Kertas Sakti (bukan Kera Sakti) - CocokPedia
Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kertas Sakti (bukan Kera Sakti)


Tanpa salam, Karnos langsung duduk di ruang tamu. Ibu mertuanya muncul dengan sapaan khasnya. “Ada apa menginjakkan kaki di rumah ini lagi?” sapaan itu bagi Karnos sudah biasa. Mungkin bagi orang yang bukan Karnos tidak sehat dan menyakitkan. Bagi Karnos sapaan seperti itu terdengnar seperti ucapan selamat pagi, selamat siang, atau hi, how are you. Bayangkan saja,  seorang mertua perempuan dengan hanya berdiri tanpa memandang dengan posisi badan menyamping dari wajah Karnos menyapa dengan ‘sangat lembut.’ Tapi, yang menghadapinya ini Karnos. Orang yang sudah kenyang diperlakukan seperti itu. Sambil merokok dengan kaki masih jigang, Karnos menyambut sapaan mertua perempuannya.
          “Bapak ada?”
“Untuk apa mencari Bapak?” sahutnya masih sangat ‘lembut.’
“Saya ada perlu dengan Bapak!”
“Ada perlu apa lagi? Kan sudah clear?”
“SAYA ADA PERLU DENGAN BAPAK!!!” Suara Karnos mulai digas sehingga istri Karnos pun keluar begitu pula dengan mertua laki-laki yang dipanggilnya Bapak.
“Ayah ada apa?” Istri Karnos bertanya dengan lembut mencoba mendinginkan kulit suaminya.
Belum sempat dijawab pertanyaan istrinya, mertua laki-laki itu pun menanyakan kalimat yang sama. ADA APA, tapi dengan nada tiga oktaf. Sang mertua laki-laki duduk berhadapan dengan Karnos. Gaya duduk dan raut wajahnya seperti orang yang menantang.  Dadanya melengkung ke atas dan dagunya terangkat.

Cerpen,fiksi,short story,kartu keluarga,kk,how are you,clear,nada,oktaf,kecamatan,kelurahan,surat resmi,rokok,cerai mati,catatan sipil,kronologis,pidana,moord,

Karnos melempar selembar Kartu Keluarga (KK) ke meja ke arah mertuanya. “Saya Cuma mau bertanya apa benar apa yang tertulis di situ?”
Tanpa melihat kertas yang tergeletak di meja sang mertua menjawab, “Apanya yang salah? Semua benar!”
“Coba lihat lagi yang jelas pada kolom terakhir! Apa benar begitu?” Karnos setengah memaksa.
Dengan sangat terpaksa juga karena penasaran sang mertua membaca KK yang dilempar Karnos tadi, tapi tetap menjawab SEMUA SUDAH BENAR. “Sudah, benar?” Karnos mengulang dan mempertajam intonasi.
“Iya, apanya yang salah?”
“Baik, kalau semua itu benar, mulai detik ini saya minta Bapak memberikan surat resmi kematian saya!”
“Lho, ada apa Ayah?” tanya istri Karnos kaget dan raut wajahnya mengkerut seketika.
“Kamu belum lihat atau pura-pura tidak tahu?”
“Benar Ayah, aku tidak mengerti. Ada apa?”
“Coba baca KK itu!”

KK itu diambilnya dari tangan bapaknya dan ia pun langsung menangis.
Tanpa menghiraukan air mata sang istri, Karnos melanjutkan pembicaraan dengan sang mertua. “Bapak saya beri waktu satu hari mulai detik ini untuk membuat surat resmi atas kematian saya sesuai dengan yang tertulis di KK itu. Kalau tidak, Bapak saya tuntut telah mencemarkan nama baik dan telah dengan sengaja membunuh saya hidup-hidup!”
Sang mertua tampak gelisah. Mungkin juga lagi cari akal untuk menjawab pertanyaan menantunya. Istri Karnos masih menangis sambil memegangi tangan suaminya. Tidak sepatah kata pun lagi keluar dari mulutnya. Sang mertua perempuan juga diam sehingga suara yang ditunggu-tunggu hanya dari mertua laki-laki.
“Bapak tadi bilang bahwa semua yang tercantum di KK itu benar. Jadi kapan pastinya saya mendapatkan surat resmi kematian saya?”
“Ini kesalahan ketik pihak kelurahan!”
“Tidak mungkin Pak. Sebelum saya ke sini menanyakan kepada Bapak, saya sudah ke pihak kelurahan. Saya juga sudah bertemu dengan pihak kecamatan. Bahkan saya juga telah menemui pihak catatan sipil bahwa Bapak yang mengusulkan perubahan KK itu. Dan saya tahu betul tulisan itu tulisan Bapak. Apa perlu saya datangkan orang-orang kelurahan?”
“Tidak mungkin, ini pasti salah ketik!”
“Tidak bisa, Pak. Bapak orang berpedidikan dan lebih dewasa dari saya. Masak tidak bisa membaca dan menulis dengan jelas ketika mengusulkan perubahan KK? Dan orang-orang kelurahan juga kecamatan saya  kira bukan orang yang bodoh yang mengetik usulan Bapak dengan terpejam.”
“Saya beri Bapak waktu sampai besok pada jam yang sama dengan sekarang. Bapak harus sudah menyiapkan surat resmi kematian saya. Wassalam!” Karnos langsung pergi dengan tidak lupa mengambil sebungkus rokok yang ia letakkan di meja tadi.
“Ayah,” istri Karnos masih berlinang air mata. Ia menarik tangan Karnos, tapi tak mampu menahannya pergi.
Ternyata, dalam KK itu status istri Karnos adalah CERAI MATI. Wao! Ini bukan sebuah cerita fiktif. Ini benar-benar terjadi. Bahwa di dunia ini, ada manusia yang berani membuat status manusia lainnya menjadi MATI. Bahwa di dunia ini, ada seorang manusia yang begitu tega mencerai anak dan menantunya. Tapi aneh juga ya? Mengapa pihak kelurahan atau kecamatan tidak meminta surat resmi kematian Karnos? Menurut Karnos, orang kelurahan bilang mertuanya meminta segera dibuatkan untuk persyaratan kuliah anaknya. Mertuanya juga bilang sehari sesudah itu akan disusulkan surat resmi kematian Karnos. 

Mari kita analisis. Dapatkah hal itu dibenarkan secara akal dan hukum? Sepertinya tidak mungkin pihak kelurahan menerbitkan perubahan KK tanpa bukti fisik surat resmi kematian. Kecuali: satu, pihak kelurahan telah mendapat angpau. Dua, mereka mempunyai hutang jasa yang tak mungkin terbayar kepada sang mertua Karnos. Tiga, mereka sangat bodoh tidak tahu tentang aturan tapi kalau mereka bodoh apa mungkin menjadi pejabat kelurahan? Kalau ternyata jawabannya seperti nomor satu, berarti pihak kelurahan, kecamatan, dan catatan sipil daerah semua mendapat angpau. Kalau jawabannya alternatif kedua tampaknya tidak mungkin. Tidak mungkin  semua pihak tersebut mempunyai hutang jasa kepada sang mertua Karnos. Kalau ketiga, bisa terjadi bahwa semua pihak itu memang bodoh-bodoh.

Sehari setelah kejadian itu, Karnos kembali ke rumah mertuanya. Ia menagih surat resmi kematiannya. Sang mertua tidak bisa memberikan surat yang dimaksud.
“Kalau begitu,” kata Karnos, “saya minta Bapak urus KK itu kembali seperti semula. Dan saya tunggu di sini. Kalau Bapak tidak sanggup, saya sendiri yang akan urus.”
Sang mertua terdiam. Metua laki-laki dan perempuan hanya bisa terdiam. Sang istri Karnos juga tidak bisa berkata apa-apa. Keluarga macam apa itu? Bisakah disebut keluarga? Menurutku sih lebih cocok kalau sekawanan dan atau segerombolan daripada keluarga. Kok bisa ya sekawanan itu membuat skenario penceraian hingga terbit surat cerai dengan status cerai mati? Apakah sang mertua itu mengaku tuhan sehingga bisa membuat siapa saja menjadi mati hanya dengan selembar kertas? HEBAT. SALUT.

Secara resmi Karnos telah digugat cerai oleh istrinya. Dunia memang terbalik. Posisi talak sebenarnya menjadi wewenang sang suami, tapi khusus kasus ini istri dengan tangan mertuanyalah yang bisa membuat yang tidak mungkin menjadi benar-benar terjadi.  Dari sisi hukum, sebenarnya mudah dibuatkan surat resmi kematian Karnos. Tinggal bayar orang dan bunuh Karnos tanpa jejak. Kemudian, buatkan surat  resmi kematiannya dengan mengubah tanggalnya sesuai yang diinginkan dengan cara sedikit mengeluarkan kocek.  Beres. 

Bisa jadi kronologis pikiran jelek ini sudah ada dibenak mertua Karnos. Mungkin belum sempat dieksekusi sudah lebih dulu ketahuan Karnos. Terlambat. Tapi, kalau itu benar-benar terjadi dan tercium hukum, sang mertua sekawanan bisa terjerat pasal pembunuhan berencana. Pasal 340 KUHP menyatakan: “Barang siapa sengaja dan dengan rencana lebih dahulu merampas nyawa orang lain diancam, karena pembunuhan dengan rencana (moord), dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu, paling lama dua puluh tahun.” Mengerikan!

Kembali ke rumah mertua Karnos.
“Saya sedang menunggu, Paaak?” Karnos mulai berteriak.
Bapak mertua diam saja, tapi tampak terlihat kaget saat Karnos teriak. Karena tidak sabar dengan sikap mertuanya itu Karnos dengan sedikit menggertak meminta KK itu. “Mana KK nya?” KK yang dipegang mertuanya direbutnya.
Kemudian, ia mengarahkan telunjuk kirinya ke arah istrinya dan lantang sekali berkata: “Kamu ikut tidak? Kalau tidak ikut, berarti jatuh talakku. Kuhitung sampai tiga. Satu, ….” Sebelum Karno melanjutkan berhitungnya, sang istri bangun masih dengan linangan air mata. Karnos sudah tidak sabar, dengan kelemahlembutan istrinya, ia pun segera menariknya pergi dari rumah itu.
Tanpa salam tanpa pamit, Karnos langsung pergi. Seperti sebuah sinetron sangat seru. Tiba-tiba listrik padam. Begitulah Karnos. Hingga saat ini pun, Karnos dan istrinya tidak pernah menginjakkan kakinya lagi di rumah mertuanya. Batinnya berbisik, ia hanya akan menginjakkan kakinya di tanah pemakaman sekawanan itu.

#cerpen #short Story #fiksi

Posting Komentar untuk "Kertas Sakti (bukan Kera Sakti)"