Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Keahlihan Berteriak


Apa mereka kira kita ini buta huruf? Buta aksara? Para calo terminal berteriak-teriak menyebutkan kota-kota tujuan pemberangkatan. “Malang, Solo, Madium, Jogja, Madura, dan sebagainya. Mereka bertanya: Tujuan ke mana Pak? Tujuan ke mana Bu? Tujuan ke mana Mbak? Tujuan ke mana Mas? Ketika jawaban kita sesuai dengan kota tujuan yang mereka siarkan, mereka akan menyeret kita hingga ke bus. Sebaliknya ketika jawaban kita tidak diharapkan mereka menghindar, membiarkan kita pergi. Lain halnya ketika kita tidak menjawab, dan membiarkan mereka berkali-kali bertanya, maka mereka pun akan meresponnya dengan tidak baik. Ada juga yang mengumpat.

Pada siang hari, mereka diawasi oleh petugas dari DLLAJ. Mereka dipaksa berbaris rapi tidak lagi mengejar-ngejar calon penumpang bus. Berbeda ketika sore atau malam hari, mereka memburu calon penumpang, ditarik lengannya, disentuh, atau bahkan dipisuhi.

Sebenarnya mereka tidak menganggap kita bodoh. Pada tiap cluster, tempat antre bus, di atasnya ada nama-nama kota tujuan yang tertempel dan bertuliskan sangat besar. Tidak mungkin para calon penumpang salah memilih bus. Sebenarnya mereka tidak mempunyai pekerjaan lain selain meneriakkan nama-nama kota tujuan kepada calon penumpang. Mereka berteriak seperti itu agar terlihat seolah-olah mereka bekerja sehingga ketika bus berangkat, kennek bus memberi mereka uang sekedarnya. Ada yang mendapatkan lima ribu rupiah per bus, ada yang sepuluh ribu. Bergantung seberapa dermawan kennek bus yang mereka caloi.

Esai,Artikel,buta huruf,aksara,calo,terminal,DLLAJ,cluster,bus,calon penumpang,rupiah,pedagang asongan,profesional,lagu,solo,malang,madura,kota tujuan,

Selain mereka, ada juga pedagang asongan. Jumlahnya juga tidak sedikit. Keahliannya juga berteriak sambil menjajakan dagangannya. Cara mereka menjajakan juga bisa dinilai tidak sopan. Mengganggu ketenteraman penumpang. Asongannya beterbangan di atas kepala kita. Mereka menaruh dagangan satu per satu di pangkuan penumpang. Apa saja dari mereka. Kadang satu pangkuan penumpang kadang ada lebih dari tiga jenis barang dagangan. Ketiak mereka juga berlesatan di atas hidung kita. Benar-benar pemandangan yang tidak indah.

Pada saat kita pura-pura tidur pun mereka mengencangkan urat leher mereka dan tetap saja mereka meletakkan dagangannya di pangkuan kita. Semisal di pangkuan kita ada tas, atau penghalang, tetap saja mereka mencari cara meletakkan barang dagangannya bertengger. Adakah yang marah? Tampak tak satu pun. Para penumpang memakluminya walaupun dengan sedikit jengkel. Ya sudah tidak mengapa, toh mereka mencari makan. Nasib kita masih lebih baik dari mereka. Anggapan demikian yang sedikit membuat rasa jengkel kita mereda.

Terakhir, yang juga mempunyai keahlian berteriak-teriak adalah pengamen. Masih mending kalau suaranya bagus, atau tampilannya sedap dipandang, atau harum, atau sedikit profesional. Kenyataannya mereka hanya bermodalkan gitar yang juga tidak enak didengar malah ada juga yang hanya menggunakan alat nada ritmis, tutup botol, ecek-ecek. Setelah menyanyikan satu atau dua buah lagu, mereka pun menadahkan tangan. Yang pura-pura tidur atau tidur beneran akan mereka bangunkan. Bahkan ada pula yang memaksa meminta, jika tidak diberi mereka akan mengomel aneh-aneh sambil berlalu.

Begitu unik pemandangan di terminal. Pemandangan yang membuat kita menggeleng-geleng kepala. Sungguh, Tuhan Maha Kreatif, menggelar situasi seperti itu dan menampilkan tokoh kehidupan seperti mereka, melengkapi drama kehidupan yang singkat ini. Asal mereka senang dan bahagia kehidupannya, tak ada salahnya kita berbagi.

Posting Komentar untuk "Keahlihan Berteriak"