Doktrinisasi Melalui Lagu - CocokPedia
Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Doktrinisasi Melalui Lagu




Doktrinisasi Melalui Lagu (song), tanpa mengurangi penghargaan terhadap pencipta lagu anak-anak, tulisan ini hanya sebuah hasil isengnya berpikir. Ada beberapa lagu anak yang menurut saya lemah logikanya. Entah disengaja atau hanya untuk kepentingan notasi atau memudahkan diingat, tapi agak menggelitik jika terpikirkan. 

Contoh lagu anak Bintang Kecil. Lirik lagu tersebut ada dua versi. Perbedaannya terletak pada satu kata pada baris pertama lyric. Satu versi menyebut kata ‘biru’ dan satu lagi kata ‘tinggi.’ Penciptanya juga ada dua versi. Ada yang mengaku ciptaan Meinar Loeis, satu lagi mengaku bernama Daldjono. Entah siapa yang benar. Perhatikan liriknya secara seksama berikut. 

Bintang Kecil Bintang kecil di langit yang biru (tinggi). Amat banyak menghias angkasa. Aku ingin terbang dan menari. Jauh tinggi ke tempat kau berada.

Yang paling terkenal dan paling lama menjadi lagu kesukaan ibu-ibu guru Taman Kanak-Kanak dan anak kecil adalah yang menggunakan kata ‘biru.’ Bintang kecil logikanya hanya muncul pada malam hari. Seharusnya bukan ‘di langit yang biru’ tapi ‘di langit yang hitam.’ Karena mungkin terasa aneh di logika, kemudian populerlah versi kedua dengan menggunakan kata ‘tinggi.’ Lumayan, sudah masuk akal. 

song,lagu,lyric,Esai,Artikel,article,lagu anak,notasi,versi,bintang kecil,lagu kesukaan,logika,konkret,populer,balonku,menanam jagung,pelangi,share,

Pertanyaannya, apakah si penciptanya, yang entah siapa itu, tidak menggunakan logika yang kongkret? Ataukah dibiarkan ‘nyeleneh’ begitu biar populer? Materi begini memang cocoknya di cocokpedia. Hahaha. 

Lagu kedua, yang tak kalah anehnya adalah Lagu Balonku. Perhatikan liriknya berikut. 

Balonku. Balonku ada lima. Rupa-rupa warnanya. Merah kuning kelabu. Merah muda dan biru. Meletus balon hijau. Dor, hatiku amat kacau. Balonku tinggal empat. Kupegang erat-erat. 

Lagu ini sunggur benar-benar menyesatkan. Korupsi. Curang. Ada sesuatu yang tidak lugas, tapi disembunyikan. Baru setalah tidak berguna dan meletus, balonnya baru disebutkan. Seandainya balon hijau tidak meletus, pasti akan tetap mengaku mempunyai balon lima sedangkan balon hijau tetap disembunyikan, entah di mana. Kalau pada kenyataannya memang ada lima balon, mengapa muncul balon hijau? Mengapa harus hijau yang dikorbankan? 

Lagu ketiga, Menanam Jagung. Perhatikan lirik Menanam Jagung

Ayo, kawan kita bersama/menanam jagung di kebun kita Ambil cangkulmu/ambil pangkurmu/kita bekerja tak jemu-jemu. Cangkul, cangkul yang dalam/tanah yang longgar jagung kutanam.  Beri pupuk supaya subur/ tanamkan benih dengan teratur. Jagungnya besar lebat buahnya/ tentu berguna bagi semua. Cangkul, cangkul aku gembira/menanam jagung di kebun kita.  

Lirik lagu yang inkonsisten. Pada baik pertama mengajak teman-teman sedangkan pada baik terakhir hanya dirinya (aku) sendiri yang bergembira. Kasihan teman-temannya. Inkonsisten yang kedua adalah kata ‘pangkur’ dan ‘cangkul.’ Pangkur menurut pengertian dalam kamus Bahasa Indonesia adalah cangkul sedangkan cangkul mempunyai makna alat untuk menggali yang terdiri dari gagang dan daun cangkul alias tetap berarti cangkul. 

Coba tanyakan pada anak-anak! Pada lagu tersebut mereka membawa berapa alat untuk menggali tanah? Pasti mereka menjawab dua padahal satu alat yang memiliki nama ganda. Inkonsistensi ketiga adalah pada ‘cangkul yang dalam’ dan diulang-ulang. Yang ditanam bukankah biji jagung yang hanya sebutir atau tiga butir? Bukan segerobak atau bahkan satu truk yang dimasukkan dalam satu lubang? Tidak perlu dalam, bukan? Hahaha. 

Baru tiga lagu. Bagaimana dengan lagu anak yang lain? Harus lebih hati-hati, harus lebih selektif karena apa pun yang dibiasakan kepada anak-anak akan menjadi materi bawah sadarnya yang suatu hari akan muncul sebagai sikapnya. Anak-anak mudah menyerap pembelajaran. Melalui lagu, mereka terhibur. Dan melalui lagu doktrin apa pun akan tertanam. 

Perilaku korup, pembohong, suka menyembunyikan sesuatu, pintar mengakali, tidak konsisten, tidak logis, suka tahayul, terburu-buru, dan sebagainya rata-rata ada tersembunyi di balik lirik lagu-lagu anak-anak. Pembiasaan dimulai dari rumah, dari PAUD, dan TK, SD, dan sampai dewasa pun mereka ingat lagu-lagu masa kecilnya yang secara tidak sadar memberikan andil terbentuknya sikap mereka kelak ketika dewasa. 

Ada beberapa lagu lagi sebenarnya yang ingin dikupas tuntas tas tas. Seperti lagu Bangun Tidur, Pok Ame-Ame, Burung Kutilang, Naik-Naik Ke Puncak Gunung, Pelangi, dan sebagainya. Silakan, dirasa-rasa sendiri, dinikmati, dikupas, dianalis  logikanya, temukan kemudian share.


Posting Komentar untuk "Doktrinisasi Melalui Lagu"