Polisi Tidur dan Klakson

Polisi Tidur dan Klakson

 


Beberapa hari yang lalu saya menggunakan jasa Grab motor untuk mengantar saya ke terminal. Tujuan berikutnya ke luar kota. Dalam perjalanan si tukang ojol (ojek online) memulai pembicaraan dengan menanyakan tujuan saya ke mana. Lebih lanjut obrolan tersebut meruncing terutama ketika melewati hamparan polisi tidur. Begitu banyak polisi tidur yang kami lewati.

Kemudian ia bertanya: "Saya sebenarnya bingung mengapa ada banyak polisi tidur dibuat? Bukankah pemerintah membangun jalan raya ini agar lancar, selamat, dan aman?" 

Sejenak saya membuat jeda tidak langsung meresponnya. Kemudian saya mengomporinya dengan mengatakan bukankah tidak semua orang mengebut? Bukankah ada aturannya membuat polisi tidur yang aman dan menyelamatkan? Kemudian saya menyolotnya lagi dengan mengatakan: jangan-jangan warga yang membuat polisi tidur itu memang hatinya tidak suka jika orang lewat di jalannya dengan nyaman, aman, dan selamat?

Si tukang ojol membenarkan pernyataan saya. Iya benar, sepertinya warga terkesan tidak suka orang lain bahagia. Hahaha. Saya berhasil mengomporinya. Sebenarnya saya ingin tahu seberapa besar kepeduliannya terhadap berkendara nyaman, aman, dan selamat. Kemudian saya melanjutkan dengan mengatakan: sepertinya belum ada penelitian yang membahas dampak polisi tidur yang tidak standar terhadap kesehatan. Seandainya ada hasil yang mengejutkan bahwa polisi tidur yang tidak standar dapat menyebabkan perut turun, gagal ginjal, keguguran, dan sebagainya pasti akan mereka bongkar. Atau semisal ada denda dan peringatan keras terhadap pembuat polisi tidur yang tidak standar, mereka juga pasti akan membongkarnya.

Iya ya, katanya padahal mereka, si pembuat polisi tidur tiap hari bersusah payah melewatinya. Bukankah merugikan setidaknya kampas rem kendaraan, ban, dan ketidaknyamanan badan?

Entahlah ya. Saya juga berpikir demikian. Mungkin juga polisi tidur juga menjadi ciri bangsa Indonesia. Saya dan dia kemudian terbahak-bahak. Ciri manusia Indonesia yang pernah ditulis oleh Muchtar Lubis perlu ditambahi bahwa manusia Indonesia paling suka menyulitkan orang lain dengan membuat polisi tidur. Kembali kami tertawa .

Dan satu lagi, kata si tukang ojol. Mungkin bisa ditambahkan yaitu ciri manusia Indonesia suka membunyikan klakson yang tidak penting. Masih jauh saja sudah klakson. Belum lampu hijau, sudah klakson, ada pengendara di depannya sudah klason. Sepertinya manusia Indonesia suka mencet-mencet. Hahahaha.

Bangsa Ini Hidup dan Besar dari Korupsi

Bangsa Ini Hidup dan Besar dari Korupsi

 


Ketika korupsi makin menggurita di republik ini, kemudian pemerintah membentuk lembaga yang bernama KPK, Komisi Pemberantasan Korupsi. Jangan diplesetkan menjadi Kelompok Penggiat Korupsi, hahaha. Apa yang terjadi ketika lembaga tersebut bekerja? Terjadi korupsi juga? Makin giat? KPK juga? Saya tidak menuduh lo, tapi ini bentuk pertanyaan.

Ketika lembaga tersebut tidak begitu efektif, bagaimana cara yang jitu memberantas korupsi? Ingat, para pejabat yang saat ini duduk di kursinya masing-masing, berkat orang-orang di belakang layar. Tentu tidak gratis. Seolah-olah mereka yang di balik layar mewariskan kitab ilmu korupsi yang indah kepada para pejabat yang saat ini bertugas. Maka solusinya, menurut saya butuh penghentian setidaknya dua generasi untuk bisa membersihkan naluri korupsi terutama di kalangan pejabat negara sehingga terputus jalur komunikasi dan koneksi orang-orang lama dengan orang-orang baru dalam memperoleh jabatan. Dengan memutuskan rantai budaya korup tersebut, rekam jejaknya bisa benar-benar bersih. Kalau tidak begitu, tidak akan pernah berhasil. 

Satu fenomena yang mungkin bisa jadi gambaran dapat saya deskripsikan sebagai berikut.

Pertama dari tingkat terbawah. Seorang staf TU sebuah instansi atau dinas. Ia tidak akan bekerja tanpa ada terselip amplop atau jabat tangan di bawah meja. Ya, setidaknya harus ada pelicin lima puluh ribu rupiah. Ya, maklum, pangkat dan golongannya pasti masih rendah sedangkan kebutuhan hidup sangat tinggi. Masih dalam tingkat wajar dan manusiawi. Walaupun sebenarnya tugas administrasi publik adalah tugas pokoknya sehingga hak menggajinya karena kewajiban tersebut.

Kedua, di kalangan pendidikan terutama guru. Ada banyak permintaan administrasi oleh dinas pendidikan (tertentu, tidak semua). Baik itu tentang kenaikan gaji berkala, kenaikan tingkat, bahkan persyaratan pencairan sertifikasi. Contoh kenaikan tingkat, ada tarif tertentu yang tidak terpublish. Misal untuk bisa naik tingkat dari 3C ke 3D seorang guru dapat membayar satu juta lima ratus rupiah ke atas, tidak ke bawah. Pasti lolos dengan lancar. Ketika Surat Keputusan Kenaikan Tingkat sudah jadi, untuk sampai ke tangan guru, tentu juga diperlukan amplop yang berisi setidaknya seratus ribu rupiah.

Ketiga, kita naik ke kalangan pejabat kecil. Suatu instansi atau dinas, untuk menjadi Kapala Seksi (kasi), seseorang harus deposit sekitar lima puluh juta ke atas, lagi-lagi tidak ke bawah ya. Untuk menjadi Kepala Bidang, sekitaran seratus juta ke atas, jangan ke bawah lagi, hehehe. Untuk menjadi kepala dinas yang basah seperti dinas pendidikan atau kesehatan, maka perlu merogoh kocek sekitar lima ratus juta ke atas, tidak boleh kurang, lebih malah lebih sukses. Nah, karena proses mendapatkan jabatan sudah seperti itu, sangat wajar bagi pejabat untuk berusaha mengembalikan uang yang sudah ditarik duluan secara politis. Tidak heran ketika kemudian terjadi banyak penyimpangan proyek (korupsi) di mana-mana.

Keempat, kita naik lebih tinggi lagi. Jika deskripsi di atas sudah terjadi korupsi, apakah di atas jabatan tersebut juga terjadi? Tentu, hanya saja tidak semua dapat dibuktikan dengan nyata. Ada banyak cara untuk menyembunyikan praktik korup tersebut. Untuk jadi bupati atau wali kota, tentu tidak hanya sekedar lima ratus juta apalagi untuk menjadi menteri atau presiden. Pasti lebih gila lagi jumlah nolnya.

Untuk menjadi anggota dewan, maka partai butuh dana untuk promosi wajah calonnya. Setidaknya biaya buat banner di perempatan-perempatan jalan strategis menampilkan wajah calon anggota dewan. (anggap saja pengganti polisi yang mengawasi lalu-lintas). Partai juga butuh dana untuk merayu masyarakat agar memilih calon yang diusungnya. Partai juga butuh dana cuap-cuap kampanye. Dan, pasti butuh dana serangan fajar juga. Banyak sekali dana yang dibutuhkan, maka sebagian besar dana dapat diperoleh dari pejabat separtai yang masih aktif. (aktif korup juga, hahaha).

Coba bayangkan bagaimana seseorang yang ingin menjadi lurah. Coba tanyakan berapa uang dan harta yang sudah dikeluarkan. Mereka akan menyebut: saya sudah menjual tanah, menjual mobil, menjual perhiasan, dan sebagainya. (kadang juga menjual harga diri, ssst). Untuk dana pencalonan tersebut bisa sekitar dua ratus juga ke atas, tidak ke bawah.

Jadi dapat disimpulkan bahwa oknum sebagian bangsa ini menghidupi diri mereka dari jalan korupsi. Jika tidak demikian, maka tidak terjadi kewajaran berpolitik dan bernegara apalagi berbangsa, hahaha. Sebagian oknum tersebut takkan mampu hidup tanpa korupsi. Dengan korupsi, maka semua gaya hidup dapat didanai dengan sangat cukup. Kan tidak mungkin seorang pejabat naik sepeda motor. Tidak mungkin seorang pejabat bersama keluarga makan di lesehan kaki lima. Tidak mungkin pejabat tidur di mushalla. Hahaha. Korupsi telah menjadi sumber dana khusus yang melebihi gaji mereka untuk kelangsungan hidup seluruh keturunannya.

Di tingkat daerah, kabupaten juga terbentuk BPK entah apa singkatannya. Badan ini khusus menyatroni para pegawai negara sampai tingkat pejabat daerah. Lagi-lagi, sebagian mereka ternyata juga penggiat korupsi. Maka, selain gagasan pemutusan mata rantai budaya korup di atas, perlu pula diselenggarakan tes properties sebelum mereka menjadi pejabat negara atau pegawai negara. Misalnya, mereka harus lulus uji pengetahuan dan keterampilan religi dan sosial seperti rapor anak SD; mereka juga harus hafal lima sila Pancasila dan butir-butirnya serta mampu mengaplikasikannya dalam keseharian; mereka harus tanda tangan kontrak pakta integritas, jika mereka melakukan korup, kepala mereka harus dipenggal dan keluarga koruptor yang ikut makan uang negara harus diasingkan ke pulau terpencil dan terjauh; dan sebagainya. Wuih, ngeri!

Nah, sekarang tugas orang yang kompeten melacaknya, tapi yang serius lo ya!

Cinta Itu Terucap Sekali

Cinta Itu Terucap Sekali



Cinta Itu Terucap Sekali


Aku takkan menukar nyawa sekuntum mawar

Untuk pernyataan cintaku kepadamu

Cukup percayalah bibir ini

Pada mata ini

Cinta itu akan terucap sekali

Tapi tertancap mengakar di dalam hati

Adapun dusta

Takkan pernah lahir dari cinta

Pegang kata-kataku

Ketika aku telah tidak lagi bersama

Ia abadi sebagaimana nama

Cinta itu hidup bersamamu

Dan menemani kematianku


Sumenep, 17 Oktober 2021

TERSERAH

TERSERAH

 




Oleh MR. Mauludi

 

Ketika kita dihadapkan pada jawaban yang berbunyi kata "terserah," maka kita akan kesulitan melaksanakannya. Sebab terserah, bisa memungkinkan melakukan dua pilihan yang menjadi jawaban. Sedangkan kita dipaksa berpikir yang mana yang akan dilakukan.

Sebagai contoh kecilnya, untuk berangkat ke suatu tempat bisa dilakukan dengan menggunakan sepeda motor dan bisa pula dengan jalan kaki. Si A bertanya pada si B, "kita mau naik sepeda atau jalan kaki?." Si A menjawab "terserah."

Sudah jelas si A akan bingung dengan jawaban si B itu. Si A bingung mau yang mana, antara naik sepeda dan jalan kaki. Dengan demikian, bisa jadi berangkat bahkan tidak berangkat. Bisa jadi pula akan timbul perdebatan yang tak kunjung usai.

Kata terserah, memang menyisakan persoalan dalam sebuah komunikasi. Sebagaimana contoh di atas, seakan-akan dilematis atau serba salah. Apabila naik sepeda motor, tentunya akan cepat sampai pada tujuan asalkan sepeda motor tidak sedang dipakai orang lain atau hal lain. Sementara jalan kaki akan memakan waktu sehingga bisa jadi tepat waktu bahkan terlambat sampai tujuan.

Bila kata terserah berada pada situasi dan kondisi lain selain contoh kecil di atas. Maka, tidak boleh tidak suasana akan terasa dilematis dan serba salah, bisa lebih rumit atau sebaliknya. Kebanyakan dari terserah, biasanya memilih yang lebih mudah dillakukan. Namun, belum bisa dipastikan itu sesuai yang diinginkan.

Sebisa mungkin jangan berada pada posisi terserah untuk menentukan sesuatu. Jangan pula memakai atau menggunakan kata terserah, meskipun dilihat sama-sama bisa sampai dengan yang dimkasud dari terserah tersebut.

Sangatlah kurang nyaman bila dihadapkan pada jawaban terserah. Kecuali, terserah itu berada pada posisi yang sudah menjadi pilihan yang tidak berdampak atau ada efek kurang nyaman suasana hati dan keadaan.

Semisal, besok rapat memakai busana rapi dan sopan. Jadi, terserah mau pakai busana apa saja, baik itu santai, resmi, atau sesuai selera selama itu bernilai rapi dan sopan. Artinya terserah di sini memberi kebebasan dan keleluasaan pada masing-masing.

Dengan begitu, kata terserah pada posisi tertentu bisa menyenangkan. Namun, pada posisi lainnya bisa tidak menyenangkan bahkan menyakitkan. Butuh cara tersendiri dalam menyikapi suatu hal yang berkaitan dengan kata terserah. Asalkan jangan pernah menyerah, pasrah, atau merasa kalah meiyikapinya sehingga terserah menjadi beban.

 


Pidato Cinta Laura dalam Aksi Moderasi Beragama oleh Kemenag 2021

Pidato Cinta Laura dalam Aksi Moderasi Beragama oleh Kemenag 2021

 




Berikut cuplikan lengkap pidato Cinta Laura dalam Aksi Moderasi Beragama yang digelar oleh Kementerian Agama RI, 2021: 

Sungguh sebuah kehormatan bagi saya diundang malam ini untuk mewakili generasi muda Indonesia dalam mengekspresikan opini kami mengenai moderasi beragama. Jujur saya tidak tahu kenapa sayang diundang malam ini untuk hari di sini, tapi saya harap pidato yang saya buat tadi malam bisa menggerakkan hati para hadirin. Sebagai generasi Z ini kamilah generasi yang akan bertanggung jawab dalam beberapa tahun ke depan atas arah yang akan diambil negara ini untuk menjadi negara yang lebih maju modern sejahtera dan tentunya terkemuka di mata dunia.

Tapi, nilai-nilai apa saja yang harus kita terapkan kepada masyarakat Indonesia agar mimpi-mimpi ini bisa terealisasi?  Pada saat ini kita dalam situasi sulit di mana adanya polarisasi dalam opini masyarakat.  Terlihat jelas bahwa adanya ketidaksepakatan tentang apa yang dibutuhkan negara ini agar bisa benar-benar menjadi kesatuan yang kuat. Dalam satu sisi generasi muda sekarang mempunyai keinginan besar untuk mempromosikan budaya dan identitas bangsa. 

Kami percaya akan pentingnya untuk negara-negara di luar sana melihat potensi keunikan dan kehebatan negara ini.Tapi, di sisi lain sampai detik ini kita semua masih sering berkelahi dan menjatuhkan sama satu sama lain hanya karena perbedaan ras suku dan terutama agama.

Bagi saya pribadi hal tersebut sungguh ironis karena bukankah pasal 1 dari undang-undang PNPS mengatakan bahwa adanya enam agama utama di negara ini,  bukankah itu negara ini Bhineka Tunggal Ika yaitu berbeda tapi satu? Tapi mengapa walaupun dengan pondasi negara yang begitu memeluk perbedaan dan toleransi, tetap saja masih ada konflik. Apa yang membuat agama mampu membuat kita melupakan inti dari identitas bangsa ini?

Sebagai lulusan Psikologi dan sastra Jerman saya dulu memiliki kuriositas terhadap cara berpikir manusia. Oleh karena itu, pengetahuan tersebut saya perdalam dengan mempelajari filosofi. Sampai detik ini saya tidak akan pernah lupa akan apa yang dikatakan oleh salah satu filsafat paling berpengaruh sepanjang yang mengatakan:  Manusia adalah makhluk yang terbatas sedangkan Tuhan adalah sosok yang tidak terbatas.  Oleh karena itu,

bagaimana kita sebagai makhluk yang terbatas merasa mempunyai kemampuan untuk mengerti sesuatu yang jauh diluar kapasitas kita? Bagaimana kita sebagai makhluk yang terbatas bisa memahami esensi dari sesuatu yang tidak terbatas?

Inilah salah satu akar dari masalah yang kita miliki dalam masyarakat Indonesia sekarang. Karena pemahaman yang terbatas dan pemikiran yang tidak kritis, orang-orang terjebak dalam cara berpikir di mana mereka telah memanusiakan Tuhan. Merasa memiliki hak dalam kemauan Tuhan. Merasa tahu pikiran Tuhan dan merasa berhak bertindak atas nama Tuhan.  Inilah yang akhirnya seringkali berubah menjadi sifat radikal.

Dalam perbincangan Saya beberapa waktu lalu dengan Habib Husein Jafar kami berdua sepakat bahwa bahaya yang masyarakat kita alami sekarang adalah mengatasnamakan Tuhan untuk kepentingan pribadi. Menyesatkan generasi penerus bangsa dengan prinsip hidup yang sebenarnya tidak ada dalam kitab suci agama? Kenapa seperti itu? Karena kita kurang membimbing dan memberikan masyarakat yang dibutuhkan agar bisa memahami sebuah ajaran dengan akal kritis.

Sehingga mereka menjadi tersesat dalam cara berpikir mereka dan lupa akan pentingnya menyeimbangi segala ilmu yang dipelajari dan dimiliki dengan nilai-nilai yang ada dalam budaya, sains, ataupun aliran pemikiran lainnya.

Saat saya masih bersekolah dulu, saya diharuskan mempelajari berbagai agama dari segi literatur dan juga filosofi sehingga saya diberikan kesempatan untuk bisa memahami keindahan setiap agama dan sadar bahwa pada akhirnya fungsi terbesar agama adalah satu:  yaitu untuk membimbing kompas moral manusia. Untuk mengingatkan manusia bahwa kita harus memperlakukan satu sama lain dengan hormat, bahwa kita harus bersyukur dan bahwa kita semua harus sadar bahwa waktu kita di dunia ini hanyalah singkat dan terbatas.  Oleh karena itu ingatlah untuk selalu menjadi seseorang yang rendah hati dan siap membantu satu sama lain.

Apa yang harus dilakukan kedepannya agar bisa melawan segala kebohongan yang ada? Apa yang kita bisa lakukan untuk memberdayakan rakyat bangsa ini? Saya rasa jawabannya cukup satu  jelas yaitu: satu, penting sekali kita segera mengingatkan kembali saudara-saudara kita akan indahnya, kayanya, uniknya budaya-budaya yang kita miliki di negara ini. Sejak usia penting kita mengenalkan budaya negara ini tidak hanya di sekolah, tetapi juga melalui media dan semua digital yang ada. Sebuah hal yang krusial untuk disadari bagi generasi muda akan relevannya budaya kita di dunia yang semakin modern. Kedua, ajaran agama yang ada dalam sistem pendidikan harus adil dalam mempresentasikan agama-agama yang ada di negara ini agar orang-orang bisa mengerti sejak usia muda bahwa semua agama itu mengajarkan kebaikan dan tidak seharusnya kita melecehkan dan menyakiti satu sama lain hanya karena sebuah perbedaan.

Ketiga, critical thinking (3X) ajarkanlah adik-adik kita untuk membaca dan mempelajari segala sesuatu dari berbagai sudut pandang.  Biarkanlah Mereka bertanya tumbuhkanlah rasa ingin tahu mereka sehingga mereka tidak mudah dipengaruhi dan dijajah pikirannya dan terakhir:  gunakanlah teknologi yang semakin canggih sebagai alat yang dapat terus menyebarkan nilai-nilai toleransi agar negara ini bisa kembali menjadi Indonesia sejati.

Sebagai penutup Saya ingin membacakan berikut:

Tanpa Pondasi yang kuat tidak akan ada bangsa yang bisa bertahan. Oleh karena itu, ayo kita bersama-sama menjelmakan lambang Garuda di manapun kita berada. Mari kita taat dalam beragama agar menjadi manusia yang bermoral, tapi Mari kita juga merangkul budaya Indonesia untuk membimbing identitas bangsa. Terima kasih salam sejahtera bagi kita semua.


PIDATO versi Youtube 


Silakan yang mau komen...!

Zombieland in Philadelphia

Zombieland in Philadelphia

 

 Orang bilang tanah kita tanah surga
Tongkat kayu dan batu jadi tanaman….

 

Kita masih sangat bersyukur dibandingkan keadaan sesama manusia kita di Philadelphia. Menyaksikan banyak video mengenai kondisi manusia di sana membuat hati ini sangat miris. Manusia di sepanjang jalan dalam keadaan buffering atau loading. Manusia di sana terlantar, tidak punya rumah. Miskin. Hidup berdampingan dengan sampah dan narkoba. Ada yang menyebut kota itu sebagai Zombieland karena setengah manusia setengah mayat hidup. Sungguh mengenaskan sekali.

Berikut beberapa cupilkan frame kehidupan manusia yang sangat tidak normal sekali di sana.






Mereka menunduk bukan mencari sesuatu, tapi karena memang tidak kuat berdiri tegak dan sadar. Mereka tersungkur juga bukan karena sedang bersujud, tapi karena tidak kuat lagi mengontrol tubuhnya. Mereka tertunduk bukan karena sedang tafakur, tapi ibarat komputer, mereka sudah tidak bisa loading dengan baik sebagai manusia yang berkesadaran atau normal. Perhatikan foto terakhir, mau pasang celana saja sudah tak sanggup.

Silakan telusur di youtube dengan kata kunci :


Kita patut bersyukur di Indonesia, semiskin-miskinnya tidak sampai dalam keterpurukan seperti itu. Setidaknya masih ingat menyebut nama Tuhan.


Salah Satu Orang Gila Indonesia:  Alffy Rev dengan Wonderland Indonesia-nya

Salah Satu Orang Gila Indonesia: Alffy Rev dengan Wonderland Indonesia-nya

 



Sebelum ke apa itu Wonderland Indonesia, ada baiknya klik dulu link di bawah ini untuk menonton karya Alffy Rev.

Wonderland Indonesia


Bagaimana? Keren kan karya putera Indonesia yang satu ini. Banyak reaksi para pemusik luar sana yang juga mengapresiasi luar biasa untuk karya ini. Banyak di antara mereka yang menyatakan bahwa mereka merinding mendengarkan musik dan liriknya walaupun tidak paham. 

Sungguh saya nyatakan dalam judul artikel ini bahwa Alffy Rev adalah salah satu orang gila di Indonesia. Sungguh betapa gilanya ia terhadap Indonesia. Cinta pada negerinya luar biasa. Perjuangan yang tidak kecil. Untuk modal awal produksinya saja ia terpaksa menjual mobil. Sisanya ia bersama teman-teman timnya ke sana ke mari untuk memperoleh donatur. 

Nah, ketika menemui pihak pemerintahan, di situlah letak batunya. Cuma doa dan dukungan moral. Hahaha. Hanya sekedar itu? Cukup? Kemudian dengan perjuangannya di tengah proses produksi di Bali, dikejar deadline (17 Agustus 2021), dan sumber daya pangan menipis, akhirnya ada pahlawan muncul. Ia adalah Doni Salmanan (silakan googling siapa dia). Doni Salmanan dengan suka rela menyumbangkan donasinya untuk produksi Wonderland Indonesia tanpa babibu seperti .... (tau sendiri lah siapa mereka).

H-7 dari deadline, kembali kehabisan dana produksi. Satu-satunya solusi adalah menunda release Wonderland Indonesia ke tahun berikutnya. Tapi, tanpa disangka dan diduga, pemerintah akhirnya membuka mata melalui Kementerian Pendidikan Kebudayaan, Riset dan Teknologi kemudian memberikan donasinya sehingga WI berhasil launching tepat Hari Kemerdekaan RI ke-76. Selamat Alffy Rev. Karyamu dan tim sungguh keren. Bangsa luar sana akhirnya membuka mata bahwa Indonesia sungguh indah, damai, sejahtera. Indonesia benar-benar negeri ajaib bukan hanya negeri yang luar biasa.


Siapa Alffy Rev? Silakan tonton profilnya:

Profil Alffy Rev


Layanan GRAPARI Tidak Sampai 2 Menit

Layanan GRAPARI Tidak Sampai 2 Menit

 


Ceritanya begini, hapeku diisi daya sebelum tidur. Tepat tengah malam asap putih memenuhi kamar. Untung terbangun. Ternyata, hapeku (Lenovo) terbakar. Sungguh beruntung, andai memercik ke kasur, sudah jadi sate orangnya. Hahaha. Nah, video di atas adalah bangkai hapeku. 



Tidak ada yang bisa diselamatkan. Memori card dan Kartu Simpati. Lenyap, meleleh mungkin. Akhirnya aku ke Grapari Malang di Jl. Letjend S. Parman No.47, Purwantoro, Kec. Blimbing, Kota Malang, Jawa Timur 65126. Disambut cewek cakep.

Beberapa hal ditanyakan seperti nomor kartu yang terbakar, juga KTP. Kemudian aku diajaknya ke mesin (entah apa namanya). KTP-ku dipindai di mesin itu. Kemudian jari telunjuk kanan juga dipindai. Setelah itu si cewek cakep itu memencet tombol ok. Keluarlah kartu SIM baru. Wow keren. Oya, jari tanganku tadi disentuhnya. Hahaha.

Waktu datang sampai kartu baru tercetak, tidak butuh dua menit. Terima kasih @graPari Malang. 

Contextual Learning dengan Virtual Reality

Contextual Learning dengan Virtual Reality

 



Yang terdekat dengan anak-anak perkotaan, lebih-lebih sejak pandemi tahun lalu adalah hape. Selain sangat dekat dengan hape yang paling sering menemani mereka adalah aplikasi game android. Ketika ada guru yang menyentil soal game, para murid sangat antusias dan bergairah. Berbeda iklim dengan ketika guru membahas hal yang mereka anggap biasa seperti materi pembelajaran apalagi Matematika.

Jarak antara guru dan murid, jarak murid dengan masyarakat, telah mendekatkan mereka lebih dalam dengan hape dan aplikasi game. Ketika mulai pelaksanaan pembelajaran tatap muka, magnet tangan mereka sangat tampak tersedot ke arah hape. Beberapa guru juga sudah terbiasa menggunakan media sosial, jejaring internet, saat mengajar bahkan beberapa tugas dan penilaian sudah sangat terbiasa dilakukan secara daring (dalam jaringan).

Ketika terjadi pembelajaran tatap muka terbatas dan bertahap, guru mulai menanyakan kegiatan-kegiatan yang murid lakukan di rumah. Hampir semua menyatakan bahwa mereka bermain game.

Waktu sekitar dua tahun dalam pembelajaran daring membuat mereka tak mudah dilepaskan dari jeratan hape. Sejak bangun hingga tidur lagi, yang pertama kali diraih mereka adalah hape. Sehubungan dengan dicanangkannya Gerakan Literasi Digital Nasional oleh Kementerian Pendidikan Kebudayaan dan Ristek seperti perlu ada pendekatan baru dalam pembelajaran yang dekat dengan anak sedekat game bagi mereka.

Ada beberapa cetusan gagasan yang mungkin dapat menjadi rujukan program pembelajaran di kelas. Pendekatan, metode, dan teknik serta teknologi pembelajaran tersebut tentu menggunakan hape karena hape-lah yang terdekat dengan anak-anak dibanding dengan guru dan ibu mereka. Beberapa yang bisa ditawarkan antara lain: Augmented Reality (AR), Virtual Reality (VR), nearpod, broadcast, google classroom, classdojo, jamboard, dan sebagainya. Intinya, mengarahkan atau memindahkan seluruh kegiatan siswa dan kelas ke dalam ruang virtual.

Boleh dicoba. Saya pribadi tertarik dengan VR. Dengan VR guru atau sekolah dapat membangun sekolah dan kelas virtual yang di dalamnya berisi kegiatan-kegiatan virtual, tentu dengan menggunakan alat kacamata virtual. Yang pasti kemasan dan bentuknya semirip game. Pasti anak-anak akan sangat menyukainya.

Secara lebih luas, guru bekerja sama dengan instansi pemerintah juga membangun fasilitas-fasilitas sumber belajar virtual seperti museum virtual, perpustakaan virtual, dan sebagainya. Semakin asyik pembahasan ini. Lebih-lebih ketika ada volunteer yang bersedia dengan sukarela membuatkan aplikasi tersebut. Kita tunggu saja progres dari Gerakan Literasi Digital Nasional yang dicanangkan kementerian.

 

Daging dan Tulang Ini Adalah Beban Bagi Jiwa

Daging dan Tulang Ini Adalah Beban Bagi Jiwa

 


Puisi September 2021

 

Daging dan Tulang Ini Adalah Beban Bagi Jiwa

 

Daging dan tulang ini adalah beban bagi jiwa

Terperangkap terbebaskan adalah dinding kegelapan

Yang harus ditempuh badan

Tercerahkan atau gelap gulita adalah takdir

Satu pun takkan terbebas dari hukum ini

Hanya yang telah berubah wujud

Dari materi ke immaterilah yang benar-benar

Melihat cahaya atau dalam kegelapan sempurna

Beberapa manusia melakukan ritual

Meningkatkan kecerdasan dan kesadarannya

Tapi tetaplah tulang dan daging itu beban bagi jiwa

 

Malang, 25 September 2021

 

Liarnya Pikiran

 

Mesjid ka’bah surau adalah bentuk materi kehambaan

Salat puasa haji adalah bentuk laku penghambaan

Ada wujud kehambaan

Ada wujud laku penghambaan

Bisa saja ada bentuk menuhankan

Bisa jadi ada bentuk menuhan

Ah, liar sekali pikiran ini!

 

Malang, 25 September 2021

 

Surga Itu di Dalam Bukan di Luar

 

 

Surga itu di dalam bukan di luar

Sebagaimana semesta bekerja dari dalam bukan dari luar

Begitulah surga berada dan bekerja

Ketika engkau berdosa masuklah ke dalam hadirat

Tutuplah semua pintu

Undanglah sejuta sepi

Haturkan semuanya dalam bahasa rahasia

Maka engkau telah mengetuk pintuNya

Serahkan saja dan pasrahkan

 

Malang, 25 September 2021

 

Materi Itu Abadi

 

Materi itu abadi

Hey, jangan kau kira materi itu musnah

Materi itu dari Tuhan

Bahkan dari zat ketuhanan

Sama halnya tidak ada kematian

Dalam semesta ini

Bukankah hidup adalah zat Tuhan

Yang menempel pada materi?

Apa yang dari Tuhan mungkinkah bisa musnah?

 

Malang, 25 September 2021

 

Apa Itu Waktu

 

Ketika ada yang bertanya pukul berapa sekarang

Tentu saja kita bisa menjawabnya dengan menengok jam

Tetapi ketika ada yang bertanya apa itu waktu

Maka kita butuh waktu untuk menjawab dengan sedikit tepat

Jika dalam hukum ruang

Apa yang tertinggal di suatu tempat

Kita dapat mengambilnya dengan cara kembali ke tempat itu

Berbeda sekali dengan waktu

Jika suatu peristiwa tertinggal di dalam waktu

Kita hanya akan menemukan tempat kejadian

Tidak lagi menemukan peristiwa tersebyt sesuai waktu kejadian

Waktu terus bergerak maju

Kita hanya bisa mundur di dalam ruang

Apa yang tertinggal di dalam waktu

Kita takkan bisa menemuinya lagi

Kecuali dalam kenangan

 

Malang, 25 September 2021

 

Siapakah Saya?

 

Pertanyaan sulit lagi

Jawaban saya tentang saya

Jawaban anda tentang saya

Jawaban mereka tentang saya

Ketika ditanyakan siapakah saya

Tidak sepenuhnya bisa mewakili siapa diri ini

Tak seorangpun termasuk diri saya

Mampu menjawab dan menjelaskan siapa diri saya

Begitu pula dengan anda dan mereka

Bidikan tepat

Tapi tak pernah mengenai sasaran

Makin dibidik makin meleset

Titik diri seperti lentur

Cepat dalam lesatan

Jangan-jangan kita membidik Tuhan?

 

Malang, 25 September 2021

 

Dunia Ramai di Dalam Diri

Dunia Ramai di Dalam Diri

 




Di dalam diri ada pikiran dan perasaan. Dari dua elemen tersebut terciptalah ingatan, imajinasi, keinginan, dan perasaan. Mereka inilah yang membuat gaduh di dalam diri. Ingatan, imajinasi, keinginan, pikiran dan perasaan, sering kali tidak mampu kita jadikan para abdi atau pelayan-pelayan bagi kepentingan sang Jiwa, namun mereka kemudian lebih sebagai pengkhianat, musuh dalam selimut, pengadu domba, dan penipu yang bergerak sendiri dalam kehendaknya yang instingtif, reaktif dan impulsif, di mana kesemuanya ini secara beramai-ramai kemudian “menyalibkan” Tuannya sendiri, yakni diri kita. (kutipan dari buku Isis Unveiled, karya Blavatsky).

Kita tidak punya kemampuan untuk memerintahnya secara lisan seperti: “Diamlah!” “Tenanglah!” Tidak bisa. Hanya ada dua jalan yang bisa membuat mereka beku tidak ramai dan tidak mengganggu kita lagi. Salah satu jalannya adalah yang paling kita tidak suka yakni kematian. Satu jalan lainnya mungkin kita suka, yakni ‘pintu kegelapan.’

Pintu kegelapan ini adalah pintu cahaya absolut. Cahaya kegelapanlah yang di dalamnya terdapat cahaya-cahaya terang dan bening. Kegelapanlah yang merangkul semua cahaya seperti layaknya lubang hitam menelan bintang-bintang sekaligus melahirkannya kembali.

Pintu kegelapan ini kemudian ada yang menyebut sebagai meditasi atau tafakur. Yakni cara memasuki wilayah keheningan dengan kondisi sadar bukan dalam kondisi tidur. Inilah wilayah yang tak terjamah oleh gangguan-gangguan pikiran dan perasaan manusia. Sebuah dunia gelap dan hening tanpa kata tanpa bahasa. Wilayah rahasia yang hanya diri dan Tuhan saja yang mengetahuinya. Tempat berbincang yang paling aman dan rahasia. Sebuah tempat yang gelap tapi penuh dengan cahaya-cahaya misterius. Tempat yang hanya dengan bahasa khusus tanpa lisan dan isyarat. Tempat kediaman diri yang sejati. Tempat curhat yang paling nyaman dengan diri dan Tuhan bahkan malaikat pun tidak dapat menguping atau mengintip.

Dengan segala keriuhan hidup dan dunia, hanya dua jalan itu, mati atau pergi ke wilayah rahasia. Cukuplah itu sebagai tempat istirahat dari semua hiruk pikuk kehidupan. Dalam wilayah itu, dalam kondisi demikian, hanya keheningan dan ketenangan, layakna tidur panjang tanpa mimpi.

BENTROK

BENTROK

 



Oleh Moh. Rasul Mauludi

 

Kata bentrok dipastikan berakibat tidak nyaman. Bentrok itu sendiri berbenturan, beradu, bertabrakan, dan terjadi hal kurang baik pada saat yang bersamaan. Artinya tidak nyaman disebabkan harus ada yang dikalahkan salah satunya.

Kata bentrok sering terjadi dalam kehidupan manusia. Bentrok dalam hal yang tidak baik adalah bentrok fisik. Dalam hal lainnya, yakni bentrok waktu. Bentrok fisik dan bentrok waktu sama-sama memakan korban. Korban dari bentrok fisik akan berhubungan dengan raga atau badan. Bisa lebam bisa pula luka-luka dan sebagainya.

Bentrok fisik sering terjadi dalam bentuk gerombolan atau kelompok yang dipicu dari gejolak personal. Antar warga, antar pemuda, antar pelajar, antar sesama, antar kelompok, antar golongan dan seterusnya. Bentrok fisik sering terjadi pada pelanggaran keamanan dan ketertiban umum.

Sementara korban dari bentrok waktu berhubungan dengan situasi dan kondisi. Dalam hal bentrok waktu, lebih sering terjadi pada acara-acara seremonial dan kegiatan sosial. Memilih waktu yang sangat penting atau urgen dan mengalahkan yang tidak terlalu penting.

Seperti pejabat yang kelasnya pimpinan. Mau tidak mau akan banyak undangan yang meminta dirinya hadir. Ketika, ada undangan yang bersamaan atau bentrok baik hari dan jamnya, maka pastilah dipilih undangan yang sifatnya penting. Undangan lainnya yang sifatnya rutinitas atau biasa saja ditinggalkan.

Bisa saja dengan solusi dihadiri semua dengan cara telat salah satunya. Dengan begitupun, tetaplah yang sifatnya penting didahulukan. Bentrok waktu memang tidak separah dibandingkan dengan bentrok fisik. Namun, bentrok waktu menimbulkan kekecewaan bagi yang dijadikan korban.

Dari kedua bentrok di atas, masih ada bentrok yang juga berakibat merugikan atau mengalahkan salah satunya. Adanya bentrok pasal dalam undang-undang dan bentrok aturan dalam kebijakan serta bentrok program dalam organisasi. Bentrok ini semacam tumpang tindih, tidak tertib, atau menyalahi obyek yang menjadi sasaran. Sebelum yang satu direalisasikan, muncul lagi yang lain untuk direalisasikan.

Akhirnya, memang tidak pernah nyaman kejadian bentrok itu. Namun, memang sulit menghindari untuk tidak terjadi bentrokan. Sepertinya hidup ini harus terjadi bentrokan dalam beberapa hal dan tidak dalam hal yang kurang baik.

Lebih jauh lagi tentang bentrok, apakah ada yang namanya bentrok hati!? Jawabannya hanyalah dua pilihan, yakni bisa saja ada dan bisa pula tidak ada.

MOTTO ALAM

MOTTO ALAM

 


Oleh Moh. Rasul Mauludi

 

Dalam organisasi pecinta alam terdapat semacam motto yang berupa anjuran atau peringatan. Kalimat motto itu berbunyi:

Jangan mengambil sesuatu kecuali gambar

Jangan memburu sesuatu kecuali waktu

Jangan meninggalkan sesuatu kecuali jejak

Tiga kalimat tersebut sudah umum bagi para pecinta alam, baik secara organisasi maupun perorangan. Alam merupakan kajian sekaligus pembelajaran alamiah. Para pendaki, pemerhati, bahkan organisasi lingkungan.

Jangan mengambil sesuatu kecuali gambar adalah bagian dari cara melindungi dan melestarikan alam, baik itu tumbuhan maupun satwa yang ada antara dilindungi atau tidak dilindungi demi menghindari kepunahan. Cukuplah dengan gambar untuk memiliki apa yang ada di alam raya. Gambar bisa berupa camera, lukisan, dan kreativitas lainnya yang tanpa mengambil obyek yang diinginkan dari alam.

Dengan gambar, keindahan alam tetaplah abadi dan menyejukkan. Dengan gambar tidak membiasakan tangan-tangan liar menghabisi wajah alam. Dengan gambar pula, alam tetap bisa dilihat dan menjadi tempat paling indah menemukan Tuhan dalam kuasa-NYA.

Jangan memburu sesuatu kecuali waktu merupakan cara tepat melanggengkan kehidupan selain manusia. Pegunungan merupakan tempat hewan-hewan liar dan langka. Karenanya, hewanpun ada yang dilindungi. Berburu tidak dibenarkan karena akan menyebabkan hewan bisa punah.

Kebiasaan berburu mangsa yang berupa hewan dilakukan oleh orang-orang yang tujuannya hanya untuk menghasilkan uang saja tanpa berpikir tentang kelangsungan ekosistem dan budidaya. Sehingga hal tersebut rawan hewan-hewan langka dan dilindungi punah.

Sebenarnya, berburu apa saja tidak dibenarkan kecuali hanya berburu waktu. Pendakian umumnya sudah bisa ditentukan waktunya. Apabila lebih cepat, maka lebih cepat pula sampai tujuan. Namun, sebaliknya akan menjadi sesuatu yang mengkhawatirkan. Artinya bila melewati waktu yang ada, bisa jadi terjadi sesuatu yang tidak diinginkan seperti musibah atau kecelakaan.

Waktupun menjadi sangat penting untuk diperhatikan dalam segala hal. Disiplin merupakan cara sederhana untuk menghormati sebuah waktu. Dengan waktu yang bisa diatur maksimal akan tetap memberi ruang pada manusia untuk menikmatinya.

Jangan meninggalkan sesuatu kecuali jejak menjadikan kita tidak terbiasa meninggalkan sesuatu setelah dari perjalanan panjang. Sampah adalah satu-satunya yang menjadi momok dalam kehidupan manusia. Sampah sangat mudah dibiarkan begitu saja tidak pada tempatnya.

Jejak manusia beraneka ragam, bila jejak itu dipahami pada suatu masa yang ada pada manusia, maka masa itu sendiri ada yang baik dan ada yang tidak baik tergantung siapa saja yang menjalani masa itu sendiri.

Jejak di sini adalah jejak yang berimplikasi pada sesuatu yang kotor dan berdampak buruk pada lingkungan. Lingkungan yang asri dan sehat, lingkungan yang bersih dari kotoran dan sampah-sampah. Sampah organik maupun non organik menjadi penyebab kerusakan lingkungan, apalagi di alam raya ini.

Bersih-bersih gunung dan lingkungan tidak akan sering dilakukan, bila para penikmat alam mampu menjaga kebersihannya. Salah satunya janganlah meninggalkan sesuatu yang mencemari kecuali hanya jejak kaki.


 Rumah Tanah dari Cinta

Rumah Tanah dari Cinta


 

  

“Aku ingin meninggal di pangkuanmu!” Bisik Yos kepada Za ketika menggunjingkan malam kepada Tuhan.

 

Dua manusia yang saling mencinta, Yos dan Za atau juga dua manusia yang saling berseteru itu sebenarnya tidak tahu. Lebih tepatnya semua manusia tidak tahu apapun. Yang mereka tahu, bahwa yang manusia tahu adalah pinjaman dari sang Mahatahu. Terlebih tentang takdir atas akhir dari bab per bab cerita dari manusia.

Ketika menjalani pagi, Yos menjemurkan kulitnya pada hari di depan rumah sambil melihati orang-orang lalu lalang ke jalan kematian. Sungguh mereka tidak pernah tahu bahwa akhir dari lalu lalang mereka adalah kematian bahkan bayang-bayang mereka yang melekat pada tanah ketika hidup pun akan lenyap. “Dan aku telah memiliki cita-cita kematian yang syahdu, mati dalam pangkuannya!”

Iya, benar. Itu gagasan dan itikad yang jitu. Banyak orang mencita-cita kehidupan yang baik, tapi sangat sedikit orang yang meniatkan kematiannya dalam keadaan baik. Kembali ke tanah juga. Manusia terlahir tidak bisa memilih dari  rahim atau ibu yang mana. Manusia terlahir begitu saja dengan terpaksa pun di tanah negara apa. Manusia tidak bisa memilih waktu kapan ia harus terlahir. Ketika kelahirannya tidak bisa memilih, harusnya keadaan dan waktu kematiannya bisa dipilih dengan baik.

Kita banyak hutang kepada tanah. Dari tanah manusia makan, di tanah rumah manusia, tanah menjadi pilihan Tuhan sebagai bahan prototype manusia, dan sebagainya. Tanah tempat menjalani takdir kehidupan. Tanah tempat sirkulasi air. Tanah tempat yang baik menyimpan api. Tanah tempat yang cukup seberapa pun banyak jumlah penghuninya bahkan dari saripati tanah, kelangsungan manusia terjaga.

Kita banyak hutang kepada tanah. Tanah banyak memberi. Tanah tempat kesabaran tak terbatas. Ialah yang menampung semua kotoran manusia. Ia juga yang menampung seluruh perilaku mereka, tapi Tuhan menagihnya dengan murah hanya berupa sujud.

“Aku ingin meninggal di pangkuanmu!”  Yos juga berbisik kepada tanah tempat kembalinya yang syahdu. Ia berpikir keras sikap terbaik apa yang akan diberikannya kepada tanah. Dalam kemesraan di pangkuan Za, Yos hanya terdiam lama, memikirkan cinta tanah kepada mereka berdua.

“Kita telah hampir kembali menjadi tanah, sungguh syukurku besar karena dipertemukan denganmu!” Yos memandangi Za dengan linangan air mata.

“Iya Mas. Tak sia-sia apa yang kita perjuangkan!” Za menebali.

Di atas rerumputan hijau, bawah pohon beringin yang rindang, Yos menyerahkan hidupnya di pangkuan Za. Sungguh damai tanah, pohon, dan angina yang menyertai mereka.

“Inilah sastra itu, Dik!”

“Iya, Mas.”

“Mau apalagi kita? Selain yang sudah Tuhan berikan? Aku sudah merasa cukup di sini bersamamu karena cita-cita teragungku adalah meninggal dalam pangkuanmu!”

Za pipinya memerah. Senyumnya menandingi pagi. Dadanya terasa cukup terisi udara. Pemandangan Yos dan Za sekilas mirip dalam adegan film Hindustan. Romantis. Andai ada hujan mereka pasti saling berkejaran sengaja menghunjani tubuh mereka dengan kenikmatan air.

Yos mengambil segenggam tanah, tanpa rumput. “Inilah kita sejak awal dan hingga akhir!”

Za hanya menganggukkan kepala.

“Apakah di surga ada tanah?”

“Entahlah!”

“Jikalau ada, apakah tanahnya sama dengan tanah kita?”

“Juga entahlah!”

“Apakah kelak ketika kita dibangkitkan juga seperti kecambah di tanah ini?”

“Tidak perlu dijawab, kan?”

“Iya, kok tahu? Mas sepertinya sedang bertanya yang tak butuh jawaban!”

“Sepertinya kematian yang dapat membuktikannya!”

“Jangan dulu, Mas. Surga kita masih baru mulai. Kita jalani surga dengan jenis tanah ini bersama-sama dulu.”

“Baiklah, aku setuju!”

“Ada lagunya lho. Orang bilang tanah kita tanah surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman.” Yos pun bersenangdung seperti sedang memanggil hujan.

Mereka berdua menatap langit dari celah dedauna.

“Kamu tahu apa yang akan kukatakan?” Tanya Za.

“Apa. Katakan!”

“Langit tak pernah meminta jasa walau telah memberi bumi hujan. Seperti itulah cintaku padamu!” Mata Za menatap dalam-dalam Yos yang dalam pangkuannya.

“Hmm, iya. Indah sekali kalimatmu sayang! Belajar dari aku ya?”

Mereka pun tertawa. Yos menjawab pernyataan Za hanya dalam hati: begitu pula denganku Za, tak ada cinta yang setulus ini selama aku hidup dengan banyak perempuan sebelumnya.

 

 

 

 

 

 

 


Iblisa

Iblisa

 


 

Sebenarnya iblis tidak pernah menggoda manusia. Manusialah saja yang mengejawantahkan karakter iblis bagi dirinya. Iblis ibarat penonton drama. Ia duduk paling depan menyaksikan prilaku manusia sambil tertawa terkekeh-kekeh.

“Ia dan mereka telah menjadi diriku!” Ia meneriaki panggung kehidupan.

“Aku tidak akan kesepian di neraka kelak!” Teriakan keduanya lebih nyaring.

Memang Tuhan telah memerintahkan iblis untuk menggoda iman manusia. Ia ditakdirkan menerima perintah dan penyusup ke dalam diri manusia untuk membelokkan hati dan pikiran manusia ke arah jalan yang salah dan sesat. Tapi, bagi iblis, di zaman sekarang tidak perlulah terlalu bekerja keras. Manusia telah menentukan sendiri, jalan iblis mana yang akan mereka lalui.

Iblis senyum-senyum, di kursi paling depan di depan panggung sandiwara manusia. Yang membuatnya terpingkal-pingkal, ketika manusia sedih saat menyesal telah melakukan dosa, kemudian ia mengulangi dosa yang sama. Sungguh, itu merupakan lawakan yang seru bagi iblis. Ia mendapatkan tontonan gratis yang menyenangkan.

Yang paling menyenangkan baginya lagi, ketika manusia membaca doa saat melakukan dosa. Wow, sungguh keren jenis manusia yang seperti itu. Melakukan dosa minta izin Tuhannya. Iblis sangat menikmati sandiwara manusia kepada Tuhannya. Tiap saat tiap hari selalu ada kejadian yang menghiburnya. Ia tak pernah kehilangan keceriaan bahkan di neraka ia tidak akan pernah kesepian.

Suatu waktu, ia pernah ditanya malaikat: mengapa ia membantah perintah dari Tuhan untuk bersujud kepada Adam. Iblis balik bertanya dengan santai: apakah itu benar-benar perintah? Atau sekedar trik Tuhan untuk menguji keimananku? Sejenak malaikat itu hening. Kemudian ia melanjutkan pertanyaannya: apapun itu bukankah itu tetap perintah Tuhan? Buktinya kami semua sujud kepada Adam.

Iblis menoleh menamati wajah malaikat. “Aku tidak mau menyembah selainNya!”

“Tapi, itu adalah perintah!”

“Apakah kamu yakin itu perintah bukan ujian?”

“Iya, lagian mana ada hamba Tuhan tidak taat perintah?”

“Bagiku, itu bukan perintah. Kuanggap itu ujian keimanan, makanya aku tidak sujud kepada Adam yang dari tanah itu!”

“Buktinya kamu dilaknat Tuhan!”

“Itu hak Tuhan, aku menerima saja apa kehendakNya!”

“Sungguh kamu memang pembangkang!”

“Ingat ya kalau itu bentuk perintah, mengapa Tuhan tidak mencabut ayatnya bahwa kita tidak boleh menyembah kepada selainNya!”

“Kamu akan menempati neraka bersama batu dan manusia!”

“Itulah mengapa aku diciptakan dari api!”

Malaikat itu terdiam, ia tak mau memperpanjang debatnya. Dasar iblis, batinnya.

Iblis kembali menyaksikan lakon manusia. Menurutnya manusia sungguh bodoh dan selalu dalam kerugian tiap detiknya. Saat itu ia sedang menonton manusia melakukan onani di kamarnya. Yang membuatnya tertawa, setelah manusia itu klimaks dengan nafsunya, ia mengucapkan alhamdulillah! Iblis pun terpingkal-pingkal. Tawanya sangat lama. Matanya sampai berair, perutnya sampai kram dan mules.

“Sungguh manusia jenis ini luar biasa. Ia mempertontonkan dosanya di hadapan Tuhan! Nih, Tuhan, aku melakukan onani!” Kembali ia terbahak-bahak.

Menurutnya, menggoda manusia tidak sehebat zaman para nabi dan rasul. Saat ini, cukup memerintah setan-setan yang berpangkat kopral sudah cukup menjerumuskan mereka, manusia. Ia sebagai pimpinan hanya terima laporan beres!

Selain memiliki prinsip yang kuat, iblis juga mempunyai adab. Terbukti ketika Rasulullah berada di kediaman sahabat anshor. Iblis tidak begitu saja masuk rumah itu. Ia meminta izin untuk masuk, setelah mendapatkan izin dan dibukakan pintu, ia baru masuk.

Saat itulah iblis membeberkan rahasianya untuk yang pertama kalinya kepada Rasulullah dan para sahabatnya. Pertama, ia menyatakan manusia yang paling ia benci. Muhammadlah yang paling ia benci. Para sahabat wajahnya memerah. Mereka ingin sekali membunuh iblis itu.

Ia kemudian menyampaikan bahwa ia merasa sangat panas tubuhnya dan gemetar, ketika seseorang melakukan salat. Ia merasa terbelenggu yang sangat kuat, ketika seseorang berpuasa. Bahkan, ia menjadi gila, ketika seseorang melaksanakan ibadah haji. Ia juga akan meleleh seperti besi yang terbakar, ketika seseorang membaca Al Quran. Ia merasakan sakit terpotong tubuhnya menjadi dua bagian, ketika seseorang melaksanakan zakat, dan seterusnya. Banyak hal rahasia yang ia sampaikan. Itupun atas perintah Tuhan melalui malaikat.

“Segala puji hanya bagi Allah yang telah membahagiakan umatku dan menyengsarakanmu sampai hari kiamat.” Tutup Rasulullah, tapi iblis menyanggahnya: “Hay-hata hay-hata [tidak mungkin- tidak mungkin]! Mana bisa umatmu bahagia sementara aku hidup dan tidak mati sampai hari kiamat? Bagaimana kamu senang dengan umatmu sementara aku masuk ke dalam diri mereka melalui aliran darah, daging, sedangkan mereka tidak melihatku? Demi Tuhan yang menciptakanku dan membuatku menunggu sampai hari mereka dibangkitkan akan aku sesatkan mereka semua, baik yang bodoh maupun yang pandai, yang buta-huruf dan yang melek-huruf, yang kafir dan yang suka beribadah, kecuali hamba yang ikhlas.”

“Aku tinggalkan orang-orang yang ikhlas! Aku tidak berani menggodanya!”

“Tapi, seseorang yang bernama mukhlis, aku tetap menggodanya karena hanya namanya yang ikhlas, kelakuannya tidak!” Iblis pun terbahak-bahak.