Uji Sertifikasi Penulis dan Editor oleh Puskurbuk

Uji Sertifikasi Penulis dan Editor oleh Puskurbuk

 


Dalam pembukaan acara uji sertifikasi penulis nonfiksi dan editor. Selasa 10 November 2020 tepat pukul 09.00 secara daring, pejabat yang mewakili kepala puskurbuk, Prajoga Singgih menyampaikan pengantar bahwa perbaikan mutu penulis dan editor guna mendongkrak mutu buku itu sendiri.  Pelaksanaan uji sertifikasi tersebut dilaksanakan oleh LSP di bawah naungan Pusat Kurikulum dan Perbukuan (Puskurbuk) dengan jumlah peserta seluruhnya adalah 87 orang penulis dan editor asesi.

Menurutnya pula sejak 2019 sudah lulus 4000 penulis dan editor. sertifikat berlogo garuda emas dan berlaku internasional. Dalam penyampaian selanjutnya ada yang menggelitik. Ia membuat retorika: mengapa bangsa kita literasi bacanya rendah? Karena bukunya tidak menarik. Mengapa tidak menarik? Karena bukunya ditulis oleh orang yang tidak kompeten. Mengapa tidak kompeten?  Karena penulisnya tidak dibina. Itulah yang kemudian menjadi latar belakang dilaksanakannya sertifikasi penulis dan editor oleh puskurbuk dengan kuota terbatas.

Berdasarkan data dari perpustakaan nasional, setiap tahun ada 60.000 judul buku ber-ISBN yang terbit. Jadi sebenarnya tidak bisa dinyatakan bahwa tingkat literasi bangsa kita lemah. Itulah pernyataan berikutnya yang disampaikan oleh kepala LSP  Bambang Trim dengan sangat optimis. Mungkin bagi sebagian orang standar penulis dan editor yang periuknya bukan dari menulis dan buku, tidak masalah sertifikasi atau tidak, namun bagi yang periuknya dari hal tersebut, maka sangat penting standar ini dimiliki, lanjutnya. Kontraproduksi tersebut terjadi karena ada dua pihak yang berseberangan yakni pihak yang setuju dan tidak setuju sertifikasi tersebut dilaksanakan. Menurut hemat saya, apapun profesinya semestinya memang harus melalui prosesi sertifikasi tersebut sebagai bentuk portofolio bukti kelayakan atas profesi yang dibidangi oleh seseorang. Sebagai contoh guru, dokter, dan dosen telah melalui uji sertifikasi atas bidang profesinya.

 Hal lain, ia juga menyampaikan bahwa the next akan ada uji UKBI yakni kemahiran berbahasa Indonesia sebagai salah satu syarat sebelum melalui sertifikasi penulis dan editor. Hal itu dilakukan untuk tidak memberikan kesempatan pihak asing menjadi penulis atau editor bahasa Indonesia.

Pada bagian akhir acara pembukaan uji sertifikasi penulis dan editor tersebut kemudian dibuka langsung dan resmi oleh kepala Puskurbuk, Maman Fathurrohman, Ph.D. Dalam arahannya disampaikan bahwa secara profesi apapun sangat penting diuji dan disertifikasi sebagai standarisasi atas bidang yang digeluti. Itu pun sudah menjadi amanah dari Undang-Undang Nomor 3 tahun 2017 tentang Perbukuan.

Kepala puskurbuk juga berharap kepada puskurbuk agar lebih banyak lagi menilai buku-buku yang layak untuk bacaan di sekolah. Ia juga berharap semua bidang juga disertifikasi termasuk musik. Pemerintah sangat butuh para penulis dan editor yang profesional dan berstandarisasi. Ada proyek 300 judul buku pemerintah yang sedang direncanakan sehingga puskurbuk butuh sinergi dengan para penulis dan editor yang bersertifikat.