Aku Kaya Raya - CocokPedia
Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Aku Kaya Raya



“Dok, berapa harga satu jari kelingking?”
“Its depend. Bergantung, Mas. Kalau ada yang sangat membutuhkan bisa sesuka kita memberi harga!”
“Kisaran berapa kira-kira, Dok?”
“Bisa 10 juta!”
“Kalau ginjal, berapa, Dok? Satu saja, jangan sepasang!”
“Nah, kalau ginjal karena banyak yang sangat membutuhkan, ratingnya sangat tinggi, bisa sampai 3 milyar! Itu harga di pasar gelap, lho.  Sebenarnya lebih juga boleh bergantung transaksinya kok.”
“Wah, bisa kaya mendadak ya?”

“Iya betul, bahkan sekarang lagi trend modus donor anggota tubuh untuk kepentingan ekonomi. Tapi, menurut saya, yang aman dan tidak membuat kita cacat seumur hidup cuma mendonorkan rambut atau sperma. Bayangkan sekali mendonor sperma bisa dihargai sekitar 500 dolar atau sekitar 4,7 juta. Lumayan bisa berkali-kali dan aman. Semakin tinggi derajat kualitas hidup si pendonor sperma, semakin mahal harga spermanya!”

“Enak juga ya Dok, sayangnya saya bukan dari kalangan bangsawan atau yang mempunyai kualitas hidup yang baik. Saya cuma orang biasa. Jadi harganya mungkin tidak terlalu mahal. Mungkin digratiskan pun gak ada yang mau!” Satrio terbahak-bahak.

Cerpen,fiksi,short story,dokter,ginjal,milyar,dolar,sperma,trend,pendonor,bangsawan,happy ending,kesehatan,pasien,umat islam,propertis,per meter,kategori miskin,elegan,halal,

Dokter Sarji Cuma tersenyum. “Tapi benar Dok, ada yang mau didonori sperma?”
“Iya, benar!”

Satrio berpikir keras. Ia dalam kesulitan keuangan yang kritis. Butuh segera dana cepat. Ia ingin membangun sebuah mesjid. Ia ingin mewujudkan wasiat mendiang ayahnya segera. Ia ingin mendapatkan dana halal. Dana terhormat. Ia tidak ingin memperoleh dana pembangunan mesjid seperti yang terjadi di sepanjang jalan raya. Sangat terkesan kurang etis. Terkesan seperti mengemis. Menurutnya sangat kurang elegan sekali. Dia berpikir, dirinya sebenarnya kaya raya walau dalam status sosial yang sebenarnya dalam kategori miskin.

Bayangkan, sepanjang jalan raya di Madura banyak orang berjejer dengan membawa ember untuk mengais rejeki demi membangun sebuah mesjid. Kita ini umat terhormat, bukan umat pengemis. Mesjid yang kita bangun juga bukan rumah para pengemis tapi rumah Tuhan. Cara seperti itu mengganggu jalan raya. Tapi, entah kalau mereka dapat hidup dari cara seperti itu. Bagaimana bisa dicegah?

Lebih aneh lagi, menurutnya, ada mesjid yang telah dirasuki pebisnis propertis. Mesjid telah dijual per meter. Mesjidnya sudah jadi entah dengan dana talangan atau apa, yang jelas mesjidnya sudah ada. Kemudian ada tarif per meternya 10 juta contohnya. Pernah dia lihat mesjid seperti itu di suatu kota. Sungguh jaman ini telah berubah.

Satrio tetap akan membangun mesjid tapi tidak dengan cara seperti itu. Tidak ingin membebani siapapun. Tanahnya juga milik ayahnya. Tinggal membangunkan sebuah mesjid di atas tanah itu dan dengan biayanya sendiri. Setelah selesai ia akan sumbangkan mesjid tersebut pada desa khususnya dan umat Islam seluruh dunia.

Tapi yang menjadi pikiran keras Satrio adalah mau mendonorkan anggota tubuhnya yang mana. Pasti bukan sperma. Masak mesjid akan dibangun dengan sperma? Sungguh tidak bermoral kepada Tuhan. Bisa-bisa bukan menjadi mesjid tapi rumah prostitusi. Yang aman menurut Satrio menjaga kehormatan dirinya dan nama ayahnya hanya dengan cara mendonorkan ginjalnya.

“Dok, tolong kabari saya jika ada yang membutuhkan ginjal saya secepatnya. Saya siap!”
“Baiklah, segera akan saya kabari Mas.’’

Tidak berapa lama Satrio pun dihubungi dokter Sarji. Satrio pun bergegas menemui dokter tersebut. Melalui beberapa tahap pemeriksaan, kesehatan Satrio dan ginjalnya terbilang super. Sangat baik. Sungguh sangat beruntung pasien yang membutuhkan ginjalnya. Satrio pun pasti merasa sangat beruntung karena pasien yang membutuhkan ginjalnya juga bukan orang biasa. Ia adalah ibu dari seorang wali kota. Tahu tidak? Ginjal Satrio dihargai 5 milyar.

Singkat cerita, yang membutuhkan ginjal kian hari menunjukkan peningkatan daya hidup dan kesehatan yang berkualitas. Satrio pun tampak lebih sehat dari sebelum ginjalnya tinggal satu. Dan, satu mesjid megah telah memenuhi wasiat ayahnya tercinta. Benar-benar kisah yang happy ending.

“Selamat Satrio,” ucapan dokter Sarji sehabis solat berjemaah di mesjid “Nasional.”
“Saya yang semestinya banyak berterima kasih kepada dokter yang telah mewujudkan impian ayah saya.”
“Iya, sama-sama. Tapi, ngomong-ngomong mengapa diberi nama mesjid nasional? Kok tidak yang berbau-bau agama begitu? Misalnya Al-Hadi dan sebagainya.”
“Tidak, dokter. Saya lebih suka nama itu. Sehingga siapapun dari bendera organisasi apapun bisa solat di sini tanpa perbedaan lagi!”

“Ya, ya, ya! Selamat deh!”

#cerpen #fiksi #short story

Posting Komentar untuk "Aku Kaya Raya"