Al Quran

Al Quran


"Kita tak mustahil mati kafir..." begitu khatib Jumat bilang."...makanya berpeganglah kepada al Quran. Pasti kalian selamat."

Sementara itu, Parto duduk-duduk di luar mesjid ditemani rokoknya yang murahan itu. Semestinya, sebagai laki-laki muslim wajib baginya Jumatan di mesjid, tapi ia malah bersebul-sebul menonton dari luar pagar. Tapi dari raut mukanya, tampak sekali ia sedang serius dan menyimak. Berbatang-batang rokoknya habis. Dia mengotori sekitar mesjid dengan puntung. Saat orang-orang yang pergi Jumatan pulang, Parto masih belum beranjak juga dari duduknya. Tampak ia sedang berpikir keras. Kalau boleh disamakan kepala Parto dengan panci, maka ia adalah panci yang sedang merebus singkong dengan sangat mendidih. Tampak serius sekali.
Semua malaikat tahu. Sejak lahir Parto sudah Islam. Di-Islam-kan oleh bapaknya. Dan bapaknya oleh kakeknya. Kakeknya oleh buyutnya. Begitu seterusnya secara turun-temurun. Tapi, sejak itu pula, meskipun sudah Islam, Parto belum pernah solat. Kalau boleh dinilai, dia nol besar tentang agamanya. Mungkin juga minus. Yang dia tahu hanya bagaimana membuat sumur dan liang kubur karena itulah pekerjaannya sehari-hari.
Pemah terpikir di benaknya saat menggali kuburan. Seandainya ia mati, apakah mati begitu saja dan tidak terjadi apa-apa di dalamnya? Bagaimana dengan kalimat khatib itu:"Kita tak mustahil mati kafir!" batin Parto seperti sedang berdzikir. Kian sering ia membatin seperti itu.
Kita tak mustahil mati kafir. Benar, kita memang tak mustahil bisa mati dalam keadaan kafir. Itu artinya setelah mati pun kita masih ada urusan. Tentu tentang apa-apa yang telah kita lakukan ketika hidup. Pikiran-pikiran inilah yang membuat Parto berhari-hari tampak bingung.
Suatu malam, Parto benar-benar tak bisa tidur. Ia gelisah. Kadang ia duduk, kadang berbaring, kadang juga mondar-mandir. Tampak sekali ia tak tenteram dadanya. Malam itu dengan sarung diikatkan di pinggangnya, ia keluar rumah. Ia menuju ke suatu tempat yang menurutnya menyimpan jawaban atas semua kegelisahannya selama ini.
Di depan sebuah bangunan megah, ia mengendap-ngendap, sepertinya ia takut keberadaannya diketahui orang. Ia merayap sampai berhasil melompati pagar. Dari tempat lain yang remang, tampak beberapa mata mengerling seperti bintang, menyoroti tingkah laku Parto. Tapi, Parto tetap mantap dengan apa yang ada dalam pikirannya. Ia pun berhasil membobol pintunya. Ia masuk. Tampak ia mencari-cari sesuatu. Dalam kegelapan itu tampak senyumnya yang termanis saat melihat sesuatu yang dicarinya. J.a.w.a.b.a.n. Ia raih, kemudian ia bungkus dengan sarung. Ia pun lari sekencang-kencangnya.
Beberapa mata yang sejak tadi siaga, akhirnya punya mulut dan berteriak.
"Maliiiing! Maliiing! Maliiing!" Mereka ramai-ramai mengejar Parto. Beberapa orang memukuli tiang listrik sebagai tanda panik. Orang-orang yang tidur terbangun dan ikut mengejar sambil terus berteriak 'maling.’
Akhirnya Parto terkepung. Ia tak bisa lari. Ia terdesak. Ia tak bisa tidak, harus menyerah karena melawan menurutnya tidak berguna. Tapi, orang-orang itu tak sependapat dengan sikap menyerah Parto. Bagi mereka, siapa yang terkepung itu adalah maling dan maling harus digebukin sampai mampus. Dengan barang bawaan seadanya seperti klewang, pedang, clurit, tombak, pentungan, tongkat besi, linggis, mereka mengeroyok Parto. Mereka menghabisi Parto. Parto pun mati. Beberapa linggis dan pedang sengaja tak mereka cabut dari tubuh Parto. Bagi mereka, Parto memang pantas mendapatkan hadiah itu.
Beberapa orang di antara mereka ada yang belum puas, ada yang beranggapan pekerjaan itu belum selesai. Menurut mereka, ia harus dibakar. Beberapa yang lain penasaran dan melepas sarung yang melilit di pinggangnya. Alangkah terkejutnya mereka saat mereka tahu yang mati mengenaskan itu Parto. Dan alangkah lebih terkejutnya mereka saat mereka tahu kalau yang ada di dalam sarung Parto adalah al Quran.

(Diantologikan pada buku Antologi Cerpen Pendek : Graffiti Imaji, Yayasan Multimedia Sastra, Jakarta. 2002)

TALI POCONG PERAWAN SELASA KLIWON

TALI POCONG PERAWAN SELASA KLIWON






Romo membuka matanya perlahan, namun betapa kagetnya ia menemukan dirinya berubah menjadi seekor kucing yang di mulutnya menggigit kain putih lusuh serupa tali. Ia mengucek-ngucek matanya, mungkin perasaannya salah. Ia juga menampar pipinya sendiri untuk membangun kesadarannya. Ia merasa mungkin efek bangun tidur yang membuat kesadarannya belum pulih betul. Tapi tidak, perasaannya salah, ia tetap seekor kucing yang tiba-tiba menjelma menjadi dirinya.
“Apa yang sebenarnya terjadi?” Ia memaksa duduk, lagi-lagi ia melihat seekor kucing sedang duduk. Ia positif dan yakin dirinya telah menjadi seekor kucing.
“Bapak, bangun! Sudah Siang!” Retno berusaha keras membangunkan suaminya. “Bapak, bangun!” Romo pun terbangun lebih kaget dari sebelumnya. “Apa yang Bapak gigit itu?” Retno bertanya. Tapi, Romo lebih serius menyisir pandangannya dari kaki, tangan, hingga badannya. Perasaan menjadi kucing masih melekat walau sedikit demi sedikit bergeser dari kesadarannya.
“Bapak, apa yang Bapak gigit itu?” Retno mengulang pertanyaannya.
Romo mencoba meraih sesuatu yang disebut-sebut sebagai tali yang digigitnya. “Entahlah, apa ini? Yang jelas Bapak tadi seperti sedang bermimpi. Wujud Bapak telah berubah menjadi seekor kucing. “O iya, sebentar, sepertinya dalam mimpi itu ada bisikan suara. Bapak mencoba mengingat-ingatnya dulu!”
Secangkir kopi panas, melayang dari dapur ke kamar Romo melalui tangan Retno. Aroma yang menebar dari seduhan kopi panas itu meruang memenuhi kamar Romo hingga ke rongga dadanya. Aroma kopi itu mempercepat pulihnya kesadaran Romo sehingga ia mampu mengingat semua yang terjadi dalam mimpinya.
“Tapi, maaf Bu, Bapak belum bisa bercerita apa-apa. Bapak merasa bermimpi aneh saja.” Romo mulai menyembunyikan sesuatu agar isterinya tidak banyak bertanya. Tapi Retno tetap saja bertanya berulang-ulang, dari mana suaminya dapatkan kain putih itu. Romo pun mengalihkan perhatian Retno, anggap saja itu tali sarung guling atau apa. Dan, Retno pun mengiyakan cerita singkat buatan suaminya.
Karena penasaran, Romo tidak masuk bekerja hari itu. Ia mendatangi seorang kawan yang ahli dalam metafisika. Supranatural, atau orang-orang menyebutnya orang pintar. Pucuk dicita, ulam tiba. Bertemulah Romo dengan tujuannya yakni Kyai Mangir, di daerah Mangiran, Jawa Tengah. Kyai Mangir ini, hanya sebutan, tidak ada hubungannya dengan Kyai Ageng Mangir, Ki Joko Mertani, atau Prabu Brawijaya. Sama sekali tidak ada.
Setelah agak lama dan panjang lebar Romo menjelaskan kronologis kain putih itu, Kyai Mangir pun membenarkan kisah Romo. “Ini benar adanya. Apa pun yang dibisikkan suara itu tentang tali pocong ini, benar adanya. Pergunakanlah baik-baik agar yang memberikannya kepadamu sama-sama memperoleh kebaikan. Kebaikan yang kamu lakukan akan menjadi sambungan amal  bagi yang mewariskan tali pocong itu.”
“Terima kasih, Kyai.”
Sepulang dari rumah Kyai Mangir, Romo berlagak tanpa sadar seperti  orang yang habis menonton film action di bioskop. Dadanya jadi membusung. Lagaknya seperti pendekar. Orang-orang terasa kecil di matanya. Badannya seperti mengeluarkan aura putih dan energi yang sangat besar.
Suatu hari, Romo ingin sekali mencoba-coba dengan tali pocong itu. Apa benar apa yang dikatakan Kyai Mangir tentang keramat tali pocong perawan itu? Dengan merapal niat, masuklah ia ke suatu rumah agak jauh dari rumahnya. Rumah itu adalah rumah seorang gadis yang menjadi idola di desa Romo. Siapa pun belum ada yang berani melamarnya. Cantik, putih, cerdas, dan luar biasa anggunnya.
Benar ternyata, Romo memasuki rumah itu tanpa ada yang tahu. Romo seperti aktor dalam film detektif yang memakai baju anti kelihatan buatan CIA. Ia seperti Harry Potter dengan jubahnya. Ia dapat menyentuh apa pun dan mampu melewati siapa pun tanpa kelihatan. Karena penasaran, Romo pun memasuki kamar Sekar.  Sekar sedang menyisir rambutnya di depan cermin. Romo dapat mencium aroma segar yang keluar dari badan Sekar. Kipas angin yang mengeringkan rambutnya pun serasa angin surga bagi Romo. Sekar yang berlilitkan handuk di tubuhnya terlihat seperti bidadari habis mandi. Berkilau seperti bintang baru terlahir dari bunda galaksi.
Romo mendekati Sekar, menatapnya dari arah cermin. Ya Tuhan, matanya itu, seperti kerlipan bintang tanpa awan, batinnya. Lutut Romo gemetar. Tangannya yang mencoba meraih rambutnya pun gemetar hebat. Romo menjadi-jadi rasa penasarannya. Ia pun mencoba menyentuhkan ujung jarinya mendaratkan pelan-pelan di kulit bahu Sekar. Mendadak Romo mendesah tertahan. Seperti kesengat aliran listrik tapi lembut dan nikmat. Sekar tidak merasakan apa-apa, hanya ketika disentuh jari Romo saja ia meneploknya seperti sedang mengusir lalat atau nyamuk.
Romo terduduk di tepian Sekar yang sedang duduk mengeringkan rambut. Romo jarang berkedip. Ia fokus menikmati keindahan ciptaan Maha Seni. Ia menghabiskan waktunya sekedar memandangi pesona Sekar. Rambut Sekar pun mengering. Sekar berganti baju. Sekar siap keluar kamar. Tapi, Romo, apa pun yang dilakukan Sekar direkamnya dengan baik. Mulai dari membuka handuknya, memasang celana dalamnya, memasang branya, baju dan celananya semua Romo rekam dengan rekaman HD di otaknya. Juga dengan softwarenya yang terbaik.
Tiba-tiba Romo tersentak . ia teringat pesan Kyai Mangir. “Pergunakanlah baik-baik agar yang memberikannya kepadamu sama-sama memperoleh kebaikan. Kebaikan yang kamu lakukan akan menjadi sambungan amal  bagi yang mewariskan tali pocong itu.” Ia pun buru-buru meninggalkan kamar Sekar dan pulang ke rumah dengan sedikit menyesal dan penuh kegembiraan.
Di hari lain, Romo memilih lupa pesan Kyai Mangir. Ia mencoba sesuatu yang lain. Sesuatu yang ekstrem.  Kali ini, ia akan mencoba sesuatu sangat menegangkan. Tepat jam tengah malam, Selasa Kliwon, ia jadikan tali pocong itu sebagai sumbu lampu minyak. Sejak dinyalakan lampu itu, terdengar suara tangis dari luar rumah. Sangat jelas. Suara tangis perempuan, nadanya sangat sedih.
Awalnya Romo tidak begitu takut. Lama-lama suara tangis itu membuat tulangnya terasa dingin. “Romo, kembalikan tali pocong saya!” suara dari luar rumah itu menyelinap dengan disertai suara tangis yang menggidik. “Apapun tebusannya saya penuhi. Apapun permintaanmu akan saya lakukan asal kamu kembalikan tali pocongku!”
Tuing, otak Romo langsung menyala. Sepertinya waktu yang tepat untuk mewujudkan keinginannya. Walaupun coba-coba, ia ingin sekali menjadi orang terhormat. Ia ingin sekali menjadi orang kaya di kampung itu. Terkaya, sehingga semua orang akan hormat kepadanya.
Romo terbangun seperti orang bingung. Ia tidak paham sedang ada di mana. Ia tidak merasa sedang di rumah.  Ia tidak merasa sedang bersama keluarga kecilnya. Ia tak lagi mendengar suara Retno. Ia tidak lagi mendengar suara-suara tetangganya yang selalu membuat bising. “Selamat datang Romo!” suara itu menyapanya. Ia teringat dan mengenal suara itu. Ia merasa suara itu seperti suara tangis pemilik tali pocong itu. “Aku sedang berada di mana?”
Senyap.



SAATNYA REVOLUSI

SAATNYA REVOLUSI

Karena rakyat merasa adanya negara dan pemerintah saat ini sangat merepotkan rakyat, selalu membuat rakyat susah, salah satu rakyat kampung Indonesia berteraik: “Ayo, Belanda, datang lagi ke kampung Indonesia, gabung dengan Inggris, Jepang, Amerika, campur Arab dan Cina, daripada kami harus berperang sesaudara! Ayo, datang ke mari lagi, jangan sungkan! Biar kami tumpahkan kemarahan kami yang telah kami simpan di dada. Ayo, datanglah!”
“Bapak, Bapak, bangun!” Isteri Badrul menggoyang badan suami. Badrul terbangun, tapi karena masih tengah malam, ia pun tertidur lagi. Isterinya memaksakan tidur pula.
“Kami sudah kehilangan segalanya, di kampung Indonesia ini! Kami sudah kehilangan jati diri! Kami sudah tidak tahu lagi apakah kami ini termasuk bangsa Garuda atau hanyalah burung Gereja! Kami sudah tidak mengenali diri apakah kami bangsa yang besar atau kecil. Kami tak paham dan tak sadar apakah kami bangsa yang merdeka atau terjajah. Kami juga tidak paham apakah kami negeri tertua atau atau negeri yang masih usia remaja. Bahkan, kami sudah tidak mampu memilih pimpinan kampung Indonesia sehingga kami tidak peduli pemimpin kami itu lahir dari rahim bangsa apa. Dan, kami hanya mampu berteriak di kamar mandi untuk mencetuskan revolusi ini karena pemerintah kampung Indonesia anti rakyat anti pelayan rakyat. Mending jajah kami lagi, datanglah sekutu, datanglah komunis, kepunglah, ajak Amerika, Arab, Jepang dan seluruh bangsa di dunia! Mending kami berperang melawan kalian daripada kami harus saling menumpahkan darah sesama warga kampung Indonesia. Ayo, datanglah!!!”
“Pak, Bapak, bangun! Sadar!!” sang isteri terganggu lagi dengan racaunya Badrul.
“He eh, iya, Bu, maaf!” isteri Badrul kembali memaksakan diri berusaha tidur. Lagi-lagi lebih dulu Badrul yang melanjutkan orasi revolusinya.
Di depan Badrul berdiri berjubel rakyat kampung Indonesia. Begitu pula di belakang dan samping Badrul, penuh manusia. Badrul dengan mata nanar, otot leher yang menonjol, dan air liur yang deras, kembali melanjutkan orasi revolusinya.
“Dengan kondisi yang genting dan mendesak ini, kami suarakan teruntuk Mahkamah Agung, kami beri waktu tidak lebih dari tiga hari setelah hari ini, segera layangkan surat anulir terhadap undang-undang atau peraturan yang anti rakyat kepada pemimpin kampung Indonesia. SE-GE-RA!!!. Kalau tidak, kami tidak akan bertanggung jawab jika kami tidak bisa mengendalikan diri!”
Semua tertegun menyimak orasi revolusi Badrul. Suaranya yang tanpa alat pengeras terdengar hingga sejauh-jauhnya. Badrul seperti sedang membakar-bakar peluru. Meletup-letupkan girah dan semangat mereka yang mendengarkannya. Mereka yang datang mendengarkan orasinya datang dari bergai penjuru kampung Indonesia. Berbagai agama. Berbagai suku. Berbagai idiologi. Berbagai kalangan. Setelah mendengarkan orasi Badrul, badan mereka panas. Panas yang hebat, laki-laki dan perempuan semua merasakan panas yang hebat. Rasa-rasanya seperti ingin mencabik-cabik bajunya sendiri. Dalam pikiran Badrul, waktu itu sebenarnya waktu yang tepat untuk membakar kampung Indonesia.
Tapi, yang terjadi adalah tidak terjadi apa-apa. Badrul sangat kecewa. Tiga hari waktu yang ditetapkan oleh Badrul di depan rakyat kampung Indonesia kepada Mahkamah Agung, tidak ditepati.  Tidak dilayani. Tidak ada tanda-tanda apa pun, Mahkamah Agung melakukan sesuatu yang berarti. Badrul mengumumkan orasi keduanya yang segera dilancarkannya pada hari ke tujuh minggu pertama bulan mendatang.
Warga kampung Indonesia kembali menyiapkan diri melakukan perjalanan menuju lapangan Banteng , tempat Badrul berorasi yang pertama. Tiba hari yang ditentukan, rakyat kampung Indonesia berduyun-duyun berdatangan memadati lapangan Banteng. Badrul sudah siap sehari sebelumnya di tempat itu. Muncullah Badrul mendekati podium besar. Kali ini dia akan menggunakan pengeras suara agar terdengar ke manca negara. Ia pun membuka orasinya dengan SALAM REVOLUSI.
“Sudara-sudara, waktu yang diberikan kepada mahkamah agung telah terlewat sia-sia. Suara kita tidak didengar. Suara kita diabaikan padahal kita yang memberi pekerjaan kepada mereka. Mereka kita yang memberi makan. Mereka telah berkhianat!”
“Sudara-sudara, sesuai dengan janji kita, kita akan melakukan rencana kedua. Kita akan meminta bantu para pemimpin media massa. Pemimpin media massalah yang membuat sejarah kampung Indonesia. Merekalah yang mampu memberikan tekanan revolusi yang kita suarakan. Merekalah yang membuat , mencetak, dan mengumumkan nama-nama para pahlawan bahkan membuat pahlawan dadakan. Kita akan datangi mereka. Kita sudah siapkan konsep negara dan konsep pemerintahan berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 yang murni dan asli. Bukan undang-undang yang telah dikebiri, bukan pula Pancasila yang berlambangkan burung gereja. Kita bagi yang hadir kali ini menjadi lima kelompok besar. Pada hitungan ketiga, bentuklah yang hadir hari ini, di depan, di samping, dan belakang saya ini, menjadi lima bagian. Satu, dua, tiga!”
Terbagilah hadirin menjadi lima kelompok besar yang imbang tanpa ragu. Kemudian Badrul menyebarkan kepada lima kelompok tersebut lembaran-lembaran yang berisi konsep revolusi kampung Indonesia Baru. “Bagaimana pun caranya, konsep revolusi yang  Sudara-Sudara pegang harus sampai ke alamat. Ketika sudah  sampai ke tujuan dan menemui para pimpinan media, Sudara-Sudara wajib menunggu hingga ada jawaban resmi dari pihak media. Apa pun jawaban mereka nanti, kita akan putuskan langkah berikutnya di sini, pada hari ini! Bukan besok! HARI INI!!!”
Menyebarlah mereka segera dengan patuh. Badrul seperti Gajah Mada atau Bung Tomo ketika mengusir Inggris dari Surabaya. Ia juga seperti Soekarno, ketika pidato ‘Ganyang Malaysia.’ Ia juga seperti Sudirman. Ia seperti macan yang kelaparan. Ia seperti rajanya setan atau iblis. Ia seperti induk ayam betina yang anak-anaknya terancam bahaya. Ia seperti beruang yang terluka. Ia seperti apa saja yang mampu meledak atau menerkam tiba-tiba.
Luar biasa sekali kharismanya. Jumlah yang hadir untuk mendengarkan orasi revolusi Badrul lebih besar daripada aksi damai 411 dan 212. 412 dan 212 jika dijumlahkan pun masih jauh lebih besar jemaah Badrul. Karena mungkin mahkamah agung menganggap Badrul gila, tidak ada pengaruh apa-apa jika mahkamah agung mengabaikan orasi Badrul. Pemerintah setempat atau pusat juga tidak banyak yang menganggapnya itu merupakan ancaman serius bagi kelanggengan kekuasaannya. Biar saja. Nanti kalau sudah capek pasti berhenti dengan sendirinya, pikir mereka.
Tapi tidak demikian halnya dengan watak Badrul, selama niat revolusi telah mambakar jiwanya, pantang baginya membunuh api yang sudah membesar dan siap menjadi petir yang luar biasa dahsyat. Ia adalah Gajah Mada, ia adalah Soekarno, ia adalah Bung Tomo, dan ia adalah Sudirman. Badrul adalah seperti mereka yang memiliki kehormatan.
Usaha isteri Badrul untuk tidur gagal semalaman. Ia tidak bisa tidur dengan kondisi kasur berguncang. Dalam tidur, suaminya tampak sesekali kejang, meracau, menerjang-nerjang, mengepal-ngepalkan tangannya. Sesekali mendengkur keras. Benar-benar situasi yang tak nyaman. Isterinya benar-benar merasa terganggung haknya. Tapi, mau pindah ke mana lagi? Anaknya dengan Badrul sudah memenuhi rumah. Padahal pagi-pagil sekali ia harus bangun menyiapkan anak-anaknya siap bersekolah. Setelah itu ke pasar, berbelanja semua keperluan warung sotonya dan tak lupa membuatkan suaminya secangkir kopi panas serta rokok harus ada. Kalau tidak, maka rumah itu akan ramai dan bising.
Kembali ke perjalanan Badrul. Lima kelompok yang telah dibaginya menyatakan gagal memperoleh jawaban kata sepakat dari para pemimpin media. Badrul pun marah. “Dasar kapitalis! Sudah cukup, Sudara-Sudara! Orasi ini telah cukup. Kita telah cukup terbakar jiwa dan raga kita dengan situasi seperti ini. Waktu kita lancarkan jalan akhir!” Badrul berhenti bersuara. Suasana menjadi senyap tiba-tiba. Mereka yang menunggu suara Badrul saling toleh menoleh, penasaran suara apa yang akan diledakkan oleh Badrul.
Semenit telah lewat. Badrul tetap berdiri di podiumnya. Seperti malam Lailatul Qadar. Alam terasa berhenti beraktivitas. Udara tak mau menjadi angin. Daun-daun enggan melambai. Suara satwa yang biasanya berzikir pun terdiam. Nafas-nafas mereka tertahan, menanti. Apakah gerangan yang akan dicetuskan oleh Badrul? Suara hati mereka seragam bertanya. Waktu sudah lewat menit ke dua, ke tiga, dan ke lima. Tepat pada menit ke tujuh, terdengar suara mik menyala mendenging.
“Sudara-Sudara, sebagai akhir dari kebuntuan langkah kita, maka tepat malam ini, saya umumkan bahwa saya telah memiliki data akurat mengenai siapa-siapa yang paling bertanggung jawab atas tidak amannya kampung Indonesia ini.; tidak amannya nyawa rakyat kampung Indonesia ini; tidak amannya martabat bangsa kampung Indonesia ini; dan tidak amannya harta rakyat kampung Indonesia ini. Dengan ini pula saya sampaikan kepada Sudara-Sudara bahwa malam ini pula telah hadir bersama kita para dukun sakti dari seluruh pelosok kampung Indonesia dan beberapa impor dari pedalaman negara-negara di dunia. Malam ini, Selasa Kliwon, kita akan memberikan kepercayaan kepada para dukun sakti tersebut untuk menyantet secara massal nama-nama yang ada pada lembaran yang saya pegang ini. Setuju?”
“Setuju!!!”

Byuuur! Badrul terbangun terkaget-kaget. Keringatnya yang panas bercampur dengan siraman seember air hadiah dari isterinya. Badrul tidak protes dengan nasib dirinya. Dia hanya diam. Kesadarannya belum pulih.
PASUKAN GAJAH MAJAPAHIT

PASUKAN GAJAH MAJAPAHIT

Gajah Mada berdiri tegap di tengah-tengah rakyat Majapahit dan dengan lantang mengucapkan sumpahnya.  "Jika aku telah mengalahkan Nusantara, aku (baru akan) melepaskan puasa. Jika aku telah mengalahkan Gurun, Seram, Tanjung Pura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, demikianlah aku (baru akan) melepaskan puasa." Artinya selama belum menyatukan dan mengalahkan kerajaan-kerajaan lain di dunia, maka ia tidak akan berhenti berperang.
Kemudian dengan lantang pula ia mengingatkan, ”Aku Gajah Mada, memerintahkan kepada seluruh keluarga besar kerajaan dan rakyat Majapahit, tolong dengarkan baik-baik dan camkan! Sampaikan kepada keluarga dan anak-anak cucu kalian bahwa Majapahit besar bukan karena Gajah Madanya, Majapahit besar bukan karena raja dan kekuatannya, tapi Majapahit juga besar karena pasukan Gajahnya.” Suara Gajah Mada lantang, membumi, memekik setelah memproklamasikan Sumpah Palapa.
Pernyataan dan Sumpah Palapa tersebut dikumandangkan setelah memenangkan perang terhadap Kerajaan Siam, yang sekarang bernama Thailand. Kemenangan Majapahit membawa perubahan besar terhadap kemajuan kerajaan Majapahit. Beberapa bidang berkembang dengan pesat. Di antaranya, kian majunya bidang perdagangan, bidang pertahanan dan strategi perang, serta yang tak kalah pentingnya adalah bidang kesenian dan kebudayaan.
Oleh-oleh kemenangan atas Siam, pasukan Majapahit membawa banyak rampasan perang antara lain 300 ekor Gajah Putih, beberapa ilmuan perang gerilya, beberapa ahli bidang ilmu seni dan budaya, dan seperangkat gamelan. Kekalahan Siam tanpa banyak korban jiwa. Beberapa hari pertempuran telah membuat Raja Siam menyerah dan tunduk di bawah kekuasaan kerajaan Majapahit. Raja dan permaisuri Siam serta beberapa keluarga dan pejabat tinggi kerajaan selamat. Kemenangan kerajaan Majapahit atas Siam diabadikan dalam prasasti bernama “P̣hāy tı̂ r̀āngkāy læa cit wiỵỵāṇ” (dalam bahasa Wannayuk, Thai) yang artinya tunduk jiwa dan raga demi kejayaan Majapahit.
Gajah Putih hasil rampasan perang dari Siam merupakan aset yang sangat berharga bagi Majapahit. Gajah Mada dengan pasukan Bhayangkaranya telah mengantarkannya menjadi mahapatih kerajaan Majapahit yang paling ditakuti oleh kerajaan mana pun. Ke-300 gajah putih tersebut menjadi bagian penting dari pasukan Bhayangkara. Pasukan gajah putih selalu dalam posisi terdepan dalam pasukan. Selalu menjadi penghancur utama kekuatan musuh.
“Seandainya Gajah Mada tidak berinisiatif untuk membawa kawanan gajah putih itu, tak mungkin kita mempunyai gajah di masa depan!” tutur Tribuwana Tunggadewi kepada para keluarga istana. Kemudian ia melanjutkan, “Gajah di masa mendatang akan menjadi simbol kekuatan, kebesaran, kejayaan, dan tangguhnya peperangan. Suatu hari nanti akan kuciptakan sebuah alat permainan strategi perang yang di dalamnya ada unsur raja, permaisuri, mahapatih, menteri, kuda, benteng, dan prajurit pada sebuah papan permainan.”
“Apakah nama alat permainan itu, prabu?” salah seorang kerabat istana bertanya.
“Entah akan kita beri nama apa permainan itu nanti, yang jelas siapa pun yang ahli dalam permainan itu akan menjadi menteri atau mahapatih yang ulung dan cerdas dalam strategi peperangan.” Hebatnya keistimewaan gajah tersebut memberikan kekuatan besar pada kerajaan  Majapahit memperbesar wilayah kekuasaannya. Seperempat bagian bumi tunduk patuh di bawah kekuasaan Majapahit.
Kejayaan Majapahit kemudian, beralih kepada raja berikutnya yakni Hayam Wuruk. Pada masa Hayam Wuruk perihal gajah ini lebih berkembang lagi keistimewaannya. Gajah pada masa itu kemudian menjadi menjadi simbol kerajaan, arca, dan stempel bahkan bendera pleton pasukan kerajaan. Gajah juga menjadi nama para menteri, para patih, menjadi lima patok kerajaan Majapahit yang tersebar di lima wilayah yaitu patok Sadeng, patok Ujung Galuh (sekarang Surabaya), patok Singasari, Tumapel, Doho (Kediri), dan kelima yang merupakan pancernya adalah di Trowulan, pusat kerajaan Majapahit.
Kelima patok tersebut merupakan tiang besar tempat menyancang gajah. Kelimanya merupakan simbol keistimewaan angka 5. Patok-patok tersebut juga sebagai tetenger atau tanda bahwa kerajaan Majapahit tidak akan pernah tergeser oleh kekuatan apa pun. Sosok gajah juga kemudian dijadikan lambang pada prasasti-prasasti yang diterbitkan oleh kerajaan Majapahit secara resmi. Demikianlah tutur yang disampaikan Hayam Wuruk.
Nama besar Gajah Mada dengan pasukan gajah dan Bhayangkaranya lebih lantang terdengar dan terkenal dibanding dengan raja Majapahit. Gajah Mada dan Hayam Wuruk menjadi awal sejarah perseteruan dari kalangan internal kerajaan Majapahit. Dimulailah peperangan antar saudara yang merubuhkan lima patok cancangan gajah. Banyak pemberontakan terjadi dipicu dari dalam istana. Pemberontakan Ronggolawe, pemberontakan Ra Kuti, dan pemberontakan Lembu Sora.
Pemberontakan oleh Lembu Sora inilah yang akhirnya menenggelamkan keistimewaan gajah yang melekat pada nama Gajah Mada dan gajah yang menjadi patok kekuatan kerajaan Majapahit di lima wilayah. Walaupun perang adu kekuatan tetap dimenangkan Gajah Mada selaku mahapatih kerajaan Majapahit, tapi perang secara supranatural telah dimenangkan oleh Lembu Sora.
Saat mahapatih Gajah Mada menancapkan sebilah keris tepat di dada Lembu Sora, maka saat itulah Lembu Sora mengutuk Majapahit dan Gajah Mada dengan kutukan. “Seksenono yo, poro danyang sing mbaurekso gunung Kelud iki yen Kelud njeblug Blitar bakale dadi latar, Tulungagung bakale dadi kedung, Kediri bakale dadi kalim Sidokare (sekarang bernama Sidoarjo) bakale dadi rowo, lan Ujung Galuh (Surabaya) mbalik nyang asale.” Yang artinya: “Saksikan ya, para lelembut yang menguasai gunung Kelud. Kelak ketika gunung Kelud meletus, Blitar akan menjadi pelataran; Tulungagung akan menjadi danau; Kediri menjadi kali; Sidokare menjadi rawa. Ujung Galuh kembali ke asalnya.”

Pada masa itu, hanya ada dua kerajaan besar yang ditakuti dunia, yakni kerajaan Majapahit dan Tiongkok, Cina. Namun, sejak kutukan Lembu Sora, lima patok cancangan gajah, seperti yang disebutkan Lembu Sora, runtuh. Kejayaan Majapahit yang ratusan tahun, runtuh dalam lima tahun dalam perang Paregreg. Dan Majapahit yang besar, akhirnya jatuh lumpuh dengan berdirinya kerajaan Demak.