Layar Berselimut Maut Karya Yulianti

Layar Berselimut Maut Karya Yulianti



Antologi Cerpen Layar Berselimut Maut ini diawali dengan sebuah subjudul Senyum dan Airmata. Awal paragraf pada bagian tersebut mengarah langsung pada konflik lahir batin sang tokoh utama. Sebuah pergulatan dan perjuangan hidup seorang anak perempuan untuk membahagiakan sang ibu di masa-masa kritis hingga menjelang detik-detik terakhir nafasnya. Ternyata bukti kebahagiaan yang telah diraih sang anak, hanya mampu ia bawa tepat di atas pusara sang ibu. Sungguh kisah yang memeras air mata, tapi mengandung kenikmatan batin yang bergizi.
Syaf Anton WR memberikan beberapa catatan dalam pengantar antologi cerpen tersebut sebagai berikut. Menurutnya kehadiran Layar Berselimut Maut merupakan fenomena menarik. Guru penulis mulai bermunculan. Hal itu menandakan bahwa guru tidak selalu cerdas di kelas, tapi juga cerdas dalam membangun kreativitas dalam dunia kepenulisan. Wajar bila guru menjadi inspirator dari kanal kehidupan, yang selanjutnya dirindukan untuk hadir di ruang kelas dan di luar kelas. Menulis bagi guru tampaknya menjadi alternatif terbaik dalam menyiasati proses kemampuan kreativitasnya. Inspirasi seorang guru seharusnya juga dapat dilakukan ketika ia mampu menginspirasi diri sendiri sebelum menginspirasi anak didik maupun masyarakat lingkungannya. Karena guru yang kreatif dan elegan adalah guru yang mampu berbagi pengalaman.
Syaf Anton meyakini bahwa guru yang luar biasa seperti matahari bagi anak didiknya atau bagi siapa saja yang membenarkan sebuah kreasinya. Kesadaran seorang guru yang tertinggi adalah ketika dia menyadari bahwa dia berdiri di puncak lembah, kemudian berusaha keras memanggil suara hati anak-anak gembalaannya untuk mendaki. Kesadaran itulah posisi guru akan lebih tampak wujudnya dari segala arah dan sisinya.
Syam S.Tamoe juga memberikan kesan bahwa mengabdi dan bertanggung jawab nerupakan bagian dari karakter dan identitas diri seorang guru yang patut diapresiasi. Yulianti, dalam antologi cerpen Layar Berselimut Maut berhasil menciptakan medium inspirasi bagi para pembaca, khususnya para guru di kepulauan. Dengan tutur kata dan bahasa yang sederhana dan penuh makna, Yulianti sangat lihai dan mampu meracik hasil kontemplasinya ke dalam sebuah cerita apik yang mampu menggetarkan jiwa.
Dari beberapa subjudul dalam antologi cerpen tersebut sangat tampak bahasa seorang anak kepada ibu dan bahasa ibu kepada anak, yang menyiratkan bahwa antologi tersebut sangat intens dengan bahasa perempuan. Hanya pada subjudul awal beralur flashback. Subjudul berikutnya beralur maju. Semua alur mudah diikuti dan dicermati karena penulis menggunakan bahasa realitas dirinya. Penulis terlibat penuh dengan apa yang ditulisnya. Itulah yang membuat antologi cerpen tersebut sangat menggugah dan menyentuh.
Dari keseluruhan kisah, penulis menyertakan muatan romantisme, idealisme, dan egosentris yang kuat. Penulis juga sangat berhati-hati meramu alur sehingga narasinya menguatkan imajinasi dari realitas yang ditulisnya. Penulis seolah-olah membawa pembaca ke dalam layar besar kehidupan pribadinya. Pembaca seolah-olah diajak melihat langsung seluruh peristiwa hingga denyut jantung si penulis.
Air Mata dan Senyuman, Jejak Baru, Warna Baru di Pulau Pengabdian, Rintihan Malaikat kecilku, Hampir Karam, Entar Nuro’, Layar Berselimut Maut, Mengapung, Surat Cinta dari Kepala Sekolah, Berlayar Tanpamu, Loncat Indah, Jawaban Firasat Itu, dan Akhir dari Penantian adalah subjudul lengkap dari semua kisah penulis. Layar Berselimut Maut pada subjudul antologi tersebut menjadi judul besar buku antologi cerpennya. Walaupun subjudul tersebut bukan fokus tujuan penulis, tapi menurutnya cerita tersebut layak dibagi kepada publik bahwa tidak semua orang berkesempatan mengalami seperti yang ia alami.
Buku antologi cerpen Layar Berselimut Maut bukan satu-satunya yang berkisah tentang kehebatan guru seperti yang pernah ditulis oleh penulis lain, tapi Layar Berselimut Maut menjadi warna baru yang layak disaksikan penggambarannya melalui narasi-narasi sang penulisnya sebagai khasanah yang memperkaya dunia pendidik dan pendidikan. Yulianti juga bukan satu-satunya guru kepulauan yang punya kisah, tapi kisahnya merupakan salah satu kisah yang luar biasa. Yulianti adalah seorang guru SMPN 1 Arjasa kepulauan Kangean yang kemudian hijrah ke SMPN 1 Dasuk Sumenep.

(Dimuat di Jawapos Radar Madura, 20 Juli 2018)