Terpaksa Nikah CEO Muda (2)


Minah terbangun di dalam sebuah kamar mewah. Luas kamar itu sangat besar. Jika diukur mungkin seluas rumahnya sendiri. Desain kamar beserta furniture juga terlihat sangat mewah dan elegan, berbeda jauh dengan benda-benda di rumah Minah yang sederhana. Kasur yang ia tempati juga berukuran besar dan lembut. Sprei mengkilap dan lembut seperti sutra. 


Tiba-tiba pintu terbuka. Minah terkejut dan menyadari jika dirinya dibawa paksa ke rumah itu. Semewah apapun dan sekaya apapun rumah itu, tetap saja posisi Minah sedang terancam. Ia tidak tahu bagaimana nasibnya dan apa yang akan terjadi pada dirinya. 


"Jadi ini gadis itu," terdengar suara berat seorang lelaki. 


Minah langsung bersembunyi di dalam selimut. Terdengar suara langkah kaki mendekat. Minah semakin ketakutan. Di dalam hati ia merapal doa agar Tuhan melindungi dirinya. Namun selimut yang dipakainya diseret dengan kasar hingga terlepas dari pegangan Minah.


"Ampuni saya. Tolong antar saya pulang. Saya akan bekerja dan melunasi semua hutang kedua orang tua saya," ucap Minah memohon belas kasih lelaki yang menatap wajahnya saja Minah tak berani.


Lelaki itu tertawa. 


"Kau tahu. Kau tak usah bekerja. Aku dengar, gadis-gadis di pesantren tidak tersentuh dan terjaga. Jadi, temani aku hari ini. Usiaku sudah matang dan secara naluri aku butuh pelampiasan!" gertak lelaki itu sambil mencengkram kedua lengan Minah.


"Lepaskan. Jangan! Kumohon, kita bukan mahram. Jangan sentuh aku!" teriak Minah sambil menerjang lelaki di hadapannya dengan kasar. 


Lelaki itu terjatuh. Minah segera bangkit dan berdiri. Ia terkejut melihat pemuda yang kini tengah berusaha berdiri dan menatapnya dengan penuh napsu. 


"Lihat aku! Di luar sana banyak wanita yang ingin jatuh ke dalam pelukanku. Sementara kau, aku sudah memberimu kesempatan untuk melunasi hutangmu semalam saja. Bahkan aku akan memberimu sejumlah uang yang kau mau," ucap pemuda tampan di hadapan Minah.

Minah menggeleng. 


"Aku tak peduli. Aku tidak mau. Lebih baik aku mati," ucap Minah.

Pemuda itu tidak menyerah. Ia langsung menyergap Minah. Namun Minah menarik tangan pemuda itu, menekuk siku kakinya, lalu membantingnya ke lantai. 


"Aku akan mematahkan mu jika berani menyentuhku! Kami tidak hanya mengaji di pesantren, tapi kami juga belajar seni bela diri!" ucap Minah. Lalu ia berlari ke pintu. Sayangnya pintu itu tidak bisa dibuka. Akhirnya Minah lari ke kamar mandi dan menguncinya dari dalam. 


"Tuhan, lindungi aku," gumam Minah ketakutan. Kaki dan tangannya gemetar.

***


"Merepotkan, tangguh juga gadis itu," gumam Kaisar. 


Kaisar tersenyum tipis. Saat tangannya menyentuh lengan gadis itu ia merasakan sesuatu namun masih terasa samar. Tapi itu adalah kali pertama bagi Kaisar. 


"Tuan, apa Anda akan pergi?" tanya Mbok Sumi, satu-satunya pembantu yang ada di rumahnya. 


Kaisar mengangguk. 


"Tolong jaga gadis itu. Jangan sampai dia kabur dari rumah ini." 


Mbok Sumi tidak menjawab. Terlihat raut wajah cemas di wajahnya. Kaisar tahu jika Mbok Sumi merasa keberatan dengan caranya menangkap dan mengurung gadis itu. Tapi Kaisar harus melakukannya, karena jika Kaisar melakukannya dengan cara benar. Gadis itu tidak akan pernah bersedia tinggal bersamanya apalagi menikah dengannya. 


Kaisar menghubungi seseorang sambil berjalan masuk ke dalam mobil. Ia ingin menceritakan apa yang telah dilakukannya dan ingin melihat reaksi orang itu. 


Tidak butuh waktu lama bagi Kaisar untuk sampai di sebuah klinik dokter Jiwa kenalannya. Di sana banyak pasien yang sedang menunggu antrian, namun Kaisar tidak peduli dan terus melangkah masuk ke dalam ruangan dokter jiwa tanpa ada yang bisa mencegahnya. 


"Kau sudah datang!?! Bisakah beri waktu sebentar untuk memeriksa pasien-pasienku?" tanya Surya. Lelaki tampan dengan kulit sawo matang itu menatap Kaisar mengharap sedikit pengertian darinya.


"Sejak kapan aku bisa menunggu!?!" Kaisar tersenyum miring. Dengan kasar ia menarik dasi Surya hingga membuat Surya mengikuti kehendaknya naik ke atas atap. 


Kaisar menatap Surya yang menurutnya semakin tampan saja. Surya terlihat bersinar di matanya dan membuat hati Kaisar berdebar. Itulah penyakitnya yang selama ini ia rahasiakan. Hanya kepada Surya, ia bisa jujur dan mengatakan apa adanya. 


Kaisar bertemu Surya pertama kali di pesawat. Mereka duduk berdampingan. Wangi parfum. Senyum Surya hingga penampilannya membuat Kaisar tertarik. Hingga ketika mereka tiba di bandara, Kaisar terus membuntuti Surya. Sejak itulah Kaisar tahu jika Surya adalah seorang psikiater. Ia membuka praktek di rumahnya sendiri. 


Selama sebulan lebih, Kaisar terus membayangi Surya, hingga suatu hari ia sudah tidak tahan dan menyamar menjadi pasien. Tapi siapa sangka, Kaisar justru jadi pasiennya. Dengan tegas Surya mengatakan bahwa Kaisar memiliki penyimpangan ketertarikan. Jika Kaisar mau ia bisa disembuhkan. Oleh karena itu, sejak hari itu Kaisar resmi menjadi pasien Surya. 


Kaisar sama sekali tidak keberatan menjadi pasiennya. Dengan begitu ia bisa melihat dan bertemu Surya. Awalnya Kaisar tidak yakin ia bisa sembuh, namun berkat bimbingan Surya akhirnya Kaisar menyadari jika yang dilakukannya tidak benar. Dan ia masih memiliki kesempatan untuk berubah dan sembuh. 


"Ada apa? Cepat katakan!?! Kasihan mereka sudah lama menunggu," ucap Surya. 


"Aku membawa gadis ke rumahku. Dia putri salah seorang kenalan ayahku. Dengan alasan sebagai ganti hutang yang tak sanggup ia bayar, aku mengambil putrinya." 


Surya sangat terkejut mendengar pengakuan Kaisar. Ia tahu jika Kaisar memiliki banyak kelainan mental selain masalah penyimpangan ketertarikannya. 


"Aku kan sudah bilang untuk pakai cara yang lumrah. Lamar begitu," ucap Surya. 


"Sudahlah, abaikan itu. Semua itu sudah terjadi. Sekarang apa yang harus aku lakukan. Aku sudah menurutimu untuk dekat dengan perempuan," ucap Kaisar.


"Pacaran dengannya," ucap Surya.


"Apa? Tidak mungkin. Di gadis dari pesantren," ucap Kaisar tanpa ekspresi.


"Astaga. Kau ini pandai sekali memilih gadis. Kalau begitu nikahi dia!" Teriak Surya.


"Apa!?! Gak mau!" Kini giliran Kaisar yang teriak. 


"Kau ingin sembuh kan, nikahi dia," ucap Surya lagi. 


Kaisar kesal. Ia menarik Surya ke hadapannya. Keduanya saling tatap satu sama lain. Hampir saja Kaisar mencium Surya kalau saja asistennya tidak datang untuk memanggilnya. 


"Dok, mereka sudah menunggu lama," ucap asisten Surya. Perempuan gemuk yang selalu mencuri pandang ke arah Kaisar. 


Surya mengangguk dan meminta Mila , asistennya itu pergi lebih dulu. 


"Kau tidak suka disentuh, gadis itu pasti juga tidak suka disentuh. Aku rasa kalian cocok. Karena itu, jika kamu tidak mengantar undangan pernikahanmu padaku dalam Minggu ini, maka jangan harap kita bisa bertemu," ancam Surya. 


Kaisar menatap kepergian Surya dengan pikiran tak menentu. Bagaimana tidak, orang yang ingin ia nikahi adalah Surya, bukan perempuan lain. Bukan salahnya jika ia tidak bisa menyukai wanita dan malah jatuh cinta pada lelaki. Salahkan waktu yang menempanya menjadi begitu.


Secara fisik, Kaisar sangat sempurna sebagai lelaki. Tubuhnya atletis dan memiliki perut sixpack yang tidak berlebihan. Wajahnya tampan paripurna, hingga banyak wanita cantik tergila-gila padanya. Secara materi pun ia sangat kaya raya. Kaisar juga pernah dinobatkan sebagai pria paling tampan di negaranya di sebuah majalah ternama. Ketenaran, ketampanan dan kekayaan, semua ia miliki. Tapi menyukai sesama jenis adalah kekurangannya yang paling ia sesali. Jika saja ia bisa hidup lagi. Kaisar akan lebih memilih melompat dari atap asal ketika hidup lagi ia sudah normal kembali. 


Awalnya, Kaisar tidak berpikir bahwa dirinya menyukai sesama jenis. Ia pikir dirinya hanya menunggu wanita yang tepat untuk jatuh cinta. Namun, sejak bertemu dengan Surya, ia malah menyadari penyimpangan yang dimilikinya itu. Sebagai pemuda terpelajar dan cerdas, tentu saja logikanya mengakui bahwa itu adalah sebuah kesalahan, karena itulah Kaisar mau untuk menjalani terapi. Namun hati dan napsu terus menginginkan Surya dalam pelukannya. 


Kaisar segera pergi dari klinik Surya dengan pikiran kalut. Ia masuk ke sebuah bar dan mulai minum alkohol untuk menghibur dirinya sendiri. Namun berapa botol pun minuman yang sudah ia habiskan, permasalahan di dalam otaknya itu terus saja mengganggu bahkan tak ada jalan keluar. Ditambah adanya beberapa gadis yang datang merayunya. Bukannya merasa tenang, Kaisar malah merasa semakin kalut. 


Akhirnya Kaisar pergi dengan perasaan Sia-sia. Sejak dulu alkohol tak pernah menjadi pelarian baginya. Hanya ketika menemani tamu agung perusahaan, ia meminumnya. 


Kaisar akhirnya memilih pulang sambil memikirkan permintaan Surya agar menikah dengan gadis dari pesantren itu. Sepertinya tidak masalah jika ia menikah dengan gadis itu. Setidaknya itu akan mengurangi gosip negatif tentang dirinya, meski gosip bahwa dirinya penyuka sesama jenis adalah benar. Dengan status suami seseorang, mungkin perempuan-perempuan yang suka datang untuk menggodanya juga akan berkurang. Tante Rina juga tidak akan mencarikan jodoh untuknya. Apalagi ponakannya yang genit itu, pasti juga akan berhenti mengganggunya. Di titik itu, entah mengapa bagi Kaisar, ketampanan dan kesempurnaan hidup yang dimilikinya adalah kutukan. Ia membenci wanita dan merasa jijik pada mereka. Namun ketampanan yang dimilikinya membuat setiap langkah hidupnya terus dibayangi rayuan para wanita. 


Andai saja ibunya masih hidup. Atau kematiannya tidak seperti itu, mungkinkah Kaisar tidak akan menjadi seperti itu. Kaisar menginjak rem dengan keras. Hampir saja ia menabrak seorang ibu-ibu yang langsung menghujaninya dengan sumpah serapah. 


"Maaf," ucap Kaisar. 


Setelah mendengar ucapan Kaisar dan melihat wajahnya. Wanita itu tertegun. 


"Tidak apa-apa," ucapnya sambil tersenyum. Sumpah serapah yang tadi ia ucapkan hilang begitu saja. 



SHARE THIS
Previous Post
Next Post