Zombieland in Philadelphia

Zombieland in Philadelphia

 

 Orang bilang tanah kita tanah surga
Tongkat kayu dan batu jadi tanaman….

 

Kita masih sangat bersyukur dibandingkan keadaan sesama manusia kita di Philadelphia. Menyaksikan banyak video mengenai kondisi manusia di sana membuat hati ini sangat miris. Manusia di sepanjang jalan dalam keadaan buffering atau loading. Manusia di sana terlantar, tidak punya rumah. Miskin. Hidup berdampingan dengan sampah dan narkoba. Ada yang menyebut kota itu sebagai Zombieland karena setengah manusia setengah mayat hidup. Sungguh mengenaskan sekali.

Berikut beberapa cupilkan frame kehidupan manusia yang sangat tidak normal sekali di sana.






Mereka menunduk bukan mencari sesuatu, tapi karena memang tidak kuat berdiri tegak dan sadar. Mereka tersungkur juga bukan karena sedang bersujud, tapi karena tidak kuat lagi mengontrol tubuhnya. Mereka tertunduk bukan karena sedang tafakur, tapi ibarat komputer, mereka sudah tidak bisa loading dengan baik sebagai manusia yang berkesadaran atau normal. Perhatikan foto terakhir, mau pasang celana saja sudah tak sanggup.

Silakan telusur di youtube dengan kata kunci :


Kita patut bersyukur di Indonesia, semiskin-miskinnya tidak sampai dalam keterpurukan seperti itu. Setidaknya masih ingat menyebut nama Tuhan.


Salah Satu Orang Gila Indonesia:  Alffy Rev dengan Wonderland Indonesia-nya

Salah Satu Orang Gila Indonesia: Alffy Rev dengan Wonderland Indonesia-nya

 



Sebelum ke apa itu Wonderland Indonesia, ada baiknya klik dulu link di bawah ini untuk menonton karya Alffy Rev.

Wonderland Indonesia


Bagaimana? Keren kan karya putera Indonesia yang satu ini. Banyak reaksi para pemusik luar sana yang juga mengapresiasi luar biasa untuk karya ini. Banyak di antara mereka yang menyatakan bahwa mereka merinding mendengarkan musik dan liriknya walaupun tidak paham. 

Sungguh saya nyatakan dalam judul artikel ini bahwa Alffy Rev adalah salah satu orang gila di Indonesia. Sungguh betapa gilanya ia terhadap Indonesia. Cinta pada negerinya luar biasa. Perjuangan yang tidak kecil. Untuk modal awal produksinya saja ia terpaksa menjual mobil. Sisanya ia bersama teman-teman timnya ke sana ke mari untuk memperoleh donatur. 

Nah, ketika menemui pihak pemerintahan, di situlah letak batunya. Cuma doa dan dukungan moral. Hahaha. Hanya sekedar itu? Cukup? Kemudian dengan perjuangannya di tengah proses produksi di Bali, dikejar deadline (17 Agustus 2021), dan sumber daya pangan menipis, akhirnya ada pahlawan muncul. Ia adalah Doni Salmanan (silakan googling siapa dia). Doni Salmanan dengan suka rela menyumbangkan donasinya untuk produksi Wonderland Indonesia tanpa babibu seperti .... (tau sendiri lah siapa mereka).

H-7 dari deadline, kembali kehabisan dana produksi. Satu-satunya solusi adalah menunda release Wonderland Indonesia ke tahun berikutnya. Tapi, tanpa disangka dan diduga, pemerintah akhirnya membuka mata melalui Kementerian Pendidikan Kebudayaan, Riset dan Teknologi kemudian memberikan donasinya sehingga WI berhasil launching tepat Hari Kemerdekaan RI ke-76. Selamat Alffy Rev. Karyamu dan tim sungguh keren. Bangsa luar sana akhirnya membuka mata bahwa Indonesia sungguh indah, damai, sejahtera. Indonesia benar-benar negeri ajaib bukan hanya negeri yang luar biasa.


Siapa Alffy Rev? Silakan tonton profilnya:

Profil Alffy Rev


Layanan GRAPARI Tidak Sampai 2 Menit

Layanan GRAPARI Tidak Sampai 2 Menit

 


Ceritanya begini, hapeku diisi daya sebelum tidur. Tepat tengah malam asap putih memenuhi kamar. Untung terbangun. Ternyata, hapeku (Lenovo) terbakar. Sungguh beruntung, andai memercik ke kasur, sudah jadi sate orangnya. Hahaha. Nah, video di atas adalah bangkai hapeku. 



Tidak ada yang bisa diselamatkan. Memori card dan Kartu Simpati. Lenyap, meleleh mungkin. Akhirnya aku ke Grapari Malang di Jl. Letjend S. Parman No.47, Purwantoro, Kec. Blimbing, Kota Malang, Jawa Timur 65126. Disambut cewek cakep.

Beberapa hal ditanyakan seperti nomor kartu yang terbakar, juga KTP. Kemudian aku diajaknya ke mesin (entah apa namanya). KTP-ku dipindai di mesin itu. Kemudian jari telunjuk kanan juga dipindai. Setelah itu si cewek cakep itu memencet tombol ok. Keluarlah kartu SIM baru. Wow keren. Oya, jari tanganku tadi disentuhnya. Hahaha.

Waktu datang sampai kartu baru tercetak, tidak butuh dua menit. Terima kasih @graPari Malang. 

Contextual Learning dengan Virtual Reality

Contextual Learning dengan Virtual Reality

 



Yang terdekat dengan anak-anak perkotaan, lebih-lebih sejak pandemi tahun lalu adalah hape. Selain sangat dekat dengan hape yang paling sering menemani mereka adalah aplikasi game android. Ketika ada guru yang menyentil soal game, para murid sangat antusias dan bergairah. Berbeda iklim dengan ketika guru membahas hal yang mereka anggap biasa seperti materi pembelajaran apalagi Matematika.

Jarak antara guru dan murid, jarak murid dengan masyarakat, telah mendekatkan mereka lebih dalam dengan hape dan aplikasi game. Ketika mulai pelaksanaan pembelajaran tatap muka, magnet tangan mereka sangat tampak tersedot ke arah hape. Beberapa guru juga sudah terbiasa menggunakan media sosial, jejaring internet, saat mengajar bahkan beberapa tugas dan penilaian sudah sangat terbiasa dilakukan secara daring (dalam jaringan).

Ketika terjadi pembelajaran tatap muka terbatas dan bertahap, guru mulai menanyakan kegiatan-kegiatan yang murid lakukan di rumah. Hampir semua menyatakan bahwa mereka bermain game.

Waktu sekitar dua tahun dalam pembelajaran daring membuat mereka tak mudah dilepaskan dari jeratan hape. Sejak bangun hingga tidur lagi, yang pertama kali diraih mereka adalah hape. Sehubungan dengan dicanangkannya Gerakan Literasi Digital Nasional oleh Kementerian Pendidikan Kebudayaan dan Ristek seperti perlu ada pendekatan baru dalam pembelajaran yang dekat dengan anak sedekat game bagi mereka.

Ada beberapa cetusan gagasan yang mungkin dapat menjadi rujukan program pembelajaran di kelas. Pendekatan, metode, dan teknik serta teknologi pembelajaran tersebut tentu menggunakan hape karena hape-lah yang terdekat dengan anak-anak dibanding dengan guru dan ibu mereka. Beberapa yang bisa ditawarkan antara lain: Augmented Reality (AR), Virtual Reality (VR), nearpod, broadcast, google classroom, classdojo, jamboard, dan sebagainya. Intinya, mengarahkan atau memindahkan seluruh kegiatan siswa dan kelas ke dalam ruang virtual.

Boleh dicoba. Saya pribadi tertarik dengan VR. Dengan VR guru atau sekolah dapat membangun sekolah dan kelas virtual yang di dalamnya berisi kegiatan-kegiatan virtual, tentu dengan menggunakan alat kacamata virtual. Yang pasti kemasan dan bentuknya semirip game. Pasti anak-anak akan sangat menyukainya.

Secara lebih luas, guru bekerja sama dengan instansi pemerintah juga membangun fasilitas-fasilitas sumber belajar virtual seperti museum virtual, perpustakaan virtual, dan sebagainya. Semakin asyik pembahasan ini. Lebih-lebih ketika ada volunteer yang bersedia dengan sukarela membuatkan aplikasi tersebut. Kita tunggu saja progres dari Gerakan Literasi Digital Nasional yang dicanangkan kementerian.

 

Daging dan Tulang Ini Adalah Beban Bagi Jiwa

Daging dan Tulang Ini Adalah Beban Bagi Jiwa

 


Puisi September 2021

 

Daging dan Tulang Ini Adalah Beban Bagi Jiwa

 

Daging dan tulang ini adalah beban bagi jiwa

Terperangkap terbebaskan adalah dinding kegelapan

Yang harus ditempuh badan

Tercerahkan atau gelap gulita adalah takdir

Satu pun takkan terbebas dari hukum ini

Hanya yang telah berubah wujud

Dari materi ke immaterilah yang benar-benar

Melihat cahaya atau dalam kegelapan sempurna

Beberapa manusia melakukan ritual

Meningkatkan kecerdasan dan kesadarannya

Tapi tetaplah tulang dan daging itu beban bagi jiwa

 

Malang, 25 September 2021

 

Liarnya Pikiran

 

Mesjid ka’bah surau adalah bentuk materi kehambaan

Salat puasa haji adalah bentuk laku penghambaan

Ada wujud kehambaan

Ada wujud laku penghambaan

Bisa saja ada bentuk menuhankan

Bisa jadi ada bentuk menuhan

Ah, liar sekali pikiran ini!

 

Malang, 25 September 2021

 

Surga Itu di Dalam Bukan di Luar

 

 

Surga itu di dalam bukan di luar

Sebagaimana semesta bekerja dari dalam bukan dari luar

Begitulah surga berada dan bekerja

Ketika engkau berdosa masuklah ke dalam hadirat

Tutuplah semua pintu

Undanglah sejuta sepi

Haturkan semuanya dalam bahasa rahasia

Maka engkau telah mengetuk pintuNya

Serahkan saja dan pasrahkan

 

Malang, 25 September 2021

 

Materi Itu Abadi

 

Materi itu abadi

Hey, jangan kau kira materi itu musnah

Materi itu dari Tuhan

Bahkan dari zat ketuhanan

Sama halnya tidak ada kematian

Dalam semesta ini

Bukankah hidup adalah zat Tuhan

Yang menempel pada materi?

Apa yang dari Tuhan mungkinkah bisa musnah?

 

Malang, 25 September 2021

 

Apa Itu Waktu

 

Ketika ada yang bertanya pukul berapa sekarang

Tentu saja kita bisa menjawabnya dengan menengok jam

Tetapi ketika ada yang bertanya apa itu waktu

Maka kita butuh waktu untuk menjawab dengan sedikit tepat

Jika dalam hukum ruang

Apa yang tertinggal di suatu tempat

Kita dapat mengambilnya dengan cara kembali ke tempat itu

Berbeda sekali dengan waktu

Jika suatu peristiwa tertinggal di dalam waktu

Kita hanya akan menemukan tempat kejadian

Tidak lagi menemukan peristiwa tersebyt sesuai waktu kejadian

Waktu terus bergerak maju

Kita hanya bisa mundur di dalam ruang

Apa yang tertinggal di dalam waktu

Kita takkan bisa menemuinya lagi

Kecuali dalam kenangan

 

Malang, 25 September 2021

 

Siapakah Saya?

 

Pertanyaan sulit lagi

Jawaban saya tentang saya

Jawaban anda tentang saya

Jawaban mereka tentang saya

Ketika ditanyakan siapakah saya

Tidak sepenuhnya bisa mewakili siapa diri ini

Tak seorangpun termasuk diri saya

Mampu menjawab dan menjelaskan siapa diri saya

Begitu pula dengan anda dan mereka

Bidikan tepat

Tapi tak pernah mengenai sasaran

Makin dibidik makin meleset

Titik diri seperti lentur

Cepat dalam lesatan

Jangan-jangan kita membidik Tuhan?

 

Malang, 25 September 2021

 

Dunia Ramai di Dalam Diri

Dunia Ramai di Dalam Diri

 




Di dalam diri ada pikiran dan perasaan. Dari dua elemen tersebut terciptalah ingatan, imajinasi, keinginan, dan perasaan. Mereka inilah yang membuat gaduh di dalam diri. Ingatan, imajinasi, keinginan, pikiran dan perasaan, sering kali tidak mampu kita jadikan para abdi atau pelayan-pelayan bagi kepentingan sang Jiwa, namun mereka kemudian lebih sebagai pengkhianat, musuh dalam selimut, pengadu domba, dan penipu yang bergerak sendiri dalam kehendaknya yang instingtif, reaktif dan impulsif, di mana kesemuanya ini secara beramai-ramai kemudian “menyalibkan” Tuannya sendiri, yakni diri kita. (kutipan dari buku Isis Unveiled, karya Blavatsky).

Kita tidak punya kemampuan untuk memerintahnya secara lisan seperti: “Diamlah!” “Tenanglah!” Tidak bisa. Hanya ada dua jalan yang bisa membuat mereka beku tidak ramai dan tidak mengganggu kita lagi. Salah satu jalannya adalah yang paling kita tidak suka yakni kematian. Satu jalan lainnya mungkin kita suka, yakni ‘pintu kegelapan.’

Pintu kegelapan ini adalah pintu cahaya absolut. Cahaya kegelapanlah yang di dalamnya terdapat cahaya-cahaya terang dan bening. Kegelapanlah yang merangkul semua cahaya seperti layaknya lubang hitam menelan bintang-bintang sekaligus melahirkannya kembali.

Pintu kegelapan ini kemudian ada yang menyebut sebagai meditasi atau tafakur. Yakni cara memasuki wilayah keheningan dengan kondisi sadar bukan dalam kondisi tidur. Inilah wilayah yang tak terjamah oleh gangguan-gangguan pikiran dan perasaan manusia. Sebuah dunia gelap dan hening tanpa kata tanpa bahasa. Wilayah rahasia yang hanya diri dan Tuhan saja yang mengetahuinya. Tempat berbincang yang paling aman dan rahasia. Sebuah tempat yang gelap tapi penuh dengan cahaya-cahaya misterius. Tempat yang hanya dengan bahasa khusus tanpa lisan dan isyarat. Tempat kediaman diri yang sejati. Tempat curhat yang paling nyaman dengan diri dan Tuhan bahkan malaikat pun tidak dapat menguping atau mengintip.

Dengan segala keriuhan hidup dan dunia, hanya dua jalan itu, mati atau pergi ke wilayah rahasia. Cukuplah itu sebagai tempat istirahat dari semua hiruk pikuk kehidupan. Dalam wilayah itu, dalam kondisi demikian, hanya keheningan dan ketenangan, layakna tidur panjang tanpa mimpi.

BENTROK

BENTROK

 



Oleh Moh. Rasul Mauludi

 

Kata bentrok dipastikan berakibat tidak nyaman. Bentrok itu sendiri berbenturan, beradu, bertabrakan, dan terjadi hal kurang baik pada saat yang bersamaan. Artinya tidak nyaman disebabkan harus ada yang dikalahkan salah satunya.

Kata bentrok sering terjadi dalam kehidupan manusia. Bentrok dalam hal yang tidak baik adalah bentrok fisik. Dalam hal lainnya, yakni bentrok waktu. Bentrok fisik dan bentrok waktu sama-sama memakan korban. Korban dari bentrok fisik akan berhubungan dengan raga atau badan. Bisa lebam bisa pula luka-luka dan sebagainya.

Bentrok fisik sering terjadi dalam bentuk gerombolan atau kelompok yang dipicu dari gejolak personal. Antar warga, antar pemuda, antar pelajar, antar sesama, antar kelompok, antar golongan dan seterusnya. Bentrok fisik sering terjadi pada pelanggaran keamanan dan ketertiban umum.

Sementara korban dari bentrok waktu berhubungan dengan situasi dan kondisi. Dalam hal bentrok waktu, lebih sering terjadi pada acara-acara seremonial dan kegiatan sosial. Memilih waktu yang sangat penting atau urgen dan mengalahkan yang tidak terlalu penting.

Seperti pejabat yang kelasnya pimpinan. Mau tidak mau akan banyak undangan yang meminta dirinya hadir. Ketika, ada undangan yang bersamaan atau bentrok baik hari dan jamnya, maka pastilah dipilih undangan yang sifatnya penting. Undangan lainnya yang sifatnya rutinitas atau biasa saja ditinggalkan.

Bisa saja dengan solusi dihadiri semua dengan cara telat salah satunya. Dengan begitupun, tetaplah yang sifatnya penting didahulukan. Bentrok waktu memang tidak separah dibandingkan dengan bentrok fisik. Namun, bentrok waktu menimbulkan kekecewaan bagi yang dijadikan korban.

Dari kedua bentrok di atas, masih ada bentrok yang juga berakibat merugikan atau mengalahkan salah satunya. Adanya bentrok pasal dalam undang-undang dan bentrok aturan dalam kebijakan serta bentrok program dalam organisasi. Bentrok ini semacam tumpang tindih, tidak tertib, atau menyalahi obyek yang menjadi sasaran. Sebelum yang satu direalisasikan, muncul lagi yang lain untuk direalisasikan.

Akhirnya, memang tidak pernah nyaman kejadian bentrok itu. Namun, memang sulit menghindari untuk tidak terjadi bentrokan. Sepertinya hidup ini harus terjadi bentrokan dalam beberapa hal dan tidak dalam hal yang kurang baik.

Lebih jauh lagi tentang bentrok, apakah ada yang namanya bentrok hati!? Jawabannya hanyalah dua pilihan, yakni bisa saja ada dan bisa pula tidak ada.

MOTTO ALAM

MOTTO ALAM

 


Oleh Moh. Rasul Mauludi

 

Dalam organisasi pecinta alam terdapat semacam motto yang berupa anjuran atau peringatan. Kalimat motto itu berbunyi:

Jangan mengambil sesuatu kecuali gambar

Jangan memburu sesuatu kecuali waktu

Jangan meninggalkan sesuatu kecuali jejak

Tiga kalimat tersebut sudah umum bagi para pecinta alam, baik secara organisasi maupun perorangan. Alam merupakan kajian sekaligus pembelajaran alamiah. Para pendaki, pemerhati, bahkan organisasi lingkungan.

Jangan mengambil sesuatu kecuali gambar adalah bagian dari cara melindungi dan melestarikan alam, baik itu tumbuhan maupun satwa yang ada antara dilindungi atau tidak dilindungi demi menghindari kepunahan. Cukuplah dengan gambar untuk memiliki apa yang ada di alam raya. Gambar bisa berupa camera, lukisan, dan kreativitas lainnya yang tanpa mengambil obyek yang diinginkan dari alam.

Dengan gambar, keindahan alam tetaplah abadi dan menyejukkan. Dengan gambar tidak membiasakan tangan-tangan liar menghabisi wajah alam. Dengan gambar pula, alam tetap bisa dilihat dan menjadi tempat paling indah menemukan Tuhan dalam kuasa-NYA.

Jangan memburu sesuatu kecuali waktu merupakan cara tepat melanggengkan kehidupan selain manusia. Pegunungan merupakan tempat hewan-hewan liar dan langka. Karenanya, hewanpun ada yang dilindungi. Berburu tidak dibenarkan karena akan menyebabkan hewan bisa punah.

Kebiasaan berburu mangsa yang berupa hewan dilakukan oleh orang-orang yang tujuannya hanya untuk menghasilkan uang saja tanpa berpikir tentang kelangsungan ekosistem dan budidaya. Sehingga hal tersebut rawan hewan-hewan langka dan dilindungi punah.

Sebenarnya, berburu apa saja tidak dibenarkan kecuali hanya berburu waktu. Pendakian umumnya sudah bisa ditentukan waktunya. Apabila lebih cepat, maka lebih cepat pula sampai tujuan. Namun, sebaliknya akan menjadi sesuatu yang mengkhawatirkan. Artinya bila melewati waktu yang ada, bisa jadi terjadi sesuatu yang tidak diinginkan seperti musibah atau kecelakaan.

Waktupun menjadi sangat penting untuk diperhatikan dalam segala hal. Disiplin merupakan cara sederhana untuk menghormati sebuah waktu. Dengan waktu yang bisa diatur maksimal akan tetap memberi ruang pada manusia untuk menikmatinya.

Jangan meninggalkan sesuatu kecuali jejak menjadikan kita tidak terbiasa meninggalkan sesuatu setelah dari perjalanan panjang. Sampah adalah satu-satunya yang menjadi momok dalam kehidupan manusia. Sampah sangat mudah dibiarkan begitu saja tidak pada tempatnya.

Jejak manusia beraneka ragam, bila jejak itu dipahami pada suatu masa yang ada pada manusia, maka masa itu sendiri ada yang baik dan ada yang tidak baik tergantung siapa saja yang menjalani masa itu sendiri.

Jejak di sini adalah jejak yang berimplikasi pada sesuatu yang kotor dan berdampak buruk pada lingkungan. Lingkungan yang asri dan sehat, lingkungan yang bersih dari kotoran dan sampah-sampah. Sampah organik maupun non organik menjadi penyebab kerusakan lingkungan, apalagi di alam raya ini.

Bersih-bersih gunung dan lingkungan tidak akan sering dilakukan, bila para penikmat alam mampu menjaga kebersihannya. Salah satunya janganlah meninggalkan sesuatu yang mencemari kecuali hanya jejak kaki.


 Rumah Tanah dari Cinta

Rumah Tanah dari Cinta


 

  

“Aku ingin meninggal di pangkuanmu!” Bisik Yos kepada Za ketika menggunjingkan malam kepada Tuhan.

 

Dua manusia yang saling mencinta, Yos dan Za atau juga dua manusia yang saling berseteru itu sebenarnya tidak tahu. Lebih tepatnya semua manusia tidak tahu apapun. Yang mereka tahu, bahwa yang manusia tahu adalah pinjaman dari sang Mahatahu. Terlebih tentang takdir atas akhir dari bab per bab cerita dari manusia.

Ketika menjalani pagi, Yos menjemurkan kulitnya pada hari di depan rumah sambil melihati orang-orang lalu lalang ke jalan kematian. Sungguh mereka tidak pernah tahu bahwa akhir dari lalu lalang mereka adalah kematian bahkan bayang-bayang mereka yang melekat pada tanah ketika hidup pun akan lenyap. “Dan aku telah memiliki cita-cita kematian yang syahdu, mati dalam pangkuannya!”

Iya, benar. Itu gagasan dan itikad yang jitu. Banyak orang mencita-cita kehidupan yang baik, tapi sangat sedikit orang yang meniatkan kematiannya dalam keadaan baik. Kembali ke tanah juga. Manusia terlahir tidak bisa memilih dari  rahim atau ibu yang mana. Manusia terlahir begitu saja dengan terpaksa pun di tanah negara apa. Manusia tidak bisa memilih waktu kapan ia harus terlahir. Ketika kelahirannya tidak bisa memilih, harusnya keadaan dan waktu kematiannya bisa dipilih dengan baik.

Kita banyak hutang kepada tanah. Dari tanah manusia makan, di tanah rumah manusia, tanah menjadi pilihan Tuhan sebagai bahan prototype manusia, dan sebagainya. Tanah tempat menjalani takdir kehidupan. Tanah tempat sirkulasi air. Tanah tempat yang baik menyimpan api. Tanah tempat yang cukup seberapa pun banyak jumlah penghuninya bahkan dari saripati tanah, kelangsungan manusia terjaga.

Kita banyak hutang kepada tanah. Tanah banyak memberi. Tanah tempat kesabaran tak terbatas. Ialah yang menampung semua kotoran manusia. Ia juga yang menampung seluruh perilaku mereka, tapi Tuhan menagihnya dengan murah hanya berupa sujud.

“Aku ingin meninggal di pangkuanmu!”  Yos juga berbisik kepada tanah tempat kembalinya yang syahdu. Ia berpikir keras sikap terbaik apa yang akan diberikannya kepada tanah. Dalam kemesraan di pangkuan Za, Yos hanya terdiam lama, memikirkan cinta tanah kepada mereka berdua.

“Kita telah hampir kembali menjadi tanah, sungguh syukurku besar karena dipertemukan denganmu!” Yos memandangi Za dengan linangan air mata.

“Iya Mas. Tak sia-sia apa yang kita perjuangkan!” Za menebali.

Di atas rerumputan hijau, bawah pohon beringin yang rindang, Yos menyerahkan hidupnya di pangkuan Za. Sungguh damai tanah, pohon, dan angina yang menyertai mereka.

“Inilah sastra itu, Dik!”

“Iya, Mas.”

“Mau apalagi kita? Selain yang sudah Tuhan berikan? Aku sudah merasa cukup di sini bersamamu karena cita-cita teragungku adalah meninggal dalam pangkuanmu!”

Za pipinya memerah. Senyumnya menandingi pagi. Dadanya terasa cukup terisi udara. Pemandangan Yos dan Za sekilas mirip dalam adegan film Hindustan. Romantis. Andai ada hujan mereka pasti saling berkejaran sengaja menghunjani tubuh mereka dengan kenikmatan air.

Yos mengambil segenggam tanah, tanpa rumput. “Inilah kita sejak awal dan hingga akhir!”

Za hanya menganggukkan kepala.

“Apakah di surga ada tanah?”

“Entahlah!”

“Jikalau ada, apakah tanahnya sama dengan tanah kita?”

“Juga entahlah!”

“Apakah kelak ketika kita dibangkitkan juga seperti kecambah di tanah ini?”

“Tidak perlu dijawab, kan?”

“Iya, kok tahu? Mas sepertinya sedang bertanya yang tak butuh jawaban!”

“Sepertinya kematian yang dapat membuktikannya!”

“Jangan dulu, Mas. Surga kita masih baru mulai. Kita jalani surga dengan jenis tanah ini bersama-sama dulu.”

“Baiklah, aku setuju!”

“Ada lagunya lho. Orang bilang tanah kita tanah surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman.” Yos pun bersenangdung seperti sedang memanggil hujan.

Mereka berdua menatap langit dari celah dedauna.

“Kamu tahu apa yang akan kukatakan?” Tanya Za.

“Apa. Katakan!”

“Langit tak pernah meminta jasa walau telah memberi bumi hujan. Seperti itulah cintaku padamu!” Mata Za menatap dalam-dalam Yos yang dalam pangkuannya.

“Hmm, iya. Indah sekali kalimatmu sayang! Belajar dari aku ya?”

Mereka pun tertawa. Yos menjawab pernyataan Za hanya dalam hati: begitu pula denganku Za, tak ada cinta yang setulus ini selama aku hidup dengan banyak perempuan sebelumnya.

 

 

 

 

 

 

 


Iblisa

Iblisa

 


 

Sebenarnya iblis tidak pernah menggoda manusia. Manusialah saja yang mengejawantahkan karakter iblis bagi dirinya. Iblis ibarat penonton drama. Ia duduk paling depan menyaksikan prilaku manusia sambil tertawa terkekeh-kekeh.

“Ia dan mereka telah menjadi diriku!” Ia meneriaki panggung kehidupan.

“Aku tidak akan kesepian di neraka kelak!” Teriakan keduanya lebih nyaring.

Memang Tuhan telah memerintahkan iblis untuk menggoda iman manusia. Ia ditakdirkan menerima perintah dan penyusup ke dalam diri manusia untuk membelokkan hati dan pikiran manusia ke arah jalan yang salah dan sesat. Tapi, bagi iblis, di zaman sekarang tidak perlulah terlalu bekerja keras. Manusia telah menentukan sendiri, jalan iblis mana yang akan mereka lalui.

Iblis senyum-senyum, di kursi paling depan di depan panggung sandiwara manusia. Yang membuatnya terpingkal-pingkal, ketika manusia sedih saat menyesal telah melakukan dosa, kemudian ia mengulangi dosa yang sama. Sungguh, itu merupakan lawakan yang seru bagi iblis. Ia mendapatkan tontonan gratis yang menyenangkan.

Yang paling menyenangkan baginya lagi, ketika manusia membaca doa saat melakukan dosa. Wow, sungguh keren jenis manusia yang seperti itu. Melakukan dosa minta izin Tuhannya. Iblis sangat menikmati sandiwara manusia kepada Tuhannya. Tiap saat tiap hari selalu ada kejadian yang menghiburnya. Ia tak pernah kehilangan keceriaan bahkan di neraka ia tidak akan pernah kesepian.

Suatu waktu, ia pernah ditanya malaikat: mengapa ia membantah perintah dari Tuhan untuk bersujud kepada Adam. Iblis balik bertanya dengan santai: apakah itu benar-benar perintah? Atau sekedar trik Tuhan untuk menguji keimananku? Sejenak malaikat itu hening. Kemudian ia melanjutkan pertanyaannya: apapun itu bukankah itu tetap perintah Tuhan? Buktinya kami semua sujud kepada Adam.

Iblis menoleh menamati wajah malaikat. “Aku tidak mau menyembah selainNya!”

“Tapi, itu adalah perintah!”

“Apakah kamu yakin itu perintah bukan ujian?”

“Iya, lagian mana ada hamba Tuhan tidak taat perintah?”

“Bagiku, itu bukan perintah. Kuanggap itu ujian keimanan, makanya aku tidak sujud kepada Adam yang dari tanah itu!”

“Buktinya kamu dilaknat Tuhan!”

“Itu hak Tuhan, aku menerima saja apa kehendakNya!”

“Sungguh kamu memang pembangkang!”

“Ingat ya kalau itu bentuk perintah, mengapa Tuhan tidak mencabut ayatnya bahwa kita tidak boleh menyembah kepada selainNya!”

“Kamu akan menempati neraka bersama batu dan manusia!”

“Itulah mengapa aku diciptakan dari api!”

Malaikat itu terdiam, ia tak mau memperpanjang debatnya. Dasar iblis, batinnya.

Iblis kembali menyaksikan lakon manusia. Menurutnya manusia sungguh bodoh dan selalu dalam kerugian tiap detiknya. Saat itu ia sedang menonton manusia melakukan onani di kamarnya. Yang membuatnya tertawa, setelah manusia itu klimaks dengan nafsunya, ia mengucapkan alhamdulillah! Iblis pun terpingkal-pingkal. Tawanya sangat lama. Matanya sampai berair, perutnya sampai kram dan mules.

“Sungguh manusia jenis ini luar biasa. Ia mempertontonkan dosanya di hadapan Tuhan! Nih, Tuhan, aku melakukan onani!” Kembali ia terbahak-bahak.

Menurutnya, menggoda manusia tidak sehebat zaman para nabi dan rasul. Saat ini, cukup memerintah setan-setan yang berpangkat kopral sudah cukup menjerumuskan mereka, manusia. Ia sebagai pimpinan hanya terima laporan beres!

Selain memiliki prinsip yang kuat, iblis juga mempunyai adab. Terbukti ketika Rasulullah berada di kediaman sahabat anshor. Iblis tidak begitu saja masuk rumah itu. Ia meminta izin untuk masuk, setelah mendapatkan izin dan dibukakan pintu, ia baru masuk.

Saat itulah iblis membeberkan rahasianya untuk yang pertama kalinya kepada Rasulullah dan para sahabatnya. Pertama, ia menyatakan manusia yang paling ia benci. Muhammadlah yang paling ia benci. Para sahabat wajahnya memerah. Mereka ingin sekali membunuh iblis itu.

Ia kemudian menyampaikan bahwa ia merasa sangat panas tubuhnya dan gemetar, ketika seseorang melakukan salat. Ia merasa terbelenggu yang sangat kuat, ketika seseorang berpuasa. Bahkan, ia menjadi gila, ketika seseorang melaksanakan ibadah haji. Ia juga akan meleleh seperti besi yang terbakar, ketika seseorang membaca Al Quran. Ia merasakan sakit terpotong tubuhnya menjadi dua bagian, ketika seseorang melaksanakan zakat, dan seterusnya. Banyak hal rahasia yang ia sampaikan. Itupun atas perintah Tuhan melalui malaikat.

“Segala puji hanya bagi Allah yang telah membahagiakan umatku dan menyengsarakanmu sampai hari kiamat.” Tutup Rasulullah, tapi iblis menyanggahnya: “Hay-hata hay-hata [tidak mungkin- tidak mungkin]! Mana bisa umatmu bahagia sementara aku hidup dan tidak mati sampai hari kiamat? Bagaimana kamu senang dengan umatmu sementara aku masuk ke dalam diri mereka melalui aliran darah, daging, sedangkan mereka tidak melihatku? Demi Tuhan yang menciptakanku dan membuatku menunggu sampai hari mereka dibangkitkan akan aku sesatkan mereka semua, baik yang bodoh maupun yang pandai, yang buta-huruf dan yang melek-huruf, yang kafir dan yang suka beribadah, kecuali hamba yang ikhlas.”

“Aku tinggalkan orang-orang yang ikhlas! Aku tidak berani menggodanya!”

“Tapi, seseorang yang bernama mukhlis, aku tetap menggodanya karena hanya namanya yang ikhlas, kelakuannya tidak!” Iblis pun terbahak-bahak.


Terpaksa Nikah CEO Muda (2)

Terpaksa Nikah CEO Muda (2)


Minah terbangun di dalam sebuah kamar mewah. Luas kamar itu sangat besar. Jika diukur mungkin seluas rumahnya sendiri. Desain kamar beserta furniture juga terlihat sangat mewah dan elegan, berbeda jauh dengan benda-benda di rumah Minah yang sederhana. Kasur yang ia tempati juga berukuran besar dan lembut. Sprei mengkilap dan lembut seperti sutra. 


Tiba-tiba pintu terbuka. Minah terkejut dan menyadari jika dirinya dibawa paksa ke rumah itu. Semewah apapun dan sekaya apapun rumah itu, tetap saja posisi Minah sedang terancam. Ia tidak tahu bagaimana nasibnya dan apa yang akan terjadi pada dirinya. 


"Jadi ini gadis itu," terdengar suara berat seorang lelaki. 


Minah langsung bersembunyi di dalam selimut. Terdengar suara langkah kaki mendekat. Minah semakin ketakutan. Di dalam hati ia merapal doa agar Tuhan melindungi dirinya. Namun selimut yang dipakainya diseret dengan kasar hingga terlepas dari pegangan Minah.


"Ampuni saya. Tolong antar saya pulang. Saya akan bekerja dan melunasi semua hutang kedua orang tua saya," ucap Minah memohon belas kasih lelaki yang menatap wajahnya saja Minah tak berani.


Lelaki itu tertawa. 


"Kau tahu. Kau tak usah bekerja. Aku dengar, gadis-gadis di pesantren tidak tersentuh dan terjaga. Jadi, temani aku hari ini. Usiaku sudah matang dan secara naluri aku butuh pelampiasan!" gertak lelaki itu sambil mencengkram kedua lengan Minah.


"Lepaskan. Jangan! Kumohon, kita bukan mahram. Jangan sentuh aku!" teriak Minah sambil menerjang lelaki di hadapannya dengan kasar. 


Lelaki itu terjatuh. Minah segera bangkit dan berdiri. Ia terkejut melihat pemuda yang kini tengah berusaha berdiri dan menatapnya dengan penuh napsu. 


"Lihat aku! Di luar sana banyak wanita yang ingin jatuh ke dalam pelukanku. Sementara kau, aku sudah memberimu kesempatan untuk melunasi hutangmu semalam saja. Bahkan aku akan memberimu sejumlah uang yang kau mau," ucap pemuda tampan di hadapan Minah.

Minah menggeleng. 


"Aku tak peduli. Aku tidak mau. Lebih baik aku mati," ucap Minah.

Pemuda itu tidak menyerah. Ia langsung menyergap Minah. Namun Minah menarik tangan pemuda itu, menekuk siku kakinya, lalu membantingnya ke lantai. 


"Aku akan mematahkan mu jika berani menyentuhku! Kami tidak hanya mengaji di pesantren, tapi kami juga belajar seni bela diri!" ucap Minah. Lalu ia berlari ke pintu. Sayangnya pintu itu tidak bisa dibuka. Akhirnya Minah lari ke kamar mandi dan menguncinya dari dalam. 


"Tuhan, lindungi aku," gumam Minah ketakutan. Kaki dan tangannya gemetar.

***


"Merepotkan, tangguh juga gadis itu," gumam Kaisar. 


Kaisar tersenyum tipis. Saat tangannya menyentuh lengan gadis itu ia merasakan sesuatu namun masih terasa samar. Tapi itu adalah kali pertama bagi Kaisar. 


"Tuan, apa Anda akan pergi?" tanya Mbok Sumi, satu-satunya pembantu yang ada di rumahnya. 


Kaisar mengangguk. 


"Tolong jaga gadis itu. Jangan sampai dia kabur dari rumah ini." 


Mbok Sumi tidak menjawab. Terlihat raut wajah cemas di wajahnya. Kaisar tahu jika Mbok Sumi merasa keberatan dengan caranya menangkap dan mengurung gadis itu. Tapi Kaisar harus melakukannya, karena jika Kaisar melakukannya dengan cara benar. Gadis itu tidak akan pernah bersedia tinggal bersamanya apalagi menikah dengannya. 


Kaisar menghubungi seseorang sambil berjalan masuk ke dalam mobil. Ia ingin menceritakan apa yang telah dilakukannya dan ingin melihat reaksi orang itu. 


Tidak butuh waktu lama bagi Kaisar untuk sampai di sebuah klinik dokter Jiwa kenalannya. Di sana banyak pasien yang sedang menunggu antrian, namun Kaisar tidak peduli dan terus melangkah masuk ke dalam ruangan dokter jiwa tanpa ada yang bisa mencegahnya. 


"Kau sudah datang!?! Bisakah beri waktu sebentar untuk memeriksa pasien-pasienku?" tanya Surya. Lelaki tampan dengan kulit sawo matang itu menatap Kaisar mengharap sedikit pengertian darinya.


"Sejak kapan aku bisa menunggu!?!" Kaisar tersenyum miring. Dengan kasar ia menarik dasi Surya hingga membuat Surya mengikuti kehendaknya naik ke atas atap. 


Kaisar menatap Surya yang menurutnya semakin tampan saja. Surya terlihat bersinar di matanya dan membuat hati Kaisar berdebar. Itulah penyakitnya yang selama ini ia rahasiakan. Hanya kepada Surya, ia bisa jujur dan mengatakan apa adanya. 


Kaisar bertemu Surya pertama kali di pesawat. Mereka duduk berdampingan. Wangi parfum. Senyum Surya hingga penampilannya membuat Kaisar tertarik. Hingga ketika mereka tiba di bandara, Kaisar terus membuntuti Surya. Sejak itulah Kaisar tahu jika Surya adalah seorang psikiater. Ia membuka praktek di rumahnya sendiri. 


Selama sebulan lebih, Kaisar terus membayangi Surya, hingga suatu hari ia sudah tidak tahan dan menyamar menjadi pasien. Tapi siapa sangka, Kaisar justru jadi pasiennya. Dengan tegas Surya mengatakan bahwa Kaisar memiliki penyimpangan ketertarikan. Jika Kaisar mau ia bisa disembuhkan. Oleh karena itu, sejak hari itu Kaisar resmi menjadi pasien Surya. 


Kaisar sama sekali tidak keberatan menjadi pasiennya. Dengan begitu ia bisa melihat dan bertemu Surya. Awalnya Kaisar tidak yakin ia bisa sembuh, namun berkat bimbingan Surya akhirnya Kaisar menyadari jika yang dilakukannya tidak benar. Dan ia masih memiliki kesempatan untuk berubah dan sembuh. 


"Ada apa? Cepat katakan!?! Kasihan mereka sudah lama menunggu," ucap Surya. 


"Aku membawa gadis ke rumahku. Dia putri salah seorang kenalan ayahku. Dengan alasan sebagai ganti hutang yang tak sanggup ia bayar, aku mengambil putrinya." 


Surya sangat terkejut mendengar pengakuan Kaisar. Ia tahu jika Kaisar memiliki banyak kelainan mental selain masalah penyimpangan ketertarikannya. 


"Aku kan sudah bilang untuk pakai cara yang lumrah. Lamar begitu," ucap Surya. 


"Sudahlah, abaikan itu. Semua itu sudah terjadi. Sekarang apa yang harus aku lakukan. Aku sudah menurutimu untuk dekat dengan perempuan," ucap Kaisar.


"Pacaran dengannya," ucap Surya.


"Apa? Tidak mungkin. Di gadis dari pesantren," ucap Kaisar tanpa ekspresi.


"Astaga. Kau ini pandai sekali memilih gadis. Kalau begitu nikahi dia!" Teriak Surya.


"Apa!?! Gak mau!" Kini giliran Kaisar yang teriak. 


"Kau ingin sembuh kan, nikahi dia," ucap Surya lagi. 


Kaisar kesal. Ia menarik Surya ke hadapannya. Keduanya saling tatap satu sama lain. Hampir saja Kaisar mencium Surya kalau saja asistennya tidak datang untuk memanggilnya. 


"Dok, mereka sudah menunggu lama," ucap asisten Surya. Perempuan gemuk yang selalu mencuri pandang ke arah Kaisar. 


Surya mengangguk dan meminta Mila , asistennya itu pergi lebih dulu. 


"Kau tidak suka disentuh, gadis itu pasti juga tidak suka disentuh. Aku rasa kalian cocok. Karena itu, jika kamu tidak mengantar undangan pernikahanmu padaku dalam Minggu ini, maka jangan harap kita bisa bertemu," ancam Surya. 


Kaisar menatap kepergian Surya dengan pikiran tak menentu. Bagaimana tidak, orang yang ingin ia nikahi adalah Surya, bukan perempuan lain. Bukan salahnya jika ia tidak bisa menyukai wanita dan malah jatuh cinta pada lelaki. Salahkan waktu yang menempanya menjadi begitu.


Secara fisik, Kaisar sangat sempurna sebagai lelaki. Tubuhnya atletis dan memiliki perut sixpack yang tidak berlebihan. Wajahnya tampan paripurna, hingga banyak wanita cantik tergila-gila padanya. Secara materi pun ia sangat kaya raya. Kaisar juga pernah dinobatkan sebagai pria paling tampan di negaranya di sebuah majalah ternama. Ketenaran, ketampanan dan kekayaan, semua ia miliki. Tapi menyukai sesama jenis adalah kekurangannya yang paling ia sesali. Jika saja ia bisa hidup lagi. Kaisar akan lebih memilih melompat dari atap asal ketika hidup lagi ia sudah normal kembali. 


Awalnya, Kaisar tidak berpikir bahwa dirinya menyukai sesama jenis. Ia pikir dirinya hanya menunggu wanita yang tepat untuk jatuh cinta. Namun, sejak bertemu dengan Surya, ia malah menyadari penyimpangan yang dimilikinya itu. Sebagai pemuda terpelajar dan cerdas, tentu saja logikanya mengakui bahwa itu adalah sebuah kesalahan, karena itulah Kaisar mau untuk menjalani terapi. Namun hati dan napsu terus menginginkan Surya dalam pelukannya. 


Kaisar segera pergi dari klinik Surya dengan pikiran kalut. Ia masuk ke sebuah bar dan mulai minum alkohol untuk menghibur dirinya sendiri. Namun berapa botol pun minuman yang sudah ia habiskan, permasalahan di dalam otaknya itu terus saja mengganggu bahkan tak ada jalan keluar. Ditambah adanya beberapa gadis yang datang merayunya. Bukannya merasa tenang, Kaisar malah merasa semakin kalut. 


Akhirnya Kaisar pergi dengan perasaan Sia-sia. Sejak dulu alkohol tak pernah menjadi pelarian baginya. Hanya ketika menemani tamu agung perusahaan, ia meminumnya. 


Kaisar akhirnya memilih pulang sambil memikirkan permintaan Surya agar menikah dengan gadis dari pesantren itu. Sepertinya tidak masalah jika ia menikah dengan gadis itu. Setidaknya itu akan mengurangi gosip negatif tentang dirinya, meski gosip bahwa dirinya penyuka sesama jenis adalah benar. Dengan status suami seseorang, mungkin perempuan-perempuan yang suka datang untuk menggodanya juga akan berkurang. Tante Rina juga tidak akan mencarikan jodoh untuknya. Apalagi ponakannya yang genit itu, pasti juga akan berhenti mengganggunya. Di titik itu, entah mengapa bagi Kaisar, ketampanan dan kesempurnaan hidup yang dimilikinya adalah kutukan. Ia membenci wanita dan merasa jijik pada mereka. Namun ketampanan yang dimilikinya membuat setiap langkah hidupnya terus dibayangi rayuan para wanita. 


Andai saja ibunya masih hidup. Atau kematiannya tidak seperti itu, mungkinkah Kaisar tidak akan menjadi seperti itu. Kaisar menginjak rem dengan keras. Hampir saja ia menabrak seorang ibu-ibu yang langsung menghujaninya dengan sumpah serapah. 


"Maaf," ucap Kaisar. 


Setelah mendengar ucapan Kaisar dan melihat wajahnya. Wanita itu tertegun. 


"Tidak apa-apa," ucapnya sambil tersenyum. Sumpah serapah yang tadi ia ucapkan hilang begitu saja. 


Dosa Lebih Menarik untuk Diingat

Dosa Lebih Menarik untuk Diingat

 



 

Pagi itu suasana hari sangat cerah. Minggu yang bersinar. Waktu yang tepat untuk nongkrong dan membincangkan sesuatu di warung kopi Mak Jum, langganan Badrul dan para sahabatnya. Tempatnya cukup strategis di tengah kota. Cukup menghibur mata dengan lalulalangnya para pekerja swalayan yang cantik-cantik.

Obrolan pertama saat seruputan kopi pertama berupa pertanyaan dari Badrul.

“Aku mau tanya padamu. Jawablah dengan jujur. Sejujur-jujurnya.”

“Mau tanya apa? Tumben seserius ini?” Bali tanya Suki. Sahabatnya yang lain menikmati kopi dan gorengan yang masih mengepul. Ada tahu goreng, ada pisang goreng, dan tentu tempe juga.

“Mana lebih sering kamu mengingat dosa dibanding dengan mengingat kebaikan?” Tanya Badrul ke beberapa sahabatnya. Sahabat pertama yang ditanyai kala itu adalah Suki. Sahabatnya yang lain serentak menoleh ke arah Badrul.

Suki menjawab: “Dosa, Drul!”

Pertanyaan yang sama kemudian ditanyakan ke sahabat kedua. Bagio.

“Dosa. Drul!” Jawab Bagio.

Pertanyaan berikutnya pula ke sahabat-sahabatnya yang lain secara bergiliran. Mamat menjawab dosa. Padli juga dosa bahkan Mak Jum tak luput dari pertanyaan dan menjawab dosa pula. Mereka semua menjawab Dosa.

Belum puas dengan hanya bertanya ke beberapa sahabatnya, Badrul membuat angket. Angket tersebut ia sebar ke beberapa grup WA yang ia miliki. Ia menggunakan google chat form. Ia sebar juga ke beberapa grup FB dan komunitas. Jawaban dari semuanya adalah DOSA.

Apakah ini kebetulan atau hal yang manusiawi? Tanyanya dalam hati. Begitu pula dengan dirinya, antara dosa dan amal yang lebih melekat dan diingat-diingatnya adalah dosa. Ia pun kemudian bertanya kepada isterinya sebagai penentu semua pertanyaan yang sama itu. Isterinya pun menjawab: dosa. Ia tidak bertanya ke kedua anaknya karena Badrul menganggap bahwa mereka belum saatnya dilibatkan dengan pertanyaan aneh itu.

Sepertinya dosa lebih menarik untuk selalu diingat secara alamiah. Sama seperti mengingat keindahan perempuan, batinnya. Mengingat seorang perempuan cantik memicu detailnya. Begitu pula dengan dosa, mengingat satu dosa, ibarat melihat rekaman film. Beigut tampak dan nyata bahkan rinci.

Menurutnya, ini bukan kebetulan lagi karena seratus persen mereka menjawab: dosa. Mungkin karena itu mereka semua disebut manusia, bukan keledai. Dosa hanya dilekatkan dengan sifat manusia sedangkan perilaku keledai sejahat apapun tidak akan disebut dosa. Hmm.

Pikiran Badrul menjadi kompleks. Ia jadi teringat hal tentang listrik. Yang mengeluarkan setrum hanya kabel negatif. Dosa ibarat kabel negatif. Tanpa kabel negatif, tak akan ada listrik. Tak ada cahaya, bunyi, gerak, magnet yang terjadi. Begitu pula dengan dosa. Sejak lahir manusia bergantung pada kesalahan dan dosa. Karena itulah manusia menjadi lebih baik atau menjadi iblis. Itulah yang membuat semesta bekerja. Kira-kira begitu, simpulan Badrul sementara dalam hati.

Badrul pernah mengeluhkan tentang dosa-dosanya kepada sahabatnya. Sang sahabat malah membuat joke dengan pertanyaan begini.

“Kamu pernah kehilangan sesuatu yang besar?” Tanya sahabatnya.

“Pernah!”

“Kehilangan apa?”

“Mobil!”

“Bukankah kamu selalu mengingatnya?”

“Iya benar!”

“Kalau kamu selalu mengingatnya itu artinya mobil itu benar-benar hilang!”

Atmosfer sejenak terhenyak. Badrul terdiam seperti sedang mengunyah kalimat sahabatnya di dalam mesin otaknya. Ia mencoba membuat garis penghubung tentang kehilangan mobil dan dosa. Udara terasa berhenti. Seluruh gerak di alam terasa beku menunggu koneksi antara kehilangan mobil dan dosa yang dikunyah otak Badrul. Kemudian suasana pecah lagi.

“Sama dengan dosa yang selalu kamu ingat, Drul. Itu artinya Tuhan telah memaafkanmu. Dosamu benar-benar hilang!” Lanjut sang sahabat.

“Benarkah?” Badrul sangat antusias hingga menolehkan wajahnya. Kalimat itu seperti selintas menyejukkan hatinya.

“Tidak!”

Badrul nyaris terhibur. Mereka pun tertawa.

“Dosamu tetap dihitung walaupun sudah diampuni!”

Kembali mereka tertawa sedikit terbahak.

Beberapa saat setelah tawa mereka berhenti dan beberapa saat hening, Sang sahabat –yang dirahasiakan namanya- tiba-tiba mengeluarkan kalimat dari mulutnya. “Harga satu dosa lebih mahal daripada sepuluh kebaikan!”

Badrul tersentak. “Wah, keren kalimatmu! Sepertinya kamu seorang pengepul dosa!”

Mereka tertawa lebih keras bersama. Sepertinya mereka sedang menertawakan diri mereka masing-masing. Lebih baik menertawakan diri sendiri daripada diam-diam hati membicarakan kejelekan orang lain, batinnya.

“Apakah dapat disimpulkan bahwa semua manusia berdosa?”

“Ya. iyalah, Drul! Tak mungkin manusia mengenal kebaikan sebelum mengenal dosa!”

“Kalimatmu ini masuk akal, cuma kadang toksit!”

Mereka tertawa sambil keduanya menutup mulut mereka dengan satu tangan. Mirip tertawa yang ditahan di emoticon WA.

“Mengingat-ingat dosa berbanding lurus dengan mengingat ke-Maha-PengampunanNya!”

“Sepertinya ini benar, tapi masih bisa menyesatkan!”

Emoticon menutup mulut menahan tawa kembali muncul. Hahaha!

“Sering-sering mengingat dosa, itu tanda ada kebaikan dalam dirimu!”

“Ah, aku tak mau terjebak dengan kalimatmu lagi!”

“Loh, ini benar, Drul. Itu artinya ada potensi kebaikan dalam dirimu!”

“Nah, kalau ada kata ‘potensi’ aku masih bisa terima!”

“Tapi, ada satu hal yang sangat penting diingat, Drul!”

“Apa itu?”

“Jangan pernah main-main dengan kata-kata!”

“……………..”