Membayangkan Naik Pesawat

Membayangkan Naik Pesawat

Di bawah pohon cerry, aku duduk mendengarkan lagu ‘Menunggu” Rhoma Irama. Di atas pohon cerry, pesawat lewat. Asapnya membuat garis putih memanjang. Saat lihat pesawat ketika kududuk di bawah pohon cerry itulah, imajinasi pertamaku tentang naik pesawat.

Sebenarnya aku habis membaca buku The Secret, karya Rhonda Byrney. Dalam buku itu mengulas tentang hukum magnet alam semesta. Intinya, apa yang dipikirkan akan menarik segala sesuatu tentang yang dipikirkan itu. Imajinasi akan menarik bayangan itu menjadi nyata. Benarkah? Nah, awal pembuktiannya kutargetkan ke naik pesawat yang lewat di atas pohon cerry itu.

Kadang, pikiran logis tidak mau menerima. Ia selalu menegasikan apa pun imajinasi kita. Seolah-olah pikiran negasi itu bilang, “Ah, tak mungkin kamu bisa naik pesawat. Lagian mau kemana? Punya uang banyak? Yah, apalah-apalah, yang penting aku mencoba mengimajinasikan naik pesawat.

Kondisiku waktu itu begitu banyak beban hidup. Tak perlulah kuceritakan. Pikirku, dengan mengimajinasikan naik pesawat hatiku sedikit terhibur. Menurut buku itu imajinasikanlah dengan detil. Karena imajinasiku tentang naik pesawat, maka kuimajinasikan bagaimana duduk di atas pesawat, memandangi awan yang berkumpul. Getaran pesawat membentur awan dan angin. Hilir-mudiknya pramugari menawarkan layanan. Aroma dalam pesawat. Sabuk pengaman seolah-olah terasa mengikat pahaku. Kerlingan pramugari. Duduk dekat jendela pesawat memandangi dataran bumi yang makin mengecil isinya. Rumah-rumah mengecil. Pohon-pohon mengecil. Mobil dan manusia menjadi sangat kecil kemudian lenyap sehingga yang tampak hanya daratan dan oerairan.

Lagu yang kuplay sangat cocok suasananya. Seperti sedang menunggu waktu yang tepat untuk naik pesawat beneran. Apakah sama mengimajinasikan sesuatu sama dengan berdoa? Menurutku sih sama. Toh, itu keinginan dan tak ada yang bisa mengabulkan keinginan tanpa diketahui Tuhan. Tuhanlah yang pada akhirnya berhak menentukan untuk mewujudkan keinginan itu atau membiarkannya tetap sebagai impian atau imajinasi.

Hampir setiap hari sepulang kerja ketika sore hari yang kulakukan adalah membayangkan naik pesawat. Sekali saja seumur hidupku waktu itu belum pernah naik pesawat. Apakah Tuhan tega membiarkanku mati penasaran naik pesawat? Tak mungkinlah menurutku. Dia kan mahakaya, mahabesar, maha Pemurah, maha Mengabulkan, masa untuk urusan sekecil pesawat saja tidak mau memberikan kesempatan. Toh, aku hanya ingin naik pesawat, bukan membeli pesawat.

Setiap selesai membayangkan naik pesawat sambil mendengarkan lagu yang sama, aku selalu mengafirmasi bahwa suatu saat pada tahun itu aku akan diberi kesempatan oleh Tuhan, terkabul naik pesawat. Aku yakini itu. Yah, aku yakin. Yakin membabi buta. Tak pernah lagi aku menggunakan kata ‘tapi.’ Karena ketika keinginan kuat diracuni dengan kata ;tapi’ akan hancur separuhnya dan pasti tidak akan berhasil. Prinsip ini juga kuyakini dengan membabi buta.

Imajinasiku tidak mendiktekan tujuan. Terserah Tuhan saja aku mau diberi kesempatan naik pesawat ke mana pun. Aku pasrah. Tidak penting tujuan pesawat itu kemana. Yang terpenting aku naik pesawat. Itu saja. Tuhan, tapi jangan ke akhirat dulu ya tujuannya. Aku masih muda. Masih banyak yang ingin kulakukan sedikitnya menjadi yang berguna.
Sudah sebulan lebih imajinasiku berjalan. Sebuah buku lagi menguatkan keyakinanku. Judulnya The Answer, karya Bob Proctor. Ternyata ia adalah guru si penulis The Secret. Buku itu mengatakan bahwa apa saja yang kita imajinasikan akan menjadi titik-titik yang lebih kecil dari atom. Frekuensi dari imajinasi kita itu akan menjadi bentuk di alam semesta. Ketika bentuk titik-titik atom itu telah sempurna wujudnya, ia akan menjelma menjadi nyata. Ah, benarkah? Bisa jadi. Yah, bisa jadi begitu.

Tepat tiga bulan sejak mengawali imajinasiku, aku mendapatkan panggilan resmi untuk melanjutkan kuliah. Sandwitch Program. Sebagian kuliah di dalam negeri sebagian waktunya lagi di luar negeri. Berarti naik pesawat? Tanyaku kepada yang mengabariku. Yah, naik pesawat yang pertama kalinya langsung tiga kali dengan tiga pesawat yang berbeda. Tujuan Juanda-Singapura. Singapura-Manila dan Manila-Naga City. Wao, Tuhan memang super. Aku benar-benar naik pesawat tiga kali sekali jalan.

Sebentar, walaupun itu pengalaman pertamaku naik pesawat, tapi tidak kutunjukkan, lho. Aku tetap bersikap wajar seolah-olah seudah serng naik pesawat. Aku berkomunikasi dengan sebelah-sebelahku seperlunya. Jaga imej. Dengan turis juga harus begitu. Yang wajar saja karena sebagian mereka suka menyindir orang-orang Indonesia dengan sebutan Simpe Human. Mereka kira kita orang purbakala. Hahaha.
Setelah beberapa bulan di Naga City, aku pun naik pesawat lagi tiga kali sekali jalan. Semua sudah enam pesawat kunaiki. Wah, Tuhan bercandanya kelewatan, tapi kusuka. Imajinasiku tercapai. Sukses.


Inilah sedikit pengalaman tentang imajinasi. Imajinasikan, afirmasi, yakini. Selesai. Tekan munculnya pikiran yang diawali dengan kata ‘tapi.’ Kata itu bisa menghancurkan keyakinan. Lakukan dengan sukarela dan suka hati. Ciptakan suasana hati pada tingkat sangat ingin hingga ngiler. Kalau sudah ngiler, tidak lama lagi imajinasi itu mewujud jadi kenyataan. Buktikan!
LILIK ROSIDA IRMAWATI: PRIHATIN TERHADAP PERKEMBANGAN LITERASI DI SUMENEP

LILIK ROSIDA IRMAWATI: PRIHATIN TERHADAP PERKEMBANGAN LITERASI DI SUMENEP

Oleh Liza Ulfa Maesura

Di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung. Pepatah itu cocok untuk menggambarkan sosok wanita kelahiran jember 16 Juli 1964 yang satu ini. Sejak menikah dengan Syaf Anton W.R. pada tahun 1984 dan menetap di Sumenep kecintaan dan kepeduliaannya terhadap budaya Sumenep tidak perlu diragukan lagi. Karya-karyanya mulai dari buku pendidikan sampai pentigraf banyak bertemakan khas budaya Sumenep, khususnya bahasa Madura. Bisa dikatakan kemampuannya dalam Bahasa Madura bisa jadi melebihi kemampuan penduduk asli setempat.

“Saya prihatin sekali terhadap dunia literasi Sumenep khususnya guru SD. Mereka sangat minim kemampuan di bidang itu.” Kata ibu tiga anak ini. Saat ditanya alasan mendirikan Rumah Literasi.

Posisinya sebagai guru sekaligus kepala sekolah di salah satu Sekolah Dasar Negeri di Sumenep membuatnya mengenal betul kondisi dunia pendidikan di Sumenep saat ini. Ia sangat menyayangkan jika para guru SD kurang aktif berliterasi karena kemampuan guru berliterasi dapat ditularkan kepada murid-murid sehingga masa depan dunia literasi Sumenep menjadi lebih baik lagi.

“Banyak anak didik kita yang pandai membaca. Bahkan mungkin kelas satu SD saja sudah sangat lancar membaca. Tetapi sangat jarang di antara mereka yang paham apa yang mereka baca meski sudah kelas 6 SD sekalipun. Memahami bacaan atau mengerti betul maksud bacaan itulah literasi. Bahkan literasi memiliki makna yang lebih luas daripada itu,” ungkapnya.

Besar keinginan dan harapan wanita yang biasa saya sapa Bu Lilik ini terhadap organisasi yang awalnya ia dirikan dari berbagai obrolan sesama guru, yang kemudian atas dasar memiliki keinginan dan tujuan yang sama, maka dibentuklah organisasi yang bergerak di bidang literasi. Karena gayung bersambut, maka Bu Lilik tidak menyia-nyiakan kesempatan. Di sela-sela kesibukannya ia mengundang beberapa guru dari berbagai daerah dengan latar belakang berbeda untuk menyatukan tujuan, visi, dan misi sebagai kelanjutan dari pertemuan sebelumnya.

“Karena kebanyakan dari kami itu guru, bahkan ada yang dosen. Maka agak susah mencari hari yang tepat untuk menjadwalkan pertemuan.” Ucapnya seraya tersenyum. ”Biasanya antara sabtu sore dan minggu pagi sering menjadi pilihan waktu yang tepat.” Lanjutnya.

Tepat pada tanggal 11 November 2016 disepakati terbentuknya Rumah Literasi Sumenep beserta pengurusnya yang berjumlah belasan orang. Kemudian organisasi ini diresmikan dan dikuatkan oleh Keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia, Nomor AHU-0006409.AH.01.07.2017. Sejak diresmikan Bu Lilik semakin giat untuk menularkan semangatnya kepada guru-guru yang lain. Sehingga ia tak berhenti merajut mimpi dengan membuat rencana kegiatan yang akan dilaksanakan oleh Rulis (Rumah Literasi Sumenep) ke depannya.

Maka sebagai wujud mimpi besarnya itu, tepat pada tanggal 25 Maret 2017 Ia bersama pengurus Rumah Literasi Sumenep lainnya mengadakan workshop kepenulisan untuk guru-guru sekolah dasar se-kabupaten yang bertempat di aula SMA PGRI Sumenep. Narasumber yang melatih para guru pada acara tersebut adalah Moch. Khoiri, M. Fauzi, dan M. Shoim Anwar. Acara tersebut sukses dihadiri puluhan guru SD perwakilan dari berbagai kecamatan. Mereka sangat antusias mengikuti kegiatan tersebut. Sehingga beberapa minggu sejak acara tersebut dilaksanakan terbentuklah komunitas guru penulis Sumenep. Sebagai wujud antusiasme guru dalam menggalakkan budaya literasi di Sumenep.
“Saya percaya sebenarnya kebanyakan guru di Sumenep itu berbakat. Mereka hanya butuh wadah yang menfasilitasi, memperhatikan, dan mendukung, serta mengembangkan bakat mereka. Terutama dalam hal literasi.”

Semangat untuk terus maju berkarya yang dimilikinya patut di contoh. Energinya untuk senantiasa berkreasi sepertinya tak pernah kunjung habis. Hal ini dibuktikan dengan salah satu karyanya yang baru saja diterbitkan baru-baru ini yang berjudul, “Dari Robot Sempurna sampai Alea Ingin Ke Surga”. Meski buku ini merupakan karya bersama hal ini tetap membuktikan bahwa bakatnya sebagi penulis sangat diperhitungkan.

“Membaca. Membaca. Kemudian membaca lagi. Setelah itu baru menulis. Menulis, dan menulis. Begitu seterusnya.” Jawabnya saat ditanya rahasianya dalam mengembangkan bakat menulisnya.
Mengingat banyak buku yang berjejer di rak tempat ruang tamu, mungkin resep menulisnya benar adanya. Membaca dan menulis merupakan sesuatu yang tidak dapat dipisahkan.

“Kita lihat saja nanti.” Ucapnya dengan tawa mengembang saat ditanya kegiatan Rulis selanjutnya. Bersamaan dengan itu terdengar suara di radio kegiatan eksaina (Ekspresi Anak Indonesia) bersama Rumah Literasi Sumenep baru dimulai.
SEKOLAHKU MENYENANGKAN

SEKOLAHKU MENYENANGKAN

Karya  Agatha Neysha Anindiar//Kelas IV-akademik//

Namaku Agatha Neysha Anindiar, biasa dipanggil Neysha. Aku bersekolah di satu-satunya SDN rujukan di Kabupaten Sumenep yaitu SDN Pangarangan III. Sekolah ini sejak awal berhasil membuatku tertarik. Banyak hal yang berbeda dengan sekolah lain. Biasanya murid-murid di sini datang ke sekolah antara jam 06.00 – 06.30 karena ada jam ke 0 yang harus kami ikuti sesuai jadwal. Jam ke 0, digunakan untuk melakukan pembiasaan kegiatan positif, dimulai jam 06.30 hingga 07.00. Senin hingga Sabtu. Dimulai dari upacara tiap Senin, kemudian hari Selasa hingga Jumat bergantian antara membaca buku di pojok literasi yang tersedia di setiap kelas dan membaca Al-Qur’an. Khusus hari Sabtu kami semua senam pagi.

Tiap pagi guru termasuk Kepala Sekolah menyambut siswa di depan gerbang, menyapa kami satu per satu dengan senyum hangat. Bahkan tak jarang juga menyapa wali murid yang mengantarkan putera-puterinya. Kami diajarkan untuk mencium tangan atau “salim” ke guru-guru. “Salim” ini pun tidak sembarang, salim sesuai adat istiadat Keraton Sumenep. Salim dimulai dengan “nun” (posisi kedua telapak tangan merapat seperti posisi menyembah) kemudian kepala menunduk dan mencium tangan guru tepat di hidung bukan di kening atau pipi. Gerakan salim ini ada maknanya, ada nilai penting yang ingin disampaikan yaitu kami orang Madura sangat menghormati dan berharap barokah ilmu dari guru. Murid yang membawa sepeda memarkir dulu sepedanya di luar untuk melakukan kegiatan “salim” ini, setelah itu baru sepeda dituntun memasuki area parkir.

Fasilitas di sekolahku cukup lengkap. Ruangan kelas, laboratorium komputer, perpustakaan, dan ruang pertemuan tersedia. Fasilitas Unit Kesehatan Sekolah (UKS) tersedia lengkap dengan program dokter ciliknya. Toilet yang bersih serta kantin yang menyediakan jajanan sehat juga ada. Sekolahku juga memiliki halaman rindang nan luas, tempat kami bermain, upacara, atau kegiatan sekolah lainnya.

Laboratorium komputer digunakan bergantian oleh semua kelas sesuai jadwal. Seru ketika belajar di ruang ini karena siswa bisa belajar teknologi informasi ditemani guru yang sabar dan telaten. Aku juga sering ke perpustakaan. Jajaran buku yang tertata rapi hampir semua telah kulahap. Aku punya mimpi semoga suatu saat ada donatur yang mau memberi sekolahku buku-buku lebih banyak lagi. Semakin banyak buku semakin membuat kita semangat.

Oh ya, ini bagian yang paling aku suka, aku akan bercerita tentang kegiatan di UKS. Kebetulan cita-citaku adalah ingin menjadi dokter. Bukan berarti ikut-ikutan karena hampir semua anak bercita-cita menjadi dokter, tapi bagiku menjadi dokter itu bisa membantu banyak orang. Jadi ketika ada program sekolah “Kader Tiwisada” atau dokter cilik, aku mengajukan diri untuk ikut serta. Untuk bisa menjadi dokter cilik, ada persyaratan yang harus dipenuhi yaitu siswa harus berpakaian bersih dan rapi serta harus selalu menjaga kebersihan diri. Aku diterima menjadi dokter cilik di sekolah. Dokter cilik memiliki tugas untuk membantu guru mengobati siswa yang sedang sakit. Dokter cilik ini diberi pelatihan untuk pertolongan pertama oleh dokter dari Puskesmas atau dinas kesehatan.

Selain bercerita tentang kondisi fisik sekolah, aku juga ingin bercerita tentang pembiasaan makan makanan sehat yang diwujudkan dengan “Gerakan membawa bekal”. Bekal sekolah ini dibawa siswa dengan menu rumahan, menu yang bergizi untuk menghindari anak memakan jajanan yang tidak sehat. Acara membawa bekal ini diikuti dengan acara makan bersama. Guruku juga ikut membawa bekal ke sekolah. Tiap makan bersama, kita bisa berbagi cerita, atau bahkan berbagi lauk. Tak jarang kami juga sering tertawa bersama.

Sekolahku juga mendukung pengembangan jiwa seni siswanya dengan memberikan fasilitas berupa sanggar “Karembangan”. Aku dan teman-teman bisa belajar bernyanyi lagu daerah, tarian daerah, teater hingga sekolah kami menciptakan pertunjukan cupsong. Cupsong sesuai namanya berarti bernyanyi dengan mengandalkan keterampilan menggunakan gelas plastik untuk menghasilkan suara rancak dan menjadi nada mengiringi alunan lagu Madura. Seru sekali sekolahku, aku bisa belajar apa saja. Belajar tentang pelajaran bahkan belajar kesenian khas “Madura.”  Semakin semangat, semakin cinta kesenian Madura.

Aku sekarang  berada di kelas IV Akademik. Kelas IV akademik ini berarti untuk anak-anak yang memiliki minat terhadap bidang akademik. selain akademik, ada kelas IV kreatif, untuk mereka yang memiliki minat dan tingkat kreatifitas seni yang tinggi, dan kelas IV Bina prestasi. Pembagian kelas ini untuk memaksimalkan minat siswa. Di sekolahku, guru dan siswa bebas menentukan tema kelas. Proses belajar mengajar tidak kaku, tapi dikembangkan sesuai kondisi masing-masing kelas. Guru-guruku di sekolah sangat kreatif mengembangkan cara menemani anak-anak belajar. Di Kelasku bertema “Kelas Nasionalis”. Tiap pagi, kelas selalu dimulai dengan berdoa, hormat kepada bendera sambil menyanyikan lagu indonesia Raya. Setelah itu, aktivitas jam ke 0 dimulai sesuai jadwal. Pelajaran pun dimulai dengan cara berkelompok, presentasi, diskusi, atau sambil melakukan permainan. Di kelasku semua anak bebas menyalurkan bakat dan kreatifitas.

Sistem poin digunakan di kelasku. Sistem ini bukan semata-mata mengambil nilai dari mata pelajaran saja, namun semangat dan kreatifitas siswa juga dihargai dengan poin. Contoh apabila mereka telah selesai membaca di pojok literasi kemudian meringkas buku yang dibaca, maka akan mendapat poin. Siswa yang bisa bernyanyi kemudian tampil bernyanyi dan diunggah ke grup wali siswa, maka juga akan mendapat poin, dan masih banyak lagi yang lainnya. Poin ini dikumpulkan tiap minggu, ditulis sendiri oleh siswa (belajar jujur), dan ditandatangani oleh wali siswa di buku poin. Pemilik poin tertinggi akan mendapat pin Garuda dan terendah akan mendapat pin hitam. pin ini adalah semacam penghargaan atas “semangat” bukan  nilai akademis saja. Semua siswa sangat bersemangat, ada teman yang pertama masuk dapat pin hitam, kemudian karena usahanya bisa berubah menjadi pin Garuda. Begitulah cerita sistem poin di sekolahku. Saat bel pulang berbunyi, kelas nasionalis membaca doa, setelah itu membaca naskah proklamasi. Sungguh nuansa nasionalisme yang kental sangat terasa setiap hari.  Selain siswa tahu tentang simbol dan sejarah penting bangsa, juga agar semanagat cinta tanah air tertanam kuat dalam diri mereka. Semoga ke depan di antara kami ada yang menjadi pemimpin negeri ini. Begitulah harapan guru kami. Keren kan?

Oh ya, selain cinta tanah air, kelasku juga berusaha menanamkan cinta bahasa Madura. Setiap hari Sabtu kita semua menggunakan bahasa Madura dalam setiap percakapan. Banyak kejadian lucu kalau hari Sabtu karena mereka yang aslinya berasal dari suku di luar Madura, sering “medok” atau intonasinya lucu ketika mengucapkan bahasa Madura. Kami sering tertawa, tapi kami tidak mem-bully-nya.  Kami senang bisa berbahasa Madura bersama.


Selain  jiwa nasionalisme,  kelasku juga  belajar berwirausaha. Siswa bergiliran berjualan kue. Modal untuk berjualan sebesar Rp 30.000. Hasilnya akan dikumpulkan sebagai kas kelas. Kas kelas sudah cukup untuk membeli kaos “merah putih”, identitas kelas nasionalis. Cita-cita besar kami adalah uang kas kami cukup untuk berziarah ke makam Bung Karno di Blitar. Di kelasku juga memberikan wadah bagi anak-anak yang minat di teknologi informasi untuk menjadi admin di media sosial kelas. Instagram  kelasku @kelasnasionalis dan channel Youtube “kelas nasionalis.” Pokoknya kelasku benar-benar seru. Aku memiliki teman-teman yang baik, guru yang asik, dan banyak pengalamanku di sini. Tak lupa aku juga suka berteman dengan kelas lain. Pokoknya sekolah ini adalah sekolah terbaik bagiku.
Buku Adalah Jendela Dunia

Buku Adalah Jendela Dunia

(Karya Assyura Syuriyani, 11 tahun).

Selama ini, aku belum bisa mengerti mengapa buku itu disebut ‘Jendela Dunia.’ Aku sering orang-orang mengatakan bahwa buku adalah jendela dunia. Artinya dengan membaca buku dapat menambah wawasan. Jujur aku tetap tak mengertu dan tidak peduli bahwa buku adalah jendela dunia. Guruku berkali-kali menjelaskan bahwa membaca buku itu penting. Membaca buku harus dibiasakan setiap hari. Terus terang, membaca buku kadang kadang membuatku merasa bosan.

Aku pernah bertanya epada kakak kelasku mengapa membaca buku itu penting? Ia menjawab membaca buku merupakan syarat kesuksesan, syarat menjadi juara apa pun. Kita dapat menambah wawasan dengan membaca buku. Yah, seperti itulah cara yang tepat, katanya. Aku tetap belum mantab dengan jawaban itu. Aku mencoba membiasakan membaca buku, tapi terasa sangat berat dan terbebani. Sayangnya aku lebih suka bermain untuk mengisi waktuku dengan begitu aku merasa senang dan tidak beban.

Suatu malam, menjelang tidur, ibuku ke kamarku. Aku sempatkan bertanya. Mengapa buku menjadi jendela dunia? Kemudian ibuku balik bertanya kepadaku: bukankah sejak kecil kamu suka berada di dekat jendela? Aku mengangguk sambil mengingat kembali. Kamu bercerita tentang burung-burung yang terbang, layang-layang yang berkelahi, dan orang-orang yang sedang berjalan semua terlihat dari jendela. Semua terlihat dari bingkai jendela. Perjalanan siang dan malang, terbit dan terbenamnya matahari juga terbingkai oleh jendela, bukankah begitu? Kamu bilang itu alasanmu yang membuat kamu suka berada di dekat jendela, lanjutnya. Buku lebih besar dari jendela. Apa yang bisa dilihat dan dibaca di buku lebih luas lagi dari sekedar memandang dari jendela rumah kita. Aku hanya bisa menjawab ya, ya, ya. Aku paham sekarang, batinku sejak malam itu.

Keesokan harinya, mulailah aku mencoba bersahabat dengan buku. Aku mulai membacanya tanpa terpaksa. Sedikit demi sedikit, lembar demi lembar, ternyata asyik juga membaca buku. Aku tidak lagi beranggapan membaca buku itu membosankan.

Suatu saat aku dan temanku di beri tugas oleh guruku untuk mencari buku bacaan di perpustakaan dan harus membacanya. Sejak itulah aku mulai menyadari bahwa membaca buku itu bukanlah sekedar jendela rumahku, tapi jendela dunia. Pintu masuk pengetahuan yang tak terbatas. Justru dengan membaca buku aku banyak menemukan hal-hal yang baru yang belum pernah aku ketahui sebelumnya. Benar apa kata orang-orang dan slogan yang pernah aku baca di perpustakaan bahwa buku itu ‘Buku adalah jendela dunia.’ Sejak aku paham maksudnya, waktuku mulai terasa berharga. Aku meluangkan waktu untuk membaca buku dan terbukti aku kemudian meraih juara olimpiade MIPA tingkat Kabupaten Sumenep, sama seperti kakak kelasku. Ternyata dengan buku aku bisa membanggakan kedua orang tuaku dan mengharumkan nama sekolahku.
          Setelah ku mendapatkan piala penghargaan, lalu aku diberikan hadiah oleh kedua orang tuaku atas keberhasilanku meraih juara. Apa hadiahnya? Ternyata sepuluh buku yang isinya tentang IPA. Materi yang aku suka. Setelah hadiah itu diberikan ibuku hanya berpesan kepadaku ‘’Kamu harus banyak membaca buku selain pengetahuanmu bertambah kamu juga termasuk orang yang dimuliakan.’’  Aku mengangguk dan mengaminkan.

Saat aku membaca buku-buku hadiah dari ibu, aku terkejut. Ternyata banyak sekali hal yang belum pernah aku ketahui hingga aku punya impian ingin membagi pengalaman membiasakan membaca buku ini kepada teman-temanku atau siapa saja berikut buktinya. Sungguh buku itu bukanlah kebiasaan yang membosankan maka aku tidak boleh  menyia-nyiakan waktu senggang. Kalau belum terbiasa, harus dipaksa.

             Suatu malam aku melihat film Harry Poter kisahnya sama sepertiku yaitu jarang membaca buku. Aku melihat film itu sampai tuntas .Saat aku tidur aku bermimpi hal yang sama seperti Harry Potter, tapi buku itu judulnya sederhana saja dan tidak menarik  menurutku. Saat kubuka ternyata ada sebuah pesan yang isinya ‘’Aku akan mensukseskanmu bila kau membaca buku ini. Kau boleh meminta apa saja yang kau inginkan setelah usahamu membaca buku ini sudah selesai.”. Lalu aku membacanya dari awal sampai akhir. Mula-mula aku ragu sekali untuk membacanya, tapi lama-lama akhirnya selesai juga baca bukunya. Tiba tiba keinginanku menjadi terkabulkan, tapi sayangnya aku terbangun. Ternyata aku tersadar kalau bermimpi. Aku merenungkan isi mimpiku. Pesan itu akan kujadikan prinsipku begitu pula pesan ibuku. Dengan dua pesan itu dan jendela dunia itu, aku akan membuktikan bahwa aku bisa mencapai kesuksesan seperti yang aku cita-citakan.                                         
SAYA TERUSIK

SAYA TERUSIK

Oleh Andilala.

Saya percaya akan kebulatan hati pemuda Indonesia, yang percaya akan kesanggupannya berjuang dan menderita” Pidato Bung Hatta dalam pembukaan Rapat Besar di Lapangan Ikada di Jakarta tanggal 11 September 1944.
Kepercayaan sekaligus harapan dari bung Hatta selaku founding father, seirama dengan harapan dan target presiden Republik Indonesia yang ke-7.

“"Kita akan bisa melahirkan generasi emas Indonesia. Generasi yang produktif, generasi visioner.” Kutipan Pidato bapak Joko Widodo dalam acara Puncak Peringatan ke-23 Hari Keluarga Nasional (Harganas) 2016 di Kupang, Nusa Tenggara Timur. (news.liputan6.com tanggal 30 juni 2016)
Para pendiri dan pemimpin bangsa sangat menaruh harapan besar terhadap pemuda sebagai pemangku masa depan bangsa, untuk mewujudkan harapan itu merupakan kewajiban bagiku sebagai seorang guru.

Menjadikan pemuda sebagai generasi yang mempunyai kebulatan hati, sanggup berjuang, mau menderita, produktif, dan visioner harus dimulai sejak usia anak-anak dengan melakukan character building untuk menemukan dan mengembangkan potensinya bukan menjadikan anak-anak sebagai bahan baku dan sekolah sebagai tempat produksi, kondisi tersebut semakin diperparah oleh kasus-kasus pelanggaran yang terjadi pada anak-anak kita yang digadang-gadang sebagai calon generasi emas. Berikut statement yang disampaikan oleh bapak Susanto salah satu pengurus KPAI.

"Meski ada kemajuan dalam penyelenggaraan perlindungan anak, kasus pelanggaran anak masih kompleks. Trend kasus pelanggaran anak mengalami fluktuasi dari tahun ke tahun, tahun 2014 mencapai 5.066 kasus. Tahun 2015, 4.309 kasus dan tahun 2016 mencapai 4.620 kasus. Khusus pornografi merupakan kasus yang perlu mendapatkan perhatian khusus. Data tahun 2016, anak korban pornografi mencapai 587. Hal ini menduduki rangking ke 3 setelah kasus anak berhadapan dg hukum mencapai 1.314 kasus dan kasus anak dalam bidang keluarga 857 kasus," ungkap Susanto urai Susanto kepada SINDOnews. Minggu, 23/7/2017 ( metro.sindonews.com)

Menelaah data KPAI diatas ditambah dengan mempelajari  Peraturan Presiden Nomor 87 Tahun 2017 tetang penguatan pendidikan karakter yang selanjutnya disebut PPK, Membuat saya merasa terusik untuk tidak berpangku tangan. Apapun kebijakan presiden dibidang pendidikan khusunya PPK akan menjadi pepesan kosong jika  saya dan teman-teman seprofesi apatis terhadap fenomena anak-anak Indonesia. 

Rasa terusik itulah yang mengispirasi saya untuk membentuk kelas Nasionalis di kelas IV akademik SDN Pangarangan III Kabupaten Sumenep, tempat saya mengabdi. Dimulai dari pintu yang bertuliskan “ DILARANG MASUK KECUALI NASIONALIS” dengan memberikan penguatan mental  pada anak-anak bahwa yang berada didalam kelas adalah orang-orang nasionalis. Didalam ruangan terdapat miniatur tongkat komando Bung karno yang bertuliskan toleransi,kejujuran,persatuan, dan kebangsaan tongkat komando yang berisi pesan-pesan itulah harus dipegang secara estafet oleh anak-anak kelas nasionalis dari generasi ke generasi. Pada perpustakaan mini bertemakan “ Indonesia Membaca” bahwa apapun yang kita baca dan pengetahuan yang kita dapatkan semuanya untuk  Indonesia. Pada dinding samping atas terdapat foto presiden ke-1 sampai presiden ke -7 sedangkan pada bingkai berikutnya bertuliskan “Presiden selanjutnya akan terlahir dari kelas ini”. Didekat bendera merah putih terdapat teks proklamasi dan sumpah pemuda yang mereka baca secara bersama-sama setiap mau pulang sekolah.

Saya juga berusaha menyederhanakan nilai-nilai yang terkandung dalam PANCASILA sehingga mudah dipahami oleh anak-anak saya di kelas nasionalis dengan menjadikannya nama kelompok belajar. Terdapat lima kelompok belajar didalam kelas nasionalis. pertama, kelompok bintang yang bermakna semangat beribadah, seseorang tidak dikatakan nasionalis jika tidak berpegang teguh pada ajaran agamanya dan tidak semangat dalam menjalankan ibadahnya sehingga berimplikasi terhadap kekhusyu’an anak-anak dalam berdo’a memulai dan mengakhiri pelajaran (sikap Religius) . Kedua, kelompok rantai yang bermakna semangat menghargai hak orang lain; bukan seorang nasionalis jika masih menginjak-injak hak orang lain demi kepentingan diri sendiri maupun kelompoknya. Ketiga, pohon beringin yang bermakna semangat bersatu; seorang Nasionalis akan berusaha untuk selalu menjaga keutuhan bangsa dan negara dengan menjadikan perbedaan sebagai anugrah bukan sebagai alasan untuk bermusuhan.keempat, kepala banteng yang bermakna semangat bermusyawarah; seorang nasionalis tidak akan pernah merasa yang paling benar sehingga apapun keputusan yang diambil harus berdasarkan kesepakatan bersama. Kelima, padi dan kapas yang bermakna semangat berbuat adil; seorang nasionalis selalu berbuat adil terhadap sesama.

Anak-anak kelas Nasionalis selalu meneriakkan semangat nilai-nilai pancasila dalam bentuk yel-yel kelas dengan meresapi nilai-nilai yang terkandung dari setiap lambang yang mereka ucapkan; ketika saya meneriakkan kata “SEMANGATKU” maka direspon dengan cepat dan lantang oleh kelompok pertama dengan meneriakkan “ BINTANG” dilanjutkan kelompok kedua meneriakkan “ RANTAI” kelompok ketiga meneriakkan “ POHON BERINGIN” kemudian kelompok keempat meneriakkan “ KEPALA BANTENG” dan kelompok kelima meneriakkan “ PADI dan KAPAS” setelah itu saya mengucapkan “ KELAS IV AKADEMIK” direspon dengan ucapan “ KECE”(bagi anak kelas nasionalis, kece itu adalah smart ) dan terakhir saya mengucapkan “ INDONESIA” mereka menjawab “ LUAR (mengepal dan mengangkat tangan kanan) LUAR (mengepal dan mengangkat tangan kiri) LUAR BIASA (menunjuk dan menengadah kelangit)”. Yel-yel dapat dilihat di channel youtube dengan menegtik kelas nasionalis atau Instagram dengan mengetik @kelasnasionalis.

Sebelum pelajaran dimulai anak-anak kelas nasionalis menjajakan jualan yang dibuat oleh mereka di rumah dengan dibantu oleh orang tuanya berupa minuman ataupun kue. Mereka menjajakannya kepada teman-teman mereka, guru, kepala sekolah, maupun wali murid yang kebetulan mengantarkan anaknya. Bahkan anak-anak kelas nasionalis berani melobi kepala sekolah supaya setiap kebutuhan konsumsi rapat memesan kepada mereka. Anak-anak  kelas nasionalis saling bekerja sama dalam berjualan tetapi bergantian dalam membuat kue maupun minuman dengan jadwal yang mereka susun sendiri, setiap anak mendapat modal sebesar Rp.30.000 dengan modal awal diambil dari kas kelas. Keuntungan yang didapat selama berjualan dari bulan Agustus 2017 s/d Oktober 2017 sebesar  Rp. 1.378.000. dari keuntungan itu mereka mampu mewujudkan salah satu mimpinya untuk membeli kaos seragam kelas nasionalis. Mereka sekarang sedang berusaha untuk mewujudkan mimipi kedua mereka yaitu berziarah ke makam Bung Karno. Inilah sikap mandiri dan bergotong royong  dalam berwirausaha yang dilakukan kelas nasionalis untuk mewujudkan tujuan mereka.      

Kegiatan didalam kelas Nasionalis diawali dengan berdo’a untuk memulai pelajaran,saya selalu mengarahkan anak-anak untuk menundukkan kepalanya dan menengadahkan kedua tangannya sambil meresapi arti dari do’a yang mereka baca karena do’a merupakan media komunikasi dengan Tuhan. Selanjutnya anak-anak  menyanyikan lagu Indonesia Raya, saya memberikan motivasi kepada anak-anak untuk  membayangkan cita-cita yang ingin dicapai pada waktu menyanyikan lagu Indonesia raya, misalnya: yang ingin menjadi pemain bola menyanyikan lagu Indonesia Raya, sambil malakukan afirmasi terhadap dirinya bahwa mereka berada ditengah lapangan sedang membela Tim Nasional Indonesia. Mereka melakukan afirmasi sesuai cita-cita mereka masing-masing.

Kegiatan pembiasaan dimulai pada jam pelajaran ke Nol sesuai jadwal yang telah disusun; jika jadwal mengaji, anak-anak kelas Nasional mengaji Al-quran dengan cara tadarus yang dipimpin oleh anak-anak yang hafal Juz/surah tertentu, sehingga dapat memotivasi teman-temannya untuk belajar menghafal Al-quran. Jika jadwalnya membaca buku, maka mereka membaca buku sesuai keinginan mereka, buku yang mereka baca dibawa dari rumah masing-masing yang diletakkan di perpustakaan mini “Indonesia Membaca”, setiap dua minggu sekali mereka menggantinya. Setelah selesai membaca satu judul buku saya memotivasi anak-anak untuk membuat resume.

Ketika jadwal pelajaran jam pertama dimulai anak-anak belajar dengan aktif, saya memotivasi mereka dengan sistem POIN, anak-anak berkompetisi untuk mendapat Poin sebanyak mungkin sesuai dengan potensi mereka masing-masing. Setiap pekan Poin akan dihitung, Anak yang memperoleh poin tertinggi akan dinobatkan sebagai student of the week dengan prosesi penyematan pin garuda. Saya kagum kepada anak-anak karena mereka mempunyai semangat berkompetisi yang sangat tinggi tetapi tidak lupa untuk saling berbagi tanpa melihat perbedaan, mereka berkompetisi dengan suasana saling membantu dan menolong. Menurut saya inilah makna dasar dari integritas, tetap menjaga keutuhan meskipun dalam atmosfer kompetisi.

Di tengah proses pembelajaran anak-anak saya motivasi supaya terbiasa melakukan budaya antri dan budaya bersedekah, mereka harus antri dengan tertib setiap mau mengumpulkan hasil pekerjaan mereka kepada saya dan merekah menyisihkan sebagian uang jajan mereka untuk disumbangkan kepada anak yatim melalui kotak sedekah yang sudah disiapkan dimeja saya, tentunya diawali dengan contoh nyata dari saya.

Setiap penilaian saya selalu menulis “ berbuatlah jujur karena Allah Maha melihat lagi maha mendengar” (anak-anak kelas nasionalis beragama islam), tulisan itu memotivasi mereka untuk berbuat jujur sehingga proses menjawab soal, koreksi, dan menginput nilai kedalam analisis di laptop dilakukan oleh masing-masing siswa dengan ditayangkan melalui LCD proyektor tanpa ada pengawasan secara ketat dari saya. Saya percaya mereka mau berbuat jujur, tetapi kadang-kadang kita yang tidak memberinya kesempatan.

Diakhir Kegiatan pembelajaran, anak-anak menceritakan pengalaman terbaik yang mereka dapatkan selama berada disekolah kemudian mereka berjanji bahwa pengalaman terbaik itu akan dilakukan di rumah dan di masyarakat. Saya selalu meminta supaya mereka menjadi agen perubahan prilaku dilingkungannya, saya meyakini gerakan untuk merubah prilaku masyarakat kearah yang lebih baik lebih efektif jika dipelopori anak-anak dibandingkan doktrin dari sesama orang dewasa.

Semua kegiatan yang dilakukan dikelas maupun disekolah akan berjalan pincang jika tidak ada partisipasi aktif dan kesadaran orang tua, untuk itu diawal tahun pelajaran saya mengadakan pertemuan untuk melakukan kesepahaman dengan orang tua dari anak-anak kelas nasionalis; saya menyampaikan bahwa pada prinsipnya saya sekedar membantu mendidik anak-anak mereka kewajiban utama untuk mendidik tetap berada dipundak orang tua, jadi orang tua harus berperan aktif dalam proses tumbuh kembang anak-anaknya baik disekolah,dirumah, dan dilingkungan masyarakat. sehingga orang tua harus berkomunikasi secara intens dengan saya sebagai guru melalui berbagai media sosial atau berkonsultasi secara langsung. Saya juga memberikan pemahaman kepada orang tua bahwa belajar bukan sekedar mendapatkan nilai diatas kertas melainkan bagaimana anak-anak mendapat pengalaman terbaik sehingga orang tua harus meluangkan waktu ketika anak-anak pulang sekolah untuk menanyakan pengalaman  yang sudah didapat disekolah bukan bertanya berapa nilai yang diperoleh. Semua kesepahaman dalam pertemuan itu dituangkan dalam nota kesepahaman bersama.  Setiap tiga bulan saya rutin mengadakan pertemuan dengan orang tua, untuk mengevaluasi realisasi nota kesepahaman bersama.   

Saya sebagai guru melakukan semua upaya diatas untuk menumbuhkan sikap Religius, nasionalis, mandiri, gotong-royong, dan integritas karena jika hari ini anak-anak kita tidak memiliki sikap tersebut maka generasi emas Indonesia tidak akan pernah lahir. Saya melakukan semua upaya bukan karena saya profesional tapi karena saya terusik terhadap fenomena anak-anak saat ini. Sudahkah teman-teman Guru terusik?

INI BUDI

INI BUDI

Karya Enda Muharromah

Kau tahu ada sebuah Desa bernama Panaongan -Kampung nelayan yang terletak di Kecamatan Pasongsongan Kabupaten Sumenep, Madura-? Baru kau dengar ini kali kan nama Desa Panaongan? Desa Panaongan sebagian besar masyarakatnya bekerja sebagai nelayan. Garis pantai di sepanjang desa membuat masyarakatnya mau tidak mau menjadikan laut sebagai tempat mereka mencari nafkah. Tetapi tak mengapa, apa salahnya menjadi nelayan? Kau bahkan bisa memandangi langit malam bertabur bintang dengan bunyi debur ombak dan menyaksikan matahari terbit di kaki langit tanpa satupun benda menghalangi. Nelayan sebagai pilihan pekerjaan bukanlah sebuah soal, anak yang lahir dari orang tua yang bekerja sebagai nelayanpun bukan sebuah soal. Jika kau menganggap ini cerita tentang aku, kau salah kira. Ini cerita tentang murid SD di rentang waktu 2000-2006. Sebut saja namanya Budi (aku yakin dia tidak akan mau namanya ku sebutkan jika ia tahu aku menulis cerita tentangnya). Ia anak nelayan. Kusebut saja dia Budi karena di tahun 2000-2006 nama itulah yang sering muncul di buku-buku pelajaran dan tokoh Budi juga digambarkan sebagai tokoh yang baik sama halnya dengan Edo dan Lani di buku-buku pelajaran kekinian.
Anak laki-laki bernama Budi itu berlari kecil menyusuri gang-gang sempit menuju sekolahnya, SDN Panaongan 1 –satu-satunya sekolah yang paling dekat dengan rumahnya-. Tak jarang ia berpapasan dengan teman-temannya yang berjalan santai sambil membicarakan dongeng Kiyai yang mereka dengar saat mengaji di langgar malam tadi. Ia tetap berlari bahkan ketika seorang perempuan tua mengingatkannya untuk lebih baik berjalan saja agar tidak banyak keringatnya di pagi hari. Ia berlari. Ia tidak ingin ada murid lain yang tiba di kelas mendahuluinya.  Aku murid pertama yang tiba di kelas, begitu inginnya. Sekolah sudah di depan mata, hanya 100 meter kira-kira jaraknya. Ia bisa melihat dengan jelas nama sekolahnya yang tertulis di bagian depan sekolah, huruf-hurufnya terbuat dari semen yang sudah dicetak-cetak dan dicat warna biru tua. Selokan kecil di depan sekolah ia lompati dengan semangat. Ia sudah sampai di halaman sekolah, tapi ia masih saja berlari. Setelah melewati pot bunga besar di depan ruang guru ia berbelok ke kanan kemudian ke kiri menuju kelas paling pojok dengan pintu berwarna biru. Kelas 1 begitu kelas itu dinamai bapak ibu guru.
Benar saja, ia menjadi murid pertama yang tiba di kelas. Ia tidak langsung masuk. Ia berhenti di pintu kelas, mengedarkan pandangan ke dalam kelas dengan nafasnya yang sedikit tersengal-sengal. Meja guru, bangku-bangku dan asbak yang terbuat dari batok kelapa karyanya dan teman-temannya (mungkin juga karya bapak ibunya atau bapak ibu teman-temannya) yang diletakkan di atas lemari. Kemarin ia sendiri yang menawarkan pada ibu guru untuk meletakkannya di atas lemari agar tidak rusak akibat ulah usil teman-temannya. Ia tahu betul bagaimana kelakuan teman-temannya jika sudah asyik bermain. Ia masuk kelas menuju bangku yang bisa di bilang berada di bagian tengah, di situ ia duduk sembari melepas tas yg sejak tadi digendongnya. Ia melihat sepatunya yang tidak seberapa hitam namun tidak kotor, ia cukup lihai menghindari kotoran ayam dan genangan air di jalan saat ia berlari tadi. Namun malang, kaos kakinya yang mulai kusam melorot. Ahh desisnya, ia menunduk menarik kaos kakinya ke atas. Waah Budi kamu selalu menjadi yang pertama datang setiap hari, kata Bu guru sambil tersenyum. Budi tersenyum tersipu. Bu guru yang berasal dari Jawa, dengan logat Jawanya itu selalu membuat Budi tersenyum. Bu Warni namanya, begitu cantik dan halus tutur katanya. Bu warni selalu menggunakan rok di bawah lutut, sepatu fantofel berwarna hitam yang runcing ujungnya, rambutnya yang panjang disisir ke belakang dan menggunakan jepit rambut berbentuk pita berwarna hitam, rambutnya bergerak-gerak ke kanan dan ke kiri setiap kali Bu Warni berjalan.  Teman-temannya mulai berdatangan, kelasnya perlahan-lahan menjadi semakin ramai. Ia memerhatikan kelasnya yang menjadi riuh gelak tawa teman-temannya. Bahkan ia memerhatikan seorang teman yang mengeluarkan ketapel dari dalam tasnya dan mengajak teman di sebelahnya untuk mencari burung sepulang sekolah. Ahh bukankah pulang sekolah masih lama, kenapa harus dibicarakan ketika bahkan kelas belum juga dimulai batinnya.
Budi selalu semangat saat berada di dalam kelas. Ketika ketua kelas memimpin doa bersama sebelum pelajaran di mulai, suara Budi selalu paling nyaring. Seolah dia ingin mengatakan “aku juga membaca doa!”. Begitu juga saat bu guru memanggil nama murid satu-persatu untuk mengetahui kehadiran murid-muridnya. Budi akan berseru dengan nyaring, “ada!”. Jika sudah begitu bu guru tersenyum menatap Budi dan Budi kembali tersenyum tersipu. Ahh senyum guru yang berasal dari Jawa itu begitu meneduhkan.
Budi suka sekali menggambar. Suatu hari ketika mendapat tugas dari bu guru untuk menggambar apapun yang ingin di gambar oleh murid, Budi senang bukan kepalang. Bu guru memang sering kali mengajak murid menggambar apapun yang ingin di gambar oleh muridnya. Malang, hari itu Budi tidak membawa buku gambar berwarna hijau bergambar Micky Mouse miliknya. Dengan takut-takut ia sampaikan hal itu pada bu guru. Bu guru tersenyum kemudian bertanya kepada murid lainnya adakah yang mau membagi buku gambar miliknya untuk Budi?. Pakai punyaku saja, kata Ani. Budi tersenyum senang menerima kertas gambar yang diberikan Ani untuknya. Terimakasih Ani, kata bu guru. Budi terkejut, ia bahkan lupa tidak segera mengatakan terimakasih kepada Ani saking senangnya. Budi mengucapkan terimakasih pada Ani meski telah didahului oleh bu guru. Ani tersenyum mendengar Budi mengucapkan terimakasih padanya. Tapi kamu tidak boleh pinjam pensil warna punyaku, kata Ani. Aku punya, kata Budi. Kali ini bu guru yang tersenyum. Budi mengeluarkan pensil warnanya . Ia berpikir gambar apa yang akan dibuatnya, kertas gambar yang diberi Ani tidak seperti miliknya. Kertas gambar yang di beri Ani lebih kecil dari miliknya. Seandainya aku tidak lupa memasukkan buku gambar ke dalam tas setelah aku mendengar ibu mendongeng, batinnya. Budi mulai menggambar dengan hati-hati. Mewarnainya dengan hati-hati. Menulisinya dengan hati-hati. Selesai sudah Budi menggambar. Di gambarnya terdapat tulisan INI BUDI, INI IBU BUDI, INI BAPAK BUDI. Hari itu Budi menggambar dirinya sendiri,  ibu, dan bapaknya.
Budi kini sudah kelas 4. Ia masih saja berlari untuk menuju sekolah. Semakin banyak alasan yang membuat Budi selalu berlari menuju sekolahnya. Ia masih tetap ingin menjadi murid pertama yang sampai di kelasnya. Ia ingin menjadi murid pertama yang meletakkan sepatu di rak  sepatu yang terbuat dari bambu yang dibuat oleh teman-teman sekelasnya ketika kegiatan pramuka akhir bulan lalu. Ia ingin menjadi murid yang menghapus tulisan pak guru kemarin siang saat pelajaran jam terakhir (untuk yang satu ini Budi selalu mendapat pujian dari pak guru). Akhir-akhir ini alasan yang membuat Budi berlari menuju sekolahnya bertambah. Ia ingin menyapa nenek yang biasa berjemur didepan pintu rumahnya. Rumah nenek itu tidak jauh dari sekolah, berada tepat di depan pasar yang berada di samping kanan sekolah. Jika Budi terlambat sedikit saja, nenek itu sudah masuk ke dalam rumahnya. Saat melewati rumah nenek itu Budi akan memperlambat langkahnya, menyapa si nenek sambil tersenyum. Nenek membalas senyum Budi sambil berkata lirih “baiknya anak itu, berangkat sekolah pagi-pagi dan masih menyapaku yang sedang berjemur. Semoga dia menjadi anak yang mulia akhlaknya”. Budi tersenyum girang, ia didoakan oleh nenek itu!. Budi kembali berlari ketika sudah berlalu dari rumah nenek itu. Ia berlari sambil tersenyum girang. Besok aku harus menyapanya lagi batin Budi. Bukan hanya itu, alasan lain Budi berlari ke sekolah adalah ia juga ingin menyiram bunga mawar yang ada di depan kelasnya yang seringkali tidak dirawat oleh temannya yang bertugas piket (untuk yang satu ini Budi sadar betul bahwa bunga mawar yang ada di depan kelasnya juga makhluk hidup yang perlu makan, perlu  disayangi dan perlu dirawat seperti kata Bu Warni saat Budi masih duduk di kelas 1).
Itu adalah hal-hal yang aku ingat tentang si Budi. Jangan kau tanya siapa aku. Kau pasti tidak menyangka siapa aku dan terheran-heran mengapa aku bisa menceritakan tentang si Budi. Budi anak laki-laki yang selalu berlari menuju sekolah. Budi yang selalu menarik kaos kakinya ke atas karena melorot akibat ia berlari. Untung saja kaos kakiku tidak melorot, batinku. Ahh anak perempuan memang selalu memperhatikan hal-hal kecil yang tidak terlalu penting bukan? Kaos kaki yang melorot saja kuperhatikan. Kini aku tak tau persis bagaimana kabar Budi. Aku sempat mendengar kabar bahwa ia sekarang  tetap berada di Desa Panaongan menjadi nelayan sama seperti ayahnya. ada di kota besar sibuk ini itu bersama komunitasnya. Katanya komunitasnya bergerak di bidang literasi. Bidang yang berhubungan dengan buku-buku, baca-membaca pikirku. Memangnya Budi suka membaca? Bukankah dulu dia suka menggambar? Ahh mungkin dia tiba-tiba suka membaca. Pernah suatu kali aku membaca tentang dirinya di sebuah surat kabar. Katanya pemuda yang ku sebut Budi ini baik orangnya, peduli pada lingkungan sekitarnya dan sering pergi ke daerah-daerah yang haus akan pengetahuan dan buku-buku. Di daerah-daerah yang seperti itu ia akan menyampaikan gagasan-gagasannya, pengalaman-pengalamannya dan membagikan buku-buku secara cuma-cuma. Aahh Budi, Budi. Kalau kau begitu sukanya berbagi gagasan dan pengalaman kenapa kau tidak jadi PNS saja, jadi guru seperti aku misalnya. Ya, aku adalah seorang guru (honorer) di sebuah sekolah dasar negeri. Kau tahu Desa Patean? Di sana sekolahku berada. Ahh Budi, seingatku kau cukup cerdas untuk menyelesaikan soal-soal tes CPNS. Tapi aku cukup bangga padamu. Kau menjadi salah temanku yang berhasil menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain. Kau juga berhasil menjadi orang yang berakhlak mulia seperti doa nenek yang sering kau sapa ketika kau kelas 4 yang rumahnya di dekat sekolah dasar dulu, mungkin juga itu doa ibu dan bapakmu Budi. Mana ku tahu. Tapi yang aku tahu pasti Bu Warni pasti akan selalu tersenyum padamu.
Ahh aku terlalu lama mengingat kenangan tentang Budi. Lihat kelasku jadi ramai,  murid-muridku banyak yang berlari-lari dalam kelas, sedangkan muridku lainnnya berdiri di depan sudut baca mengambil buku, membolak-balik buku, lihat ada juga yang rebutan buku dan lihat lagi, di pojok kelas murid perempuan menangis karena pensilnya hilang. Baiklah, baiklah. Dengan situasi seperti ini kelasku memang jadi ramai, tetapi bukankah ini semua merupakan bagian dari proses kreatif anak? Jika aku adalah Bu Warni, kira-kira apa yang akan di lakukan Bu Warni untuk menghadapi kelasku ini? Akankah Bu Warni tetap akan tersenyum di kelasku? Atau seandainya Budi menjadi guru kira-kira apa yang akan diperbuatnya?
Budi kau jangan berburuk sangka padaku. Aku tidak lupa untuk mengajar dan mendidik murid-muridku untuk memperhatikan akhlak mereka seperti yang guru kita ajarkan dulu. Aku tidak lupa untuk mencontohkan langsung kepada mereka untuk membuang sampah pada tempatnya, aku juga mencontohkan secara langsung mengucap maaf dan terimakasih kepada murid-muridku seperti yang dilakukan oleh guru kita dulu. Lihatlah murid-muridku yang bernama Lani dan Edo (ku sebut saja mereka Lani dan Edo karena nama-nama inilah yang populer di buku pelajaran kekinian untuk menggambarkan murid yang pandai dan baik). Lani dan Edo adalah murid terbaik di kelasku. Mereka melakukan semua hal yang aku ajarkan pada mereka. Mereka membuang sampah pada tempatnya, mereka mengucap maaf jika salah dan mengucap terimakasih jika ada teman yang membantunya, mereka juga suka merawat tanaman di depan kelas tanpa aku suruh. Mirip denganmu bukan? Tapi mereka tidak suka menggambar.
Budi, lihatlah ini Lani dan Edo. Aku tidak bermaksud mengabaikan muridku yang lainnya seperti Susi (sebut saja begitu) misalnya. Tapi Lani dan Edo memang yang paling menonjol di kelas ini. Budi taukah kau apa saja yang sudah kulakukan untuk membentuk karakter Lani dan Edo? Kalau suatu hari kita bertemu akan kuceritakan padamu bagaimana aku merancang program kelas, bagaimana aku menyisipkan nilai-nilai luhur agama dan sosial pada Rencana Program Pembelajaran yang aku buat. Aahh kau tidak tau tentang RPP bukan? Makanya kubilang seharusnya kau menjadi guru saja (meskipun hanya guru honorer sepertiku). Aku merancang program pembelajaran sedemikian rupa. Sebelum pembelajaran dimulai aku akan mengajak murid-muridku berdoa, kemudian mengajak mereka menyanyikan lagu Indonesia Raya agar muncul rasa cinta tanah air pada diri mereka, kemudian aku ajak mereka untuk membaca buku-buku yang disukai yang tersedia di sudut baca kelas kami, sesekali aku tanyakan kepada mereka apa isi buku yang mereka baca (kau tentu ingat bukan guru kita tidak mengajak kita untuk membaca sebelum pelajaran dimulai). Tidak hanya sampai di situ Budi, aku juga menyampaikan nilai-nilai kemanusiaan dan rasa syukur kepada Tuhan ketika aku menyampaikan materi-materi yang berkaitan dengan nilai-nilai itu. Ketika jam pelajaran berkahir aku juga mengajak mereka berdoa dan bersyukur atas apa yang terjadi hari ini, dan sebagai pemanisnya aku mengajak mereka untuk menyanyikan lagu-lagu nasional atau lagu daerah. Bagaimana menurutmu Budi? Apa yang aku lakukan sudah cukup baik bukan? Aahh tapi jangan kau bandingkan aku dengan guru kita dulu, guru kita dulu memang yang terbaik sepanjang masa. Budi, lihat. Lani dan Edo begitu bersemangat bukan?.
Kuceritakan satu lagi cerita tentang mereka. Ceritanya persis sama dengan cerita tentangmu dulu. Cerita ini juga ketika mereka masih di kelas 1. Suatu waktu ketika itu aku mengajak murid-muridku untuk menggambar apapun yang mereka ingin gambar. Kelasku menjadi ramai karena murid-muridku seolah berdiskusi dengan temannya untuk menentukan apa yang ingin mereka gambar. Edo ketika itu diam saja sambil menatap ke arahku. Aku heran dan segera aku menuju tempat dimana ia duduk. Kau tahu Budi apa yang terjadi? Belum sampai aku di tempat di mana Edo duduk, sudah ada Lani yang menghampiri Edo. Lani berkata “ Edo kamu tidak membawa buku gambar? Ini pakai punyaku, aku kasih kamu satu”. Dengan segera Edo menjawab “Terimakasih Lani. Kamu mau pinjam pensil warna punyaku?. Aku tersenyum, percakapan mereka setelahnya tidak aku hiraukan. Bagaimana aku tidak langsung mengingatmu Budi ketika itu?. Aku biarkan murid-muridku menggambar sesuka hati. Selesai mereka menggambar aku kumpulkan hasil pekerjaan mereka dan aku puji mereka sekedarnya, bahwa mereka hebat, mereka sudah berusaha untuk menggambar. Lalu kulihat hasil pekerjaan mereka satu-persatu. Gambar milik Edo membuat aku tersenyum (Budi sekali lagi bukan maksudku untuk mengabaikan gambar milik murid-muridku yang lainnya). Rupanya Edo menggambar dirinya sendiri, orang tua, dan temannya. Baiklah,seketika itu juga aku merasa iri pada Lani. Budi, bukankah ketika itu kau seharusnya juga menggambar aku di kertas gambarmu? Bukankah aku yang memberikan kertas gambar itu padamu?
Bu Ani, apa kami sudah boleh istirahat? Tanya Edo padaku. Aaahhh Ani tentu saja bukan namaku yang sebenarnya. Lagi-lagi aku menggunakan nama  yang cukup populer digunakan di buku pelajaran sekolah dasar pada tahun 2000-2006. Aku pilih nama Ani tentu saja karena Ani adalah teman Budi, Ani juga digambarkan sebagai tokoh yang juga pintar dan baik, bisa juga dibilang Ani adalah tokoh idolaku semasa itu. Aku mengiyakan saja mereka untuk beristirahat di luar kelas. Budi tahukah kau apa yang sangat kurisaukan sekarang ini sebagai seorang guru? Aku tidak khawatir akan prestasi muridku, karena aku sudah menyusun program kelas yang menurutku dapat meningkatkan prestasi akademik mereka, orangtua murid juga  tidak kalah semangat menyuruh anak mereka ikut les ini itu. Aku khawatir program kelas yang sudah aku susun tidak cukup memfasilitasi mereka untuk bisa memiliki karakter dan budi pekerti yang baik. Aku tidak cukup yakin bahwa program yang aku susun seperti menyanyikan lagu-lagu nasional, lagu-lagu daerah ataupun mengajak mereka bersyukur setiap harinya bisa membuat mereka memiliki budi pekerti yang baik.
Budi andai saja kau jadi guru. Kau akan tahu persis bagaimana kerisauanku. Ahh dan aku ingat Bu Warni, guru kita yang berasal dari Jawa itu.  Akankah dulu ia juga risau bagaimana mengajarkan akhlak dan budi pekerti pada kita? Aku yakin  di balik senyumnya kala itu Bu Warni juga risau. Seandainya Bu Warni masih hidup kira-kira apa yang akan ia katakan padaku, apa yang akan ia katakan padamu Budi?


SARUNG KOTAK-KOTAK JOKOWI

SARUNG KOTAK-KOTAK JOKOWI

Penampilan Presiden RI Joko Widodo, Jokowi ketika mendarat di bandara Trunojoyo Sumenep, Madura, Jawa Timur tampak berbeda dengan kunjungan-kunjungan lainnya. Peci dan jas kenegaraan sudah biasa, tapi yang menarik adalah stelan sarung kotak-kotaknya. Penampilan tersebut merupakan bukti penghormatan Jokowi kepada budaya ‘nyarung’ di Madura, khususnya Sumenep. Setelah trend dengan baju kotak-kotaknya, Jokowi kali ini membuat trademark baru dengan sarung kotak-kotak. Wah, pasti para pabrik tekstil akan segera meluncurkan sarung kotak-kotak Jokowi. Hehehe.
Kunjungan presiden ke Sumenep kali ini dalam rangka memperingati Hari Perdamaian Internasional 2017 yang ditempatkan di Pesantren An Nuqoyah, Guluk-Guluk, Sumenep. Selain acara tersebut, presiden juga akan menghadiri Halaqah Kebangsaan Ulama, di Pesantren Al Amien, Prenduan, Sumenep.
Berikut rundown acara presiden di Sumenep secara lengkap.
Hari Minggu 081017
1. Pkl 08.00 wib RI tiba di Bandara Juanda.
2. Pkl 08.30 wib berangkat ke Madura
3. Pkl 09.00 wib tiba di bandara Trunojoyo.
4. Pkl 09.00 wib berangkat ke Ponpes AN NOQOYYAH Guluk-Guluk
5. Pkl 09.15 wib tiba di Ponpes AN NUQOYYAH.
6. Pkl 09.30 wib Peringatan Hari Perdamaian Nasional.
7. Pkl 09.35 wib Laporan Yenny Fondation.
8. Pkl 09.40 wib sambutan selamat datang dari Yayasan YF.
9. Pkl 09.45 wib Pembacaan Ikrar.
10. Pkl 09.50 Sambutan Presiden RI.
11. Pkl 10.15 wib acara di Yayasan YF.
12. Pkl 10.30 wib berangkat ke Ponpes Al Amien.
13. Pkl 10.50 wib tiba di Ponpes Al Amien.
14. Pkl 11.00 wib pembacaan ayat suci Al Qur'an.
15. Pkl 11.05 wib laporan pimpinan Ponpes Al Amien.
16. Pkl 11.15 wib sambutan Presiden RI.
17. Pkl 11.35 do'a bersama.
18. Pkl 11.40 makan siang di RM Sate Buto.
19. Pkl 12.30 wib berangkat ke GOR A.Yani Kab.Sumenep (penyerahan KIP & Kartu Keluarga Harapan).
20. 13.00 wib berangkat ke Graha Adi Podai (penyerahan Sertifikat Tanah).
21. 13.30 wib Silaturohmi di Ponpes Al Karimiyah dengan para Kyai se Madura dan Santri putra putri.
20. 14.00 wib rangkaian acara kunker Presiden RI di Madura (Sumenep) selesai dan kembali ke bandara Juanda, Surabaya.
Kembali ke budaya ‘nyarung’ Madura, perlu diketahui bahwa sarung-sarung orang Madura terbilang bermerk dan sangat mahal apalagi jika digunakan pada acara-acara resmi. Budaya ‘Sarungan’ di Madura merupakan komunikasi kultural masyarakat yang lestari hingga kini. Keseharian masyarakat Madura sejak kecil hingga dewasa selalu mengenakan sarung. Sarung bagi orang Madura bukan sekedar sehelai kain tetapi lebih merupakan identitas dirinya. Sarung juga sebagai identitas bahwa orang Madura merupakan masyarakat santri, masyarakat religius.

Selamat datang Pak Jokowi di Sumenep, Madura Jawa Timur. Selamat menikmati sate asli Madura. Selamat mengamati budaya ‘Sarungan’ di Sumenep. Ketika engkau tidak menemukan lagi pemandangan ‘sarungan’ di Sumenep berganti dengan celana atau gamis, maka engkau harus pertanyakan ‘ada apa dengan masyarakat Madura?’ apakah masyarakat ‘santri’-nya sudah aus dimakan zaman? Atau telah berganti paham? Kunjunganmu dengan sarung kotak-kotakmu mempertegas bahwa engkau mengunjungi para ulama yang menjadi akar budaya ‘nyarung.’
RITUAL MENULIS SI NOAH

RITUAL MENULIS SI NOAH

Kalau ada sepuluh manusia aneh di Indonesia, maka Noah (bukan nama sebenarnya) adalah salah satunya. Bagaimana tidak, ia mempunyai ritual sebelum menulis yang langka. Penulis terkenal tak banyak yang melakukan hal yang seperti itu, tapi yang bunuh diri banyak.
Noah memiliki ruangan kerja khusus yang tak seorang pun boleh memasukinya. Baginya, tempat itu merupakan isteri keduanya yang harus dijaga kehormatannya. Isterinya dilarang cemburu. Isteri dan anak-anaknya dilarang memasukinya kecuali Noah telah dinyatakan hilang seharian. Pertanda, ia telah meninggal dunia di ruangan itu.
Sebelum menulis, Noah memiliki kebiasaan khusus. Sebelum menyentuh penanya, ia terbiasa menyucikan diri dengan wudhu’. Memasuki ruangan khusus itu dengan membaca basmalah dan mengucap salam kemudian mengunci pintu. Tak lupa sebelum mengunci pintu, di depan pintu membalik tulisan tergantung menjadi “Jangan diganggu dalam dua jam sejak membaca tulisan ini!”
Tentu saja, semua anggota rumah Noah hafal dengan kelakuannya. Tidak ada yang mengherankan karena mereka sudah terbiasa sekian tahun hidup bersama Noah. Semua telah berjalan teratur.
Apa saja yang disiapkan Noah di ruangan khususnya? Sebelum duduk di kursi kesayangannya, ia mengenakan baju yang formal. Menyemprotkan parfum ke kulitnya. Di mejanya, yang ada sebelum ia memulai menulis adalah secangkir kopi, sebungkus rokok, asbak, laptop, dan suara musik instrumen Blue Monday dari album White Lion. Lampu ruangan sengaja dibuat temaram. Dan satu lagi, ia selalu menyetel alarm untuk empat jam ke depan.
Mungkin ritual yang dilakukan Noah tidak terlalu aneh, yang mungkin aneh adalah ketika ia akan menyentuh laptopnya. Sebelum ia sentuh huruf-huruf di papan huruf laptopnya ia selalu membungkan mulutnya dengan lakban. Yang difungsikan saat itu hanya jemarinya, telinga dan matanya. Yang lain diam termasuk hpnya juga nonaktif.
Lucu juga tulisan di pintu Noah “Jangan diganggu dalam dua jam sejak membaca tulisan ini.” Misalnya isteri atau anaknya membaca tulisan tersebut pada detik akhir dua jam dalam tulisan itu, berarti ia memberikan bonus waktu untuk dirinya selama dua jam lagi. Setelah tepat empat jam waktu ia duduk memulai proses kreatifnya, alarm nyaring pun berbunyi. Waktunya ia mengakhiri tulisan walaupun belum tuntas.
Jika tulisannya belum selesai dalam empat jam pertama, ia memang keluar ruangan khususnya tapi ia tetap dalam keadaan mulut tertutup lakban. Semua anggota keluarga di rumahnya paham betul berarti tulisan Noah belum rampung. Ia akan menggunakan bahasa tulis atau isyarat untuk sementara melakukan komunikasi di rumah. Begitu kondisi ia di rumah ketika tidak pada jam kerjanya di luar rumah.
Bagaimana ketika ia belum selesai menulis tapi harus bekerja? Jawabannya sama. Mulutnya tetap dalam keadaan terbungkam lakban. Pimpinan kantornya juga paham dengan sikap tak normal Noah. Jadi membiarkannya seolah-olah menyebutnya sebagai orang tidak normal. Tak ada protes dari staf yang lain di kantor itu karena memang kinerja Noah tidak diragukan. Dan ia baru akan membuka lakban di mulutnya ketika telah di ruangan khususnya dan tulisannya rampung.
Agar tidak tampak seperti bola sepak bocor yang ditambal lakban ketika bekerja, ia menutup mulutnya dengan masker di atas lakban. Keren juga. Itulah dia, tidak ada yang berani menegur dan mengganggu kegilaannya itu.
Dalam jajaran penulis sukses, ia adalah salah satu penulis yang sangat produktif. Ia berada dalam sepuluh besar penulis paling banyak karyanya. Ia tak banyak bicara secara lisan jika tak penting. Ia juga mendapat penghargaan Pulitzer atas dedikasinya dalam dunia sastra. Walaupun ia baru kelahiran tahun sembilan puluhan, ia bersejajar dengan penulis-penulis top lainnya di Indonesia.
Gaya bisa ditiru. Ritual Noah juga mudah ditiru. Ritual sebelum menulis dan proses kreatif boleh sama tapi karya masing-masing penulis mempunyai ciri khas yang unik. Untuk sampai ke tingkat yang mungkin memuaskan, bisa saja ritual tersebut ditiru. Tapi, yang terpenting sebenarnya adalah bersikap militer terhadap diri sendiri untuk menekuni apa yang menjadi cita-cita.

Tulisan ini hanya mengintip sedikit kebiasaan dan keunikan penulis dalam proses kreatifnya. Tidak perlu detail siapakah ia atau di manakah ia. Cukup sebagai cermin yang bening sebagai motivasi proses kreatif diri sendiri. Ia lahir di Indonesia, tinggal di Indonesia, dan cinta terhadap Indonesia.
Pentol Bakso Bergelimpangan

Pentol Bakso Bergelimpangan

Parto dan Paimin ugal-ugalan di jalan. Mereka penjual bakso keliling dengan sepeda motor. Dua-duanya agak miring pikirannya. Jualan sepi. Dari pagi ke siang belum ada penglaris. Untuk menghibur hati, keduanya kebut-kebutan di jalan. Meliuk-liukkan sepedanya sehingga terlihat dari jauh seperti balapan kardus.
Sepanjang jalan orang-orang melongo menyaksikan ulah Parto dan Paimin. Ada yang mengelus dada mendoakan mereka selamat di jalan. Parto dan Paimin masih asik meliuk-liukkan sepeda motor mereka sambil cekakak-cekikik kadang terbahak-bahak. Kadang Parto yang di depan, kadang juga Paimin.
Tawa mereka yang renyah di sepanjang jalan tiba-tiba terhenti. Terjadi benturan hebat.
“Braaak, kedubraak!! Sreeet! Duooor!!!”
“Ya, Allaaah!!!” suara histeris orang-orang di tepi jalan.
Parto dan Paimin terjungkal, terlempar, terseret menjauhi rombong bakso mereka. Helm-helm mereka menggelingding. Kaca mata Parto tersangkut di ranting pohon. Sementara rombong bakso mereka terburai isinya. Pentol-pentol bergelindingan dengan uap panas menari-nari. Kuah dalam kuali bakso mereka juga tumpah-ruah membanjiri aspal. Botol-botol pecah berserakan.
Orang-orang menyerbu mereka. Mereka menolong Parto dan Paimin. Ada yang membantu menegakkan sepeda motornya, ada yang memunguti sendok dan garpu, ember, tabung gas, sandal, dan botol cuka. Mereka meminggirkan sepeda motor dan rombong bakso. Ada yang memunguti helm. Ada pula yang langsung ke arah Parto dan Paimin, membantu mereka berdiri dan menuntunnya ke tepian.
Parto dan Paimin celingak-celinguk, kemudian tertawa lagi lebih keras. Mereka terbahak-bahak sepertinya bahagia. Orang-orang yang menolongnya terheran-heran padahal kondisi Parto dan Paimin terluka. Ringan, tapi justru malah terbahak-bahak. Mereka yang menolong akhirnya pun tertawa. Tak perlu menanyakan “Pak, Mas, tidak apa-apa?”
Cuma ada bapak tua yang bilang begini: “Lain kali lebih hati-hati, ya?”
“Makasih, Om!” jawab Parto.
Sepeda motor keduanya tidak bisa jalan lagi bahkan tidak bisa nyala lagi. Mereka harus mendorongnya setidaknya sampai ke bengkel. Rombong mereka sudah ringsek, tak terselamatkan. Rangka kayu penopang rombong, patah. Kacanya juga hancur. Mereka harus memperbaikinya. Itu langkah yang hemat. Kalau harus bikin rombong baru, tak mungkin. Kecelakaan itu telah membuat mereka rugi besar. Rugi modal dan harus membiayai perawatan sepedanya, juga memperbaiki rombongnya.
Pentol mereka laris manis dilindas mobil, motor, dan becak. Laris manis seperti habis laku terjual. Tapi, mereka tetap saja tertawa. Tak tampak wajah kesedihan di mata mereka. Mereka pun akhirnya sama-sama pulang.
 Sepeda motor mereka tak bisa langsung beres. Besoknya baru selesai diservis. Mereka hanya membawa pulang rombongnya dengan becak. Di rumah, isteri-isteri mereka sudah menunggu.

Di rumah Parto.
Narti sedang mendulang anaknya yang kelima, sore itu. Buah cintanya dengan Parto. Narti terkaget-kaget melihat suaminya di atas becak dengan rombong baksonya yang ringsek.
“Duh Gusti, Bapak kenapa? Bapak kecelakaan? Bapak terluka ini!” isterinya tampak panik.
“Tenang, Bu. Bapak tidak apa-apa! Hanya terjatuh tadi!”
Narti pun membantu menurunkan rombong baksonya. Parto juga dipapahnya masuk rumah. Parto didudukkan di kursi ruang tengah kemudian Narti ke dapur menyalakan kompor sambil menggendong anaknya.
Luka lecet Parto disekanya dengan air hangat. Parto sedikit merenges menahan nyeri. Baru terasa nyeri padahal tadinya ia tidak merasakan apa-apa.
“Lain kali, Bapak hati-hati! Aku tak mau Bapak kenapa-napa!”
“Iya, Bu!”
Tidak biasanya Narti menemani Parto. Parto dikeloninya biar pulas. Ternyata Parto tidak tidur-tidur malah minta jatah. Narti hanya pasrah.

Di Rumah Paimin
Sesampai Paimin di rumah dengan becak, isterinya melihatnya kemudian beriteriak.
“Hancuuur! Hancuuur!!”
“Apanya yang hancur sayang, Mas gapapa!”
“Modalnya hancur Mas. Kamu apakan  hingga hancur seperti ini! Bukannya membawa untung malah bawa buntung!”
“Yang penting Mas selamat, sayang!”
“Selamat, selamat! Kalau begini, dari mana lagi dapat modal?”
“Sabar, sayang!”
“Mana sepedanya?”
“Masih di bengkel, Dik!”
“Gobloook! Itu baru cicilan ketiga, Mas! Mikir! Jangan ngawur gini!”
“Loh, siapa yang ngawur, ini kan kecelakaan!”
“Kecelakaan, kecelakaan! Paling matanya jelalatan! Makanya hancur gini!”
Bukannya membantu menurunkan rombong dan memapah suaminya masuk rumah, malah dimarahi. Sumi memang begitu. Sangat berbeda dengan Narti, isteri Parto.
“Sana mandi! Bersihkan lukanya!”
“Buatin air panas, dong!”
“Bikin sendiri! Salah siapa?”

Paimin menyalakan kompor kemudian mandi dengan air hangat. Rencananya ia ingin tidur dengan isterinya malam itu. Tapi, Sumi sudah tengkurap duluan di antara tiga anaknya yang masih kecil-kecil. Paimin gigit jari.


Jangan Diganggu Lagi WA-an dengan Tuhan

Jangan Diganggu Lagi WA-an dengan Tuhan


Iseng-iseng aku memeriksa kontak di aplikasi whatsapp. Kuroll ke bawah. Sampailah di huruf depan T yang membuatku terkaget-kaget. Ternyata di kontak WA-ku ada nama Tuhan. Benarkah ini kontak Wa Tuhan?
“Ma, Mama yang buat kontak baru di WA papa?” teriakku ke isteriku biar terdengar ke dapur.
“Nggak Pa. Kenapa?” istriku juga mengeraskan suara.
“Kok, di kontak papa ada nama Tuhan?”
“Wah, mama gak tau Pa. Jangan-jangan memang kontak Tuhan. Coba aja disapa!”
“Wah, gimana ya? Papa sungkan Ma!”
Jangan-jangan semua statusku terbaca sama Tuhan. Jangan-jangan pula semua chatku dengan teman-teman dan orang-orang kebaca sama Tuhan. Mati aku! Jadi malu.
“Sudah menyapa Tuhan?” tanya isteriku sambil membawa secangkir kopi cappucino panas untukku.
“Belum, Ma. Sungkan papa!”
Lho, kenapa sungkan. Toh, apapun yang papa omongkan Tuhan pasti tau, kok. Dan setau mama Tuhan gak akan meledek kita dengan chat-chat kita dengan siapapun! Iya, kan?”
“Iya, juga sih!”
“Sudah sana, sapa Tuhan. Tapi, jangan tanya apa kabar lho, ya?”
“Kenapa Ma?”
“Gak pantes, Pa. Wong Tuhan yang ngasih sehat dan sakit dan Dia sendiri mahasehat gak pernah sakit. Masak tanya gimana kabar Tuhan?”
Betul juga isteriku. Tuhan gak akan pernah meledek apapun yang kita omongkan. Tuhan gak pernah resek. Kalau itu benar kontak WA Tuhan, enak juga. Aku bisa curhat kapan dan tentang apa saja. Tapi, apa Tuhan akan membalas Wa-ku?
“Kalau benar itu kontak WA Tuhan, Tuhan akan membalas apapun curhat kita, Pa. Tuhan selalu punya waktu untuk hamba-hambaNya di mana pun, kapan pun. Tak satu pun hambaNya tak terlayani. hambaNya tak akan pernah kecewa. Tuhan selalu membalas setiap obrolan kita. Selalu available. Selalu online, kok. Gak, pernah Tuhan membuat status ‘maaf jangan diganggu, lagi sibuk!’ Iya, kan?”
“Hmmm, Mama tau banget tentang Tuhan. Apa Mama juga punya kontak Tuhan?”
“Gak, Pa. Kan Tuhan memang bersifat seperti itu!”
“Baiklah, nanti aja Papa sapa Tuhan!”
Tak sabar ingin menyapa Tuhan. Sebaiknya menunggu malam. Semua orang terlelap. Jadi bisa fokus ngobrol sama Tuhan. Gimana ya rasanya ngobrol sama Tuhan. Seumur-umur belum pernah ngomong sama Tuhan. Selama ini ngomong sama Tuhan hanya searah. Rata-rata temanku juga bilang. Gak ada yang pernah berbincang-bincang dengan Tuhan. Mereka mengaku hanya berbincang searah. Jadi gak pernah tau jawaban Tuhan seperti apa atas semua permasalahan hidup. Seolah-olah curhat yang sia-sia.
“Papa tidurnya jangan malam-malam, ya?”
“Iya, Ma. Ini papa lagi nunggu waktu WA-an sama Tuhan.”
“Oke, sampaikan salam Mama, ya?”
“Gak mau, salam itu harus disampaikan langsung Ma kepada Tuhan. Kalau titip-titip sepertinya gak sopan.”
“Iya, iya! Mama tidur duluan ya, Pa.”
“Baik, Ma. Met rehat, ya?”
Isteriku menuju kamar. Aku masih di ruang tengah. Kira-kira sapaan pertamaku gimana ya? Masak kubilang assalamu alaikum? Toh pemilik keselamatan dan kesejahteraan hanya Dia. Bisa-bisa tersinggung dan marah besar kalau aku bilang begitu. Tuhan kok didoakan. Aneh. La, terus, apa ya kira-kira kalimat pertamaku? Mau langsung videocall juga gak enak. Sungkan sekali. Takut melanggar privasi ketuhanan.
Apa kuawali dengan kalimat ‘Wahai, Tuhan yang baik. Perkenal nama saya....’ gak enak juga. Nanti dikira aku mengakui ada Tuhan lain yang tidak baik. Atau dikira ada Tuhan yang baik, ada yang tidak baik, dan ada yang sangat baik. Bisa-bisa dihukumi syirik aku! Apalagi kuawali dengan ucapan selamat malam, Tuhan akan marah.
Kalau Tuhan dan malaikat saja memberikan salam penghormatan kepada Nabi, kukira tak ada salahnya kalau aku membalas dengan mengawali WA-ku dengan salam. Baiklah, ini sudah kupikir dengan matang. Aku akan mengawali WA-ku dengan salam.
”Assalamu alaika, Tuhan!” sent.
Sejak kukirim duapuluh empat menit yang lalu belum ada balasan. Jangan-jangan bukan WA Tuhan. Apa anak-anak yang mengganti salah satu kontak menjadi nama Tuhan? Atau ada teman iseng di kantor yang sengaja menambah kontak dengan nama Tuhan?
Mungkin Tuhan sedang sibuk, tapi apa mungkin Tuhan sibuk? Toh, semua tugas sudah dibagikan kepada para malaikat? Jangan-jangan aku terlalu banyak dosa sehingga Tuhan enggan menjawab WA-ku. Apa kalau banyak dosa Tuhan tak akan berbicara dengan pendosa? Aku kan juga hambaNya? Tidak mungkin Tuhan begitu.
Facebook saja sangat perhatian dengan usernya. Ia selalu menanyakan apa yang sedang dipikirkan penggunanya. Masak Tuhan kalah sama facebook? Sangat tak mungkin. Mungkin perlu tiga kali kuucapkan salam.
“Assalamu alaika, Tuhan!” sent.
Sudah bertanda biru. Berarti sudah terbaca oleh Tuhan. Mengapa masih belum membalas? Kalau sudah biru berarti ada harapan dibalas. Jangan tidak sabar, ya. Aku menghibur diri.
Sehari, dua hari, tiga hari belum juga ada balasan. Jangan-jangan memang bukan Tuhan. Atau kalau memang itu kontak WA Tuhan, jangan-jangan aku yang tidak paham bahasa Tuhan. Atau karena aku pendosa sehingga Tuhan tidak mau membalas WA-ku? Benar-benar membuat galau. Tak pernah aku segalau ini. Biasanya kalau ada teman WA yang tidak merespon langsung kublokir. Nah, ini Tuhan! Masak kublokir? Toh, aku berharap Tuhan mau berbincang denganku sekali saja.
“Apa benar ini Tuhan?” sent.
“Y.”
Alhamdulillah, akhirnya terjawab juga WA-ku. Senanngnya tak terbayangkan walaupun hanya balasan satu huruf. Biasanya kalau sedang chat di WA ada jawaban satu huruf gitu langsung juga kublokir. La, ini Tuhan, walaupun membalas satu karakter saja aku sudah senang.
Berarti aku keliru menyapa Tuhan dengan salam. Tuhan pemilik salam. Tentu tak perlu salam dari ciptanNya. Kalau tidak salam, aku bingung memulai sapaan dengan Tuhan. Kalau video call dengan Tuhan sopan, tidak ya? Pasti melanggar privasi ketuhanan. Jangan sampai terjadi walaupun hatiku sangat penasaran.
“Kalau engkau mau tahu tentangku, cari nama Tihami. Ia tahu tentangku. Ia tahu sifatku. Iya tahu bahasaku. Mintalah petunjuk jalan kepadanya! Jangan hubungi aku lagi sebelum engkau memperoleh izin darinya!”
Ia engkau memang mahatahu apa yang kumau. Engkau memang Tuhan yang mahatahu. Balasan pertama singkat hanya satu huruf. Balasan kedua panjang dan terakhir. Itu kurasa sangat cukup buatku sebagai bekal pencarianku. Baiklah aku akan mencari Tihami sebagai wasilah mengenalMu, Tuhan.

Tihami. Siapakah orang hebat ini sehingga Tuhan merujuk kepadanya? Mengapa tidak langsung saja dengan sumber utamanya yakni Tuhan saja? Toh, harusnya kan cukup dengan Tuhan saja? Tihami, tiba-tiba nama itu terasa sangat akrab dengan diriku. Nama itu tiba-tiba menjadi pikiran utamaku. Di mana aku akan memperoleh informasi tentangnya? Para pembaca, ada yang tahu tentang nama ini? Kalau ada yang tahu, tolong WA aku ya di nomor 081-xxx-xxx-xxx (nomor disamarkan).