Untukmu, Ayah

Untukmu, Ayah




Karya Yuli Coule’

Bagaimana caranya aku memberikan surat ini pada ayah? Atau kubiarkan saja berada dalam tasku, tanpa memberikan padanya?  Surat dengan amplop berwarna coklat dari sekolahku, panggilan dari BK. Tau sendirilah kalau panggilan dari BK pasti ada masalah. Aku tidak punya banyak keberanian untuk menatap mata tajam ayah, mendegar suara ayah dengan setengah membentak. Dan aku paling tidak siap dengan kata-kata ayah “ Ayah malu”. Apakah aku sehina itu? Hingga membuat ayahku malu?
Ayahku adalah seorang kepala sekolah. Ia terkenal sebagai kepala sekolah yang disiplin. Semua sekolah yang ia bina pasti tahu dengan sepak terjangnya. Sekolahnya selalu berprestasi, bahkan seharusnya ayahku sudah memasuki masa periodesasi, masa kepala sekolah dijadikan sebagai guru kembali karena masa jabatannya telah habis. Tapi tidak dengan ayahku, masa kerjanya ditambah lagi empat tahun karena ayah tercatat sebagai salah satu kepala sekolah berprestasi.
Ayahku memang sangat disiplin tidak hanya di sekolah tapi juga di rumah. Dia selalu menerapkan kedisiplinan kepada kami anak-anaknya. Mulai dari pertama kali bangun hingga memejamkan mata kembali. Aku adalah anak terakhir dari tiga bersaudara. Semua kakak-kakaku sudah bekerja, aku masih duduk di bangu kelas 3 SMP. Mungkin diantara kedua saudaraku, aku yang paling bermasalah dan mungkin tidak memiliki prestasi apapun. Aku berkali-kali mendapatkan perhatian khusus dari BK, dari saking perhatiannya mereka sering sekali memanggil orang tuaku untuk sekadar ngobrol memberikan penjelasan tentang ulahku di sekolah.
Padahal aku tidak merasa melanggar apapun tapi ya begitulah sekali terperosok ke jalan yang salah maka akan sulit sekali untuk mendapatkan kepercayaan. Dan itu rasanya tidak enak sekali. Apapun yang aku jelaskan pada ayah, selalu saja mentah dan aku selalu dijustice bersalah.
Kembali kulihat amplop berwarna coklat ini, memang tidak di lem. Aku bisa membukanya, tapi aku tidak mau melakukan ini. Toh jelas di depan tertulis kepada wali Murid Dhimas Afri Wahyudi. Surat ini untuk ayahku bukan buat aku.
Aku masih ingat wajah ayah ketika marah padaku karena aku mendapatkan hukuman dari wali kelasku karena tidak ikut bimsus. Padahal aku benar-benar tidak sengaja terlambat. Ketika bel masuk berbunyi, tiba-tiba aku sakit perut dan aku mampir dulu ke kamar mandi. Entah apa yang aku makan hingga perutku benar-benar sakit dan aku cukup lama berada di kamar kecil berukuran 1,5 x 2 m. Sesampainya di kelas bimbingan khusus (bimsus) berlangsung 20 menit. Aku tidak diperbolehkan masuk dan aku tidak diberi kesempatan untuk menjelaskan. Sebaliknya malah bawa-bawa nama ayahku.
“kenapa terlambat?” tegur bu Aini.
“Saya dari kamar mandi bu, karena sakit perut.”
“Kenapa tidak ikut ayahmu saja? Bukankah di sana boleh terlambat?” kembali Bu Aini dengan ketus berkata padaku sembari melanjutkan pelajaran.
Telingaku langsung panas mendengar kata-kata bu Aini. Andai bukan muridnya aku sudah membantah, dan menjelaskan pada bu Aini. Meskipun sekolah ayahku berada di pinggiran, sekolahnya juga disiplin. Setiap pagi ayah selalu berangkat lebih awal dariku. Karena jaraknya lumayan jauh sekira 30 Km dari rumah. Setiap pagi di sekolah ayah rutin dilaksanakan apel pagi. Dan prestasinya juga tidak kalah dengan sekolah perkotaan, terlebih prestasi non akademiknya. Sayang aku sudah kelas tiga. Aku tak ingin bermasalah dengan guru-guruku. Pagi itu aku tidak diperbolehkan mengikuti bimsus. Sebaliknya aku mendapatkan surat untuk ayahku.
“Bagaimana kegiatan di sekolah hari ini? Kok tidak semangat begitu?” sapa ayah ketika aku melangkah memasuki ruang tamu.
“Ada surat untuk ayah?” balasku sambil terus melangkah menuju kamar.
“Dhim…Sini!” Suara ayah terdengar keras memanggilku. Seharusnya aku tidak memberikan surat itu langsung, ayah pasti masih capek. Aku sudah menyiapkan diri dengan argumenku meski aku tahu aku ending ceritanya.
“Yah, Dhimas tidak salah. Tadi dhimas memang telat masuk kelas bimsus, tapi tidak Dhimas sengaja yah. Dhimas masih ke kamar mandi, karena sakit perut.”
“Bagaimana pun kau tetap salah, tidak mungkin surat ini sampai di tangan ayah kalau kau tidak melakukan kesalahan!”
Aku hanya terdiam aku tidak ingin mengatakan apapun tentang perkataan bu Aini pagi tadi tentang ayah dan sekolahnya, ia pasti akan marah besar. Tentu ayah tidak terima jika sekolahnya dijelek-jelekkan.
“Iya Dhimas minta maaf yah.”
“Dhim, ayah malu nak jika harus kembali berhadapan dengan guru BK atau wali kelasmu. Ini kali keberapa? Kamu tahu sendirikan ayah ini bagaimana? Ayah ini selalu menerapkan disiplin dimana dan kepada siapapun. Sementara anak ayah sendiri?” Suara ayah mulai merendah dan setengah berkaca-kaca bola matanya.
Ah… Ayah, aku ini adalah anak biasa sama seperti anak-anak di luar sana. Anak yang mungkin masih ingin banyak bermain, ingin mencoba. Jenuh dengan pelajaran, bosan dengan guru yang hanya memberikan perhatian kepada anak-anak yang pandai saja. Malas dengan guru yanag selalu mencari keslahanku dan hanya bisa menjustice aku salah dan salah. Aku juga ingin mengatakan kepada ayah bahwa aku ingin sekali seperti kakak Ratih dan Reno yang selau berprestasi dan bisa membanggakan ayah. Tapi mungkin kemampuanku tidak sama dengan mereka yah. Ayah tau tidak? Ketika ayah terlelap aku selau bangun untuk belajar, sesekali aku sempatkan untuk menatap wajah ayah yang mulai keriput termakan usia. Keinginanku hanya sederhana yah, hanya ingin membuat ayah tersenyum. Jika aku tidak bisa mengukir prestasi untukmu aku hanya ingin mengukir senyum dalam kegundahanmu.

Siang itu aku berjalan bersama kengamangan sesekali aku menendang kerikil-kerikil untuk tumpahkan gundahku. Antara memberikan surat ini atau tidak. Aku harus siap dengan apa yang akan kudapatkan dari ayah. Aku bulatkan tekad untuk tetap memberikan surat ini padanya.
“Assalamualaikum” seruku dari luar.
“Walaikum salam.” Suara ibu menjawab salamku.
“Bu, Ayah belum datang?” tanyaku singkat.
“Ayahmu hari ini pulang lebih awal kesehatannya sedikit bermasalah, sepertinya drop.”
Kata-kata ibu menahan tanganku untuk mengeluarkan surat dari BK.
“Ada apa? Sepertinya ada sesuatu yang kau sembunyikan? Tanya ibu.
Aku hanya menggeleng dan cepat-cepat masuk ke kamarku.
Setelah makan malam, aku mendekati ayah.
“Ayah sakit?” tanyaku sembari bergelayut manja di pundaknya.
“Tidak, hanya kecapean saja sepertinya.” Ayah menjawab sambil mengusap-ngusap rambutku.
“sebentar lagi ku akan lulus, semoga nilaimu bagus. Belajar jangan hanya bermain” Ayah kembali menasehatiku.
“Ayah, maafkan Dhimas, ini ada titipan dari sekolah untuk ayah.” Aku setengah menunduk menyembunyikan diri dari tatapan tajam ayah.
Ayah menghembuskan nafas panjang, seperti melepas beban berat.
“Kamu melakukan apa lagi?”
Aku hanya menggeleng dan segera beranjak ke kamar, aku tak ingin mendengarkan apapun dari ayah malam ini. Bukan karena aku sudah  bosan dengan nasihat ayah, tapi lebih pada tidak tahan melihat kekecewaan ayah.

Langkahku pagi ini terasa berat sekali, enggan sekali masuk sekolah. Membayangkan wajah guru BK, surat pernyataan yang harus aku tanda tangani, atau hukuman-hukuman yang sudah kuhapal.
“ Pagi ini kita berangkat bersama-sama” ucap ayah sembari memasukkan beberapa kertas ke dalam tas kerjanya.
Aku hanya mengiyakan perkataan ayah, aku tahu aku harus lebih awal berangkat ke sekolah. Tumben ayah tidak terlihat marah, tidak membahas tentang surat dari BK. Apakah sudah capek dengan ulahku?
Seampainya di sekolah, aku segera menuju kelasku, sementara ayah berada di ruang tamu.  Sekolah masih terlihat sepi. Bel masuk berbunyi setelah 20 menit berlalu. Hatiku deg-degkan, pasti sebentar lagi akan ada panggilan untuk ku ke ruang BK.
“Dhimas” Ali ketua kelasku memberikan selembar kertas kecil panggilan dari BK.
Setelah mendapatkan paraf guru pengajarku, aku menuju ruang BK. Semakin mendekati ruang BK perasaanku semakin tidak karuan, bukan karena takut kepada hukuman atau apapu yang akan diberikan guru BK kepadaku. Tetapi aku lebih takut melihat kekecewaan di mata ayah. Langkahku terhenti persis di depan ruang BK, yang saat itu masih tertutup.
“Ya begitulah Dhimas, anak saya” kudengar suara ayah membalas obrolan di ruang BK.
Kubuka pintu ruang BK setelah kuketuk beberapa kali. Aku lebih terkejut lagi ketika melihat di sana juga ada kepala sekolah.
‘mati aku’ seruku dalam hati.
Tiba-tiba ayah berdiri dan memelukku. Aku semakin bingung dengan tingkah ayah. Ditambah ucapan dari kepala sekolah untukku.
“Selamat ya Dhimas” ucap kepala sekolah sambil menepuk-nepuk pundakku.
“Duduk, duduk sini nak” ucap ayah sambil menarikku duduk.
Aku masih berada dalam kebingungan beribu pertanyaan bertengger di kepalaku.
“Dhimas bingung?” Tanya bu Nina guru BK.
Aku hanya mengangguk sambil memperhatikan ekspresi orang-orang di depanku, termasuk wajah ayah yang terlihat sumringah.
“Begini Dhimas, Ibu mewakili sekolah mengucapkan terima kasih padamu. Dari beberapa siswa yang berkasus, mereka tetap kami pantau. Dan banyak sekali perubahan positif pada mereka. Setelah kami Tanya ternyata mereka mengatakan kepada kami, bahwa mereka berubah karena kamu. Kamu selalu memberikan nasihat dan mengarahkan mereka untuk berkegiatan dalam hal yang positif. Kamu telah memberikan contoh yang baik kepada temen-temanmu. Kamu layak mendapatkan ucapan terima kasih dari sekolah” Jelas bu Nina panjang lebar.
Sekali lagi aku mendapatkan pelukan hangat dari ayah, dan kali ini aku berhasil membuat ayah tersenyum dan bangga kepadaku.
“Maafkan ayah” ucap ayah lirih di telingaku.
Pagi ini memberikan aura yang berbeda padaku, seperti melepaskan aku dari kerangkeng penjusticean. Langkahku begitu ringan, pundakku seperti terlepas dari beban yang begitu berat. Setelah pulang sekolah aku akan kembali bersama-sama teman-teman di kopling (Komunitas Peduli Lingkungan) untuk kegiatan penggalangan dana untuk korban bencana. Selain mencari donator kami juga mendapatkan uang dari bekas botol atau gelas air mineral, dari beberapa pemulung. Dapat dua keuntungan, membantu pemulung sekaligus kami pun mendapatkan uang dari penjualannya.
‘Ayah, maafkan aku juga. Aku bukan tidak ingin berbagi atau menceritakan kegiatanku pada ayah. Tetapi ayah begitu sibuk selama ini, trus aku juga selalu salah di mata ayah. Love you ayah, akhirnya pagi ini aku bisa mengukir senyummu.’ Ucapku lirih sembari melangkah bersama teman-teman menuju sekretariat Kopling.

INI BUDI (Revisi)

INI BUDI (Revisi)



Oleh Endah Muharromah

Jika kau menganggap ini cerita tentang aku, kau  salah kira. Ini cerita tentang murid SD bernama Budi. Sebut saja namanya Budi (aku yakin dia tidak akan mau namanya kusebutkan jika ia tahu aku menulis cerita tentangnya). Ia anak nelayan.
Anak laki-laki bernama Budi itu setiap hari berlari kecil menyusuri gang-gang sempit menuju sekolahnya. Tak jarang ia berpapasan dengan teman-temannya yang berjalan santai sambil membicarakan dongeng Kiyai yang mereka dengar saat mengaji di langgar malam tadi. Ia tetap berlari bahkan ketika seorang perempuan tua mengingatkannya untuk lebih baik berjalan saja agar tidak banyak keringatnya di pagi hari. Ia berlari. Ia tidak ingin ada murid lain yang tiba di kelas mendahuluinya. Aku murid pertama yang tiba di kelas, begitu inginnya. Sekolah sudah di depan  mata, hanya 100 meter kira-kira jaraknya. Ia bisa melihat dengan jelas nama sekolahnya yang tertulis di bagian depan sekolah, huruf-hurufnya terbuat dari semen yang sudah dicetak-cetak dan dicat warna biru tua. Selokan kecil di depan sekolah ia lompati dengan semangat. Ia sudah sampai di halaman sekolah, tapi ia masih saja berlari. Setelah melewati pot bunga besar di depan ruang guru ia berbelok ke kanan kemudian ke kiri menuju kelas paling pojok dengan pintu berwarna biru. Kelas 1 begitu kelas itu dinamai bapak ibu guru.
Benar saja, ia menjadi murid pertama yang tiba di kelas. Ia tidak langsung masuk. Ia berhenti di pintu kelas, mengedarkan pandangan ke dalam kelas dengan napasnya yang sedikit tersengal-sengal. Meja guru, bangku-bangku dan asbak yang terbuat dari batok  kelapa karyanya dan teman-temannya (mungkin juga karya bapak ibunya atau bapak ibu teman-temannya) yang diletakkan di atas lemari. Kemarin ia sendiri yang menawarkan pada ibu guru untuk meletakkannya di atas lemari agar tidak rusak akibat  ulah usil teman-temannya. Ia tahu betul bagaimana kelakuan teman-temannya jika sudah asyik bermain.
Ia masuk kelas menuju bangku yang bisa dibilang berada di bagian tengah. Di situ ia duduk sembari melepas tas yang sejak tadi digendongnya. Ia melihat sepatunya yang tidak seberapa hitam namun tidak kotor, ia cukup lihai menghindari kotoran ayam dan genangan air di jalan saat  ia berlari tadi. Namun  malang, kaos kakinya yang kusam melorot. Ahh desisnya, ia menunduk menarik kaos kakinya ke atas.
“Waah Budi, kamu selalu menjadi yang pertama datang setiap hari, kata Bu guru sambil tersenyum.
Budi sedikit kaget dengan kedatangan Bu Guru yang tiba-tiba lalu tersenyum tersipu. Bu guru yang berasal dari Jawa, yang dengan  logat Jawanya selalu membuat Budi tersenyum. Bu Warni namanya, begitu cantik dan halus tutur katanya. Bu Warni selalu menggunakan rok di bawah lutut, sepatu fantofel berwarna hitam yang runcing ujungnya, rambutnya yang panjang disisir ke belakang dan  menggunakan jepit rambut berbentuk pita berwarna hitam. Rambutnya bergerak-gerak ke kanan dan ke kiri setiap kali Bu Warni berjalan.
Teman-temannya mulai berdatangan, kelasnya perlahan-lahan menjadi semakin ramai. Ia memerhatikan kelasnya yang menjadi riuh gelak tawa teman-temannya. Bahkan ia memerhatikan seorang teman yang mengeluarkan ketapel dari dalam tasnya dan mengajak teman di sebelahnya untuk mencari burung sepulang sekolah. Ahh bukankah pulang sekolah masih lama, kenapa harus dibicarakan ketika bahkan kelas belum juga dimulai batinnya.
Budi selalu semangat saat berada di dalam kelas. Ketika ketua kelas memimpin doa bersama sebelum pelajaran di mulai, suara Budi selalu paling nyaring. Seolah dia ingin mengatakan “aku juga membaca doa!”. Begitu juga saat Bu Warni memanggil nama murid satu-persatu untuk mengetahui kehadiran  mereka. Budi akan berseru dengan nyaring, “ada!”. Jika sudah begitu Bu Warni tersenyum menatap Budi dan Budi kembali tersenyum tersipu. Ahh senyum guru yang berasal dari Jawa itu begitu meneduhkan.
Budi suka sekali menggambar. Suatu hari ketika mendapat tugas dari Bu Wani untuk menggambar apapun yang ingin di gambar olehnya, Budi senang bukan  kepalang. Bu Warni memang seringkali mengajak murid menggambar apapun yang ingin digambar oleh muridnya. Malang, hari itu Budi tidak membawa buku gambar berwarna hijau bergambar Micky Mouse miliknya. Dengan takut-takut ia sampaikan hal itu pada Bu Warni. Bu Warni tersenyum kemudian bertanya kepada murid lainnya,
 “Adakah yang  mau membagi buku gambar untuk Budi?
Pakai punyaku saja, kata Ani.
Budi tersenyum senang menerima kertas gambar yang diberikan Ani untuknya.
Terimakasih Ani, kata Bu Warni.
Budi terkejut, ia bahkan lupa tidak segera mengatakan terimakasih kepada Ani saking senangnya. Budi mengucapkan terimakasih pada Ani meski telah didahului oleh Bu Warni. Ani tersenyum mendengar Budi mengucapkan  terima kasih padanya.
Tapi kamu tidak boleh pinjam pensil warna punyaku, kata Ani.
Aku punya, kata Budi.
Kali ini Bu Warni yang tersenyum.
Budi mengeluarkan pensil warnanya . Ia berpikir gambar apa yang akan dibuatnya, kertas gambar yang diberi Ani tidak seperti miliknya. Kertas gambar yang diberi Ani lebih kecil dari miliknya. Seandainya aku tidak lupa memasukkan buku gambar ke dalam tas setelah aku mendengar ibu mendongeng, batinnya. Budi mulai menggambar dengan  hati-hati. Mewarnainya dengan hati-hati. Menulisinya dengan hati-hati. Selesai sudah Budi menggambar. Di gambarnya terdapat tulisan INI BUDI, INI IBU BUDI, INI BAPAK BUDI. Hari itu Budi menggambar dirinya sendiri,  ibu, dan bapaknya.
Budi kini sudah kelas 4. Ia masih saja berlari untuk menuju sekolah. Semakin banyak alasan  yang membuat Budi selalu berlari menuju sekolahnya. Ia masih tetap ingin menjadi murid pertama yang sampai di kelasnya. Ia ingin menjadi murid pertama yang meletakkan sepatu di rak sepatu yang terbuat dari bambu yang dibuat oleh teman-teman sekelasnya ketika kegiatan pramuka akhir bulan lalu. Ia ingin menjadi murid yang menghapus tulisan pak guru kemarin siang saat pelajaran jam terakhir (untuk yang satu ini Budi selalu mendapat pujian dari pak guru).
Akhir-akhir ini alasan yang membuat Budi berlari menuju sekolahnya bertambah. Ia ingin menyapa nenek yang biasa berjemur di depan pintu rumahnya. Rumah nenek itu tidak jauh dari sekolah, berada tepat di depan  pasar yang berada di samping kanan sekolah. Jika Budi terlambat sedikit saja, nenek itu sudah masuk ke dalam rumahnya. Saat melewati rumah nenek itu Budi akan memperlambat langkahnya, menyapa si nenek sambil tersenyum. Nenek membalas senyum Budi sambil berkata lirih,
Baiknya anak itu, berangkat sekolah  pagi-pagi dan masih menyapaku yang sedang berjemur. Semoga dia menjadi anak yang mulia akhlaknya”.
Budi tersenyum girang,  ia didoakan oleh nenek itu! Budi kembali berlari ketika sudah berlalu dari rumah nenek itu. Ia berlari sambil tersenyum girang. Besok aku harus menyapanya lagi batin Budi. Bukan hanya itu, alasan lain Budi berlari ke sekolah adalah ia juga ingin menyiram bunga mawar yang ada di depan  kelasnya yang seringkali tidak dirawat oleh temannya yang bertugas piket. Untuk yang satu ini Budi sadar betul bahwa bunga mawar yang ada di depan  kelasnya juga makhluk hidup yang perlu makan, perlu  disayangi dan perlu dirawat seperti kata Bu Warni saat Budi masih duduk di kelas 1.
Itu adalah  hal-hal yang aku ingat tentang si Budi. Jangan kau tanya siapa aku. Kau pasti tidak menyangka siapa aku dan terheran-heran mengapa aku  bisa menceritakan tentang si Budi. Budi anak laki-laki yang selalu berlari menuju sekolah. Budi yang selalu menarik kaos kakinya ke atas karena melorot akibat ia berlari. Untung saja kaos kakiku tidak melorot, batinku. Ahh anak perempuan memang selalu memperhatikan hal-hal kecil yang tidak terlalu penting bukan? Kaos kaki yang melorot saja kuperhatikan. Kini aku tak tau persis bagaimana kabar Budi. Aku sempat mendengar kabar bahwa sekarang ia ada di kota besar, sibuk ini itu bersama komunitasnya. Katanya komunitasnya bergerak di bidang literasi. Bidang yang berhubungan dengan buku-buku, baca-membaca pikirku. Memangnya Budi suka membaca? Bukankah dulu dia suka menggambar? Ahh mungkin dia tiba-tiba suka membaca. Pernah suatu kali aku membaca tentang dirinya di sebuah surat kabar. Katanya pemuda yang ku sebut Budi ini baik orangnya, peduli pada lingkungan sekitarnya dan sering pergi ke daerah-daerah yang haus akan pengetahuan dan buku-buku. Di daerah-daerah yang seperti itu ia akan menyampaikan gagasan-gagasannya, pengalaman-pengalamannya dan membagikan buku-buku secara cuma-cuma.
Aahh Budi, Budi. Kalau kau begitu sukanya berbagi gagasan dan pengalaman kenapa kau tidak jadi PNS saja, jadi guru seperti aku misalnya. Ahh Budi, seingatku kau cukup cerdas untuk menyelesaikan soal-soal tes CPNS. Tapi aku cukup bangga padamu. Kau menjadi salah  temanku yang berhasil menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain. Kau juga berhasil menjadi orang yang berakhlak mulia seperti doa nenek yang sering kau sapa ketika kau  kelas 4 yang rumahnya di dekat sekolah dasar dulu. Mungkin juga itu doa ibu dan bapakmu Budi. Mana ku tahu. Tapi yang aku tahu pasti Bu Warni pasti akan selalu tersenyum padamu.
Ahh aku terlalu lama mengingat kenangan tentang Budi. Lihat kelasku jadi ramai,  murid-muridku banyak yang berlari-lari dalam  kelas, sedangkan muridku lainnnya berdiri di depan sudut baca mengambil buku, membolak-balik buku. Lihat ada juga yang rebutan buku dan lihat lagi, di pojok kelas murid perempuan menangis karena pensilnya hilang. Baiklah, baiklah. Dengan situasi seperti ini kelasku memang jadi ramai, tetapi bukankah ini semua merupakan bagian dari proses kreatif anak? Jika aku adalah Bu Warni, kira-kira apa yang akan  dilakukan Bu Warni untuk menghadapi kelasku ini? Akankah Bu Warni tetap akan tersenyum di kelasku? Atau seandainya Budi menjadi guru kira-kira apa yang akan diperbuatnya?
Budi kau jangan berburuk sangka padaku. Aku tidak lupa untuk mengajar dan mendidik murid-muridku untuk memperhatikan akhlak mereka. Lihatlah murid-muridku yang bernama Lani dan Edo. Lani dan Edo adalah murid terbaik di kelasku. Mereka melakukan semua hal yang aku ajarkan pada mereka. Mereka membuang sampah pada tempatnya, mereka mengucap maaf jika salah dan mengucap terimakasih jika ada teman yang membantunya, mereka juga suka merawat tanaman di depan kelas tanpa aku suruh. Mirip denganmu bukan? Tapi mereka tidak suka menggambar.
Kuceritakan satu lagi cerita tentang mereka. Ceritanya persis sama dengan cerita tentangmu dulu. Cerita ini juga ketika mereka masih di kelas 1. Suatu waktu ketika itu aku mengajak murid-muridku untuk menggambar apapun yang mereka ingin gambar. Kelasku menjadi ramai karena murid-muridku  seolah berdiskusi dengan temannya untuk menentukan apa yang ingin mereka gambar. Edo ketika itu diam saja sambil menatap ke arahku. Aku heran dan segera aku menuju tempat di mana ia duduk. Kau tahu apa yang terjadi Budi? Belum sampai aku di tempat di mana Edo duduk, sudah ada Lani yang menghampiri Edo. Lani berkata,
“ Edo kamu tidak membawa buku gambar? Ini pakai punyaku, aku kasih kamu satu”. Dengan segera Edo menjawab,
 “Terimakasih Lani. Kamu mau pinjam pensil warna punyaku?”
Aku tersenyum, percakapan mereka setelahnya tidak aku hiraukan. Bagaimana aku tidak langsung mengingatmu Budi ketika itu? Aku biarkan murid-muridku menggambar sesuka hati. Selesai mereka menggambar aku kumpulkan hasil pekerjaan mereka dan aku puji mereka sekedarnya. Lalu kulihat hasil pekerjaan mereka satu-persatu. Gambar milik Edo membuat aku tersenyum (Budi sekali lagi bukan maksudku untuk mengabaikan gambar milik murid-muridku yang lainnya). Rupanya Edo menggambar dirinya sendiri, orang tua, dan temannya. Baiklah,seketika itu juga aku merasa iri pada Lani. Budi, bukankah ketika itu kau seharusnya juga menggambar aku di kertas gambarmu? Bukankah aku yang memberikan kertas gambar itu padamu?
Bu Ani, apa kami sudah boleh istirahat? Tanya Edo padaku.
Aku mengiyakan saja mereka untuk beristirahat di luar kelas. Budi tahukah kau apa yang sangat kurisaukan sekarang ini sebagai seorang guru? Aku tidak khawatir akan prestasi muridku. Aku khawatir program kelas yang sudah aku susun tidak cukup memfasilitasi mereka untuk bisa memiliki karakter dan budi pekerti yang baik.
Budi andai saja kau jadi guru kau akan tahu persis bagaimana kerisauanku. Ahh dan aku ingat Bu Warni, guru kita yang berasal dari Jawa itu.  Akankah dulu ia juga risau bagaimana mengajarkan akhlak dan budi pekerti pada kita? Aku yakin  di balik senyumnya kala itu Bu Warni juga risau. Seandainya Bu Warni masih hidup kira-kira apa yang akan ia katakan padaku, apa yang akan ia katakan padamu Budi?

LARIS MANIS

LARIS MANIS




Setelah beberapa bulan vakum dan stagnan, ketambahan bulan Ramadan dan perayaan Idul Fitri, toko Jamu Ramuan Sumenep kembali kebanjiran order. Toko tersebut merupakan toko online di tokopedia melayani hanya pembelian secara online atas produk-produk home industri dari Ny. Bani yang beralamat di jalan Urip Sumoharjo Sumenep Madura.

Produk-produk yang ditawarkan di tokopedia tersebut antara lain: Empot Ayam Super, Sabun Sirih Cair, Virginia Spray, Jamu Super Helbeh Double Black, Tongkat Ajimat Madura, Sabun Lulur Susu, Sari Madu Ayu, Kapsul Pengikat Kembali Gadis, Kapsul dan Perawatan Payudara. Semua tersaji di tokopedia: https://www.tokopedia.com/ramuansumenep.

Produk terlaris dari keseluruhan tersebut adalah Empot Ayam Super dan Tongkat Ajimat Madura. Ternyata kebutuhan untuk kesehatan kewanitaan menjadi prioritas wanita Indonesia. Dan Wanita Indonesia sangat mencintai kesehatan dirinya dan produk asli nusantara. Info lebih lanjut hubungi alamat tokopedia di atas.

Gerakan 1000 Guru Asean Menulis Puisi Oleh Rumah Seni Asnur

Gerakan 1000 Guru Asean Menulis Puisi Oleh Rumah Seni Asnur


Dalam rangka menyambut Hari Puisi Indonesia 2018, Perkumpulan Rumah Seni Asnur membuat Gerakan Akbar 1000 Guru ASEAN Menulis Puisi. Siapa saja yang tertarik untuk bergabung dengan gerakan tersebut, berikut syarat dan ketentuannya:
1. Peserta adalah guru atau dosen di wilayah ASEAN;
2. Mengirimkan 3 puisi beserta biografi singkat (maksimal 8 baris) dan foto (close up) paling lambat 26 Juni 2018;
3. Puisi dalam format file MS Word (A4, Times New Roman, 12, 1,15 spasi) 1 halaman 1 puisi
4. Mengirimkan dana kontribusi minimal Rp250.000,00 ke nomor rekening: 0538-01-006046-53-0 (BRI) a.n Perkumpulan Rumah Seni Asnur.
5. Bukti transfer dana kontribusi difoto dan dikirim ke WA: +62 812-4884-5289 (Anin)
6. Setiap peserta akan mendapatkan 1 eks buku (sekitar tebal 1000 halaman) dengan ongkos kirim ditanggung masing-masing apabila tidak dapat hadir saat acara peluncuran;
7. Peserta mengirim karyanya sesuai domisili masing-masing ke surel:
wilayah1@gmail.com  (Banten, Jabodetabek, Sumatra)
wilayah2hpi@gmail.com  (Jawa, Bali)
hpiwilayah3@gmail.com (Kalimantan, Sulawesi, Maluku Utara dan Negara Tetangga)
hpiwilayah4@gmail.com (Papua, NTB, dan NTT)
8. Pendaftaran dan konsultasi peserta melalui WA:
- wilayah 1 : +6285921392702 (Rini Intama)
- wilayah 2 : 089672805169 (Srikandi Indung)
- wilayah 3 : +62 857-9563-6269 (Lily Siti Multatuliana)
- wilayah 4 : +62 898-5517-458 (Eddy Pramduane)
9. Akan dipilih 25 Puisi Pilihan, dan 5 Guru dengan Puisi Terbaik berhak mendapat Piagam Penghargaan, Tropi, dan Uang Pembinaan;

10. Buku gerakan 1000 guru menulis puisi ini nantinya akan didaftarkan di Museum Rekor Indonesia (MURI)
11. Buku ini akan diluncurkan pada Hari Puisi Indonesia, 26 Juli 2018, di Gedung Sasono Langen Budoyo TMII, Jakarta, dan semua peserta akan diundang untuk hadir;

Demikian informasi ini, atas perhatian dan partisipasinya kami sampaikan terima kasih.






FACEBOOK GIANT

FACEBOOK GIANT


Facebook merupakan jejaring sosial yang berpusat di Menlo Park, California, Amerika Serikat. Facebook diluncurkan pertama kali pada bulan Februari 2004 oleh pendirinya yakni Mark Zuckerberg. Hingga September 2012, Facebook memiliki lebih dari satu miliar pengguna aktif, lebih dari separuhnya menggunakan telepon genggam. Jadi sekarang facebook sudah berumur 14 tahun. Cukup lama bertahan dan berkembang dengan sangat pesat.
Menurut BBC News, , Facebook telah menjadi media sosial raksasa di dunia. Tahun 2015, pengguna aktifnya bertambah 60 juta per bulan. Pihak Facebook mengatakan penambahan jumlah pengguna antara lain terjadi di negara-negara berkembang. Yah, seperti negara kita (Indonesia). Ternyata Indonesia merupakan pengguna terbesar ke-4 di dunia. Wow, fantastis!
Berdasarkan rata-rata trafik situs per bulan, Facebook menjadi media sosial paling banyak dikunjungi dengan pengguna lebih dari 1 miliar juta pengunjung perbulan pada tahun 2017. Rata-rata pengunjung Facebook menghabiskan waktu 12 menit 27 detik untuk mengakses jejaring sosial tersebut. Sebesar 92 persen mengakses Facebook via mobile dengan perbandingan persentase berdasarkan jenis kelamin sebanyak 44 persen untuk wanita dan 56 persen adalah pengguna pria.
Apa saja yang dilakukan di Facebook? Tentu yang pertama membuat jaringan pertemanan. Tentu si pengguna diharuskan membuat account (akun) agar bisa masuk ke dalam jejaring Faceook, kemudian menambah teman, masuk anggota grup atau membuat grup sendiri. Bahkan, ada yang membuat fanpage untuk keperluan lain-lain.
Kedua, membagikan (sharing). Ketika pertama menjadi pengguna Facebook, maka ia memancing penggunanya dengan kotak kosong yang bertuliskan “What’s on your mind, …?” maka pasti si pengguna akan membagi status di berandanya. Kemudian menunggu beberapa saat melihat siapa yang memberikan tanda Like, Love, Sad, Laugh, dan Angry dan atau sekedar comment. Hal berikutnya, pengguna akan lebih banyak membayar waktunya di dalam Facebook untuk berbagai keperluan. Pengguna kadang juga membagi foto diri ke berandanya sehingga muncul juga diberanda teman-temannya kalau ia sedang memposting foto. Kembali si pengguna Facebook menunggu beberapa saat untuk melhat tanda Like, Love, Sad, Laugh, dan Angry dan atau sekedar comment.
Ketiga, bisnis online. Ketika teman Facebook telah banyak, jaringan grup juga sudah luas hingga ke mancanegara, maka sangat potensial si pengguna Facebook untuk berjualan. Ada yang berjualan secara mandiri, ada yang menjadi reseller (makelar) ada pula yang share blog/artikel. Serta hal lain.
Keempat, tujuan lain-lain. Pada tahap berikutnya, pada beberapa tahun ini, Facebook menjadi perang komen, perang status, perang gambar, [erang kebencian, dan perang hacker. Pengguna Facebook mulai tidak merasa nyaman dan aman dengan akun miliknya. Terjadilah kasus kebocoran data hingga pendirinya meminta maaf kepada publik. Ini yang tidak termasuk dalam tujuan Facebook atau citarasa kemanusiaan.
Beranda-beranda Facebook dipenuhi oleh sentimen agama, politik, kultur, dan sosial. Berandanya dipenuhi dengan gambar dan pesan kebencian. Anti ini dan itu. Kafir dan bid’ah. Seks dan porno grafis dan film. Facebook makin hari makin menyampah ulah tangan pengguna yang tidak bertanggung jawab.
Ada banyak manfaat yang bisa digali dari Facebook, mari kembangkan, tingatkatkan untuk kesuksesan bersama.