Bahalwan dan Patma

Bahalwan dan Patma


Tiap hari, tiap kali aku lewat di depan rumah Bahalwan, selalu kudengar pertengkaran. Seperti koran saja. Ini akibatnya, kalau para pemimpim bermusuhan. Jadinya rakyat juga suka bertengkar. Tragedi di Aceh, Jakarta, Maluku, Poso, dan Kalimantan hanyalah teladan dari fakta-fakta itu. Pemimpin bangsa ini memang kehilangan kemaluannya {rasa malu). Itu juga yang membuat Bahalwan bertengkar dengan isterinya.
Bahalwan adalah seorang warga desa yang baik. Seorang pendatang dari tanah Karimun dan berisetri di sebuah desa di pulau garam. Keluarga tersebut dikaruniai seorang anak laki-laki baru kelas III SD. Aku tidak tahu dari mana Bahalwan dapat rejeki untuk mencukupi kebutuhan keluarganya. Yang aku tahu bahwa Bahalwan tidak mempunyai pekerjaan tetap. Terakhir kulihat dia mempunyai kegiatan saat ada Program Pengembangan Kecamatan (PPK). Setelah itu, tidak pernah melihat lagi dia bekerja.
Isterinya bernama Patma. Usianya lebih muda dari Bahalwan sepuluh tahun. Patma pun tidak bekerja sedangkan pola hidup Patma seperti orang kota. la butuh baju strit, rok span, bedak yang paling terang, ginju warna-warni, parfum paling harum, dan sabun mandi yang seratus ribuan. Wajar kan seorang isteri menginginkan semua itu? Toh, semua itu untuk suaminya! Belum lagi ia ingin punya tv, kulkas, kendaraan, dipan, gelang, dan kalung. Patma memang tak bisa disalahkan sebab semua anggota keluarganya tidak boleh mati kelaparan apalagi mati karena terlalu banyak bermimpi. Semua itu harus bisa diperolehnya dari suaminya: Bahalwan.
Pertengkaran itu selalu dimulai dengan bunyi barang-barang dapur yang dilempar. "Aku harus bagaimana?" suara Bahalwan terdengar seperti sedang ditodong pistol di kepalanya. Patma menyahutinya dengan suara tidak jelas. Lebih mirip suara kucing sekarat atau mau kawin.
"Kamu racun saja aku!" Tampaknya Bahalwan putus asa menghadapi hidup yang dia jalani bersama Patma.
Keadaan memang serba sulit. Pekerjaan pun kian langka. BBM ngotot naik. Nilai rupiah pun hancur sampai di atas tigabelas ribu per dolar AS. Harga-harga di pasar melonjak-lonjak. Tak bisa dijangkau. Sementara pengungsi tragedi Sampit yang berada di Madura yang sekitar enam-dua ribuan bergantung pada bantuan. Mereka banyak tidak kembali ke Sampit sementara perut mereka harus terus diisi.
"Bunuh saja aku!" begitu pasrahnya Bahalwan pada Patma. Seolah-olah dengan matinya dirinya dapat menyelesaikan masalah.
Berbeda hari, terasa ada yang janggal saat aku lewat di depan rumah mereka. Tak terdengar apapun. Tidak seperti biasanya. Biasanya terdengar suara isterinya yang meraung-raung, atau bunyi barang-barang dapur yang dilempar atau suara Bahalwan yang pasrah. Kali ini sepi. Ada apa? Apakah isterinya sakit sehingga tak sanggup mengajak suaminya bertengkar. Apakah Bahalwan tidak di rumah sehingga isterinya tak punya lawan tanding? Para tetangga kanan kiri pun melongok, menyorotkan matanya ke arah rumah Bahalwan. Wajah mereka menyiratkan ada rasa kejanggalan. Ada tanda tanya besar tergambar di wajah mereka.
"Bu Tut, kok sepi ya?" Tanya bu Mariam yan sama-sama tetangga Bahalwan.
"Auk!" sambil mengangkat bahu.
Saking sibuknya mereka mengurusi rasa penasaran mereka sampai-sampai mereka lupa menyapu halaman, lupa memandikan bayinya, lupa menyiram bibit cabe dan tomat, lupa membuatkan kopi suaminya; semua sibuk berjingkat-jingkat mendekati rumah Bahalwan untuk mencari tahu ada apa sebenarnya. Mengapa tidak ada pertengkaran hari ini?
Bu Mariam dan Bu Tuti makin dekat ke jendela dan pintu rumah Bahalwan. Mereka memang mau nguping, tapi tak ada suara. Tak ada bunyi-bunyian. Seolah-olah memang tak ada orang di dalam. Hari sudah menjelang siang. Suami-suami mereka sudah lama berangkat kerja, tapi mereka masih asik nguping walaupun tak terdengar apa-apa. Selain mereka ada juga Bu Maun, Bu Siti, Bu guru Mas'ud (yang suaminya ditemukan tak berkepala saat tragedi Sampit), dan Iain-lain.
"Krompyang!!"
"Nah, mulai lagi, kan?" bisik bu Tuti ke Bu Mariam dengan gembira.
"He-eh!"
Mereka cekikikan yang lain pun mengangguk-anggukkan kepala, tanda mendukung.
"Meeeooong!"
"Yaaa, kucing! Bangsat!" Mereka kecewa. Serentak mereka pun bubar. Saat itulah mereka sadar bahwa mereka masing-masing mempunyai urusan.
Tapi apa yang terjadi dengan Bahalwan? Setelah cari-cari kabar, ternyata Bahalwan dan isterinya serta Arip, anaknya, pergi rekreasi ke Bali. Wow!

Rohimah

Rohimah


Karya WPJ

Krik krik krik. Hanya suara itu. Yah, suara binatang malam yang setia menemani Isyah. Malam semakin larut, rintihan tangisan Isyah di dekat jendela ditemani temaram lampu. Isyah menangis tersedu-sedu tak kuasa menahan perih di hatinya.
“Tuhan, rasa apa ini?” keluhnya. Isyah masih saja merenung menatap langit malam dengan berlinangan air mata. Tiba-tiba terdengar seseorang mengetuk pintu dari luar.
“Tok..tok..tok….” Isyah yang menangis mendadak berhenti. Isyah mencoba keluar kamar kemudian mengintipnya dari lubang kunci .ternyata tak ada siapa-siapa.
“Siapa ya?” batinnya. Perasaan Isyah yang sedih berubah menjadi takut dan penasaran.
 Isyah tinggal di sebuah rumah sederhana yang kondisinya tak layak dan berada jauh dari perkotaan. Ia sebatang kara, dia tidak tahu siapa orang tuanya dan tak tahu di mana ia tinggal tepatnya.
Beberapa menit kemudian Isyah kembali ke kamar dengan rasa penasaran siapa yang mengetuk pintu di malam hari. Perasaan tak enak karena kejadian tadi, Isyah pun segera menutup jendela lalu berbaring di gelaran tikar anyaman. Isyah berusaha memejamkan matanya. 

*********

Sinar matahari yang melewati lubang dari jendela kamar Isyah, membuatnya terbangun dan bergegas mencari rejeki. Isyah tak pernah merasakan pendidikan. Yang ia bisa hanya pergi ke hutan mencari makanan untuk bertahan hidup.
Sepulang dari hutan, Isyah membasuh wajah cantiknya yang kusam. Tiba-tiba Isyah tertegun sejenak melihat bayangan wajahnya di permukaan air dari dalam sumur. Isyah teringat lagi kesedihannya dan berlinang air mata. Isyah berkata. “Apakah dia?”
Malam pun turun. Isyah masih dengan kesedihannya. Tak kuasa menahan sedih, Isyah lari ke kamar dan membuka jendela menatap daun-daun hijau untuk menghibur diri.
Tok..tok..tok…. Suara ketukan pintu terdengar lagi, Isyah kaget dan cepat keluar untuk memeriksa.
Isyah melihat wanita cantik setengah baya berdiri di depan pintunya. Dia lalu membuka pintunya dan bertanya. “Siapa anda?”
Wanita itu menjawab “Saya Rohimah!”
Ada perlu apa Ibu?  Kenapa ibu berada disini?” tanya Isyah lagi.
Wanita itu pun menjawab “Saya tersesat dan tak tahu arah pulang, Nak. Saya butuh tempat tinggal. Apakah saya bisa tinggal di sini untuk sementara waktu?”
Perasaan Isyah bingung dan takut, tapi dia merasa kasihan. Isyah pun akhirnya mengizinkan karena menurutnya wanita itu baik.
“Baiklah, silahkan masuk, Bu!” kata Isyah.
“Terima kasih, Nak” jawab Bu Rohimah.
Isyah memberi makanan hasil dari hutan. Rohimah dengan senang hati menerima makanan tersebut dengan sunggingan senyum.
“Terima kasih, Nak!” ucap bu Rohimah.
“Sama-sama, Bu.”
Rohima bertanya lagi pada Isyah, “Di mana keluargamu yang lain?”
“Maksud Bu Rohimah?” Tanya Isyah dengan wajah bingung.
“Maksud saya di mana orang tuamu dan saudaramu?” jawab Bu Rohimah.
Isyah berlari ke kamar, lalu menutup pintu. Bu Rohimah bingung lalu menghampiri  Isyah ke kamar dan bertanya ,“Kenapa kamu, Nak? Apakah kamu tersinggung dengan pertanyaan Ibu? Ibu minta maaf atas pertanyaan tadi, ya.”
Isyah merasa tidak nyaman atas tindakannya kemudian ia keluar. Dia menghapus air matanya lalu kembali menemani Ibu Rohimah.
“Maafkan saya, Bu. Saya hanya sebatang kara” ucap Isyah.
“Tak perlu minta maaf, Nak. Seharusnya Ibu yang minta maaf telah menanyakan soal orang tuamu.” kata bu Rohimah.
“Tidak apa-apa, Bu.” jawab Isyah sambil memaksakan tersenyum.
Hari mulai malam, Isyah berpamit untuk tidur lebih dulu kepada ibu Rohimah yang tidur sebelah Isyah.
Bu Rohimah tersenyum dan berlinang air mata saat menatap wajah Isyah yang sedang tidur lelap. Malam semakin larut, Isyah bermimpi. Dalam mimpinya, ia berlari di tengah padang yang penuh bunga-bunga indah sambil tertawa. Isyah melihat sesosok perempuan dengan sinar di wajahnya dari jauh. Isyah mendekati wanita itu, Isyah kaget dan berkata “Loh Ibu Rohimah. Kenapa ada di sini?” tanya Isyah dalam mimpi.
Ibu Rohimah tiba-tiba memeluk Isyah sambil menangis.
Isyah bertanya “Kenapa Ibu memeluk Isyah dan menangis?”
“Ibu rindu kamu, Nak. Kamu adalah anak Ibu. Maafkan  ibu meninggalkanmu sendiri. Ibu pergi, selamanya. Jaga diri baik-baik, ya. Ibu sayang kamu!” kata Bu Rohimah.
Isyah pun terbangun dari mimpi sambil menangis. Saat berbalik untuk melihat Bu Rohimah yang tidur di sebelahnya, ternyata tak ada siapapun. Isyah pun tak dapat menahan air matanya.
“Ibu, Isyah rindu Ibu setiap malam. Isyah selalu menangis menatap langit malam ditemani suara jangkrik. Terima kasih ibu telah hadir dalam hidup Isyah walau sebentar, walau hanya dalam mimpi.”

Antara Iman dan Imron

Antara Iman dan Imron


Sore-sore kami menemukan topik yang menarik tentang ayam. Betapa ayam tahu betul bahwa hari sudah sore atau hari menjelang pagi. Sampai-sampai suatu saat kami berkesimpulan bahwa ayamlah yang paling disiplin di dunia dibanding dengan manusia. Tidak pernah khianat untuk tidak membangunkan manusia. Tidak pernah telat bangun dan paling waspada dalam tidurnya daripada maling.
Sore itu, tampak oleh kami seekor ibu mengajak anak-anaknya tidur. Sang ibu mengajari bagaimana cara naik pohon Srikaya dan mencari tempat bertengger yang kokoh untuk dibuat pegangan. Anak-anak itu begitu belia, tapi sudah masanya mulai diajari bagaimana hidup. Salah satunya adalah cara mencari tempat tidur yang nyaman.
Sang ibu begitu telatennya mengajari melompat dari ranting ke ranting srikaya diikuti oleh anak-anaknya. Semua anaknya ada lima. Semua ikut naik. Beberapa di antara mereka ada yang jatuh karena bulu pada sayapnya belum sempurna tumbuh. Kemudian setelah semua pada naik, dua sayap ibu mereka membentang, mengekepi kelima anaknya dengan kehangatan. Entah bagaimana menderitanya bila hujan turun. Tentu mereka sangat kedinginan, tapi Tuhan Maha Pemelihara yang Maha Sempurna tak akan membiarkan ayam-ayam itu mati kedinginan, maka diberilah pada ayam-ayam itu bulu yang lebat dan licin.
Di tempat lain, sang bapak, si jantan, berkokok meneriakkan kejantanannya. Seolah-olah menandakan bahwa tempatnya tak boleh ada yang berkokok selain dirinya. Kalau ada yang berkokok seperti dia, itu berarti ada dua kepemimpinan. Tak boleh dalam satu wilayah ada dua pemimpin, menurutnya. Bisa-bisa terjadi perang untuk menentukan siapa yang kalah dan siapa yang menang. Harus satu pemimpin saja.
Sang bapak itu, yang pernah memberinya ibu itu lima anak berikut segala beban hidup ditanggungnya sendirian. Sang bapak tak pernah ambil pusing dengan   dengan apa yang terjadi terhadap ibu dan anak-anaknya   Kegagahannya sebagai  jantan telah memberinya banyak peluang untuk memberi ayam-ayam perawan di wilayahnya beberapa butir telur setiap hari. Tanpa harus merasa tak enak telah berbuat tak setia kepada isterinya. Tanpa harus merasa terbebani dosa telah melanggar hukum manusia. Semua dia lakukan atas dasar mau. Memang begitulah ayam. Tidak seperti manusia yang terikat dengan berbagai aturan dan rasa etis.
Sementara di masyarakat sedang tren yang namanya selingkuh. Kata anak-anak muda SLI (Selingkuh Itu Indah). Fakta tersebut banyak menyerang orang-orang yang beruang. Tapi, tidak menutup kemungkinan bagi orang-orang yang tidak berduit untuk tidak melakukannya. Fakta itu banyak yang dilakukan dengan terang-terangan. Artinya, baik si suami atau pun sang istri sama-sama tahu kalau di antara mereka ada orang lain. Hal ini diperkuat oleh sinetron-sinetron Indonesia dan telenovela-telenovela dubbing-an. Seolah-olah tontonan-tontonan itu   mengajak secara resmi untuk  melakukan selingkuh secara massal. Tanpa malu-malu. Tanpa rasa takut. Arti kasarnya, harus dicoba walapun harus ada yang sakit.
Kalau dinilai-nilai, tak ada bedanya dong, ayam dengan orang? Tapi kenapa sang ibu ayam dengan perilakunya yang mirip manusia tidak disebut manusiawi? Dan kenapa manusia tidak mau disamakan dengan ayam padahal jelas-jelas manusia menuruti sisi jelek ayam? Ah, itulah repotnya! Memang beda manusia dengan ayam. Sesempurna-sempurna ciptaan Allah hanya manusia, bukan ayam. Mungkin artinya, manusia dilengkapi dengan dua perilaku. Satu, perilaku malaikat. Dan satu lagi, perilaku binatang.  Tinggal dekat pada perilaku yang mana? Pada perilaku malaikat atau binatang? Atau kedua-duanya? Ah, ngelantur!
Sebenarnya, aku tak ingin benar-benar bicara tentang ayam. Tepatnya, aku ingin centa tentang seorang teman. Namanya, Imron, tapi bukan karena namanya Imron lantas aku cerita, tapi karena keluhannya kepadaku.
Memang, nama Imron sering kali dijadikan ledekan. "Iman sin kuat, tapi Imron?" ledekan itu untuk mengatakan bahwa nafsu sering-sering mengalahkan iman. Imron menunjuk pada kejantanan laki-laki. Tepatnya, bukan hal ini yang ingin aku ceritakan. Ada hubungan, tapi bukan itu. Imron ini bercerita padaku begini.
"Setiap kali aku meniduri Romlah, aku selalu teringat Hesti. Seolah-olah aku sedang menidurinya. Aku jadi merasa bersalah. Aku merasa kehilangan kesetiaan. Aku merasa telah berkhianat pada isteriku!"
Aku mencoba menenangkan kegelisahannya dengan menganggapnya bahwa hal itu wajar. Biasa dan bisa terjadi pada siapa saja.
"Tidak bisa begitu. Aku tetap telah berkhianat. Memang awalnya selalu dimulai dari perselingkuhan di dalam kepala, lama-lama kan bisa ke dada!"
"Apa kamu memang punya niat untuk berselingkuh?"
"Tidak! Demi Allah, tidak!"
"Tapi kenapa kamu merasa bersalah seperti itu?"
"Itulah masalahnya. Kenapa setiap kali aku melakukannya itu dengan Romlah, justru yang datang wajah Hesti!"
"Kan enak, kamu tidak perlu benar-benar melakukannya dengan Hesti. Cukup dengan Romlah, isterimu!"
"Iya, tapi itu tetap selingkuh namanya!"
Pembicaraan itu tidak pernah menemukan solusi. Setiap kali bertemu Imron, pasti terjadi perdebatan itu. Tapi setelah lama tak bertemu dia lagi, aku dengar kabar bahwa Imron meninggalkan Romlah, isterinya, dan menikahi Hesti.
"Dasar!!!"

DUNIA DALAM BUKU

DUNIA DALAM BUKU



Karya Neysha Agatha Anindiar 
(Pemenang Lomba Cerpen Fantasi Anak 2018)


Lisa. Ya, itu namanya. Ia adalah seorang anak perempuan cantik nan anggun. Ia bersekolah di sebuah sekolah menulis yaitu Writing School atau yang biasa disingkat WS. Itu adalah sekolah khusus menulis yang terkenal. Lisa adalah anak yang baru masuk kelas 2 atau lebih tepatnya ia baru saja naik ke kelas 2. Lisa sangat suka membaca dan menulis.
Di suatu pagi yang cerah di Writing School, Lisa berjalan sendiri menuju kelas menulisnya di tingkat 4 Writing School. Tingkat 5 untuk anak kelas 1, tingkat 4 untuk anak kelas 2 dan seterusnya, sedangkan aula dan lainnya di gedung yang berbeda. Saat Lisa akan naik tangga, ia melihat banyak orang berkumpul di madding sekolah. Lisa langsung menuju tempat itu sambil bergumam “ada apa itu?”. Saat Lisa berhasil menembus kerumunan orang, ia membaca bahwa akan ada lomba menulis cerpen fantasi. Melihat pengumuman lomba tersebut Lisa sangat antusias untk mengikuti lomba tersebut. Tapi ada rasa minder di hatinya karena akan bersaing dengan anak kelas 5 yang dianggapnya mampu memenangkan lomba.
Kriiing… kriiiiing…. Bel istirahat berbunyi. Lisa meneruskan niatnya untuk ikut lomba cerpen fantasi dengan mencari referensi di perpustakaan.  Sesampainya Lisa di perpustakaan, ia lega karena tidak banyak pengunjung yang datang. Ia jadi lebih leluasa berlama-lama mencari buku yang dirasanya dapat membantunya menulis cerpen fantasi.  Setiap rak ia hampiri, hingga akhirnya ia memutuskan untuk mencari di rak cerpen.
“Di mana ya?” gumam Lisa sambil terus berjalan mengitari rak cerpen. Saat Lisa tengah sibuk mencari, Lisa dikagetkan oleh buku yang tiba-tiba jatuh dari rak. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri, tidak ada pengunjung lain selain dirinya. “Kenapa buku ini tiba-tiba jatuh”, gumam Lisa. Lisa kemudian menunduk dan mengambil buku itu. Betapa senangnya Lisa setelah membaca judul buku yang baru saja diambilnya; Cerpen Fantasi.
“Waaah ini dia buku yang dari tadi aku cari,” ucapnya. Lisa melonjak kegirangan lalu berlari-lari kecil tidak sabar untuk segera membacanya. Saat ia serlari-lari itulah buku itu terlepas dari tangannya, jatuh kemudian terinjak olehnya. Tiba-tiba Lisa seolah terjatuh ke dalam terowongan yang panjang.
“Aaaaaaaaaaaa… tolooong!!” teriak Lisa. Bruuuuukk... suara badan Lisa tersungkur
“Aduuuuhh.. Apa yang terjadi?” keluh Lisa sambil meringis kesakitan. Saat Lisa melihat sekelilingnya, ia terbelalak kaget menyadari dirinya jatuh di sebuah buku yang sangat besar, di sekelilingnya juga banyak rumah, gedung, mobil dan jalanan yang terbuat dari kertas dan buku. Belum selesai kaget yang dialami Lisa, ia kembali dikagetkan oleh sebuah suara.
“Mau kutolong?” Tanya makhluk aneh yang tiba-tiba muncul dan menjulurkan tangannya pada Lisa.
“Siapa kau?” Tanya Lisa menutupi rasa takutnya.
“Harusnya aku yang bertanya padamu. Siapa dan dari mana asalmu.” Balas makhluk aneh itu.
“Makhluk ini tidak terlalu menakutkan, cara bicaranya begitu halus dan imut” kata Lisa dalam hati. Lisa pun menjawab dengan lebih tenang dan bersahabat,
“Oh, hai! Namaku Lisa. Aku berasal dari sekolah Writing School.” Lisa berpikir sejenak kemudian menjelaskan, “Aku berasal dari bumi. Aku datang ke sini tanpa sengaja. Tadi aku juga tidak sengaja menjatuhkan dan menginjak sebuah buku yang akan aku pelajari.”
“Oh, jadi kau yang dikirim Lia untuk kuajarkan tentang cerpen fantasi ya?” kata makhluk aneh itu.
“Hah? Apa maksudmu? Siapa Lia?” Tanya Lisa tidak mengerti.
“Baiklah, akan aku jelaskan. Sini ikuti aku.” Kata makhluk aneh itu.
Makhluk aneh itu mengajak Lisa duduk di kursi yang berbentuk buku.
“Lisa, aku senang sekali Lia mengirimmu ke sini. Namaku Fanny.” Katanya memperkenalkan diri sambil tesenyum.
“Aku akan mengajarimu tentang cerpen fantasi. Kamu ingin belajar menulis cerpen fantasi kan?” kata Fanny dengan mata berbinar dan senyum yang tidak penah lepas dari bibirnya yang berwarna seperti buah labu.
“Iya betul, aku ingin sekali mempelajarinya. Dari mana kamu tahu Fanny?” Tanya Lisa penuh semangat.
“Kamu bisa berada di sini karena dikirim oleh Lia. Lia adalah presiden di negeri ini. Ia pula yang menulis buku yang ingin kamu pelajari tadi. Setiap anak yang dikirim Lia ke sini pastilah memiliki kemauan yang kuat untuk belajar. Kamu juga pasti termasuk anak dengan kemauan yang kuat untuk belajar sehingga Lia mengirimmu ke sini.” Jelas Fanny
 “Waahh kalau begitu aku adalah anak beruntung yang terpilih bisa datang ke tempat ini. Aku jadi tidak sabar untuk segera belajar, Fanny.” Kata Lisa senang.
“Aku juga senang bisa bertemu dengan anak yang penuh semangat sepertimu.” Kata Fanny sambil tersenyum dan sesekali mengedip-ngedipkan matanya.
“Tapi untuk hari ini aku akan mengajarkanmu dasarnya saja. Kamu harus mengingatnya dengan baik.”
Lisa mengangguk dan siap menyimak penjelasan Fanny dengan penuh semangat. Fanny pun memulai penjelasannya dan menyampaikan poin penting yang harus dipahami Lisa,
“Jadi Lisa, yag harus kau pahami; cerpen fantasi adalah cerita pendek yang memakai imajinasi kreatif dan di luar batasan.”
Lisa mengangguk-angguk tanda mengerti penjelasan Fanny.
“Kalau kamu sudah paham, hari ini kita belajar sampai di sini dulu ya. Besok kamu datang ke sini lagi. Kata Fanny.
“Baiklah, Fanny. Besok aku akan segera kembali.” Kata Lisa meyakinkan.
“Eeiiit.. Tunggu dulu. Kamu hanya boleh keluar dari sini setelah dapat menjawab pertanyaan tentang apa yang kamu pelajari agar aku bisa menyampaikan pada presiden Lia.”  Jelas Fanny.
Maka fanny pun memberi beberapa pertanyaan pada Lisa. Karena telah menyimak penjelsan Fanny dengan baik, Lisa pun bisa menjawab semua pertanyaan dengan baik. Setelah menjawab semua pertanyaan, Lisa menyentuh jari kelingking Fanny dan Lisa pun dapat kembali ke perpustakaan dan pulang ke rumah. Sesampainya Lisa di rumah, ia terus belajar dengan penuh semangat.
Keesokan harinya, Lisa pergi menemui Fanny unuk kembali belajar tentang cerpen fantasi. Ilmu baru lagi-lai didapatkan Lisa dari Fanny. Lisa begitu senang dan bersemangat. Hampir setiap hari Lisa pergi menemui Fanny hingga ia paham betul tentang cerpen fantasi.
Hari perlombaan menulis cerpen fantasi pun tiba. Lisa berkumpul di aula sekolah WS yang besar untuk mengikuti lomba.
“Baiklah anak-anak, hari ini lomba menulis cerpen fantasi akan dimulai. Masing-masing anak sudah mendapat laptop. Dilarang menjiplak karya oang lain. Lomba ini dimulai sekarang, tulislah cerita yang berasal dari imajinasi kalian sendiri.” Jelas Bu Ela Kepala WS.
Aula WS hening seketika. Setiap anak larut dalam imajinasinya. Lisa langsung menuliskan ceritanya. Rasa khawatir karena harus bersaing dengan anak yang kelasnya lebih tinggi berusaha ia hilangkan. Ia berusaha untuk menulis dengan santai dan tenang.
Tiiing.. bel tanda selesainya lomba berbunyi. Lisa pun mengumpulkan cerita yang ditulisnya.
“Anak-anak, pemenang lomba akan diumumkan besok di aula sekolah pukul 09.00 WIB ya. Kalian bisa ke sini untuk melihat pengumumannya.” Bu Ela memberikan penjelasan.
Lisa kemudian pulang dengan senyum lega tapi sedikit tegang. Dalam hati ia berkata akankah ceritanya menjadikannya pemenang mengalahkan anak-anak lainnya.
Keesokan harinya, di aula sekolah semua anak-anak yang mengikuti lomba berkumpul. Mereka tidak sabar mngetahui siapa pemenangnya. Lisa pun sama. Dengan penuh tegang Lisa mendengar semua juara yang dibaca Bu Ela.
“Baiklah anak-anak, juara 3 adalah… Fira dari kelas 5! Silahkan naik ke atas panggung.” Kata Bu Ela diiringi tepuk tangan yang meriah.
“Selanjutnya…. “ kata Bu Ela. Juara 2 jatuh kepada… Sabita dari kelas 5!” tepuk tangan kembali bergemuruh.
Lisa semakin resah, namanya belum juga disebut
 “Waduh, bagaimana ini. Juara 3 dan juara 2 dari kelas 5. Apakah aku yang kelas 2 bisa menang?” Tanya Lisa pada dirinya sendiri.
“Juara 1 akan naik ke kelas 5 dan mendapatkan trofi besar. Siapa dia? Dia adalah… Li.. sa…”
Begitu medengar namanya disebut, Lisa kaget dan sangat senang. Lisa seolah tidak percaya dirinya bisa menjadi juara satu menulis cerpen fantasi.
“Terima kasih Fanny dari Negeri Buku”, gumam Lisa.

Hadiah Untuk Bapak

Hadiah Untuk Bapak



Karya Ifa

“Kuenya, Bu, seribu saja!” suara Sekar dan ibu Vania sambil menampa kue dagangannya. Sekar dan ibunya menjajakan kue berkeliling.
Sekar adalah anak satu-satunya dari ibu Vania. Mereka hanya hidup berdua. Bapaknya sudah meninggal dunia sewaktu Sekar masih umur 2 tahun. Sekar sekarang telah berusia 11 tahun.
Sekar adalah anak yang rajin. Walaupun mereka hanya hidup berdua dan tinggal di tempat yang cukup sederhana, namun Sekar tidak pernah bermalas-malasan. Sekar juga sering melihat ibunya membuat kue di dapur saat malam hari, lalu sekarang menghampiri ibunya.
“Ibu, mengapa Ibu belum tidur?” Tanya Sekar sambil duduk di dekat ibunya. “Eh, Sekar, iya Ibu masih belum ngantuk. Ibu ingin tidur tapi mata Ibu tidak bisa tertidur jadinya Ibu pergi ke dapur untuk bikin kue,” jawab ibunya sambil mengaduk adonan kue yang baru dibuatnya.
“Kalau begitu Sekar bantu ya, Bu?” Pinta Sekar kasihan melihat ibunya yang bekerja sendiri.
“Lebih baik kamu tidur saja. Besok kan kamu harus ujian. Jadi tidak boleh capek!”
“Tapi, Bu….”
“Sudah sana, kamu tidur aja nggak apa-apa!” Pinta ibunya yang tidak bisa lagi dibantah.
“Iya, iya, Bu, tapi Ibu bikinnya jangan sampai larut malam ya Bu!”
“Iya, Sekar sayang!” Jawab ibu kepada Sekar dengan halus.
Esok harinya saat pulang sekolah Sekar mencari ibunya dan ingin memberitahukan informasi tentang hal yang telah terjadi di sekolahnya.
“Ibu, Ibu!”
“Ada apa, Sekar?”
“Lihat ini Bu!” Sekar langsung memberikan selembar kertas yang berisi tentang hasil ulangannya.
“Wah, anak Ibu pintar sekali. Nilai ulangan kamu dapat 100! Ibu sangat bangga kepadamu, Sekar.” Ibunya mengelus elus kepala Sekar dengan lembut lalu menyuruh Sekar untuk duduk.
“Oh, iya Bu, Sekar ingin sekali mengikuti lomba cerpen!”
 “Memangnya Sekar suka menulis?”
“Iya, Bu, waktu itu Sekar pernah menemukan koran bekas yang isinya tentang cerpen dan itu ditulis oleh anak kecil yang seumuran dengan Sekar. Sekar kagum dengan mereka kecil-kecil sudah bisa membuat cerita sebagus itu sekarang juga ingin seperti mereka!”
Suatu hari waktu Sekar lagi mau masuk kelas di dinding luar kelas Sekar ada lembaran kertas yang berisi tentang lomba menulis cerpen tingkat SD. Gratis. Setelah masuk kelas bu guru menjelaskan tentang kertas yang ditempel di luar kelas. Menurut bu guru siapa yang berbakat di bidang menulis diperbolehkan mengikuti lomba itu.
“Ada yang ingin bertanya?”
Lalu Sekar mengacungkan tangannya sambil berkata “Bu guru, Sekar ingin mengikuti lomba cerpennya!”
“Memangnya Sekar suka bikin cerita?” Tanya Bu Guru.
“Tidak terlalu Bu guru, tapi Sekar suka kalau disuruh bikin cerita.” Jawab Sekar.
“Kalau begitu nanti minta izin dulu ya, pada ibunya. Jika Sekar dibolehkan, maka Sekar boleh mengikuti lombanya.” Jawab bu guru lagi.
Sekar pun meminta izin ke ibunya.
“Tentu saja boleh, dong, Sekar sayang! Jika memang Sekar suka menulis dan ingin mengikuti lomba itu, Ibu mengijinkan Nak.” Jawab ibunya dengan halus sambil menatap Sekar dengan senyumannya.
“Baik Bu ,tapi….” Kata Sekar terpotong saat Sekar melirik ke foto bapaknya.
“Tapi Bu, Sekar sedih saat ini Bapak tidak ada di sisi Sekar.”
Dengan mata yang berkaca-kaca kemudian Sekar berdiri dan menghampiri tempat foto Bapaknya yang disimpan di atas lemari. Sekar mengambil foto bapaknya. Dengan perlahan-lahan air matanya mulai jatuh saat Sekar memandang foto bapaknya. Ibu Sekar menghampirinya sambil memegang pundaknya dan berkata. “Kamu jangan sedih walaupun saat ini tidak ada Bapak, tapi kan masih ada Ibu!” Hibur ibunya yang hampir menangis juga.
“Ibu, mengapa setiap pulang sekolah Sekar selalu melihat teman-teman Sekar dijemput dengan ibu dan bapaknya? Sekar selalu berharap akan seperti teman-teman Sekar bisa dijemput ibu dan bapak.” Air mata Sekar semakin terus menetes setelah mendengarkan ucapan dari Sekar ibunya juga ikut meneteskan air matanya sambil memeluk Sekar.
“Ibu, Sekar sangat rindu pada Bapak!” Sambil memeluk foto bapaknya
“Iya Sekar, kamu harus sabar. Sekar harus kuat. Sekar kan anak yang hebat. Sekar anak yang sholeha. Kalau Sekar rindu sama bapak Sekar bisa kirimkan surah al-fatihah dan doakan bapak agar Bapak bisa beristirahat dengan tenang di sana.” ucap ibunya sambil mengelus-elus kepala Sekar dan mencium keningnya.
“Iya, Bu. Sekar akan selalu doakan Bapak. Sekar kan selalu kirimkan surah al-fatihah kepada Bapak. Nanti kalau misalnya Sekar menang lomba, Sekar akan berikan hadiahnya untuk bapak!”
Lomba menulis cerpen tingkat SD yang ikuti telah tiba saatnya. Sekar dan ibunya pun pergi ke tempat perlombaan. Di sana banyak sekali saingan Sekar yang berasal dari berbagai daerah. Terdengar pengumuman dari panitia bahwa lombanya akan segera dimulai. Segera Sekar memasuki ruangan lomba. Tapi sebelum Sekar memulai menulisnya,  Sekar membaca doa terlebih dahulu agar diberi kelancaran. Satu jam kemudian Sekar dan semua peserta keluar dari ruang perlombaan. Sambil menunggu pengumuman, Sekar dan ibunya terus berdoa agar Sekar dapat meraih juara 1. Tidak lama kemudian pengumuman pemenang dari lomba cerpen tingkat SD tahun itu disampaikan. Juara 3 diraih oleh Raisa, dari Banten yang menceritakan tentang lukisan kuda yang terpajang di rumahnya. Juara 2 diraih oleh Tania, dari Sumatera Utara, yang menceritakan tentang kelinci tersayang. Dan juara 1 diraih oleh Sekar, dari Sumedang, yang menceritakan tentang hadiah untuk ayah tercinta.
Sekarlah juara 1. Sekar dan ibunya dipanggil maju untuk menerima hadiah. Saat Sekar menerima piala dan hadiahnya, Sekar langsung meneteskan air matanya. Saat itu juga Sekar diberi kesempatan untuk mengucapkan kata-kata sebagai rasa syukur atas kemenangannya.
“Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Pertama, saya ucapkan terima kasih kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala atas rahmat yang diberikan kepada Sekar. Sekar juga berterima kasih kepada Ibu Sekar karena ibu selalu memberi semangat untuk Sekar. Ibu juga selalu berdoa yang terbaik untuk Sekar. Sekar juga berterima kasih kepada guru dan teman-teman Sekar semuanya. Sekar menang karena kalian selalu mendukung Sekar. Dan yang terakhir Pesan yang ingin Sekar sampaikan adalah Sekar juga ingin membanggakan ibu dan bapak walaupun saat ini tidak bisa melihat bapak di sini mendampingi Sekar, tapi Sekar yakin bapak pasti tahu Sekar menang mengikuti lomba cerpen ini. Sekarang Sekar ingin memberikan hadiah ini untuk bapak. Sekar ingin bapak bahagia di sana. Sekar sangat rindu pada bapak. Sekar sangat sayang pada bapak. Sekian pesan yang dapat Sekar sampaikan. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.” Tepuk tangan pun meriah.
Setelah mengambil hadiahnya dan ingin keluar dari pintu gerbang tempat perlombaan, sekar sempat berkata kepada ibunya. “Ibu boleh tidak sebelum kita pulang ke rumah, kita pergi ke makam Bapak dulu?”
“Boleh, asal sekar tidak capek.” Jawab ibunya dengan halus.
Akhirnya Sekar dan ibunya pergi ke makam bapak. Tidak lamas setiba ibu dan Sekar di makam, Sekar langsung meneteskan air mata sambil memeluk makan bapak dan berkata, “Ini Sekar, Sekar ada di sini, Bapak! Lihatlah, sekarang Sekar memenangkan lomba cerpen dan Sekar mendapat juara 1. Sekar ingin memberikan hadiah ini untuk bapak!”
Untuk mengurangi rasa sedih Sekar, ibunya pun mengalihkan suasana. “Sekar, sekarang kita kirim surah al-fatihah dulu yuk, ke bapak!” Pinta ibunya kepada Sekar.
“Iya Bu.” Jawab Sekar sambil mengusap air matanya.
Setelah Sekar dan ibunya mengirimkan al-fatihah ke bapak, ibunya berkata, “Sekar, Bapak pasti bangga melihat Sekar memenangkan lomba apalagi Sekar meraih juara 1. Bapak pasti bahagia di sana ditambah lagi Sekar mengirim surah al-fatihah ke bapak. Pasti Bapak sangat bahagia di sana!”
“Benarkah Bu?” Tanya Sekar dengan wajah senang. Ibunya hanya menganggukkan kepala sambil tersenyum.
“Iya Bu, tapi sebelum itu Sekar ingin berpamitan dulu pada Bapak.”
“Bapak, Sekar pamit pulang dulu ya? Sekar akan selalu doakan Bapak dan Sekar akan selalu berziarah ke makam Bapak.” Pamit Sekar sambil mengelus-elus batu nisan bapaknya. Sekar pulang bersama ibunya sambil bergandengan tangan.