Tampilkan postingan dengan label Esai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Esai. Tampilkan semua postingan
Bangsa Ini Hidup dan Besar dari Korupsi

Bangsa Ini Hidup dan Besar dari Korupsi

 


Ketika korupsi makin menggurita di republik ini, kemudian pemerintah membentuk lembaga yang bernama KPK, Komisi Pemberantasan Korupsi. Jangan diplesetkan menjadi Kelompok Penggiat Korupsi, hahaha. Apa yang terjadi ketika lembaga tersebut bekerja? Terjadi korupsi juga? Makin giat? KPK juga? Saya tidak menuduh lo, tapi ini bentuk pertanyaan.

Ketika lembaga tersebut tidak begitu efektif, bagaimana cara yang jitu memberantas korupsi? Ingat, para pejabat yang saat ini duduk di kursinya masing-masing, berkat orang-orang di belakang layar. Tentu tidak gratis. Seolah-olah mereka yang di balik layar mewariskan kitab ilmu korupsi yang indah kepada para pejabat yang saat ini bertugas. Maka solusinya, menurut saya butuh penghentian setidaknya dua generasi untuk bisa membersihkan naluri korupsi terutama di kalangan pejabat negara sehingga terputus jalur komunikasi dan koneksi orang-orang lama dengan orang-orang baru dalam memperoleh jabatan. Dengan memutuskan rantai budaya korup tersebut, rekam jejaknya bisa benar-benar bersih. Kalau tidak begitu, tidak akan pernah berhasil. 

Satu fenomena yang mungkin bisa jadi gambaran dapat saya deskripsikan sebagai berikut.

Pertama dari tingkat terbawah. Seorang staf TU sebuah instansi atau dinas. Ia tidak akan bekerja tanpa ada terselip amplop atau jabat tangan di bawah meja. Ya, setidaknya harus ada pelicin lima puluh ribu rupiah. Ya, maklum, pangkat dan golongannya pasti masih rendah sedangkan kebutuhan hidup sangat tinggi. Masih dalam tingkat wajar dan manusiawi. Walaupun sebenarnya tugas administrasi publik adalah tugas pokoknya sehingga hak menggajinya karena kewajiban tersebut.

Kedua, di kalangan pendidikan terutama guru. Ada banyak permintaan administrasi oleh dinas pendidikan (tertentu, tidak semua). Baik itu tentang kenaikan gaji berkala, kenaikan tingkat, bahkan persyaratan pencairan sertifikasi. Contoh kenaikan tingkat, ada tarif tertentu yang tidak terpublish. Misal untuk bisa naik tingkat dari 3C ke 3D seorang guru dapat membayar satu juta lima ratus rupiah ke atas, tidak ke bawah. Pasti lolos dengan lancar. Ketika Surat Keputusan Kenaikan Tingkat sudah jadi, untuk sampai ke tangan guru, tentu juga diperlukan amplop yang berisi setidaknya seratus ribu rupiah.

Ketiga, kita naik ke kalangan pejabat kecil. Suatu instansi atau dinas, untuk menjadi Kapala Seksi (kasi), seseorang harus deposit sekitar lima puluh juta ke atas, lagi-lagi tidak ke bawah ya. Untuk menjadi Kepala Bidang, sekitaran seratus juta ke atas, jangan ke bawah lagi, hehehe. Untuk menjadi kepala dinas yang basah seperti dinas pendidikan atau kesehatan, maka perlu merogoh kocek sekitar lima ratus juta ke atas, tidak boleh kurang, lebih malah lebih sukses. Nah, karena proses mendapatkan jabatan sudah seperti itu, sangat wajar bagi pejabat untuk berusaha mengembalikan uang yang sudah ditarik duluan secara politis. Tidak heran ketika kemudian terjadi banyak penyimpangan proyek (korupsi) di mana-mana.

Keempat, kita naik lebih tinggi lagi. Jika deskripsi di atas sudah terjadi korupsi, apakah di atas jabatan tersebut juga terjadi? Tentu, hanya saja tidak semua dapat dibuktikan dengan nyata. Ada banyak cara untuk menyembunyikan praktik korup tersebut. Untuk jadi bupati atau wali kota, tentu tidak hanya sekedar lima ratus juta apalagi untuk menjadi menteri atau presiden. Pasti lebih gila lagi jumlah nolnya.

Untuk menjadi anggota dewan, maka partai butuh dana untuk promosi wajah calonnya. Setidaknya biaya buat banner di perempatan-perempatan jalan strategis menampilkan wajah calon anggota dewan. (anggap saja pengganti polisi yang mengawasi lalu-lintas). Partai juga butuh dana untuk merayu masyarakat agar memilih calon yang diusungnya. Partai juga butuh dana cuap-cuap kampanye. Dan, pasti butuh dana serangan fajar juga. Banyak sekali dana yang dibutuhkan, maka sebagian besar dana dapat diperoleh dari pejabat separtai yang masih aktif. (aktif korup juga, hahaha).

Coba bayangkan bagaimana seseorang yang ingin menjadi lurah. Coba tanyakan berapa uang dan harta yang sudah dikeluarkan. Mereka akan menyebut: saya sudah menjual tanah, menjual mobil, menjual perhiasan, dan sebagainya. (kadang juga menjual harga diri, ssst). Untuk dana pencalonan tersebut bisa sekitar dua ratus juga ke atas, tidak ke bawah.

Jadi dapat disimpulkan bahwa oknum sebagian bangsa ini menghidupi diri mereka dari jalan korupsi. Jika tidak demikian, maka tidak terjadi kewajaran berpolitik dan bernegara apalagi berbangsa, hahaha. Sebagian oknum tersebut takkan mampu hidup tanpa korupsi. Dengan korupsi, maka semua gaya hidup dapat didanai dengan sangat cukup. Kan tidak mungkin seorang pejabat naik sepeda motor. Tidak mungkin seorang pejabat bersama keluarga makan di lesehan kaki lima. Tidak mungkin pejabat tidur di mushalla. Hahaha. Korupsi telah menjadi sumber dana khusus yang melebihi gaji mereka untuk kelangsungan hidup seluruh keturunannya.

Di tingkat daerah, kabupaten juga terbentuk BPK entah apa singkatannya. Badan ini khusus menyatroni para pegawai negara sampai tingkat pejabat daerah. Lagi-lagi, sebagian mereka ternyata juga penggiat korupsi. Maka, selain gagasan pemutusan mata rantai budaya korup di atas, perlu pula diselenggarakan tes properties sebelum mereka menjadi pejabat negara atau pegawai negara. Misalnya, mereka harus lulus uji pengetahuan dan keterampilan religi dan sosial seperti rapor anak SD; mereka juga harus hafal lima sila Pancasila dan butir-butirnya serta mampu mengaplikasikannya dalam keseharian; mereka harus tanda tangan kontrak pakta integritas, jika mereka melakukan korup, kepala mereka harus dipenggal dan keluarga koruptor yang ikut makan uang negara harus diasingkan ke pulau terpencil dan terjauh; dan sebagainya. Wuih, ngeri!

Nah, sekarang tugas orang yang kompeten melacaknya, tapi yang serius lo ya!

Zombieland in Philadelphia

Zombieland in Philadelphia

 

 Orang bilang tanah kita tanah surga
Tongkat kayu dan batu jadi tanaman….

 

Kita masih sangat bersyukur dibandingkan keadaan sesama manusia kita di Philadelphia. Menyaksikan banyak video mengenai kondisi manusia di sana membuat hati ini sangat miris. Manusia di sepanjang jalan dalam keadaan buffering atau loading. Manusia di sana terlantar, tidak punya rumah. Miskin. Hidup berdampingan dengan sampah dan narkoba. Ada yang menyebut kota itu sebagai Zombieland karena setengah manusia setengah mayat hidup. Sungguh mengenaskan sekali.

Berikut beberapa cupilkan frame kehidupan manusia yang sangat tidak normal sekali di sana.






Mereka menunduk bukan mencari sesuatu, tapi karena memang tidak kuat berdiri tegak dan sadar. Mereka tersungkur juga bukan karena sedang bersujud, tapi karena tidak kuat lagi mengontrol tubuhnya. Mereka tertunduk bukan karena sedang tafakur, tapi ibarat komputer, mereka sudah tidak bisa loading dengan baik sebagai manusia yang berkesadaran atau normal. Perhatikan foto terakhir, mau pasang celana saja sudah tak sanggup.

Silakan telusur di youtube dengan kata kunci :


Kita patut bersyukur di Indonesia, semiskin-miskinnya tidak sampai dalam keterpurukan seperti itu. Setidaknya masih ingat menyebut nama Tuhan.


Salah Satu Orang Gila Indonesia:  Alffy Rev dengan Wonderland Indonesia-nya

Salah Satu Orang Gila Indonesia: Alffy Rev dengan Wonderland Indonesia-nya

 



Sebelum ke apa itu Wonderland Indonesia, ada baiknya klik dulu link di bawah ini untuk menonton karya Alffy Rev.

Wonderland Indonesia


Bagaimana? Keren kan karya putera Indonesia yang satu ini. Banyak reaksi para pemusik luar sana yang juga mengapresiasi luar biasa untuk karya ini. Banyak di antara mereka yang menyatakan bahwa mereka merinding mendengarkan musik dan liriknya walaupun tidak paham. 

Sungguh saya nyatakan dalam judul artikel ini bahwa Alffy Rev adalah salah satu orang gila di Indonesia. Sungguh betapa gilanya ia terhadap Indonesia. Cinta pada negerinya luar biasa. Perjuangan yang tidak kecil. Untuk modal awal produksinya saja ia terpaksa menjual mobil. Sisanya ia bersama teman-teman timnya ke sana ke mari untuk memperoleh donatur. 

Nah, ketika menemui pihak pemerintahan, di situlah letak batunya. Cuma doa dan dukungan moral. Hahaha. Hanya sekedar itu? Cukup? Kemudian dengan perjuangannya di tengah proses produksi di Bali, dikejar deadline (17 Agustus 2021), dan sumber daya pangan menipis, akhirnya ada pahlawan muncul. Ia adalah Doni Salmanan (silakan googling siapa dia). Doni Salmanan dengan suka rela menyumbangkan donasinya untuk produksi Wonderland Indonesia tanpa babibu seperti .... (tau sendiri lah siapa mereka).

H-7 dari deadline, kembali kehabisan dana produksi. Satu-satunya solusi adalah menunda release Wonderland Indonesia ke tahun berikutnya. Tapi, tanpa disangka dan diduga, pemerintah akhirnya membuka mata melalui Kementerian Pendidikan Kebudayaan, Riset dan Teknologi kemudian memberikan donasinya sehingga WI berhasil launching tepat Hari Kemerdekaan RI ke-76. Selamat Alffy Rev. Karyamu dan tim sungguh keren. Bangsa luar sana akhirnya membuka mata bahwa Indonesia sungguh indah, damai, sejahtera. Indonesia benar-benar negeri ajaib bukan hanya negeri yang luar biasa.


Siapa Alffy Rev? Silakan tonton profilnya:

Profil Alffy Rev


Dunia Ramai di Dalam Diri

Dunia Ramai di Dalam Diri

 




Di dalam diri ada pikiran dan perasaan. Dari dua elemen tersebut terciptalah ingatan, imajinasi, keinginan, dan perasaan. Mereka inilah yang membuat gaduh di dalam diri. Ingatan, imajinasi, keinginan, pikiran dan perasaan, sering kali tidak mampu kita jadikan para abdi atau pelayan-pelayan bagi kepentingan sang Jiwa, namun mereka kemudian lebih sebagai pengkhianat, musuh dalam selimut, pengadu domba, dan penipu yang bergerak sendiri dalam kehendaknya yang instingtif, reaktif dan impulsif, di mana kesemuanya ini secara beramai-ramai kemudian “menyalibkan” Tuannya sendiri, yakni diri kita. (kutipan dari buku Isis Unveiled, karya Blavatsky).

Kita tidak punya kemampuan untuk memerintahnya secara lisan seperti: “Diamlah!” “Tenanglah!” Tidak bisa. Hanya ada dua jalan yang bisa membuat mereka beku tidak ramai dan tidak mengganggu kita lagi. Salah satu jalannya adalah yang paling kita tidak suka yakni kematian. Satu jalan lainnya mungkin kita suka, yakni ‘pintu kegelapan.’

Pintu kegelapan ini adalah pintu cahaya absolut. Cahaya kegelapanlah yang di dalamnya terdapat cahaya-cahaya terang dan bening. Kegelapanlah yang merangkul semua cahaya seperti layaknya lubang hitam menelan bintang-bintang sekaligus melahirkannya kembali.

Pintu kegelapan ini kemudian ada yang menyebut sebagai meditasi atau tafakur. Yakni cara memasuki wilayah keheningan dengan kondisi sadar bukan dalam kondisi tidur. Inilah wilayah yang tak terjamah oleh gangguan-gangguan pikiran dan perasaan manusia. Sebuah dunia gelap dan hening tanpa kata tanpa bahasa. Wilayah rahasia yang hanya diri dan Tuhan saja yang mengetahuinya. Tempat berbincang yang paling aman dan rahasia. Sebuah tempat yang gelap tapi penuh dengan cahaya-cahaya misterius. Tempat yang hanya dengan bahasa khusus tanpa lisan dan isyarat. Tempat kediaman diri yang sejati. Tempat curhat yang paling nyaman dengan diri dan Tuhan bahkan malaikat pun tidak dapat menguping atau mengintip.

Dengan segala keriuhan hidup dan dunia, hanya dua jalan itu, mati atau pergi ke wilayah rahasia. Cukuplah itu sebagai tempat istirahat dari semua hiruk pikuk kehidupan. Dalam wilayah itu, dalam kondisi demikian, hanya keheningan dan ketenangan, layakna tidur panjang tanpa mimpi.

BENTROK

BENTROK

 



Oleh Moh. Rasul Mauludi

 

Kata bentrok dipastikan berakibat tidak nyaman. Bentrok itu sendiri berbenturan, beradu, bertabrakan, dan terjadi hal kurang baik pada saat yang bersamaan. Artinya tidak nyaman disebabkan harus ada yang dikalahkan salah satunya.

Kata bentrok sering terjadi dalam kehidupan manusia. Bentrok dalam hal yang tidak baik adalah bentrok fisik. Dalam hal lainnya, yakni bentrok waktu. Bentrok fisik dan bentrok waktu sama-sama memakan korban. Korban dari bentrok fisik akan berhubungan dengan raga atau badan. Bisa lebam bisa pula luka-luka dan sebagainya.

Bentrok fisik sering terjadi dalam bentuk gerombolan atau kelompok yang dipicu dari gejolak personal. Antar warga, antar pemuda, antar pelajar, antar sesama, antar kelompok, antar golongan dan seterusnya. Bentrok fisik sering terjadi pada pelanggaran keamanan dan ketertiban umum.

Sementara korban dari bentrok waktu berhubungan dengan situasi dan kondisi. Dalam hal bentrok waktu, lebih sering terjadi pada acara-acara seremonial dan kegiatan sosial. Memilih waktu yang sangat penting atau urgen dan mengalahkan yang tidak terlalu penting.

Seperti pejabat yang kelasnya pimpinan. Mau tidak mau akan banyak undangan yang meminta dirinya hadir. Ketika, ada undangan yang bersamaan atau bentrok baik hari dan jamnya, maka pastilah dipilih undangan yang sifatnya penting. Undangan lainnya yang sifatnya rutinitas atau biasa saja ditinggalkan.

Bisa saja dengan solusi dihadiri semua dengan cara telat salah satunya. Dengan begitupun, tetaplah yang sifatnya penting didahulukan. Bentrok waktu memang tidak separah dibandingkan dengan bentrok fisik. Namun, bentrok waktu menimbulkan kekecewaan bagi yang dijadikan korban.

Dari kedua bentrok di atas, masih ada bentrok yang juga berakibat merugikan atau mengalahkan salah satunya. Adanya bentrok pasal dalam undang-undang dan bentrok aturan dalam kebijakan serta bentrok program dalam organisasi. Bentrok ini semacam tumpang tindih, tidak tertib, atau menyalahi obyek yang menjadi sasaran. Sebelum yang satu direalisasikan, muncul lagi yang lain untuk direalisasikan.

Akhirnya, memang tidak pernah nyaman kejadian bentrok itu. Namun, memang sulit menghindari untuk tidak terjadi bentrokan. Sepertinya hidup ini harus terjadi bentrokan dalam beberapa hal dan tidak dalam hal yang kurang baik.

Lebih jauh lagi tentang bentrok, apakah ada yang namanya bentrok hati!? Jawabannya hanyalah dua pilihan, yakni bisa saja ada dan bisa pula tidak ada.

MOTTO ALAM

MOTTO ALAM

 


Oleh Moh. Rasul Mauludi

 

Dalam organisasi pecinta alam terdapat semacam motto yang berupa anjuran atau peringatan. Kalimat motto itu berbunyi:

Jangan mengambil sesuatu kecuali gambar

Jangan memburu sesuatu kecuali waktu

Jangan meninggalkan sesuatu kecuali jejak

Tiga kalimat tersebut sudah umum bagi para pecinta alam, baik secara organisasi maupun perorangan. Alam merupakan kajian sekaligus pembelajaran alamiah. Para pendaki, pemerhati, bahkan organisasi lingkungan.

Jangan mengambil sesuatu kecuali gambar adalah bagian dari cara melindungi dan melestarikan alam, baik itu tumbuhan maupun satwa yang ada antara dilindungi atau tidak dilindungi demi menghindari kepunahan. Cukuplah dengan gambar untuk memiliki apa yang ada di alam raya. Gambar bisa berupa camera, lukisan, dan kreativitas lainnya yang tanpa mengambil obyek yang diinginkan dari alam.

Dengan gambar, keindahan alam tetaplah abadi dan menyejukkan. Dengan gambar tidak membiasakan tangan-tangan liar menghabisi wajah alam. Dengan gambar pula, alam tetap bisa dilihat dan menjadi tempat paling indah menemukan Tuhan dalam kuasa-NYA.

Jangan memburu sesuatu kecuali waktu merupakan cara tepat melanggengkan kehidupan selain manusia. Pegunungan merupakan tempat hewan-hewan liar dan langka. Karenanya, hewanpun ada yang dilindungi. Berburu tidak dibenarkan karena akan menyebabkan hewan bisa punah.

Kebiasaan berburu mangsa yang berupa hewan dilakukan oleh orang-orang yang tujuannya hanya untuk menghasilkan uang saja tanpa berpikir tentang kelangsungan ekosistem dan budidaya. Sehingga hal tersebut rawan hewan-hewan langka dan dilindungi punah.

Sebenarnya, berburu apa saja tidak dibenarkan kecuali hanya berburu waktu. Pendakian umumnya sudah bisa ditentukan waktunya. Apabila lebih cepat, maka lebih cepat pula sampai tujuan. Namun, sebaliknya akan menjadi sesuatu yang mengkhawatirkan. Artinya bila melewati waktu yang ada, bisa jadi terjadi sesuatu yang tidak diinginkan seperti musibah atau kecelakaan.

Waktupun menjadi sangat penting untuk diperhatikan dalam segala hal. Disiplin merupakan cara sederhana untuk menghormati sebuah waktu. Dengan waktu yang bisa diatur maksimal akan tetap memberi ruang pada manusia untuk menikmatinya.

Jangan meninggalkan sesuatu kecuali jejak menjadikan kita tidak terbiasa meninggalkan sesuatu setelah dari perjalanan panjang. Sampah adalah satu-satunya yang menjadi momok dalam kehidupan manusia. Sampah sangat mudah dibiarkan begitu saja tidak pada tempatnya.

Jejak manusia beraneka ragam, bila jejak itu dipahami pada suatu masa yang ada pada manusia, maka masa itu sendiri ada yang baik dan ada yang tidak baik tergantung siapa saja yang menjalani masa itu sendiri.

Jejak di sini adalah jejak yang berimplikasi pada sesuatu yang kotor dan berdampak buruk pada lingkungan. Lingkungan yang asri dan sehat, lingkungan yang bersih dari kotoran dan sampah-sampah. Sampah organik maupun non organik menjadi penyebab kerusakan lingkungan, apalagi di alam raya ini.

Bersih-bersih gunung dan lingkungan tidak akan sering dilakukan, bila para penikmat alam mampu menjaga kebersihannya. Salah satunya janganlah meninggalkan sesuatu yang mencemari kecuali hanya jejak kaki.


RAPAT

RAPAT

 



Oleh Moh. Rasul Mauludi

 

Acara rapat sama halnya dengan acara pertemuan suatu organisasi, instansi, kelompok, komunitas, dan sebagainya dengan waktu yang ditentukan. Sebelumnya diawali dengan suatu undangan baik tertulis maupun tidak tertulis.

Biasanya, suatu rapat ada yang ingin dirapatkan atau dibahas. Rapat itu sendiri bagian dari cara mencari penyelesaian dengan musyawarah dan kordinasi baik itu pengurus hingga anggota. Ada rapat penting, biasa, terbatas, atau mendadak. Rapat itu bermacam-macam, bisa rapat kerja, rapat anggota, rapat pengurus, rapat pimpinan, dan sebagainya.

Paling sering mengadakan rapat, di antaranya suatu lembaga, instansi, dan organisasi serta perkumpulan lainnya. Pada tataran sosial, seperti dalam keluarga, ada rapat keluarga, hajatan, dan kegiatan sosial lainnya.

Dalam rapat, kadang semua undangan hadir. Kadang pula tidak semua undangan hadir. Bagi yang hadir, setidaknya berfikir bahwa rapat itu penting atau karena diundang. Sedangkan bagi yang tidak hadir, bisa jadi berhalangan sehingga tidak bisa hadir atau bahkan malas untuk hadir karena sebab tertentu.

Bukan rahasia lagi, setiap acara rapat tidak bisa hadir semuanya. Rapat dilihat apa momentumnya. Bila momentum yang berkaitan dengan uang (bantuan,) maka bisa dipastikan tingkat kehadiran mampu mencapai maksimal. Sebaliknya, bila momentumnya hanya semacam basa-basi, sepele, atau tak bernilai ekonomis, maka sudah jelas yang hadir hanya segelintir saja.

Rapat berbeda dengan perkumpulan yang rutin dan berkelanjutan. Rapat bisa berjam-jam sampai selesai bahkan dilanjutkan pada waktu lainnya. Sementara perkumpulan rutin dan tepat waktu, baik dimulai maupun waktu selesainya. Artinya hanya beberapa jam saja.

Acara yang diadakan tidak maksimal dan penuh dengan kekurangan, tak luput dari karena tidak maksimalnya rapat yang diadakan sebelumnya. Acara tetap berjalan, tetapi kesan banyak kekurangan tetap terasa, meskipun selalu diselipkan dengan senjata andalan yakni bahwa sifatnya manusiawi atau tidak luput dari kekhilafan.

Rapat dengan acara bersama, sewajarnya dilaksanakan dan dirapatkan bersama. Penuh dengan kesulitan apabila dipaksakan hanya beberapa saja. Rapat itu untuk mengukur semangat kebersamaan dan bertujuan kesuksesan bersama.

Ketika barisan itu ingin lurus dan kuat, maka harus rapatkan barisan tidak boleh kendor atau longgar. Apa mungkin, supaya rapat itu penuh semangat dan gairah diperlukan sari rapat atau ramuan yang merapatkan!? Entahlah, tulisan ini sendiri tidak pernah dirapatkan.


HURUF-HURUF PARA PENULIS

HURUF-HURUF PARA PENULIS

  


oleh Moh. Rasul Mauludi


Huruf itu bagian dari abjad yang menghiasi berbagai bacaan. Penulis pun tak lepas dari bacaan yang berupa huruf-huruf. Akhirnya penulis sulit terpisahkan dengan huruf-huruf. Karena, lainnya karya merangkai huruf-huruf bukan dikatakan penulis melainkan disesuaikan dengan masing-masingnya. Seperti pelukis, maka yang dirangkai adalah gambar atau oretan-oretan yang bernilai seni. Banyak contoh lainnya selain penulis yang tidak berkecimpung dengan susunan suku kata dan kalimat.

Sebenarnya tulisan ini hanya asal tulis atau sekadar menulis saja. Tidak ada tujuan atau tema tertentu yang ingin disampaikan. Bahkan tidak pula ingin disebut penulis, karena tidak begitu agfesif atau meluap-luap seperti para kebanyakan penulis. Judulpun asal tulis juga, karena belum menemukan judul yang bagus dan unik. Bahkan mungkin melenceng dari isinya.

Intinya, yang terpenting menulis sajalah. Urusan ada penilaian miring, negatif, bahkan lebih buruk lagi, biarkan saja. Karena pujian atau penghargaan bukan tujuan utama dari tulisan ini. Cukup menulis sajalah. Huruf-huruf itu bebas berkeliaran di alam kehidupan manusia. Biarlah tanda baca dan aturannya itu dimaknai bebas pula oleh pembaca.

Huruf-huruf bisa bebas sebebas-bebasnya. Namun, penulisnya lebih memilih beragam untuk merangkai huruf-huruf. Penulis beraneka ragam jenis dan karakter serta kemanusiaannya. Hal seperti yang menjadikan penulis bagaikan mutiaranya huruf.

Dari jenis dan karakter tidak ada persoalan ataupun permasalahan. Karena sudah tersedia koridor masing-masing. Hanyalah dari sisi kemanusiaannya saja yang mungkin banyak menimbulkan berbagai perspektif beragam tentang penulis.

Penulis itu hebat pada sisi karya tulisnya. Tetapi belum tentu hebat pada sisi kemanusiaannya. Semua bisa ditulis, semua bisa dirangkai, dan semua bisa disusun menjadi kalimat-kalimat. Sementara kemanusiaannya, tidaklah mampu menyatukan kebaukan dari semua apa yang ditulis. Dasar hukumnya adalah itulah hal yang manusiawi dan penulis juga manusia.

Penulis itu hebat pada sisi semangat berkarya. Tetapi, lagi-lagi belum tentu hebat pada sisi kemanusiaannya. Kemungkinan besar  niat dan tujuan menulis yang berbeda atau bertolak belakang dengan sisi kemanusiaannya. Ada yang mungkin (dalam hatinya) hanya ingin disebut sebagai penulis hebat. Ada yang mungkin (dalam hatinya) ingin disanjung atau dipuja-puja. Ada yang mungkin (dalam hatinya) ingin mendapat keuntungan besar. Ada yang mungkin pula (dalam hatinya) ingin biasa-biasa saja tanpa hiruk pikuk suasana.

Supaya tulisan ini tidak ke mana-mana, maka tidak dianjurkan panjang lebar. Jadi, biarkan huruf-huruf itu bebas sebebas-bebasnya dan biarlah penulis itu menentukan kreativitasnya masing-masing dengan tidak harus membuka tabirnya. Karena sisi kemanusiaan tetap milik manusia dan kehidupannya.

Perjalanan dan Makna Tema HUT RI dari Tahun 2005-2021

Perjalanan dan Makna Tema HUT RI dari Tahun 2005-2021

 


Logo dan tema Hari Ulang Tahun Kemerdekaan (HUT) Republik Indonesia (RI) dirancang dan dibuat oleh Kementerian Sekretariat Negara. Tema dirancang dan dibuat disesuaikan dengan tujuan negara dan situasi serta kondisi yang melatarbelakangi perjalanan kepemerintahan. Ada yang berlatar belakang Asean, imbauan politis, imbauan persatuan dan kesatuan, peningkatan ekonomi negara, reformasi, dan etos kerja. Berikut beberapa tema HUT RI dari tahu 2005 hingga 2021 sejak dua periode pemerintah presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Joko Widodo serta sedikit review sederhana tentang tema tersebut.

Senin, 17 Agustus 2005 HUT Ke-60 RI (masa presiden Susilo Bambang Yudhoyono)

Dengan Semangat Proklamasi 1945, Kita Perkokoh Persatuan Dan Kebersamaan, Menuju Indonesia yang Aman, Adil, Demokratis, dan Sejahtera. Tema ini ada banyak latar belakang peristiwa seperti ledakan bom di Ambon, insiden penembakan di perbatasan Timor Timur, perubahan status darurat sipil di Aceh menjadi tertib sipi, dan sebagainya sehingga temanya focus pada memperkokoj persatuan dan kebersamaan.

Kamis, 17 Agustus 2006 HUT ke-61

Dengan Semangat Proklamasi 17 Agustus 1945, Kita Tingkatkan Rasa Kebangsaan dan Kebersamaan untuk Membangun Indonesia yang Bersatu, Aman, Adil, Demokratis, dan Sejahtera. Lahir tema ini masih dilatarbelakangi insiden di perbatasan Timor Timur, insiden di Papua, ledakan bom di Poso, terjadi penarikan dubes Indonesia dari Australia sehubungan dengan kasus di Papua, demonstrasi buruh menolak UU ketenagakerjaan, peradilan kasus pembunuhan Munir, kerusuhan di Dili yang menewaskan banyak nyawa, tewasnya Nurdin M. Top, demonstrasi penolakan RUU APP, ledakan bom di restoran A&W Jakarta, dan sebagainya sehingg focus pada tahun tersebut masih senada dengan tahun sebelumnya.

Jum'at, 17 Agustus 2007 HUT ke-62

Dengan Semangat Persatuan dan Etos Kerja, Kita Percepat Pertumbuhan Ekonomi dan Penanggulangan Kemiskinan untuk Mewujudkan Keadilan dan Kesejahteraan Bagi Rakyat Indonesia. Tema ini dilatarbelakangi oleh seruan Hizbut Tahrir untuk membentuk kekhalifafan, persidangan Jamaah Islamiyah, sengketa tanah antara militer dengan petani, demonstrasi atas lonjakan harga BBM, rusaknya hutan dan lahan pertanian, dan sebagainya sehingga semangat persatuan tetap masuk menjadi tema ditambah dengan harapan keadilan dan kesejahteraan.

Minggu, 17 Agustus 2008 HUT Ke-63 RI

Dengan Semangat Proklamasi 17 Agustus 1945, Kita Lanjutkan Pembangunan Ekonomi Menuju Peningkatan Kesejahteraan Rakyat, serta Kita Perkuat Ketahanan Nasional Menghadapi Tantangan Global. Peristiwa yang melatarbelakangi tema ini antara lain: insiden Monas, PON, eksekusi pelaku bom Bali, dan sebagainya.

Senin, 17 Agustus 2009 HUT Ke-64 RI

Dengan Semangat Proklamasi 17 Agustus 1945, Kita Tingkatkan Kedewasaan Kehidupan Berpolitik dan Berdemokrasi serta Percepatan Pemulihan Ekonomi Nasional Menuju Indonesia yang Bersatu, Aman, Adil, Demokratis, dan Sejahtera. Beberapa peristiwa yang melatarbelakangi antara lain: pemilu anggota legislatif, pemilu presiden, ledakan bom di hotel JW Marriot, dan sebagainya sehingga kata ‘aman’ dan ‘bersatu’ sambil memulihkan ekonomi menjadi dasar tema tahun tersebut.

Selasa, 17 Agustus 2010 HUT Ke-65 RI

Dengan Semangat Proklamasi 17 Agustus 1945. Kita Sukseskan Reformasi Gelombang Kedua, untuk Terwujudnya Kehidupan Berbangsa yang Makin Sejahtera, Makin Demokratis, dan Makin Berkeadilan. Peristiwa penting yang melatarbelakangi antara lain: kerusuhan di Koja, sensus penduduk, meletusnya gunung Merapi, kunjungan Presiden AS Barack Obama dan isterinya Michelle Obama, dan sebagainya.

Rabu, 17 Agustus 2011 HUT Ke-66 RI

Dengan Semangat Proklamasi 17 Agustus 1945, Kita Tingkatkan Kesadaran Hidup dalam ke-Bhinneka-an untuk Kokohkan Persatuan NKRI, Kita Sukseskan Kepemimpinan Indonesia dalam Forum ASEAN untuk Kokohkan Solidaritas ASEAN. Peristiwa penting yang melatarbelakangi antara lain: pembakaran tiga gereja, ledakan bom di masjid mapolres  Cirebon, dan sebagainya.

 

Jumat, 17 Agustus 2012 HUT Ke-67 RI

Dengan Semangat Proklamasi 17 Agustus 1945, Kita Bekerja Keras untuk Kemajuan Bersama, Kita Tingkatkan Pemerataan Hasil-hasil Pembangunan untuk Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Peristiwa penting yang melatarbelakangi antara lain: pengadilan pelaku bom terror, Joko Widodo menjadi gubernur DKI, dan sebagainya.

 

Sabtu, 17 Agustus 2013 HUT Ke-68 RI

Mari Kita Jaga Stabilitas Politik dan Pertumbuhan Ekonomi Kita Guna Meningkatkan Kesejahteraan Rakyat. Peristiwa penting yang melatarbelakangi antara lain: banjir Jakarta, konferensi KTT APEC, dan sebagainya.

 

Minggu, 17 Agustus 2014 HUT Ke-69 RI

Dengan Semangat Proklamasi 17 Agustus 1945, Kita Dukung Suksesi Kepemimpinan Nasional Hasil Pemilu 2014 Demi Kelanjutan Pembangunan Menuju Indonesia yang Makin Maju dan Sejahtera." Peristiwa penting yang melatarbelakangi antara lain: Pemilu legislatif, pemilu, anugerah musik, peluncuran uang rupiah 100 ribu, demonstrasi FPI menolak Ahok menjadi gubernur, pelantikan Joko Widodo dan Muhammad Jusuf Kalla sebagai Presiden dan Wakil Presiden RI, dan sebagainya.

 

Senin, 17 Agustus 2015 HUT Ke-70 RI (masa presiden Joko Widodo)

AYO KERJA

Inilah dimulainya tema HUT RI pendek sejak kepemimpinan Joko Widodo. Peristiwa penting yang melatarbelakangi antara lain: pembekuan PSSI, Desahan di Kokpit Lion Air, Tragedi Kematian Bocah Angeline, pilkada serentak, Setya Novanto-Fadli Zon di Kampanye Donald Trump, dan sebagainya. Arah fokus tema ini tidak spesifik.

 

Rabu, 17 Agustus 2016 HUT Ke-71RI

Kerja Nyata

Peristiwa penting yang melatarbelakangi antara lain: ledakan bom bunuh diri, ujicoba kantong plastic berbayar, teror bom di Samarinda dan Singkawang, aksi bela Islam putaran III, dan sebagainya. Arah fokus tema ini tidak spesifik.

 

Kamis, 17 Agustus 2017 HUT Ke-72 RI

72 Tahun Indonesia Kerja Bersama

Peristiwa penting yang melatarbelakangi antara lain: kutukan resmi pemerintah terhadap prilaku ISIS, Pemerintah Indonesia mengakhiri hubungan militer dengan Australia, Pemimpin Front Pembela Islam, Rizieq Shihab memimpin protes besar di depan Mabes Polri Indonesia, mars menuntut pemberhentian dan 'pemberantasan' Front Pembela Islam, Sampul buku menggambarkan masturbasi anak heboh, ledakan bom Pandawa Park, Bandung dan sebagainya. Arah fokus tema ini tidak spesifik.

Jumat, 17 Agustus 2018 HUT Ke-73 RI

Kerja dan Energi

Peristiwa penting yang melatarbelakangi antara lain: Kerusuhan dan penyanderaan sejumlah anggota brimob dan densus 88, ledakan bom di Surabaya dan Sidoarjo, pilkada serentak, ledakan bom Pasuruan, Asean Games, Peresmian patung Garuda Wisnu Kencana, Aksi Bela Tauhid, dan sebagainya. Arah fokus tema ini tidak spesifik, tidak menggambarkan sebuah struktur tema yang lengkap variabelnya.

Sabtu, 17 Agustus 2019 HUT Ke-74 RI

Menuju Indonesia Unggul

Peristiwa penting yang melatarbelakangi antara lain: kebakaran hutan, pemilu serentak, perusakan bendera merah putih oleh mahasiswa Papua di Surabaya, unjuk rasa di Papua, pelantikan presiden periode kedua, bom bunuh diri di Medan, dan sebagainya. Tetap, arah fokus tema ini tidak spesifik, tidak menggambarkan sebuah struktur tema yang lengkap variabelnya.

Sabtu, 17 Agustus 2020 HUT Ke-75 RI

Indonesia Maju

Peristiwa penting yang melatarbelakangi antara lain: awal tersebarnya virus Covid-19, munculnya kartu Prakerja, Omnibus law RUU Cipta Kerja, munculnya kerajaan jejadian seperti Sunda Empire, pembubaran FPI, penerbitan uang HUT RI, sekolah dari rumah, work from home, dan sebagainya. Arah fokus tema ini masih tidak tidak spesifik, tidak menggambarkan sebuah struktur tema yang lengkap variabelnya.

Sabtu, 17 Agustus 2021 HUT Ke-70 RI

Indonesia Tangguh Indonesia Tumbuh

Peristiwa penting yang melatarbelakangi antara lain: tahun kedua pandemic Covid-19, vaksinasi massal, munculnya peraturan perlindungan jenis ikan, peluncurkan Sistem Seleksi Masuk Perguruan Tinggi Negeri, pembakaran pesawat oleh KKB di Papua, PPKM darurat Jawa dan Bali, sekolah dari rumah, work from home, pembebasan Abu Bakar Ba’asyir, fatwa halal untuk vaksin, vaksinasi massal, Surat Edaran Bersama Menteri PANRB dan Kepala BKN tentang larangan ASN berafiliasi dengan organisasi terlarang, peluncuran Gerakan literasi digital, dan sebagainya. Arah fokus tema ini tidak spesifik, tidak menggambarkan sebuah struktur tema yang lengkap variabelnya.

Khusus tema di tahun 2021, seperti terjadi penurunan target. Jika di tahun-tahun sebelum Indonesia dalam harapan ‘sudah maju’, tahun 2021 mengalami kemerosotan dari sisi tema menjadi negara yang ‘tumbuh’ seolah-olah menjadi biji lagi sebelum berkecambah.

Lebih lanjut jika diperhatikan, beberapa tahun sebelum periode presiden Joko Widodo temanya beratribut dan bervariabel lengkap sehingga dapat ditunjuk tujuan dalam tema tersebut dan hal yang melatarbelakanginya. Namun, pada periodenya semua tema sangat ringkat bahkan boleh dibilang sangat pendek, contoh Ayo Kerja. Dengan satu variabel kata kerja tersebut yang dapat ditafsirkan hanya marilah bekerja. Mungkin tema tersebut ada juknisnya, tapi masyarakat awan tidak pernah tahu siapa yang diajak kerja, tujuannya apa, untuk siapa, untuk apa, apa yang harus dikerjakan, dan sebagainya. Atau apakah tema HUT RI hanya sekedar hiasan, atribut, atau jargon? Lagian tidak banyak masyarakat memperhatikan. Yang terpenting bagi mereka logonya apa, temanya apa, kemudian mereka cetak menjadi spanduk dan banner untuk perayaan HUT RI.

Selebihnya dapat dianalis dan diapresiasi sendiri berdasarkan variabel dari tujuan tahunan pemerintah, menengah dan jangka Panjang serta variabel seperti ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, dan pertahanan dan keamanan nasional serta situasi dan kondisi yang melatarbelakanginya tetap dalam bingkai NKRI.

 


Cermin

Cermin

 


 

Coba kita ingat-ingat di rumah kita ada berapa cermin? Di kamar, ada satu di dinding. Kalau kamar perempuan, mungkin terpasang di meja rias. Di kamar mandi, ada satu juga menempel di dinding. Di kamar lain juga ada bahkan mungkin di dapur dan ruang tamu juga ada. Beberapa perempuan khusus membawanya di dalam tas, cermin kecil. Ada yang sudah inklut dengan bedaknya. Hampir di mana-mana di rumah kita ada cermin.

Di tempat lain, seperti di tempat umum misal toilet juga terdapat cermin. Di rumah sakit, di kantor, di terminal, dan sebagainya cermin menjadi perlengkapan umum yang harus ada. Dengan alasan, untuk membantu merapikan diri. Di tempat senam atau fitness, cerminnya lebih lebar dan tinggi sehingga sebadan dapat tampak pada cermin.

Nah, ternyata cermin memang harus ada. Sesekali bahkan sering kita menengok ke dalam cermin untuk melihat panampang diri kita. Kita memperhatikan wajah, senyum, ekspresi, bentuk alis, mulut, hidung, mata, bahkan hanya sekedar peduli dengan sebutir jerawat atau tahi lalat. Sepertinya tidak pernah ada rasa bosan setiap kali kita bercermin. Selalu dan selalu ingin melihat dan memperhatikan diri kita. Ada pula yang suka berlama-lama di depan cermin memperhatikan detil wajah, badan, dan sebagainya. ada juga yang berlatih performance di depan cermin, tentu juga membutuhkan waktu yang tidak sebentar.

Namun, ada beberapa kasus, beberapa orang tidak ingin bercermin. Mereka takut melihat tampilan dirinya ketika bercermin. Ada traumatik tertentu sehingga mereka menghindari bercermin. Kita abaikan, kita fokus pada yang sering dan selalu atau hanya sesekali sehari bercermin dan menyukainya tanpa sadar.

Sebenarnya siapa yang tampak dalam cermin ketika kita bercermin? Apakah ia benar diri kita yang sebenarnya? Ataukah hanya bayangan kita yang wujud di depan cermin? Dan mengapa tampilan tersebut terbalik kiri dan kanannya? Seberapa penting sebenarnya fungsi cermin bagi kita dan kehidupan kita?

Ternyata cermin sudah ditemukan sejak 2000 tahun sebelum masehi oleh bangsa Mesir Kuno kemudian baru ditemukan kembali 6000 tahun yang lalu di Turki. Justus von Liebig, tahun 1835, ahli kimia, Jerman mengembangkan cermin kaca perak di mana lapisan tipis perak metalik diletakkan di atas kaca dengan reduksi kimiawi perak nitrat seperti cermin yang kita kenal saat ini.

Sebenarnya benda apakah cermin ini? Legenda Romawi kuno menyatakan bahwa cermin adalah konsepsi tentang jiwa sehingga ada mitos bahwa barang siapa yang memecahkan cermin ketika berkaca, ia akan mendapatkan sial selama 7 tahun dalam kehidupannya. Selain itu, cermin juga dikaitkan dengan roh. Ada mitos lain, bahwa ketika cermin di rumah jatuh, itu petanda bahwa akan ada yang meninggal dunia. Dikatakan pula bahwa cermin dapat menangkap dan menjebak roh orang yang sudah meninggal ke dalam cermin.

Luar biasa sekali penciptaan cermin ini. Ia dapat menangkap bayangan orang yang bercermin lengkap dengan latar belakangnya. Ia menangkan wujud yang sama persis (walau dalam keadaan terbalik) sosok di depannya. Ia seolah pemantul segala apa yang di hadapannya. Ia bahkan jadi alat optik yang dapat memantul, membiaskan, meneruskan cahaya dan sebagainya yang beberapa di antara kemudian menjadi bagian dari kamera, teleskop, periskop, dan kaca spion.

Segala puji bagi Tuhan yang telah menganugerahkan gagasan kepada manusia untuk menciptakan cermin.

 



TEKNIK MENULIS IMAJINASI

TEKNIK MENULIS IMAJINASI

 


 

Menulis merupakan keterampilan yang khas. Siapa saja dapat menulis sekian banyak kata. Terbukti banyak media sosial dan komunikasi digital yang memfasilitasinya. Walaupun banyak yang sudah ditulis, tapi tidak semua orang mampu menulis dengan baik karena menulis adalah keterampilan yang tidak dimiliki semua orang.

Menulis dalam hal ini adalah berkarya dalam bentuk tulisan atau karangan. Ada banyak cara melatih menulis untuk mencapai kemampuan menulis yang baik. Menulis yang baik memiliki daya pikat tersendiri sehingga pembaca merasa nyaman membacanya dan tak berhenti membaca karya tersebut hingga tuntas. Cara-cara tersebut tentu berujung pada jam terbang latihan si penulis untuk menemukan cara terbaik mengungkapkan gagasannya agar diterima baik pula oleh si pembaca.

Di antara banyak cara, salah satunya yang akan saya tawarkan yakni menuliskan imajinasi yang muncul tiba-tiba dengan deskripsi yang lengkap. Misal muncul dalam benak imajinasi tentang ‘buku di atas batu.’ Perhatikan baik-baik buku di atas batu itu. Amati apakah batu itu ada di atas tanah atau air. Amati apakah buku itu buku baru atau lawas. Adakah judul buku itu tampak dalam benak imajinasi? Perhatikan juga sekeliling batu yang di atasnya ada buku. Apakah batu itu berada di tengah hutan atau di pinggir jalan.

Ketika ‘buku di atas batu’ ini dicoba diagihkan kepada anda (pembaca) tentu akan berbeda pengalaman imajinasi yang muncul. Bisa jadi lebih seru, mencekam, atau malah lucu. Semua itu bergantung pada bagaimana menuliskan secara lengkap amatan kita terhadap imajinasi yang tertayang dalam benak kita.

Dalam benak saya ‘buku di atas batu’ itu terletak di tengah hutan pinus yang lebat sehingga tampak teduh cahayanya walaupun tengah hari. Buku di atas batu itu tampak lusuh dan menebal karena debu. Coklat kehitaman sampulnya sehingga judulnya nyaris tak terbaca. Mantra, itulah judul buku di atas batu itu mulai tak utuh tercetak. Batu persegi yang di atasnya ada buku sepertinya milik seseorang di masa lampau yang jauh dari zaman kita. Buku itu melekat pada batu tak terpisahkan bahkan buku itu tak bisa dibuka halamannya.

Aku berjongkok untuk sekedar mengamati buku itu dari dekat. Merabainya dan mencoba mengusap sampul buku itu agar lebih jelas terbaca. Mengenai isinya, tak mungkin bisa dibaca. Searah dari tempatku berjongkok terlihat seorang perempuan mengenakan hijab serba hitam. Ia tampak mengerling ke arahku. 

Terdengar suara burung elang dan sekian serangga melengkapi kemisteriusan buku di atas batu itu. Sungguh aneh, aku tiba-tiba tersedot dan berada di tempat itu menyaksikan buku di atas batu.

Itulah sekutip contoh tentang menuliskan imajinasi yang muncul. Imajinasi dapat muncul tiba-tiba berupa potongan gambar atau potongan tayangan yang menunggu kita tulis. Ketika kita mengabaikannya ia akan lenyap tak dapat dipanggil ulang. Hanya dengan menuliskannya yang membuatnya abadi.

Ketika seseorang ditanya, saat ini juga, pada detik ini juga, pasti akan tampil benda, sosok, suasana dalam kantong imajinasi orang per orang secara berbeda. Munculnya juga tidak sepenuhnya lengkap. Oleh karena itu imajinasi dapat berkembang dengan meluaskan pengamatan dalam alam imajinasi yang muncul tersebut.

Dunia imajinasi sungguh unik. Seperti dunia sulap. Seketika muncul sepeda, kemudian muncul seseorang di dekat sepeda itu. Lalu bermunculanlah suasana, peristiwa yang kemudian melengkapi keseluruhan imajinasi dengan dasar imajinasi awal yang muncul itu.

Inilah yang dimaksud dengan teknik menuliskan imajinasi. Teknik ini dapat menjadi cara yang tepat melatih menulis dengan baik. Semakin lengkap detilnya, semakin lancar alur, semakin kuat struktur tulisan dibangun, maka semakin enak dibaca. Saatnya mencoba teknik ini.

Menulis Buku Biografi

Menulis Buku Biografi

 



Apa itu buku biografi? Ia adalah buku yang menceritakan tentang perjalanan waktu seseorang dalam memberdayakan pemikiran, perasaan, dan perjuangan hidupnya secara lengkap. Ia adalah buku tentang bagaimana keterlibatan tokoh terhadap kehidupan. Seberapa besar dirinya menjadi bermakna bagi kehidupan, baik lokal, nasional atau pun global.

Penulisan buku biografi terkategori atas dua motif. Pertama, ada permintaan dari sang tokoh. Kedua, ada permintaan dari penulis yang disetujui sang tokoh. Buku biografi biasanya kemudian bermanfaat sebagai warisan pengalaman hidup dan kesuksesan seseorang untuk generasi berikutnya. Atau pula ada yang secara personal untuk pencitraan publik (personal branding). Ada juga yang bertujuan lebih lanjut untuk menaikkan popularitas untuk mengeruk suara publik demi kepentingan politik.

Menulis tentang kehidupan seseorang secara paripurna sangatlah tidak masuk akal. Yang bisa ditulis hanyalah sekedar apa yang diingat dan momennya kuat dalam perjalanan hidup seseorang. Ada banyak filter yang diperlukan untuk dilakukan agar hasil tulis buku biografi tersebut dapat memberikan inspirasi, motivasi, dan alternatif bagi pembacanya. Terbuka, tapi tidak vulgar. Beberapa momen mungkin tidak perlu diceritakan dan ditulis. Ada yang perlu diceritakan, tapi tidak harus ditulis. Tidak semua kehidupan pribadi menjadi konsumsi publik. Tidak ada halaman buku yang mampu menampung keseluruhan hidup seseorang dari seluruh sisi. Yang ada hanya beberapa cuplikan yang dianggap penting dibagikan kepada publik dan setidaknya memberikan nilai manfaat yang besar. Begitulah kira-kira frame global dari penulisan buku biografi.

Kemudian, dari mana memulainya? Beberapa buku ada yang memulainya dengan qoutes penting dari tokoh atau penulis atas persetujuan tokoh. Ada yang memulai dari paragraf tentang masa kecil tokoh. Ada pula yang memulai dari titik awal kebermaknaannya bagi kehidupan. Tentu, ada banyak trik khusus yang menjadi kredo sang penulis biografi. Tinggal seberapa berkesan dan cocok dengan keinginan tokoh yang ditulis.

Menulis biografi menjadi peluang bagus bagi penulis dari sisi ekonomi. Sekali menulis buku biografi merupakan anugerah besar. Tentu dari sisi ekonomi sangat menguntungkan. Penulis dan tokoh yang ditulis secara mutualisme sama-sama diuntungkan.

Beberapa tantangan yang harus dilalui selama penulisan buku biografi antara lain waktu yang cukup untuk melakukan riset, waktu pengumpulan dan penataan informasi, waktu penulisan dan penyuntingan, dan sebagainya. Tantangan kedua adalah divorsirnya tenaga dan pikiran serta pengujian hasil penulisan. Penyatuan pemahaman dan pemaknaan antara penulis dan tokoh juga memerlukan pemikiran mendalam. Begitu pula pengambilan keputusan dalam menentukan gambar, judul, subjudul, dan alur dari keseluruhan isi benar-benar butuh perhitungan serius. Perjuangan berat yang akan terbayar setimpal mestinya, baik secara popularitas atau komersialitas keduanya.

 

Uang Butuh Kita

Uang Butuh Kita

 


Seorang teman, sebut saja namanya Nelongso, datang ke seorang teman bernama Subur. Ia bilang mau pinjam uang. Subur menjawab: ‘Maaf ya, belum ada. Aku mau beli mobil.” Dalam hati Nelongso berbicara: ‘katanya tidak punya uang, kok malah mau beli mobil?’ Apakah kebutuhan pinjam uangnya sebesar harga mobil?

Kembali Nelongso mendatangi teman lain, namanya Pengu. Pengu menjawab: aku ada, tapi buat beli kamera. Nelongso kembali mencari teman-temannya yang ia kira bisa bantu meminjaminya uang. Nihil, tak satu pun ada yang punya uang. Kembali dalam hatinya berbicara: ketika aku mau pinjam uang, mereka bilang tidak punya uang. Semoga tidak benar-benar punya uang. Kasihan kalau ditakdirkan tidak punya uang sungguhan.

Untuk membayar malunya sudah menempatkan dirinya sebagai calon penghutang, ia kemudian mengambil langkah untuk tidak mempermalukan dirinya lagi. Ia pun terlibat pinjaman online melalui aplikasi. Beberapa aplikasinya memberinya pinjam tanpa merasa tidak enak. Benar, bunganya juga tinggi, tapi setidaknya masih terhormat. Ia tak tahu apakah mampu mengembalikannya tepat waktu, tapi setidaknya kebutuhannya terpenuhi kala itu.

Seorang teman lain yang sepertinya banyak memiliki uang malah memberinya saran: ubah mindsetmu. Kita selalu dalam posisi butuh uang, gimana kalau kita balik: uang butuh kamu. Uang butuh aku. Uang butuh kita. Teman yang banyak uang itu serasa ringan memberi nasihat kepada Nelongso, tanpa beban. Seolah-olah ia telah memberikan bantuan, tapi bagi Nelongso saat itu, ia tidak butuh nasihat. Yang mendesak baginya adalah uang.

Uang telah menjadi kendali ekonomi masyarakat. Semua terlibat dan terikat dengan uang. Uang dapat menaikkan dan menjatuhkan martabat seseorang. Uang dapat mencelakai siapapun. Uang dapat menghibur dan menyenangkan. Dengan uang dapat membeli barang apapun, benda apapun, bahkan membeli manusia. Dengan uang jabatan, pangkat, kehormatan, kejayaan, kekuasaan, dapat dibeli dengan mudah.

Mengapa uang tiba-tiba menjadi dewa? Mengapa seseorang tidak bisa hidup tanpa uang? Bukankah uang hanyalah kertas dan angka digital? Mengapa seperting itu padahal ketika kita sobek, ia tidak lagi berharga. Ketika kita mati pun ia tak berharga.

Ada uang, Abang disayang. Tak ada uang, Abang ditendang. Begitu celotehan seorang lonte, si pemburu uang. Uang baginya benar-benar dewa yang menyematkan dan merawat hidupnya. Uang telah menjadi tuhan ciptaan bahkan jadi monster mengerikan. Semakin dikejar, si uang menjauh. Tidak dikejar, ya tidak punya uang. Hahaha.

Demikian sedikit tentang uang. Nasihat teman tentang: uang butuh kita, memang tepat ketika kita berposisi banyak uang. Untuk situasi mendesak, tidak seketika ada uang dengan mantra seperti itu. Bagaimana kalau kita ubah, uang dan kita saling membutuhkan? Hahaha. Lucu.


Kera Ngalam, Ker! (Kata Walikan)

Kera Ngalam, Ker! (Kata Walikan)

 


 

Dengan judul di atas, warga Malang menduga bahwa bahasan tulisan ini adalah tentang bahasa khas Malang, Walikan (pembalikan kata). Benar, bahasa Walikan merupakan bahasa khas Kota Malang yang eksis sejak dipopulerkan pertama kali oleh Suyudi Raharno. Ia adalah satu pejuang pada zaman sebelum kemerdekaan. Menurutnya bahasa Walikan sangat unik dan tepat dijadikan bahasa sandi ketika masa perjuangan. Unik karena tidak semua kata dalam bahasa Jawa bisa disepakati untuk dibalik. Tepat karena tidak semua orang bisa dengan mudah mengerti bahasa Walikan tersebut.

Secara struktur, bahasa Walikan tidak mentah-mentah membalik semua huruf dalam kata bahasa Jawa ataupun Bahasa Indonesia, melainkan terdapat seni dan kreativitas di dalamnya. Pembentukan pembalikan kata dilihat dari dua aspek. Pertama, enak atau nyaman diucapkan dan didengar. Kedua, untuk tujuan penghalusan kata.

Pada aspek enak, banyak kata yang mudah dan enak diucapkan setelah mengalami pembalikan seperti: taseh dari kata sehat, sam dari kata mas, orip dari kata orip, dan sebagainya. Sedangkan pada aspek penghalusan kata beberapa contoh di antaranya: keat dari kata taek, ketam dari kata matek, kampes dari kata sempak, dan sebagainya.

Tidak semua kata Jawa dan Bahasa Indonesia dapat dibalik. Misal kata kasur, tidak dibalik menjadi rusak karena kata kasur dan rusak memang ada pembalikannya yang secara otomatis memiliki arti mandiri. Kata Indonesia tidak bisa dibalik menjadi aisenondi karena pada pelafalannya mengalami kesulitan dan tidak enak diucapkan atau pun didengar. Kata-kata yang sulit dibalikkan akan tetap dibiarkan karena selain lebih mudah dieja pada kata aslinya juga agar kata-kata tersebut dapat lebih dikenal.

Menurut Pakar bahasa dari Universitas Negeri Malang (UM) Dr. Imam Agus Basuki, Bahasa Walikan tidak memiliki struktur seperti halnya bahasa secara umum. Juga tidak pula struktur pada bahasa Jawa. Karena itulah ia menjadi unik. Menurutnya pula setiap kata Walikan sebagian besar berakhiran a dan an. Itulah mengapa kemudian menjadi ciri khas dan identitas warga Malang.

Beberapa hasil penelitian tentang bahasa Walikan antara lain dilakukan oleh Wahyu Puji Hanggoro, Mahasiswa S-2 program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Negeri Malang. Hasil  penelitiannya  menunjukkan  bahwa  bahasa  walikan merupakan  salah  satu  dari  ragam  bahasa  Malang-an  yang  memiliki  variasi unik, yaitu dengan membalikkan setiap kata dari belakang. Seperti membaca kata melalui cermin.

Peneliti juga menyampaikan beberapa fungsi bahasa  walikan  tersebut  sebagai berikut.  (1)  Sebagai  pengenal  bahwa  pengguna bahasa  walikan  adalah  orang  Malang.  (2)  Sebagai  pembeda  antara warga  Malang dengan masyarakat Jawa dari daerah lain. (3) Sebagai pemersatu masyarakat Malang, dan (4) sebagai identitas Malangan.

Penelitian lain dilakukan oleh Aji Setyanto, M.Litt, Universitas Brawijaya Malang dengan judul penelitian Osob Ngalaman (Bahasa Slang Asal Malang) Sebagai Salah Satu I-Con Malang (Studi Struktur Osob Ngalaman, dalam Sosial Network). Dalam penelitian tersebut ia menjelaskan bahwa Bahasa Malang itu sendiri/dialek Malangan (osob ngalaman) dan bahasa Walikan keduanya bergabung dan tidak dapat dipisahkan dalam penggunaan bahasa Walikan baik secara lisan maupun tertulis.

Penelitian deskriptif kualitatif yang ia lakukan bertujuan untuk menentukan dialek Malangan yang terdiri dari struktur kata, frasa dan struktur bahasa yang digunakan oleh masyrakat sosial. Hasil dari penelitian tersebut menunjukkan bahwa dalam Osob Ngalaman memiliki banyak struktur, walaupun sebenarnya tidak ada aturan antara penutur dalam membalikkan atau mengucapkan bahasa walikan yang berbeda.

Untuk membalikkan susunan huruf dalam sebuah kata dalam bahasa Malangan biasanya juga masih menggunakan bahasa aslinya seperti Genaro, Lawet, Sibun. Osob Ngalaman menggunakan kata-kata dari dua atau bahkan tiga bahasa (Jawa, Indonesia, dan Inggris).

Kadang ada juga kalimat yang semua kata-katanya dibalik. Pada umumnya, tidak semua kata dalam Osob Ngalaman dibalik. Jumlah banyaknya kata-kata yang dibalik juga bergantung pada penutur itu sendiri.

Sebagai sisipan pada penelitiannya, ia mengusulkan agar Osob Ngalaman perlu ditetapkan atau dibuatkan Osob Ngalaman Center yang tugas utamanya adalah untuk mendokumentasikan Osob Ngalaman yang ditindaklanjuti dengan studi untuk mengembangkan Osob Ngalaman; memformulasikan textbook sederhana; membuat kamus Osob Ngalaman; membuat pusat belajar Osob Ngalaman; merancang dan merencanakan penggunaan Osob Ngalaman sebagai salah satu promosi wisata.

Dua peneliti lain yakni Riesanti Edie Wijaya dari Universitas Surabaya dan Yenni Mangoting dari Universitas Kristen Petra Surabaya menyimpulkan bahwa bahasa Walikan merupakan bahasa yang muncul dari bawah (dari masyarakat) yang mengandung kreativitas dari para penggunanya untuk saling mengerti pembicaraan di antara para interaktan. Bahasa Walikan merupakan hasil kreativitas penggunanya.

Lebih jauh tentang bahasa Walikan, ada yang memetaan pembagian kata dan kosakata bahasa Walikan menjadi beberapa bagian. Pembagian tersebut disampaikan oleh seorang anggota Kaskus berakun Zam sebagai berikut.

1.      Kata benda: - adapes: sepeda - rotom: motor - libom: mobil - utapes: sepatu - landas: sandal - soak: kaos

2.      nama tempat: - hamur: rumah - ngalam: malang - ayabarus: surabaya - arudam: madura - amalatok: kotalama - onosogrem: mergosono - nahelop: polehan - rajajowas: sawojajar

3.      nama makanan/minuman: - oges: sego - lecep: pecel - ipok: kopi - oskab: bakso - senjem: menjes/sejenis tempe - itor: roti

4.      kata kerja: - ngayambes: sembahyang - rudit: tidur - nakam: makan - halokes: sekolah - hailuk: kuliah - ngalup: pulang - ladub: budal/berangkat - rekem: meker/mikir - uklam: mlaku - utem: metu - ibar: rabi - kolem: melok/ikut - helom: moleh/pulang

5.      kata sifat/keterangan/predikat: - tahes: sehat - sinam: manis - ewul: luweh/lapar - kadit: tidak - itreng: ngerti - kipah: apik/bagus - kewut: tuwek/tua - baiks: seweng/sinting - licek: kecil - komes: semok - nayamul: lumayan

6.      kata sebutan: - sam: mas/kakak/bro! - ayas: saya - umak: kamu - kodew: wedok/cewek - nganal: lanang/cowok - ngonceb: bencong - ojob: bojo/pacar/pasangan hidup - teles ketep: selet petek/dubur ayam - tenyom: monyet - sukit: tikus - ongis nade: singo edan - nawak ewed: kawan dewe/dekat

7.      kata tanya/sebut: - orip: piro/berapa - oyi: iyo/ya!

8.      nama orang: - tigis: sigit - uyab: bayu - kidnep: pendik (vokalis Flanella) - suga: agus

Bagi orang di luar Kota Malang, bahasa ini memang sulit diadaptasi. Butuh semacam cermin imajinasi dalam pikiran sehingga bisa mendapatkan visualisasi kata asli dan pembalikannya. Tapi, bagi warga asli Kota Malang, begitu mudah mengucapkan dalam komunikasi karena telah dilestarikan dengan baik.

Banyak masyarakat yang tidak tahu akan bahasa ini, sehingga membalik-balik seenaknya, akibatnya kita menjadi bingung untuk mengartikannya, untuk itu saya mengajak agan-agan kaskuser arema untuk bersama-sama mengorganisir dalam database ini.

Bahasa Walikan masa kini  menjadi bahasa gaul masyarakat Malang. Yang menjadi garda terakhir pelestarinya adalah supporter sepak bola yang disebut Arema (arek-arek Malang) yang berlambang Singo Edan. Singo Edan sendiri dibalikkan kata menjadi Ongis Nade.