Buku Baru: Serial Salimin & Dalimin

Buku Baru: Serial Salimin & Dalimin


Buku baru


Serial Salimin & Dalimin

Penulis : S. Herianto

Ukuran : 14 x 21 cm

Terbit : Maret 2021

Harga : Rp 71000

www.guepedia.com


Sinopsis :


Salimin dan Dalimin adalah dua tokoh sentral dalam buku cerita Serial Salimin dan Dalimin. Salimin dan Dalimin adalah tokoh fiktif. Begitu pula dengan latar tempat, situasi, dan peristiwa yang melingkupinya.

Serial Salimin dan Dalimin adalah potongan-potongan potret fakta dialektika dalam masyarakat yang majemuk, mewakili rekam fenomena yang terjadi dalam masyarakat. Masyarakat yang multi pemahaman tentang kehidupan. Permasalahan-permasalahan yang diangkat dalam serial ini adalah nyata terjadi dalam kehidupan bermasyarakat walaupun tentu disajikan dalam bahasa yang berbeda sehingga menarik untuk memikirkan ulang segala sesuatu. Dialog antara Salimin dan Dalimin berikut pemeran pendukungnya setidaknya mengurai permasalahan tersebut untuk menemukan pemahaman yang utuh dan mandiri dari pembaca, apapun bentuknya.

Serial Salimin dan Dalimin dibuat dalam bentuk cerita per topik per judul. Walaupun singkat-singkat, tapi setidaknya hasil rekonstruksi tersebut berharga untuk mengisi ruang kosong dan menata ulang pemahaman tentang sesuatu. 

Salimin dan Dalimin berasal dari satu rahim ibu yang sama dengan takdir yang berbeda. Kehidupan mereka jomplang tidak terkira. Keduanya sebentuk simbol bahwa dalam kehidupan pasti ada karakter jahat dan karakter baik. Ada sifat yang pure manusia dan sifat yang berkerabat dengan iblis. Keduanya wajib ada sebagai penyeimbang roda kehidupan agar bertahan dalam perputarannya.

Eksistensi Salimin dan Dalimin ini tidak untuk mempertontonkan siapa yang menang dan kalah atau mana yang benar atau salah, tapi lebih kepada kemerdekaan meraih pemahaman mandiri dari sejumlah masalah yang telah terurai. Tuhan berkata: “Menjadi manusia saja sudah membuatKu tersenyum.”


Pemesanan bisa langsung ke penerbit atau WA penulis 081934989152

Kalender Penuh HBN dan HBI

Kalender Penuh HBN dan HBI

Ada sekitar 120 lebih hari nasional dan hari internasional yang ada dalam kalender Masehi manusia bumi. Di antara sekian hari itu ada yang dijadikan hari libur nasional bahkan cuti bersama. Sepertinya saya, dan mungkin orang lain sangat senang banyak hari libur, tapi tentu dengan catatan tidak jatuh pada hari Minggu.

Tidak anak-anak atau orang tua sungguh senang dengan warna merah pada kalender yang selain hari Minggu. Mungkin pemerintah bisa menyerap inspirasi dari masyarakat tanggal berapa lagi dan bulan apa yang bisa dijadikan hari besar nasional yang belum ada pada kalender. Hitung-hitung menambah hari libur.

Perhatian sederet tanggal yang menjadi hari nasional dan internasional berikut.


Apa lagi yang belum ada? Mari masukkan.










Peradaban Bersosial Media Indonesia Ibarat Rujak Berkaret Dua

Peradaban Bersosial Media Indonesia Ibarat Rujak Berkaret Dua

 



Netizen Indonesia kalau merujak omongan di sosial media ibarat rujak berkaret dua, sangat pueddes!!! Itulah yang kemudian menghasilkan data survey microsoft bahwa ranking peradaban netizen Indonesia dalam berkomunikasi di sosial media berada pada peringkat 29 se-Asia Tenggara, Katanya.

Itulah yang dirilis Microsoft berupa Indeks Keberadaban Digital (IKD) atau Digital Civility Index (DCI). Dalam survey tersebut ditunjukkan bahwa tingkat keberadaban pengguna internet atau netizen sepanjang tahun 2020 pada 16.000 responden di 32 negara pada tahun 2020 menunjukkan bahwa Indonesia ada di peringkat terbawah kedua dari 32 negara. Peringkat beradab tertinggi diraih oleh negara Singapura sedangkan peringkat pertama di dunia adalah Netherland.

Perilaku beradab yang dimaksud dalam laporan tersebut terkait dengan perilaku berselancar internet dan penggunaan aplikasi media sosial. Termasuk pula risiko terjadinya penyebarluasan berita bohong/hoaks, ujaran kebencian, atau hate speech, diskriminasi, misogini, cyberbullying, trolling atau tindakan yang sengaja untuk memancing kemarahan, micro-aggression atau tindakan pelecehan terhadap kelompok tertentu (kelompok etnis atau agama tertentu, perempuan, kelompok difabel, kelompok LGBTQ dan lainnya) hingga ke penipuan, doxing atau pengumpulan data pribadi untuk disebarluaskan di dunia maya guna mengganggu atau merusak citra seseorang hingga rekrutmen kegiatan radikal dan teror, serta pornografi.

Yang menarik survei ini mendapati bahwa netizen yang dinilai ikut mendorong anjloknya tingkat keberadaban adalah orang dewasa berusia di atas 18 tahun. Tercatat bahwa kelompok usia dewasa tersebut mencapai skor +16. Mengingat jumlah pengguna internet di Indonesia yang mencapai lebih dari 202 juta orang angka tersebut tentu sangat mencemaskan.

Microsoft juga mencatat keinginan 59 persen netizen agar perusahaan media sosial ikut memperbaiki tingkat keberadaban dengan berbagai cara. Sementara pihak yang berharap pemulihan dilakukan oleh pemerintah mencapai 48 persen, oleh institusi pendidikan 46 persen, dan oleh institusi keagamaan 41 persen. Bagaimana menurut anda?