Ngamen Gratis, Mekso Karepmu! - CocokPedia
Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Ngamen Gratis, Mekso Karepmu!


“Ngamen gratis, mekso karepmu!” begitu tulisan yang dibaca anakku tepat di pagar rumah yang kami lewati. Anakku berpendapat itu hal yang kasar dan kejam. Entah karena alasan malas membawakan rejeki si pengamen, membuka pintu rumah, menuju pagar, dan menyerahkan rejekinya; atau memang sebenarnya pelit sekeluarga dan merasa hartanya terbebas dari hak milik orang lain. Begitu kira-kita aku memberikan penjelasan yang singkat.


“Semestinya, tidak seharusnya begitu, ya Yah?” anakku sepertinya menyesalkan.
Aku hanya mengiyakan dengan sedikit rasa humor kulanjutkan begini. Seharusnya di pintu pagar itu dibuatkan kotak dengan tulisan, “Pengamen, silakan ambil seribu rupiah saja hari ini saja!” Sediakan saja misalnya sepuluh ribu rupiah dengan pecahan seribuan. “Gimana kalau pengamennya tidak jujur, Ayah? Dan mengambil semua uangnya.” Ya, biarkan saja. Berarti si pengamen tidak jujur atas rejekinya. Dia mengambil rejeki si pengamen lainnya. Kalau si pemilik rumah berpikiran dan berprasangka seperti itu, berarti tidak ikhlas.


“Terus kalau uangnya sudah habis gimana? Kan kasihan pengamen lain jadi kecewa setelah merogoh kotaknya?” iya juga sih. Biarlah, Nak! Yang penting kita tidak boleh melakukan seperti itu. Tidak ada salahnya kita bilang maaf kepada mereka jika kita memang tidak berniat dan berminat memberikan sebagian kecil rejeki kita. Sebenarnya eman lho, kita memberi sedikit rejeki kita selain mendapatkan pahala, kita juga dapat banyak hal.


“Contohnya apa, Yah?”


Contohnya, kita akan diberikan rejeki sehat. Kita akan jarang sakit. Kita juga akan dipanjangkan umur oleh Tuhan. Dan satu hal lagi, si pengamen itu mendoakan kita. Pasti doa yang baik-baik. Enak, kan? Hanya dengan bermodal seribu atau dua ribu, kita sudah mendapatkan doa gratis.

“Gimana kalau pengamen hanya berdoa tidak dari hati, hanya sekedar menghibur kita, Ayah?”

Tidak masalah, Anakku. Doa pura-pura dari mereka juga didengar Tuhan, kok. Itu pasti. Makanya, kita kudu hati-hati dalam berdoa, karena doa dalam keadaan bergurau pun Tuhan bisa saja kabulkan. Masih ingat cerita Ayah tentang seorang yang tekun ibadah dan berdoa agar bisa makan setiap hari tiga kali tanpa harus repot-repot bekerja? “Pasti, Ayah, aku selalu mengingatnya. Dan orang yang berdoa itu akhirnya masuk penjara, kan? Dan bisa makan tiga kali sehari tanpa bekerja!”

Betul, betul. Kami pun tertawa. Anakku cerdas. Semoga kamu jadi cahaya mata dan hati keluarga, Nak. Doaku dalam hati.

“Yah, gimana kalau kita memberi pengamen sesuatu tapi kita tidak ikhlas? Misalnya orang yang punya rumah tadi itu, kadung buat kotak dengan isi sepuluh ribu setiap hari. Tapi karena banyak pengamen yang tidak jujur, si pemiliki rumah akhirnya tidak ikhlas. Apakah akan dapat pahala?” Pahala sih, mungkin tidak ya, tapi Tuhan akan mengganti apa yang mereka keluarkan sebanyak uang yang mereka berikan kepada si pengamen. Tidak ada bonus. Tidak lebih. Seandainya ia ikhlas, pasti banyak bonusnya.


“Terus, sekarang kan banyak pengemis, Yah. Gimana kalau seandainya mereka sebenarnya kaya raya? Apakah Tuhan akan tetap memberikan pahala kepada kita?” Ketika mereka menadahkan tangan, berarti mereka termasuk orang-orang yang tangannya di bawah. Kita tangan di atas atau yang memberi. Apapun yang kita berikan kepada mereka dengan ikhlas sekecil apapun akan tercatat sebagai amal, Nak. Tuhan akan melipatgandakan pahalanya. Kita akan dapat banyak bonus. Transaksi dengan Tuhan tidak pernah ada ruginya. Yakinlah!



“Baiklah, Ayah!”

Posting Komentar untuk "Ngamen Gratis, Mekso Karepmu!"

  • Bagikan