Tampilkan postingan dengan label Esai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Esai. Tampilkan semua postingan
Bangsa Ini Hidup dan Besar dari Korupsi

Bangsa Ini Hidup dan Besar dari Korupsi

 


Ketika korupsi makin menggurita di republik ini, kemudian pemerintah membentuk lembaga yang bernama KPK, Komisi Pemberantasan Korupsi. Jangan diplesetkan menjadi Kelompok Penggiat Korupsi, hahaha. Apa yang terjadi ketika lembaga tersebut bekerja? Terjadi korupsi juga? Makin giat? KPK juga? Saya tidak menuduh lo, tapi ini bentuk pertanyaan.

Ketika lembaga tersebut tidak begitu efektif, bagaimana cara yang jitu memberantas korupsi? Ingat, para pejabat yang saat ini duduk di kursinya masing-masing, berkat orang-orang di belakang layar. Tentu tidak gratis. Seolah-olah mereka yang di balik layar mewariskan kitab ilmu korupsi yang indah kepada para pejabat yang saat ini bertugas. Maka solusinya, menurut saya butuh penghentian setidaknya dua generasi untuk bisa membersihkan naluri korupsi terutama di kalangan pejabat negara sehingga terputus jalur komunikasi dan koneksi orang-orang lama dengan orang-orang baru dalam memperoleh jabatan. Dengan memutuskan rantai budaya korup tersebut, rekam jejaknya bisa benar-benar bersih. Kalau tidak begitu, tidak akan pernah berhasil. 

Satu fenomena yang mungkin bisa jadi gambaran dapat saya deskripsikan sebagai berikut.

Pertama dari tingkat terbawah. Seorang staf TU sebuah instansi atau dinas. Ia tidak akan bekerja tanpa ada terselip amplop atau jabat tangan di bawah meja. Ya, setidaknya harus ada pelicin lima puluh ribu rupiah. Ya, maklum, pangkat dan golongannya pasti masih rendah sedangkan kebutuhan hidup sangat tinggi. Masih dalam tingkat wajar dan manusiawi. Walaupun sebenarnya tugas administrasi publik adalah tugas pokoknya sehingga hak menggajinya karena kewajiban tersebut.

Kedua, di kalangan pendidikan terutama guru. Ada banyak permintaan administrasi oleh dinas pendidikan (tertentu, tidak semua). Baik itu tentang kenaikan gaji berkala, kenaikan tingkat, bahkan persyaratan pencairan sertifikasi. Contoh kenaikan tingkat, ada tarif tertentu yang tidak terpublish. Misal untuk bisa naik tingkat dari 3C ke 3D seorang guru dapat membayar satu juta lima ratus rupiah ke atas, tidak ke bawah. Pasti lolos dengan lancar. Ketika Surat Keputusan Kenaikan Tingkat sudah jadi, untuk sampai ke tangan guru, tentu juga diperlukan amplop yang berisi setidaknya seratus ribu rupiah.

Ketiga, kita naik ke kalangan pejabat kecil. Suatu instansi atau dinas, untuk menjadi Kapala Seksi (kasi), seseorang harus deposit sekitar lima puluh juta ke atas, lagi-lagi tidak ke bawah ya. Untuk menjadi Kepala Bidang, sekitaran seratus juta ke atas, jangan ke bawah lagi, hehehe. Untuk menjadi kepala dinas yang basah seperti dinas pendidikan atau kesehatan, maka perlu merogoh kocek sekitar lima ratus juta ke atas, tidak boleh kurang, lebih malah lebih sukses. Nah, karena proses mendapatkan jabatan sudah seperti itu, sangat wajar bagi pejabat untuk berusaha mengembalikan uang yang sudah ditarik duluan secara politis. Tidak heran ketika kemudian terjadi banyak penyimpangan proyek (korupsi) di mana-mana.

Keempat, kita naik lebih tinggi lagi. Jika deskripsi di atas sudah terjadi korupsi, apakah di atas jabatan tersebut juga terjadi? Tentu, hanya saja tidak semua dapat dibuktikan dengan nyata. Ada banyak cara untuk menyembunyikan praktik korup tersebut. Untuk jadi bupati atau wali kota, tentu tidak hanya sekedar lima ratus juta apalagi untuk menjadi menteri atau presiden. Pasti lebih gila lagi jumlah nolnya.

Untuk menjadi anggota dewan, maka partai butuh dana untuk promosi wajah calonnya. Setidaknya biaya buat banner di perempatan-perempatan jalan strategis menampilkan wajah calon anggota dewan. (anggap saja pengganti polisi yang mengawasi lalu-lintas). Partai juga butuh dana untuk merayu masyarakat agar memilih calon yang diusungnya. Partai juga butuh dana cuap-cuap kampanye. Dan, pasti butuh dana serangan fajar juga. Banyak sekali dana yang dibutuhkan, maka sebagian besar dana dapat diperoleh dari pejabat separtai yang masih aktif. (aktif korup juga, hahaha).

Coba bayangkan bagaimana seseorang yang ingin menjadi lurah. Coba tanyakan berapa uang dan harta yang sudah dikeluarkan. Mereka akan menyebut: saya sudah menjual tanah, menjual mobil, menjual perhiasan, dan sebagainya. (kadang juga menjual harga diri, ssst). Untuk dana pencalonan tersebut bisa sekitar dua ratus juga ke atas, tidak ke bawah.

Jadi dapat disimpulkan bahwa oknum sebagian bangsa ini menghidupi diri mereka dari jalan korupsi. Jika tidak demikian, maka tidak terjadi kewajaran berpolitik dan bernegara apalagi berbangsa, hahaha. Sebagian oknum tersebut takkan mampu hidup tanpa korupsi. Dengan korupsi, maka semua gaya hidup dapat didanai dengan sangat cukup. Kan tidak mungkin seorang pejabat naik sepeda motor. Tidak mungkin seorang pejabat bersama keluarga makan di lesehan kaki lima. Tidak mungkin pejabat tidur di mushalla. Hahaha. Korupsi telah menjadi sumber dana khusus yang melebihi gaji mereka untuk kelangsungan hidup seluruh keturunannya.

Di tingkat daerah, kabupaten juga terbentuk BPK entah apa singkatannya. Badan ini khusus menyatroni para pegawai negara sampai tingkat pejabat daerah. Lagi-lagi, sebagian mereka ternyata juga penggiat korupsi. Maka, selain gagasan pemutusan mata rantai budaya korup di atas, perlu pula diselenggarakan tes properties sebelum mereka menjadi pejabat negara atau pegawai negara. Misalnya, mereka harus lulus uji pengetahuan dan keterampilan religi dan sosial seperti rapor anak SD; mereka juga harus hafal lima sila Pancasila dan butir-butirnya serta mampu mengaplikasikannya dalam keseharian; mereka harus tanda tangan kontrak pakta integritas, jika mereka melakukan korup, kepala mereka harus dipenggal dan keluarga koruptor yang ikut makan uang negara harus diasingkan ke pulau terpencil dan terjauh; dan sebagainya. Wuih, ngeri!

Nah, sekarang tugas orang yang kompeten melacaknya, tapi yang serius lo ya!

Zombieland in Philadelphia

Zombieland in Philadelphia

 

 Orang bilang tanah kita tanah surga
Tongkat kayu dan batu jadi tanaman….

 

Kita masih sangat bersyukur dibandingkan keadaan sesama manusia kita di Philadelphia. Menyaksikan banyak video mengenai kondisi manusia di sana membuat hati ini sangat miris. Manusia di sepanjang jalan dalam keadaan buffering atau loading. Manusia di sana terlantar, tidak punya rumah. Miskin. Hidup berdampingan dengan sampah dan narkoba. Ada yang menyebut kota itu sebagai Zombieland karena setengah manusia setengah mayat hidup. Sungguh mengenaskan sekali.

Berikut beberapa cupilkan frame kehidupan manusia yang sangat tidak normal sekali di sana.






Mereka menunduk bukan mencari sesuatu, tapi karena memang tidak kuat berdiri tegak dan sadar. Mereka tersungkur juga bukan karena sedang bersujud, tapi karena tidak kuat lagi mengontrol tubuhnya. Mereka tertunduk bukan karena sedang tafakur, tapi ibarat komputer, mereka sudah tidak bisa loading dengan baik sebagai manusia yang berkesadaran atau normal. Perhatikan foto terakhir, mau pasang celana saja sudah tak sanggup.

Silakan telusur di youtube dengan kata kunci :


Kita patut bersyukur di Indonesia, semiskin-miskinnya tidak sampai dalam keterpurukan seperti itu. Setidaknya masih ingat menyebut nama Tuhan.


Salah Satu Orang Gila Indonesia:  Alffy Rev dengan Wonderland Indonesia-nya

Salah Satu Orang Gila Indonesia: Alffy Rev dengan Wonderland Indonesia-nya

 



Sebelum ke apa itu Wonderland Indonesia, ada baiknya klik dulu link di bawah ini untuk menonton karya Alffy Rev.

Wonderland Indonesia


Bagaimana? Keren kan karya putera Indonesia yang satu ini. Banyak reaksi para pemusik luar sana yang juga mengapresiasi luar biasa untuk karya ini. Banyak di antara mereka yang menyatakan bahwa mereka merinding mendengarkan musik dan liriknya walaupun tidak paham. 

Sungguh saya nyatakan dalam judul artikel ini bahwa Alffy Rev adalah salah satu orang gila di Indonesia. Sungguh betapa gilanya ia terhadap Indonesia. Cinta pada negerinya luar biasa. Perjuangan yang tidak kecil. Untuk modal awal produksinya saja ia terpaksa menjual mobil. Sisanya ia bersama teman-teman timnya ke sana ke mari untuk memperoleh donatur. 

Nah, ketika menemui pihak pemerintahan, di situlah letak batunya. Cuma doa dan dukungan moral. Hahaha. Hanya sekedar itu? Cukup? Kemudian dengan perjuangannya di tengah proses produksi di Bali, dikejar deadline (17 Agustus 2021), dan sumber daya pangan menipis, akhirnya ada pahlawan muncul. Ia adalah Doni Salmanan (silakan googling siapa dia). Doni Salmanan dengan suka rela menyumbangkan donasinya untuk produksi Wonderland Indonesia tanpa babibu seperti .... (tau sendiri lah siapa mereka).

H-7 dari deadline, kembali kehabisan dana produksi. Satu-satunya solusi adalah menunda release Wonderland Indonesia ke tahun berikutnya. Tapi, tanpa disangka dan diduga, pemerintah akhirnya membuka mata melalui Kementerian Pendidikan Kebudayaan, Riset dan Teknologi kemudian memberikan donasinya sehingga WI berhasil launching tepat Hari Kemerdekaan RI ke-76. Selamat Alffy Rev. Karyamu dan tim sungguh keren. Bangsa luar sana akhirnya membuka mata bahwa Indonesia sungguh indah, damai, sejahtera. Indonesia benar-benar negeri ajaib bukan hanya negeri yang luar biasa.


Siapa Alffy Rev? Silakan tonton profilnya:

Profil Alffy Rev


Dunia Ramai di Dalam Diri

Dunia Ramai di Dalam Diri

 




Di dalam diri ada pikiran dan perasaan. Dari dua elemen tersebut terciptalah ingatan, imajinasi, keinginan, dan perasaan. Mereka inilah yang membuat gaduh di dalam diri. Ingatan, imajinasi, keinginan, pikiran dan perasaan, sering kali tidak mampu kita jadikan para abdi atau pelayan-pelayan bagi kepentingan sang Jiwa, namun mereka kemudian lebih sebagai pengkhianat, musuh dalam selimut, pengadu domba, dan penipu yang bergerak sendiri dalam kehendaknya yang instingtif, reaktif dan impulsif, di mana kesemuanya ini secara beramai-ramai kemudian “menyalibkan” Tuannya sendiri, yakni diri kita. (kutipan dari buku Isis Unveiled, karya Blavatsky).

Kita tidak punya kemampuan untuk memerintahnya secara lisan seperti: “Diamlah!” “Tenanglah!” Tidak bisa. Hanya ada dua jalan yang bisa membuat mereka beku tidak ramai dan tidak mengganggu kita lagi. Salah satu jalannya adalah yang paling kita tidak suka yakni kematian. Satu jalan lainnya mungkin kita suka, yakni ‘pintu kegelapan.’

Pintu kegelapan ini adalah pintu cahaya absolut. Cahaya kegelapanlah yang di dalamnya terdapat cahaya-cahaya terang dan bening. Kegelapanlah yang merangkul semua cahaya seperti layaknya lubang hitam menelan bintang-bintang sekaligus melahirkannya kembali.

Pintu kegelapan ini kemudian ada yang menyebut sebagai meditasi atau tafakur. Yakni cara memasuki wilayah keheningan dengan kondisi sadar bukan dalam kondisi tidur. Inilah wilayah yang tak terjamah oleh gangguan-gangguan pikiran dan perasaan manusia. Sebuah dunia gelap dan hening tanpa kata tanpa bahasa. Wilayah rahasia yang hanya diri dan Tuhan saja yang mengetahuinya. Tempat berbincang yang paling aman dan rahasia. Sebuah tempat yang gelap tapi penuh dengan cahaya-cahaya misterius. Tempat yang hanya dengan bahasa khusus tanpa lisan dan isyarat. Tempat kediaman diri yang sejati. Tempat curhat yang paling nyaman dengan diri dan Tuhan bahkan malaikat pun tidak dapat menguping atau mengintip.

Dengan segala keriuhan hidup dan dunia, hanya dua jalan itu, mati atau pergi ke wilayah rahasia. Cukuplah itu sebagai tempat istirahat dari semua hiruk pikuk kehidupan. Dalam wilayah itu, dalam kondisi demikian, hanya keheningan dan ketenangan, layakna tidur panjang tanpa mimpi.

BENTROK

BENTROK

 



Oleh Moh. Rasul Mauludi

 

Kata bentrok dipastikan berakibat tidak nyaman. Bentrok itu sendiri berbenturan, beradu, bertabrakan, dan terjadi hal kurang baik pada saat yang bersamaan. Artinya tidak nyaman disebabkan harus ada yang dikalahkan salah satunya.

Kata bentrok sering terjadi dalam kehidupan manusia. Bentrok dalam hal yang tidak baik adalah bentrok fisik. Dalam hal lainnya, yakni bentrok waktu. Bentrok fisik dan bentrok waktu sama-sama memakan korban. Korban dari bentrok fisik akan berhubungan dengan raga atau badan. Bisa lebam bisa pula luka-luka dan sebagainya.

Bentrok fisik sering terjadi dalam bentuk gerombolan atau kelompok yang dipicu dari gejolak personal. Antar warga, antar pemuda, antar pelajar, antar sesama, antar kelompok, antar golongan dan seterusnya. Bentrok fisik sering terjadi pada pelanggaran keamanan dan ketertiban umum.

Sementara korban dari bentrok waktu berhubungan dengan situasi dan kondisi. Dalam hal bentrok waktu, lebih sering terjadi pada acara-acara seremonial dan kegiatan sosial. Memilih waktu yang sangat penting atau urgen dan mengalahkan yang tidak terlalu penting.

Seperti pejabat yang kelasnya pimpinan. Mau tidak mau akan banyak undangan yang meminta dirinya hadir. Ketika, ada undangan yang bersamaan atau bentrok baik hari dan jamnya, maka pastilah dipilih undangan yang sifatnya penting. Undangan lainnya yang sifatnya rutinitas atau biasa saja ditinggalkan.

Bisa saja dengan solusi dihadiri semua dengan cara telat salah satunya. Dengan begitupun, tetaplah yang sifatnya penting didahulukan. Bentrok waktu memang tidak separah dibandingkan dengan bentrok fisik. Namun, bentrok waktu menimbulkan kekecewaan bagi yang dijadikan korban.

Dari kedua bentrok di atas, masih ada bentrok yang juga berakibat merugikan atau mengalahkan salah satunya. Adanya bentrok pasal dalam undang-undang dan bentrok aturan dalam kebijakan serta bentrok program dalam organisasi. Bentrok ini semacam tumpang tindih, tidak tertib, atau menyalahi obyek yang menjadi sasaran. Sebelum yang satu direalisasikan, muncul lagi yang lain untuk direalisasikan.

Akhirnya, memang tidak pernah nyaman kejadian bentrok itu. Namun, memang sulit menghindari untuk tidak terjadi bentrokan. Sepertinya hidup ini harus terjadi bentrokan dalam beberapa hal dan tidak dalam hal yang kurang baik.

Lebih jauh lagi tentang bentrok, apakah ada yang namanya bentrok hati!? Jawabannya hanyalah dua pilihan, yakni bisa saja ada dan bisa pula tidak ada.