Yout Get What You Have Given - CocokPedia
Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Yout Get What You Have Given


            Padanan peribahasa asing tersebut dalam Bahasa Indonesia adalah: ‘Siapa yang menabur benih akan menuai hasilnya.’ Kalau kita menanam kebaikan kepada teman-teman kita, maka kita akan mendapatkan dan menuai kebaikan pula dari mereka. You get what you have given! Dengan dasar menghargai keberagaman, kita tidak perlu lagi melihat kepada siapa kita harus berbuat baik, tidak perlu lagi pandang bulu. Niatkan saja bahwa dengan semangat menghargai keberagaman, kita akan berbuat baik kepada semua orang, semua teman, dan kepada semua orang yang kita jumpai, tanpa pamrih. Kebaikan kepada semua orang yang murah dan mudah adalah menyapa mereka dengan senyum, menjabat tangannya, dan menanyakan kabarnya.        

Pada setiap agama tidak ada yang mengajarkan hal yang tidak baik. Semua mengajarkan kebaikan sedangkan keburukan disampaikan dalam agama sebagai cermin agar kita tidak melakukannya. Untuk itulah para pahlawan seperti Ir. Soekarno, Muh. Yamin, Drs. Moh. Hatta, H. Agus Salin dan sebagainya merumuskan Pancasila sebagai pedoman sosial tentang bagaimana berwatak sebagai bangsa Indonesia dan sebagai dasar negara yang kokoh dan telah terbukti kehebatannya dalam mempersatukan keberagaman nusantara.

            Menurutmu apakah kamu hafal kelima sila dalam Pancasila di luar kepala? Kalau jawabanmu iya, apakah sekedar hafal? Tidakkah kamu ingin menwujudkan Pancasila itu dalam kehidupan sehari-hari dengan tulus? Secara umum dari kelima sila dalam Pancasila dapat diringkas sebagai berikut.

1. berhubungan dengan ketuhanan, 2. kemanusiaan, 3. persatuan, 4. permusyawaratan, dan 5. keadilan. Kelima sila tersebut terbagi menjadi dua bagian utama. Bagian pertama, yakni hubungan pribadi dengan Tuhan, hanya pada satu sila, sila pertama. Bagian kedua, yakni hubungan antar manusia atau hubungan sosial, yaitu sila kedua sampai kelima. Secara garis besar, orang yang berkarakter Pancasila adalah orang yang memupuk dan mempunyai hubungan baik dengan Tuhan dan dengan ciptaanNya yakni manusia dan alam semesta. Bersikap Pancasilais dalam hubungan dengan Tuhan dapat ditunjukkan dalam sikap taat menjalankan ibadah sesuai dengan agama kita masing-masing. Pancasilais dalam hubungan dengan manusia, dapat ditunjukkan dengan sikap saling menghargai, menghormati, dan saling menyayangi. Andai semua sikap yang secara umum saja itu dapat terwujud oleh setiap manusia Indonesia, maka jadilah kita bangsa yang benar-benar besar, yang makmur berkeadilan, damai, toleran, dan merdeka lahir batin.

            
Semua syarat yang harus dimiliki teman yang baik sebagai syarat yang harus kita berikan kepadanya untuk kita pilih menjadi teman kita adalah sifat-sifat yang Pancasilais. Baik akhlak atau budi pekerti, memiliki semangat, keinginan, dan prinsip yang kuat, bisa dipercaya, ceria dan penuh ide kreatif, patuh dan hormat kepada kedua orangtua, tulus member nasehat, saling menghargai keberagaman, dan saling menyayangi merupakan sifat-sifat yang Pancasilais. Siapa yang mengatakan bersikap dan berperilaku yang Pancasilais itu sulit dan berat? Tidak ada yang sulit karena caranya sangat mudah yakni berperilakulah hanya yang baik menurut pandangan semua orang dan benar menurut hokum yang berlaku. Tidak ada yang sulit dan berat untuk dilaksanakan, yang ada hanya kita kurang kemauan untuk berbuat. Betul, bukan?

            Dalam buku Mimpi Menjadi Naga dikutip sebuah pepatah Cina yang menyatakan begini: “Kita harus selalu melayani orang lain. Banyak-banyaklah membantu orang lain karena pada akhirnya hal itu akan berbalik kepada kita dan kitalah yang akan mereka bantu.” Untuk memahami pepatah tersebut, disertai sebuah cerita tentang Si Gerendeng dan Si Sukur. Ceritanya, Si Gerendeng sedari kecil terbiasa dimanja oleh orang tuanya. Ia memiliki segalanya. Ia mengakui bahwa ia diperlakukan seperti raja kecil yang tidak boleh susah, tidak boleh lelah, dan selalu mendapatkan pelayananan khusus dari semua pembantu di rumah. Karena didikan orang tua dan lingkungan seperti itu, saat menginjak dewasa dan mulai bermasyarakat, ia tidak tidak pernah lagi bahagia. Ia tidak bisa bergaul dengan baik dan hanya memiliki sedikit teman. Itu karena ia terbiasa serba dilayani. Ia menjadi anak yang tidak bisa mandiri. Setiap hari ia hanya bisa mengeluh, mengeluh, dan terus mengeluh. Semakin tua, ia semakin banyak mengeluh dan pada akhir hayatnya ia meninggal dalam keadaan mengeluh.

            Berbeda dengan Si Gerendeng, Si Sukur adalah seorang yatim piatu. Ia tidak lagi memiliki ayah dan ibu. Sedari kecil ia hidup sebatang kara.ia hidup bersama pamannya. Keluarga si paman memiliki kebiasaan melayani orang lain daripada diri sendiri. Lingkungan tersebut berpengaruh terhadap watak Si Sukur. Ia sangat menyukai melakukan hal-hal yang menyenangkan dan berguna untuk orang lain. Dengan melakukan hal tersebut, Si Sukur merasa senang dan puas. Pada saat Si Sukur dewasa, teman-teman di lingkungannya semakin menyukainya. Bahkan ada seorang pejabat pemerintah yang tertarik kepada Si Sukur dengan merelakan puterinya menjadi isteri Si Sukur. Menarik bukan? Ternyata kebaikan yang kita lakukan, menarik lebih banyak kebaikan berdatangan kepada kita. Ajaib! Jadi bagaimana kalau kita niatkan bersama-sama, mulai sekarang, untuk berbuat sesuatu yang menyenangkan dan berguna bagi orang lain? Setuju? Great answer! Jawaban yang bagus! Jangan lupa, niat kita telah dihitung sebagai satu kebaikan, tapi bukan berarti kita hanya berhenti pada niat saja. Kita harus melakukannya untuk memperoleh keridhaan Tuhan. Sering-seringlah membuat Tuhan merasa senang dengan membuat senang ciptaanNya.



Posting Komentar untuk "Yout Get What You Have Given"

  • Bagikan