Makhluk Suka Bergaul - CocokPedia
Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Makhluk Suka Bergaul






Makhluk Suka Bergaul dalam pelajaran ilmu humaniora dan pengetahuan sosial, manusia disebut sebagai makhluk sosial. Artinya hanya manusia yang dapat sempurna bersosialisasi. Hanya kita yang dapat berteman, bergaul, dan berhubungan dengan baik dengan orang lain. Tidak ada satu pun manusia yang mampu hidup sendiri. Setiap orang membutuhkan orang lain dalam menjalani kehidupan.
Sejak terlahir ke dunia, kita membutuhkan pertolongan orang lain untuk bertahan hidup, tumbuh, dan berkembang, serta mewujudkan cita-cita. Orang yang pertama sekali dibutuhkan saat kita lahir adalah kedua orangtua kita. Merekalah orang pertama yang mengasuh dan membesarkan kita. Semakin bertambah usia kita, kita akan lebih banyak lagi membutuhkan bantuan orang lain. Kita membutuhkan dokter untuk menjaga dan memeriksa kesehatan kita. Kita membutuhkan guru untuk mengajari dan mendidik kita tentang ilmu pengetahuan. Kita membutuhkan penjual kebutuhan rumah tangga karena dari mereka orangtua kita bisa membeli kebutuhan pokok, kita membutuhkan tetangga, pemerintah, dan sebagainya. Jadi tidak mungkin kita bisa hidup sendiri dan memenuhi kebutuhan hidup kita sendiri tanpa bantuan orang lain.
Setiap hari kita sebagai manusia akan selalu berhubungan dengan orang lain. Sejak bangun tidur sampai kembali ke tempat tidur, kita akan tetap berhubungan dengan orang lain. Contoh nyata, di rumahmu setiap hari kamu selalu bertemu dengan kedua orangtuamu. Setiap hari pula kamu berhubungan dengan mereka. Berbicara dengan mereka. Berbagi cerita dengan mereka. Semua orang akan berhubungan dengan orang lain sampai ajal menjemput mereka. Setiap orang membutuhkan interaksi. Setiap orang tidak akan mampu hidup seorang diri tanpa bantuan orang lain.


Secara alamiah, kita memang diciptakan berbeda. Ada laki-laki dan perempuan. Ada dewasa dan anak-anak. Ada yang kaya dan miskin. Intinya, kita diciptakan oleh Tuhan dengan keberagaman, dengan dibekali perbedaan masing-masing. Apakah maknanya? Agar kita saling mengenal satu dengan yang lain. Agar kita saling berhubungan, berinteraksi. Saling berbagi dan saling menyayangi. Dengan perbedaan yang kita miliki masing-masing membuat orang lain tertarik dengan kelebihan dan kekurangan kita. Dengan perbedaan dan keragaman itulah setiap kita akan saling membutuhkan satu dan yang lain. Dengan keberagaman dan perbedaan itu pula kita diamanahkan untuk saling menjaga, menghargai, menghormati, dan saling menyayangi. Itulah hikmah keberagaman yang Tuhan berikan kepada kita.
Sebagai manusia yang dikaruiai akal dan menyandang jabatan pemimpin atas alam semesta ini, manusia juga berhubungan dan berinteraksi dengan alam. Manusia juga bergaul dengan dunia tumbuhan dan hewan. Hubungan saling membutuhkan akan terus terjalin selama ada kehidupan. Baik antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia, dan manusia dengan alam.
Coba kamu sejenak bayangkan. Bayangkan seolah-olah kamu di dunia hanya sendirian. Tidak ada siapapun selain dirimu. Apa yang kamu rasakan? Pasti sangat mengerikan. Pasti sangat kesepian. Hidupmu seperti tidak berharga. Hidupmu seperti sia-sia. Kamu tidak mempunyai siapa pun yang bisa kamu ajak berbincang. Tidak ada yang bisa menolongmu ketika kamu sakit. Tidak ada orang yang bisa mengajari dan mendidikmu tentang segala hal. Tidak ada seorang pun sebagai tempat curahan kasih sayangmu. Benar-benar situasi yang sangat mengerikan.
Ternyata keberadaan orang lain di sekitarmu benar-benar sangat kamu butuhkan. Orang-orang di sekitarmu ternyata sangat berarti. Jadi, tidak pantas kita kita meremehkan siapa pun di sekitar kita. Tidak pantas kita mengabaikan siapa pun di sekeliling kita. Karena ternyata siapa pun orangnya memberikan andil besar bagi kehidupan kita. Mereka, siapa pun dia, berarti bagi kehidupan kita.
Mengenai bagaimana seharusnya kita memposisikan diri kita, bagaimana berhubungan, dan bergaul dengan orang lain, bagaimana memilih di antara mereka menjadi teman atau sahabat, bagaimana memperlakukan dan merawat pertemanan akan diulas lebih lanjut pada halaman-halaman selanjutnya. Sebagai akhir dari bagian ini, penulis sertakan sebuah sketsa menarik tentang seekor keledai tua. Kata sebagian orang keledai merupakan hewan yang bodoh. Benarkan demikian? Mari kita cari tahu, apakah keledai itu benar-benar bodoh atau tidak.

Belajar dari Hewan yang Bodoh

Suatu hari keledai milik seorang petani jatuh ke dalam sumur. Hewan itu menangis memilukan selama berjam-jam semetara si petani memikirkan apa yang harus dilakukannya. Akhirnya, ia memutuskan bahwa hewan itu sudah tua dan sumur juga perlu ditimbun/ditutup karena berbahaya; jadi tidak berguna untuk menolong si keledai. Dan ia mengajak tetangga-tetangganya untuk datang membantunya. Mereka membawa sekop dan mulai menyekop tanah ke dalam sumur.
Pada mulanya, ketika si keledai menyadari apa yang sedang terjadi, ia menangis penuh kengerian. Tetapi kemudian, semua orang takjub karena si keledai menjadi diam. Setelah beberapa sekop tanah lagi dituangkan ke dalam sumur, si petani melihat ke dalam sumur dan tercengang karena apa yang dilihatnya. Walaupun punggungnya terus ditimpa oleh bersekop-sekop tanah dan kotoran, si keledai melakukan sesuatu yang menakjubkan. Ia mengguncang- guncangkan badannya agar tanah yang menimpa punggungnya turun ke bawah, lalu menaiki tanah itu.
Sementara tetangga-tetangga si petani terus menuangkan tanah kotor ke atas punggung hewan itu, si keledai terus juga menguncangkan badannya dan melangkah naik. Segera saja, semua orang terpesona ketika si keledai meloncati tepi sumur dan melarikan diri!
Kehidupan terus saja menuangkan tanah dan kotoran kepadamu, segala macam tanah dan kotoran. Cara untuk keluar dari 'sumur' (kesedihan, masalah, dan sebagainya) adalah dengan menguncangkan segala tanah dan kotoran dari diri kita (pikiran dan hati kita) dan melangkah naik dari 'sumur' dengan menggunakan hal-hal tersebut sebagai pijakan. Setiap masalah-masalah kita merupakan satu batu pijakan untuk melangkah. Kita dapat keluar dari 'sumur' yang terdalam dengan terus berjuang, jangan pernah menyerah!
Apa yang dapat kalian petik dari cerita tersebut? Pertama, jangan memandang rendah orang lain. Meskipun kebanyakan orang mengatakan bahwa keledai itu bodoh, tentu memiliki kelebihan tertentu. Begitu pula ketika ketika kita memandang dan menilai sesorang, tidak pantas kita memandang dengan memberikan penilaian yang negatif. Setiap orang mempunyai kelebihan dan kekurangan. Tidak ada satu orang pun yang sempurna. Itulah dasar kita untuk saling menghormati.

Kedua, pada setiap masalah pasti ada hikmah yang bisa dipetik. Juga pasti ada jalan keluar dan penyelesaian. Seperti sebuah penyakit, Tuhan mengatakan bahwa setiap diturunkannya suatu penyakit pasti beserta obatnya. Begitu pula dengan setiap masalah, pasti diturunkan dengan solusinya. Jadi, tidak layak kita berputus asa. Dengan memandang bahwa semua orang di sekitar kita memiliki kelebihan dan kekurangan, mari berlomba-lomba memperbanyak teman, menggali kelebihan dan kebaikan mereka, dan kita gunakan untuk menjadi diri sendiri dan sukses mencapai impian masa depan.

Posting Komentar untuk "Makhluk Suka Bergaul"

  • Bagikan