BUKU CERITA ANAK INSPIRATIF: IVA & PINKY

BUKU CERITA ANAK INSPIRATIF: IVA & PINKY

Karya S. Herianto (penulis, fotografer, pendidik)
Harga Rp 35.000
Tebal 77 halaman berilustrasi
Ukuran A5
Hard Cover Warna
Tahun terbit 2018
Penerbit Abida Mahran PH
ISBN 978-602-51160-0-1


Buku-cerita-anak-iva-pinky-s-herianto-2018
Buku Cerita Anak Iva & Pinky

Telah terbit buku cerita anak inspiratif berjudul Iva & Pinky. Membuka halaman pertama terasa telah menjadi sahabat Iva. Membuka halaman berikutnya waktu terasa berjalan makin cepat karena rasa penasaran. Tiap lembar halaman dibuka semakin cepat. Itulah keistimewaan cerita Iva & Pinky. Ketika membacanya tak ingin ada yang mengganggu.
Mengapa bisa begitu? Di dalamnya penuh dengan kisah-kisah inspiratif mengenai kehidupan Iva, Kholif, dan Pak Guru Omar, serta teman-teman sekelas Iva. Ada tokoh inspiratif juga bernama Katsujiro Ueno, yang di dalam kehidupan nyata ia sebagai motivator pendidikan. Ia berkebangsaan Jepang, tapi sangat mahir berbahasa Indonesia. Dan ia adalah teman dan motivator Iva.
Ada cerita tentang Taman Rahasia Iva, tentang Imajinasi, tentang teknik membuat puisi, tentang permainan anak, mandi hujan, piala terindah, kartu pos istimewa dari Jepang, cupsong pantun, dan sebagainya.

Tidak rugi, lho dengan mengeluarkan kocek Rp 35.000 untuk buku yang sangat inspiratif. Segera pre-order (PO) ke WA 081934989152. Masa PO berakhir tanggal 26 Januari 2018 dan harga berubah normal menjadi Rp. 40.000,-
KETIKA DUL PEKOK MENJABAT SEBAGAI MENTERI PENDIDIKAN (Bagian Satu)

KETIKA DUL PEKOK MENJABAT SEBAGAI MENTERI PENDIDIKAN (Bagian Satu)

Sejak Dul Pekok menjadi menteri pendidikan banyak yang menderita. Guru, siswa, walisiswa dan sebagian besar masyarakat kecil menjadi sangat menderita. Guru menderita karena harus diuji kompetensi dan kelayakannya. Siswa menderita karena harus belajar  sangat keras untuk bisa menghafal dan menghitung apa saja. Walisiswa juga menderita karena takut anak-anak mereka stress dan bunuh diri seperti siswa lain di daerah lain.

Presiden Dikto sangat mengapresiasi strategi yang diambil Dul Pekok, menterinya. Ia juga menitipkan program pesanan melalui menteri lain bahwa anak-anak yang boleh tinggal di ibukota negara adalah anak-anak yang mempunyai prestasi akademik minimal rata-rata 90. Mahasiswa juga harus ber-IPK minimal 3,8.

“Anak-anak berotak TAHU tidak boleh tinggal di ibukota. Mereka akan menjadi beban ibukota. Toh, pada akhirnya mereka tidak menjadi apa-apa!” Inilah pernyataan keras Presiden Dikto dalam jumpa pers yang dimuat dalam koran IbuKota. Lebih jauh presiden juga menyampaikan: “Manusia yang akan memimpin pemerintahan harus dari manusia-manusia yang pintar. Tidak boleh berasal dari manusia-manusia bodoh. Penyelamat negara, dan negara bisa menjadi pesaing negara maju dunia hanyalah jika dipimpin oleh manusia-manusia pintar.”

Dimulailah langkah teknis pengungsian penduduk yang memiliki anak-anak berotak TAHU ke lokalisasi cagar alam dengan papan yang bertuliskan manusia berkasta rendah. Mereka harus hidup di hutan dengan waktu yang tak ditentukan. Para orangtua yang merasa kasihan dengan anak-anak, mereka juga diperkenankan tinggal di hutan bersama-sama. Presiden melalui kementeriannya akan memberikan bantuan beras jatah yang masing-masing kepala tidak boleh lebih dari seukuran gelas air mineral setiap sehari.

Makin tajamlah kesenjangan di negera itu. Negara yang berpenduduk seperempat milyar, negara yang kaya dengan mineral dan bahan tambang, tapi tak pernah dipandang dengan kedua mata yang sempurna oleh negara-negara maju. Mereka menyebut bangsa negara itu sebagai ‘simple human.’ Mungkin bisa diterjemahan dengan primitif ya?

Sementara itu, di pusat ibukota negara, wajahnya sangat berkilau. Dihuni oleh manusia-manusia pintar. Rata-rata berkaca tebal, berambut rapi, dan wangi. Baju-baju mereka juga seperti baju orang-orang Londo (sebutan untuk orang Eropa di masa penjajahan). Mereka berhidupan kebangsaan yang bebas dan merdeka. Sejahtera secara finansial dan layak dalam kehidupannya.


Tak berapa lama dari kebijakan sebelumnya, keluarlah lagi perintah presiden. Manusia-manusia berotak TAHU harus dikarantina. Para orangtua harus merelakan anak-anak tersebut dipelihara oleh negara. Negara tidak akan memberikan kabar apa pun mengenai perkembangan mereka ketika sudah dikarantina. Para orangtua juga tidak boleh mempertanyakan nasib anak-anak tersebut. Mulai dari tingkat sekolah dasar, menengah pertama, dan atas hingga perguruan tinggi akan dikarantinakan dengan alasan agar memenuhi nilai standar yang ditentukan pemerintah melalui kementerian pendidikan nasional.

Pemerintah juga tidak mengabarkan tempat lokasi karantina. Program karantina tersebut bersifat sangat rahasia negara. Sangat sensitif. Orangtua juga tidak akan bisa melacak di mana dan bagaimana menemui anak-anak mereka. Mereka hanya pasrah.

Mereka menunggu kabar setiap hari, tapi pemerintah telah memutuskan tidak akan memberi kabar apapun. Mereka yang menunggu akhirnya harus pasrah, mengangap anak-anak mereka telah hilang. Hanya itu yang bisa dilakukan karena kalau mereka bersikeras mengajukan pertanyaan atau menuntut ssesuatu, maka pemerintah akan meminta ganti rugi terhadap si penuntut dan menjebloskannya ke penjara.

“Ini kita lakukan untuk memperbaiki kualitas bangsa dan negara. Semua pengorbanan ini untuk satu tujuan, yakni kemajuan bangsa dan negara. Orang-orang berotak TAHU yang dipelihara negara sangat banyak. Hal ini merupakan beban bagi negara sehingga langkah apapun yang menjadi keputusan negara, harus didukung oleh seluruh rakyat.” Pidato indah sang presiden di depan perwakilan rakyat.

Kebijakan tersebut akhirnya diadopsi oleh banyak pemerintah daerah dengan tambahan kebijakan-kebijakan tertentu misal anak yang terlahir cacat tidak boleh diperpanjang hidupnya. Pernikahan di bawah usia 20 tahun dilarang keras dan usia di atas 35 tahun dilarang melahirkan. Manusia yang boleh hidup dan tinggal di ibukota provinsi adalah mereka yang berotak pintar, bukan berotak TAHU. Manusia yang berotak TAHU harus dengan sukarela atau dipaksa menghuni hutan.

Pemberontakan pun terjadi. Pemberontakan yang menuntut keadilan. Terutama dari manusia yang dianggap berotak TAHU. Pemberontakan dimulai dari ibukota negara. Mereka mencoba menerobos pagar perbatasan antara otak TAHU dan wilayah orang-orang pintar. Perbatasan itu dijaga ketat oleh seperangkat pasukan khusus yang ganas, tanpa ampun. Pemberontakan itu dimpimpin oleh Alimin.

Seratus orang yang dipimpinnya semua mati. Hanya Alimin yang diperkenankan hidup. Pemerintah beranggapan dengan dibiarkannya Alimin hidup, maka pesan pemerintah tersampaikan agar tidak terjadi pemberontakan serupa. Alimin tidak menyerah. Ia membentuk lagi pasukan baru. Kembali menyerang, tapi kembali kalah. Lagi-lagi Alimin dibiarkan hidup dan bebas. Serangan ketiga, Alimin kalah lagi. Alimin dengan kebebasannya memilih mengakhiri hidupnya dihutan di depan para manusia berotak TAHU.