Merawat Pertemanan - CocokPedia
Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Merawat Pertemanan

Merawat Pertemanan






Dengan cara kita bersikap kepada teman-teman kita seperti menghormati keberagaman dan saling berbagi, akhirnya kita menemukan teman yang kita merasa cocok dengannya. Kita telah menemukan kreteria-kreteria teman yang baik yang melekat padanya. Kita pun merasa bersahabat dan dekat dengannya. Tapi, seperti layaknya tanaman, pertemanan dan persahabatan juga perlu dirawat, disiram, dan dipupuk. Tujuannya adalah menjaga agar pertemanan itu bisa berjalan langgeng dan bermafaat. Bagaimana cara merawatnya? Nah, ini dia yang perlu kalian ketahui. Apa saja yang perlu dilakukan? Baiklah, beberapa hal penting yang harus kalian perhatikan dan lakukan untuk merawat pertemanan dan persahabatan.
            Beberapa hal yang akan disampaikan berikut juga sangat ampuh mendatangkan teman-teman baru. Menciptakan lebih banyak teman lagi. Apa itu? Menurut Weni, penulis buku 101 Tips Kilat Mencari Teman dan Memengaruhi Orang lain beberapa hal yang perlu dilakukan untuk merawa pertemanan antara lain sebagai berikut.
            Pertama, menciptakan kesan yang kuat. Apa yang dilakukan agar menciptakan kesan yang kuat atau pencitraan yang kuat bagi teman kita? Ketika kita bertemu sapalah dengan baik, tanyakan kabar, dan jabat tangannya, lemparkan seulas senyum, serta tatap matanya ketika kita bericara sebagai tanda kita memperhatikannya. Kita bisa memulainya lebih dulu menyapanya dengan salam, senyuman, dan jabat tangan. “Hai, assalamualaikum. Apa kabar?” Atau, “Hai, Selamat pagi! Apa kabarmu hari ini?” inilah hal yang paling disukai seorang teman kita lakukan. Pasti dia akan melakukan hal yang sama kepada kita di lain waktu. Ingat, tersenyum dan membuat kontak mata membuat siapapun yang melihatnya akan bereaksi positif terhadapmu. Ini adalah perkataan Martin R. Baird dalam buku Weni. “Jika kamu tidak menggunakan senyuman, kamu seperti orang yang memiliki tabungan 1 juta dolar, tapi tidak mempunyai buku cek untuk mengambilnya.” Sungguh sangat merugi. Itu pernyataan Les Giblin, juga dalam buku Weni.
            Tahukah kamu dahsyatnya tatapan mata dan senyuman? Tatapan yang penuh perhatian membuat teman kita merasa dihargai dan diperhatikan. Begitu pula senyuman, ia memiliki kekuatan yang luar biasa. Orang yang keras hatinya pun bisa luluh melihat senyuman tulus. Senyuman tulus kita kepada teman kita membuat mereka merasa disukai, diperhatikan, dan mereka merasa dipedulikan. Teman kita yang dalam keadaan sedih pun akan merasa damai dan muncul kekuatannya mentalnya ketika melihat senyum tulus kita. Menurutmu, rugikah kamu memberikan senyum tulus kepada orang lain apalagi teman sendiri? bukankah senyuman, tatapan, dan jabat tangan tidak membeli? Semuanya gratis kan? Bukankah kita tidak termasuk orang-orang yang pelit untuk memberikan perlakuan yang gratis kepada orang lain?
            Begitu pula dengan sapaan. Di mana pun kita bertemu dengan teman, sapalah. Sejelek apapun perasaan kita saat itu atau juga dia, hal itu akan membuat kita tidak merasa sendiri dan membuat kita damai. Sapaan akan mencairkan suasana hati. Karena semua perlakuan itu gratis, kamu tidak perlu mengeluarkan ongkos untuk melakukannya, bersediakah kamu memberikannya cuma-cuma juga kepada temanmu?
            Setelah menyapa dengan senyuma juga jabat tangannya, tanyakan kabarnya. Ini penting. Menanyakan kabar menunjukkan bahwa kita pribadi yang ramah dan peduli dengan teman kita. Menanyakan kabar membuat siapapun merasa penting. Ini akan sangat menyenangkan hati teman kita. Bersediakah kamu melakukannya? Bukankah kamu sudah membaca bagian buku ini pada You Get what You have Given?
            Kedua, Buatlah teman kita menyukai kita. Bagaimana caranya? Mudah kok. Ketika teman kita berbicara, dengarkan dan beri tanggapan dengan antusias. Mendengar merupakan bentuk perhatian yang dibutuhkan seorang teman ketika berbicara. Menanggapi dengan penuh antusias juga merupakan bentuk perlakuan kita yang istimewa kepada teman kita. Biarkan ia lebih banyak berbicara. Dengan membiarkan teman kita lebih banyak berbicara, mereka merasa dihargai dan apa yang dibicarakan itu penting dan berarti. Buatlah teman kita merasa nyaman bersama kita. Merasa gembira. Sering-seringlah menyebut namanya ketika kita berbicara. Misalnya, “Aku suka dengan idemu, Andre!” tindakan semacam itu membuat percakapan menjadi akrab dan hangat. Siapapun akan sangat menyukai berbicara dengan orang yang selalu menyebut namanya. Ia akan merasa terhormat dan istimewa.
            Hal lain adalah mengamati kegemaran teman. Mengetahui kegemaran teman tanpa ia memberitahukannya adalah nilai lebih dalam persabahatan. Teman kita yang sangat suka bersepeda akan sangat senang bila kita tiba-tiba mengajaknya bersepeda. Teman kita yang suka dengan es krim akan sangat gembira bila sesekali kita membelikannya es krim dan makan bersama. Ia akan merasa tersanjung karena kita tahu kegemarannya. Ia akan menganggap kita sahabatnya yang istimewa dan pengertian. Dan, ia tidak mau kehilangan seorang sahabat seperti kita. Bagaimana caranya kita tahu apa kegemaran teman kita? Bagaimana kamu tahu apa kegemaran temanmu? Caranya mudah. Perhatikan saja apa kebiasaan-kebiasaannya. Atau, bisa juga dengan bertanya-tanya kepada orang-orang terdekatnya. Mudah bukan? Selain itu, teman kita juga sangat suka bila kita membicarakan kegemarannya. Ia akan menganggap bahwa kita memiliki kegemaran yang sama dengannya. Dengan demikian, ia akan merasakan kedekatan dan keakraban karena ada suatu ikatan yang menghubungkan kita dengannya, yakni kegemaran dia.
            Hal lain yang perlu kamu lakukan agar temanmu menyukai kamu adalah sempatkan menelponnya karena menjaga komunikasi dalam persahabatan itu sangat penting. Jika terasa agak lama kamu tidak berjumpa dengannya sempatkanlah menelpon dan menanyakan kabarnya. Menjaga komunikasi adalah cara untuk menjaga kualitas pertemanan. Jika itu kamu lakukan, maka temanmu akan merasa sangat dipedulikan, sangat diperhatikan.
            Hal lain lagi yang membuat temanmu menyukaimu adalah bersimpati kepadanya. Tahukah kamu apa bersimpati itu? Bersimpati merupakan sikap peduli kepada orang lain, yakni temanmu. Simpati tidak memerlukan kata-kata, tapi tindakan. Simpati pada hal-hal yang kecil dan sepele justru memberikan kesan dan bekas yang dalam terhadap teman kita. Contoh kecil, ketika teman kita lupa membawa uang saku ke sekolah, ada baiknya kita berbagi dengannya dengan membagikan uang saku kita untuk dibelanjakan bersama. Itu akan sangat mengesankan. Itu tidak akan pernah terlupakan oleh teman kita. Ia akan selalu mengingat kita sebagai seorang teman yang baik hati.
            Di waktu luang kamu, ada baiknya pula berkunjung ke rumah temanmu. Rumah, menurut Weni merupakan rangkuman kehidupan penghuninya. Jika kita mengunjungi rumahnya berarti kita menyapa seluruh kehidupan teman kita. Teman yang kita kunjungi juga akan merasa senang dan tersanjung karena kita bersedia datang ke tempat tinggalnya. Ia akan selalu mengingat kita karena kita telah berbuat baik kepadanya dengan berkunjung ke rumahnya. Sesekali juga ajak temanmu ke rumahmu. Perkenalkan dengan semua orang di rumahmu dengan menyebutkan namanya dan semua kebaikannya. Ia akan merasa tersanjung dan senang. Teman kita akan merasa berarti karena diterima dengan baik di rumahmu. Dapatkah semua ini kamu lakukan untuk temanmu? Tahukah kamu kalau semua sikap tersebut merupakan wujud dari rasa kasih sayang dan cinta? Perhatian dan kepedulian kita terhadap orang lain adalah wujud dari cinta. Perhatian merupakan ungkapan cinta.
            Senyum, sapaan, mendengarkan, memperhatikan merupakan hal kecil yang dapat kamu lakukan untuk temanmu. Menyebut namanya ketika berbicara, menelponnya, mengunjungi rumahnya, menjabat tangan dan menanyakan kabarnya juga merupakan hal kecil yang gratis yang dapat kamu hadiahkan untuk temanmu. Memperhatikan kegemarannya, mengingat ulang tahunnya, mengajaknya ke rumahmu adalah hal kecil yang mudah kamu lakukan untuk membuat temanmu merasa senang berteman denganmu. Semua adalah hal kecil. “Nikmati (perhatikan) hal-hal kecil yang terjadi atau yang dapat kamu lakukan, suatu hari kamu akan menyadari bahwa hal kecil yang kamu lakukan itu ternyata hal besar yang mengubah hidupmu di kemudian hari.” (Robert Brault, dalam Weni).
            Sebagai akhir pada bagian ini akan disampaikan sebuah kisah nyata di India sebagai contoh dalam bersimpati dan kesan yang sangat kuat dalam merawat pertemanan atau persabatan. Kisah tersebut berjudul “Malaikat Kecilku Tolong Ajarkan Kami Tentang Kasih.” Mari, kita baca bersama-sama.
Malaikat kecilku tolong ajarkan kami tentang kasih
Istriku berkata kepadaku yang sedang membaca koran, "Berapa lama lagi Ayah membaca koran itu? Tolong ke sini dan bantu anak perempuanmu
tersayang untuk makan!" Aku taruh koran dan melihat anak perempuanku satu-satunya, Sindu namanya, tampak ketakutan, air matanya mengalir. Di depannya ada semangkuk curd rice (nasi khas India) dan yogurt.
Sindu anak yang manis dan termasuk pintar dalam usianya yang baru 8 tahun. Dia sangat tidak suka makan curd rice. Ibu dan istriku masih kuno. Mereka percaya sekali kalau makan curd rice akan membuat kita "cooling effect". Aku mengambil mangkok dan berkata, "Sindu sayang, demi ayah, maukah kamu makan beberapa sendok curd rice ini? Kalau tidak ,nanti ibumu akan teriak-teriak sama ayah."  Aku bisa merasakan istriku cemberut di belakang punggungku.
Tangis Sindu mereda dan ia menghapus air mata dengan tangannya sambil berkata, "Boleh Ayah, aku akan makan curd rice ini tidak hanya beberapa sendok, tapi semuanya akan aku habiskan, tapi aku akan minta..."  Sindu agak ragu sejenak. "Aku akan minta sesuatu pada Ayah bila aku berhasil habiskan semua nasinya. Apakah ayah mau berjanji memenuhi permintaanku?" Aku menjawab, "Oh iya, pasti sayang.”  
Sindu tanya sekali lagi, "Benarkah Ayah?"
"Yah pasti!" sambil menggenggam tangan anakku yang kemerahmudaan dan lembut sebagai tanda setuju. Sindu juga mendesak ibunya untuk janji hal yang sama. Isteriku menepuk tangan Sindu yang merengek sambil berkata tanpa emosi, "Iya, janji." kata istriku. Aku sedikit khawatir dan berkata: "Sindu jangan minta komputer atau barang-barang lain yang mahal yah, karena ayah saat ini tidak punya uang."
Sindu menjawab, "Jangan khawatir, Sindu tidak minta barang-barang mahal kok."  Kemudian Sindu dengan perlahan-lahan dan kelihatannya sangat menderita dia bertekad menghabiskan semua curd rice (nasi susu asam itu). Dalam hatiku, aku marah dengan isteri dan ibuku yang selalu memaksa Sindu untuk makan sesuatu yang tidak disukainya. Setelah Sindu melewati penderitaannya dia mendekatiku dengan mata penuh harap dan semua perhatian (aku ,isteriku dan juga ibuku) tertuju kepadanya.
Ternyata Sindu mau kepalanya digundul pada hari Minggu. Isteriku spontan berkata, "Permintaan gila, anak perempuan dibotakin? Tidak mungkin!" Juga ibuku menggerutu. “Jangan sampai terjadi dalam keluarga kita, anak ini terlalu banyak nonton TV dan program-program TV itu sudah merusak kebudayaan kita.”  
Aku coba membujuk: "Sindu mengapa kamu tidak minta hal yang
lain? Kami semua akan sedih melihatmu botak." Tapi, Sindu tetap dengan pilihannya, "Tidak ada Ayah, tak ada keinginan lain," kata Sindu.
Aku coba memohon kepada Sindu, "Tolonglah, mengapa kamu tidak mencoba untuk mengerti perasaan kami?" Sindu dengan menangis berkata, "Ayah sudah melihat bagaimana menderitanya aku menghabiskan nasi susu asam itu dan Ayah sudah berjanji untuk memenuhi permintaanku. Mengapa Ayah sekarang mau menarik perkataan Ayah sendiri? Bukankah Ayah sudah mengajarkan bahwa kita harus memenuhi janji kita terhadap seseorang apapun yang terjadi. Seperti Raja Harishchandra (raja India jaman dahulu) untuk memenuhi janjinya, raja rela memberikan tahta dan kekuasaan bahkan nyawa anaknya sendiri."
            Sekarang aku memutuskan untuk memenuhi permintaan anakku, "Janji kita harus ditepati." Secara serentak isteri dan ibuku berkata, "Apakah aku
sudah gila?"
 "Tidak," jawabku, "Kalau kita menjilat ludah sendiri, dia tidak akan pernah belajar bagaimana menghargai dirinya sendiri."
"Sindu permintaanmu akan kami penuhi."  Dengan kepala botak, wajah Sindu nampak bundar dan matanya besar serta bagus. Hari Senin aku mengantarnya ke sekolah, sekilas aku melihat Sindu botak berjalan ke kelasnya dan melambaikan tangan kepadaku sambil tersenyum. Aku membalas lambaian tangannya. Tiba-tiba seorang anak laki-laki keluar dari mobil sambil berteriak, "Sindu tolong tunggu saya!"  Yang mengejutkanku ternyata kepala anak laki-laki itu botak juga. Aku berpikir mungkin ‘botak’ merupakan tren model jaman sekarang.
Tanpa memperkenalkan dirinya seorang wanita keluar dari mobil dan
berkata, "Anak Anda, Sindu benar-benar hebat. Anak laki-laki yang jalan bersama-sama dia sekarang, Harish, adalah anak saya. Dia menderita kanker, leukemia."
Wanita itu berhenti berkata-kata, sejenak aku melihat air matanya mulai meleleh dipipinya. "Bulan lalu Harish tidak masuk sekolah karena chemotherapy hingga kepalanya menjadi botak. Jadi dia tidak mau pergi ke sekolah takut diejek oleh teman-teman sekelasnya. Nah, Minggu lalu Sindu datang ke rumah dan berjanji kepada anak saya untuk mengatasi ejekan yang mungkin terjadi.  Hanya saya betul-betul tidak menyangka kalau Sindu mau mengorbankan rambutnya yang indah untuk anakku, Harish. Tuan dan isteri Tuan sungguh diberkati Tuhan mempunyai anak perempuan yang berhati mulia."

 Aku berdiri terpaku dan tidak terasa air mataku meleleh. Malaikat kecilku tolong ajarkanku tentang arti sebuah kasih, bisikku.

1 komentar untuk "Merawat Pertemanan"

  1. It's the best time to make some plans for the future and it is time to be happy. I have read this post and if I could I want to suggest you few interesting things or advice. Perhaps you can write next articles referring to this article. I desire to read even more things about it! gmail email login

    BalasHapus