Ribut tentang Penayangan Film G30S PKI

Ribut tentang Penayangan Film G30S PKI


Ketika terjadi ribu-ribut tentang penayangan film G30S PKI di televisi, salah satunya yang ditayangkan oleh SCTV Minggu 27 September 2020, saya jadi merasa aneh. Mahfud, MD tegas-tegas menyatakan tidak ada larangan menonton dan menayangkan film tersebut. Sungguh netizen yang aneh! Dengan dalih film tersebut rekayasa orde baru? 

Di tengah-tengah merebaknya isu bangkitnya PKI di tengah-tengah masyarakat, menurut saya film itu pantas ditayangkan. Selain belum ada film versi baru yang independen, secara hakiki pesannya sudah tersampaikan bahwa PKI terlarang hidup di negara yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945, di negara yang masyarakatnya beragama. 

Kalau merasa film tersebut tidak sesuai dengan kebutuhan nafsu pribadi atau tidak logis menurut pendapat orang per orang, negara dan bangsa dengan jaminan UUD 1945 berhak membuat versi tandingan film yang baru sama sekali. Tapi tunggu, pembuatan film tersebut membutuhkan waktu sekitar dua tahun untuk rampung dan layak tayang. Dan, pada tahun pembuatannya sekitar 1984, menguras dana 800 juta rupiah. Entah berapa duit kalau dikonversi ke nilai uang sekarang. Mampu? Makanya jangan banyak protes, tidak suka yang buat sendiri, hahaha!

Surat Terbuka Lufy Jung untuk Kata Bintang

Surat Terbuka Lufy Jung untuk Kata Bintang

 


Kepada: Kata Bintang

Di tempat

 

Selamat Ulang Tahun Kata Bintang.

Mungkin kata ini telat saya sampaikan. Namun saya tetap berharap tidak kehilangan maknanya, setelah satu Tahun saya bersama denganmu.

 

Surat ini hanya berisi ungkapan terima kasih saya pada Kata Bintang. Sebagai seseorang yang memiliki perbedaan mencolok di antara teman-teman. Saya ingin mengungkapkan perasaan saya melalui surat ini yang jarang saya ungkapkan.

 

Saya sangat senang di kata bintang, tidak ada persaingan di antara kita. Seperti yang terjadi di beberapa komunitas dan antar penulis. Dimana mereka saling menyombongkan diri. Saling menonjolkan diri dan menekan yang lemah. Meremehkan orang lain dan memberi batasan dalam berkarya. Dan akhirnya saya yang diberikan kelebihan merasakan banyak aura di sekitar merasa tertekan, sesak dan lelah akibat energi negatif dari orang sekitar saya. bukan berarti para penulis yang seperti itu jahat. Mereka orang baik, berniat baik namun tanpa sadar cara mereka justru beraura negatif. (Catatan :  Komunitas yang saya maksud bukanlah komunitas tertentu. Saya banyak bergabung dengan beberapa komunitas sebelum menemukan Kata Bintang. Dan juga banyak bertemu para penulis lain jauh sebelum bertemu Kata Bintang. Hanya saja pribadi saya yang tertutup memang sulit membuka perjalanan karir saya yang menulis sejak tahun 1999. Karena apa karena orang lain tidak perlu tahu itu. Dan belum tentu orang lain ingin mendengar perjalanan karir menulis saya.)

 

Di dalam komunitas kata bintang ini saya bisa bernapas. Seolah saya menemukan ruang nyaman yang memberikan saya peluang untuk menjadi diri saya sendiri dan tidak harus tertekan maupun dipaksa mengikuti jalan orang lain. Saya merasa nyaman dengan keadaan saya yang berbeda di sini.  Kita saling mendukung. Saling mendorong dan memotivasi tanpa perlu mendikte, agar sinar kita semakin terang sesuai proporsi kita, bakat kita, dan kemampuan kita.

Saya menulis ini bukan bermaksud mendiskriminasi komunitas lain. Saya hanya berbagi pengalaman saja. Dari sekian banyak komunitas kepenulisan, mengapa saya betah di komunitas ini dan masih berpikir ribuan kali bahkan enggan masuk komunitas lain. Karena hanya di komunitas ini saya bisa 'Bernapas'. Saya bisa 'Merdeka'. Menjadi diri sendiri dan berkembang sesuai bakat dan kemampuan saya.

 

 Karena kita tidak bisa bersinar sendiri tanpa bantuan orang lain.

Karena itulah saya mengucapkan 'Terima kasih Kata Bintang'. Telah memberikan saya tempat  yang nyaman untuk saya berkembang dan berkarya. Semoga kita bisa bersinar bersama. Seperti bintang di langit yang berserakan menjadi keutuhan yang maha indah. Karena jika saya hanya bersinar sendiri. Cahaya saya akan kehilangan makna dan keindahanya.

 

Itulah ungkapan perasaan saya. Orang lain belum tentu memiliki penilaian dan pendapat yang sama. Dan saya sangat menghormati setiap perbedaan yang ada. Sekian surat dari saya.

Salam untuk semuanya. Sukses Berkarya

 

Lufy Jung

Penulis Receh

Buku Baru: Superimajinasi

Buku Baru: Superimajinasi


Buku ini memuat bahasan tentang alam semesta yang berbentuk hologram, manusia yang holografik, dan suara yang holophonic. Semesta dan manusia holografik, serta suara holophonic kemudian diaplikasikan dalam cara tertentu untuk mencapai impian dan kesuksesan.

Di dalam buku ini juga dilengkapi dengan teknik khusus yang dinamakan superimajinasi periskopik yang memanfaatkan sifat holografik dan holophonic untuk mengubah energi yang terpancar dari imajinasi ke semesta menjadi hal atau bentuk yang dicita-citakan. Sangat mirip dengan materi pelajaran tentang perubahan energi. Dari gas menjadi padat atau sebaliknya. Sungguh ini merupakan cara yang evolusional. Terobosan baru dalam fisika quantum.

Seandainya buku itu dijual seharga 100 ribu, maka sesungguhnya akan memperoleh 100 juta. Buku yang layak dimiliki, pantas dicoba, dan dibuktikan.  

Apa Kabar Kelamin?

Apa Kabar Kelamin?

06 Mar @Kolom oleh Taufiku

Terlambat setengah jam dari jadwal yang tertera di undangan ketika saya menjejakkan kaki di Dapur Kultur. Ruangan yang dindingnya banyak gambar tokoh pejuang itu telah dipenuhi peserta bincang buku. Hampir tidak ada kursi kosong. Di deretan depan, tak jauh dari kursi yang diduduki Mas Herianto, penulis buku yang akan dibedah, tersisa satu kursi kosong. Di kursi itulah saya duduk.

Acara ruang tamu yang digagas komunitas membaca Tore Maos sore itu membedah buku Bibir Merah Dari Alhambra (BMDA). Saya mendapatkan buku bersampul putih dengan gambar bibir merah merekah ini seminggu sebelumnya dari penulisnya.

Seorang gadis tanggung duduk di depan peserta sedang bernyanyi. Ia memakai kerudung dan celana berwarna hitam. Bajunya berwarna merah seperti merah warna tulisan di sampul buku yang hendak dibincangkan. Ada motif bunga di kedua lengan bajunya. Sesekali ia tersenyum kepada orang-oranng di depannya, tetap sambil bernyanyi. Santai sekali, seperti menikmati lagu yang dilantunkannya. Sesekali pula tangannya menyentuh layar hape yang dipegangnya. Mungkin membaca lirik yang tidak begitu dihafal atau entahlah saya tak tahu apa yang dilihatnya.

Di samping kanan gadis, duduk remaja laki-laki berkacamata. Di pangkuan lelaki berkaos hitam itu ada gitar berwarna cokelat yang dari tadi tak berhenti mengeluarkan bunyi. Di atas paha kirinya yang dibungkus celana hatam, ada hape yang layarnya menyala. Pandangan remaja itu tak lepas dari hape. Mungkin melihat kunci nada lagu yang dimainkannya.

Satu lagi lelaki yang duduk di hadapan peserta. Di depan memang ada tiga kursi dan satu meja, tetapi yang seorang ini tidak di kursi. Ia duduk di kotak kayu yang dipukulnya dari tadi. Pukulannya berirama, rancak dengan suara gitar dan lagu yang dinyanyikan gadis.

Setelah saya mendengar dua lagu dinyanyikan, tiga anak muda itu berpindah tempat ke deretan kursi di belakang. Tiga kursi di depan diganti S.Herianto, pria bersandang tas, dan seorang perempuan yang kedua orang itu saya tak mengenalnya. Perempuan duduk di kursi kanan, Herianto di kursi tengah, dan lelaki itu di kursi sebelah kiri.

Perempuan yang saya sebut tadi rupanya menjadi moderator dalam perbincangan itu. Ia mulai memperkenalkan dua lelaki yang duduk di sebelahnya kepada peserta. S.Herianto penulis BMDA sehari-hari mengajar di SDN Pangarangan III. BMDA adalah buku solonya yang kelima.

Pria di samping Herianto adalah guru SMA I Sumenep. Namanya Hidayat Raharja. Ia penyair Sumenep yang sore itu akan membedah buku BMDA.

Hidayat memulai analisisnya dengan menyayangkan kedataran konflik di cerpen pembuka. Ya, BMDA merupakan antologi cerpen. Judul cerpen pembuka sekaligus menjadi judul buku ini.

Yang sangat menarik menurut guru biologi ini, justru cerpen terakhir dengan judul Apa Kabar Kelamin. Cerpen ini mengisahkan seseorang yang kehilangan telinga kanannya. Tak adanya dau telinga sebelah ini menyebabkan ia selalu mendengar kata kelamin dalam setiap pembicaraan. Kisah ini sangat aktual dengan kondisi kekinian saat masyarakat tidak banyak yang mempergunakan telinganya. Mereka lebih banyak menggunakan mulutnya hingga banyak bicara dan berebut bicara.

Genetika spritual yang dikandung buku ini ada dalam cerpen Tuhan Mengapa Aku Dimasukkan ke Surga? Badrul menolak masuk ke surga karena merasa tidak pernah berbuat kebaikan. Ia mengajak Tuhan berdialog. Cerpen ini syarat pesan moral dan spritual.

Puisi Maut dan Tuhan Aku Lelah adalah dua cerpen diantara cerpen lainnya yang dikupas di sore itu. Moderator yang turut berkisah pengalamannya saat membaca buku ini dihantui kecemasan. Bayang kematian mengancam dirinya hingga ia melompati cerpen yang memuat puisi berbahasa benua Afrika. Cerpen setelahnya bertutur tentang kemanusian.

Berbeda dengan Hidayat, Juwairiyah, sastrawan muda Sumenep yang hadir dalam perbincangan kala itu justru menemukan prospek gemilang dalam cerpen BMDA. Cerpen roman ini akan diburu kaum remaja bila dipublikasikan di media dengan segmen remaja.

Setiap karya punya takdir masing-masasing. Entah seperti apa takdir selanjutnya. Yang pasti buku ini sekarang telah ditakdirkan lahir dan saya turut berbahagia dengan kelahirannya.


Sumber: 

https://taufiku.gurusiana.id/article/2019/03/apa-kabar-kelamin-676936?bima_access_status=not-logged

Novel Baru: BLUE EYES  (Kisah Cinta Tiga Negara)

Novel Baru: BLUE EYES (Kisah Cinta Tiga Negara)

 


Latar tempat, bahasa, sejarah, dan budaya kisah cinta dalam novel ini adalah Yogyakarta, Indonesia; Istanbul, Turki; dan Granada, Spanyol. Berikut potongan paragraf di dalamnya.

 Setangkai mawar segar, dibungkus kertas yang bertulis puisi tentang rindu dan cinta. Kalau cinta dan rindu itu mawar, maka benar bahwa keindahannya tetap menusukkan duri menjadi luka. Rindu itu menyiksa dan menyiksa itu luka. Dan, luka itu manis. Siapapun yang terluka karena cinta dan menanggung rindu, ia akan enggan sembuh dari luka itu.

 “Tataplah mataku, Kelana. Aku bersaksi dengan mata biruku ini dan bibir merah yang kamu suka ini, aku siap untuk menjadi isterimu lahir batin! Bukan karena aku terusir dari rumah, tapi karena hatiku memilihmu!”

 Hanya senyummu yang melukis semesta begitu indah. Gemuruh ombak pasang tak segemuruh risau di dada memanggilmu. Laut itu, pantai itu, pasir itu, dalam dadaku. Kau bermain di dalamnya. Dan kau tak sadar. Tak sadar menghuni hati. Hai bibir yang merah. Bisunya saja melagukan kesyahduan. Bila cinta itu keindahan, kuburkan aku bersamanya. Hai mata yang bintang, jika mata itu menenangkanku, hantam dan bakar aku dengan bintangmu. Terangilah hati ini dengan cintamu agar kau tahu siapa pemilik hati yang kau huni dan katakan: aku tak mau pergi. Aku selamanya di sini bersamamu.

 Ada tiga judul lagu dalam novel ini yaitu: Uskudara Giderken, Habla Me, dan Sultanim. Ketika tepat pada judul lagu itu disarankan untuk diputar sambil meneruskan membaca. Pasti mengalami sesuatu! Keren!