Pak Cemplon Manggoloyuda

Pak Cemplon Manggoloyuda

 


 

Seorang penjual di tanah kaki lima yang luar biasa. Pengunjungnya begitu banyak. Ia dikerubungi massa yang awalnya menonton leluconnya. Saking hebatnya bermain harga, yang dalam beberapa detik saja harga berubah dan murah secara akal jika dibandingkan dengan harga di pasar normal, pengunjung akhirnya tertarik membeli walaupun pada awalnya tidak ada niatan berbelanja.

Nama Pak Cemplon viral di youtube sebagai pedagang yang lucu dalam lawakan berbahasa Jawanya. Ia bias menciptakan harga yang fantastis. Dari harga awal missal satu juta, bias ia turunkan hingga sepuluh ribu. Ia benar-benar tuhan bagi barang dagangannya yang bebas mencetak harga. Tentu harga tersebut berdasarkan harga lebih tinggi sedikit dari harga kulaknya.

Pria berkumis yang sumringah itu selain berjualan, ia juga sering memberikan joke-joke yang nasionalis seperti Pancasila dan lagu-lagu wajib nasional. Pengunjung yang hafal Pancasila atau lagu tersebut ia beri hadiah gantungan kunci atau uang lima ribu rupiah. Dengan harga yang minim dari semua dagangannya tersebut ia sengaja bersedekah. Membuat orang gembira merupakan salah satu kredo berdagangnya. Sungguh luar biasa.

Pak Cemplong juga menunjukkan bahwa dirinya orang yang setia. Ia selalu menyebut dan memperkenalkan isteri dan anak-anaknya. Ia menunjukkan foto mereka kepada pengunjung. Ia selalu menyebut nama isterinya: Sumiati.

Nama sebenarnya Pak Cemplon adalah Lasono, 56 tahun, warga Dukuh Sendang, Desa Jetis, Kecamatan Karangnongko, Klaten, Jawa Tengah.

“Mangewu..! ji, ro, lu, pat, mo, nem, tu, wolu, sanga, sepuluh. Mangewu!” (lima ribu, satu, dua, tiga, empat dan seterusnya). Itulah celotehnya dalam berjualan. Untuk dapat melihat aksinya dapat pembaca telusur di aplikasi youtube dengan mengetikkan nama Pak Cemplon.

Stream of Consciousness (SOC) Putu Wijaya dalam Berkarya

Stream of Consciousness (SOC) Putu Wijaya dalam Berkarya

 


Putu Wijaya kecil pernah dimarahi gurunya lantaran menulis tentang musim semi saat ditugaskan untuk mengarang di sekolah. Sang guru menganggap di Indonesia tidak ada musim semi, dan menilai Putu Wijaya terlalu jauh berkhayal. “Pada saat itu saya diam saja, saya tidak berani melawan karena dia guru,” begitu kata Putu Wijaya ketika menceritakan sepotong kisah masa kecilnya.

“Saya membaca apa saja, saya juga membaca koran nasional Star Weekly yang diberikan kakak saya, di dalamnya ada cerita pendek, cerita bersambung, cerita detektif, dan cerita silat,” begitu kata Putu Wijaya menambahkan.

Dari kegemaran membaca sejak kecil, memunculkan keinginan untuk menulis dan menghasilkan buku seperti apa yang dibacanya. Kemudian proses kreatif Putu Wijaya berkembang, sehingga dirinya ingin sekali menulis dengan caranya sendiri, yang orang lain tidak suka, menulis berdasarkan keinginannya yang paling jujur. Dari hal tersebut kemudian Putu Wijaya menuliskan sesuatu "semaunya" sendiri, sesuatu yang berdasarkan pengalamannya sendiri. Awalnya Putu Wijaya tidak mendapat dukungan, mengingat orang tua di zaman dulu tidak merasa bahwa kesenian sesuatu yang bisa memberikan janji kesejahteraan dahulu masyarakatnya masih beranggapan kesenian hanyalah sambilan.

Menulis "semaunya" merupakan pengakuan jujur kepada diri sendiri yang tidak dimiliki orang lain. Menulis semaunya tentang pengalaman pribadi yang konyol tentu menjadi sesuatu yang khas jika dibaca orang lain. Kemudian dari tahap itu, pencarian Putu Wijaya makin berkembang dan tidak lagi menuliskan hal-hal yang bersifat pribadi, tetapi menulis tentang lingkungan di sekitarnya. Kemudian lebih berjarak lagi dengan menuliskan tentang orang lain, menuliskan tentang isu-isu terhangat dari berita yang diendapkan sehingga menjadi sebuah tulisan fiksi yang bisa diterima banyak orang. Sampai pada akhirnya Putu Wijaya menemukan gaya kepenulisannya sendiri.

Putu Wijaya menilai perkembangan sastra di Indonesia saat ini sangat baik. Hanya saja kadar sastra dalam sebuah karya sastra kini malah menjadi berkurang. Menurutnya ada beberapa hal yang menyebabkan hal tersebut, yang pertama adalah makin banyaknya penerbitan. Dulu buku yang akan diterbitkan melalui seleksi ketat. Sekarang sesuatu yang diterbitkan bukan jaminan bahwa isinya bagus.

Yang kedua, Putu Wijaya juga menangkap adanya kecenderungan penulis pemula yang menulis dengan tujuan untuk menjadi kaya terdorong menulis sesuatu yang lebih pop, yang dirasa lebih book seller sehingga membuyarkan konsentrasi dan mengarahkan mereka untuk menulis yang lain.

Gejala-gejala ini menurut Putu Wijaya merupakan ekses dari pelajaran sastra yang tidak diperhatikan di sekolah, dibuang dan dianggap tidak penting. Padahal pelajaran mengarang, bahasa, dan sastra di sekolah sangat penting untuk mendidik orang agar mampu menata pikirannya, karena sastra bukan hanya perkara berkhayal, melainkan juga membuat perhitungan, membuat strategi, dan berakal.

Selain dikenal sebagai sastrawan yang mencipta banyak tulisan fiksi, baik novel maupun cerpen, Putu Wijaya juga dikenal sebagai pendiri sekaligus sutradara Teater Mandiri yang mengusung konsep “bertolak dari yang ada”. Konsep ini merupakan formula dalam berkesenian yang menuntut setiap individu untuk berpikir lebih kreatif.

Putu Wijaya juga telah melanglang buana ke Prancis (1974), Jerman (1985), Amerika, Jepang (2001) untuk mengusung misi kesenian yang ia yakini sebagai kredo. Juga pernah mengajar di Amerika Serikat dalam rentang tahun 1985-1988.

Di samping itu, Putu juga menjadi sutradara film dan sinetron serta menulis skenario sinetron. Film yang disutradarainya ialah film Cas Cis Cus, Zig Zag, dan Plong. Sinetron yang disutradarainya ialah Dukun Palsu, PAS, None, Warteg, dan Jari-Jari. Skenario yang ditulisnya ialah Perawan Desa, Kembang Kertas, serta Ramadhan dan Ramona. Ketiga skenario itu memenangkan Piala Citra.

Sejumlah karyanya, baik drama, cerpen, maupun novel, telah diterjemahkan ke dalam bahasa asing, antara lain bahasa Inggris, Belanda, Prancis, Jerman, Jepang, Arab, dan Thailand. Gaya Putu menulis novel tidak berbeda jauh dengan gayanya menulis drama. Seperti dalam karya dramanya, dalam novelnya pun ia cenderung mempergunakan gaya objektif dalam pusat pengisahan dan gaya stream of consciousness dalam pengungkapannya.
Putu berani mengungkapkan kenyataan hidup.

Stream of Consciousness (SOC) dalam dunia kepenulisan adalah sebuah jenis penulisan narasi yang menggambarkan perasaan dari tokoh. Dengan kata lain SOC adalah narasi yang menyajikan isi hati atau pembicaraan si tokoh tersebut dengan dirinya sendiri. SOC bisa juga disebut Inner Monologue. Ia sengaja menggunakan gaya tersebut agar lebih dekat kepada pembaca. Setidaknya ada proses komtemplasi menanyakan kembali sisi kemanusiaan yang masih tersisa.

Seperti dalam banyak karyanya, Putu juga lebih dekat dengan lingkungan orang-orang Islam. Begitu dekatnya sehingga pada tahun 1977, Putu bersaksi sebagai seorang muslim dengan melangsungkan pernikahannya bersama Renny Djadjoesman. Dalam pernikahan kali itu, Putu memberikan mahar berupa rangkaian puisi dan surat cinta yang indah dan puitis.

“Buat saya satu sensasi indah yang mengagumkan. Waktu itulah saya mulai merasakan nikmat anugerah-Nya walau hanya dari segelas teh manis di saat buka.” Komentarnya ketika selalu ikut-ikutan berpuasa sebagai bentuk solidaritas sebelum benar-benar Muslim.

Kini, akibat kelainan pembuluh darah pada sistem saraf pusat yang dideritanya pada tahun 2012, Putu masih harus menjalani fisioterapi karena terdapat pendarahan di batang otak sehingga tangannya sulit digerakkan. Sebagai penulis, penyakit itu membuatnya menjadi samurai tanpa pedang. Ia menjadi penulis yang tak bisa menggerakkan tangan untuk menulis. Pun begitu, ia masih terus aktif berkarya dengan cara mendiktekan kalimat-kalimat kepada istri atau anaknya yang kemudian diketik oleh mereka.

Ia juga masih terus menjalankan puasa di tengah perjuangan melawan penyakit dan okupasi. Selama dua jam selama tiga hari dalam seminggu ia datang ke Siloam Hospital Karawaci untuk berlatih. Ia memindahkan tabung-tabung kecil dari lubang asal ke lubang lainnya. Terkadang, Putu juga melakukan perenggangan dengan berjalan mondar mandir. Baginya, ibadah bukan menjadi bagian terpisah, melainkan harus melekat dalam diri.

Hidup Adalah Perjalanan Panjang yang Tak Ada Titiknya
Semakin tua usia seseorang, Putu Wijaya menyadari masih banyak yang belum dilakukannya. Bahkan dirinya menganggap pesan yang ingin disampaikan kepada orang lain melalui berbagai karya sastra yang telah diciptakannya tidak sampai dengan utuh. Selain menjadi persoalan, hal tersebut oleh Putu Wijaya juga disyukuri dan dijadikan sebagai pelecut semangat dalam diri untuk terus produktif di jalan kesenian.

Walaupun dengan segudang prestasi dan penghargaan yang diterimanya, baik penghargaan dalam dan luar negeri, bahkan gelarnya sebagai si peneror mental karena gaya menulisnya yang Stream of Consciousness (SOC), doctor honoris causa, titel insinyur yang tak pernah dipakai dalam berkesenian, dan dengan semua pengalamannya yang luar biasa, ia anggap belum utuh pesannya tersampaikan dalam karyanya. Kemungkinan saluran mampet tersebut akibat dari beberapa karyanya sangat absurd sehingga sulit dicerna oleh nalar pembaca umum. Atau bisa saja alur pikir pembacanya yang mampet.

Bagi Putu Wijaya segala kesalahan dan kegagalan yang terjadi merupakan peluang untuk melangkah lebih jauh. Karena di dalam pencarian yang tidak tuntas sesungguhnya terdapat hikmah agar manusia terus mencari. Hidup adalah pencarian yang tak pernah selesai; ketika sampai pada satu titik, manusia akan dihadapkan pada titik yang lain, begitu seterusnya hingga manusia menyadari bahwa apa yang dicari sesungguhnya tidak ada.

Pernah beberapa kali di tahun 1994 ketika Putu merampungkan Sinetron PAS dan Dukun Palsu, penulis berkorespondensi. Ada beberapa hal yang ia sampaikan antara lain: “Mengarang adalah pekerjaan, menguasai teknik adalah buah berlatih menulis terus menerus; punya perhatian itu artinya punya bakat, tapi bakat saja tidak cukup; perjuangan yang paling berat adalah diri sendiri, dan sebagainya. Selain sebagai penulis piawai, ia juga motivator yang ulung. Pesannya diterima di hati dan menjadi semangat berkarya hingga sekarang. Ia mengakhiri motivasinya dengan menyatakan “hidup adalah perjalanan panjang yang tak ada titiknya.

 

Penulis: S. Herianto

Bahan dari berbagai sumber termasuk tulisan Putu Wijaya kepada penulis.

Detektor Logam Merekonstruksi Kejayaan Masa Lalu

Detektor Logam Merekonstruksi Kejayaan Masa Lalu

 


 

Ada dua kelompok masyarakat yang memiliki andil terkuaknya kejayaan masa lalu. Kelompok pertama, bertujuan menemukan benda-benda peninggalan kejayaan  masa lalu untuk memenuhi kebutuhan ekonomi. Kelompok kedua, bertujuan mengungkan sejarah masa silam sebagai bukti kecintaan terhadap leluhur nusantara. Kelompok pertama dan kedua kemudian berkolaborasi membuat sketsa kejayaan masa lalu dengan cara merestorasi benda-benda peninggalan tersebut.

Kelompok pertama yang melakukan penggalian sejarah menggunakan alat detektor logam. Beberapa benda yang ditemukan antara lain koin perak, perunggu, dan emas. Ada pula yang berbentuk pusaka seperti keris, pedang, dan bentuk senjata dan pusaka yang berjenis loga. Ada ditemukan pula butiran dan serbuk emas. Ada pula lembaran surat yang terbuat dari loga berlapis emas, bahkan topeng yang terbuat dari emas. Kelompok kedua, banyak berstatus sebagai kolektor. Hasil temuan kelompok pertama kemudian diterima dengan jumlah mahar tertentu untuk dimilikinya.

Beberapa kelompok pertama yang bermunculan dalam media digital antara lain: MD Majeni, GM 1000 Sulawesi, Rony Prasetia, dan sebagainya yang dapat ditemukan di youtube channel. Kelompok kedua dapat ditemukan di tempat yang sama dengan nama akun: Ethnic Indonesia Channel, kopiganes, Majapahit Collection, Indonesia Majapahit Channel, dan sebagainya. Kelompok ini bisa disebut sebagai kelompok yang berjenis kolektor.

Pada kelompok yang sama, ada jenis lain seperti pemerhati dan pecinta budaya. Nama-nama yang dapat disebutkan antara lain Herry Saptono (Surabaya). Benda-benda sejarah yang milikinya kemudian dijadikan museum pribadi yang sekaligus dibuat kafe sehingga dapat dikunjungi siapa saja. Nama pihak lain berupa tim pada  Indonesia Majapahit Channel yang berjelajah nusantara khusus menemukan situs-situs Kerajaan Majapahit. Entah sebagai catatan sejarah atau budaya atau sekedar melirik monetize dari youtube.

Beberapa benda peninggalan yang bersejarah sangat banyak dikoleksi oleh orang-orang tertentu. Tentu dengan pembiayaan yang sangat besar, baik dari segi pemaharan benda tersebut atau pun dari sisi perawatan. Pihak ini antara lain Rovi Cahyono (Surabaya). Ia memiliki koleksi keris, pedang, dan senjata lain dari jenis yang kuno dan langka. Bahkan ia berniat membangun museum yang dapat dinikmati oleh masyarakat milenial.

Pihak kedua adalah pemilik channel Majapahit Collection. Ia memiliki koleksi berbahan emas mulai dari pusaka, cindera mata, perhiasan, bahkan topeng. Semua koleksi tersebut adalah miliknya secara pribadi.

Dua kelompok tersebut yang banyak bermunculan di media terutama youtube channel. Pasti banyak kelompok dan pihak yang tak terpublikasi ke media. Itu artinya sangat banyak temuan yang dimiliki pribadi masyarakat Indonesia bahkan para kolektor tersebut berdarah keturunan tertentu.

Banyaknya temuan benda-benda peninggalan kejayaan masa lalu yang bermunculan apakah hal tersebut menjadi tanda lahirnya kembali kejayaan nusantara sehebat masa lalu? Ataukah itu sebuah tanda bahwa masyarakat milenial kini telah banyak yang melupakan sejarah? Ini tampak harus kembali pada diri kita masing-masing sebagai bentuk instrospeksi. Yang jelas sejarah dipastikan perlu direkontruksi ulang sehingga muatan pelajaran sejarah bangsa menjadi lurus dan benar.

 

 

 

Penulis Si Peternak Sapi

Penulis Si Peternak Sapi

 



Setelah namanya melambung dengan Batman Teacher, Widayanti kembali menjadi perhatian publik. Sebagai guru atau penulis, mungkin masih berhubungan karena juga seharusnya menjadi penulis, tapi ketika ia adalah si peternak sapi, pembaca mulai mengernyitkan dahi. Benarkah Widayanti beternak sapi? Hal ini akan dibahas di bagian akhir tulisan ini.

(Reportase S. Herianto)


Batman Teacher adalah salah satu buku pengalamannya menjadi guru di pulau Sepudi, Kabupaten Sumenep. Nama batman berasal dari nama desa yang berada di Kecamatan Gayam yakni Kalowang atau kelelawar (Inggris: bat). Dipilihlah nama tersebut sebagai judul pada buku tersebut dan sempat diterjemahkan dalam dua bahasa yakni Inggris dan Mandarin. Batman Teacher pernah mampir di Cina sebagai oleh-oleh dan kebanggaan guru Indonesia untuk para guru di Cina.  Jauh sebelumnya Batman Teacher merupakan karya terbaik, juara dalam sayembara menulis yang diadakan mediaguru. Buku tersebut selain dicetak gratis dalam jumlah besar, berkah secara ekonomi juga diperoleh Widayanti. Buku tersebut tercetak dengan nama penulisnya yakni Widayanti Rose. Keren!


Serah Terima Cinderamata dari pihak Cina


Ada cerita singkat yang sederhana dari pengambilan nama pena Widayanti Rose. Widayanti adalah nama asli sedangkan Rose adalah potongan nama akun sosial media suami. Jadilah hingga sekarang nama penanya: Widayanti Rose. Cukup simpel, tapi menarik. Secara komersial nama tersebut juga memiliki hoki tersendiri. Terbukti selain sebagai pelopor, penyemangat berkarya di bidang literasi, Widayanti juga sebagai guru yang kreatif dan inovatif. Tidak salah jika beberapa kali Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melirik namanya. Saat ini ia bertugas sebagai instruktur guru merdeka belajar juga merupakan kepercayaan kemendikbud kepadanya. Sebuah tugas mulia menjadikan guru sebangsa menjadi lebih bermutu. Saat ini ia mengajar di SDN Kapedi 1, jauh dari pusat kota kabupaten Sumenep. Sekolah boleh desa, tapi keberuntungan kota!

Ia mengaku mulai menulis sejak sekolah di madrasah tsanawiyah Pondok Pesantren Annuqayah. Usia belasan tahun sudah menulis. Karya pertamanya berupa cerita pendek (cerpen) berjudul Tembang Kehidupan. Cerpen tersebut dimuat pada majalah pondok yakni Yasmin. Ia mengakui cerita pertamanya tersebut tentang cinta. Yah, cinta versi anak remaja di masanya.

Kemudian ketika ditanya mengapa ia menulis? Menulis itu mengasyikkan, imajinasi mengalir ke mana pun yang kita inginkan. Kita bisa menjadi apa saja dan siapa dalam tulisan. Dengan dasar imajinasi itulah hampir semua kesuksesannya baik dalam bidang profesinya sebagai guru atau bidang literasi yang ia tekuni sudah ada dalam benak imajinasinya yang menunggu waktu terwujud.

Ada pula kisah menarik ketika ia mengikuti sebuah acara di kemendikbud, anak keduanya—yang masih harus digendong dan dibawa ke mana-mana—ia kenalkan kepada Pak Menteri Pendidikan yang kala itu adalah Bapak Muhajir Efendi. Tentu hal tersebut juga menyerap banyak perhatian dari berbagai kalangan. Bilqis, yang bayi itu sempat berfoto dengan Pak Menteri ‘siapa tahu kelak anakku menjadi menteri.’ Komentarnya di depan Pak Menteri.


Berbincang Bersama Menteri Pendidikan dan Kebudayaan 2019


Selain itu di bidang literasi juga ia menjadi ketua Komunitas Kata Bintang. Berawal dari sebuah komunitas yang bernama Sumenep Berkarya yang ditekuni bersama beberapa orang temannya, kemudian secara resmi berganti nama dan meluaskan sayap menjadi Kata Bintang yang diluncurkannya pada 25 Agustus 2019 lalu. Dengan nama yang beda dengan jumlah anggota lebih banyak, juga dengan mesin produksi yang kuat. Beberapa buku yang telah berhasil dicetak dan diterbitkan antara lain: Tadarus Kata, Catatan Harian Terakhir Jessica, dan sebagainya.

Ulang tahun kedua Kata Bintang diselenggarakan di masa pandemi. Walaupun sederhana hanya mengundang anggota dan beberapa pejabat daerah yang peduli, Kata Bintang yang dipimpinnya meluncurkan enam buku baru karya anggota. Beberapa media meliput dan mewawancarainya dan tentu berdampak makin luasnya nama Widayanti Rose sekaligus Kata Bintang yang dipimpinnya. Dalam acara tersebut kembali Kata Bintang meluncurkan karya terbarunya antara lain: Tadarus Kultur, Kupu-Kupu Emas, Istana di Atas Awan, dan sebagainya sehinga jika dirata-rata karya Komunitas Kata Bintang di atas sepuluh judul buku.

Tiga kali Februari dalam beberapa tahun terakhir menjadi masa dukanya. Bulan itu adalah hari ibunda tercintanya meninggal dunia. Cukup lama stagnan berkarya, namun tetap selalu memberikan motivasi berkarya kepada anggota Kata Bintang bahkan ke beberapa lembaga pendidikan tetap menularkan semangat berkaryanya. Sebagai motivator, suaranya diterima banyak kalangan karena memang terbukti karya-karyanya memang luar biasa.

Selain kesibukan mengajar, ada bocoran lain tentang ibu dua anak ini. Ternyata diam-diam memiliki anak asuh. Tiga anak saat ini yang di bawah tanggungannya bersama keluarga. Ada nama Ayu, umur sepuluh tahun. Ada nama Shila, saat ini telah berusia tujuhbelas tahun. Dan yang ketiga, Ahmad Lintang, umur empat tahun. Yang menarik, anak asuhnya yang terakhir ditemukannya secara tidak sengaja dalam perjalanannya ke Jakarta dalam rangka undangan Kemendikbud pada program komunitas praktisi. Nama anak asuh yang ketiga tidak jauh beda dengan nama puteri sulungnya: Bintang. Bintang dan Lintang memiliki makna yang sama. Intinya sebagai guru, mengasuh anak atau murid merupakan panggilan jiwa, lanjutnya.

Benarkah Widayanti beternak sapi? Nah, saatnya mulai dibahas. Usaha ternak sapi tersebut bermula dari rasa prihatin Widayanti menyaksikan masyarakat sekitarnya menua tanpa penghasilan terutama walimurid. Dengan awalan niat membantu memberikan kesibukan yang menguntungkan mulailah ia membeli beberapa ekor sapi untuk diserahkan kepada walimurid untuk dirawat. Tentu ada bagi hasil. Setidaknya kelak dapat membantu meringankan beban wali murid. ‘Selain itu, saya juga punya alasan untuk bisa silaturrahmi,’ tegasnya.

Usaha ternak sapi tersebut beberapa waktu kemudian membuahkan hasil. Ia menambah beberapa ekor sapi lagi dan diserahkan kepada walimurid lain yang membutuhkan. Setidaknya memberikan kesibukan yang berarti. Tidak akan merugi karena semua keperluan sapi seperti vitamin, makanan (selain rumput), mungkin sesekali uang lelah, sudah dari pemilik sapi. Tugas utama penggembala hanya merawat dan menjaganya.

Apa yang terutama penting pada tulisan ini? Letupan semangat. Semangat berjuang tak pernah kenal lelah. Dedikasi, rasa peduli pada lingkungan terutama pada walimurid yang lemah dan membutuhkan uluran tangan. Dan, imajinasi. Imajinasi merupakan alat pengantar ke tujuan. Imajinasi adalah doa dalam diam. Selebihnya berpasrah, yakni titik yang tepat berada di tengah-tengah antara rugi dan untung dalam segala hal karena buah dari usaha sebenarnya adalah bonus dari Tuhan. Itulah sekilas kisah tentang Widayanti Rose, penulis yang peternak sapi. 



Belajar Budheg Kepada Bolot

Belajar Budheg Kepada Bolot

Belajar Budheg Kepada Bolot

 

 


Pasti kenal dengan maestro komedi Bolot. Nama lengkapnya sebenarnya adalah Muhammad Sulaeman. Lahir di Bogor tahun 1942 pada masa pendudukan penjajah Jepang. Ia mendapat juluk Bolot karena setiap aksi lawaknya ia berperan sebagai orang yang tuli parsial. Ia hanya mendengar hal-hal tentang wanita dan uang dengan jelas.

Dari beberapa lawakannya baik di televisi maupun di media lain ia selalu berperan sebagai orang tuli sebagian. Ia sangat cocok berpartner dengan tokoh pelawak lain seperti Mali, Andre, dan Sule. Ia juga pemeran dalam film Pepesan Kosong.

Siapapun yang ngajak bicara dengan Bolot, pasti akan mengulang-ulang. Semakin lama, semakin nyaring dan berusaha mendekat ke telinga Bolot. Tapi, ia tetap saja pura-pura tidak mendengar. Fakta keseharian Bolot, ia seorang yang normal. Begitu pula dengan fungsi telinganya. Ia memilih peran tuli hanya karena dengan ketuliaan itu ia mendapatkan berkah melawak. Ia memilih yang menguntung bagi dirinya.

Zaman sekarang tidak ada salahnya belajar tuli kepada Bolot. Telinga harus mulai menyaring suara-suara yang tidak diinginkan. Cukup mendengar dan mendengarkan suara yang membuat lebih bermakna dan bermutu.

Betapa banyak omongan-omongan kebencian yang terlontar. Omongan yang membuat telinga dan hati panas. Jika itu dilayani, maka akan menjadi masalah tersendiri terlebih berpengaruh terhadap mutu kejiwaan seseorang. 

Menikmati Lampu Merah Menyala

Menikmati Lampu Merah Menyala

 

Ada dua perasaan ketika berkendara dan berhenti karena lampu merah menyala. Pertama, merasa lampu merah menyala lama. Kedua, merasa sangat sebentar walaupun hitungan detiknya banyak. Apa yang anda fikirkan ketika menunggu lampu hijau menyala? Apakah fikiran anda berkelana ke masa silam atau ke masa depan? Apakah anda sedang menghabiskan hisapan rokok? Apakah anda sedang mengobrol dengan teman satu kendaraan? Ataukah sedang bersiul dan bernyanyi? Atau sedang berusaha mengajak berbincang seorang gadis di sebelah anda?

Ternyata banyak hal yang terjadi saat lampu merah menyala. Ada yang melihat gadis cantik dari arah kaca spion. Ada yang mematikan mesin biar hemat karena lampu merah menyala tujuhpuluh detik. Ada yang melempar uang receh ke arah pengemis yang ngesot di atas aspal panas. Ada yang memperhatikan pengendara sebelahnya yang tampak cling gemerlap. Ada yang mengincar betis perempuan yang tersingkap roknya. Ada yang tampak gelisah ingin cepat menyala lampu hijau. Ada yang mengaca dan memperbaiki keadaan diri. Ada yang membalas pesan WA. Ada yang menelpon atau terima panggilan. Ada yang mengincar tas pengendara lain yang menyembulkan segebok duit. Ada juga yang memaksa menerobos lampu merah.

Dalam hitungan detik saja sudah banyak kejadian. Sungguh luar biasa malaikat yang mencatat seluruh kejadian itu dalam hitungan detik. Betapa tebal catatan-catatan mereka ketika melaporkan kepada Tuhan. Andai dari beberapa pengendara yang menunggu lampu merah menyala itu ada yang berprofesi penulis, entah itu penulis biasa atau wartawan, tentu sudah jadi naskah cerita atau berita.

Dan, ketika lampu merah menyala hitungan mundurnya kurang tiga detik, seseorang membunyikan klakson beberapa kali. Seolah-olah menyuruh yang berada di depannya agar segera menarik gas kendaraannya. Sungguh bodoh, lampu masih menyala merah, ia telah menghardik orang lain agar segera jalan. Sungguh terlalu. Andai kita hanya diberi tujuhpuluh detik kehidupan, telah berapa orang yang kita hardik ketika lampu menyala merah bersisa tiga detik. Berapa banyak orang yang kita hardik jika Tuhan memberi hidup kita tujuhpuluh tahun?

Ketika lampu menyala hijau, berpaculah segala kendaraan seolah-olah mengejar matahari. Ada yang mengambil jalur tengah, ada juga yang meminggir. Yang mengambil jalur tengah, ada yang berkecepatan tinggi, ada pula yang santai seperti sedang bertamasya. Mereka semua akan bertemu kembali dengan lampu menyala merah di perempatan atau pertigaan berikutnya.

Menuju perempatan berikutnya, seseorang meludah tanpa melihat kaca spion. Ia tak peduli apakah ludah nyinyirnya terkena orang lain atau tidak. Ketika ia ditegur pengendara di belakangnya, ia mengajak berkelahi. Kejadian lain, ada sebuah mobil yang penumpangnya membuang sampah melewati kaca mobil. Mereka bukan tidak tahu tentang membuang sampah di jalan dikenai denda limaratus ribu rupiah. Mungkin mereka yakin, aturan itu hanya gombal. Siapa juga yang akan jaga jalan raya di tiap meternya dan menarik denda dari pengendara yang membuang sampah sembarangan. Tak mungkin!

Hampir setiap perempatan atau pertigaan kota, ada lampu lalu lintas. Ketika lampu menyala kuning, beberapa orang tampak mempercepat laju kendaraan agar terbebas dari lampu menyala merah. Ada pula yang melambankan laju agar selamat. Lagi-lagi orang-orang menikmati lampu menyala merah dengan berbeda kelakuan dan lama detiknya.

Lampu lalulintas sebenarnya secara mendalam mengisyaratkan bahwa hidup kita hanya dalam hitungan detik. Ketika kita melanggarnya dan ada yang menabrak kita, matilah kita. Hidup yang sekian puluh tahun, kita tukar dengan hitungan detik. Sungguh, butuh pemikiran yang serius walaupun hanya membahas detik dalam menikmati lampu merah menyala.

Tidak Semua Burung adalah Emprit

Tidak Semua Burung adalah Emprit

 


 

Yah, tidak semua burung adalah emprit. Ada burung gagak, elang, gereja, dan bahkan garuda (elang purba). Sama halnya dengan murid di kelas di suatu satuan tingkat pendidikan. Tidak semua mereka berjenis kemampuan sama. Ada yang bakat menghitung, membaca dan menulis, ada yang bakat berbicara, ada yang berbakat seni, dan ada yang sangat peka terhadap konten isu-isu sosial.

Di sekolah mana dan apa pun keadaan tersebut sama. Semua guru mengalami hal ini. Semua guru menyadari bahwa memang terdapat perbedaan yang istimewa dari para muridnya. Semisal ketika ada pembelajaran muatan Seni Budaya dan Prakarya, perbedaan tersebut muncul. Mereka ada yang suka menggambar, ada yang suka menari, ada yan suka memainkan recorder, pianica, dan terakhir mereka suka dengan ukulele atau kentrung senar 3.

Apakah guru hanya diam saja melihat mereka setiap hari bawa kentrung? Apa ia diam saja ketika di kelas tersebut beberapa muridnya memainkan kentrung dengan nada tidak jelas, asal genjreng? Tentu guru tidak boleh hanya diam, mengabaikan kesukaan muridnya. Ketika terjadi hal tersebut guru harus jemput bola. Belajar, mulai dari cara menyetel nada senar, sampai memainkannya dengan ragam genjrengan.

Guru yang tidak paham sama sekali, tidak ada salahnya membuka tutorial menyetel nada senar kentrung di internet. Pasti menemukan dan bisa menyetelnya. Bahkan, ada aplikasi playstore yang bernama ukulele tuner, khusus untuk menyetel bunyi senar gitar agar standar dan bisa mengeluarkan bunyi nada yang tepat.

Ketika sudah disetel, guru akhirnya harus belajar memainkan satu nada ke nada yang lain. Kemudian, memainkan satu lagu dengan bantuan melihat notasi dari sebuah lagu. Ketika sudah mampu sedikit demi sedikit, guru pun menularkannya kepada murid. Inilah yang disebut dengan memberikan hak anak belajar. Bakat pemberian Tuhan harus dilayani dan dikembangkan agar mereka memiliki kompetensi sesuai dengan bakat dan kemampuannya.

Apakah Anda guru yang seperti ini? Apakah Anda guru yang peka atas multi intellegency para muridnya? Apa yang sudah dilakukan jika Anda termasuk guru yang peka? Apakah para murid dengan kemampuan yang berbeda itu dapat terlayani kebutuhan belajarnya? Apakah Anda hanya jenis guru yang menyelesaikan buku dan kurikulum dan pulang sesuai jam kantor? Kalau Anda pada jenis ini, tidak akan ada gunanya membaca tulisan ini.

Sebagaimana kemampuan mereka yang berbeda, tentu kebutuhan mereka juga berbeda. Kebutuhan inilah yang harus benar-benar terlayani bahkan di luar buku teks yang guru pegang. Para murid itu tidak selamanya berstatus anak sekolahan. Pada akhirnya mereka harus menunjukkan eksistensinya di kalangan masyarakat. Mereka harus berjuang dengan bekal dari guru mereka untuk menjalani kehidupan yang panjang. Saat itulah hasil produk guru diuji di masyarakat. Apakah ia termasuk guru yang wajib, sunnah, mubah, atau haram.

Guru yang wajib adalah guru yang kehadirannya ditunggu-tunggu oleh para muridnya karena banyak asupan gizi bagi mereka sebagai asupan kehidupan. Kehadirannya memberikan bekas akhlak kepada para murid sehingga ketika orang lain melihat murid tersebut, mereka tahu bahwa gurunya adalah si bapak X.

Guru yang sunnah kehadirannya agak kuat, kehadirannya mampu memberikan pencerahan, tidak hadirnya membuat mereka merasa ada yang kurang lengkap. Lamat-lamat ada bekasnya kepada para murid. Ketidakhadiran guru jenis ini sedikit memberikan rasa kesepian dan kehilangan.

Guru yang mubah kehadirannya setengah diharapkan para murid. Jika guru jenis ini tidak hadir, murid merasa bebas tidak merasa kehilangan. Guru jenis ini sangat kurang sentuhan emosionalnya dengan para murid. Begitu pula dengan mereka, mereka tidak begitu akrab seperti akrabnya anak dengan orang tua.

Sedangkan guru yang haram, kehadirannya tidak diinginkan para murid. Kehadirannya dianggap bencana bagi mereka. Ketidakhadirannya dianggap hari raya yang sangat besar. Ia menjadi sosok hantu bagi pikiran murid layaknya pocong atau gendoruwo bagi mereka. Ia merupakan sumber masalah bagi kelas dan suasana mental mereka. Para murid mengutuk kehadiran guru jenis ini.

Pada jenis yang manakah Anda sebagai guru? Jika termasuk pada bagian-bagian akhir, bagaimana seorang guru menjalankan amanah undang-undang? Apakah jenis guru ini hanya menggugurkan kewajiban dan menerima bayaran begitu saja? Tanggung jawab moralnya pada bagian apa?

Sampah Core: Monster Bumi dan Manusia

Sampah Core: Monster Bumi dan Manusia

 


 

 

Dalimin tidak tahu lagi mau menyampaikan aspirasinya ke mana. Ia sudah mendatangi BLH, tapi diusir dan dianggap gila. Ia juga banyak mendatangi komunitas peduli lingkungan, tapi tak banyak membantu. Ia menggedor kepala siapa tahu ada gagasan jitu atau arah ke mana ia harus menghadapkan masalah keresahan bumi ini.

Menurutnya, ini bukan soal sampah plastik atau medis. Memang benar, sampah plastik tak bisa dicerna bumi hingga ribuan tahun, tapi tetap bukan itu sumber masalahnya! Tak ada seorang pun yang tahu dan muncul dalam kepala mereka satu wahyu bahwa sebenarnya ada satu sampah biang. Ia adalah core dari sampah. Ia monster yang sebenarnya. Ia yang menggerogoti bumi dan penghuninya secara kejam. Bahkan, sampah sosial pun berasal dari sampah itu.

“Sebenarnya apa yang kamu temukan, Pi?” Tanya Marni. “Mungkin mami bisa sampaikan melalui PKK bulanan RT!” Lanjutnya.

“Tidak bisa, Mi. Papi tidak bisa menyampaikan. Yang mendengar ini harus orang penting dan punya kuasa mengubah. Ini setingkat presiden, Mi. Makanya Papi ke mana-mana mencari penghubung langsung ke tingkat itu. Papi harus bicara langsung!”

“Sampah apa toh, Pi? Masak urusan sampah saja harus ke presiden! Harusnya kan kita mulai dari bawah, dari masyarakat kecil. Dari rumah kita, tetangga, baru ke masyarakat luas. Insyaallah ibu-ibu PKK akan menyampaikan ke suami-suami mereka kemudian meluas ke lingkungan RT, RW, kelurahan, kecamatan dan Indonesia.”

“Tak bisa, Mi. Papi sudah mendatangi BLH tingkat provinsi, Papi malah dianggap gila! Kalau setingkat itu Papi dianggap gila, bagaimana setingkat RT?”

“Itu kan masih prediksi Papi. Papi kan tidak tahu reaksi mereka? Mereka juga belum tahu sampah core yang Papi temukan. Iya, toh?”

“Tidak bisa, Mi!”

“Pi, gimana kalau kita menggunakan sosial media online? Kita sebar temuan Papi. Pasti akan sampai ke telinga presiden!”

“Wah, ini lagi. Mami tahu, sosmed itu jenis sampah juga! Satu strip di bawah sampah core yang Papi temukan!”

“Kok bisa? Bukankah dengan menggunakan sosmed temuan Papi akan sampai dan didengar presiden?”

“Justru presiden takut Mi dengan sosmed! Ia tidak akan pernah membaca dan mendengar suara rakyat!”

“Kok, bisa? Bahkan ada IG dan FB presiden, lho!”

“Ah, Mami. Tidak smart! Itu kan cuma fiktif!”

“Terus kenapa presiden takut pada sosmed?”

“Sosmed itu besar. Jangkauan masyarakatnya luas. sosmed seperti FB dan IG sudah seperti sebuah negara yang berdiri sendiri. Kekuatannya juga besar! Itu yang membuat presiden negara mana pun takut!”

“Nah, justru itu kita bisa memanfaatkan sosmed untuk menyampaikan temuan Papi!”

“Tak bisa Mi. Hanya akan jadi sampah di medsos. Mami tidak tahu, sih. Sosmed itu seram. Ada pasukan gelapnya!”

“Ya, sudahlah, yang penting Mami sudah kasih saran. Terserah Papi saja! Mulai malam ini Papi tidur di luar!”

Dalimin tidak bereaksi kecewa atau bahagia. Perintah tidur di luar oleh isterinya dianggap sampah juga. Ia tetap fokus bagaimana penemuannya itu dapat direspon oleh negara atau orang yang mempunyai power yang sangat kuat. Tak lama, ia pun tertidur.

Dalam tidurnya ia bermimpi. Sosok presiden negeri ini mendatanginya dengan memanggul sampah. Dalimin tertawa terpingkal-pingkal melihatnya. “Loh, kenapa kamu tertawa? Sudah tidak membantu malah tertawa. Kamu tidak tahu aku seorang presiden?”

“Justru saya tahu anda seorang presiden, makanya saya tertawa!” Dalimin melanjutkan tawanya sambil memegangi perutnya.

“Lho, tertawa lagi. Ini sebuah penghinaan. Apa yang kamu tertawakan?”

“Menurut Bapak itu apa?” Dalimin menunjuk ke arah bahu presiden.

“Sampah!”

 “Bapak yakin sampah itu penyebab sedih dan murkanya bumi?”

“Iya, saya yakin. Makanya kita semua bahu membahu mengelola sampah dengan 3R! Kamu tahu apa itu 3R?”

“Basi Pak!”

“Jawab dulu! Atau kamu saya jebloskan penjara karena menghina presiden!”

“Saya tahu.”

“Iya apa?”

“Bukan itu, saya tahu Bapak berkuasa dan dapat memenjarakan saya! Tapi serius, bukan itu sampah penyebabnya! Dan sampah penyebab itu tak bisa dengan 3R!”

“Ah, kamu sok pintar. Rakyat kecil saja belagu!”

“Serius Pak. Bapak boleh penjarakan saja kalau saya salah!”

“Iya apa? Jangan buat saya marah!”

Beberapa pengawal presiden mendekati Dalimin dengan sangat rapat, tapi kemudian ia memberi kode agar pengawalnya menjauh. “Mengapa harus dibisikkan?”

“Ini terlalu sensitif Pak. Hanya saya yang tahu sampah core ini!”

“Baiklah, sini bisikin saya!”

“Apa? Gila kamu! Kamu sebut itu sampah?” Presiden marah. Pengawalnya segera merapat kembali.

“La, kalau tidak kita sebut sampah terus kita sebut apa?”

Presiden terdiam sambil melenggang sementara para pengawalnya menggebuki Dalimin habis-habisan. Syukur-syukur tidak dipenjarakan.

“Papi, bangun! Papi, Papi!” Dalimin terbangun dengan wajah menahan sakit. Sepertinya pukulan para pengawal itu nyata. Beberapa kedipan mata, ia baru sadar kalau sedang bermimpi. Isterinya memberinya minum kemudian mengajak suaminya tidur di kamar.

Sambil mengelus-elus kepala Dalimin, Marni kembali merayunya agar membuka rahasia tentang sampah core itu. Dalimin tetap tutup mulut sambil sembunyi di ketiak isterinya. Sampai pagi pun, ia tak bicara. Marni pun minta cerai pagi-pagi sebelum ke pasar.

“Why?” Marni hanya diam dan melanjutkan langkahnya keluar sambil merangkul keranjang belanja. Dalimin beranggapan sepulang dari pasar isterinya pasti sembuh.

Ia kembali teringat mimpinya. Ia menilainya. Ternyata setingkat presiden yang mempunyai kekuasan dan kekuatan juga tidak mampu dan menganggapnya gila, pikirnya. Ia berpikir keras seolah kepalanya mengepulkan asap.

Presiden hanya manusia. Sosmed hanya negara. Ia kemudian mendapatkan wahyu, satu-satunya yang lebih besar dan kuasa adalah yutub. Kepalanya seperti lampu yang menyala. Brilliant!

Dalam hal teknologi, ia sangat jadul. Ia perlu bantuan seseorang yang ahli. Ia terpikir anak lelakinya, Joko. Yah, Joko paling pinter utak-atik teknologi. Singkat cerita, persiapan siaran pers melalui yutub pun sudah Joko siapkan. Tinggal memencet tombol REC. Berikut isi pidato Dalimin berjudul ‘Sampah Core Monster Bumi dan Manusia.’

Ia mengawali dengan selamat pagi siang dan malam. Dengan ucapan itu siapa pun yang menonton pada waktu kapan pun dapat tercakup. Kemudian ia sedikit bercerita mengenai kunjungannya ke BLH provinsi dan mimpi bertemu dengan presiden. Keduanya menganggap gila.

“Papi, pembukaannya saja sudah ditonton lima juta orang!” Joko menuliskannya pada selembar kertas dan menunjukkan ke Dalimin. Dalimin makin bersemangat melanjutkan. “Saudara-saudara sebangsa sebumi selangit yang saya cintai. Pasti saudara menyangka saya gila, tapi sungguh ini bukan main-main. Sampah yang anda anggap berbahaya saat ini seperti sampah plastik, sampah elektronik, sampah industri, sampah medis, dan sebangsanya bukanlah sumber keresahan bumi. Semua itu bukan sumber ancaman kehidupan manusia daripada sampah core yang nanti akan saya sampaikan.

Sampah core inilah ibu yang melahirkan semua jenis sampah yang berbahaya tersebut. Sampah core ini yang mampu mengubah manusia menjadi rakus, serakah, jahat, tega, lebih-lebih kepada bumi yang kita cintai bersama.

Dengan banyaknya produksi sampah core ini, bumi sungguh menangis, sungguh menderita. Melalui mediasi yang dilakukan paranormal, bumi telah mengadu kepada Tuhan dan memohon ijin untuk memberikan reaksi kepada manusia. Jangan heran jika di beberapa belahan bumi atau bahkan di negeri ini, kita mengalami banyak bencana. Bumi tidak butuh disogok dengan ruwat atau sesajen sebanyak apa pun. Ia hanya meminta hentikan produksi sampah core itu karena itu sangat melukai badan dan jiwa bumi.

Dalam beberapa sumber dalam agama saya disebutkan bahwa bagaimana bumi menganga ingin mengunyah manusia; bagaimana laut ingin menelan semua kapal dan menyeret manusia di daratan; bagaimana angin ingin menyapu bersih dataran bumi; bagaimana cemeti petir ingin memanggang manusia. Sungguh bumi ini sudah sangat marah.

Apa sampah core yang saya temukan? Sampah itu adalah sperma. Sperma banyak dibuang di mana-mana. Cikal bakal manusia dan kemanusiaan menjadi sampah yang terpaksa bumi dan laut telan. Inilah puncak kemarahan mereka! Ingat jangan anggap saya gila lagi, tapi tolong cari sumber pengetahuan agar dapat memahami apa yang saya sampaikan. Monster bagi ibu pertiwi, ibu bumi ini adalah sperma.

Inilah yang menjadi sumber bencana. Apa anda kira setetes cikal kehidupan itu tidak menjadi monster ketika terbuang? Andai anda bisa melihat dengan mata gaib, anda akan terbelalak sperma-sperma yang terbuang itu telah menjadi musuh dalam kehidupan. Ia bisa menyusup menjadi perilaku serakah, jahat, rakus, dengki, dan sebagainya sehingga muncullah sampah-sampah lain yang menurut kita berbahaya itu bahkan sampah masyarakat.

Temukan, jangan anggap saya gila. Demikian, semoga kita sejak saat ini bisa sedikit mengerem atau berhenti sama sekali membuang sperma sembarangan. Buanglah sperma pada tempat halalnya. Ayo, putus rantai sampah sperma. Sekian terima kasih.

“Wow, yang menonton sudah lima puluh juta, Pi! Berarti aspirasi Papi sudah didengar seperempat penduduk negara!”

“Syukurlah!”


 

 

Petani Itu Tuhan dalam Rupa Manusia

Petani Itu Tuhan dalam Rupa Manusia

 



 

 

Gunung gamping itu bagi masyarakat Desa Perawan adalah ibu yang menyusui tanah, memberi air, dan menumbuhkan padi yang dimakan manusia. Desa Perawan menjadi lumbung pangan negeri. Dalam peta, desa itu tepat terletak di tengah, jika diibaratkan badan posisinya tepat pada perut. Setelah kepala dan kaki dalam peta dirusak, sekarang pengrusakan itu mengancam bagian perut negeri.

Ini bukan soal hidup hari ini dan besok, tapi buat besok-besok dan besoknya lagi yang panjang sehingga harapan hidup cucu putu kelak tetap lestari, begitu salah satu ucapan pegiat lingkungan. Ia mendapat julukan srikandi Dewi Sri.

“Mesin berpikirnya di mana? Seandainya orang bodoh seperti saya diberi pilihan hidup krisis pangan dan krisis semen, maka pasti kebodohan saya akan memilih krisis semen daripada mati! Ini para pejabat agung kok memilih krisis pangan!” Lanjut Dewi Sri.

Bersama Salimin, ia yang berdiri paling  depan berhadapan dengan ancaman dengan keberanian seorang ibu ketika anak cucunya terancam. Dengan kaki dicor semen, lantunan lagu Ibu Pertiwi membuat miris ibu bumi, makin sedih.

Ketika kakinya dicor bersama teman-temannya,di depan gedung megah pusat negeri, saat itulah tembang Ibu Bumi ia suarakan sambil menangis. Sementara pilar-pilar istana berdiri gagah dengan angkuh dan sombongnya.

Ibu bumi wes maringi, ibu bumi dilarani, ibu bumi kang ngadili. Laa ilaaha illallah, Muhammadar rasuulullah.” (Ibu bumi sudah memberi. Ibu bumi disakiti. Ibu bumi akan mengadili. Tidak ada tuhan, hanya Allah dan Muhammad rasul Allah).

Lantunan itu adalah tembang yang sering dinyanyikan bersama di dalam gua dengan para sahabat pecinta ibu bumi, masyarakat yang menolak pendirian pabrik semen. Begitu terus-menerus diulang-ulang hingga bumi gemetar. Langit pun menangis. Angin berhenti.

Di tempat lain, jauh dari istana, sekretaris perusahaan tersebut mengatakan hal yang lucu: “Kami hanya minta izin pabrik semen ini bisa beroperasi, bener gak nanti akan hilang airnya?” Bukankah itu sama dengan mengatakan begini: ‘aku minta izin kamu akan kucekik, bener gak kamu akan mati?’ Hahaha!

Hasil penelitian lingkungan yang menguatkan pendirian pabrik semen tersebut semua terkesan nonsen! Buktinya pejabat agung tetap saja menerbitkan izin baru pembangunan pabrik semen di gunung gamping itu. Dalihnya mudah. Cukup bilang ini bukan perusahaan yang itu. Ini lain. Aturan yang lebih tinggi dari istana dan mahkamah keagungan saja bisa ditindih dengan peraturan punggawa! Hebat, tidak?

“Banyak kok perusahaan yang merusak alam, tidak ada yang mempermasalahkan kan? Tidak apa-apa kan kita juga bangun pabrik?” Begitu punggawa itu bilang.

Ketika Salimin, salah satu pendemo penolak pabrik, memegang kendali pelantang dengan keras ia meneriakkan: “Dajjal itu nyata ada. Yah, benar. Sekarang pun ada. Berwujud manusia. Senyum dan keramahannya hanya untuk mengisap nyawa manusia yang lain. Dengan iming-iming yang menyilaukan mata mampu membolak-balikkan hati manusia bahkan keimanannya sekalipun. Jangankan malaikat, Tuhan pun ditawar untuk bisa dikendalikan olehnya. ”

“Pertahankan tanah kita!”

“Tolak pabrik semen!”

Semua meneriakkan perjuangan mengikuti ujaran Salimin.

“Yang harus dibaca pemimpin tidak hanya dokumen kertas yang ada di depan hidungnya, tapi ia harus juga membaca dokumen budaya, dokumen manusia, dan lingkungan. Jika pembangunan itu alih-alih berdasar kesejahteraan, jadi mencurigakan. Kesejahteraan siapa?”

“Betuuul!”

Setelah orasi itu, kembali massa pengunjuk rasa melantunkan tembang Ibu Bumi.

Itulah awal keperawanan desa itu tercabik-cabik. Kesatuan rasa mulai terkoyak sehingga masyarakat terkotak menjadi dua: pihak pendukung dan penolak pembangunan pabrik.

Perjuangan penuh darah dan nyawa sudah mereka tempuh. Kemenangan semu telah mereka lewati. Sejak saat itu, masyarakat yang kontra, terus saja menembangkan tembang Pocung menggema di dalam dada mereka. Tak ada lagi yang bisa dilakukan untuk membela ibu bumi, selain berpasrah penuh kepada pencipta ibu bumi. Sayup menyayat seperti sedang menyanyikan kerinduan tentang kematian. Rindu bertemu Tuhan dan mengadukan semua kedhaliman. Mereka berharap ibu bumi tidak diam saja. Ibu bumi harus mengadili.

“Bapak pocung dudu watu dudu gunung, satriya sing Plembang. Dedeg ira ageng inggil. Yen lumampah si pocung lembehan grana.”

Bagi masyarakat Jawa, tembang Pocung secara singkat sama artinya bahwa semua manusia akan mati. Kembali kepada Tuhannya. Tembang itulah hiburan hatinya yang kecewa dan sakit.

Hamparan tanah yang lapang, yang mampu menumbuhkan pangan, sebagian besar telah terjual. Kalau tidak bisa dirayu dan diiming-imingi, mereka paksa dengan ancaman untuk bisa terbeli. Sebagian  mereka menyesal, tidak pernah paham perkataan Dewi Sri dan Salimin. Penyesalan sudah tidak berguna. Matilah saja dengan tanpa doa dari anak cucu kalian karena bagian mereka telah kau jual.

Jadilah kambing milineal saja karena kambing masa kini tidak lagi makan rumput. Kertas semen juga mau kok mereka makan. Atau jadi kutu di kepala para pejabat dan punggawa agung, tak usah bekerja cukup bertengger di kepala mereka tentu saja kalian tetap bisa hidup, begitu jawaban Salimin ketika mendapat keluhan mereka yang pro pendirian pabrik itu. Ia kemudian melenggang pergi sambil terus menyanyikan tembang Pocung.

Setelah sekian tahun ibu bumi dipaksa aborsi mengeduk semua isi perutnya menjadi semen, kali ini rophal-rophal pun berjatuhan. Air-air surut dan mengeruh. Daun-daun berlubang dan keriput. Sumber air warisan nenek moyang pun air matanya mengering. Hujan tanpa musim penuh debu, wajah-wajah melas petani berbedak semen.

Luka itu menahun merangkak bersama waktu. Tak mungkin bisa sembuh. Lingkar tahun pada pohon Desa Perawan telah menunjukkan enam lingkaran. Aksi penolakan pembangunan pabrik semen itu telah terjadi enam tahun silam.

Ritual Nyiwer pun dilakukan baru-baru ini. Tradisi tersebut sebagai ungkapan permohonan kepada Tuhan  agar gunung gamping beserta seluruh isinya terjaga lestari walaupun faktanya terusak.

Salimin dan Dewi Sri dalam sambutannya menyampaikan bahwa babak kehidupan mendatang akan lebih berat dari sekedar menghadapi tikus, wereng, dan ulat sebagai musuh padi. Ada musuh yang lebih berat yakni hama raksasa yang hanya ibu bumi yang dapat mengadili.

Prosesi ritual itu berbentuk aksi jalan kaki bersama masyarakat dari lintas kabupaten dan kota. Dalam iringan tersebut dari jauh sayup-sayup terdengar tembang Ibu Bumi dan Pangkur. Tembang itu berulang-ulang dilantunkan. Itu bisa jadi mantra ampuh. Mereka yakin, alam mempunyai cara sendiri untuk menjaga keseimbangan.

Acara tersebut juga dilengkapi dengan pertunjukan wayang. Salah satu pesan Ki Dalang dalam ritual Nyiwer tersebut menyatakan bahwa Nyiwer bebarengan, pamrihe mung slamete pratiwi, kali saking gada bendu, merga serakahe manungsa, ewa semana lamun sampun tekeng wektu, alam ngersakke tumindhak, beja sing waspada eling. (Bersama-sama menjaga keselamatan ibu pertiwi agar terhindar dari pengrusakan oleh keserakahan manusia, namun demikian bila sudah saatnya alam menyeimbangkan dengan caranya, hanya orang yang ingat dan waspada yang mendapatkan keselamatan).

“Jangan dikira leluhur kita yang sudah mati itu mati. Sesungguhnya mereka hidup, ada bersama kita sampai kapan pun. Sampai saat ini, sepertinya masih cukup tahan untuk bersabar. Entah besok atau lusa!” Dewi Sri menambahkan dalam sambutannya untuk menutup seluruh rangkaian acara ritual Nyiwer.

“Satu hal lagi, kita itu diwasiati menjadi petani dan petani itu Tuhan dalam rupa manusia!”

Tono

Tono

 


Karya Rochlah


Jam menunjukkan pukul 5 pagi, lamat-lamat dari surau kecil diujung desa terdengar suara renta membaca "Yaa hayyu yaa qayyuum laa ilaaha illa anta" pertanda jama'ah subuh masih menunggu para makmumnya. Setiap pagi selalu suara itu, bahkan sebelum aku lahir, kata emmak. "Spekernyapun hampir sesepuh dia" begitu selalu gurauan bapak sebab suaranya yang sering hilang tiba-tiba.

Aku bersiap mengemas seluruh barang yang kuperlukan, bapak mulai menghangatkan motor tuanya dan duduk dengan sencangkir kopi berduet sebatang rokok oepet. "Cepat-cepat Ton nanti bapakmu menunggu terlalu lama" emmak memburuku dengan setenteng plastik berisi nasi satu bungkus dan sebotol air, bekal dalam bis nanti. Jarak dari desaku ke terminal bus cukup jauh apalagi dengan motor yang usianya juga setua si empunya, 45 menit tidak termasuk macet di pasar desa-desa sebelah dan lampu merah di kota.

Hari ini aku tampil kece dengan celana jeans merk Hassenda dan kemeja panjang merk Emba yang kutemukan dengan hokky dipasar loak, sendal jepit swallow minyak rambut gatsby. Siap on the way!

"Nanti di terminal tidak usah jajan, uangnya akan bapak kasih pas ongkos bis dan kiriman satu bulan, kalau kurang tahan-tahan sedikit" kata bapak dengan asap rokok terahirnya.

"Nggeh pak, nanti Tono irit-irit sampai kiriman bulan depan" kataku mantab tapi otakku sudah mengira-ngira siapa teman yang kira-kira akan bisa dipinjami kalau keadaan kepepet. Bulan ini aku ada rencana nonton bareng teman-teman di bioskop liburan pondok kamis tengah bulan. "Wah bisa gagal acara!" Batinku.

Emmak menyelipkan selembar 10ribuan "ssssshhhhh jangan bilang bapakmu" matanya berkedip teduh. Waaah lumayan buat beli minuman manis dan rokok nanti di bungurasih.

Dari kotaku ke pondok kira-kira 6-8 jam. Dengan transit di bungurasih yang tak bisa ditebak durasinya. Bapak mengantarku sampai sudah pasti dapat tempat duduk dalam bis, memastikan anak lanang satu-satunya ini tidak mencari duduk dengan wanita bening-bening yang mulai ramai berdatangan. Sepertinya anak kuliah.

Aku dipilihkan kursi 2 jejer dan kosong sebelah. Bapak turun dengan tenang setelah tangannya ku sungkem.

Kulihat knalpot motornya sudah ngebul hampir menutupi tubuh bapak sampai separuh badan. Orang tuaku sudah 4tahun menitipkanku di pondok selepas aku tammat SMA di desa. Sedang melamun mengingat semua itu tiba-tiba tercium aroma yang cukup menarik perhatian.

Seorang wanita dengan kaos panjang warna ungu dan celana jeans biru tua, rambutnya sebahu diikat dengan rapi sedang mencari tampat duduk dan berdiri sungkan di samping kursiku "permisi mas, boleh saya duduk disini?" Wajahnya ragu-ragu.

"Oh silahkan tidak apa-apa mari saya bantu tasnya sepertinya berat" kataku sambil sedikit mensyukuri keberuntunganku hari ini. Minimal aku akan terus mencium baunya sampai 4jam kedepan. Jika ada bonus hokky aku bisa ngobrol-ngobrol dengannya.

"Ah rejeki tak kemana" batinku sambih nyengir. Bukan aku yang mencari, bapak emmakku sudah benar semua dalam ikhtiar dan do'anya.

Setelah dia beres dan meletakkan pantatnya dengan nafas lega dia terus diam tanpa secuilpun suara. Jam 7 bis siap berangkat, kernetnya mulai bertanya tujuan masing-masing penumpang dan penarikan tarif angkutan.

"Kemana dik?"

"Ploso pak"

"Nyalin bis di bungur dik. 3000"

"Baiklah pak tak apa" jawabku.

"Kemana mbak?"

"Bendo pak, pare Kediri"

"Oh sama mbak nyalin bis di bungarasih"

"Iya pak" dia sambil mencari sesuatu sepertinya dompet, membuka tas ranselnya beberapa kali. Dengan tanpa pikir panjang kusodorkan uang 3000 lagi pada si kernet, "biar saya yang bayar mbak" pamitku padanya, dia tersenyum malu sungkan tapi mengangguk pelan, "ah manisnya" batinku, dan seketika lupa pesan bapak, didominasi rasa kepahlawanan sebagai laki-laki yang entah benar atau salah sudah tidak kupikirkan.

 

"Terimakasih pak, eh mas. Padahal saya ada cuma lupa taruhnya di tas sebelah mana" katanya menunduk malu.

"Tidak apa-apa, kalau mau diganti nanti saya juga tidak menolak, gampang saja, cukup mbak menggantinya dengan memberi saya nama". Dia tersenyum simpul, dari samping gigi gingsulnya sedikit mengintip, benar-benar manis, akupun hanya berani melirik. Tahun 1981 dimana perkenalan langsung lelaki dan wanita remaja masih menjadi hal yang cukup tabu apalagi bagiku yang seorang santri. Hanya bermodal nekad dan sedikit ingin mencari pengalaman kuberanikan diri hari itu menjadi super hero dengan uang 3000.

"Lisa" katanya sambil menjulurkan tangan dan menoleh sepenuhnya padaku. Untuk sepersekian detik  jantungku berhenti, antara menerima tangannya atau mengabaikannya.

Tergugu kuterima juga ahirnya, menghargainya juga sebuah pelajaran, batinku. "Toni" nama yang reflek keluar dari mulutku dan kusambut tangannya, cukup untuk sedekar merasakan betapa halus kulit lisa. Sepanjang usiaku sampai 19tahun ini belum pernah aku merasakan debar aneh seperti ini. Bahkan dulu di SMP dan SMA aku sempat curi-curi pacaran dengan gadis bunga desa yang diperbutkan banyak bujang. Aku yang menang tanpa sedikitpun usaha, mungkin karena kulitku yang paling putih dan wajahku cukup tampan kata teman-teman.

Tidak seperti saat ini, gugup mengusai tubuhku, sempat hening sejenak.

"Mas toni sudah berapa lama di ploso?" Suaranya ditelingaku lebih jelas dari riuhnya jalanan dan para penumpang. Lebih indah dari suara elvi sukaesih yang di stel pak supir dalam bis. Dan panggilan Mas cukup untuk membuatku berdesir.

"Baru 2 tahun mbak, eh gimana ya manggilnya?" Mungkin wajahku memerah karena malu. Senyum lisa mulai melebar dan memandang lurus pada mataku "lisa saja mas sepertinya kita sepantaran" oh indah sekali suaranya sampai-sampai aku tak sadar sudah berapa terminal kita lewati.

Aroma parfumnya memudar, keringat sudah membanjiri kami, pacet parah disuatu pasar dan bis ini belum ada AC-nya, sudah bercampur aroma keringat manusia dan kotoran ayam yang dibawa penumpang dalam sebuah karung semakin mewarnai bebauan yang kuhirup.

Kami terus mengobrol, tidak kuperbaiki namaku tidak pula aku banyak bertanya. Aku lebih menikmati suara indahnya bercerita, tentang apapun yang sesekali membuatnya tersenyum dan membuat kami tertawa bersama.

Tek tek tek "bungur bungur bungur persiapan turun" kernet dipintu bis belakang kencang sekali mengingatkan agar para penumpang, terutama kami yang keasikan dapat mendengarnya baik-baik.

Kuambilkan kedua tas lisa, satu kutenteng satunya kuserahkan, kali ini bukan ingin jadi super hero, ingin saja kulakukan, bahkan sangat ingin. Dengan bawaanku yang tidak ringan, tas lisa tidak kurasakan bebannya. "Makasih mas" katanya, kuanggukkan kepala, kita menjadi seperti dua orang yang sudah sangat dekat padahal baru beberapa jam lalu saling mengenal nama. Nasi bekal emmakpun lupa kubuka, ah kurangajar sekali!

Bangku panjang didepan gerobak bakso itu sasaran pandanganku, berharap tas yang kubawakan diikuti oleh si empunya. "Wah beruntungnya kau Toni hari ini" batinku. Lisa benar-benar mengekoriku. "Mas toni di Ploso alamatnya dimana?" Seketika aku tersentak, apakah akan kuakui bahwa aku seorang santri? Dengan model begini kepada seorang wanita? Ah yang benar saja!

"Aku di Pon-Pes Al-Falah di Mojo Kediri" dan itulah yang meluncur dari mulutku.

"Ooh" lirihnya. Hanya itu yang terdengar dari bibirnya yang mungil, dan mikik muka yang tak bisa kuraba.

"Numpang duduk kang, es teh ada? Dua ya kang" kataku pada pemilik gerobak bakso dengan kaos biru polos berhias selingkar keringat dibelakang. "Siaaap!" Sahutnya dengan penuh semangat, bapak paruh baya yang pasti sudah jungkir balik tak hanya jatuh bangun dalam jalan hidupnya, wajahnya berseri dengan senyum khas manusia yang pada dasarnya.

"Ada piring kang? Atau mangkokpun tidak apa"

"Oh ada Le ada" mangkok cap ayam jago kuterima, nasi dari emmak semoga belum basi harapku. Lisa kulirik asik melihat sekitar dengan pandangan antara aneh atau takjub.

"Apa itu mas? Nasi?"

"Iya, bekal ibu yang lupa kubuka di bis karena terlalu asik meresapi aroma shampo sunsilk dari rambut gadis di sebelahku"

"Mas bisa saja". Pipi lisa memerah benar-benar memerah.

Dua gelas es teh dan sebungkus nasi ibu yang selamat, sudah siap.

"Bakso lis?"

"Ah tidak mas terimakasih, jika boleh lisa sedikit saja ingin makan nasi itu" dia menunjuk dengan matanya.

Tentu sebungkus berdua akan terasa begitu mesra, bahkan kalau mungkin saja kusuapi. "Hhhh kenapa dia membuatku merasa beguti nyaman dan mengenalnya sudah lama" batinku.

"Tentu boleh, nasi emmak adalah nasi terenak sepanjang aku hidup", kataku berseloroh bangga. Tawanya pecah, "ibu akan selalu menjadi yang terbaik mas"

Seluruh giginya terlihat, dan keindahan yang benar-benar nyata terpampang didepan mataku, dudukku sudah berbelok penuh kearahnya.

"Ibu jarang memberiku ijin untuk keluyuran sendiri mas, tapi kita dipertemukan tidak dengan kebetulan tentunya, mana ada kebetulan semacam ini" tatapannya lurus padaku, "ibu juga sangat menjaga pergaulanku, maklum mas aku anak satu-satunya yang dia punya, maaf kalau aku sedikit kaku sebab aku tidak terbiasa duduk-duduk ditempat seperti ini, tapi aku yakin ibu akan menyukai mas jika saja ada suatu hari mas sedang libur dan berkenan berkunjung kerumahku di Pare" lanjutnya, terdengar sebagai sebuah harapan di hatiku dan sebuah nilai plus bahwa lisa berhati tulus.

Kuanggukkan kepala disertai senyum mengembang yang tak pernah kulahirkan dengan terkpaksa, tanpa berani menjanjikan apapun padanya.

"mau kemana kalian?" Tanya kang bakso.

"Kediri kang"

"Wah kalian harus bergegas, bis tujuan kediri sudah siap-siap"

Kubayar dua gelas es teh, membeli sebungkus roti dan kacang atom dari anak kecil yang menggendong asongannya dengan keringat membanjir, kujinjing tas lisa dan dia tetap mengikutiku tanpa berkata apapun.

Perjalanan dimulai, waktu 3 jam benar-benar tak terasa. "Ploso persiapan, ploso ploso persiapan" teriak kernet bis kencang sekali.

Kami sempat tukar alamat dan kuulurkan roti dan kacang atom untuknya. Kuletakkan tas lisa di kursiku, kuhampiri kernet bis yang berteriak disamping pintu "pak, kursi disebelah gadis itu akan saya bayar sampai tujuan pare" kujulurkan uang tak peduli lagi tentang nonton bioskop dengan teman-teman atau sebagainya.

Kuhampiri lagi lisa, setetes air jatuh dari matanya, kujelaskan dia tak usah kawatir sebab kursi sebelahnya sudah kubayar, air matanya mengalir, tak satupun kata yang keluar dari bibir indahnya selain kalimat "terimakasih mas toni, terimakasih sudah menjagaku sepanjang jalan"

Bis berhenti, segera kulangkahkan kaki cepat-dan kusempatkan tersenyum kepadanya, rambutnya dihempas angin, leher jenjangnya menegang sebab tangisnya, dan kalung salib yang menggantung di leher indahnya sedikit terbawa gerak lisa yang mulai sesenggukan.

Tak sempat kulambaikan tangan, bis selalu terburu-buru bahkan kadang segera nge-gas sebelum kedua kaki penumpangnya belum benar-benar tegak memijak.