Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
 Rumah Tanah dari Cinta

Rumah Tanah dari Cinta


 

  

“Aku ingin meninggal di pangkuanmu!” Bisik Yos kepada Za ketika menggunjingkan malam kepada Tuhan.

 

Dua manusia yang saling mencinta, Yos dan Za atau juga dua manusia yang saling berseteru itu sebenarnya tidak tahu. Lebih tepatnya semua manusia tidak tahu apapun. Yang mereka tahu, bahwa yang manusia tahu adalah pinjaman dari sang Mahatahu. Terlebih tentang takdir atas akhir dari bab per bab cerita dari manusia.

Ketika menjalani pagi, Yos menjemurkan kulitnya pada hari di depan rumah sambil melihati orang-orang lalu lalang ke jalan kematian. Sungguh mereka tidak pernah tahu bahwa akhir dari lalu lalang mereka adalah kematian bahkan bayang-bayang mereka yang melekat pada tanah ketika hidup pun akan lenyap. “Dan aku telah memiliki cita-cita kematian yang syahdu, mati dalam pangkuannya!”

Iya, benar. Itu gagasan dan itikad yang jitu. Banyak orang mencita-cita kehidupan yang baik, tapi sangat sedikit orang yang meniatkan kematiannya dalam keadaan baik. Kembali ke tanah juga. Manusia terlahir tidak bisa memilih dari  rahim atau ibu yang mana. Manusia terlahir begitu saja dengan terpaksa pun di tanah negara apa. Manusia tidak bisa memilih waktu kapan ia harus terlahir. Ketika kelahirannya tidak bisa memilih, harusnya keadaan dan waktu kematiannya bisa dipilih dengan baik.

Kita banyak hutang kepada tanah. Dari tanah manusia makan, di tanah rumah manusia, tanah menjadi pilihan Tuhan sebagai bahan prototype manusia, dan sebagainya. Tanah tempat menjalani takdir kehidupan. Tanah tempat sirkulasi air. Tanah tempat yang baik menyimpan api. Tanah tempat yang cukup seberapa pun banyak jumlah penghuninya bahkan dari saripati tanah, kelangsungan manusia terjaga.

Kita banyak hutang kepada tanah. Tanah banyak memberi. Tanah tempat kesabaran tak terbatas. Ialah yang menampung semua kotoran manusia. Ia juga yang menampung seluruh perilaku mereka, tapi Tuhan menagihnya dengan murah hanya berupa sujud.

“Aku ingin meninggal di pangkuanmu!”  Yos juga berbisik kepada tanah tempat kembalinya yang syahdu. Ia berpikir keras sikap terbaik apa yang akan diberikannya kepada tanah. Dalam kemesraan di pangkuan Za, Yos hanya terdiam lama, memikirkan cinta tanah kepada mereka berdua.

“Kita telah hampir kembali menjadi tanah, sungguh syukurku besar karena dipertemukan denganmu!” Yos memandangi Za dengan linangan air mata.

“Iya Mas. Tak sia-sia apa yang kita perjuangkan!” Za menebali.

Di atas rerumputan hijau, bawah pohon beringin yang rindang, Yos menyerahkan hidupnya di pangkuan Za. Sungguh damai tanah, pohon, dan angina yang menyertai mereka.

“Inilah sastra itu, Dik!”

“Iya, Mas.”

“Mau apalagi kita? Selain yang sudah Tuhan berikan? Aku sudah merasa cukup di sini bersamamu karena cita-cita teragungku adalah meninggal dalam pangkuanmu!”

Za pipinya memerah. Senyumnya menandingi pagi. Dadanya terasa cukup terisi udara. Pemandangan Yos dan Za sekilas mirip dalam adegan film Hindustan. Romantis. Andai ada hujan mereka pasti saling berkejaran sengaja menghunjani tubuh mereka dengan kenikmatan air.

Yos mengambil segenggam tanah, tanpa rumput. “Inilah kita sejak awal dan hingga akhir!”

Za hanya menganggukkan kepala.

“Apakah di surga ada tanah?”

“Entahlah!”

“Jikalau ada, apakah tanahnya sama dengan tanah kita?”

“Juga entahlah!”

“Apakah kelak ketika kita dibangkitkan juga seperti kecambah di tanah ini?”

“Tidak perlu dijawab, kan?”

“Iya, kok tahu? Mas sepertinya sedang bertanya yang tak butuh jawaban!”

“Sepertinya kematian yang dapat membuktikannya!”

“Jangan dulu, Mas. Surga kita masih baru mulai. Kita jalani surga dengan jenis tanah ini bersama-sama dulu.”

“Baiklah, aku setuju!”

“Ada lagunya lho. Orang bilang tanah kita tanah surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman.” Yos pun bersenangdung seperti sedang memanggil hujan.

Mereka berdua menatap langit dari celah dedauna.

“Kamu tahu apa yang akan kukatakan?” Tanya Za.

“Apa. Katakan!”

“Langit tak pernah meminta jasa walau telah memberi bumi hujan. Seperti itulah cintaku padamu!” Mata Za menatap dalam-dalam Yos yang dalam pangkuannya.

“Hmm, iya. Indah sekali kalimatmu sayang! Belajar dari aku ya?”

Mereka pun tertawa. Yos menjawab pernyataan Za hanya dalam hati: begitu pula denganku Za, tak ada cinta yang setulus ini selama aku hidup dengan banyak perempuan sebelumnya.

 

 

 

 

 

 

 


Iblisa

Iblisa

 


 

Sebenarnya iblis tidak pernah menggoda manusia. Manusialah saja yang mengejawantahkan karakter iblis bagi dirinya. Iblis ibarat penonton drama. Ia duduk paling depan menyaksikan prilaku manusia sambil tertawa terkekeh-kekeh.

“Ia dan mereka telah menjadi diriku!” Ia meneriaki panggung kehidupan.

“Aku tidak akan kesepian di neraka kelak!” Teriakan keduanya lebih nyaring.

Memang Tuhan telah memerintahkan iblis untuk menggoda iman manusia. Ia ditakdirkan menerima perintah dan penyusup ke dalam diri manusia untuk membelokkan hati dan pikiran manusia ke arah jalan yang salah dan sesat. Tapi, bagi iblis, di zaman sekarang tidak perlulah terlalu bekerja keras. Manusia telah menentukan sendiri, jalan iblis mana yang akan mereka lalui.

Iblis senyum-senyum, di kursi paling depan di depan panggung sandiwara manusia. Yang membuatnya terpingkal-pingkal, ketika manusia sedih saat menyesal telah melakukan dosa, kemudian ia mengulangi dosa yang sama. Sungguh, itu merupakan lawakan yang seru bagi iblis. Ia mendapatkan tontonan gratis yang menyenangkan.

Yang paling menyenangkan baginya lagi, ketika manusia membaca doa saat melakukan dosa. Wow, sungguh keren jenis manusia yang seperti itu. Melakukan dosa minta izin Tuhannya. Iblis sangat menikmati sandiwara manusia kepada Tuhannya. Tiap saat tiap hari selalu ada kejadian yang menghiburnya. Ia tak pernah kehilangan keceriaan bahkan di neraka ia tidak akan pernah kesepian.

Suatu waktu, ia pernah ditanya malaikat: mengapa ia membantah perintah dari Tuhan untuk bersujud kepada Adam. Iblis balik bertanya dengan santai: apakah itu benar-benar perintah? Atau sekedar trik Tuhan untuk menguji keimananku? Sejenak malaikat itu hening. Kemudian ia melanjutkan pertanyaannya: apapun itu bukankah itu tetap perintah Tuhan? Buktinya kami semua sujud kepada Adam.

Iblis menoleh menamati wajah malaikat. “Aku tidak mau menyembah selainNya!”

“Tapi, itu adalah perintah!”

“Apakah kamu yakin itu perintah bukan ujian?”

“Iya, lagian mana ada hamba Tuhan tidak taat perintah?”

“Bagiku, itu bukan perintah. Kuanggap itu ujian keimanan, makanya aku tidak sujud kepada Adam yang dari tanah itu!”

“Buktinya kamu dilaknat Tuhan!”

“Itu hak Tuhan, aku menerima saja apa kehendakNya!”

“Sungguh kamu memang pembangkang!”

“Ingat ya kalau itu bentuk perintah, mengapa Tuhan tidak mencabut ayatnya bahwa kita tidak boleh menyembah kepada selainNya!”

“Kamu akan menempati neraka bersama batu dan manusia!”

“Itulah mengapa aku diciptakan dari api!”

Malaikat itu terdiam, ia tak mau memperpanjang debatnya. Dasar iblis, batinnya.

Iblis kembali menyaksikan lakon manusia. Menurutnya manusia sungguh bodoh dan selalu dalam kerugian tiap detiknya. Saat itu ia sedang menonton manusia melakukan onani di kamarnya. Yang membuatnya tertawa, setelah manusia itu klimaks dengan nafsunya, ia mengucapkan alhamdulillah! Iblis pun terpingkal-pingkal. Tawanya sangat lama. Matanya sampai berair, perutnya sampai kram dan mules.

“Sungguh manusia jenis ini luar biasa. Ia mempertontonkan dosanya di hadapan Tuhan! Nih, Tuhan, aku melakukan onani!” Kembali ia terbahak-bahak.

Menurutnya, menggoda manusia tidak sehebat zaman para nabi dan rasul. Saat ini, cukup memerintah setan-setan yang berpangkat kopral sudah cukup menjerumuskan mereka, manusia. Ia sebagai pimpinan hanya terima laporan beres!

Selain memiliki prinsip yang kuat, iblis juga mempunyai adab. Terbukti ketika Rasulullah berada di kediaman sahabat anshor. Iblis tidak begitu saja masuk rumah itu. Ia meminta izin untuk masuk, setelah mendapatkan izin dan dibukakan pintu, ia baru masuk.

Saat itulah iblis membeberkan rahasianya untuk yang pertama kalinya kepada Rasulullah dan para sahabatnya. Pertama, ia menyatakan manusia yang paling ia benci. Muhammadlah yang paling ia benci. Para sahabat wajahnya memerah. Mereka ingin sekali membunuh iblis itu.

Ia kemudian menyampaikan bahwa ia merasa sangat panas tubuhnya dan gemetar, ketika seseorang melakukan salat. Ia merasa terbelenggu yang sangat kuat, ketika seseorang berpuasa. Bahkan, ia menjadi gila, ketika seseorang melaksanakan ibadah haji. Ia juga akan meleleh seperti besi yang terbakar, ketika seseorang membaca Al Quran. Ia merasakan sakit terpotong tubuhnya menjadi dua bagian, ketika seseorang melaksanakan zakat, dan seterusnya. Banyak hal rahasia yang ia sampaikan. Itupun atas perintah Tuhan melalui malaikat.

“Segala puji hanya bagi Allah yang telah membahagiakan umatku dan menyengsarakanmu sampai hari kiamat.” Tutup Rasulullah, tapi iblis menyanggahnya: “Hay-hata hay-hata [tidak mungkin- tidak mungkin]! Mana bisa umatmu bahagia sementara aku hidup dan tidak mati sampai hari kiamat? Bagaimana kamu senang dengan umatmu sementara aku masuk ke dalam diri mereka melalui aliran darah, daging, sedangkan mereka tidak melihatku? Demi Tuhan yang menciptakanku dan membuatku menunggu sampai hari mereka dibangkitkan akan aku sesatkan mereka semua, baik yang bodoh maupun yang pandai, yang buta-huruf dan yang melek-huruf, yang kafir dan yang suka beribadah, kecuali hamba yang ikhlas.”

“Aku tinggalkan orang-orang yang ikhlas! Aku tidak berani menggodanya!”

“Tapi, seseorang yang bernama mukhlis, aku tetap menggodanya karena hanya namanya yang ikhlas, kelakuannya tidak!” Iblis pun terbahak-bahak.


Dosa Lebih Menarik untuk Diingat

Dosa Lebih Menarik untuk Diingat

 



 

Pagi itu suasana hari sangat cerah. Minggu yang bersinar. Waktu yang tepat untuk nongkrong dan membincangkan sesuatu di warung kopi Mak Jum, langganan Badrul dan para sahabatnya. Tempatnya cukup strategis di tengah kota. Cukup menghibur mata dengan lalulalangnya para pekerja swalayan yang cantik-cantik.

Obrolan pertama saat seruputan kopi pertama berupa pertanyaan dari Badrul.

“Aku mau tanya padamu. Jawablah dengan jujur. Sejujur-jujurnya.”

“Mau tanya apa? Tumben seserius ini?” Bali tanya Suki. Sahabatnya yang lain menikmati kopi dan gorengan yang masih mengepul. Ada tahu goreng, ada pisang goreng, dan tentu tempe juga.

“Mana lebih sering kamu mengingat dosa dibanding dengan mengingat kebaikan?” Tanya Badrul ke beberapa sahabatnya. Sahabat pertama yang ditanyai kala itu adalah Suki. Sahabatnya yang lain serentak menoleh ke arah Badrul.

Suki menjawab: “Dosa, Drul!”

Pertanyaan yang sama kemudian ditanyakan ke sahabat kedua. Bagio.

“Dosa. Drul!” Jawab Bagio.

Pertanyaan berikutnya pula ke sahabat-sahabatnya yang lain secara bergiliran. Mamat menjawab dosa. Padli juga dosa bahkan Mak Jum tak luput dari pertanyaan dan menjawab dosa pula. Mereka semua menjawab Dosa.

Belum puas dengan hanya bertanya ke beberapa sahabatnya, Badrul membuat angket. Angket tersebut ia sebar ke beberapa grup WA yang ia miliki. Ia menggunakan google chat form. Ia sebar juga ke beberapa grup FB dan komunitas. Jawaban dari semuanya adalah DOSA.

Apakah ini kebetulan atau hal yang manusiawi? Tanyanya dalam hati. Begitu pula dengan dirinya, antara dosa dan amal yang lebih melekat dan diingat-diingatnya adalah dosa. Ia pun kemudian bertanya kepada isterinya sebagai penentu semua pertanyaan yang sama itu. Isterinya pun menjawab: dosa. Ia tidak bertanya ke kedua anaknya karena Badrul menganggap bahwa mereka belum saatnya dilibatkan dengan pertanyaan aneh itu.

Sepertinya dosa lebih menarik untuk selalu diingat secara alamiah. Sama seperti mengingat keindahan perempuan, batinnya. Mengingat seorang perempuan cantik memicu detailnya. Begitu pula dengan dosa, mengingat satu dosa, ibarat melihat rekaman film. Beigut tampak dan nyata bahkan rinci.

Menurutnya, ini bukan kebetulan lagi karena seratus persen mereka menjawab: dosa. Mungkin karena itu mereka semua disebut manusia, bukan keledai. Dosa hanya dilekatkan dengan sifat manusia sedangkan perilaku keledai sejahat apapun tidak akan disebut dosa. Hmm.

Pikiran Badrul menjadi kompleks. Ia jadi teringat hal tentang listrik. Yang mengeluarkan setrum hanya kabel negatif. Dosa ibarat kabel negatif. Tanpa kabel negatif, tak akan ada listrik. Tak ada cahaya, bunyi, gerak, magnet yang terjadi. Begitu pula dengan dosa. Sejak lahir manusia bergantung pada kesalahan dan dosa. Karena itulah manusia menjadi lebih baik atau menjadi iblis. Itulah yang membuat semesta bekerja. Kira-kira begitu, simpulan Badrul sementara dalam hati.

Badrul pernah mengeluhkan tentang dosa-dosanya kepada sahabatnya. Sang sahabat malah membuat joke dengan pertanyaan begini.

“Kamu pernah kehilangan sesuatu yang besar?” Tanya sahabatnya.

“Pernah!”

“Kehilangan apa?”

“Mobil!”

“Bukankah kamu selalu mengingatnya?”

“Iya benar!”

“Kalau kamu selalu mengingatnya itu artinya mobil itu benar-benar hilang!”

Atmosfer sejenak terhenyak. Badrul terdiam seperti sedang mengunyah kalimat sahabatnya di dalam mesin otaknya. Ia mencoba membuat garis penghubung tentang kehilangan mobil dan dosa. Udara terasa berhenti. Seluruh gerak di alam terasa beku menunggu koneksi antara kehilangan mobil dan dosa yang dikunyah otak Badrul. Kemudian suasana pecah lagi.

“Sama dengan dosa yang selalu kamu ingat, Drul. Itu artinya Tuhan telah memaafkanmu. Dosamu benar-benar hilang!” Lanjut sang sahabat.

“Benarkah?” Badrul sangat antusias hingga menolehkan wajahnya. Kalimat itu seperti selintas menyejukkan hatinya.

“Tidak!”

Badrul nyaris terhibur. Mereka pun tertawa.

“Dosamu tetap dihitung walaupun sudah diampuni!”

Kembali mereka tertawa sedikit terbahak.

Beberapa saat setelah tawa mereka berhenti dan beberapa saat hening, Sang sahabat –yang dirahasiakan namanya- tiba-tiba mengeluarkan kalimat dari mulutnya. “Harga satu dosa lebih mahal daripada sepuluh kebaikan!”

Badrul tersentak. “Wah, keren kalimatmu! Sepertinya kamu seorang pengepul dosa!”

Mereka tertawa lebih keras bersama. Sepertinya mereka sedang menertawakan diri mereka masing-masing. Lebih baik menertawakan diri sendiri daripada diam-diam hati membicarakan kejelekan orang lain, batinnya.

“Apakah dapat disimpulkan bahwa semua manusia berdosa?”

“Ya. iyalah, Drul! Tak mungkin manusia mengenal kebaikan sebelum mengenal dosa!”

“Kalimatmu ini masuk akal, cuma kadang toksit!”

Mereka tertawa sambil keduanya menutup mulut mereka dengan satu tangan. Mirip tertawa yang ditahan di emoticon WA.

“Mengingat-ingat dosa berbanding lurus dengan mengingat ke-Maha-PengampunanNya!”

“Sepertinya ini benar, tapi masih bisa menyesatkan!”

Emoticon menutup mulut menahan tawa kembali muncul. Hahaha!

“Sering-sering mengingat dosa, itu tanda ada kebaikan dalam dirimu!”

“Ah, aku tak mau terjebak dengan kalimatmu lagi!”

“Loh, ini benar, Drul. Itu artinya ada potensi kebaikan dalam dirimu!”

“Nah, kalau ada kata ‘potensi’ aku masih bisa terima!”

“Tapi, ada satu hal yang sangat penting diingat, Drul!”

“Apa itu?”

“Jangan pernah main-main dengan kata-kata!”

“……………..”

KISAH PICO DAN TINTRANA

KISAH PICO DAN TINTRANA

 




Pico adalah seorang fotografer muda. Traveling potretnya pertama kali yang ditugaskan kepadanya adalah suku Monte pedalaman. Lokasi tepatnya ia baru tahu melalui google maps. Berdasarkan data yang ditunjukkan peta, kotanya, Honu ke Monte berjarak 10000km jika ditarik garis lurus. Ia disyaratkan tidak boleh menggunakan transportasi udara. Harus darat. Dengan alasan, agar ada rekam jejak dari kotanya hingga ke Monte yang bisa ditunjukkan ke direktur penerbitnya.

Dimulailah perjalanan itu sehari setelah surat tugasnya diprintout. Tujuh hari kemudian ia pun sampai di pintu gapura Desa Monte pedalaman dengan panduan aparat keamanan kabupaten Kota Rimbu. Pintu gapura Monte hanya berupa tumpukan batu sebelah setinggi orang dewasa. Batu bersusun dari batu halus, mirip batu sungai. Bukan batu karang atau batu gunung.

Dengan langkah santai seperti memasuki sebuah desa lain, ia langsung menuju pusat keramaian. Ia mengincar objeknya. Seorang gadis berkulit coklat hampir telanjang hanya bagian dada dan vitalnya yang tertutup kain kuning. Beberapa aksesoris ada di bagian kepala seperti mahkota tapi terbuat dari akar pohon. Di telinga ada serupa anting tapi lebih mirip taring harimau. Bagian lehernya melilit serupa kalung terbuat dari manik-manik biru. Juga pada pergelangan tangannya tampak serupa gelang lilitan kain berwarna merah.

Dengan lensa telanya, ia berusaha menjaga jarak dengan objek agar dapat momen terindah. Cekrek, cekrek, cekrek! Beberapa jepretan sudah ia dapat. Tampak ia tersenyum. Tanpa ia duga, entah dari arah mana, ada suara keras mengenai kepalanya yang membuatnya tak sadarkan diri.

Ketika ia siuman, ia terkaget-kaget. Ia melihat dunia sudah terbalik. Ia mengira hanya mimpi. Setelah beberapa cambukan keras mengenai dadanya, ia baru sadar kalau dirinya dengan dicancang dengan tubuh terbalik. Ia dihukum dengan diikat kedua kakinya ke dua tiang batu. Ia berteriak minta tolong. Ia meraung, tapi semua orang tak mengerti apa yang ia katakan.

“Bele hu tate nyang rang kiteka?” (apa ada yang paham yang dia katakan? Bahasa Suku Monte, Red).

“Iko mulaye!” (saya yang mulia).

Seorang laki-laki muda datang menghormat kepada kepala suku dan menyatakan mengerti bahasa si fotografer. (Kisah nyata ini selanjutnya secara keseluruhan akan menggunakan bahasa Indonesia untuk memudahkan dicerna).

“Apa yang dia katakan?” Tanya kepala suku kepada Sube, pemuda yang paham bahasa Indonesia.

“Dia minta tolong. Minta dilepaskan. Dia tidak merasa bersalah!”

“Pengawal, cambuk dia lima kali dengan bertenaga!” Perintah geram kepala suku. Lima cambukan mendarat dan membuat bekas hitam di dada Pico.

“Siapa namamu? Siapa yang mengirimmu ke Monte? Apa tujuanmu?”

“Saya Pico. Saya hanya fotografer majalah. Saya diperintah bos saya untuk mengambil beberapa gambar di sini. Tolong, lepaskan saya. Ini negara hukum!”

“Kamu tahu telah melakukan salah besar apa?”

“Saya tidak merasa bersalah! Tolong lepaskan saya!”

“Pengawal, cambuk sepuluh kali!”

Pico mengerang tiap kali cambuk itu mengangkat kulitnya hingga lepas.

“Ampun, tolong saya! Lepaskan saya!” Ia mengerang. Ia seperti dikuliti dengan cambuk itu.

“Salahmu kamu tidak meminta izin datang ke Monte. Kamu tidak menghadapku. Dan, salah besarmu, kamu telah mengambil gambar anak kepala suku Monte, anakku!”

“Iya, saya mengaku salah tidak meminta izin terlebih dahulu, tapi tak seharusnya saya dihukum seperti ini!”

“Kamu telah melanggar adat. Kamu pantas dibunuh!”

“Ampun, maafkan saya!”

“Aku siapamu sehingga aku harus memaafkanmu untuk dua kesalahan besar yang kamu lakukan?”

“Maafkan aku Tuan, ampun. Mohon lepaskan saya!”

Dalam kode etik adat suku Monte, baihan (orang suku luar) harus meminta izin masuk pusat suku Monte dengan beberapa ritual tertentu. Antara lain, meninggalkan kuku jempot tangan kanan dengan cara dicabut ikhlas. Hal itu sebagai tanda bahwa baihan telah dengan rela hati dengan niatan tulus serta menjunjung adat suku Monte untuk menjadi bagian keluarga suku. Kesalahan Pico yang fatal adalah ia telah mengambil gambar manusia, memotret suku Monte. Hal itu pantangan keras bagi suku Monte sendiri apalagi baihan. Menurut keyakinan mereka, pengambilan gambar tersebut dapat mengurangi masa hidup manusia suku Monte. Lebih-lebih yang diambil gambarnya adalah puteri dari kepala sukunya. Sungguh itu pelanggaran berat yang hanya dapat ditebus dengan nyawa.

“Kamu hanya akan kami lepas dengan satu syarat!”

“Iya saya bersedia. Apa itu?”

“Kamu harus meninggalkan jantungmu di sini!”

“Ampun, maafkan saya! Saya tak akan mengulanginya lagi!”

“Kau telah mengambil sebagian ruh anakku, kesayanganku! Dengan apa kamu bisa mengembalikannya?”

“Tuan dapat menghapus foto di kamera saya!”

“Pangawal, cambul duapuluh kali!”

Pico pingsang dicambukan ke sepuluh, tapi duapuluh cambukan tetap dilaksanakan pengawal sesuai perintah kepala suku. Beberapa waktu kemudian, Pico diguyur dengan air agar siuman.

“Kumpulkan jerami!” Teriak kepala suku. Semua warga bergesa menuju penampungan jerami. Jerami itu diletakkan mengelilingi Pico yang digantung terbali. Setelah tergelar tumpukan jerami, kepala suku menyalakan obor. Ia kemudian mendekatkan diri ke arah Pico.

“Apa yang ingin kamu katakan untuk terakhir kalinya?”

Pico menangis. sedunya mengguncang tubuhnya.

“Baiklah, kalau tidak ada lagi, kamu kubakar!”

Saat kepala suku Monte mendekatkan api obor ke jerami, tiba-tiba Tintrana, puteri kesayangannya memasang badan. Ia mencoba menghalangi obor menyentuh jerami.

“Tintrana, apa maksudnya ini?” Kepala suku kaget bukan main.

“Aku tidak mau dia mati!”

“Dia telah melanggar adat. Dia orang luar yang merusak hukum kita. Dia mencemarkan suku kita. Mencoreng wajah ayahmu!”

“Iya, benar. Dia memang salah, tapi hati Tintrana mengatakan ia manusia baik, tak pantas menerima hukuman ini!”

“O, begitu. Jadi kamu juga mau mempermalukan ayahmu?”

“Bukan begitu Ayah. Saya hanya kasihan.”

“Pengawal, cambuk dia limapuluh kali!”

Suasana malam itu menjadi senyap. Sang pengawal juga senyap tanpa suara dan gerakan.

“Pengawaaaal!”

Sang pengawal ambruk lututnya menyentuh tanah. Cambuknya lebih dulu mencium tanah. Ia siap menerima hukuman kepala suku. Kepala suku tambah geram. Ia menghunuskan sebilah pedang, siap ditebaskan. Lagi-lagi Tintrana mengarahkan lehernya ke mata pedang ayahnya. Leher Tintrana menahan tebasan pedang itu.

Sang ayah bersimpuh malu. Ia meminta pengawal melepaskan Pico dan mengusir puterinya sekaligus malam itu. “Sejak malam ini, kau bukan lagi anakku! Pergilah sesukamu. Kamu tak ada lagi hubungan dengan keluarga ini!”

Tintrana menangis mencoba memeluk ayahnya. Ia berusaha memohon ampunannya. Keputusan telah dibuat. Ludah sudah terlanjur menyentuh tanah. Warga menyeret Tintrana keluar gapura suku Monte dengan tangisan. Sementara Pico diseret dan dilempat keluar gapura.

“Jika setapak saja kamu masuk ke garis ini, aku tak segan-segan membunuhmu!” Sang ayah membuat garis lurus dan tegas di garis gapura. Suku Monte pun kembali ke rumah masing-masing dan mematikan obor seluruhnya sebagai tanda duka yang dalam.

Tintrana mencoba membopong Pico. Membantunya berjalan hingga jalan besar sejauh 10km jalan kaki. Sepanjang banyak yang membantu mereka walau sekedar pengobatan ringan dan sebotol air. Pico pun berangsur membaik.

“Nama saya Pico!”

“Saya Tintrana!”

“Maafkan saya telah membuat kamu menderita dan kehilangan keluarga!”

“Saya yang minta maaf atas perlakuan ayah saya dan warga suku!”

“Saya yang salah!”

“Kami juga salah!”

Tintrana mengikuti Pico hingga ke kota Honu. Ia merawat Pico hingga benar-benar sembuh.

“Maukah kamu menjadi suamiku agar aku bisa merawatmu dan anak-anakmu kelak?” Tanya Tintrana.

Pico terkejut. Seharusnya ia yang lebih dulu menanyakannya. Tintrana sudah mempertaruhkan nyawa dan keluarganya untuk Pico. Sepantasnyalah Pico menaikkan derajat Tintrana menjadi isteri.

Ternyata situasi buruk dapat menjadikan perantara cinta keduanya. Mereka kemudian menikah. Putera pertama mereka diberi nama yang sama dengan ayah Tintrana, Lokko. Dengan tambahan nama Pico dan Tintrana, anak itu bernama lengkap Lokko Tintra Picana.

 

 

 

Pintu Kuning

Pintu Kuning

 


Rumah bercat hitam tepat di pojok kota itu berpintu kuning. Pintu kayu bercat kuning, seakan-akan mau menyedot masuk siapa pun yang memandangnya penuh hasrat.  Pintu itu tepat di sudut bangunan. Mencolok sekali. Pintu itu selalu tampak tersenyum menggoda. Terutama laki-laki.

 Setiap kali aku melintas, melewatinya, aku selalu tampak sepasang sepatu. Sepatu laki-laki dan perempuan. Setelah kembali dari keperluan dengan bersepeda kayuh, aku kembali melewati pintu kuning itu. Dan lagi-lagi sepasang sepatu tampak romantis, tapi dengan sepatu laki-laki yang berbeda dengan sebelumnya. Tidak sampai dua jam sepatu laki-laki itu telah berubah.

Mulanya sepatu laki-laki berwarna hitam jenis vantofel. Sekembaliku, telah berubah menjadi sepati sport bermerk terkenal warna putih dengan garis lengkung merah. Sungguh penasaran mengapa tiap kali aku melewati pintu kuning selalu saja sepatu laki-lakinya berubah bentuk dan warna. Apa yang pemilik sepatu itu kerjakan di dalam.

Rumah pojok dengan pintu kuning itu sangat tertutup. Tidak ada satu pun daun jendela untuk bisa mengintip. Hanya pintu kuning itu tempat udara dan orang dapat masuk dan selalu tertutup. Hanya terbuka saat seseorang pemilik sepatu laki-laki itu keluar atau pun masuk. Ketika pintu kuning terbuka, bersamaan dengan sosok lelaki keluar dengan senyum, asap rokok pun menyeruap keluar di antara bahu kekar lelaki bersepatu itu.

Di balik pintu kuning, ada selambu merah. Dari balik selambu merah, tampak selukis senyum dengan bibir sangat merah. Hanya senyum dan bibir itu yang bisa tampak dari luar selebihnya hanya seorang lelaki yang keluar. Pintu pun kemudian tertutup.

Di depan pintu kuning itu selalu ada terparkir mobil. Dari yang mewah hingga sepeda motor butut. Tak pernah sepi. Dan tentu hanya ada dua pasang sepatu. Mungkin dengan begitu seolah-olah sepatu itu menjadi tanda bahwa di balik pintu kuning itu ada tuan rumah dan seorang tamu lelaki. Tentu tuan rumahnya adalah seorang perempuan, pemilik senyum dan bibir sangat merah itu. Sesekali kadang tampak saat tirai selambu terkuat sedikit, beberapa jari lentik berkutek merah pula.

Sepertinya aku harus menamati dari awal hingga akhir. Jika awal aktivitas mereka dimulai pagi dan berakhir pagi lagi, ada baiknya aku mengikutinya dari jauh. Karena agenda memata-matai itu membutuhkan waktu lama, perlu beberapa perlengkapan tersedia. Keker, camilan, rokok, dan setermos kopi akan jadi teman yang bagus.

Pintu kuning itu lebih sakral ketika malam tiba. Ia ibarat black hole, sayangnya berwarna kuning. Siapa saja dapat terhipnotis untuk masuk tersedot ke dalamnya. Setelah tersedot, kemudian mereka keluar dalam keadaan lemas tapi bahagia.

Sepatu-sepatu dengan berbagai bentuk, warna, dan merk bergantian menempatkan diri di sebelah sepasang sepatu hitam berhak tinggi. Beberapa puntung rokok di sekitaran dua pasang sepatu juga beraneka merk. Sepasang tempat sampah hijau dan biru teronggok simetris seperti sepasang tuyul yang mengawal pintu kuning.

Dengan sengaja, ketika menjelang pagi, aku mendekati si paman pemungut sampah. Aku perhatikan isi sepasang tempat sampah yang dicurahkan ke gerobak sampah beroda. Tentu, hal yang pasti, sampahnya adalah balon-balon udara bening yang di dalamnya berisi cairan kental kekuningan, bungkus rokok, bertumpuk-tumpuk remasan tisyu, dan beberapa botol minuman bermerk tak umum.

Aku penasaran dengan pemilik sepasang sepatu berhak tinggi itu. Sudah tiga hari memantau penuh menanti keluarga pemilik sepasang sepatu berhak tinggi itu. Tepat hari kelima, keluarlah sepasang kaki indah dengan jemari kaki yang lentik berkuku dengan cat biru. Sepasang kaki itu mendarat di sepasang sepatu berhak tinggi. Sepasang sepatu hitam berhak tinggi sangat kontras dengan kulit kaki pemiliknya. Putih, bening, dan berkilau. Aku tidak ingin cepat-cepat menaikkan pandangan untuk melihat wajahnya. Cukuplah sekali itu berlega hati dengan menyaksikan sepasang kaki dan sepasang sepatu yang dikenakannya. Masih banyak waktu. Menyicil momen terindah sungguh sangat menggairahkan.

Tentu aku sangat penasaran, tapi kutahan sekuat-kuatnya untuk tidak terburu-buru memberi makan nafsuku memandang wajahnya. Suatu saat, pada akhir pemata-mataan, aku pasti melihat dengan jelas dan tajam wajah si pemilik sepasang sepatu berhak hitam itu. Tidak lagi sekedar melihat potongan sosoknya yang berupa sepasang kaki indahnya, sepasang tanganya yang berkutek merah, atau sesimpul senyum manis bibirnya itu, tapi aku bisa melihat sosoknya yang utuh. Kelak, ya kelak, ketika tiba waktunya.



Cerpen yang berhubungan dengan tema ini:

https://www.cocokpedia.net/2021/05/kok-tinggal-satu.html