PENUMPANG DI NEGERI NUSANTARA

PENUMPANG DI NEGERI NUSANTARA



Pribumi nusantara sekelompok manusia yang merupakan penghuni awal nusantara berdasarkan persebaran untuk menetap dan membangun. Ciri-ciri manusia nusantara beberapa yang dominan adalah berkulit sawomatang dan kuning langsat, berbudaya beragam, berbahasa nusantara atau Bhinneka Tunggal Ika, dan berperawakan tidak tinggi dan tidak pendek.  Maka, selain ciri-ciri tersebut yang sekarang ikut menghuni nusantara adalah penumpang. Disebut penumpang karena mereka bukan manusia nusantara asli.
Siapakah para penumpang ini? Ada dua kelompok besar para penumpang. Pertama yang datang dari arah Barat. Kedua, yang datang dari arah Timur. Penumpang dari arah Barat mempunyai ciri-ciri yang dapat dibagi lagi menjadi dua bagian besar. Ciri-ciri pertama adalah mereka yang berperawakan tinggi besar, kulit putih dan merah, berbau amis, berambut aneka warna, berhidung mancung, dan berbahasa yang sama sekali tidak mirip dengan warga pribumi nusantara. Ciri-ciri kedua adalah mereka yang berperawakan hampir sama tingginya dengan warga pribumi, berkulit hitam, berjanggut, berhidung mancung, berbusana serba panjang, dan berbahasa yang sama juga tidak dimengerti warga pribumi. Satu kelompok besar penumpang dari arah Timur memiliki ciri-ciri yang sama yakni bermata sipit dan bertubuh pendek serta memiliki bahasa yang juga tidak dapat dimengerti oleh warga nusantara.
Wajar kalau dua kelompok besar itu tertarik menjadi penumpang di nusantara. Selain luas negerinya, juga kaya raya. Ingat lagu Kolam Susu karya Koes Plus? “Bukan lautan tapi kolam susu. Kail dan jala cukup menghidupimu. Tiada badai tiada topan kautemui. Ikan dan udang menghampiri dirimu. Orang bilang tanah kita tanah surga. Tongkat kayu dan batu jadi tanaman.” Sebenarnya tidak hanya kolam susu. Nusantara adalah kolam permata, kolam emas, kolam uranium, kolam ikan mahal, kolam tanaman bermutu, kolam surga.
Banyak yang kembali ke negeri asalnya membawa oleh-oleh untuk keturunannya. Banyak pula yang menyamar menjadi penumpang abadi dengan menikahi warga pribumi kemudian mengaku dirinya adalah warga pribumi asli. Penghasilan selama terjadi ikatan pernikahan menjadi sumber air yang deras untuk memenuhi kebutuhan di negeri asalnya.
Sebagai para penumpang yang telah lama dan mengaku dan terakui secara resmi sebagai warga negara pribumi menjadi sangat serakah. Keserakahannya dibantu oleh alat kekuasaan yang dijabatnya. Merajalela. Pribumi yang seharusnya majikan di negerinya sendiri, berubah menjadi kacung untuk memenuhi hasrat kebuasan sang penumpang. Tanpa ragu-ragu dan tanpa rasa malu.
Sebagian lagi beralibi merasa ikut memerdekakan nusantara. Sebagian lagi berargumen telah memberikan pencerahan. Sebagian lagi merasa telah banyak membantu. Dengan alasan tersebut mereka layak diakui sebagai pribumi bukan sebagai penumpang. Bagaimana bisa mereka mengaku sebagai pribumi, ciri fisik, cara hidup, dan cara berbahasa mereka tidak sama? Masuk akal?
Pantaskah penumpang minta dilayani dan dihormati? Penumpang mempunyai kewajiban dilayani dan dihormati hanya sebatas tiga hari. Selebihnya harus tenggang rasa membalas budi kebaikan warga pribumi, bangsa nusantara. Sementara mereka yang menjadi penumpang telah bercokol di nusantara berhari-hari, bertahun-tahun, bahkan berabad-abad, memperbesar produksi generatifnya.
Penumpang yang telah lama dan baru berdatangan. Dalam waktu cepat mengurusi negara. Dalam waktu singkat mengatur perekonomian untuk bangsa asalnya. Mereka telah memiliki surat sakti menggali lebih dalam tanah nusantara. Mereka telah memiliki tanah sewa bahkan membeli tanah pribumi untuk anak keturunannya. Pribumi menangis. Pribumi belum sampai pada tahapan sila kelima Pancasila. Pribumi masih beranjak pada taraf sila kedua. Dan memang dijaga untuk tidak sampai pada sila ketiga agar mereka lebih leluasa menguras bersih kekayaan nusantara.
Mereka berkoar-koar menyatakan perjuangannya untuk nusantara. Apakah yang mereka perjuangkan? Untuk kelangsungan nusantara dan bangsanya atau untuk kelangsungan anak cucunya baik yang berada di nusantara atau yang berada di negeri asalnya. Mana buktinya? Apakah perjuangan mereka telah mengantarkan bangsa nusantara pada tahapan sila kelima? Atau sengaja mereka atur untuk tetap berada pada tahapan sila pertama dan kedua?
Bangsa nusantara adalah pemilik yang sah atas tanah, air, dan udara nusantara. Yang memiliki gunung-gunung emas dan permata. Yang memiliki hutan-hutan dan lautan surga. Bangsa nusantara pemilik sah atas teritorial politik dan ekonomis nusantara. Akui dan jangan serakah. Jangan mengangkangi tanah nusantara. Jangan berlama-lama. Bangsa nusantara juga memiliki anak cucu. Memiliki keturunan yang jauh lebih banyak jumlahnya dari keturunan para penumpang. Tapi, sangat sedikit yang mencicipi citarasa surga negerinya sendiri. Entah, apakah anak cucu warga nusantara nantinya memperoleh warisan untuk kelangsungan hidupnya? Atau akan menagih ke negeri-negeri penumpang untuk mengambil kembali hartanya?


KETIKA REDAKSI MENOLAK TULISANKU

KETIKA REDAKSI MENOLAK TULISANKU

Ketika redaksi media cetak seluruh Indonesia menolak tulisan-tulisanku, biar saja. Cuek saja. Bukan berakhirnya dunia, kan? Toh, aku tidak mempunyai tujuan finansial. Hanya ingin menulis. Apa saja. Tinggal menulis saja di koranku sendiri, di ladangku sendiri, kubayar sendiri honorku, baca-baca sendiri. Tertawa dan menangis sendiri. Hahaha, enak kan?

Tidak mudah lo rekdaksi ternama memuat tulisan kita. Antre dan panjang. Sungguh, perjalanan panjang. Daripada menunggu yang tak pasti, mending ditulis saja di mediaku, blogku sendiri. Editing sendiri, muat sendiri. Pasti ada yang baca kok selain diri sendiri. Paling tidak apa yang telah ditulis dengan dedikasi tersampaikan. Kalau pun tidak tersampaikan, paling tidak telah terpenuhi hasratku, nafsuku.

Menulis memang bukan hal yang mudah meskipun banyak terbit buku tentang menulis yang mengatakan: menulis itu mudah. Mudah saja kalau menulis di bangku-bangku sekolah atau di tembok-tembok tetangga. Hahaha. Menulis butuh nafsu. Butuh keliaran. Butuh ejakulasi. Butuh baterai. Juga butuh pendamping seperti kopi dan kepulan asap rokok. Butuh onde-onde atau martabak hangat. Dengan semua perjuangan yang sepanjang itu, redaktur membuangnya di tempat sampah di pojok ruangannya. Sungguh sampah sekali tulisan orang-orang yang mencoba mengais rejeki dan ketenaran.

Tapi, tak sedikit yang telah menikmati pertarungan dengan redaktur. Melawan rasa pahit dan setengah putus asa, akhirnya menjadi langganan redaksi. Lumayan, tiap minggu dapat transferan. Itu hanya sedikit orang lo. Yang telah mati, lebih banyak! Yang bunuh diri, sedikit agak banyak. Untuk alasan itulah tulisan ini. Kalau pun tulisan ini tak mampu membangkitkan yang telah mati, atau mengurungkan niat bunuh diri seseirang, setidaknya yang masih hidup dan berkeinginan tetap hidup bisa berkreasi di perusahaannya sendiri, meredaksinya sendiri, memuatnya sendiri, dan memperoleh honor dari kantong sendiri. Kemudian, menikmati hari libur nasionalnya sendiri bersama keluarganya sendiri. Mudah, kan?

Ketika sudah memutuskan membuat perusahaan sendiri, seperti yang dilakukan perusahaan media cetak, ya sudah kerjakan. Bebas berkreasi, bebas menentukan tema apa saja, dan bebas beristirahat kapan pun. Tanpa kena pajak. Kalau sudah banyak tulisannya, kemudian mau mencetaknya menjadi sebuah buku, tinggal calling penerbit dan daftarkan ISBN. Mau berapa eksemplar? Tinggal diduiti sendiri sesuai kemampuan dan lebihnya belanja dapur. Bagaimana dengan pemasarannya? Buang saja ke perpus-perpus kota, sekolah, dan pondok pesantren. Selesai sudah misi tersampaikan.

Jangan pesimis, pasti terbaca kok. Yang penting sampulnya bagus, kertasnya tebal atau kalau bisa kertasnya harum. Ada lo kertas dari kayu gaharu. Per lembar dulu tiga ratus ribu. Kalau sampul dah bagus, menarik kan? Tapi, malu donk kalau isinya nyampah! Sesuaikan dah dengan sampul yang bagus biar ketika dibaca dapat menyihir semua orang.



KAMU SIAPA?

KAMU SIAPA?

Umurmu berapa? Lahir tahun berapa? Oke, anggaplah kamu lahir tahun 1970. Kira-kira kamu tahu kapan bapakmu lahir? Anggap saja tahun 1950. Tahu tahun berapa kakekmu lahir? Anggap saja tahun 1930. Kalau bapakmu tidak ada dan terlahir tahun 1950, apakah kamu ada? Apakah kalau kakekmu tidak terlahir tahun 1930 apakah kamu ada? Sebenarnya kamu ada karena tahun 1930 atau 1950?
Ketika aku balik bertanya, apakah kamu bisa menjawab? Kamu pasti tak bisa menjawab apa-apa selain kata ‘tidak tahu.’ Dapatkah kamu menelusuri keturunan siapakah sebenarnya kamu? Paling tidak sampai ke masa cicit Nabi? Atau kalau bisa sampai ke Nabi Adam. Jangan-jangan kamu keturunan Namrud? Jangan-jangan juga keturunan Firaun? Atau Abu Sofyan atau Abu Jahal? Atau siapa?
Begitu mudahnya mencaci, memaki, memfitnah, tanpa dasar yang jelas. Begitu lancarnya lisanmu mengafirkan sesamamu dengan bangganya. Hoax di media massa merajalela dengan kambing-kambing hitamkan memperkeruh keadaan, merusak ruang hati. Apakah kamu merasa suci dan berhak mengkapling surga?  Apakah  yang lain dianggap bejat dan pasti masuk neraka? Mengapa kamu mengenyampingkan rasa cinta Tuhan dan hak sewenangNya? Tunggu, dulu! Jangan terlalu mudah menghakimi. Runut dulu kebenaran-kebenaran yang dipunyai hingga yakin dan berdasar jelas. Jangan nyampah dan memperkeruh keadaan. Mencari jati dirimu saja belum mampu kok. Memenukan aliran darahmu hingga ke leluhurmu juga tidak sanggup kan?
Cobalah lihat struktur kita. Terdiri dari air, tulang, darah,daging, dan kotoran. Kotoran itu kita bawa ke mana-mana. Ketika kita ngomong tentang kesucian, bukankah kotoran itu ada di dalam perut kita? Bahkan ketika menghadap Tuhan pun, kotoran di dalam usus kita pun masih kita bawa. Mengapa begitu melewati batas kita menajiskan seseorang atau sekelompok orang? Sedangkan di dalam perut kita, di dalam usus dan kandung kemih kita menyimpan kotoran dan najis yang menjijikkan. Keturunan siapakah sebenarnya kamu?
Kalau saja dalam perutmu tidak ada kotoran dan najis, aku masih mau menerima lontaran lisanmu dengan akal yang paling sederhana. Tapi, ini sudah keterlaluan. Kamu masih sibuk dengan duniamu dengan mengisi kotoran ke dalam perutmu tiga kali sehari masih sok suci. Yah, aku marah! Aku marah dengan kelakuanmu. Kelakuanmu itu sungguh tak pantas disebut manusia. Darahmu mirip-mirip darah yuwaswishu. Karena kelakuanmu, yang dulu saling tegur sapa, saling kunjung mengunjungi, satu bangsa, satu keyakinan, jadi bubrah! Dan kamu tidak merasa bertanggung jawab, kan?
Naif sekali dirimu. Tidak begitu baik  mengenal dirimu sudah menyampah dan mencaci ciptaan Tuhan. Ingat ya, ketika kamu menghina dan mencaci maki ciptaan Tuhan, itu sama saja kamu menghina Penciptanya. Tunggu dulu! Jangan keburu nafsu menilai orang. Mengapa kamu suka sekali menyibukkan diri menilai orang lain? Apakah dengan menilai orang lain kamu mendapat manfaat? Apakah hasil penilaianmu itu akan membawamu ke surga Tuhan? Is is! Tidak, lo, ya! Justru kamu akan bertransaksi untung rugi atas apa yang kamu lakukan terhadap orang yang kau caci maki bahkan yang kau kafir-kafirkan. Jangan-jangan nanti kamu termasuk orang yang bangkrut!
Suka sekali hatimu memandu mulutmu untuk menilai orang lain. Jadi lebih pintar mulutmu ketimbang hatimu. Apa yang berkuasa dalam dirimu, mulutmu? Ayo, berhentilah! Puasakanlah anggota tubuhmu! Diam sejenak! Heningkan!


10 Buku Yang Berumur Panjang

10 Buku Yang Berumur Panjang

Nah, ini satu pernyataan yang mudah diucapkan tapi sulit ditemukan tentang 10 Buku Yang Berumur Panjang. Ternyata agak over mainstream juga sebuah media cetak X dengan mencetuskan tema tersebut di hari ulang tahunnya yang ke-10. Mengapa ada pernyataan yang mematok ukuran waktu? Mengapa 10 buku? Akhirnya harus berpikir keras sambil mencari-cari informasi tentang 10 buku yang terbukti berumur panjang. Kalau harus mencari-cari buku apa saja, tentu butuh penelitian khusus dan serius, tapi cukuplah dipetakan berdasarkan temanya saja.
Ada beberapa gagasan yang membuat sebuah buku mampu bertahan turun-temurun menjadi bahan bacaan sebagian besar masyarakat literat. Berikut beberapa gagasan berdasarkan tema buku yang berumur panjang.
Pertama, seorang penulis yang tangannya adalah kepanjangan tangan Tuhan. Tema-tema religius cenderung bertahan lama. Contoh Al Quran, Injil, Wedha, Bibel, Tripitaka, dan sebagainya. Sepanjang masa buku berjenis kitab ini akan dicetak berkali-kali dan beredar sepanjang masa, tanpa ada larangan beredar atau menerbitkan ulang.
Kedua, materi tulisan yang membidik tentang mitos, legenda, dan sejarah masalalu yang menjadi perdebatan hingga sekarang. Contoh, Babad  Tanah Jawa oleh W. L. Olthof di Leiden, Belanda, pada tahun 1941 Masehi yang diterjemahkan banyak versi oleh bangsa Indonesia. Sampai sekarang menuai banyak perdebatan yang tak habis-habis.
Ketiga, buku yang menyangkut hukum dan pendidikan. Kitab Undang-Undang Hukum Pidana dan Perdata pada zaman Belanda menjadi acuan produk hukum di masa kini dan mendatang. Begitu pula dengan buku kurikulum pendidikan. Pergantian menteri pendidikan sekaligus bergantinya kurikulum pendidikan seharunya merujuk pada produk kurikulum pendidikan masa sebelumnya dan sebelumnya lagi sebagai bahan pertimbangan. Buku Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila, Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa, dan Pendidikan Moral Pancasila seharusnya menjadi buku yang harus ada saat ini dan mendatang karena buku-buku tersebut berkaitan dengan dasar negara sebagai sumber dari segala sumber hukum di Indonesia.
Keempat, buku yang di dalamnya berisi tentang lelucon. Buku komedi. Ada banyak buku komedi yang tak lekang oleh perubahan zaman. Contoh buku cerita humor tentang kisah Abu Nawas, Dua Tangis dan Ribuan Tawa, dan Manusia Setengah Salmon.
Kelima, buku yang memuat tentang sejarah, legenda, dongeng, biografi tokoh, dan sejenisnya. Materi yang demikian akan pula menjadi bagian dari 10 buku yang seharusnya bertahan lama karena kontennya selalu dalam pertanyaan masyarakat tentang kebenarannya.
Keenam, yakni buku yang memberikan motivasi. Banyak buku-buku yang berjenis memotivasi antara lain karya Mario Teguh, Rhonda Byrne, Munif Khatib, dan sebagainya. Contoh-contoh judul buku jenis ini antara lain 7 Keajaiban Rezeki, Mimpi Sejuta Dolar, Mestakung, The Secret, Law of Attraction, dan sebagainya.
Ketujuh, buku yang harusnya berumur panjang adalah yang berisikan cerita-cerita romantis, heroik, atau bahkan yang sedih-sedih. Buku yang bergenre fiksi. Misalnya antologi cerpen dan puisi, cerbung, novel, atau bahkan roman. Sangat cocok untuk mengisi waktu dan berhibur diri.
Kedelapan, buku yang mengandung bermacam-macam tips. Aneka tips. Contoh, buku resep membuat jamu beras kencur, tips memelihara itik, cara mengehack akun orang, dan sebagainya. Buku berjenis ini telah memberikan banyak manfaat kepada orang lain yang ingin berwirausaha, berketerampilan, otodidakter, dan sebagainya.
Kesembilan, buku yang memuat pengertian suatu kata atau peribahasa. Buku ini walaupun jarang digunakan sehari-hari, tapi sangat penting dimiliki banyak orang. Contoh, kamus besar bahasa Indonesia, kamus bahasa asing, kamus populer, kamus peribahasa, dan ensiklopedi.
Kesepuluh, adalah buku yang berisi tentang ide-ide yang aneh, unik, dan langka, atau berbahaya. Membongkar Gurita Cikeas, karya George Junus Aditjondro, dilarang beredar pada masa pemerintahan Susilo Bambang Yudoyono. Pelarang tersebut dianggap penyebaran fitnah terkait kasus Bank Century. Ada banyak penulis yang bukunya dilarang beredar seperti Pramoedya Ananta Toer, Darmawan, John Roosa, Najih Ibrahim, bahkan Muhammad Hatta. Bahkan, ada sebuah buku yang menyebabkan banyak kematian berjudul Malleus Maleficarum. Ada pula buku yang aneh dan misterius, karya Serafini berjudul Codex, Itali.

Ada satu lagi, tapi tidak perlu dimasukkan dalam 10 buku di atas yakni buku yang ketika menyentuhnya seolah-olah masuk dalam situasi dan alam yang digambarkan dalam buku tersebut. Contoh buku tentang perang kemerdekaan misalnya, ketika menyentuh halaman pertama dan menyentuh gambar Bung Tomo, maka kita masuk dalam kecamuk perang bersama Bung Tomo berjuang mempertahankan kemerdekaan di hotel Yamato Surabaya. Dengan buku tersebut, pembaca tersedot begitu saja ke lorong waktu. Bisa ke masa depan atau masa lalu, bisa pula sebaliknya. Tentu buku yang menarik, yang unik, aneh, menyeramkan atau menyenangkan, penuh cita rasa seperti permen nano-nano.
MENDADAK RELIGIUS BERMODAL COPY PASTE

MENDADAK RELIGIUS BERMODAL COPY PASTE

Masa kini lagi maraknya status, postingan, dan wacana di media sosial yang isinya terkesan religius. Tidak banyak kenal siapa yang memposting wacana-wacana tersebut pertama kali. Seperti jamur di musim hujan, mendadak ramai di media sosial baik teks atau gambar religius. Ketika cocok postingan tersebut dicopypaste (copas) kemudian dishare. Mudah! Terkesan sekali si pengcopypaste itu sangat religius. Maka diperolehlah kesan di kalangan si  pengcopypaste bahwa ia sangat religius pantas diberi gelaran sang ustad atau kyai, hanya gara-gara copas dan share. Satu postingan copas kemudian dibagikan lagi ke media sosial yang lain seperti FB, WA, Line, Instagram, dan sebagainya dalam satu waktu yang sama. WOW.
Bahkan, ada yang memposisikan sebagai satpamnya waktu solat. Hanya dengan bermodal gambar yang berisi seruan: “Ayo, salat tahajud!”, “Waktunya solat!”, “Biar tambah ganteng, Jumatan, yuk!” Terkesan sangat religius. Sepertinya sangat pasti mengajak kepada kebaikan. Agama itu hal yang sangat privasi. Agama itu urusan pribadi dengan Tuhan. Anda tahu orang yang pertama memposting hal dan gambar seperti itu? Anda yakin orangnya beragama Islam? Anda kenal dengan baik akhlaknya? Jangan-jangan Anda hanya sekedar mengcopas dan sekedar memposting. Jangan-jangan Anda bukan yang sebenarnya diri Anda! Hahaha.
Apakah sebenarnya Anda ingin memberitahukan kepada penduduk dunia bahwa Anda telah melakukan kebaikan? Apakah sebenarnya Anda ingin memberitahukan kepada semua makhluk, hidup dan tak hidup, bahwa Anda telah melakukan ibadah yang seharusnya privasi? Apakah sebenarnya Anda ingin memberitahukan kepada semua umat dari Nabi Adam hingga sekarang bahwa Anda sangat dekat dengan Tuhan sehingga bisa Anda pamerkan? Kalau jawaban Anda TIDAK atas pertanyaan aneh ini, apakah sebenar-benar tujuan dan keinginan Anda?
Atau jangan-jangan Anda telah merasa tidak mempunyai kemampuan untuk mandiri, berlogika sendiri, berhikmah sendiri, sehingga Anda mudah merasa cocok dengan apa pun yang menurut Anda sesuai dengan keinginan Anda memberitahukan kebaikan Anda. Tunggu, tunggu! Sepertinya Anda sedang tiru-tiru. Dan dengan sedikit tipu-tipu dengan copas Anda mencoba mencitrakan diri Anda baik. Apakah benar Anda melakukan pencitraan diri dengan gratis? Yah, gratis! Tanpa membeli tinggal copas, share, done! Padahal photocopy saja hingga sekarang masih berbayar: Rp 200 per lembar. Tidak ada yang gratis! Mengapa Anda tidak bermodal? Kencing juga berbayar di ruang publik, lo. Rp 2000 per sekali buang. Hahaha!
Copas adalah melubangi genteng-genteng rumah sendiri yang tadinya tidak bocor menjadi bocor. Sepertinya tidak konek pengertian copas ini tapi tak ada salahnya dicari titik sambungnya biar sedikit kreatif. Tidak lagi copas.
Pengertian yang lain menurut Fulan, copas adalah membolongi baju dengan menyundutnya dengan api rokok. Masih menurut Fulan, kalau bolongnya Cuma satu atau dua sih mending. Tapi, kalau terus menerus dibolongi, tak ada artinya lagi kemanfaatan baju itu. Wah, lebih tidak konek lagi sepertinya. Biarlah begitu. Toh, nanti akan tersambung dengan sendirinya dengan syarat jika ....





PENDIDIKAN ANTI KORUPSI? PEMIKIRAN TERBALIK!

PENDIDIKAN ANTI KORUPSI? PEMIKIRAN TERBALIK!

Pendidikan antikorupsi? Hahaha. Lucu! Lebih lucu lagi sasaran peserta workshopnya, para guru. Para rakyat. Tindaklanjutnya agar guru nantinya bisa menularkan yang disebut sebagai pendidikan anti korupsi itu kepada para siswa dan anak-anak. Sementara, mata siswa dan anak-anak terlalu sering menyaksikan tindakan-tindakan yang sebaliknya dari media cetak dan noncetak serta televisi. Bertabrakan, kan? Harusnya para pejabat atau calon pejabat dulu yang harus mengikuti pendidikan dan latihan (diklat) atau workshop atau apapun namanya. Bukan rakyat dulu. Kalau mereka tidak lulus, ya harus dengan rela hati turun kursi. Begitu seharusnya.
Masih ingat sejarah Penataran  Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila atau yang dikenal dengan penataran P4 dulu? Sasarannya seluruh rakyat Indonesia. Rakyat, lo, ya, bukan pemerintah atau para pejabat negara. Pesertanya rakyat. Rakyat sekolah dasar hingga universiti. Bahkan para petani dan dan nelayan. Apa coba hasilnya? Nol besar. Wal hasil MPR no. II/MPR/1978 yang menaungi P4 dan Pancasila dihapus! BP7 dibubarkan. Para penatar dipensiunkan. Dan para petatar lupa ingatan. Hahaha!
Sebenarnya, P4 tu baik, tapi tekniknya yang gak pas. Harusnya Top down bukan Bottom up. Harusnya dari atasan dulu memberi suri teladan. Bukannya rakyat yang didoktrin agar Pancasilais dan atasannya justru berlindung di balik Pancasila untuk menutupi arogansi korupnya.
Lagi-lagi dengan cara dan teknik yang sama. Hmm, pendidikan anti korupsi. Hahaha. Lucu, sungguh lucu! Pasti akan jatuh pada lubang yang sama. Pendidikan anti korupsi yang didoktrinkan kini diintegrasikan dengan Pendidikan Pancasila & Kewarganegaraan. Biar bagus dan nge-link ke Pancasila. Bisa bertaut dengan pendidikan karakter. Bagus kok, tapi mengapa mengulang cara yang sama?
Sebenarnya ini pekerjaan awal Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Maaf, bukan Kelipatan Persekutuan terKecil. Tapi, Komisi ($) Pemberantasan Korupsi! Nah, apa yang dilakukan KPK? Menindak, kan? Memberantas! Memberangus! Menyampahkan koruptor! harusnya mendidik calon pejabat dengan pendidikan karakter dulu, termasuk pendidikan anti korupsi. Sumpah jabatan menyebut nama Tuhan dan setia pada Pancasila sepertinya kurang menggigit. Terlalu mainstream. Hahaha.
Monggo KPK, bikin diklat dan workshop untuk para presiden dan calon presiden. Para menteri kabinet dan yang punya cita-cita menjadi menteri. Para gubernur dan calon atau yang ambisi menjadi gubernur. Dan seterusnya, dari atas, tapi jangan lagi rakyat! Rakyat biarkan menjadi penonton saja. Posting seluruh kegiatan workshop para pembesar negara itu di media sosial secara terbuka. Kalau mereka tidak lulus, yang silakan diberi pilihan yang sulit. Hahaha.
Lucu! Kita tunggu saja hasilnya 20 tahun yang akan datang seperti apa kira-kira. Menurut data hasil survey Lembaga Administrasi Negara pada tahun 2011 tercatat 1.053 koruptor di Indonesia. Itu yang tercatat, yang tidak tercatat berapa? Itu tahun 2011, kalau sekarang berapa? Hahaha.
Katakan tidak pada korupsi! Memangnya korupsi itu orang? Korupsi itu perbuatan bukan orang. Korupsi itu seperti makhluk gaib! Suka ngobrol sama yang gaib ya? Yang orang itu koruptornya! Pantas kalau sekarang merajalela perbuatan korupsi karena kita disarankan mengatakan tidak pada korupsi. Kalau kepada koruptornya bilang: mana lagi? Hahaha.



PESAN SI PEMANDI JENAZAH

PESAN SI PEMANDI JENAZAH

Hanya orang-orang tertentu yang mau melakukannya. Hanya sedikit orang yang bersedia. Dan, Raga Patmilah salah seorang yang dengan rela hati menjadi pemandi mayat. Entah telah berapa orang yang ia sentuh dan gosok kulitnya. Ia dengan sabar dan tatak hatinya berhadapan dengan sekantong daging yang dulu disebut sebagai manusia semasa hidupnya. Karena penasaran, mengenai seperti apa keadaan manusia setelah ditinggalkan ruhnya, aku pun menanyainya dengan semangat.
“Sudah berapa lama Ibu menjadi pemandi mayat?”
“Entahlah, Nak. Saya tidak begitu menghitungnya. Yang jelas setelah suami saya meninggal, saya sangat berkeinginan menjadi orang yang mengabdi kepada masyarakat. Bermanfaat bagi banyak orang.”
“Bagaimana awalnya Ibu hingga menjadi pemandi mayat? Apakah tidak takut atau jijik?”
“Awalnya saya tidak berpikiran akan menjadi pemandi mayat. Awalnya saya hanya ikut ajakan seorang teman untuk menemaninya memandikan mayat. Setelah teman itu meninggal, akhirnya saya yang menggantikannya.”
Ia menghela nafas sebentar kemudian melanjutkan kisahnya. “Ketika pertama kali ikut seorang teman, waktu saya di belakangnya memperhatikan bagaimana ia memandikan mayat, saya merasa ada yang menghalangi pandangan. Mata seperti tampak kabur, tapi saat saya pertama kali memandikan mayat sendirian, pandangan saya tampak jernih dan terang.”
“Mengapa bisa begitu?”
“Entahlah, mungkin si mayat malu dilihat beramai-ramai,” katanya sambil tertawa ringan.
“Bolehkah saya tahu, apa sebenarnya yang menjadi ciri-ciri seseorang itu telah meninggal?”
“Boleh saja, Nak. Toh, itu adalah titik akhirnya kita. Kita semua akan merasakannya tepat pada waktu yang telah Tuhan tentukan.” Dia mengubah arah pandangnya seperti sedang melirik ke arah langit kemudian melanjutkan. “Akhir kehidupan seorang manusia tidak ditakdirkan sama. Berbeda antara satu dengan yang lain. Ada yang meninggal dengan wajar, ada pula yang tidak wajar. Ada yang tersenyum, ada yang tampak sedih, dan ada yang tampak ketakutan. Terlihat sekali dari mata dan raut mukanya. Sepertinya itu bergantung amal perbuatannya ketika ia masih hidup.”
“Terus apa yang menjadi ciri fisik seseorang yang telah mati, Bu?”
“Manusia yang telah mati fisiknya berubah. Ia akan tampak sedikit memanjang tubuhnya. Kulitnya ketika disentuh gemerisik. Dagunya terasa kasar dan pori-porinya menganga. Hidung tampak seperti ditarik ke dahi. Matanya tenggelam. Permukaan hidungnya berkeringat ketika baru meninggal. Daun telinganya ketarik kulit dan urat leher. Otot pada leher kaku. Dan, maaf, buah pelirnya seperti tertelan.”
Aku mendengarkannya dengan seksama sambil mencatatnya di alam pikir. Kemudian Raga Patmi melanjutkan. “Satu rahasia lagi, ketika dijilat kulitnya terasa hambar. Tidak lagi asin seperti  ketika masih hidup.”
“Hmm, mengapa bisa begitu ya, Bu?”
“Entahlah, itu sepertinya pertanda kehidupan sudah berakhir. Kehidupan fisik kita telah sirna.”
Aku jadi teringat sebuah film asing berjudul Castaway on The Moon. Tokoh utama yang tersesat seorang diri di sebuah pulau kecil, membuat makanan dan menggarami makanannya dengan keringat yang mengucur dari tubuhnya. Tetesan keringatnya diamankan dalam botol kecil. Ketika memasak diteteskanlah keringatnya. Berarti benar, keringat memang asin. Bisa dibuat penggati garam untuk mendapatkan cita rasa asin.
“Apa lagi ciri-ciri orang mati Bu, selain yang Ibu sebutkan tadi? Apakah tidak ada perasaan takut atau jijik?” rasa penasaranku tambah menggila.
“Yang saya sebutkan tadi itu sudah ciri yang utama, yang dialami hampir semua orang. Selebihnya hanya berbeda keadaan. Ada yang dalam keadaan sehat ketika meninggal, ada pula yang membawa sakitnya hingga meninggal. Sebenarnya sakit atau apa pun alasannya hingga ia meninggal hanya sebuah jalan. Sebenarnya sudah tiba waktunya harus kembali kepada Tuhan. Malaikat maut sudah memegang catatan siapa yang harus dicabut nyawanya, jam berapa, ketika sedang apa, dan di mananya. Sakit, kecelakaan, dan sebagainya hanya pengalihan agar malaikat maut tidak disebut sebagai penyebab. Lucu. Ketika Adik tanya mengapa si Fulan meninggal, maka kerabat dan tetangganya akan bilang ‘karena sakit, karena jantung, karena kecelakaan, dan sebagainya,’ jadi ada keadaan yang bisa disalahkan.” Raga Patmi tertawa.
Masih sambil tersenyum, Raga Patmi meneruskan, “Karena jantung? Ya iyalah, kan jantungnya berhenti. Karena jantungnya tidak berdetak lagi pasti mati!” tertawanya bertambah keras. Aku  yang mendengarkannya merinding.
“Kembali ke keadaan mayat, saya bilang tadi keadaannya beda-beda. Ada yang masih mulus utuh, ada yang digerogoti ulat. Ada yang tersenyum, ada yang menakutkan wajah dan matanya. Ada yang telentang biasa, ada yang meringkuk, ada yang sujud, ada yang miring. Macam-macam. Yang digerogoti ulat kebanyakan karena membawa penyakit kencing manis basah sehingga ketika dimandikan berbau amis. Ada yang mengeluarkan cairan tidak henti-hentinya dari kemaluannya, ada pula yang keluar kotoran dari duburnya. Ada yang mengeluarkan bau yang sedang dari tubuhnya, ada pula yang mengeluarkan bau darah dan bangkai. Yang paling parah ketika harus memandikan korban kecelakaan parah atau korban ledakan petasan. Kita seperti sedang mencuci potongan-potongan daging ayam.” Kembali Raga Patmi tertawa renyah.”
“Sejak pertama kali saya memandikan mayat, saya tidak takut atau jijik. Sepulang dari memandikan mayat saya juga tidak terpikirkan bagaimana wajah mayat bahkan dalam tidur pun ia tidak berani hadir. Mungkin malu, karena sayalah yang memandikannya. Jadi untuk menampakkan dalam mimpi saya, atau melintas dalam pikiran saya, ia enggan.”
“Ketika baru meninggal ada keadaan mayat dengan mata terbuka dan terpejam. Kalau terbuka, kita rapatkan kelopak matanya dengan mengusap wajahnya. Ada  yang menganga mulutnya, ada yang tertutup rapat. Untuk yang mulut menganga, kita siasati dengan mengikatnya dengan kain melingkari wajahnya hingga mulutnya terkatup rapat.”
“Ada yang meninggal dengan wajah berseri-seri ada pula yang meninggal dalam keadaan sedih, bahkan ada yang mengeluarkan air dari matanya tak henti-henti. Ada pula yang meninggal dengan wajah seperti ketakutan bahkan lebih legam dari sewaktu ia hidup.”
Aku benar-benar takut menghadapi mautku sendiri. Betapa malunya jika keadaan-keadaan yang tidak indah terjadi dengan tubuhku ketika aku meninggal dan dimandikan sanak saudara dan keluarga besarku, terutama anak-anakku.
“Hampir semua orang merasa takut keadaan tidak baik ketika ia meninggal. Jangan takut, sekali lagi jangan takut, Anakku. Beranilah mati! Beranilah mati, dengan catatan memperbesar kerinduan kita akan pertemuan dengan Tuhan yang Maha Pengampun dan Maha Kasih. Semakin besar rasa rindu itu, semakin semangat untuk hidup dan semakin berani menghadap maut, karena kematian adalah titik awal pertemuan kita denganNya. Sepertinya kita harus kerja sungguh-sungguh untuk mepersiapkan kematian kita.”
Aku terdiam. Kalimatnya terlalu berat. Kusimpan dalam-dalam pesannya.
“Apakah dicabutnya kehidupan kita itu sakit?”
“Sangat sakit, Anakku. Begitu menurut keterangan. Makanya, saya memandikan mayat sangat hati-hati dan bersikap lembut. Air tidak boleh terlalu panas atau terlalu dingin. Menggosoknya ketika memandikan juga tidak boleh terlalu kasar. Karena dicabutnya nyawa itu, sakit yang paling ringan seperti disobeknya seluruh kulit kambing sekali hentak dalam keadaan hidup.”
Gambaran yang sangat mengerikan. Aku tak bisa berkata-kata. Aku tambah terdiam. Aku tak bisa bertanya apa-apa lagi. Badanku terasa lemas. Otot-ototku terasa lunglai. Bibirku pun kehilangan gerak. Akalku mendadak buntu. Hatiku terasa sakit. Dalam hati aku bertanya, apakah aku orang yang paling berdosa di dunia ini? Akankah dosa-dosaku yang tak terhingga besar dan banyak ini akan Tuhan ampuni dengan kemahakasihNya? Kalau bukan Dia, kepada siapa lagi tempat memohon ampun dan perlindungan ketika menghadapi maut? Apakah aku termasuk orang yang Dia abaikan sehingga tak terbersit setitik pun cahaya di hatiku untuk melulu merindukanNya? Apakah kematianku kelak memiliki keadaan yang setidaknya wajar?
Pikiran-pikiran mengerikan mencengkram perasaanku. Keringat dingin mengembun di dahiku. Raga Patmi sepertinya meneruskan omongannya, tapi aku telah kehilangan fokus. Bukan tidak lagi menarik, tapi aku mulai memikirkan keadaanku sendiri.
“Anakku,” ia menepuk pundakku. Menarikku kembali berbincang.
“Semua orang memiliki dosanya masing-masing. Tidak ada orang yang bersih dari dosa, kecuali yang telah ditetapkan Tuhan. Paling tidak, pengakuan kita bahwa kita menyadari sebagai pendosa saja telah bisa mengantarkan kita kepada pengampunanNya. Jangan berburuk sangka kepada Tuhan. Seluas apa pun dosa kita memenuhi semesta, masih lebih luas pengampunan dan rahmatNya. Yakinlah!”
“Tapi, ....”
“Ssst!” ia menghentikanku melanjutkan kalimatku. “Rindukan Dia, maka Ia akan lebih rindu kepadaMu. Melangkahlah ke arahNya, walaupun dengan merangkak. Pasti Ia akan datang kepadaMu dalam kecepatan berlari menolongmu, mengentasmu, dan memberi petunjuk kepada meniti jalan ke arahNya!”
“Iya, Bu, terima kasih banyak.”
Sebenarnya sejak tadi aku menyimpan pertanyaan. Menurutku waktunya sangat tepat dan sangat relevan. Sebaiknya kutanyakan sekarang. Siapa tahu, bisa membantuku berjaga-jaga menghadapi keadaan tak terduga.
“Bu, bolehkah saya bertanya untuk terakhir kalinya?”
“Silakan, Nak. Mumpung saya juga bersemangat. Kalau ibu tidak bisa menjawab pertanyaanmu tolong jangan kecewa hati, ya?”
“Iya, Bu, tidak apa-apa!”
“Apa yang ingin kamu tanyakan?”
“Apakah ada tanda-tanda seseorang akan meninggal? Kalau tanda itu ada, paling tidak bisa buat saya berjaga-jaga setiap saat.”
“Ada, Anakku. Mari sini, mendekat!”
Ia membisikkan kalimat demi kalimat dengan sangat jelas sehingga tanpa harus mengulangnya. Aku berusaha mengingat-ingatnya dengan baik tanpa dicatat. Satu, dua, tiga kalimat yang ia minta aku mengingatnya sepanjang menjalani hidup. Dan di akhir bisakannya, ia mengatakan dengan suara tidak lagi berbisik.
“Jangan pertanyakan MENGAPA? Lakukan saja untuk berjaga-jaga. Semoga selamat!”