Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Jesica



Mengapa Mama baru bilang kalau sebenarnya Jesica tidak mempunyai Ayah? Bahkan Mama tidak tahu dari benih siapa Jesica tumbuh dalam rahim Mama. Mengapa kebohongan tentang Ayah itu Mama tanam dalam-dalam di dalam lubuk hatiku? Mengapa Ma, mengapa semua ini terjadi pada Jesica? Mengapa Jesica terlahir dari seorang seperti Mama? Tidak punya hakkah Jesica terlahir dari rahim yang suci melalui pernikahan? Entah lelaki hidung belang mana yang telah merasukkan benihnya dalam perut Mama?

Awal kebenaran yang Mama ungkap, malam itu, sebenarnya sudah terlambat Ma. Jesica sudah merasa punya Ayah dalam mimpi Jesica. Tapi, Mama renggut begitu saja dengan kebenaran yang sangat pahit. Tidak bisakah Mama menunggu mimpiku selesai dan saat terbangun Jesica telah bersama Tuhan? Kebenaran tentang siapa Jesica, siapa Mama, dan siapa Ayah Jesica benar-benar membuatku tidak sanggup lagi bernafas awalnya. 

Benar-benar membuatku sesak dan menyesali hidup yang diberikan Tuhan. Tapi, seiring dengan habisnya air mata yang harus Jesica titikkan, akhirnya Jesica menyadari tidak mudah buat Mama menjalani hidup dengan kondisi saat itu. Aku mengerti Ma. Aku paham sekarang. Dan satu hal yang membuatku bangga padamu, Ma, engkau tidak membunuhku saat masih dalam rahimmu. Mama begitu mulia di tengah gelimangan kegelapan. Jesica sadar bahwa tidak seorang pun menginginkan menjalani kehidupan seperti yang Mama jalani. Mama telah dipilih oleh keadaan untuk dengan sabar menjalaninya.

Entah telah berapa banyak lelaki yang telah menikmati tubuh Mama untuk menghidupkan api di dapur. Entah telah berapa banyak nafas mesum yang telah menjamah wajah Mama hanya untuk menyambung tali nafas yang berat itu. Mama, terima kasih telah memberi Jesica kesempatan hidup dan menyadari kebenaran.

Cerpen,jessica,lelaki hidung belang,kucing,kelinci,i love you,curhat,secangkir teh,teh panas,rahim yang suci,bahasa indonesia,tuhan,televisi,fiksi,short story,

Aku sering melihat Mama menangis tengah malam ketika pulang kerja. Waktu itu Jesica masih sangat kecil. Masih sangat tidak paham apa itu hidup. Yang bisa Jesica tanya saat itu: “Apa Mama sedang sakit?” Mama menjawab: “Tidak, Anakku! Mama hanya lelah!” Aku sangat mengerti Ma keadaan Mama setelah semua kebenaran itu Mama ungkap. Jesica paham Ma, bagi laki-laki yang menikmati tubuh Mama mungkin itu dirasa sebagai kenikmatan, tapi Jesica yakin bagi Mama itu siksaan. Bagi Mama itu kesakitan, kejenuhan, kemuakan, kebencian, dan rintihan lahir batin yang Mama paksa jalani. Jesica paham, Ma.

Teman-temanku, Jesica cerita begini karena benar-benar bangga memiliki Mama seperti beliau. Mamaku berjuang gigih seorang diri untuk memberi hidup beberapa nyawa dalam keluarga. Termasuk seekor kucing dan kelinci. Mama bercerita semua setelah semua pengorbanannya untukku menurutnya tuntas. Mamaku telah berhasil menguliahkanku hingga tingkat magister. Setelah acara wisuda, kami merayakannya bersama keluarga kecil di sebuah tempat makan kesukaanku. Jesica benar-benar bahagia. Saat itu masih ada almarhumah nenek tercinta yang ikut memberikan senyuman kebanggaan. Semoga arwahnya diridhai Tuhan. I love you, my grand Ma.

Sepulang dari merayakan kelulusan Jesica, saat menjelang tidur, Mama ke kamarku. Sebelum bercerita, Mama menangis tersedu-sedu. Sesunggukan. Seperti derita yang telah berumur puluhan tahun. Sungguh hebat mamaku menyimpannya dengan rapi di dalam hatinya. Mama berkali-kali mencium dan memelukku. Aku hanya terheran-heran dan tak sadar ikut menangis. Sungguh berat, kelu lidah dan bibir mama saat itu memulai kata pertama yang ingin diucapkan walaupun akhirnya tak tebendung juga rahasia kehidupan itu.

Teman-teman tahu tidak, aku menulis kisah ini setelah pulang dari pemakaman mama. Tanahnya masih segar karena baru tiga hari yang lalu diserahkan kepada Tuhan. Pusaranya berdampingan dengan nenek. Sambil menangis Jesica terbata-bata menyusun kata per kata menjadi kalimat yang utuh. Tangan Jesica gemetar hebat ketika menulis kata ‘mama.’ Rasanya tak melanjutkan kisah ini, rasa seperti belajar bernafas sambil minum air mata. Oh, Mama, semoga engkau di sisi Tuhan dalam keadaan dimulyakan. Amin.

Teman-teman, mamaku meninggal tepat ketika sujud waktu Subuh. Sajadahnya basah dengan air mata. Ketika kuangkat, tubuh mama hangat dan berkeringat. Masih berkeringat ketika telah tidak bernafas. Seolah-olah beliau tertidur pulas dengan senyum kelegaan. Jesica tahu, hidup yang mama jalani siapa pun akan menilainya salah. Hidup yang kotor dan gelap. Hidup yang melanggar moral. Tapi Jesica yakin dengan kemurahan Tuhan. Kasih sayang Tuhan. Bagaimana pun mama seorang hambaNya yang mencoba menjalani garis takdirNya dengan kesabaran yang luar biasa. Jesica masih yakin kisah religi yang menceritakan bahwa seorang pelacur pun punya hak masuk surga dan mendapatkan kasih sayang Tuhan kelak.

Mama, Jesica yakin mama telah lega menjalani semua sandiwara kehidupan ini. Tugas mama telah selesai. Berkali-kali Jesica curhat kepada Tuhan, Ma. Ampuni doa Mamaku, Tuhan. Apa pun yang mama lalukan memang salah, tapi tolonglah ampuni mamaku. Hanya itu yang selalu Jesica sampaikan kepada Tuhan, tidak ada yang lain lagi. Jika Tuhan telah memaafkan Mamaku, berikanlah tanda, isyarat kepada Jesica agar Jesica lega dan bisa memohonkan doa yang lain.

Mama, mama adalah ibu yang terbaik yang pernah Jesica tahu dan miliki. Jangan ragu dengan kemampuan Jesica. Jesica akan membuktikan bahwa darah mama ini adalah anak yang baik, yang berbakti, yang selalu berusaha patuh dan taat kepada orang tua, dan menjunjung tinggi kehormatan. Jangan kuatir mama, Jesica adalah Mama babak kedua yang akan menjalani dan menghapus jejak-jejak kelabu kehidupan Mama. Jesica yakin Mama akan bangga telah melahirkan jesica karena aku bangga mempunyai Mama seperti dirimu, Ma.

Jesica sekarang seorang diri. Mama telah tiada. Nenek juga telah mendahului mama. Yang membuatku bertahan adalah perjuangan mama. Ketegaran mama. Nasehat mama. Senyum nenek dan secangkir teh hangat di pagi dan sore hari yang biasa mama buatkan untukku. Sekarang Jesica buat teh panas sendiri, Ma. Dengan linangan air mata yang sengaja kutahan agar menjadi kebahagiaan kelak kemudian hari. Sesungguh siapa yang telah meninggal, sebenarnya hidup di sisi Tuhannya. Begitu Tuhan bilang dalam kitabNya. Aku meyakininya. Dan aku, Jesica, akan membuat mama, nenek, dan Tuhan bangga padaku. Aku memang terlahir dari seorang pelacur, tapi siapa pun mamaku tetap memiliki rahim yang suci. Aku terlahir dari kesucian dan akan kubuktikan itu.

Waktu telah berjalan begitu cepat tapi pusara mama tetap segar bunganya menghiasi. Selalu Jesica kirimi bunga melati yang segar dan harum. Saat terakhir Jesica mengunjungi mama, Jesica bersama calon suami. Seorang ulama muda yang sering muncul di televisi. Dia begitu ramah, lembut terhadap perempuan, dan sangat menjunjung tinggi kehormatan. Jesica tidak pernah tidak melihatnya memamerkan senyumnya yang seindah pagi. Jesica merasa sangat beruntung.

Mama dan nenek serta Tuhan telah memberikan kebahagiaan yang sempurna. Berbeda ketika Jesica mengunjungi mama sendirian, saat bersama calon suamiku, Jesica tidak perlu berdoa sendiri. Cukup mengamini doanya. Jelas sekali doanya dalam bahasa Indonesia dan terasa ketulusannya. Jesica memanggil dia dengan sebutan Abang. Teman-teman tidak perlu tahulah siapa dia sebenarnya karena tidak terlalu penting diceritakan. Yang penting adalah bagaimana hidup yang Jesica sekeluarga maknai.

Berbahagialah Mama dan Nenek di sisi Tuhan. Bergembiralah dengan gelimangan cahaya dan berbagai hidangan kenikmatan sejati dari Tuhan. Jesica akan menyusul kalian dengan menambah kebahagiaan kalian. 

#cerpen #short story 

Posting Komentar untuk "Jesica"