Pe-Sapeyan Pappa dan Joko Tole

Pe-Sapeyan Pappa dan Joko Tole


Buku Cerita Bergambar karya anak-anak SDN Pangarangan 3 Sumenep dengan judul Pe-Sapeyan Pappa dan Joko Tole. Satu buku bercerita tentang permainan tradisional anak Sumenep, dan satu buku lagi bercerita tentang cerita rakyat Sumenep dengan tokoh Joko Tole.
Buku cerita bergambar dengan judul Pe-Sapeyan Pappa ditulis oleh Chantika Dwi Karunia sekaligus sebagai ilustrator sedangkan Joko Tole ditulis oleh Aruna  Nathya Anindiar dengan ilustrator Moh. Haikal Nur Wahyu Pratama, Almeera Fitri Annisa’, Naura Junaidi Putri,  Ziyadul Khoir, Rumzil Azizah, dan Rifa Sakira Mandara. Mereka masih duduk di kelas di SDN Pangarangan 3 Sumenep. Editor naskah kedua buku cerita tersebut adalah Enda Muharromah sekaligus pembina Penulis Cilik Sumenep (PCS). Editor gambar adalah Ochez Sumantri.
Buku-buku tersebut dicetak dengan sampul dan isi pada Art Paper berukuran 29.7 x 21 cm, full colour, terbit Januari 2019, dicetak dan diterbitkan oleh Gre Publishing, Yogyakarta.
Berminat memiliki keduanya? Silakan hubungi kami melalui WA 0822-3489-2299 (Arum) untuk pesanan melalui Pre-Order. Kami tunggu sampai dengan tanggal 15 Januari 2019.

Kejar Impian

Kejar Impian


By Shara Pradonna

Perkenalkan namaku Raisa Putri. Aku mempunyai mimpi menjadi seorang novelis yang sukses dan terkenal. Entah kapan keajaiban itu akan berpihak kepadaku. Sedangkan sekarang saja aku sama sekali belum mencoba untuk memulainya. Aku hanya selalu bermimpi dalam khayalku dan tanpa tindakan.
Aku menyelusuri toko buku di kotaku. Dari rak pertama ke rak lainnya. Aku mencoba mencari novel yang menurutku benar-benar penasaran. Setelah beberapa kali membaca sinopsis novel yang berbeda-beda. Akhirnya aku menemukan satu novel untukku beli. Iya, akhir-akhir ini aku sudah mulai hobby membacanya namun masih sama belum berani menuangkan tulisanku ke dalam sebuah novel.
Ketika aku hendak membayar ke kasir atas novel yang aku pilih sedari tadi. Aku lihat segerombolan orang-orang berdiri tak jauh dari kasir tersebut. Ntah apa yang mereka lihat. Aku pun tak dapat melihatnya dari jauh karena semua orang tersebut membelangkaiku. Aku pun mendekat ke arah segerombolan orang-orang tersebut. Dengan sangat penasaran aku mencoba berjalan ke arah depan sekali agar aku juga terlihat apa yang mereka lihat. Aku terdiam. Otakku melayang ke andai aku menjadi novelis sukses dan terkenal. Yang ternyata ada seorang novelis yang terkenal sedang mempromosikan bukunya. Ia adalah Raditya Dika. Seorang novelist yang sukses dan terkenal bahkan karyanya sudah sering masuk ke film layar lebar untuk di filmkan.
Setelah selesai ia mempromosikan bukunya. Aku melihat banyak sekali orang yang ingin berfoto atau sekadar meminta tanda tangan dirinya. Ada pula yang memuji-mujinya. Ia hanya tersenyum manis dengan sesekali bilang terima kasih. Lalu aku segera membayar buku yang aku pilih tadi. Dengan semangat aku berpikir "Aku harus seperti Raditya Dika. Aku harus memulai dari sekarang."
Aku mengambil laptopku, mencoba membuka file Microsoft Word. Awalnya aku mencoba membuat judulnya saja. Tapi ketika aku masuk ke dalam isinya. Aku langsung menghapusnya padahal baru baris pertama saja aku buat. Aku coba berulang kali. Namun berulang kali itu juga aku menghapusnya. Sekarang aku mencoba menentukan tema novel yang aku buat agar lebih mudah dalam proses pembuatannya. Namun ternyata masih sama saja. Susah. Akupun tidak tahu cara memunculkan ide itu seperti apa. Akhirnya aku membuka akun google dari handphoneku. Mencari-cari cara membuat novel yang baik dan benar. Dan aku menemukannya. Namun aku masih sangat susah menerjemahkannya dalam tuliskanku.
Ya ampun susah sekali nih buat novel,” gerutuku sendiri.
“Kamu ingin membuat novel?” tanya Dhea sahabatku ketika ada di rumahku.
“Iya. Tahu darimana kamu? Bukannya aku belum sama sekali cerita kepadamu?” tanyaku mengernyitkan kening.
“Aku baca PM di Bbm kamu. Aku lihat kamu kesulitan dalam membuat novel,” jawabnya seadanya.
“Iya. Buat novel ternyata susah sekali. Mungkin aku hanya bisa bermimpi tanpa harus ku raih mimpiku itu,” ucapku membiarkan otakku melayang ke andai aku bisa menjadi novelis sukses dan terkenal.
“Aku bisa bantu kamu,” jawabnya singkat.
“Emang kamu bisa?” tanyaku menyakinkan dan menoleh ke arahnya
“Bisa sedkit-sedikit sih. Aku pernah mengikuti lomba cerpen nasional dan aku memenangkannya menjadi juara pertama. Tapi hanya sebatas cerpen,” jawabnya lagi lalu tersenyum.
“Kamu hanya cerpen sedangkan yang aku inginkan novel Dhea,” ucapku lagi tak bersemangat.
“Apa bedanya cerpen sama novel? Semuanya sama saja hanya cerita. Yang membedakan antara keduanya adalah cerpen hanya sebatas cerita pendek. Ia langsung dengan cepat nemenukan awal, konflik dan akhir cerita. Sedangkan novel kamu hanya harus memperpanjang ceritanya. Intinya sama saja,” jawab Dhea lagi.
“Jadi aku harus memulai darimana?” tanyaku singkat.
“Kamu cukup memperbanyak membaca sebuah cerita. Seperti ini saja. Kamu aku kasih waktu dalam seminggu. Dalam waktu seminggu kamu harus membaca minimal 2 jam saja. Terserah kamu mau baca novel-novel kamu ataupun cerita-cerita dari online. Tapi kamu harus pahami benar-benar isi cerita yang kamu baca. Aku yakin otak kamu pasti menyimpan sedikit demi sedikit kata-katanya lalu kamu pikirkan tema apa yang ingin kamu buat. Jangan lupa juga kami pikirkan alur ceritanya seperti apa,” jawabnya memperjelas.
“Aku setuju,” ucapku kembali singkat.
“Seminggu lagi aku kembali kerumah kamu. Aku hanya ingin membantumu dalam pembuatan novel. Jadi ide cerita dan alur cerita tetap kamu yang harus memikirkannya,” jawabnya tersenyum.
“Apakah bisa kita mulai sekarang?” tanya Dhea ketika melihatku masih sibuk meletakkan beberapa makanan ringan dan beberapa soft drink
“Iya bisa,” jawabku singkat.
“Itu ada beberapa makanan dan minuman. Di makan dan minum ya,” lanjutku kembali.
“Oh. Mudah itu. Tenang saja pasti semuanya habis,” jawabnya seraya tertawa kecil.
Aku memulai menceritakan seperti apa novel yang akan aku buat nantinya. Dhea mengajariku dengan sangat baik. Aku mengikuti semua saran Dhea. Sesekali ia mengubah kata-kata yang akan aku tulis. Katanya biar lebih enak di baca saja dan tidak monoton.
Kini setelah 1 bulan penuh aku membuat novel dengan bantuan Dhea akhirnya novelku pun selesai juga. Ada rasa bahagia dan bangga dengan sendirinya. Tapi aku masih binggung mau di letakkan dimana novelku ini? Sedangkan satu penerbit pun aku tidak tahu.
Tiba-tiba saja handphoneku berdering.
 Hallo. Bisa bicara sama Raisa?” tanya seorang di seberang telepon.
“Iya saya sendiri. Maap ini siapa ya?” tanyaku kemudian.
“Oh dengan mbak Raisa ya? Selamat mbak novel mbak akan segera diterbitkan oleh penerbit kami. Kami hanya mau konfirmasi kapan mbak bisa datang ke kantor kami untuk tanda tanggan kontrak dan membicarakan tentang royaltinya?” tanya seorang tersebut yang ternyata dari penerbit novel.
“Iya besok saya akan ke kantor kalian” jawabku tersenyum.
 “Raisa. Apakah ada penerbit yang menghubungimu?” tanya Dhea tersenyum.
“Iya ada. Tapi kok novel aku sudah ada sama mereka? Aku saja belum sama sekali mempublikashikannya” tanyaku mngernyitkan kening.
“Aku yang mengirimkan novel kamu ke penerbit,” jawab Dhea santai.
“Hah? Kok bisa?” tanyaku makin bingung.
“Iya. Aku mengcopy file novelmu di flash disk aku. Lalu aku kirim deh ke penerbit. Maap ya aku lakukan secara diam-diam. Itu semua aku lakukan agar kamu tidak kecewa kalau seandainya novel kamu tidak di terima. Tapi sekarang sudah terbukti novelmu layak di jual di seluruh toko buku yang ada,” jawabnya lagi lalu kembali tersenyum.
“Makasih Dhea sayang. Kamu memang sahabat terbaik,” ucapku lalu memeluk Dhea degan erat.
Setelah menjalani proses tanda tangan kontrak dan membicarakan masalah royalti. Sebulan kemudian novel aku sudah tertata rapi di rak buku bersama novel lainnya yang berada di toko buku. Baru saja aku ingin  keluar dari toko buku bersama Dhea. Terdengar ada suara yang memanggil-manggil namaku. Aku melihat ke sumber suara. Tidak ada yang aku kenal. Aku pun menoleh ke arah Dhea namun ia juga tidak mengenalnya. Kami menghampiri mereka. Dan ternyata mereka adalah pecinta novel yang aku buat. Aku sangat tidak menyangka bahwa sudah ada yang jatuh cinta dengan novelku secepat ini. Mereka mengenali wajahku dari novel yang aku buat karena di bagian profilnya memang sudah ada fotoku. Rasa bahagia dan banggaku pun bertambah. Aku jawab semua pertanyaan mereka dan aku ikuti semua yang mereka pinta seperti; foto bareng atau hanya tanda tangganku saja. Baru pertama kali aku mengeluarkan novel dan sudah meledak seperti ini. Namun aku tidak mau besar kepala. Keberhasilanku ini juga atas bantuan sahabat terbaiku Dhea. Terima kasih Dhea gara-gara kamu mimpiku menjadi kenyataan.

Grab your dream and never tire of struggling.

Program INOVASI Berbuah Manis Bagi Pendidikan di Sumenep

Program INOVASI Berbuah Manis Bagi Pendidikan di Sumenep

KBRN, Sumenep : Kabupaten Sumenep yang menjadi satu diantara lima kabupaten/kota di Jawa Timur sebagai wilayah sasaran program Inovasi untuk Anak Sekolah Indonesia (INOVASI) mulai berbuah manis.

Program Manager INOVASI Jawa Timur Silvana Erlina saat kunjungan kerja ke Kabupaten Sumenep menjelaskan, dampak yang sekarang terasa ialah semangat dan ada keinginan dari guru untuk berubah tentunya dalam kemajuan pendidikan.

"Semangat teman-teman guru sangat luar biasa dan mau mencoba. Kita lihat ada perubahan kearah lebih baik. Ini dari guru, oleh guru dan untuk guru nantinya semuanya itu khusus anak-anak," kata Silvana Erlina, Sabtu (17/11/2018).

"Kita masuk Sumenep untuk meningkatkan kapasitas guru-guru bagaimana memberikan pelayanan yang terbaik untuk anak-anak. Tujuan utamanya meningkatkan literasi anak," imbuhnya.

Lanjut Silvana Erlina, guru menjadi sasaran awal karena nantinya dapat mengembangkan keilmuannya bagi siswa pendidikan dasar. Jika seorang guru sudah maksimal maka secara otomatis bisa berdampak luas.

"Setiap gugus mempunyai fasilitator untuk memberikan bimbingan kelompok kerja guru dan pembinaan peningkatan berkelanjutan seperti kursus kilat dan modulnya kita sudah siapkan semua," papar Silvana Erlina.

Ditambahkan, tahun 2018 ini merupakan awal Sumenep mendapatkan program INOVASI. Pembekalan yang diberikan kepada guru dalam waktu bersamaan siswa sudah merasa senang dengan metode pembelajaran yang diberikan.

Cara pembelajaran kreatif seperti halnya membaca bersama dan melalui metode alat peraga murah terbukti menambah minat minat siswa dalam belajar.

"Makanya kita tingkatkan kapasitas guru melalui kelompok kerja guru, kelompok kerja kepala sekolah dan kelompok kerja pengawas. Tiga komponen ini harus bersinergi, juga harus ada dukungan dari komite sekolah," pungkasnya.

Untuk Kabupaten Sumenep terdapat 24 sekolah terdiri dari 10 lembaga Sekolah Dasar dan 14 lembaga Madrasah Ibtidaiyah (MI) dengan meliputi Gugu 2 Kecamatan Kota dan Gugus 1 Kecamatan Talango. Sasaran awal program tersebut ialah guru kelas 1,2 dan 3 sehingga memberikan dampak pada siswa.

Program INOVASI adalah bentuk kerjasama antara Pemerintah Australia dan Indonesia. Tujuannya meningkatkan literasi dan berhitung bagi siswa dalam upaya meningkatkan dunia pendidikan.

Selain menggalakkan program literasi, sekarang di Kabupaten Sumenep juga dilakukan program numerasi yang digarap LPTK Bina Nusantara mitra kerja INOVASI. Sasarannya 14 SD dan 3 MI meliputi Gugus 4 dan semua SD di Kecamatan Batuan.

(Berita dirilis oleh Supruyadi, RRI Sumenep)
Pameran Pendidikan Jawa Timur:  Literasi Pembelajaran Oleh Tim Fasda INOVASI

Pameran Pendidikan Jawa Timur: Literasi Pembelajaran Oleh Tim Fasda INOVASI


Peringatan Hari Anak Indonesia, Simposium Pendidikan, Pameran Pendidikan, Hari Aksara Internasional, dan Hari Guru Nasional serta Hari Ulang Tahun PGRI ke-73 se Jawa Timur adalah serangkaian acara spektakuler yang diselenggarakan pada Jumat dan Sabtu, 16-17 November 2018 bertempat di Gedung Olah Raga (GOR) Ahmad Yani, Sumenep.
Pembukaan diawali oleh laporan ketua pelaksana, kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sumenep, H.A. Shadik, M.Si. "Dasar pelaksanaan terselenggaranya peringatan dimaksud adalah percepatan penuntasan buta aksara sedangkan pembukaan pameran pendidikan bertujuan antara lain mempublikasikan kepada masyarakat program pendidikan keaksaraan di Jawa Timur, khususnya di Sumenep." Terang H.A. Shadik, M.Si. Jumat (16/11/2018).
Bapak Dr. Kastum, selaku direktur pendidikan PAUD dan Keaksaraan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI dalam sambutannya mengajak para undangan bersalam literasi. 
"Salam literasi, ayo membaca, Sumenep membaca, Jawa Timur membaca." Ajak Dr. Kastum. Menurutnya Sumenep harus berupaya menuntaskan buta aksara dan meningkatkan keterampilan literasi yang berbudaya untuk menyongsong revolusi industry 4.0.
Sebagai penghujung sambutan, pameran dibuka oleh  Bupati Sumenep KH. Abuya Busyro Kariem, M.Si. dengan ditandai dengan ucapan Basmalah. Pada pidatonya, Bupati Sumenep menyampaikan bahwa penempatan peringatan tersebut di Sumenep merupakan motivasi bagi kami untuk berbenah diri terutama dalam hal menurunkan tingkat buta aksara. "Kami masyarakat Sumenep optimis dua tahun ke depan, tingkat buta aksara tuntas kami benahi." Tegasnya. Jumat (16/11/2018).
Setelah pembukaan pameran, Bupati Sumenep bersama jajaran dan tamu menuju area pameran. Stand Inovasi Jawa Timur mendapatkan kehormatan dikunjungi sehingga Bupati Sumenep dapat menyaksikan langsung aksi pembelajaran inovatif yang dibawakan oleh Tazkiyah guru SDN Pangarangan 1 Sumenep bersama muridnya. Dalam praktik baik tersebut Tazkiyah menyampaikan penggunaan alat peraga murah untuk literasi kelas awal.
Saat ditanya tentang konsep stand pameran yang digelar di peringatan tersebut, ketua tim persiapan pameran, Andilala menjelaskan bahwa stand pameran dikonsep seperti miniatur kelas yang literat. Dalam stand tersebut juga terdapat aksi pembelajaran inovatif dan menunjukkan tahap literasi pembelajaran. Selain itu, terdapat pula pernak-pernik literasi seperti pojok baca, quotes, buku karya siswa dan guru, serta alat peraga murah untuk kelas awal. Masih menurut Andilala, ketika memasuki stand pameran, seolah-olah pengunjung memasuki kelas internasional ala Indonesia.
Peserta pameran terdiri dari Dinas Pendidikan Jawa Timur, PD Paud Jawa Timur, berbagai instansi dan organisasi profesi se Jawa Timur, Tim Inovasi Jawa Timur,  dan beberapa stand tuan rumah Kabupaten Sumenep. Stand Inovasi juga mendapat kunjungan dari Pengawas TK?SD Provinsi Jawa Timur, Hj. Suhartatik, Kepala DInas Pendidikan Kabupaten Sumenep dan jajarannya, serta para undangan dari berbagai kota di Jawa Timur.  (SH)

SIAP TAYANG FILM SANG HUFFADZ

SIAP TAYANG FILM SANG HUFFADZ


Produser : Hamzah Fansuri
Eksekutif Produser : Ning Elliz dan Buya Busyro Kariem
Sutradara : Nurkholish (NK Gapura)
Produksi : Aura Picture
Tayang Bulan Desember 2018




Film Sang Huffadz, karya teman-teman sineas Sumenep, yang diambil dari kisah inspiratif Nyai Nuraniyyah (Ibunda KH.Abuya Busyro Karim Pengasuh Pondok Pesantren Al-Karimiyyah), Sosok Beliau adalah seorang feminis, jauh sebelum feminisme dikoar-koarkan para aktivis feminis. Ia jauh sekali dari buku-buku barat tentang feminisme. Perempuan dalam adat ketimuran, punya cara tersendiri bertahan hidup sebagai orang tua tunggal dalam memikul beban sebagai seorang ibu sekaligus bapak, yang menjadikan AlQur'an tidak sekedar sebagai hafalan semata tetapi ia mempraktekkannya dalam mengarungi kehidupannya bersama anak tunggalnya. Perjuangan hidupnya yang sarat akan islami, adat ketimuran serta menunjukkan bagaimana sosok ibu sesungguhnya begitu inspiratif. Apa yang dilakukannya juga secara tidak langsung menunjukkan kesetaraannya terhadap lelaki. Mereka tak banyak bicara dan berteriak. Ia hanya terus berjuang, bekerja tanpa banyak kata. Dalam film ini kalian tidak hanya akan mengetahui perjuangan seorang ibu, tetapi juga perbedaan feminisme barat dan timur.

INOVASI Menandatangani Perjanjian Kemitraan Baru dengan LSM dan Organisasi Pendidikan di Indonesia

INOVASI Menandatangani Perjanjian Kemitraan Baru dengan LSM dan Organisasi Pendidikan di Indonesia

Bekerja sama untuk meningkatkan mutu pendidikan di jenjang sekolah dasar 

Dok. Inovasi Jawa Timur

Cocokpedi.net. Surabaya, 7 November 2018 – Inovasi untuk Anak Sekolah Indonesia (INOVASI), sebuah program kemitraan antara pemerintah Australia dan Indonesia, telah memilih 17 organisasi non-pemerintah (LSM dan yayasan) dan universitas atau lembaga pendidikan tenaga kependidikan (LPTK) sebagai mitra INOVASI dalam melaksanakan berbagai program rintisan peningkatan mutu pendidikan. Mitra-mitra tersebut adalah: CIS Timor, Dompet Dhuafa, Edukasi 101, Forum Lingkar Pena, Sahabat Pulau Indonesia, Jaringan Semua Murid Semua Guru, SIL, Taman Bacaan Pelangi, Universitas Bina Nusantara (BINUS), Universitas Borneo Tarakan (UBT), Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya, Universitas Nadhlatul Ulama Surabaya (UNUSA), Universitas Negeri Makassar (UNM), Universitas Negeri Surabaya (UNESA), Yayasan Literasi Anak Indonesia (YLAI), dan Yayasan Sulinama.

Kemitraan tersebut secara resmi diluncurkan pada acara Seminar Partnerships for Learning II yang diselenggarakan 7-9 November, JW Marriot, Surabaya. Hadir pada kesempatan tersebut perwakilan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yaitu Kepala Pusat Penilaian Pendidikan, Badan Penelitian dan Pengembangan, Moch Abduh, PhD, dan Kepala Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Badan Penelitian dan Pengembangan, Dr. Awaluddin TjallaSelain itu, hadir pula perwakilan pemerintah provinsi dan kabupaten mitra INOVASI, para mitra terpilih, serta para praktisi dan penggiat pendidikan.

Sejalan dengan berbagai program rintisan (pilot) yang saat ini dilaksanakan oleh INOVASI, kemitraan baru ini akan menjadi upaya untuk turut meningkatkan hasil belajar siswa dalam bidang literasi dan numerasi di provinsi-provinsi mitra INOVASI, yaitu Jawa Timur, Kalimantan Utara, Nusa Tenggara Timur, dan Nusa Tenggara Barat. Peningkatan mutu di jenjang pendidikan dasar pada akhirnya akan turut berkontribusi meningkatkan mutu sumber daya manusia Indonesia dan masa depan yang lebih cerah bagi generasi penerus bangsa.

Kemitraan INOVASI dengan 17 mitranya tersebut akan berlangsung selama 9-12 bulan. Bidang-bidang yang menjadi fokus utama program rintisan yang dilaksanakan oleh para mitra INOVASI termasuk, misalnya, pelatihan guru  dalam hal kemampuan literasi dan numerasi dasar, pendidikan inklusif, kepemimpinan yang berpihak pada pembelajaran, pemberdayaan orang tua dan keterlibatan masyarakat, perpustakaan yang ramah anak, dan beberapa inisiatif lainnya yang dilakukan guna memperkuat kemampuan literasi dan numerasi siswa kelas awal SD/MI. Seluruh program rintisan tersebut akan dipantau oleh INOVASI, selain itu hasil dan kemajuan yang dicapai akan INOVASI informasikan langsung kepada para pembuat kebijakan terkait, baik itu di tingkat pusat maupun daerah.

Mark Heyward, Direktur Program INOVASI mengatakan, “Kemitraan baru ini akan membantu memperluas kegiatan INOVASI di kabupaten mitranya, dan akan turut berkontribusi dalam menghasilkan bukti-bukti dan pendekatan yang efektif meningkatkan kemampuan literasi dan numerasi siswa SD/MI. Program rintisan yang dilakukan melalui kemitraan ini juga menjadi bentuk upaya kami dalam memperluas jangkauan program dan juga agar semakin banyak bekerja dengan orang tua, masyarakat, dan tenaga kependidikan setempat. Para pemangku kepentingan ini memainkan peran kunci dalam meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia.”

Chris Barnes, Konsul Jenderal Australia di Surabaya, turut berbicara tentang pentingnya kemitraan baru ini dan juga peluncuran resmi dari kemitraan tersebut. “Melalui kerja sama dengan berbagai organisasi pendidikan di daerah, INOVASI akan memperkuat upaya peningkatan mutu pembelajaran di kelas. Para mitra baru ini akan turut berkontribusi terhadap kebijakan dan praktik pendidikan yang lebih baik lagi. Pengalaman berharga dan pengetahuan yang dimiliki masing-masing mitra, tentu akan berkontribusi terhadap keberhasilan program rintisan yang dilakukan. Acara peluncuran pada seminar minggu ini menjadi kesempatan bagi para mitra untuk berkumpul, dan akan menjadi kesempatan berharga untuk mendorong keterlibatan dan kolaborasi antara lembaga pendidikan, LSM dan pemerintah daerah."

* * *

Tentang INOVASI

INOVASI (Inovasi untuk Anak Sekolah Indonesia) adalah program kemitraan pendidikan antara Pemerintah Indonesia dan Australia yang bertujuan untuk menemukan dan memahami cara-cara untuk meningkatkan hasil belajar siswa – khususnya yang berkaitan dengan kemampuan literasi dan numerasi, baik itu di kelas maupun di sekolah. Bekerja dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dan Kementerian Agama, INOVASI menjalin kemitraan dengan 17 kabupaten yang tersebar di Provinsi Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Utara, dan Jawa Timur. Program ini berjalan sejak tahun 2016 hingga tahun 2019 dan dikelola oleh Palladium atas nama Departemen Luar Negeri dan Perdagangan (DFAT) Australia.




x
Buku Cerita Adalah Gizi Bagi Otak Anak

Buku Cerita Adalah Gizi Bagi Otak Anak

12 cerita imajinatif
Cerita fiksi merupakan cerita hasil imajinasi seorang penulis. Banyak sekali genre cerita fiksi di antaranya: cerpen, novel, dan cerita fantasi. Cerita fantasi sedikit berbeda dengan cerpen dan novel. Cerita ini memiliki ciri tokoh unik, ada kesaktian, keajaiban bahkan kemisteriusan. Peristiwa yang tidak mungkin terjadi dalam dunia nyata, bisa terjadi dalam cerita fiksi. Ratna Perwitasari dan S. Herianto mencoba menciptakan cerita fantasi pada beberapa judul dalam 12 Cerita Imajinatif seperti: Sebutir Bintang Warna Pink, Istana Masa Kecil, Labirin, dan Kamera Ajaib.
Jangan  takut,  gadis  cantik.  Aku  adalah pohon tua yang selalu kau ajak bermain.”
Ayo panjatlah aku! Bangunlah istana kecil di atas sana. Kamu bisa menggunakan dahan kecilku jika kamu mau. Juga daun-daunku yang berlimpah bisa kamu buat untuk atapnya.”
(dalam Istana Masa Kecil)

Buku karangan Ratna Perwitasari dan S. Herianto ini mengangkat permasalahan dan peristiwa-peristiwa keseharian dan hal-hal yang sering dialami oleh anak-anak. Bahasa yang digunakan sederhana sehingga anak-anak dengan mudah dapat memahami hal yang ingin disampaikan oleh penulis. Pada beberapa judul juga memuat pesan atau koda yang  disampaikan secara tersurat di akhir cerita oleh penulis. Pembaca tidak perlu lagi mereka-reka pesan. Misalnya pada judul pertama  Kata Rahasia Bima.
Semuanya dapat diambil pelajaran bahwa anak-anak tidak boleh mudah ikut dengan orang lain yang tidak dikenal meski dengan iming-imingi makan dan mainan    kesukaan.  Bima sudah mengalaminya dan ia telah membuktikan bahwa ia harus berhati-hati dengan orang tidak dikenal.

Sayang tidak semua cerita koda diungkapkan secara tersurat di akhir cerita. Jika saja semua koda diungkapkan hal itu akan mempermudah pembaca memahami setiap pesan yang ingin disampaikan oleh penulis.
Cover buku sangat kekinian, di desain hardcover, berwarna-warni  sesuai target sasarannya yaitu anak-anak. Ketika memasuki judul pertama mata kita akan dimanjakan dengan ilustrasi di setiap judul. Hal tersebut akan membantu anak-anak dalam membangun imajinasi awal tentang isi cerita terlebih karena anak-anak lebih menyukai cerita yang bergambar. Setiap peristiwa diceritakan dengan gamblang, terstruktur dan runtut hingga membuat pembaca merasa benar-benar bisa merasakan, melihat, bahkan seperti mengalami setiap detil ceritanya.
Kehadiran buku ini menambah kekayaan karya buku anak-anak, di tengah gersangnya karya untuk anak. Karya buku tersebut juga mampu mengalihkan perhatian anak-anak yang saat ini selalu disibukkan dengan gadget. 12 Cerita Imajinatif tidak hanya enak dibaca anak-anak, tetapi untuk semua kalangan, tidak luput orang tua, karena dengan membaca 12 Cerita Imajinatif tersebut akan memberikan ide baru dalam mendampingi anak-anak kita. Bisa kita bacakan saat menjelang tidur. Tepatnya, buku ini bukan hanya sebagai bahan bacaan semata, sebagai sahabat ramah anak, dan sekaligus menjadi media parenting untuk orang tua.

YULIANTI Guru SMPN 1 Dasuk, [Penggiat Rumah Literasi Sumenep (Rulis)


Mitos, Mistis, Etos, dan Romantisme dalam Novel "Laskar Lempung"

Mitos, Mistis, Etos, dan Romantisme dalam Novel "Laskar Lempung"


Oleh Yosuki Kiyabaru, Penikmat Sastra dan Budaya


Penulis berhasil merekam dan menyusun cerita Si Badrul tentang kegetiran, kegelisahan, dan kebahagiaan bahkan ia juga menceritakan mitos, mistis, etos serta dari perjalanannya. Penulis berhasil menguak semua protes sosial tentang bobroknya sistem pendidikan pada di daerah tempat tugasnya. Ada sisipan romantism pada kisah Badrul ketika mendapatkan pujaan hatinya.
Yang paling saya kagumi dari kisah Laskar Lempung yang mewakilkan tokoh utamanya kepada Badrul, penulis menyebut nama Tuhan berkali-kali. Seakan-akan si penulis dan Badrul ingin mengatakan bahwa Tuhan selalu ada meskipun di tempat yang terpuruk. Penulis telah berhasil membuat pembaca merasakan semua perjalanannya.
Dikisahkan pula di dalamnya tentang angka-angka dan doa-doa yang tidak biasa. Muatan tersebut seolah-olah mengajak pembaca berpikir mendalam tentang apa sebenarnya yang disisipkan penulis dari kisah Badrul dalam Laskar Lempung tersebut.
Penulis juga begitu lengkap menampilkan sosok negeri Tanah Liat, Negeri Lempung, yang berada di desa Paliat, Kecamatan Sapeken Kabupaten Sumenep mulai dari kultur, struktur, dan adat budayanya. Walaupun dikemas sekelumit berupa cuplikan dan potongan kisah hal tersebut telah sangat menggambar situasi dan kondisi yang dialami Badrul secara utuh.
Ada temuan unik, ketika penulis mengulang-ulang kisah Badrul di beberapa bagian, namun sebenarnya merupakan penjelasan selanjutnya dari potongan-potongan kisah sebelumnya. Penulis sengaja membuat kepingan puzzle yang akhirnya utuh menjadi kisah Laskar Lempung yang memukau.
()


"Dalam kenyataan terburuk pun selalu ada mimpi yang terindah.”
(Badrul Komar, Pendidik)

Buku 12 Cerita Imajinatif

Buku 12 Cerita Imajinatif


12 Cerita Imajinatif
Penulis
Ratna Perwitasari & S. Herianto
Ilustrator
Misnaya
Penerbit & Percetakan
Nuwailah Ahsana
Cetakan Pertama, September 2018
Hardcover, tebal 123 halaman
ISBN 978-602-60016-3-4






Cerita tentang Bima yang berhasil selamat karena mempunyai kata rahasia; tentang Sebutir Bintang Warna Pink untuk adik; tentang Istana Masa Kecil di atas pohon; tentang persahabatan Diaf Dan Aris; tentang Nana dan Bi Ijah yang mengharukan; tengan Memey yang berhasil membuat orang tuanya  lepas dari gadget; tentang Udin yang super; tentang Geo yang terjebak dalam lorong waktu; tentang Si Manis yang membuat macet jalan raya; tentang Kamera Ajaib yang dapat memotret surga; tentang nenek pejuang kemerdekaan yang terlupakan dan tinggal menyendiri di hutan; dan Syasya Si Penjaga Selimut.
Cerita yang sangat menarik dan berkesan serta imajinatif. Fantasinya pure anak-anak. Sarat dengan pesan moral tersembunyi. Membacanya seperti sedang mendengarkan dongeng langsung dari penulisnya. Penasaran? Langsung saja pesan melalui WA 081934989152.


Layar Berselimut Maut Karya Yulianti

Layar Berselimut Maut Karya Yulianti



Antologi Cerpen Layar Berselimut Maut ini diawali dengan sebuah subjudul Senyum dan Airmata. Awal paragraf pada bagian tersebut mengarah langsung pada konflik lahir batin sang tokoh utama. Sebuah pergulatan dan perjuangan hidup seorang anak perempuan untuk membahagiakan sang ibu di masa-masa kritis hingga menjelang detik-detik terakhir nafasnya. Ternyata bukti kebahagiaan yang telah diraih sang anak, hanya mampu ia bawa tepat di atas pusara sang ibu. Sungguh kisah yang memeras air mata, tapi mengandung kenikmatan batin yang bergizi.
Syaf Anton WR memberikan beberapa catatan dalam pengantar antologi cerpen tersebut sebagai berikut. Menurutnya kehadiran Layar Berselimut Maut merupakan fenomena menarik. Guru penulis mulai bermunculan. Hal itu menandakan bahwa guru tidak selalu cerdas di kelas, tapi juga cerdas dalam membangun kreativitas dalam dunia kepenulisan. Wajar bila guru menjadi inspirator dari kanal kehidupan, yang selanjutnya dirindukan untuk hadir di ruang kelas dan di luar kelas. Menulis bagi guru tampaknya menjadi alternatif terbaik dalam menyiasati proses kemampuan kreativitasnya. Inspirasi seorang guru seharusnya juga dapat dilakukan ketika ia mampu menginspirasi diri sendiri sebelum menginspirasi anak didik maupun masyarakat lingkungannya. Karena guru yang kreatif dan elegan adalah guru yang mampu berbagi pengalaman.
Syaf Anton meyakini bahwa guru yang luar biasa seperti matahari bagi anak didiknya atau bagi siapa saja yang membenarkan sebuah kreasinya. Kesadaran seorang guru yang tertinggi adalah ketika dia menyadari bahwa dia berdiri di puncak lembah, kemudian berusaha keras memanggil suara hati anak-anak gembalaannya untuk mendaki. Kesadaran itulah posisi guru akan lebih tampak wujudnya dari segala arah dan sisinya.
Syam S.Tamoe juga memberikan kesan bahwa mengabdi dan bertanggung jawab nerupakan bagian dari karakter dan identitas diri seorang guru yang patut diapresiasi. Yulianti, dalam antologi cerpen Layar Berselimut Maut berhasil menciptakan medium inspirasi bagi para pembaca, khususnya para guru di kepulauan. Dengan tutur kata dan bahasa yang sederhana dan penuh makna, Yulianti sangat lihai dan mampu meracik hasil kontemplasinya ke dalam sebuah cerita apik yang mampu menggetarkan jiwa.
Dari beberapa subjudul dalam antologi cerpen tersebut sangat tampak bahasa seorang anak kepada ibu dan bahasa ibu kepada anak, yang menyiratkan bahwa antologi tersebut sangat intens dengan bahasa perempuan. Hanya pada subjudul awal beralur flashback. Subjudul berikutnya beralur maju. Semua alur mudah diikuti dan dicermati karena penulis menggunakan bahasa realitas dirinya. Penulis terlibat penuh dengan apa yang ditulisnya. Itulah yang membuat antologi cerpen tersebut sangat menggugah dan menyentuh.
Dari keseluruhan kisah, penulis menyertakan muatan romantisme, idealisme, dan egosentris yang kuat. Penulis juga sangat berhati-hati meramu alur sehingga narasinya menguatkan imajinasi dari realitas yang ditulisnya. Penulis seolah-olah membawa pembaca ke dalam layar besar kehidupan pribadinya. Pembaca seolah-olah diajak melihat langsung seluruh peristiwa hingga denyut jantung si penulis.
Air Mata dan Senyuman, Jejak Baru, Warna Baru di Pulau Pengabdian, Rintihan Malaikat kecilku, Hampir Karam, Entar Nuro’, Layar Berselimut Maut, Mengapung, Surat Cinta dari Kepala Sekolah, Berlayar Tanpamu, Loncat Indah, Jawaban Firasat Itu, dan Akhir dari Penantian adalah subjudul lengkap dari semua kisah penulis. Layar Berselimut Maut pada subjudul antologi tersebut menjadi judul besar buku antologi cerpennya. Walaupun subjudul tersebut bukan fokus tujuan penulis, tapi menurutnya cerita tersebut layak dibagi kepada publik bahwa tidak semua orang berkesempatan mengalami seperti yang ia alami.
Buku antologi cerpen Layar Berselimut Maut bukan satu-satunya yang berkisah tentang kehebatan guru seperti yang pernah ditulis oleh penulis lain, tapi Layar Berselimut Maut menjadi warna baru yang layak disaksikan penggambarannya melalui narasi-narasi sang penulisnya sebagai khasanah yang memperkaya dunia pendidik dan pendidikan. Yulianti juga bukan satu-satunya guru kepulauan yang punya kisah, tapi kisahnya merupakan salah satu kisah yang luar biasa. Yulianti adalah seorang guru SMPN 1 Arjasa kepulauan Kangean yang kemudian hijrah ke SMPN 1 Dasuk Sumenep.

(Dimuat di Jawapos Radar Madura, 20 Juli 2018)

Bahalwan dan Patma

Bahalwan dan Patma


Tiap hari, tiap kali aku lewat di depan rumah Bahalwan, selalu kudengar pertengkaran. Seperti koran saja. Ini akibatnya, kalau para pemimpim bermusuhan. Jadinya rakyat juga suka bertengkar. Tragedi di Aceh, Jakarta, Maluku, Poso, dan Kalimantan hanyalah teladan dari fakta-fakta itu. Pemimpin bangsa ini memang kehilangan kemaluannya {rasa malu). Itu juga yang membuat Bahalwan bertengkar dengan isterinya.
Bahalwan adalah seorang warga desa yang baik. Seorang pendatang dari tanah Karimun dan berisetri di sebuah desa di pulau garam. Keluarga tersebut dikaruniai seorang anak laki-laki baru kelas III SD. Aku tidak tahu dari mana Bahalwan dapat rejeki untuk mencukupi kebutuhan keluarganya. Yang aku tahu bahwa Bahalwan tidak mempunyai pekerjaan tetap. Terakhir kulihat dia mempunyai kegiatan saat ada Program Pengembangan Kecamatan (PPK). Setelah itu, tidak pernah melihat lagi dia bekerja.
Isterinya bernama Patma. Usianya lebih muda dari Bahalwan sepuluh tahun. Patma pun tidak bekerja sedangkan pola hidup Patma seperti orang kota. la butuh baju strit, rok span, bedak yang paling terang, ginju warna-warni, parfum paling harum, dan sabun mandi yang seratus ribuan. Wajar kan seorang isteri menginginkan semua itu? Toh, semua itu untuk suaminya! Belum lagi ia ingin punya tv, kulkas, kendaraan, dipan, gelang, dan kalung. Patma memang tak bisa disalahkan sebab semua anggota keluarganya tidak boleh mati kelaparan apalagi mati karena terlalu banyak bermimpi. Semua itu harus bisa diperolehnya dari suaminya: Bahalwan.
Pertengkaran itu selalu dimulai dengan bunyi barang-barang dapur yang dilempar. "Aku harus bagaimana?" suara Bahalwan terdengar seperti sedang ditodong pistol di kepalanya. Patma menyahutinya dengan suara tidak jelas. Lebih mirip suara kucing sekarat atau mau kawin.
"Kamu racun saja aku!" Tampaknya Bahalwan putus asa menghadapi hidup yang dia jalani bersama Patma.
Keadaan memang serba sulit. Pekerjaan pun kian langka. BBM ngotot naik. Nilai rupiah pun hancur sampai di atas tigabelas ribu per dolar AS. Harga-harga di pasar melonjak-lonjak. Tak bisa dijangkau. Sementara pengungsi tragedi Sampit yang berada di Madura yang sekitar enam-dua ribuan bergantung pada bantuan. Mereka banyak tidak kembali ke Sampit sementara perut mereka harus terus diisi.
"Bunuh saja aku!" begitu pasrahnya Bahalwan pada Patma. Seolah-olah dengan matinya dirinya dapat menyelesaikan masalah.
Berbeda hari, terasa ada yang janggal saat aku lewat di depan rumah mereka. Tak terdengar apapun. Tidak seperti biasanya. Biasanya terdengar suara isterinya yang meraung-raung, atau bunyi barang-barang dapur yang dilempar atau suara Bahalwan yang pasrah. Kali ini sepi. Ada apa? Apakah isterinya sakit sehingga tak sanggup mengajak suaminya bertengkar. Apakah Bahalwan tidak di rumah sehingga isterinya tak punya lawan tanding? Para tetangga kanan kiri pun melongok, menyorotkan matanya ke arah rumah Bahalwan. Wajah mereka menyiratkan ada rasa kejanggalan. Ada tanda tanya besar tergambar di wajah mereka.
"Bu Tut, kok sepi ya?" Tanya bu Mariam yan sama-sama tetangga Bahalwan.
"Auk!" sambil mengangkat bahu.
Saking sibuknya mereka mengurusi rasa penasaran mereka sampai-sampai mereka lupa menyapu halaman, lupa memandikan bayinya, lupa menyiram bibit cabe dan tomat, lupa membuatkan kopi suaminya; semua sibuk berjingkat-jingkat mendekati rumah Bahalwan untuk mencari tahu ada apa sebenarnya. Mengapa tidak ada pertengkaran hari ini?
Bu Mariam dan Bu Tuti makin dekat ke jendela dan pintu rumah Bahalwan. Mereka memang mau nguping, tapi tak ada suara. Tak ada bunyi-bunyian. Seolah-olah memang tak ada orang di dalam. Hari sudah menjelang siang. Suami-suami mereka sudah lama berangkat kerja, tapi mereka masih asik nguping walaupun tak terdengar apa-apa. Selain mereka ada juga Bu Maun, Bu Siti, Bu guru Mas'ud (yang suaminya ditemukan tak berkepala saat tragedi Sampit), dan Iain-lain.
"Krompyang!!"
"Nah, mulai lagi, kan?" bisik bu Tuti ke Bu Mariam dengan gembira.
"He-eh!"
Mereka cekikikan yang lain pun mengangguk-anggukkan kepala, tanda mendukung.
"Meeeooong!"
"Yaaa, kucing! Bangsat!" Mereka kecewa. Serentak mereka pun bubar. Saat itulah mereka sadar bahwa mereka masing-masing mempunyai urusan.
Tapi apa yang terjadi dengan Bahalwan? Setelah cari-cari kabar, ternyata Bahalwan dan isterinya serta Arip, anaknya, pergi rekreasi ke Bali. Wow!