Kita Nyatakan Invasi

Kita Nyatakan Invasi

“Sudah waktunya kita mengubah fokus perhatian bangsa!”
“Maaf, Pak Presiden?” kepala tentara terperangah.
“Begini, selama ini, sejak kita merdeka, tak satu pun masalah bangsa ini yang bisa diurai. Hingga saat ini kusut carut-marut. Mulai dari kalangan kementerian dan stafnya, direktorat dan stafnya, pemerintah-pemerintah daerah rata-rata hanya menggerogoti negara. Kasus korupsi di mana-mana. Dari level teratas hingga terbawah. Pendidikan sebagai ujung tombak peradaban bangsa tak kunjung menemukan formula. Semua dirancang untuk kepentingan kantong-kantong pribadi. Semua arahnya cenderung kapitalis dan liberal. Semua didasari atas kepentingan bisnis. Apa tidak sebaiknya mengubah suasana?”
“Iya, Bapak Presiden. Kira-kira apa rencana Bapak Presiden?”
Sang Presiden memanggil menteri mendekat.
“Duduk sini, lebih dekat!”
“Baik Bapak Presiden.”
“Bagaimana seandainya kita ubah fokus persoalan negara ini?”
“Bagaimana Bapak Presiden?”
“Bagaimana kalau kita rencanakan menjajah negara-negara tetangga?”
“Bapak…?”
“Begini, selama ini kita kan sering jadi korban sebagai obyek yang dijajah. Sesekali tak mengapa kan kalau kita juga menjajah negara lain?”
“Maaf, Bapak Presiden. Ini hal yang sangat sensitif!”
“Iya, saya tahu. Tapi, benar kan selama ini kita tak pernah menjajah? Kalau dijajah sering!”
“Memang demikian Bapak Presiden! Tapi, gagasan ini tidak populer dan harganya sangat mahal.”
“Begini saja. Anggap ini cuma berandai-andai. Seandainya kita atas nama bangsa kita ini merencakan menyerang negara lain apa yang perlu kamu siapkan, Jenderal?”
“Maaf, Bapak Presiden. Saya tidak berani!”
“Berandai-andai saja tidak berani?”
“Maaf Bapak Presiden, saya…,”
“Bagaimana kamu bisa jadi jenderal dengan sikap tidak patuh seperi ini? Bahkan tak berani berandai-andai. Jenderal cap apa kamu ini?”
“Sekali lagi maaf, Bapak Presiden!”
“Ini perintah!!!”
“Siap!”
“Kutunggu perencanaanmu di meja 12 jam dari sekarang! Keluar!!!”
“Siap laksanakan!”
“Dismiss!!”
Apa karena aku presiden yang bukan dari militer, seenaknya mereka tidak mengindahkan perintahku? Benar-benar keterlaluan, gumamnya.  
Negara dalam kepemimpinannya memang carut-marut dari semua lapisan. Hutang negara sudah tak mampu dikalkulasi. Perseteruan di semua kalangan. Korupsi merajalela tanpa satu pun mampu ditangani oleh jerat hukum. Pendidikan tak menemukan arah. Kurikulum menjadi tujuan politik, tujuan perdagangan, dan tujuan pengharcuran sendi-sendi berbangsa dan bernegara.
Sebenarnya bukan karena dia yang memimpin, tapi apa yang diwariskan beberapa pemimpin bobrok sebelumnya, kekacauannya memuncak saat kepemimpinannya. Beberapa aset penting negara terjual. Sumber-sumber mineral masih dikangkangi negara asing. Tak bisa diusir. Andai bisa diibaratkan tatanan negara seperti sampai busuk dari macam-macam bangkai.
Inisiatif invasi menjadi pilihan. Paling tidak mengubah pusat perhatian bangsa dan negara. Sedikitnya bisa mengubah perpecahan bangsa yang selama ini terus meruncing menjadi bersatu ketika kondisi negara sedang genting. Reformasi tidak berjalan sesuai harapan. Revolusi mungkin akan memakan banyak korban. Pilihan yang tepat hanyalah menjajah negara tetangga.
Negara sasaran paling dekat adalah Singarupa. Negara kecil yang kaya. Aset-aset negara tersebut bisa diambil alih untuk kesejahteraan rakyat. Begitu juga negara Jippang, negara kepulauan yang juga kaya dengan sumber daya manusia robotik, yang tak kenal lelah. Mereka dapat diambil alih menjadi romusha modern. Kemudian merambah ke Thai-thai, Philphil, Kor Yan, Petnam, dan sebagainya. Pampasan perang yang lumayan untuk membuat pesta kebangsaan. Benar-benar ide jitu.
“Ajudan!”
“Siap!”
“Panggil kepala tentara!”
“Laksanakan!:
Tidak berapa lama, kepala tentara pun menghadap.
“Sampaikan rencanamu!”
“Baik Bapak Presiden. Rencana strategis saya bagi dalam 3 jenis. Pertama, menghitung untung-rugi. Kedua, perang terbuka atau tertutup. Ketiga, menghitung kalah dan menang.”
“Sampaikan detilnya!”
“Baik Bapak Presiden!”
Kepala tentara itu menyalakan mesin kotak kecil. Setelah nyala dari mesin tersebut keluarlah cahaya yang cahaya tersebut akhirnya membentuk peta rencana. Seperi hologram dalam film-film amrik. Tampak ada peta wilayah negara dan negara-negara tetangga. Tampak pula peta pikiran perencanaan perang.

Dengan seksama sang presiden memperhatikan baik-baik penjelasan kepala tentara. Gemetar tangan kepala tentara tak bisa disembunyikan. Menurutnya beban yang dititahkan kepadanya bukan hal main-main. Bukan seperti main catur atau monopoli. Ini menyangkut kehidupan orang banyak, menyangkut rakyat sebuah negara besar.
AYAH BOLEH NIKAH LAGI, KOK

AYAH BOLEH NIKAH LAGI, KOK

“Kalau ayah mau nikah lagi gapapa!”
“Ah, mama ngomong apa sih?”
“Serius ayah, mama ijinin kok!”
“Ah, yang bener!”
“Beneran! Asal ayah mau penuhi syaratnya, mama yang akan melamar!”
“Hmmm!”
“Sumpah, mama ijinin!”
“Serius?”
“Lho, jangan-jangan ayah yang tidak serius! Cuma pengen buat mama cemburuan dan sakit hati! Jangan-jangan ayah cuma mau permainkan perasaan perempuan!”
“Lho, nggak ma. Ayah serius kok, tapi beneran mama ijinin?”
“Iya, asal ayah penuhi syaratnya!”
Sehari dua hari terlewati. Badrul masih kepikiran dengan ijin isterinya yang membolehkannya nikah lagi. Sebenarnya dia ingin langsung menanggapinya serius dan menindaklanjuti keinginannya, nikah dengan Puteri. Tapi, biar tidak terkesan terlalu bersemangat ingin nikah lagi, ia pura-pura tidak begitu minat.
“Bener, ayah gak mau nikah lagi? Kesempatannya cuma sekali lho!”
“Mama, ngomong apa, sih. Ini masih pagi!”
“Bener, gak mau?”
Badrul tersipu-sipu. Isterinya membaca sangat jelas kemauan Badrul dari raut mukanya walaupun Badrul berusaha keras menutupinya.
“Ayah sudah berkali-kali ketahuan selingkuh. Berkali-kali mama mendapati foto atau sms, log call ayah, dan chating ayah! Daripada sembunyi-sembunyi, makanya mama berniat baik ngijinin ayah nikah lagi. Ayo, mumpung mama belum berubah pikiran.”
“Mama serius?”
“Mama kan dah bilang serius dari kemaren-kemaren!”
“Terus syaratnya apa, ma? Berat nggak?”
“Ringan kok, yah!
“Apa ya kira-kira?”
“Jangan ngira-ngira, tanya aja langsung ke mama!”
“Iya, syaratnya apa, ma?”
“Mudah kok, mama cuma minta ke ayah tiga syarat. Satu, isteri baru ayah harus serumah dengan kita.”
“Bisa! Boleh! Terus, yang kedua?”
“Kedua, mama minta ayah buatin kita kamar dua. Yang satu buat ayah dan mama dan satunya lagi untuk kamar ayah dan isteri baru ayah! Bisa?”
“Mudah, kok. Wah jangan-jangan yang ketiganya sulit!”
“Nggak, kok.”
“Ketiganya apa?”
“Yang ketiga, ayah harus buatin mama kamar mandi dua! Gimana?”
“Oke, deal!”
“Bener, ayah mampu dengan tiga syarat itu?”
“Iya, ma. Mampu kok!”
“Nanti kita akan tanda tangani surat perjanjian pemanfaatan ketiga syarat tersebut. Bersedia?”
“Iya, ma, bersedia!”
Makin semangatlah hidup Badrul dengan semua mimpi-mimpinya hidup dengan Puteri. Serumah dengan isterinya. Tibalah saatnya Badrul menikahi Puteri dengan acara sederhana. Dan, tibalah pula waktunya ia harus menandatangani surat perjanjian. Sreeet, selesai. Saking senangnya Badrul tidak membaca secara detail. Ia tidak membaca khususnya poin ketujuh dari surat perjanjian itu.
Pada poin ketujuh perjanjian itu tertulis begini. Dalam hal pemanfaatan dua kamar mandi dan dua kamar tidur adalah sebagai berikut.
Satu, pemanfaatan kamar mandi harus adil. Ketika suami buang air kecil dan besar harus dibuang di kedua kamar mandi tersebut. Artinya, dibadi secara adil. Ketika perjanjian tersebut dilanggar, maka isteri pertama berhak menuntut ganti rugi atau perceraian.
Dua, pemanfaatan dua kamar tidur juga harus ditempati secara adil. Harus tepat dibagi dua baik waktunya atau kegiatan berkumpulnya. Suami harus membagi secara adil terutama mengenai kewajiban batin yang disalurkannya. Jika perjanjian ini dilanggar, maka isteri pertama berhak menuntut ganti rugi atau perceraian.
Itulah awal petaka Badrul. Hari pertama, ia terpaksa harus membagi waktu untuk berada di dua kamar tidur. Isterinya memahami ketika Badrul tidak melakukan apa-apa di kamarnya. Ia paham Badrul kecapean. Maklum pengantin baru. Pasti semua tenaganya sudah dihabisnya malam pertama. Jadi, ia memilih tidur saja tak meminta apa-apa.
Yang paling merepotkan bagi Badrul sebenarnya dua kamar mandi. Sejak hari pertama, ia sudah harus membagi air kencing dan beolnya di kedua kamar mandi secara adil. Oh, sungguh keadaan yang tidak mengenakkan baginya.
Belum setahun, Badrul sudah menderita sakit ginjal. Ia terkapar di rumah sakit dtemani dua isterinya. Isteri pertamanya sangat kasihan melihat kondisi Badrul tergeletak lemah seperti itu. Ia hanya mampu menangis tak kuasa berkata apa-apa. Puteri memeluknya agar sedikit meringankan rasa sedihnya.
“Apa yang kita lakukan. Mbak ke depannya?”
“Kalau ayah sembuh, maka perjanjian yang kubuat dengannya batal, Dik! Aku menyesal telah menghukumnya seperti itu!”
“Maafkan, mama ya ayah. Mama dah mendhalimi ayah!”
“Gakpapa ma, ayah memang pantas mendapatkan sakit ini!”
Kembali isteri pertamanya menangis tersedu-sedu, sesunggukan. Badrul meraih tangannya dan menggenggamnya dengan lembut. Tak terduga, ternyata itu adalah genggaman tangan Badrul yang terakhir.


Kebenaran Saling Bertubrukan

Kebenaran Saling Bertubrukan

Ada kelompok atau perorangan yang meyakini suatu kebenaran. masing-masing kebenaran yang mereka pegang ditafsir mutlah kebenarannya. Mereka memperjuangkan kebenaran versi mereka. Mereka merasa benar dengan tafsiran mereka tentang kebenaran. dampak kebenaran yang mereka milik, ketika bersentuhan dengan kebenaran pihak lain menjadi sebuah benturan yang hebat. Mereka bertengkar saling mempertahankan kebenaran itu. Mereka menyalahkan pihak yang dianggap salah meyakini kebenaran. Inilah yang terjadi di negeri ini.
Kebenaran seharusnya ke dalam diri dan disimpan rapi. Kebenaran bersifat sangat privasi, hanya milik diri. Ketika kebenaran itu tampil ke luar dari dirinya, maka ia akan bernama kebaikan. Ketika faktanya kebenaran hanya berlari di tempat dan muncul ke luar diri kemanusiaan menjadi perasaan menilai kebenaran pihak lain menjadi salah, mencederai dan melukai hati pihak lain, berdampak saling bermusuhan, maka ada yang salah dengan cara tafsir dan cara menampilkan kebenaran. Output kebenaran adalah hanya kebaikan. Kebenaran yang berbeda harusnya berujung pada kebaikan. Ketika kebaikan itu berhadapan dan bersentuhan dengan kebaikan, harusnya muncul pengembangan kebaikan yang menjadi rahmat bagi semua manusia.
Tatanan yang dibela mati dengan harga mati, yakni Pancasila, bukanlah sebagai urutan yang bisa dianggap wacana, mudah dihafal, dan indah dipajang. Pancasila merupakan tangga kebenaran yang outputnya harus kebaikan. Ketika berkali-kali gagal mengejawantahkan dan menumbuhkembangkan kebaikan berarti ada yang salah tentang cara menafsir dan cara menanamkannya.
Sila pertama telah final sejak ditetapkannya Negara Kesatuan Republik Indonesia bahwa semua agama berbuah aplikasi berupa kebaikan sedangkan kebenaran dalam agama yang dianut merupakan harta rahasia antara pribadi dengan Tuhannya. Kebaikan yang muncul dari kebenaran sila pertama akan menjadi sikap saling menghormati kebenaran tentang keyakinan berketuhanan. Ketika perilaku saling menghormati kemanusiaan atas dampak pemahaman atas sila pertama, maka sampailah pada tangga sila berikutnya.
Sila kedua sebagai tangga kedua akan berdampak ketika sila pertama telah tuntas menjadi sikap kebaikan bagi semua. Kemuliaan manusia akan dijunjung tinggi sebagai buah dari pemahaman yang benar tentang kebenaran pada sila pertama. Selama sila pertama belum tuntas dipahami, maka rasa kemanusiaan itu tak akan terwujud. Kasih sayang alami yang menjadi cita-cita indahnya memanusiakan manusia gagal tercipta. Bhinneka Tunggal Ika pun tercabik-cabik.
Sila ketika juga merupakan buah dari sila pertama dan kedua. Rasa kekeluargaaan dan persatuan hanya akan muncul ketika pemahaman kebenaran sila pertama dan kedua itu telah benar. Pemahaman hati yang benar akan menjadi kebaikan kepada sesama manusia tanpa memandang perbedaan bulu. Puncak dari sila ketiga adalah persatuan, rasa kebangsaan, rasa patriotisme, rasa kekeluargaan, senasib, saling berempati, bersimpati, tak ada yang saling melukai hingga terwujudlah kondisi indahnya kebersamaan.
Ketika ketiga sila Pancasila itu benar terpahami dan tuntas teramalkan, maka rakyat akan sampai pada kepatuhan kepada pemimpin dan kerelaan menjadi yang dipimpin. Keseimbangan rasa antara rakyat dan pemerintah, antara hak kewajiban sebagai pemerintah dan warga negara. Pemerintahan mudah dijalankan, ketatanegaraan mudah diposisikan, dan rakyat saling mendukung cita-cita nasional. Inilah buah dari sila keempat Pancasila. Puncak kerelaan terpimpin pada sila keempat Pancasila inilah yang akan menjadi bagian pamungkas dari tujuan nasional, tujuan negara, yakni terciptanya kondisi adil dan makmur bagi seluruh rakyat Indonesia.
Sejenak refleksi, pada sila keberapakah posisi bangsa saat ini? Masih tangga pertamakah? Sejak diresmikan tertanggal 1 Juni 1945, masihkah bangsa ini bertahan pada tangga pertama? Di bagian mana letak kesalahan penafsirannya? Pada bagian mana terjadi kesalahan teknik sosialisasinya? Kalau saat ini ada yang mempertanyakan eksistensinya, bukankah telah final Indonesia sebagai suatu negara? Kalau belum final, akankah kita mundur sejauh 72 tahun dan meraba-raba kembali tentang nama sebuah negara atau membubarkan tatanan negara dengan mengabaikan perjuangan tanpa pamrih para pejuang bangsa?
Kalau dianggap belum final tatanan negeri ini, bersediakah kembali keratusan tahun lampau menikmati masa terjajah? Mengapa masih berkutat pada tangga dan enggan melanjutkan melangkah? Apa yang memberatkan hati? Ambisikah? Gambaran suatu negara yang seperti apa yang akan ditawarkan hingga rela menghapus catatan dan darah perjuangan para pahlawan? Bukan bangsa yang besar itu adalah bangsa yang selalu mengenang dan menghormati jasa para pahlawan? Ataukah ada skenario baru dari oknum-oknum untuk mengganti para pahlawan pendiri bangsa dengan pahlawan baru seperti mengganti tokoh Superman menjadi Powerangers? Jangan-jangan telah banyak penumpang gelap di negeri ini hingga berani berjemaah menggugat Pancasila. Jangan-jangan telah banyak penumpang yang menunggang negeri ini hingga rela menukarnya dengan kenikmatan sesaat sesuai dengan ambisinya. Sejarah berbicara, menulis, dan bersaksi bahwa tahapan dari tangga pertama ke tangga kelima Pancasila ketika masih ditawar dan bukan lagi harga mati dibutuhkan masa yang tak jelas, bisa ratusan tahun untuk mencapai cita-cita nasional. Cita-cita bangsa seperti yang tertuang dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945.
Ketika pada bagian akhir tulisan ini berupa banyak pertanyaan, maka itu berarti sudah cukup waktu untuk saling menunjukkan kebenaran pribadi. Sudah cukup waktu untuk saling mempertentangkan kebenaran dengan kebenaran karena kebenaran hakiki tak akan pernah saling bertentangan. Kebenaran hakiki akan saling melengkapi menjadi kesatuan yang utuh. Sudah waktunya menunjukkan kebaikan sebagai buah dari kebenaran yang diyakini oleh masing-masing pribadi. Waktunya membangun bangsa menuju masyarakat adil dan makmur. Lahir batin. 
PANGGIL SAYA 'PAK GURU'

PANGGIL SAYA 'PAK GURU'

Sebagai salah satu sekolah dasar rujukan nasional, berproses dengan berbagai bentuk pembiasaan berperilaku baik menjadi pilot project yang harus dipikul bersama oleh sekolah. Pembiasaan berperilaku baik selanjutnya disebut dengan program Penguatan Pendidikan Karakter atau disingkat PPK. PPK menjadi salah satu bagian dari prioritas pembangunan yang menjadi misi pemerintah dengan revolusi mentalnya. Untuk bahasan bentuk-bentuk pembiasaan berperilaku baik tersebut, secara khusus akan ditampilkan potret salah satu guru dari satu kelas secara zoom in yakni SDN Pangarangan 3, Kabupaten Sumenep. Sebut saja nama guru tersebut Pak Badrul karena ia tidak mau disebut nama aslinya. Ia adalah guru kelas 4-A. Guru ini nantinya hanya mau dipanggil Pak Guru, bukan Pak Badrul. Alasannya akan disampaikan pada bagian akhir tulisan ini.
Langsung saja ke tempat kejadian peristiwa. Di depan pintu gerbang SDN Pangarangan 3 sudah berdatangan wali murid mengantar putera-puterinya. Para guru telah menanti kedatangan mereka sejak pukul enam pagi. Mereka menyambut kedatangan para murid dengan pembiasaan melakukan ’salim’ (memposisikan kedua tangan dalam keadaan menyembah sebagai tanda penghormatan, kemudian meraih dan mencium tangan para guru).
Setiba di kelas, murid-murid melanjutkan aktivitasnya dengan melaksanakan jadwal piket harian membersihkan dan menata perabotan kelas. Mereka yang tidak sedang piket memburu buku bacaan umum di etalase buku kelas, mencatat identitas buku, kemudian mencatan hal-hal yang menurut mereka penting. Ini disebut sebagai kegiatan literasi. Kegiatan ini dilaksanakan sekitar tiga puluh menit sebelum pelajaran dimulai. Aktivitas tersebut tentu didampingi guru kelas.
Ketika bel penanda masuk kelas berbunyi, murid-murid keluar kelas kemudian berbaris rapi dipimpin oleh ketua kelas. Sang guru sudah berdiri di pintu masuk menyambut para murid masuk kelas sambil kembali ‘salim’ sebagai tiket masuk mereka. Pemandangan yang sama dijumpai pula ketika mereka pulang.
Dimulailah proses pembelajaran diawali dengan mengucapkan salam, berdoa, menghormat bendera, dan menyanyikan lagu Indonesia Raya (saat ini ditulis, mereka sudah mampu menyanyikan lagu Indonesia Raya tiga stanza diiringi musik). Guru kelas menyapa mereka dengan greeting berbahasa Inggris seperti good morning, how are you today? Mereka pun menjawab dengan membalas sapaan good morning, dan I am fine. Tak lupa pula meneriakkan yel-yel kelas sebagai penyemangat pagi. Ketika guru kelas meneriakkan kata “4-A” mereka menyambutnya dengan yel “Yes, the best, uing uing uing, huh hah, hihihihi (tertawa kecil).”
Kelas tersebut memiliki beragam aksesoris kelas yang semuanya diduga dapat bersinergi untuk tujuan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK). Di dalamnya meriah dengan atribut dan perlengkapan yang mendukung program PPK sepeti bendera merah putih, gambar presiden dan wakil presiden, papan pajang karya siswa per kelompok, papan pengumuman, papa reward, papan struktur, perpustakaan mini kelas yang bertema hutan baca (lebih besar dari sudut baca), sudut agama, sudut pasar, dan sudut prakarya.
Bagian muka kelas selain terdapat perabotan kelas, di bagian atas dinding berbaris foto para murid ukuran  A4 berwarna hasil cetak banner. Pada foto-foto tersebut terdapat identitas siswa seperti nama, tanggal lahir, dan cita-cita. Setiap hari mereka selalu melihat foto mereka dan mengingat cita-cita. Dengan harapan semakin diingat semakin kuat cita-cita tersebut terwujud kelak. Cita-cita dan mengafirmasinya setiap hari adalah bentuk lain dari doa. Hal itu selaras dengan spanduk panjang yang menempel di tembok bagian belakang yang berisi kalimat ‘Imagination is more important than knowledge.’
Tidak lupa pula terpajang pada tembok foto guru kelas 4-A sebagai bentuk partisipasi guru membuat suasana kelas bernuansa kekeluargaan. Mirip seperti ruang keluarga. Ketika guru sedang tidak berada di kelas karena tugas lain, paling tidak foto guru mereka menjadi hipnosis bagi mereka bahwa mereka tetap dalam perhatian guru kelas mereka atau sebagai pengobat rindu mereka ketika sang guru lama mengikuti pendidikan dan pelatihan di luar kota.
Saat proses pembelajaran berlangsung, guru hampir tidak pernah duduk di kursi. Guru berkeliling ke tiap-tiap kelompok kadang duduk bersama mereka dalam kelompok secara bergilir. Pada waktu tertentu pengelompokan diatur ulang kembali sehingga tidak terjadi dominasi menoleh ke arah tertentu saja dan selalu mendapat teman kelompok yang berbeda setiap bulannya.
Saat proses pembelajaran juga guru tidak pelit untuk memberikan satu atau dua tanda bintang untuk satu atau beberapa murid sebagai penghargaan karena pertanyaan kritis murid, tepat menjawab pertanyaan guru, atau dengan senang hati membantu teman sekelas tentang materi tertentu. Bintang yang mereka peroleh berlabel sesuai dengan kemampuan mereka pada materi-materi tersebut. Bintang tersebut mereka tempel sendiri di papan reward kadang dibantu temannya untuk sekedar merekatkannya.
Sang guru juga membentuk para asisten di bidang-bidang tertentu seperti murid ahli dalam muatan pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), Matematika, Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), dan sebagainya. Ketua kelas dan murid yang memperoleh bintang terbanyak akan mendapatkan sematan pin garuda Pancasila di dada sebelah kiri diiringi tepuk tangan hangat teman sekelas. Menghargai pencapaian mereka walau sedikit memberikan kepercayaan diri yang besar kepada mereka untuk lebih pesat berkembang.
Ketika para murid tampak kelelahan atau jenuh, sang guru kelas mengajak mereka menonton film anak-anak seperti ‘Di Timur Matahari,’ ‘5 Elang,’ atau bermain alat musik recorder dan memainkannya dengan iringan musik yang sudah disiapkan. Sang guru sering mengajak murid untuk memainkan recorder dengan lagu sederhana yang hanya terdiri dari dua atau tiga not seperti Flying Kite, Hot Cross Burns, Stairs Race, Mary Had A Little Lamb, Andante, dan Buzz Buzz Buzz. Ada pula lagu dengan not yang lebih kompleks seperti lagu Hymne Guru dan Trimakasihku. Sang guru yakin musik membantu memberikan keseimbangan otak kiri dan kanan serta memberikan endorphin alami bagi murid. Mereka merasa senang. Ketika senyum dan tawa mereka telah kembali, guru mengajak mereka kembali pada tematik pembelajaran.
Uniknya, ketika proses pembelajaran berlangsung kemudian ada tamu mengetuk pintu kelas dan mengucapkan salam, mereka serentak menjawab salam tersebut dan dilanjutkan dengan menyapa balik dengan good morning/good day mr./mrs. Kalau mereka tidak mengenal tamu tersebut mereka akan memanggilnya dengan good morning/good day visitor.  Kebiasaan tersebut tentu telah dibiasakan oleh sang guru. Tanpa pembiasaan, mustahil dapat tertanam dengan baik.
Sebelum mereka asyik mengerjakan tugas menghitung, guru selalu menanyakan lagu kesukaan mereka. Setelah sepakat dengan satu atau dua lagu yang sekiranya cukup waktunya, diputarlah lagu mereka sekaligus sebagai penanda saat lagu kesukaan mereka habis berakhir pula waktu yang disediakan untuk pekerjaan mereka. Lumayan, mendengarkan musik sambil mengerjakan tugas.
Setiap hari, walaupun bel penanda istirahat berbunyi, mereka enggan keluar kelas. Mereka lebih asyik di dalam kelas. Ada banyak alat-alat permainan di kelas seperti catur, alat-alat musik, wayang kardus, atau alat permainan yang mereka bawa sendiri dari rumah. Mereka keluar sebentar hanya untuk membeli minum atau kue kemudian kembali ke kelas. Ramailah kelas setiap hari.
Selama kegiatan proses pembelajaran, sang guru juga selalu merekam momen-momen penting dan unik. Selain merekamnya dalam bentuk catatan pada buku anekdot/catatan murid juga diabadikan dengan kamera baik dalam bentuk foto atau video. Beberapa momen istimewa dibagikan di media sosial dan grup paguyuban. Ketika salah satu dari mereka tertidur di kelas, guru melarang membangunkannya, tapi tetap merekamnya dengan baik sebagai bahan diskusi pribadi dengan wali murid.
Begitulah sekilas penampakan kelas dan kegiatan pra dan pasca pembelajaran harian. Bentuk-bentuk kegiatan yang intra dan ekstra sekolah juga saling mendukung penguatan pendidikan karakter seperti kegiatan Sanggar Karembangan dengan kegiatan teater, tari tradisional, dan gamelannya. Gugus Depan 0115/0116 dengan kegiatan ekstrakurikuler wajib pendidikan kepramukaannya juga berkiprah. Visioner (nama majalah sekolah per tengah tahunan) dengan kegiatan redaktur cilik dan majalah sekolah juga mendukung dan saling menguatkan penerapan program PPK.
Sebagai akhir dari keseluruhan proses pembelajaran setiap hari, selalu ditutup dengan berdoa, memberi salam, kemudian menyanyikan lagu wajib Syukur. Sang guru menetapkan pilihan yang tepat atas lagu tersebut sebagai bentuk dan cara yang lain dari wujud rasa bersyukur atas ilmu yang diperoleh para murid hari itu. Setelah lagu Syukur, mereka kembali duduk menunggu ditunjuk secara berkelompok untuk pulang lebih dulu. Dasar penunjukannya cukup sederhana. Kelompok yang paling rapi, atau paling bersih di bawah bangku-bangku mereka, atau sikap paling manis senyumnya.
Pilihan doa penutup yang dibaca para murid adalah doa akhir majelis. Doa tersebut sangat tepat mewakili rasa syukur dan tekad untuk senantiasa memperbarui keimanan. Doa Pembuka Kepahaman Ilmu dilanjutkan dengan Doa Nabi Musa yang memohon kelapangan dada dan kemudahan dalam segala urusan juga pilihan yang sangat tepat dan saling mendukung dari awal hingga akhir proses pembelajaran.
Dari sekian bentuk dan cara tersebut, sang guru selalu merasa ada saja yang kurang sehingga perlu menemukan ide baru. Bulan kedua tahun pelajaran 2017/2018 semua murid kelas 4-A wajib memanggil guru kelas dengan sebutan Pak Guru. Sebelumnya mereka memanggil dengan Pak diikuti nama guru yang bersangkutan yakni Pak Badrul. Cukup lama merenungkannya, akhirnya harus diterapkan. Dengan pertimbangan bahwa panggilan pak dilanjutkan dengan nama terasa kurang sopan dan santun.
Guru adalah bentuk profesi sama halnya dengan dokter. Pasien rata-rata memanggil dokter dengan Dok atau Pak/Bu Dokter, bukan Pak kemudian diikuti namanya. Menurut guru kelas 4-A terasa nikmat sekali ketika mendengar murid-murid memanggilnya dengan Pak Guru, tanpa namanya. Setidaknya dengan panggilan profesi tersebut dapat menanamkan sifat sopan dan santun kepada guru. Panggilan tersebut juga dapat menjadi penyetara dari keragaman di sekolah. Hanya dengan panggilan Pak/Bu Guru, semua keberagaman menjadi setara dalam profesi. Pembiasaan sebutan atau panggilan tersebut setidaknya sebagai bentuk penghargaan terbaik dari para murid untuk guru mereka.
Kesimpulan sang guru, dengan panggilan Pak/Bu Guru secara tidak langsung diperoleh dampak sebagai berikut. 1) kesadaran bawah sadar bahwa para guru adalah pribadi yang terhomat yang patut digugu dan ditiru; 2) kesadaran bawah sadar bahwa para murid pada posisi haus ilmu, butuh asupan ilmu sehingga gurulah orang yang paling berjasa setelah kedua orangtua; 3) kedudukan terhormat guru di hati para murid yang pantas adalah mendapatkan sikap dan perilaku sopan dan santun; 4) guru adalah utusan Tuhan dalam bidang ilmu pengetahuan dan perilaku yang baik yang wajib disyukuri keberadaannya; dan, 5) guru adalah orangtua kedua yang menemani belajar mereka dengan tulus dan penuh curahan kasih sayang seperti orangtua mereka.

Bagaimana Pak Presiden dan Pak Menteri Pendidikan Nasional apakah ide sebutan ‘Pak Guru termasuk pembiasaan perilaku yang baik? Semua murid di kepulauan Madura serta orangtua mereka memanggil guru dengan Pak/Bu Guru, lho! Kalau memang baik dan membawa dampak kebaikan, apa tidak sebaiknya dibuatkan peraturan presiden atau peraturan menteri? Tinggal menunggu jawaban terbuka Pak Presiden dan Pak Menteri Pendidikan.
EMPAT PILAR KEBANGSAAN LAGI?

EMPAT PILAR KEBANGSAAN LAGI?

Flashback sedikit mengenai hasil putusan MPR RI tentang Empat Pilar Kebangsaan tahun 2014. Dalam putusan tersebut meletakkan Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai pilar berbangsa dan bernegara. Proyek tersebut menghabiskan anggaran negara sebesar 318 milyar rupiah yang dirupakan dalam berbagai bentuk kegiatan dan produk. Kegiatan dan produk yang dimaksud dengan rincian sebagai berikut. Biaya musyawarah Rp 53.966.242.000, pagelaran seni budaya Rp 9.200.245.000, pembuatan komik sosialisasi Rp 888.640.000, pembuatan film animasi 3D sosialisasi Rp 527.120.000, sosialisasi oleh anggota MPR RI di daerah pemilihan Rp 228.114.800.000, training of trainer Rp 19.594.492.000, lomba Rp2.176.350.000, dan biaya untuk focus group on discussion (FGD) Rp 4.280.077.000.
Dengan tanpa mengurangi rasa hormat terhadap kinerja MPR RI serta dengan tetap berbaik sangka terhadap perencanaan, proses, dan hasil keputusan tersebut secara logis akal sederhana masyarakat umum belum bisa menerima penempatan empat komponen tersebut sebagai pilar terutama Pancasila. Secara historis Pancasila telah disepakati sebagai dasar negara, moral bangsa, pandangan hidup bangsa, sumber dari segala sumber hukum di Indonesia dan sebagainya. Produk kerja MPR RI yang menempatkan Pancasila sebagai pilar mengakibatkan terjadinya pro dan kontra.
Pro dan kontra yang meluas tersebut kemudian melahirkan keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) Nomor 100/PUU-XI/2013 yang menolak penggunaan ‘pilar’ kebangsaan. Keputusan tersebut menolak dengan tegas penempatan Pancasila sebagai salah satu pilar kebangsaan karena Pancasila merupakan dasar/pondas negara. Keputusan tersebut mendapatkan respon sepi dari MPR RI, tapi kemudian pada tahun 2016, kata ‘pilar’ tersebut digunakan kembali pada kegiatan-kegiatan sosialisasi, termasuk dalam materi Ketua MPR RI di Sumenep, 18 September 2017.
Secara sederhana jika sebuah negara diibaratkan sebagai rumah, maka butuh pondasi dan pilar penyangga agar bangunan rumah tersebut dapat kokoh berdiri. Selain itu juga membutuhkan atap sebagai pelindung. Jika empat komponen yang dimaksud di atas sebagai pilar, lantas apa yang menjadi pondasi sebuah bangsa? Nasionalisme, sekularisme, liberalisme, sosialisme, atau yang lebih seram daripada itu?
Sekilas keegoan politik yang dijalankan MPR RI terkesan sinergis dengan kebijakan pemerintah Joko Widodo dan Jusuf Kalla. Pemerintahan Joko Widodo dan Jusuf Kalla membentuk Unit Kerja Presiden Pemantapan Ideologi Pancasila  (UKP PIP). Pembentukan UKP PIP tersebut merupakan langkah strategis yang sebenarnya menyelaraskan pro dan kontra mengenai istilah Empat Pilar Kebangsaan. Langkah tersebut dilandasi dengan Nawacita yang salah satu misinya membangun revolusi mental yakni dengan merevitalisasi implementasi Pancasila sebagai dasar negara dalam kehidupan berbangsa dan bernegara sesuai dengan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Kebijakan tersebut kemudian diikat dengan dasar hukum Peraturan Presiden 54 tahun 2017 tentang Unit Kerja Presiden Pemantapan Ideologi Pancasila (UKP PIP).
Pada perkembangan berikutnya UKP PIP ditindaklanjuti dengan penetapan Yudi Latief sebagai ketua Tim UKP PIP beserta perangkatnya yang dianggap setingkat kementerian. Salah satu tugas UKP PIP adalah melakukan legal review terhadap undang-undang, peraturan presiden, peraturan menteri, sampai peraturan di bawahnya. Juga menetapkan langkah teknis implementasi nilai-nilai Pancasila sebagai moral bangsa, pandangan hidup bangsa, sumber dari segala sumber hukum, dan dasar negara.
Dengan langkah strategis legal reviewdi secara kritis akan mengkaji ulang seluruh perundang-undangan di Indonesia dengan harapan hasil kerja tim tersebut bermuara pada keputusan akhir bahwa Pancasila bukan ‘pilar’ melainkan dasar/pondasi negara yang harus disepakati secara final. Pro dan kontra apapun sebagai dampak dari sosialisasi tentang ‘pilar kebangsaan’ tidak diharapkan berlanjut di masa yang akan datang. Selain menghabiskan anggaran negara yang sangat besar juga menimbulkan konflik penafsiran akibat satu kata ‘pilar.’
Sebagai prasaran pelaksanaan Pemantapan Ideologi Pancasila, sebagaimana yang disampaikan penulis dalam ‘Surat Terbuka Kepada Presiden Joko Widodo tentang Pancasila’ yang diunggah pada 1 Juni 2017 bertepatan dengan Hari Lahir Pancasila di media sosial, terumuslah dua hal penting. Pertama, jangan jadikan Pancasila sebagai alat politik untuk kepentingan yang melanggar kemurnian Pancasila. Kedua, penerapan dan pengamalan nilai-nilai yang  terkandung dalam Pancasila harus diposisikan sebagai SURI TAULADAN, bukan lagi doktrinasi. Berkaca pada masa lalu, metode yang digunakan terbukti gagal. Implementasi harus dilakukan mulai dari aparatur negara dan menjadi contoh nyata yang bisa langsung masyarakat saksikan dan ikuti. Ketika langkah teknis pertama dan kedua tersebut terselenggara dengan baik, maka secara bertahap Indonesia akan menjadi bangsa beradab, bersatu, dan mampu pada titik akhir menjadi bangsa yang berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

*Dari berbagai sumber