TUJUAN MENDASAR PENDIDIKAN

TUJUAN MENDASAR PENDIDIKAN

 


 

 

Dalam Pembukaan UUD 1945 disebutkan bahwa tujuan pendidikan adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Hal itu sejalan dengan pemikiran Ki Hajar Dewantara bahwa tujuan pendidikan adalah memerdekakan manusia. Manusia merdeka dalam pendidikan adalah orang yang hidup selamat dan bahagia. Jadi teringat doa: rabbana atina fiddunya hasanah wa fil akhirati hasanah waqina adzabannar. Bukankah tujuan sebenarnya manusia adalah selamat dan bahagia?

Selamat dan bahagia itu kemudian dirinci kembali oleh Ki Hajar Dewantara menjadi Tri Rahayu (Tiga Keselamatan) yaitu: Hamemayu hayununging sarira, Hamemayu hayununging bangsa, dan Hamemayu hayununging bawana. Artinya menjaga dan memelihara diri sendiri, bangsa, dan alam semesta. Pendidikan dimulai dengan memperbaiki diri. Jika tiap diri sudah tertata baik, maka bangsa ikut baik, semesta pun ikut tertata baik.

Dengan Tri Rahayu yang menjadi dasar tujuan pendidikan, Ki Hajar Dewantara melanjutkan dengan Triloka Pendidik yakni: Ing Ngarsa Sung Tuladha; Ing Madya Mangun Karsa; dan Tut Wuri Handayani. Sebagai dasar kerja pendidik, guru berposisi di depan, maka berilah teladan yang baik. Guru juga berposisi di tengah pebelajar, yakni memberi motivasi, membangun kreatifitas, memunculkan inisiatif, memberikan inspirasi, memfasilitasi, dan sebagainya; dan guru juga sebagai orang yang menuntun, momong, memberdayakan, menguatkan, mendukung, membiarkan potensi-potensi yang baik keluar, dan sebagainya.

Kemudian Ki Hajar membuat atmoster pembelajar dengan istilah Tri Mong. Tri Mong yaitu: Momong, Among, dan Ngemong. Momong artinya merawat dengan penuh kasih saya, menanamkan kebiasaan-kebiasaan baik. Among artinya memberi contoh tentang baik dan buruk, tanpa harus memaksakan kehendak. Ngemong berarti mengamati, merawat, menjaga agar anak mampu mengembangkan dirinya, bertanggung jawab, dan disiplin berdasarkan nilai-nilai yang dimiliki sesuai kodratnya.

Ranah pendidikan ada pada Tri Nga, yaitu Ngerti, ngrasa, dan nglakoni. Ngerti adalah orang yang tahu berkat ilmu yang diperoleh. Ngrasa adalah tingkatan selanjutnya setelah tahu  yakni paham (afeksi). Nglakoni berarti mengalami apa  yang telah diketahui dan dirasakan (dipahami). Nglakoni berarti tindakan, melakukan, psikomotorik. Mengetahui-memahami-melakukan.

Dilanjutkan dengan metode belajar yakni Tri No: Nonton, Niteni, dan Nirokke. Nonton artinya melihat, menyaksikan, mengamati. Contoh dalam kegiatan ini misal melihat, membaca, mendengarkan, dan sebagainya. Niteni adalah mengingat-ingat setelah mengamati. Kegiatan ini adalah kegiatan mendalami dari kegiatan nonton. Terakhir Nirokke artinya menirukan contoh yang telah dilihat dan dingat-ingat. Maka contoh hasil dari belajar dari Tri No ini adalah ‘tidak jatuh pada lubang yang sama.’

Sekarang coba flashback, bagi siapa saja yang pernah ‘makan bangku sekolah,’ apakah sudah didapat hakikat pendidikan hingga mencapai tujuan selamat dan bahagia? Untuk mencapai hidup selamat dan bahagia, ilmu yang dibutuhkan yang seharusnya diperoleh ketika kita sekolah adalah ilmu keselamatan dan kebahagiaan. Dengan potensi dari masing-masing pebelajar, sudah selaraskah hak ilmu yang sudah diterima? Apakah materi ajar yang kita terima membuat kita merasa dan akan selamat dan bahagia dunia dan akhirat setelah bertahun-tahun kita lulus? Berikan komentar konstruktif ya.

Niken Salindry (Nguri-nguri Budaya Jawa)

Niken Salindry (Nguri-nguri Budaya Jawa)

 


Niken Salindry bernama asli Dimas Niken Salindri (DNS).  Lahir di Kediri, 29 Juni 2008. Sejak kecil sudah memulai karirnya sebagai penyanyi. Lebih tepatnya sebagai penyinden. Di masa kecilnya yang gendut mungil itu sudah cinta dengan khasanah budaya nusantara, khususnya kidung, campur sari, kerawitan, dan tembang Jawa. Menggeluti dunia persindenan ini ia mulai sejak usia empat tahun. Ia memilih seni tradisional sebagai hobi. Semua dipelajarinya secara otodidak.

DNS saat ini tinggal di di Jalan Cendana gang 2 RT 15 RW 03, Pakunden, Kecamatan Pesantren, Kota Kediri. Ia sekolah di SDN Burengan 2, Kediri. Benar-benar kecil-kecil pinter cari duit.

Di dunia entertainment, DNS pernah tampil di acara Hitam Putih dan OVJ. Ia juga pernah tampil bareng dengan tokoh-tokoh dalang seperti Ki Siswantoro, Ki Purbo Asmoro, Ki Degleng, Ki Anom Dwijo Kangko, Eko Prisdianto, Minto Darsono, Bayu Aji, Sigit Ariyanto, dan Warseno Slank.

Menurut sang ayah, Erick Kadharisman, DNS sangat cepat mempelajari sesuatu. Kemampuan vokalnya tanpa campur tangan orang lain. Semua murni dari dirinya sendiri. Sedangkan hobi lainnya adalah renang. Menyoal tentang cita-cita, DNS ingin seperti idolanya yaitu Tompi, Soimah, dah Syahrini. Memiliki suara merdu dan rasa percaya diri yang hebat.

Menurut penulis blog ini, DNS adalah salah seorang yang nguri-uri budaya Jawa. Dia adalah sang penghidup, perawat, dan pelestari budaya nusantara, khusunya budaya Jawa. Beberapa tembang yang viral di youtube antara lain: Segoro Ngayogjokarto, Kidung Tulodho, Gatotkoco Mabur, dan sebagainya. Selamat Cah Cilik, teruskan perjuanganmu!

Salah satu videonya:



Selamat Jalan Bapakku

Selamat Jalan Bapakku

 


 

Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un. Semoga termasuk dalam makna doa: "Yaa Ayyatuhan Nafsul Muthmainnah, Irji'i ilaa rabbiki raa dhiyatam mardhiyyah, Fadkhuli fii 'ibadi, wadkhuli janaati" (Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridho dan diridhoi-Nya. Maka masuklah kedalam golongan Hamba-hambaKu. dan masuklah kedalam surga-Ku. (Q.S. Al-Fajr :27-30). Aamiin. Al Fatihah sent.




Telah meninggal Nasirudin bin Tayib bapak dari penulis blog ini pada 23 April selepas azan buka puasa 2021. Hari ini tepat ke hari ke-35. Postingan ini sebagian ada di halaman facebook @sherianto19. Saat kepulangannya pun di hari istimewa, Jumat bahkan di bulan Ramadan. Pulang dengan senyum melekat. Semoga husnul khatimah. Aamiin.

Bagi saya, almarhum adalah pahlawan kecil dalam lingkup keluarga. Pahlawan yang jasanya takkan mampu terbayar lunas melalui bentangan waktu. Pahlawan yang sebenarnya tak meminta apapun selain diingat dan setia menjadi saksi atas seluruh kebaikannya. Dialah sang eppa' (bapak: dalam bahasa Madura).

Sungguh luhur budimu meninggalkan senyum abadi dalam kenangan melipuri lara. Warisan terindahmu adalah senyum bahkan saat terakhir kafan dan tanah menutupmu. Sungguh luar biasa tangis kering kami kau hapus dengan senyum matahari. Aku bersaksi bahwa seluruh kebersamaanku denganmu adalah hanya kebaikan.

Untuk eppa' Nasirudin bin Tayib. Selamat jalan. Padang di alam cahaya dalam kehidupan berikutnya. Aamiin.

Selamat Jalan Sang Kyai

Selamat Jalan Sang Kyai

 


Ketika kyai (ulama) meninggal dunia, maka dicabutlah sumber ilmu dari muka bumi.

 

Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un. Semoga termasuk dalam makna doa: "Yaa Ayyatuhan Nafsul Muthmainnah, Irji'i ilaa rabbiki raa dhiyatam mardhiyyah, Fadkhuli fii 'ibadi, wadkhuli janaati" (Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridho dan diridhoi-Nya. Maka masuklah kedalam golongan Hamba-hambaKu. dan masuklah kedalam surga-Ku. (Q.S. Al-Fajr :27-30). Aamiin. Al Fatihah sent.

Salah satu sumber ilmu itu yaitu KH. Ahmad Muzzammil wafat, Kamis 27 Mei 2021 dini hari.   KH. Ahmad Muzzammil adalah Pengasuh Pondok Pesantren Rohmatul Umam Kretek, Bantul, Yogyakarta. Ia sangat akrab dengan budayawan Emha Ainun Najib (Cak Nun) dan sering bersama-sama menjadi narasumber dalam acara Maiyah.  

Menurut salah satu dosen di Universitas Hasyim Asy'ari Tebuireng Jombang, Ustadz Amien Zein, Kiai Muzammil adalah penghubung antara Kiai Tebuireng dan Emha Ainun Najib (Cak Nun).  

Selamat jalan sang Kyai. Padang di alam cahaya dalam kehidupan berikutnya. Aamiin.




Om Polisi Ganteng

Om Polisi Ganteng

 


 

Pagi-pagi sekali Nina berniat terlambat masuk kelas. Ia pergi ke kantor polisi. Tujuannya hanya satu yakni memiliki pengalaman dalam proses hukum. Ia tidak puas hanya dengan penjelasan dari guru dan dari text book. Ia harus melakukannya.

Setibanya di kantor polisi, ia mengisi daftar berkunjung. Petugas kunjungan menempatkan Nina duduk di hadapan Pak Polisi ganteng, namanya Bima.

“Perkenalkan nama saya Bima! Panggil saja Pak Bima!”

Nina langsung menolak. “Saya mau memanggil Om Polisi Ganteng saja!”

“Baiklah! Ada yang perlu disampaikan?”

“Iya, saya mau melaporkan tindak kejahatan, Om!”

Dengan sedikit alis si ganteng itu mengernyit, “Oya? Siapa?”

“Saya sendiri?”

“Kamu?” Mengernyitnya lebih tebal.

“Iya, mengapa? Tidak percaya?”

“Kamu kan masih kecil, jadi tidak mungkin melakukan kejahatan!”

“Om ganteng, saya ini sudah kelas 4 SD. Sudah menstruasi juga!”

“Iya, Om mengerti, tapi usiamu masih usia sekolah dasar. Selain tidak mungkin melakukan kejahatan juga tak mungkin menghukumimu karena masih usia sekolah!”

“Tidak bisa, Om harus menuliskan laporannya dan memperkarakannya!”

“Hmm, begini….”

“Tidak bisa. Om harus menulis apa yang akan saya laporkan dan harus menindaknya! Kalau tidak saya akan menghadap pimpinan Om!”

Waduh, anak kecil pemberani ini, batinnya.

“Baiklah, apa yang akan kamu laporkan!”

“Tulis dulu nama saya, Nina. Kelas 4. Sekolah di SDN Bagusan. Nama orang tua ….” Dan seterusnya. Om ganteng itu menurut saja.

“Serius tulis lo! Jangan coba-coba menghibur saya!”

“Iya ini Om tulis.”

Baru terjadi hari itu setelah berjuta-juta tahun berdirinya kepolisian. Ada anak kecil yang melaporkan tindak kejahatan sendiri. Sungguh patut diacungi jempol dan angkat topi. Om ganteng geleng-geleng. Kepalanya jadi berat, belum sarapan lagi.

“Apa?” Om ganteng terbelalak.

“Mengapa Om? Tidak percaya?”

“Beneran kamu mencuri uang sebanyak itu?”

“Iya.”

“Buat apa? Sekarang uangnya mana?”

“Habis!”

“Uang sebanyak itu dihabiskan anak sekecil ini?”

“Nina sudah menstruasi, Om!”

“Baik, tapi bukankah tidak perlu diperkarakan jika Nina bilang ke orang tua secara baik-baik?”

“Om, ini tindak kejahatan. Belum pernah ada kan yang melaporkan kejahatannya sendiri? Atas inisiatif sendiri? Anak kecil lagi, Om bilang!”

“Iya, memang belum ada  maling ngaku!”

“Nah, tulis donk, Om!”

Beberapa saat berjalan dalam hening. Om ganteng makin lapar.

“Sudah Om?”

“Sudah, ada usulan pengacara?”

“Tidak, biar negara saja yang menentukan siapa pengacaranya. Biar gratis!”

“Baik, ditunggu surat panggilannya ya dalam beberapa hari!”

“Terima kasih, Om! Oya, Nina minta nomor HP Om. Nina akan teleponi setiap hari biar cepat diperkarakan!”

Nina, Nina, kelakuan kok seperti orang tua saja.

Bima menghadap pimpinan dan melaporkan kasus pertamanya hari itu. Sang pimpinan membuang berkas kasus itu ke tempat sampah.

“Keluar!”

Seperti bunga layu, Bima keluar dari ruang pimpinan polisi. ia bingung sementara ia menyanggupi untuk memperkarakannya di sidang peradilan kepada Nina. Sungguh, Nina seperti sedang memberinya sebungkus rujak berkaret dua pagi itu. Pedas, mules rasanya.

Beberapa hari berlalu. Bima setiap hari ditanyai Nina melalui telepon tentang tindak kriminalnya. Bima hanya menghibur Nina dengan mengatakan ‘sudah diproses, ditunggu ya!’

Karena lama menunggu, berhari-hari, Nina pun kembali mendatangi kantor polisi dan menemui Om ganteng, Bima.

Belum juga dipersilakan duduk, Nina langsung menyemprot Bima.

“Gimana Om? Kenapa lama sekali?”

Belum sempat menjawab pertanyaan Nina, ada pertanyaan lagi.

“Mana ruang pimpinan? Nina mau menghadap!”

“Mengapa harus bertemu pimpinan? Bukankah Om pernah bilang bahwa kasus ini tidak mungkin diperkarakan!”

Nina langsung pergi. Sambil berjalan bergegas, ia baca tiap papan nama ruangan. Ia langsung dapat menemukan ruang kepala polisinya. Ia mengetuk pintu. Sementara Bima terlambat mengejarnya sehingga pintu pun terbuka. Sang pimpinan mempersilakan Nina masuk, dan Bima.

Kepala polisi langsung tanggap. “Silakan duduk. Kamu Nina ya?”

“Iya, benar. Saya mau ….”

“Iya, saya sudah tahu. Perkenalkan nama saya Panji.”

“Baik, Pak Panji.”

“Begini, boleh saya minta nomor HP orang tuamu?”

“Lo, kenapa? Bukankah saya yang berhubungan dengan Bapak, mengapa melibatkan orang tua?”

“Begini, anak seusiamu masih dalam perwalian orang tua. Jadi apapun yang kamu lakukan masih dalam tanggung jawab orang tua. Mana?”

“Tidak bisa.”

“Kasusmu tidak bisa disidangkan, Nina!”

“Berarti Bapak tidak menghargai kejujuran saya sebagai pelaku!”

“Justru sangat menghargai, makanya Bapak tidak ingin melibatkanmu dalam hukum dan peradilan.”

“Itu namanya tidak adil sebelum mengalami proses hukum Pak!”

“Bima!”

“Siap Komandan!”

“Bagaimana pun caramu, temukan nomor HP orang tuanya dan gurunya!”

“Kalau Bapak begitu caranya, Nina akan menulis tentang Bapak dan Om itu lalu Nina sebar ke publik bahwa Bapak tidak memfasilitasi hak hukum warga.”

“Nina, pulanglah. Biar kami nanti hubungi orang tua dan gurumu!”

“Tidak bisa begitu! Susah payah saya memperjuangkan proses hukum terhadap saya, Bapak dan Om tidak membantu!”

“Begini….”

“Kalau begitu, Nina akan mencuri lebih banyak dan tidak hanya orang tua. Para tetangga dan guru juga akan Nina curi hartanya!” Nina langsung balik kanan dan pergi.

“Bima! Kejar anak itu!”

“Tapi….”

“Katakan proses hukumnya akan digelar!”

Bima langsung mengejar Nina tanpa penghormatan bubar.

 

Hari itu, mama Nina sedang di beranda menikmati secangkir teh hangat. Seorang tukang pos menghampiri dan menyerahkan surat pemanggilan dari pengadilan.

Apa ini? Batin mama Nina. Ia membukanya dan membaca. Sungguh di luar dugaan ekspresinya langsung berubah. Matanya terbelalak. Ia langsung meraih HP dan menelpon papa Nina.

HP papa Nina berdering. Ia ijin keluar rapat sebentar untuk menerima telepon.

“Apa? Nina?”

Mereka bersepakat menjemput Nina ke sekolah, pulang awal. Nina di dalam mobil diberondong pertanyaan mama dan papanya. Nina diam hingga semua pertanyaan meluncur.

“Mengapa kamu diam?”

“Begini Pa, Ma….”

“Soal uang mengapa kamu tidak minta ke kami? Bukan begitu caranya mendapatkan uang!”

“Pa, Ma.”

“Kamu….”

“Nina jawab apa tidak ini?”

Mereka pun terpaksa diam.

“Nina sengaja mengambil uang Mama, di lemari. Semuanya, tapi Nina masih simpan kok. Nina tidak butuh apa-apa dengan uang sebanyak itu. Uangnya masih ada kok, Nina simpan tapi di tempat lain. Nina hanya berpura-pura dan melaporkannya ke kantor polisi. nina ingin mengalami proses hukum. Nina tidak puas hanya mendengarkan penjelasan guru. Nina ingin mengalaminya!”

“Ini bukan lelucon Nina. Baiklah, kita ke kantor polisi sekarang. Mencabut laporanmu!”

Nina hanya diam.

“Kamu harus minta maaf kepada para bapak polisi. Toh, kamu sudah mengalami proses hukum dengan melaporkan tindakanmu!”

“Baik, Pa, Ma.”

“Setelah dari kantor polisi, kita makan bareng!”

 

 

 

 

Perangko Kembali ke UUD 1945, Keren

Perangko Kembali ke UUD 1945, Keren

 


 

Mari kita jelajahi koleksi perangko Indonesia. Secara umum perangko kita terbagi atas beberapa kategori yaitu perangko: definitif, nondefinitif, istimewa, peringatan, amal, dan prisma. Perangko definitif adalah perangko yang dapat dicetak secara berulang-ulang untuk memenuhi kebutuhan perposan sedangkan perangko nondefinitif tidak dicetak secara berulang, ia dicetak hanya agar pesan dalam perangko tersampaikan.

Perangko istimewa dicetak khusus dan sekali terbit. Ada juga yang dicetak berseri seperti seri bahasa Belanda, seri rumah adat, seri candi dan sebagainya. Berikutnya perangko peringatan. Perangko ini berkaitan dengan peristiwa-peristiwa besar yang dialami bangsa dan tokoh bangsa yang dianggap berpengaruh terhadap kehidupan berbangsa bernegara. Contoh perangko ini seperti seri Sumpah Pemuda, seri Sukarno, Suharto, Kembali ke UUD 1945, dan sebagainya. Terakhir adalah perangko amal. Perangko jenis ini diterbitkan dengan penambahan fungsi penggalangan dana untuk bencana alam, gangguan kesehatan berskala besar, kanker, jantung, dan sebagainya.

Dari beberapa kategori tersebut, ada yang menarik menurut amatan saya yakni perangko dengan judul “Kembali Ke UUD 1945.” Perangko tersebut dicetak karena terjadi situasi politik pada sidang Konstituante 1959. Ketika itu terjadi tarik ulur kepentingan partai politik sehingga gagal menghasilkan UUD yang baru. Pada 5 Juli 1959, Presiden Sukarno kemudian mengeluarkan Dekrit Presiden yang salah satu isinya: kembali memberlakukan UUD 1945 menggantikan UUDS 1950. Perangko “kembali ke UUD 1945” dicetak dalam beberapa pecahan yakni 20, 50, 75, dan 150 sen. Keren POS RI.

 

Perangko Indonesia untuk Palestina

Perangko Indonesia untuk Palestina

 


Tahukah anda, bahwa Palestina merupakan negara pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945. Lebih tepatnya jika dikatakan bahwa tokoh besar pertama yang memberikan ucapan selamat dan dukungan kepada Indonesia untuk kemerdekaannya adalah orang Palestina. Merujuk pada buku Diplomasi Revolusi Indonesia di Luar Negeri yang ditulis Zein Hassan, seorang tokoh nasionalis Palestina, sekaligus Mufti Agung Yerusalem, Amin Al-Husseini, dialah yang menyatakan pengakuannya terhadap kemerdekaan negara Indonesia.

Pengakuan tersebut disampaikan lewat siaran radio berbahasa Arab selama dua hari berturut-turut dari Berlin, Jerman, pada 1944. Ucapan selamat dari Syekh Muhammad Amin Al-Husseini pada saat itu bukan pengakuan kedaulatan Indonesia secara sah, melainkan sebatas dukungan kepada Indonesia karena pada tahun itu Indonesia juga belum merdeka. Selain itu pada tahun 1944, wilayah Palestina masih di bawah pemerintahan Britania Raya (1920-1948) dan belum menjadi sebuah negara yang berdaulat.

Sebagai bentuk penghargaan Indonesia kepada Palestina dibuatlah perangko Indonesia tahun 1978 bernilai 100 Rupiah, bergambar Qubbatus Sakhra' sebagai ikon Masjid Al-Aqsha dan bertuliskan kalimat dukungan untuk Palestina, "Untuk kesejahteraan keluarga para syuhada' dan pejuang kemerdekaan Palestina". Hingga hari ini, Indonesia dan Palestina bertali kasih dalam hubungan dan gerakan kemanusiaan.

Allie Sherlock Pengamen Keren

Allie Sherlock Pengamen Keren

 


Perjalanan pengamen masa kini tidak terlepas dari terkoneksinya dengan media online. Sebagai contoh pengamen yang bernama Allie Sherlock. Sejak kecil sudah pandai bermain alat musik terutama gitar. Dengan modal gitar dan suaranya yang bening dan merdu itulah, ia memulai petualangan mengamennya dari pelataran toko dan jalan-jalan di kota Dublin Irlandia. Allie Sherlock kelahiran 7 April 2005, di kota Cork, Irlandia.

Salah satu hasil ngamennya dan sempat dipostingnya tahun 2017 menjadi viral. Namanya lambat laun menjadi terkenal. Saat itu lagu yang dinyanyikannya berjudul Supermarket Flowers yang dipopulerkan Ed Sheeran.

Hingga saat ini, ia tetap konsisten mengamen sambil mengajak teman-temannya ngamen bersama. Ia juga mengajak para pemusik di kotanya. Makin besarlah ia dan makin besar namanya.

Membaca sejarah perjuangan mengamennya jadi teringat lagu Iwan Fals yang berjudul Sore Tugu Pancoran. Ada satu paragraf lirik yang berisi:

 

Anak sekecil itu berkelahi dengan waktu

Demi satu impian yang kerap ganggu tidurmu

Anak sekecil itu tak sempat nikmati waktu

Dipaksa pecahkan karang lemah jarimu terkepal

 

Allie Sherlock, anak kecil itu telah mencari uang sendiri hinnga kini. Dengan kemampuan yang ia miliki, dengan suara emas dan kemampuan bermain gitarnya, dengan kecantikannya pula, percaya dirinya full charge menghipnotis penontonnya.

Berikut salah satu video yang viral ketika ia berusia 14 tahun. 



Siapakah Sindy Purbawati Si Pelantun "Kidung Gaza Palestina"?

Siapakah Sindy Purbawati Si Pelantun "Kidung Gaza Palestina"?

 

Tidak seperti pesinden lain, Sindy Purbawati adalah nama asli. Sindhi Purbawati adalah penyanyi atau Sinden Campursari, Keroncong, Rock dan Dangdut. Sindy Purbawati memulai kariernya dari masih di bangku sekolah dasar. Sindy Purbawati juga dikenal sebagai artis cilik atau sinden cilik. Ia kelahiran, Banyuwangi, Jawa Timur, 22 Agustus 1991.

Nama Sindy Purbawati telah masuk dalam jajaran tokoh dalam wikipedia. Pada awal 2017, Sindy Purbawati bergabung dengan perusahaan rekaman dan publishing PT Pancal Records Indonesia yang kemudian merilis album perdana Ora Keturutan karya dari Pancal 15. Sebelumnya Sindy Purbasari awal tahun 2016 berada di bawah label SK Pro PT. Semar Kembar Production dan merelease album Campursari.

Lagu lain yang sekarang sedang hits adalah Ramalan Joyoboyo. Lagu tersebut diluncurkan di channelnya sendiri pada  3 Februari 2021. 

Seperti apakah lagu tersebut? Silakan simak video berikut.





 Kidung Doa Untuk Palestina

Kidung Doa Untuk Palestina


Berempati terhadap duka yang dialami rakyat Palestina, diluncurkanlah doa dalam bentuk kidung (lagu dalam bahasa Jawa) berjudul Kidung Gaza "Palestina.” Dinyanyikan oleh Sindy Purbawati. Kidung tersebut ditulis oleh Pancal15 (bukan nama sebenarnya) sekaligus dengan garapan komposisi  musiknya.

 

Berikut lirik lagu Kidung Gaza "Palestina."

 

Nyawa Tanpa aji

Kulumur Ngerah Pati

Mbrubuh Tan wisana

Njarah Donya uga kuta

 

Ragaku Tan Daya

Nora kuat kaya Dewa

Mung iso ndedongo

Marang Gusti kang kuasa

 

Panyuwunku Enggal kretya

Tan ana angkara murka

Mugia palestina sageta merdeka

 

Terjemahannya”

 

Nyawa tak berharga

Berlumuran darah menuju kematian

Pertempuran dahsyat tiada henti

Penjarahan dunia dan kota

 

Ragaku tak berdaya

Tidak sekuat dewa

Hanya bisa berdoa

Kepada Tuhan Yang Maha Kuasa

 

Permohonanku segera damai aman tentram

Tak ada lagi angkara murka

Semoga Palestina bisa merdela

 

Berikut video Kidung Gaza "Palestina"



 

Cakap Digital Bukan Cakap Digatal

Cakap Digital Bukan Cakap Digatal

 


Tepat pada peringatan Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei 2021, presiden Republik Indonesia meluncurkan prorgam Literasi Digital Nasional (LDN). Bapak Presiden Jokowi menyampaikan bahwa “Literasi digital adalah kerja besar. Pemerintah tidak bisa bekerja sendirian, perlu mendapatkan dukungan seluruh komponen bangsa,” dalam sambutannya secara virtual saat meluncurkan di Jakarta, Kamis (20/5/2021).

Presiden juga memberikan apresiasi kepada 110 lembaga dan berbagai komunitas yang terlibat dalam Program Literasi Digital Nasional. Program ini, ujar Presiden, harus terus menggelinding, membesar, dan mendorong berbagai inisiatif komponen bangsa di berbagai tempat lain.

“Saya harap gerakan ini menggelinding dan terus membesar, bisa mendorong berbagai inisiatif di tempat lain melakukan kerja-kerja konkret di tengah masyarakat agar semakin cakap memanfaatkan internet untuk kegiatan edukatif dan produktif.”

Peluncuran Program Literasi Digital Nasional pada Kamis ini dihadiri oleh Menteri Komunikasi dan Infromatika Johnny G. Plate, Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian, dan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi Nadiem Makarim. Peluncuran ini juga menandai pelaksanaan kelas digital secara simultan di 514 kabupaten dan kota di 34 provinsi.

Bapak Nadiem Makarim menyampaikan bahwa dengan peluncuran dan diterapkannya Literasi Digital Nasional akan mengakselerasi peningkatan mutu pendidikan. Ia juga menyampaikan ada 4 pilar pelaksanaan LDN yaitu keamanan digital, keterampilan digital, etika digital, dan budaya digital. Keempat pilar tersebut dapat menciptakan atmosfer kebangkitan nasional. Bangkit dari keterpurukan, bangkit cakap dalam perkembangan teknologi, bangkit berarti belajar dengan bahagia dan merdeka.





Lagu Indonesia Raya Mereboisasi Rasa Kebangsaan

Lagu Indonesia Raya Mereboisasi Rasa Kebangsaan

 

Baru-baru ini, Sultan Hamengku Buwono X selaku Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta mengeluarkan Surat Edaran nomor 29/SE/V/2021 tentang Memperdengarkan Lagu Indonesia Raya. Surat tersebut ditujukan kepada seluruh bupati dan wali kota se-kota Daerah Istimewa Yogyakarta, pimpinan perwakilan instansi pemerintah, instansi pemerintah, pimpinan BUMN, serta pimpinan perusahaan swasta untuk memperdengarkan lagu Indonesia Raya. Lagu tersebut diperdengarkan setiap pagi pukul 10.00 WIB di ruang publik. SE tersebut diterbitkan selaras dengan momen peringatan Hari Kebangkitan Nasional tahun 2021.

Gagasan yang jitu. Salut buat Sultan HB X. Inilah cara HB X menggugah rasa kebangsaan setelah sekian lama terlelap tertindih carut marut permasalahan di negeri ini. Ini langkah hebat untuk menyuburkan kembali rasa kebangsaan, mereboisasi bibit-bibit tanaman yang ada dalam jiwa rakyat Indonesia. Gaungnya memang di Yogyakarta, tapi setidaknya itu merupakan pemancar yang bagus untuk dapat ditiru, didengar, dipahami, diindahkan bahwa memang rasa kebangsaan itu perlu terus diperbarui. Baik secara sikap dan perilaku berbangsa dan bernegara, menguji kembali serta meneguhkan rasa memiliki Indonesia.

Yogyakarta sebagai tower negara dan bangsa, memiliki sejarah yang panjang tentang lahirnya republik ini, dengan menerbitkan SE tersebut seolah menengarai lumpuhnya cita rasa kebangsaan. Seolah-olah ingin menyatakan Republik Indonesia saat-saat ini sepi dari nasionalisme. Nasionalisme ramai ketika berguna pada momen-momen tertentu seperti pemilu dan pilkada. Semua orang latah mengaku cinta tanah air dengan jenaka. Ketika sepi inilah gagasan HB X terasa sangat menyentuh dan sekaligus memberikan teguran, “Hey, ke mana kalian, kok sepi cita rasa kebangsaan!”

Selamat semangat hari Kebangkitan Nasional untuk negeri tercitan Republik Indonesia. #nasionalisme #rasa kebangsaan #kebangkitannasional #NKRI


Semangat Kebangkitan Nasional ala Haikal (Air Mata Pertiwi)

Semangat Kebangkitan Nasional ala Haikal (Air Mata Pertiwi)


M. Haikal Nur Wahyu adalah siswa Kelas 3 di SDN Pangarangan 3 Sumenep. Bertepatan dengan momen Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2021, ia dinobatkan sebagai juara 1 Lomba Baca Puisi Inspirasi tingkat Nasional yang diselenggarakan oleh Penerbit Erlangga dengan puisi berjudul Air Mata Pertiwi karya Andilala.

 Ia juga pernah menjuarai beberapa event lomba lukis dan fashion pada tahun-tahun sebelumnya. Selamat ananda Haikal, kami Pangga (Pangarangan Tiga) Bangga Padamu. Anak bangsa yang peka terhadap jeritan kebangkitan ruh kebangsaan.



Ingin tahu isi puisi yang dibacakannya? Silakan simak  secara langsung video di atas. #panggabikinbangga

 

Sastra Listrik?

Sastra Listrik?

 


Saya baru tahu ada sastra listrik. Perkiraan yang muncul dalam benak saya adalah sastra listrik adalah karya sastra tentang listrik (elektrikal). Setelah buka-buka dan cari-cari jejak kata sastra listrik ditemukanlah pada laman electricliterature.com.

 

Ternyata Electric Literature (sastra listrik)  adalah penerbit digital nirlaba dengan misi menjadikan literatur lebih menarik, relevan, dan inklusif. Mereka berkomitmen untuk menerbitkan karya yang cerdas dan bersahaja, mengangkat suara baru, dan memeriksa bagaimana literatur dan penceritaan dapat membantu menjelaskan masalah keadilan sosial dan peristiwa terkini. Mereka juga sangat tertarik pada tulisan yang beroperasi di persimpangan budaya, genre, dan media yang berbeda.

 

Electric Literature (sastra listrik)  dimulai sebagai jurnal triwulanan pada tahun 2009 dan menjadi nirlaba pada tahun 2014. Selain esai, kritik, dan berita sastra di situs ini, akan ditemukan majalah sastra mingguan yang terkenal: Bacaan yang Direkomendasikan , yang menerbitkan cerita pendek dan kutipan novel dengan rekomendasi pribadi, dan The Commuter , rumah kami untuk fiksi kilat, puisi, dan narasi grafis. Bacaan yang Direkomendasikan diluncurkan pada tahun 2012 dan akan menerbitkan terbitan ke-450 pada tanggal 30 Desember 2020. Karya yang diterbitkan oleh Sastra Listrik dan majalah sastra kami telah diakui oleh Cerita Pendek, Esai, Puisi, dan Komik Amerika Terbaik, Hadiah Kereta Dorong, Cerita Pendek Kanada Terbaik , dan The Best of the Small Presses.

 

Semua yang diterbitkan oleh Sastra Listrik tersedia untuk pembaca secara gratis, dan sebagai organisasi nirlaba, mereka mengandalkan kontribusi dari pembaca tersebut untuk bertahan hidup. Salah satu sumber dana Sastra Listrik memonetisasi beberapa tautan buku.

Sastra Listrik  juga mendapatkan dukungan dari Amazon Literary Partnership, New York State Council on the Arts, dan National Endowment for the Arts sebagai sumber dana yang lain.

 

Ternyata Sastra Listrik diluar dugaan saya. Sastra Listrik ternyata laman web yang memuat karya sastra dari penulis dan editor top dunia. Laman tersebut memiliki versi asli berbahasa Inggris, namun jangan kuatir, situs dapat diterjemahkan secara otomatis oleh google translate. Jadi lebih mudah dibaca oleh pembaca yang awan English.

CLASSDOJO Aplikasi Pembelajaran Daring Recommended

CLASSDOJO Aplikasi Pembelajaran Daring Recommended

 


ClassDojo adalah platform edukasi gratis didirikan oleh perusahaan teknologi pendidikan. Sang penggagas: Chaudhary dan Liam Don kemudian merilis versi pertama ClassDojo pada Juli 2011. Pada tahun tersebut juga ClassDojo memperoleh penghargaan Inovasi Pendidikan Today Show, Forbes, Fast Company, Inc., dan mendapat anugerah TechCrunch 's Crunchie Award untuk Best Education Startup. ClassDojo sudah dapat digunakan dan diterjemahkan dalam 35 bahasa di dunia termasuk Bahasa Indonesia. Pusat server ClassDojo beralamat di 735 Tehama Street, San Francisco, California, 94103, United States of America.

ClassDojo dapat diakses pada desktop (komputer atau laptop) atau juga Hp android. Sebagai aplikasi gratis yang memfasilitasi pembelajaran, ClassDojo dapat memuat beranda layaknya Facebook. Melalui ClassDojo guru atau siswa dapat saling berbagi informasi pada beranda. Guru dapat memberi tugas sebaliknya siswa juga dapat mengakses tugas dan kemudian menyetorkannya. Bentuk tugas yang disetor dapat berupa gambar, tulisan tangan pada layar android, suara, dan bahkan video.

Penggunaan aplikasi tersebut sangat membantu para guru dan siswa lebih-lebih ketika pembelajaran Dalam Jaringan atau online. Guru juga dapat menata rapi seluruh administrasi kelas yang berhubungan dengan tugas-tugas yang siswa kumpulkan. Dengan demikian guru juga akan lebih mudah memberikan penilaian otentik. Kelebihan lain, selain guru dan siswa yang terkoneksi, orang tua siswa juga dapat bergabung dan memberikan saran dan apresiasi terhadap pembelajaran yang dilakukan.

Bagaimana cara membuat akun pada ClassDojo? Sebaiknya akun dibuat oleh guru. Pertama yang harus dilakukan guru adalah mendaftar akun pada laman ClassDojo dengan mengisikan email dan password. Ketika proses pendaftaran ClassDojo akan menawarkan pilihan, guru tinggal menekan kotak I’m teacher seperti pada gambar berikut.


Berikutnya guru juga diminta mengisi nama sekolah dan jenjang kelas. Proses berikutnya guru memasukkan nama-nama siswa dalam satu kelas sehingga nantinya siswa tinggal mengunduh aplikasinya melalui playstore dan meminta kode masuk kepada guru. Setelah diberikan kode, siswa mencari nama yang bersangkutan dan mengkliknya sehingga terhubung.

Untuk memudahkan secara mobile, guru dapat mengunduh aplikasinya di playstore seperti gambar di atas. Aplikasi tersebut ringan dijalankan dan termasuk aplikasi yang file masternya berukuran kecil.

Nah inilah contoh kelas yang berhasil dibuat oleh guru. Guru tinggal mengklik kelas yang telah dibuatnya, maka akan masuk ke halaman berikutnya.



Inilah halaman berikutnya. Di dalamnya sudah terhubung nama siswa dalam sekelas. Pada halaman tersebut terdapat 4 tab kiri atas dan 3 tab kanan atas.

Tab pada kanan atas adalah Ruang Kelas, Portofolio, Class Story, dan Pesan. Perhatikan gambar berikut.



Adapun fungsi bagian tersebut sebagai berikut. Ruang Kelas berfungsi memberikan poin kehadiran, keaktifan, kerajinan, dan sebagainya. Portofolio adalah bagian di mana guru dapat memberikan tugas dan siswa dapat menyerahkan tugas. Portofolio adalah tempat penting yang berisi rekaman aktifitas pembelajaran keseluruhan siswa.

Inilah tampilan tab Portofolio.



Ketika guru mengklik salah satu tugas, seperti gambar di bawah ini, maka guru dapat memberikan like dan komentar.



Tab berikutnya adalah Class Story. Bagian inilah yang saya maksud mirip dengan berada Facebook. Coba perhatikan gambar di bawah ini.


Guru dan siswa dapat memosting berbagai bentuk file selain tugas. Guru dan siswa juga dapat saling mengomentari atau memberikan like. Tampilan tersebut merupakan tampilan desktop sedangkan tampilan mobile (Hp) seperti berikut.


Bagian terakhir 4 tab kiri atas adalah Pesan. Bagian ini sesuai namanya adalah tempat berkirim  pesan secara pribadi baik dari guru ke siswa atau sebaliknya.

Selanjutnya adalah 3 tab kanan atas sebagaimana gambar di bawah ini.

Tab pertama adalah Student Login. Ketika diklik, maka muncul tampilan berikut.




Bagian ini berisi tentang info sekolah, nama-nama siswa, nama-nama orang tua, Skills (pengaturan reward poin yang akan diberikan kepada siswa), Teacher adalah daftar guru yang mengampu kelas, dan Setting untuk pengaturan akses kelas. Nah, pada bagian Class login, guru minta mendapat kode akses yang bisa dibagikan ke siswa ketika siswa menjadi bagian kelas.

Bagian akhir dari tab di kanan atas adalah Option. Ketika guru mengklik Option ini akan mendapatkan view report dari masing-masing seperti gambar berikut.



Proses berikutnya, siswa juga diminta juga mengunduh aplikasi ClassDojo. Ketika unduhan selesai dan mengklik aplikasinya, siswa diminta memilih I’m a student, kemudian muncul layar seperti ini. Pilih I don’t have a QR Code. Masukkan kode yang diberikan guru. Yang harus diketahui, bahwa kode hanya berlaku sehari. Ketika siswa logout, maka mereka harus memasukkan kode baru yang dimintanya kepada guru. Apabila siswa tidak logout dari aplikasi tersebut, maka tidak perlu memperbarui kode.


Setelah siswa memasukkan kode ClassDojo seperti gambar di atas pada siswa selanjutnya tinggal memilih namanya di dalam kelas tersebut dan mengkliknya. Setelah selesai, maka siswa sudah tergabung di Classdojo. Untuk melihat aktivitas kelas, gulir ke bawah akan ada aktivitas dan petunjuk kegiatan kelas setiap hari. Untuk melihat tugas siswa tinggal mengecek pada halaman protofolio, atau notifikasi yang masuk.

Demikian secara singkat cara membuat akun dan bergabung di ClassDojo. Semoga bermanfaat dan menambah ghirah guru dan siswa untuk belajar sepanjang hayat.


Artikel terkait adalah: Aplikasi Kelas Daring Mudah dan Menyenangkan (Paling Direkomendasikan)

Kok Tinggal Satu

Kok Tinggal Satu

 


"Kok tinggal satu? Satu pack kan isi tiga. Kemarin malam dipake satu. Harusnya tinggal dua! Lha, ini kok tinggal satu?" Sachiko tak berhenti berpikir. Beberapa pekerjaan rumah terbengkalai gara-gara benda kenyamanannya tinggal satu.

Seperti biasa Sachiko setiap pagi bersih-bersih kamar dan seluruh rumah sambil lalu memasak. Suaminya sudah berangkat sejak pagi sekalian mengantar anak mereka sekolah. Tak sengaja saja ia membuka laci meja di kamar. Ia terkejut. Seharunya tinggal dua. Bukan karena habis lalu bisa beli lagi, tapi harus ditanyakan ke suaminya dengan jelas mengapa tinggal satu.

Sachiko seharian tidak makan. Ia duduk tepat ke arah pintu menunggu suami pulang. Ketika suaminya pulang, ia langsung mengajaknya bertengkar, bukan lagi bertanya. Pertengkaran hebat seperti dalam sinetron-sinetron. Mereka saling adu mulut dan jotos. Pertengkaran yang berakibat pada jatuhnya talak dan terbitnya surat cerai kemudian. Sehari hari setelah jatuh talak, muncullah pengakuan Kenchu, si ponakan. Ia lupa memberitahukan Sachiko bahwa satu kondom kenyamanannya telah dipinjam Kenchu.


Cerpen Pendek: Api

Cerpen Pendek: Api

 


Sebangun tidur, Badrul duduk. Ia menyedot air mineral, menyeruput kopi buatan isteri, mengambil sebatang rokok dan koreknya kemudian dinyalakan koreknya untuk membakar ujung sundutan rokoknya. Ia hirup dalam-dalam asap rokoknya.

Pagi itu ada yang tak biasa. Ia letakkan rokok yang masih menyala di atas kasur sementara korek ia bawa ke arah kamar mandi layaknya sebatang rokok yang menyala. Sedari kamar mandi, ia jumpai kamarnya terbakar hebat dengan kasur jadi bara.

KISAH PICO DAN TINTRANA

KISAH PICO DAN TINTRANA

 


Pico adalah seorang fotografer muda. Traveling potretnya pertama kali yang ditugaskan kepadanya adalah suku Monte pedalaman. Lokasi tepatnya ia baru tahu melalui google maps. Berdasarkan data yang ditunjukkan peta, kotanya, Honu ke Monte berjarak 10000km jika ditarik garis lurus. Ia disyaratkan tidak boleh menggunakan transportasi udara. Harus darat. Dengan alasan, agar ada rekam jejak dari kotanya hingga ke Monte yang bisa ditunjukkan ke direktur penerbitnya.

Dimulailah perjalanan itu sehari setelah surat tugasnya diprintout. Tujuh hari kemudian ia pun sampai di pintu gapura Desa Monte pedalaman dengan panduan aparat keamanan kabupaten Kota Rimbu. Pintu gapura Monte hanya berupa tumpukan batu sebelah setinggi orang dewasa. Batu bersusun dari batu halus, mirip batu sungai. Bukan batu karang atau batu gunung.

Dengan langkah santai seperti memasuki sebuah desa lain, ia langsung menuju pusat keramaian. Ia mengincar objeknya. Seorang gadis berkulit coklat hampir telanjang hanya bagian dada dan vitalnya yang tertutup kain kuning. Beberapa aksesoris ada di bagian kepala seperti mahkota tapi terbuat dari akar pohon. Di telinga ada serupa anting tapi lebih mirip taring harimau. Bagian lehernya melilit serupa kalung terbuat dari manik-manik biru. Juga pada pergelangan tangannya tampak serupa gelang lilitan kain berwarna merah.

Dengan lensa telanya, ia berusaha menjaga jarak dengan objek agar dapat momen terindah. Cekrek, cekrek, cekrek! Beberapa jepretan sudah ia dapat. Tampak ia tersenyum. Tanpa ia duga, entah dari arah mana, ada suara keras mengenai kepalanya yang membuatnya tak sadarkan diri.

Ketika ia siuman, ia terkaget-kaget. Ia melihat dunia sudah terbalik. Ia mengira hanya mimpi. Setelah beberapa cambukan keras mengenai dadanya, ia baru sadar kalau dirinya dengan dicancang dengan tubuh terbalik. Ia dihukum dengan diikat kedua kakinya ke dua tiang batu. Ia berteriak minta tolong. Ia meraung, tapi semua orang tak mengerti apa yang ia katakan.

“Bele hu tate nyang rang kiteka?” (apa ada yang paham yang dia katakan? Bahasa Suku Monte, Red).

“Iko mulaye!” (saya yang mulia).

Seorang laki-laki muda datang menghormat kepada kepala suku dan menyatakan mengerti bahasa si fotografer. (Kisah nyata ini selanjutnya secara keseluruhan akan menggunakan bahasa Indonesia untuk memudahkan dicerna).

“Apa yang dia katakan?” Tanya kepala suku kepada Sube, pemuda yang paham bahasa Indonesia.

“Dia minta tolong. Minta dilepaskan. Dia tidak merasa bersalah!”

“Pengawal, cambuk dia lima kali dengan bertenaga!” Perintah geram kepala suku. Lima cambukan mendarat dan membuat bekas hitam di dada Pico.

“Siapa namamu? Siapa yang mengirimmu ke Monte? Apa tujuanmu?”

“Saya Pico. Saya hanya fotografer majalah. Saya diperintah bos saya untuk mengambil beberapa gambar di sini. Tolong, lepaskan saya. Ini negara hukum!”

“Kamu tahu telah melakukan salah besar apa?”

“Saya tidak merasa bersalah! Tolong lepaskan saya!”

“Pengawal, cambuk sepuluh kali!”

Pico mengerang tiap kali cambuk itu mengangkat kulitnya hingga lepas.

“Ampun, tolong saya! Lepaskan saya!” Ia mengerang. Ia seperti dikuliti dengan cambuk itu.

“Salahmu kamu tidak meminta izin datang ke Monte. Kamu tidak menghadapku. Dan, salah besarmu, kamu telah mengambil gambar anak kepala suku Monte, anakku!”

“Iya, saya mengaku salah tidak meminta izin terlebih dahulu, tapi tak seharusnya saya dihukum seperti ini!”

“Kamu telah melanggar adat. Kamu pantas dibunuh!”

“Ampun, maafkan saya!”

“Aku siapamu sehingga aku harus memaafkanmu untuk dua kesalahan besar yang kamu lakukan?”

“Maafkan aku Tuan, ampun. Mohon lepaskan saya!”

Dalam kode etik adat suku Monte, baihan (orang suku luar) harus meminta izin masuk pusat suku Monte dengan beberapa ritual tertentu. Antara lain, meninggalkan kuku jempot tangan kanan dengan cara dicabut ikhlas. Hal itu sebagai tanda bahwa baihan telah dengan rela hati dengan niatan tulus serta menjunjung adat suku Monte untuk menjadi bagian keluarga suku. Kesalahan Pico yang fatal adalah ia telah mengambil gambar manusia, memotret suku Monte. Hal itu pantangan keras bagi suku Monte sendiri apalagi baihan. Menurut keyakinan mereka, pengambilan gambar tersebut dapat mengurangi masa hidup manusia suku Monte. Lebih-lebih yang diambil gambarnya adalah puteri dari kepala sukunya. Sungguh itu pelanggaran berat yang hanya dapat ditebus dengan nyawa.

“Kamu hanya akan kami lepas dengan satu syarat!”

“Iya saya bersedia. Apa itu?”

“Kamu harus meninggalkan jantungmu di sini!”

“Ampun, maafkan saya! Saya tak akan mengulanginya lagi!”

“Kau telah mengambil sebagian ruh anakku, kesayanganku! Dengan apa kamu bisa mengembalikannya?”

“Tuan dapat menghapus foto di kamera saya!”

“Pangawal, cambul duapuluh kali!”

Pico pingsang dicambukan ke sepuluh, tapi duapuluh cambukan tetap dilaksanakan pengawal sesuai perintah kepala suku. Beberapa waktu kemudian, Pico diguyur dengan air agar siuman.

“Kumpulkan jerami!” Teriak kepala suku. Semua warga bergesa menuju penampungan jerami. Jerami itu diletakkan mengelilingi Pico yang digantung terbali. Setelah tergelar tumpukan jerami, kepala suku menyalakan obor. Ia kemudian mendekatkan diri ke arah Pico.

“Apa yang ingin kamu katakan untuk terakhir kalinya?”

Pico menangis. sedunya mengguncang tubuhnya.

“Baiklah, kalau tidak ada lagi, kamu kubakar!”

Saat kepala suku Monte mendekatkan api obor ke jerami, tiba-tiba Tintrana, puteri kesayangannya memasang badan. Ia mencoba menghalangi obor menyentuh jerami.

“Tintrana, apa maksudnya ini?” Kepala suku kaget bukan main.

“Aku tidak mau dia mati!”

“Dia telah melanggar adat. Dia orang luar yang merusak hukum kita. Dia mencemarkan suku kita. Mencoreng wajah ayahmu!”

“Iya, benar. Dia memang salah, tapi hati Tintrana mengatakan ia manusia baik, tak pantas menerima hukuman ini!”

“O, begitu. Jadi kamu juga mau mempermalukan ayahmu?”

“Bukan begitu Ayah. Saya hanya kasihan.”

“Pengawal, cambuk dia limapuluh kali!”

Suasana malam itu menjadi senyap. Sang pengawal juga senyap tanpa suara dan gerakan.

“Pengawaaaal!”

Sang pengawal ambruk lututnya menyentuh tanah. Cambuknya lebih dulu mencium tanah. Ia siap menerima hukuman kepala suku. Kepala suku tambah geram. Ia menghunuskan sebilah pedang, siap ditebaskan. Lagi-lagi Tintrana mengarahkan lehernya ke mata pedang ayahnya. Leher Tintrana menahan tebasan pedang itu.

Sang ayah bersimpuh malu. Ia meminta pengawal melepaskan Pico dan mengusir puterinya sekaligus malam itu. “Sejak malam ini, kau bukan lagi anakku! Pergilah sesukamu. Kamu tak ada lagi hubungan dengan keluarga ini!”

Tintrana menangis mencoba memeluk ayahnya. Ia berusaha memohon ampunannya. Keputusan telah dibuat. Ludah sudah terlanjur menyentuh tanah. Warga menyeret Tintrana keluar gapura suku Monte dengan tangisan. Sementara Pico diseret dan dilempat keluar gapura.

“Jika setapak saja kamu masuk ke garis ini, aku tak segan-segan membunuhmu!” Sang ayah membuat garis lurus dan tegas di garis gapura. Suku Monte pun kembali ke rumah masing-masing dan mematikan obor seluruhnya sebagai tanda duka yang dalam.

Tintrana mencoba membopong Pico. Membantunya berjalan hingga jalan besar sejauh 10km jalan kaki. Sepanjang banyak yang membantu mereka walau sekedar pengobatan ringan dan sebotol air. Pico pun berangsur membaik.

“Nama saya Pico!”

“Saya Tintrana!”

“Maafkan saya telah membuat kamu menderita dan kehilangan keluarga!”

“Saya yang minta maaf atas perlakuan ayah saya dan warga suku!”

“Saya yang salah!”

“Kami juga salah!”

Tintrana mengikuti Pico hingga ke kota Honu. Ia merawat Pico hingga benar-benar sembuh.

“Maukah kamu menjadi suamiku agar aku bisa merawatmu dan anak-anakmu kelak?” Tanya Tintrana.

Pico terkejut. Seharusnya ia yang lebih dulu menanyakannya. Tintrana sudah mempertaruhkan nyawa dan keluarganya untuk Pico. Sepantasnyalah Pico menaikkan derajat Tintrana menjadi isteri.

Ternyata situasi buruk dapat menjadikan perantara cinta keduanya. Mereka kemudian menikah. Putera pertama mereka diberi nama yang sama dengan ayah Tintrana, Lokko. Dengan tambahan nama Pico dan Tintrana, anak itu bernama lengkap Lokko Tintra Picana.