SAPI LADA HITAM

SAPI LADA HITAM


“Hmmm, wow, mengapa bisa senikmat ini? Mengapa bisa enak dan seempuk ini? Apa rahasianya? Delicous. Teksturnya terasa empuk! Super!” Bisik Badrul mencicipi Sapi Lada Hitam, Resto Kopiting. Gayanya mirip Bondan Winarno dalam acara kuliner di tv.
“Ayah mirip si Bondan!” Seloroh isterinya sambil tersenyum.
“Aku berani mempertaruhkan jiwa ragaku untuk mendapatkan resepnya!” Ia memekik tangannya mengepal. “Tunggu saja, tidak butuh waktu lama kok. Harus! Harus kuperoleh resepnya. Bagaimana pun caranya!”
“Ayah, kenapa?” Tanya sang anak sulung dan bungsu.
“Ah, tidak mengapa.”
Badrul sungguh penasaran, bagaimana daging sapi itu begitu empuk dan manis. Terasa seperti buah anggur setengah kering. Sekali saja menggigitnya di geraham, sudah lumat. Segala keindahan muncul di pikirannya. Berbagai warna cahaya berkilauan di matanya. Urat-urat di tubuhnya seperti dialiri energi baru. Sungguh kenikmatan yang luar biasa.
Badrul beranjak ke arah kasir. Isterinya hanya menolehi langkah Badrul. Begitu pula anak-anaknya. Semua mata mengerling penuh tanda tanya.
“Siapa kokinya di sini? Bolehkah saya berkenalan?”
“Ada apa, Pak? Apakah ada yang membuat Anda tidak berkenan?” tanya balik sang kasir.
“Justru karena saya sangat berkenan, saya ingin bertemu dengan kokinya!”
“Koki kami ada tiga, Pak. Sebentar saya panggil semua!”
Tidak berapa lama, ada tiga laki-laki muda muncul di hadapan Badrul.
“Siapa yang memasak ‘Sapi Lada Hitam?’” tanya Badrul lugas tanpa basa-basi.
“Itu saya, Pak. Maaf, dengan Bapak siapa?”
“Saya Badrul.”
“Perkenalkan, saya Rudi, salah chef di sini, yang khusus memasak daging. Ada yang bisa saya bantu, Bapak?”
“Sebentar,” si kasir menyela. “Bolehkah yang lain kembali bekerja, Bapak?”
“Oh, iya, silakan. Maaf merepotkan Anda!”
Kembali ke chef Rudi dan Badrul.
“Saya secara pribadi mengucapkan selamat. Anda telah membuat saya bahagia dan merasa puas.”
“Sama-sama, Bapak. Tapi, apa yang membuat Bapak merasa bahagia?”
“Karena Anda telah menyulap daging sapi senikmat itu! Sapi Lada Hitam. Makanan favorit saya. Saya sudah melancong kuliner ke mana-mana. Dan baru kali ini, di sini, saya mendapatkan kenikmatan daging sapi yang mewah, wah, wow, omg, dan empuk!” Badrul menyalami Rudi sambil tangan satunya menepuk-nepuk pundaknya.
“Sampaikan kepada manager di sini. Saya puas. Saya merasa menikmati sekali hidangan Sapi Lada Hitamnya. Dan jangan lupa nama saya, BADRUL!”
Mata Badrul melirik ke arah telinga Rudi. “Bolehkah saya tahu resep Sapi Lada Hitamnya?” Ia membisikinya.
“Aduh, maaf Pak. Itu rahasia kami.”
“Ah, jangan begitu. Saya tidak akan menyaingi Anda kok apalagi buka usaha kuliner. Saya hanya guru. Hanya guru sekolah dasar. Tidak pantas rasanya buka usaha kuliner! Ayolah, bagi resepnya!”
“Dengan segala hormat, mohon maaf yang sebesar-besarnya, Bapak. Kami tetap tidak bisa memberikan resepnya!”
Tiba-tiba Badrul merasa hangat badannya. Matanya mulai memerah. Dadanya seperti berguncang-guncang. Kedua tangannya seperti gejaIa stroke. Dengan serta merta ia menarik tangan Rudi ke luar café. Si kasir turut serta karena merasakan sesuatu yang tidak wajar. Isteri dan anak-anak Badrul tampak ketakutan. Mereka tahu betul hobi ayahnya adalah marah-marah. Marah-marah yang sering tidak jelas.
“Saya sudah memintanya dengan baik-baik. Anda tetap tidak mau memberikan resepnya?”
“Sekali lagi maaf, Bapak.”
“Baik, saya tanya. Apa taruhan Anda jika Anda membocorkan resep Sapi lada Hitam itu?”
“Saya bisa dipecat, Pak!”
Chef Rudi tampak pucat.
“Anda tidak tanya apa taruhan saya apa kalau Anda tetap menolak?”
“Maaf, Pak!”
“Tanya dulu!” Badrul mulai menaikkan suaranya.
“Baiklah, kalau Bapak, apa taruhannya?”
“Demi mendapatkan resep itu, taruhan saya adalah NYAWA!”
“Bapak serius?” Chef Rudi tambah pucat wajahnya.
“Anda kira saya meludruk?”
“Sekali lagi maaf, Bapak!”
Badrul mengambil sebuah garpu dan menempatkannya tepat di batang leher Rudi. Tangan Rudi tidak bisa leluasa karena telah dengan cepat kilat diikat dengan lengan Badrul yang melingkarinya. Garpu itu benar-benar tepat pada posisi mematikan.
Semua orang dalam café itu panik. Situasi panas itu tak mungkin mereka dekati. Ancaman Badrul sepertinya serius. Kalau mereka mendekat, bisa saja Badrul menggorok leher Rudi dengan garpu. Mata Badrul seperti melihat Sapi Lada Hitam pada batang leher Rudi dan siap menyantapnya.
“Saya tanya sekali lagi, mau dikasih apa tidak resepnya?”
“Baiklah, Bapak, tapi tolong lepaskan saya dulu! Dan Bapak tahu apa resikonya buat saya. Saya benar-benar bisa dipecat oleh manajer saya!”
“Oh, tidak, saya tidak bodoh. Saya tidak bisa Anda permainkan. Resep dulu, baru nyawa Anda selamat!”
Rudi pun memanggil salah satu kasir dan memintanya mengambilkan resep Sapi Lada Hitam di brangkas chef. Melayanglah resep itu ke arah Badrul segera dibawa oleh sang kasir. Badrul menarik Rudi ke arah tempat duduk. Resep sudah siap dibuka di meja.
“Jelaskan!” Badrul meminta paksa Rudi menjelaskan bagaimana teknis hingga daging sapi itu terasa luar biasa.
“Tapi tolong sedikit longgarkan garpu di leher saya!”
“Baiklah.”
Dengan garpu masih di batang leher Rudi, ia pun menjelaskan secara rinci proses dan teknik menyulap daging sapi menjadi menu luar biasa seperti yang dirasakan Badrul. Mungkin bagi banyak orang, makanan dan menunya menjadi hal yang biasa, tapi bagi Badrul itu hal yang sangat penting dan prinsip. Tidak banyak orang mau tahu bagaimana cara membuatnya menjadi enak. Tapi, sungguh, bagi Badrul itu adalah hal yang sangat penting. Itu hal yang menyangkut rasa. Dan, rasa adalah hal yang tertinggi dalam pemikiran dan prinsip hidup Badrul. Olah rasa dalam kurikulum pendidikan juga ada pada bagian paling awal dari seluruh materi dan struktur kurikulum. Mungkin aneh bagi kebanyakan orang, tapi bagi Badrul hal itu seperti sebuah agama baginya.
“Baiklah, terima kasih telah memberikan saya resep Sapi Lada Hitam. Kalau yang Anda jelaskan tadi tidak berhasil saya buat, saya akan datang lagi tidak hanya mengancam nyawa Anda. Tapi, akan saya penuhi cita-cita garpu itu untuk menyobek daging Anda dan teman-teman Anda di sini!” ancam Badrul sangat serius.
Dua hari terlewati Badrul tidak masuk kerja. Ia sedang serius membuktikan resep sapi lada hitamnya. Dan, pada hari ketiga, ia pun berhasil. Persis seperti buatan koki Resto Kopiting. Menu Sapi Lada Hitam untuk makan besar dan istimewa bersama keluarga kecilnya. Isteri dan anak-anak Badrul merasa seperti sedang makan di Resto Kopiting.
Saking senangnya, ia pun membuat blog khusus yang menyanjung chef Rudi dan Resto Kopiting. Beberapa media sosial yang ia punya juga, semua berisikan tentang dahsyatnya Sapi Lada Hitam di Resto Kopiting. Resto Kopiting pun semakin ramai. Rekomendasi sajiannya adalah Sapi Lada Hitam.
Alangkah terkejutnya Badrul membaca koran harian hari itu. Badrullah yang kemudian dicari-cari oleh manajer Kopiting. Ada wajahnya di koran tepat di halaman utama. Badrul membacakan judulnya keras-keras kepada isteri dan anak-anakya. Seraut wajah ceria dan senyum gembira terbekas. Mereka segera beranjak pergi memenuhi panggilan terbuka sang manajer.