Polisi Tidur dan Klakson

Polisi Tidur dan Klakson

 


Beberapa hari yang lalu saya menggunakan jasa Grab motor untuk mengantar saya ke terminal. Tujuan berikutnya ke luar kota. Dalam perjalanan si tukang ojol (ojek online) memulai pembicaraan dengan menanyakan tujuan saya ke mana. Lebih lanjut obrolan tersebut meruncing terutama ketika melewati hamparan polisi tidur. Begitu banyak polisi tidur yang kami lewati.

Kemudian ia bertanya: "Saya sebenarnya bingung mengapa ada banyak polisi tidur dibuat? Bukankah pemerintah membangun jalan raya ini agar lancar, selamat, dan aman?" 

Sejenak saya membuat jeda tidak langsung meresponnya. Kemudian saya mengomporinya dengan mengatakan bukankah tidak semua orang mengebut? Bukankah ada aturannya membuat polisi tidur yang aman dan menyelamatkan? Kemudian saya menyolotnya lagi dengan mengatakan: jangan-jangan warga yang membuat polisi tidur itu memang hatinya tidak suka jika orang lewat di jalannya dengan nyaman, aman, dan selamat?

Si tukang ojol membenarkan pernyataan saya. Iya benar, sepertinya warga terkesan tidak suka orang lain bahagia. Hahaha. Saya berhasil mengomporinya. Sebenarnya saya ingin tahu seberapa besar kepeduliannya terhadap berkendara nyaman, aman, dan selamat. Kemudian saya melanjutkan dengan mengatakan: sepertinya belum ada penelitian yang membahas dampak polisi tidur yang tidak standar terhadap kesehatan. Seandainya ada hasil yang mengejutkan bahwa polisi tidur yang tidak standar dapat menyebabkan perut turun, gagal ginjal, keguguran, dan sebagainya pasti akan mereka bongkar. Atau semisal ada denda dan peringatan keras terhadap pembuat polisi tidur yang tidak standar, mereka juga pasti akan membongkarnya.

Iya ya, katanya padahal mereka, si pembuat polisi tidur tiap hari bersusah payah melewatinya. Bukankah merugikan setidaknya kampas rem kendaraan, ban, dan ketidaknyamanan badan?

Entahlah ya. Saya juga berpikir demikian. Mungkin juga polisi tidur juga menjadi ciri bangsa Indonesia. Saya dan dia kemudian terbahak-bahak. Ciri manusia Indonesia yang pernah ditulis oleh Muchtar Lubis perlu ditambahi bahwa manusia Indonesia paling suka menyulitkan orang lain dengan membuat polisi tidur. Kembali kami tertawa .

Dan satu lagi, kata si tukang ojol. Mungkin bisa ditambahkan yaitu ciri manusia Indonesia suka membunyikan klakson yang tidak penting. Masih jauh saja sudah klakson. Belum lampu hijau, sudah klakson, ada pengendara di depannya sudah klason. Sepertinya manusia Indonesia suka mencet-mencet. Hahahaha.

Bangsa Ini Hidup dan Besar dari Korupsi

Bangsa Ini Hidup dan Besar dari Korupsi

 


Ketika korupsi makin menggurita di republik ini, kemudian pemerintah membentuk lembaga yang bernama KPK, Komisi Pemberantasan Korupsi. Jangan diplesetkan menjadi Kelompok Penggiat Korupsi, hahaha. Apa yang terjadi ketika lembaga tersebut bekerja? Terjadi korupsi juga? Makin giat? KPK juga? Saya tidak menuduh lo, tapi ini bentuk pertanyaan.

Ketika lembaga tersebut tidak begitu efektif, bagaimana cara yang jitu memberantas korupsi? Ingat, para pejabat yang saat ini duduk di kursinya masing-masing, berkat orang-orang di belakang layar. Tentu tidak gratis. Seolah-olah mereka yang di balik layar mewariskan kitab ilmu korupsi yang indah kepada para pejabat yang saat ini bertugas. Maka solusinya, menurut saya butuh penghentian setidaknya dua generasi untuk bisa membersihkan naluri korupsi terutama di kalangan pejabat negara sehingga terputus jalur komunikasi dan koneksi orang-orang lama dengan orang-orang baru dalam memperoleh jabatan. Dengan memutuskan rantai budaya korup tersebut, rekam jejaknya bisa benar-benar bersih. Kalau tidak begitu, tidak akan pernah berhasil. 

Satu fenomena yang mungkin bisa jadi gambaran dapat saya deskripsikan sebagai berikut.

Pertama dari tingkat terbawah. Seorang staf TU sebuah instansi atau dinas. Ia tidak akan bekerja tanpa ada terselip amplop atau jabat tangan di bawah meja. Ya, setidaknya harus ada pelicin lima puluh ribu rupiah. Ya, maklum, pangkat dan golongannya pasti masih rendah sedangkan kebutuhan hidup sangat tinggi. Masih dalam tingkat wajar dan manusiawi. Walaupun sebenarnya tugas administrasi publik adalah tugas pokoknya sehingga hak menggajinya karena kewajiban tersebut.

Kedua, di kalangan pendidikan terutama guru. Ada banyak permintaan administrasi oleh dinas pendidikan (tertentu, tidak semua). Baik itu tentang kenaikan gaji berkala, kenaikan tingkat, bahkan persyaratan pencairan sertifikasi. Contoh kenaikan tingkat, ada tarif tertentu yang tidak terpublish. Misal untuk bisa naik tingkat dari 3C ke 3D seorang guru dapat membayar satu juta lima ratus rupiah ke atas, tidak ke bawah. Pasti lolos dengan lancar. Ketika Surat Keputusan Kenaikan Tingkat sudah jadi, untuk sampai ke tangan guru, tentu juga diperlukan amplop yang berisi setidaknya seratus ribu rupiah.

Ketiga, kita naik ke kalangan pejabat kecil. Suatu instansi atau dinas, untuk menjadi Kapala Seksi (kasi), seseorang harus deposit sekitar lima puluh juta ke atas, lagi-lagi tidak ke bawah ya. Untuk menjadi Kepala Bidang, sekitaran seratus juta ke atas, jangan ke bawah lagi, hehehe. Untuk menjadi kepala dinas yang basah seperti dinas pendidikan atau kesehatan, maka perlu merogoh kocek sekitar lima ratus juta ke atas, tidak boleh kurang, lebih malah lebih sukses. Nah, karena proses mendapatkan jabatan sudah seperti itu, sangat wajar bagi pejabat untuk berusaha mengembalikan uang yang sudah ditarik duluan secara politis. Tidak heran ketika kemudian terjadi banyak penyimpangan proyek (korupsi) di mana-mana.

Keempat, kita naik lebih tinggi lagi. Jika deskripsi di atas sudah terjadi korupsi, apakah di atas jabatan tersebut juga terjadi? Tentu, hanya saja tidak semua dapat dibuktikan dengan nyata. Ada banyak cara untuk menyembunyikan praktik korup tersebut. Untuk jadi bupati atau wali kota, tentu tidak hanya sekedar lima ratus juta apalagi untuk menjadi menteri atau presiden. Pasti lebih gila lagi jumlah nolnya.

Untuk menjadi anggota dewan, maka partai butuh dana untuk promosi wajah calonnya. Setidaknya biaya buat banner di perempatan-perempatan jalan strategis menampilkan wajah calon anggota dewan. (anggap saja pengganti polisi yang mengawasi lalu-lintas). Partai juga butuh dana untuk merayu masyarakat agar memilih calon yang diusungnya. Partai juga butuh dana cuap-cuap kampanye. Dan, pasti butuh dana serangan fajar juga. Banyak sekali dana yang dibutuhkan, maka sebagian besar dana dapat diperoleh dari pejabat separtai yang masih aktif. (aktif korup juga, hahaha).

Coba bayangkan bagaimana seseorang yang ingin menjadi lurah. Coba tanyakan berapa uang dan harta yang sudah dikeluarkan. Mereka akan menyebut: saya sudah menjual tanah, menjual mobil, menjual perhiasan, dan sebagainya. (kadang juga menjual harga diri, ssst). Untuk dana pencalonan tersebut bisa sekitar dua ratus juga ke atas, tidak ke bawah.

Jadi dapat disimpulkan bahwa oknum sebagian bangsa ini menghidupi diri mereka dari jalan korupsi. Jika tidak demikian, maka tidak terjadi kewajaran berpolitik dan bernegara apalagi berbangsa, hahaha. Sebagian oknum tersebut takkan mampu hidup tanpa korupsi. Dengan korupsi, maka semua gaya hidup dapat didanai dengan sangat cukup. Kan tidak mungkin seorang pejabat naik sepeda motor. Tidak mungkin seorang pejabat bersama keluarga makan di lesehan kaki lima. Tidak mungkin pejabat tidur di mushalla. Hahaha. Korupsi telah menjadi sumber dana khusus yang melebihi gaji mereka untuk kelangsungan hidup seluruh keturunannya.

Di tingkat daerah, kabupaten juga terbentuk BPK entah apa singkatannya. Badan ini khusus menyatroni para pegawai negara sampai tingkat pejabat daerah. Lagi-lagi, sebagian mereka ternyata juga penggiat korupsi. Maka, selain gagasan pemutusan mata rantai budaya korup di atas, perlu pula diselenggarakan tes properties sebelum mereka menjadi pejabat negara atau pegawai negara. Misalnya, mereka harus lulus uji pengetahuan dan keterampilan religi dan sosial seperti rapor anak SD; mereka juga harus hafal lima sila Pancasila dan butir-butirnya serta mampu mengaplikasikannya dalam keseharian; mereka harus tanda tangan kontrak pakta integritas, jika mereka melakukan korup, kepala mereka harus dipenggal dan keluarga koruptor yang ikut makan uang negara harus diasingkan ke pulau terpencil dan terjauh; dan sebagainya. Wuih, ngeri!

Nah, sekarang tugas orang yang kompeten melacaknya, tapi yang serius lo ya!

Cinta Itu Terucap Sekali

Cinta Itu Terucap Sekali



Cinta Itu Terucap Sekali


Aku takkan menukar nyawa sekuntum mawar

Untuk pernyataan cintaku kepadamu

Cukup percayalah bibir ini

Pada mata ini

Cinta itu akan terucap sekali

Tapi tertancap mengakar di dalam hati

Adapun dusta

Takkan pernah lahir dari cinta

Pegang kata-kataku

Ketika aku telah tidak lagi bersama

Ia abadi sebagaimana nama

Cinta itu hidup bersamamu

Dan menemani kematianku


Sumenep, 17 Oktober 2021

TERSERAH

TERSERAH

 




Oleh MR. Mauludi

 

Ketika kita dihadapkan pada jawaban yang berbunyi kata "terserah," maka kita akan kesulitan melaksanakannya. Sebab terserah, bisa memungkinkan melakukan dua pilihan yang menjadi jawaban. Sedangkan kita dipaksa berpikir yang mana yang akan dilakukan.

Sebagai contoh kecilnya, untuk berangkat ke suatu tempat bisa dilakukan dengan menggunakan sepeda motor dan bisa pula dengan jalan kaki. Si A bertanya pada si B, "kita mau naik sepeda atau jalan kaki?." Si A menjawab "terserah."

Sudah jelas si A akan bingung dengan jawaban si B itu. Si A bingung mau yang mana, antara naik sepeda dan jalan kaki. Dengan demikian, bisa jadi berangkat bahkan tidak berangkat. Bisa jadi pula akan timbul perdebatan yang tak kunjung usai.

Kata terserah, memang menyisakan persoalan dalam sebuah komunikasi. Sebagaimana contoh di atas, seakan-akan dilematis atau serba salah. Apabila naik sepeda motor, tentunya akan cepat sampai pada tujuan asalkan sepeda motor tidak sedang dipakai orang lain atau hal lain. Sementara jalan kaki akan memakan waktu sehingga bisa jadi tepat waktu bahkan terlambat sampai tujuan.

Bila kata terserah berada pada situasi dan kondisi lain selain contoh kecil di atas. Maka, tidak boleh tidak suasana akan terasa dilematis dan serba salah, bisa lebih rumit atau sebaliknya. Kebanyakan dari terserah, biasanya memilih yang lebih mudah dillakukan. Namun, belum bisa dipastikan itu sesuai yang diinginkan.

Sebisa mungkin jangan berada pada posisi terserah untuk menentukan sesuatu. Jangan pula memakai atau menggunakan kata terserah, meskipun dilihat sama-sama bisa sampai dengan yang dimkasud dari terserah tersebut.

Sangatlah kurang nyaman bila dihadapkan pada jawaban terserah. Kecuali, terserah itu berada pada posisi yang sudah menjadi pilihan yang tidak berdampak atau ada efek kurang nyaman suasana hati dan keadaan.

Semisal, besok rapat memakai busana rapi dan sopan. Jadi, terserah mau pakai busana apa saja, baik itu santai, resmi, atau sesuai selera selama itu bernilai rapi dan sopan. Artinya terserah di sini memberi kebebasan dan keleluasaan pada masing-masing.

Dengan begitu, kata terserah pada posisi tertentu bisa menyenangkan. Namun, pada posisi lainnya bisa tidak menyenangkan bahkan menyakitkan. Butuh cara tersendiri dalam menyikapi suatu hal yang berkaitan dengan kata terserah. Asalkan jangan pernah menyerah, pasrah, atau merasa kalah meiyikapinya sehingga terserah menjadi beban.

 


Pidato Cinta Laura dalam Aksi Moderasi Beragama oleh Kemenag 2021

Pidato Cinta Laura dalam Aksi Moderasi Beragama oleh Kemenag 2021

 




Berikut cuplikan lengkap pidato Cinta Laura dalam Aksi Moderasi Beragama yang digelar oleh Kementerian Agama RI, 2021: 

Sungguh sebuah kehormatan bagi saya diundang malam ini untuk mewakili generasi muda Indonesia dalam mengekspresikan opini kami mengenai moderasi beragama. Jujur saya tidak tahu kenapa sayang diundang malam ini untuk hari di sini, tapi saya harap pidato yang saya buat tadi malam bisa menggerakkan hati para hadirin. Sebagai generasi Z ini kamilah generasi yang akan bertanggung jawab dalam beberapa tahun ke depan atas arah yang akan diambil negara ini untuk menjadi negara yang lebih maju modern sejahtera dan tentunya terkemuka di mata dunia.

Tapi, nilai-nilai apa saja yang harus kita terapkan kepada masyarakat Indonesia agar mimpi-mimpi ini bisa terealisasi?  Pada saat ini kita dalam situasi sulit di mana adanya polarisasi dalam opini masyarakat.  Terlihat jelas bahwa adanya ketidaksepakatan tentang apa yang dibutuhkan negara ini agar bisa benar-benar menjadi kesatuan yang kuat. Dalam satu sisi generasi muda sekarang mempunyai keinginan besar untuk mempromosikan budaya dan identitas bangsa. 

Kami percaya akan pentingnya untuk negara-negara di luar sana melihat potensi keunikan dan kehebatan negara ini.Tapi, di sisi lain sampai detik ini kita semua masih sering berkelahi dan menjatuhkan sama satu sama lain hanya karena perbedaan ras suku dan terutama agama.

Bagi saya pribadi hal tersebut sungguh ironis karena bukankah pasal 1 dari undang-undang PNPS mengatakan bahwa adanya enam agama utama di negara ini,  bukankah itu negara ini Bhineka Tunggal Ika yaitu berbeda tapi satu? Tapi mengapa walaupun dengan pondasi negara yang begitu memeluk perbedaan dan toleransi, tetap saja masih ada konflik. Apa yang membuat agama mampu membuat kita melupakan inti dari identitas bangsa ini?

Sebagai lulusan Psikologi dan sastra Jerman saya dulu memiliki kuriositas terhadap cara berpikir manusia. Oleh karena itu, pengetahuan tersebut saya perdalam dengan mempelajari filosofi. Sampai detik ini saya tidak akan pernah lupa akan apa yang dikatakan oleh salah satu filsafat paling berpengaruh sepanjang yang mengatakan:  Manusia adalah makhluk yang terbatas sedangkan Tuhan adalah sosok yang tidak terbatas.  Oleh karena itu,

bagaimana kita sebagai makhluk yang terbatas merasa mempunyai kemampuan untuk mengerti sesuatu yang jauh diluar kapasitas kita? Bagaimana kita sebagai makhluk yang terbatas bisa memahami esensi dari sesuatu yang tidak terbatas?

Inilah salah satu akar dari masalah yang kita miliki dalam masyarakat Indonesia sekarang. Karena pemahaman yang terbatas dan pemikiran yang tidak kritis, orang-orang terjebak dalam cara berpikir di mana mereka telah memanusiakan Tuhan. Merasa memiliki hak dalam kemauan Tuhan. Merasa tahu pikiran Tuhan dan merasa berhak bertindak atas nama Tuhan.  Inilah yang akhirnya seringkali berubah menjadi sifat radikal.

Dalam perbincangan Saya beberapa waktu lalu dengan Habib Husein Jafar kami berdua sepakat bahwa bahaya yang masyarakat kita alami sekarang adalah mengatasnamakan Tuhan untuk kepentingan pribadi. Menyesatkan generasi penerus bangsa dengan prinsip hidup yang sebenarnya tidak ada dalam kitab suci agama? Kenapa seperti itu? Karena kita kurang membimbing dan memberikan masyarakat yang dibutuhkan agar bisa memahami sebuah ajaran dengan akal kritis.

Sehingga mereka menjadi tersesat dalam cara berpikir mereka dan lupa akan pentingnya menyeimbangi segala ilmu yang dipelajari dan dimiliki dengan nilai-nilai yang ada dalam budaya, sains, ataupun aliran pemikiran lainnya.

Saat saya masih bersekolah dulu, saya diharuskan mempelajari berbagai agama dari segi literatur dan juga filosofi sehingga saya diberikan kesempatan untuk bisa memahami keindahan setiap agama dan sadar bahwa pada akhirnya fungsi terbesar agama adalah satu:  yaitu untuk membimbing kompas moral manusia. Untuk mengingatkan manusia bahwa kita harus memperlakukan satu sama lain dengan hormat, bahwa kita harus bersyukur dan bahwa kita semua harus sadar bahwa waktu kita di dunia ini hanyalah singkat dan terbatas.  Oleh karena itu ingatlah untuk selalu menjadi seseorang yang rendah hati dan siap membantu satu sama lain.

Apa yang harus dilakukan kedepannya agar bisa melawan segala kebohongan yang ada? Apa yang kita bisa lakukan untuk memberdayakan rakyat bangsa ini? Saya rasa jawabannya cukup satu  jelas yaitu: satu, penting sekali kita segera mengingatkan kembali saudara-saudara kita akan indahnya, kayanya, uniknya budaya-budaya yang kita miliki di negara ini. Sejak usia penting kita mengenalkan budaya negara ini tidak hanya di sekolah, tetapi juga melalui media dan semua digital yang ada. Sebuah hal yang krusial untuk disadari bagi generasi muda akan relevannya budaya kita di dunia yang semakin modern. Kedua, ajaran agama yang ada dalam sistem pendidikan harus adil dalam mempresentasikan agama-agama yang ada di negara ini agar orang-orang bisa mengerti sejak usia muda bahwa semua agama itu mengajarkan kebaikan dan tidak seharusnya kita melecehkan dan menyakiti satu sama lain hanya karena sebuah perbedaan.

Ketiga, critical thinking (3X) ajarkanlah adik-adik kita untuk membaca dan mempelajari segala sesuatu dari berbagai sudut pandang.  Biarkanlah Mereka bertanya tumbuhkanlah rasa ingin tahu mereka sehingga mereka tidak mudah dipengaruhi dan dijajah pikirannya dan terakhir:  gunakanlah teknologi yang semakin canggih sebagai alat yang dapat terus menyebarkan nilai-nilai toleransi agar negara ini bisa kembali menjadi Indonesia sejati.

Sebagai penutup Saya ingin membacakan berikut:

Tanpa Pondasi yang kuat tidak akan ada bangsa yang bisa bertahan. Oleh karena itu, ayo kita bersama-sama menjelmakan lambang Garuda di manapun kita berada. Mari kita taat dalam beragama agar menjadi manusia yang bermoral, tapi Mari kita juga merangkul budaya Indonesia untuk membimbing identitas bangsa. Terima kasih salam sejahtera bagi kita semua.


PIDATO versi Youtube 


Silakan yang mau komen...!