapahit atas Siam diabadikan dalam prasasti bernama “P̣hāy tı̂ r̀āngkāy læa cit wiỵỵāṇ” (dalam bahasa Wannayuk, Thai) yang artinya tunduk jiwa dan raga demi kejayaan Majapahit.

Gajah Putih hasil rampasan perang dari Siam merupakan aset yang sangat berharga bagi Majapahit. Gajah Mada dengan pasukan Bhayangkaranya telah mengantarkannya menjadi mahapatih kerajaan Majapahit yang paling ditakuti oleh kerajaan mana pun. Ke-300 gajah putih tersebut menjadi bagian penting dari pasukan Bhayangkara. Pasukan gajah putih selalu dalam posisi terdepan dalam pasukan. Selalu menjadi penghancur utama kekuatan musuh.

“Seandainya Gajah Mada tidak berinisiatif untuk membawa kawanan gajah putih itu, tak mungkin kita mempunyai gajah di masa depan!” tutur Tribuwana Tunggadewi kepada para keluarga istana. Kemudian ia melanjutkan, “Gajah di masa mendatang akan menjadi simbol kekuatan, kebesaran, kejayaan, dan tangguhnya peperangan. Suatu hari nanti akan kuciptakan sebuah alat permainan strategi perang yang di dalamnya ada unsur raja, permaisuri, mahapatih, menteri, kuda, benteng, dan prajurit pada sebuah papan permainan.”

“Apakah nama alat permainan itu, prabu?” salah seorang kerabat istana bertanya.
“Entah akan kita beri nama apa permainan itu nanti, yang jelas siapa pun yang ahli dalam permainan itu akan menjadi menteri atau mahapatih yang ulung dan cerdas dalam strategi peperangan.” Hebatnya keistimewaan gajah tersebut memberikan kekuatan besar pada kerajaan Majapahit memperbesar wilayah kekuasaannya. Seperempat bagian bumi tunduk patuh di bawah kekuasaan Majapahit.

Kejayaan Majapahit kemudian, beralih kepada raja berikutnya yakni Hayam Wuruk. Pada masa Hayam Wuruk perihal gajah ini lebih berkembang lagi keistimewaannya. Gajah pada masa itu kemudian menjadi menjadi simbol kerajaan, arca, dan stempel bahkan bendera pleton pasukan kerajaan. Gajah juga menjadi nama para menteri, para patih, menjadi lima patok kerajaan Majapahit yang tersebar di lima wilayah yaitu patok Sadeng, patok Ujung Galuh (sekarang Surabaya), patok Singasari, Tumapel, Doho (Kediri), dan kelima yang merupakan pancernya adalah di Trowulan, pusat kerajaan Majapahit.

Kelima patok tersebut merupakan tiang besar tempat menyancang gajah. Kelimanya merupakan simbol keistimewaan angka 5. Patok-patok tersebut juga sebagai tetenger atau tanda bahwa kerajaan Majapahit tidak akan pernah tergeser oleh kekuatan apa pun. Sosok gajah juga kemudian dijadikan lambang pada prasasti-prasasti yang diterbitkan oleh kerajaan Majapahit secara resmi. Demikianlah tutur yang disampaikan Hayam Wuruk.

Nama besar Gajah Mada dengan pasukan gajah dan Bhayangkaranya lebih lantang terdengar dan terkenal dibanding dengan raja Majapahit. Gajah Mada dan Hayam Wuruk menjadi awal sejarah perseteruan dari kalangan internal kerajaan Majapahit. Dimulailah peperangan antar saudara yang merubuhkan lima patok cancangan gajah. Banyak pemberontakan terjadi dipicu dari dalam istana. Pemberontakan Ronggolawe, pemberontakan Ra Kuti, dan pemberontakan Lembu Sora.

Pemberontakan oleh Lembu Sora inilah yang akhirnya menenggelamkan keistimewaan gajah yang melekat pada nama Gajah Mada dan gajah yang menjadi patok kekuatan kerajaan Majapahit di lima wilayah. Walaupun perang adu kekuatan tetap dimenangkan Gajah Mada selaku mahapatih kerajaan Majapahit, tapi perang secara supranatural telah dimenangkan oleh Lembu Sora.

Saat mahapatih Gajah Mada menancapkan sebilah keris tepat di dada Lembu Sora, maka saat itulah Lembu Sora mengutuk Majapahit dan Gajah Mada dengan kutukan. “Seksenono yo, poro danyang sing mbaurekso gunung Kelud iki yen Kelud njeblug Blitar bakale dadi latar, Tulungagung bakale dadi kedung, Kediri bakale dadi kalim Sidokare (sekarang bernama Sidoarjo) bakale dadi rowo, lan Ujung Galuh (Surabaya) mbalik nyang asale.” Yang artinya: “Saksikan ya, para lelembut yang menguasai gunung Kelud. Kelak ketika gunung Kelud meletus, Blitar akan menjadi pelataran; Tulungagung akan menjadi danau; Kediri menjadi kali; Sidokare menjadi rawa. Ujung Galuh kembali ke asalnya.”


BACA JUGA YANG SEHUBUNGAN DENGAN GAJAH:

Pada masa itu, hanya ada dua kerajaan besar yang ditakuti dunia, yakni kerajaan Majapahit dan Tiongkok, Cina. Namun, sejak kutukan Lembu Sora, lima patok cancangan gajah, seperti yang disebutkan Lembu Sora, runtuh. Kejayaan Majapahit yang ratusan tahun, runtuh dalam lima tahun dalam perang Paregreg. Dan Majapahit yang besar, akhirnya jatuh lumpuh dengan berdirinya kerajaan Demak.

Posting Komentar untuk "Pasukan Gajah Majapahit, Benar Ada?"

  • Bagikan