Pidato Cinta Laura dalam Aksi Moderasi Beragama oleh Kemenag 2021

 




Berikut cuplikan lengkap pidato Cinta Laura dalam Aksi Moderasi Beragama yang digelar oleh Kementerian Agama RI, 2021: 

Sungguh sebuah kehormatan bagi saya diundang malam ini untuk mewakili generasi muda Indonesia dalam mengekspresikan opini kami mengenai moderasi beragama. Jujur saya tidak tahu kenapa sayang diundang malam ini untuk hari di sini, tapi saya harap pidato yang saya buat tadi malam bisa menggerakkan hati para hadirin. Sebagai generasi Z ini kamilah generasi yang akan bertanggung jawab dalam beberapa tahun ke depan atas arah yang akan diambil negara ini untuk menjadi negara yang lebih maju modern sejahtera dan tentunya terkemuka di mata dunia.

Tapi, nilai-nilai apa saja yang harus kita terapkan kepada masyarakat Indonesia agar mimpi-mimpi ini bisa terealisasi?  Pada saat ini kita dalam situasi sulit di mana adanya polarisasi dalam opini masyarakat.  Terlihat jelas bahwa adanya ketidaksepakatan tentang apa yang dibutuhkan negara ini agar bisa benar-benar menjadi kesatuan yang kuat. Dalam satu sisi generasi muda sekarang mempunyai keinginan besar untuk mempromosikan budaya dan identitas bangsa. 

Kami percaya akan pentingnya untuk negara-negara di luar sana melihat potensi keunikan dan kehebatan negara ini.Tapi, di sisi lain sampai detik ini kita semua masih sering berkelahi dan menjatuhkan sama satu sama lain hanya karena perbedaan ras suku dan terutama agama.

Bagi saya pribadi hal tersebut sungguh ironis karena bukankah pasal 1 dari undang-undang PNPS mengatakan bahwa adanya enam agama utama di negara ini,  bukankah itu negara ini Bhineka Tunggal Ika yaitu berbeda tapi satu? Tapi mengapa walaupun dengan pondasi negara yang begitu memeluk perbedaan dan toleransi, tetap saja masih ada konflik. Apa yang membuat agama mampu membuat kita melupakan inti dari identitas bangsa ini?

Sebagai lulusan Psikologi dan sastra Jerman saya dulu memiliki kuriositas terhadap cara berpikir manusia. Oleh karena itu, pengetahuan tersebut saya perdalam dengan mempelajari filosofi. Sampai detik ini saya tidak akan pernah lupa akan apa yang dikatakan oleh salah satu filsafat paling berpengaruh sepanjang yang mengatakan:  Manusia adalah makhluk yang terbatas sedangkan Tuhan adalah sosok yang tidak terbatas.  Oleh karena itu,

bagaimana kita sebagai makhluk yang terbatas merasa mempunyai kemampuan untuk mengerti sesuatu yang jauh diluar kapasitas kita? Bagaimana kita sebagai makhluk yang terbatas bisa memahami esensi dari sesuatu yang tidak terbatas?

Inilah salah satu akar dari masalah yang kita miliki dalam masyarakat Indonesia sekarang. Karena pemahaman yang terbatas dan pemikiran yang tidak kritis, orang-orang terjebak dalam cara berpikir di mana mereka telah memanusiakan Tuhan. Merasa memiliki hak dalam kemauan Tuhan. Merasa tahu pikiran Tuhan dan merasa berhak bertindak atas nama Tuhan.  Inilah yang akhirnya seringkali berubah menjadi sifat radikal.

Dalam perbincangan Saya beberapa waktu lalu dengan Habib Husein Jafar kami berdua sepakat bahwa bahaya yang masyarakat kita alami sekarang adalah mengatasnamakan Tuhan untuk kepentingan pribadi. Menyesatkan generasi penerus bangsa dengan prinsip hidup yang sebenarnya tidak ada dalam kitab suci agama? Kenapa seperti itu? Karena kita kurang membimbing dan memberikan masyarakat yang dibutuhkan agar bisa memahami sebuah ajaran dengan akal kritis.

Sehingga mereka menjadi tersesat dalam cara berpikir mereka dan lupa akan pentingnya menyeimbangi segala ilmu yang dipelajari dan dimiliki dengan nilai-nilai yang ada dalam budaya, sains, ataupun aliran pemikiran lainnya.

Saat saya masih bersekolah dulu, saya diharuskan mempelajari berbagai agama dari segi literatur dan juga filosofi sehingga saya diberikan kesempatan untuk bisa memahami keindahan setiap agama dan sadar bahwa pada akhirnya fungsi terbesar agama adalah satu:  yaitu untuk membimbing kompas moral manusia. Untuk mengingatkan manusia bahwa kita harus memperlakukan satu sama lain dengan hormat, bahwa kita harus bersyukur dan bahwa kita semua harus sadar bahwa waktu kita di dunia ini hanyalah singkat dan terbatas.  Oleh karena itu ingatlah untuk selalu menjadi seseorang yang rendah hati dan siap membantu satu sama lain.

Apa yang harus dilakukan kedepannya agar bisa melawan segala kebohongan yang ada? Apa yang kita bisa lakukan untuk memberdayakan rakyat bangsa ini? Saya rasa jawabannya cukup satu  jelas yaitu: satu, penting sekali kita segera mengingatkan kembali saudara-saudara kita akan indahnya, kayanya, uniknya budaya-budaya yang kita miliki di negara ini. Sejak usia penting kita mengenalkan budaya negara ini tidak hanya di sekolah, tetapi juga melalui media dan semua digital yang ada. Sebuah hal yang krusial untuk disadari bagi generasi muda akan relevannya budaya kita di dunia yang semakin modern. Kedua, ajaran agama yang ada dalam sistem pendidikan harus adil dalam mempresentasikan agama-agama yang ada di negara ini agar orang-orang bisa mengerti sejak usia muda bahwa semua agama itu mengajarkan kebaikan dan tidak seharusnya kita melecehkan dan menyakiti satu sama lain hanya karena sebuah perbedaan.

Ketiga, critical thinking (3X) ajarkanlah adik-adik kita untuk membaca dan mempelajari segala sesuatu dari berbagai sudut pandang.  Biarkanlah Mereka bertanya tumbuhkanlah rasa ingin tahu mereka sehingga mereka tidak mudah dipengaruhi dan dijajah pikirannya dan terakhir:  gunakanlah teknologi yang semakin canggih sebagai alat yang dapat terus menyebarkan nilai-nilai toleransi agar negara ini bisa kembali menjadi Indonesia sejati.

Sebagai penutup Saya ingin membacakan berikut:

Tanpa Pondasi yang kuat tidak akan ada bangsa yang bisa bertahan. Oleh karena itu, ayo kita bersama-sama menjelmakan lambang Garuda di manapun kita berada. Mari kita taat dalam beragama agar menjadi manusia yang bermoral, tapi Mari kita juga merangkul budaya Indonesia untuk membimbing identitas bangsa. Terima kasih salam sejahtera bagi kita semua.


PIDATO versi Youtube 


Silakan yang mau komen...!


SHARE THIS

Author:

Previous Post
Next Post