Di Kertas Itu Aku Dinyatakan Telah Mati

Di Kertas Itu Aku Dinyatakan Telah Mati

Tanpa salam, Karnos langsung duduk di ruang tamu. Ibu mertuanya muncul dengan sapaan khasnya. “Ada apa menginjakkan kaki di rumah ini lagi?” sapaan itu bagi Karnos sudah biasa. Mungkin bagi orang yang bukan Karnos tidak sehat dan menyakitkan. Bagi Karnos sapaan seperti itu terdengnar seperti ucapan selamat pagi, selamat siang, atau hi, how are you. Bayangkan saja,  seorang mertua perempuan dengan hanya berdiri tanpa memandang dengan posisi badan menyamping dari wajah Karnos menyapa dengan ‘sangat lembut.’ Tapi, yang menghadapinya ini Karnos. Orang yang sudah kenyang diperlakukan seperti itu. Sambil merokok dengan kaki masih jigang, Karnos menyambut sapaan mertua perempuannya.
                “Bapak ada?”
“Untuk apa mencari Bapak?” sahutnya masih sangat ‘lembut.’
“Saya ada perlu dengan Bapak!”
“Ada perlu apa lagi? Kan sudah clear?”
“SAYA ADA PERLU DENGAN BAPAK!!!” Suara Karnos mulai digas sehingga istri Karnos pun keluar begitu pula dengan mertua laki-laki yang dipanggilnya Bapak.
“Ayah ada apa?” Istri Karnos bertanya dengan lembut mencoba mendinginkan kulit suaminya.
Belum sempat dijawab pertanyaan istrinya, mertua laki-laki itu pun menanyakan kalimat yang sama. ADA APA, tapi dengan nada tiga oktaf. Sang mertua laki-laki duduk berhadapan dengan Karnos. Gaya duduk dan raut wajahnya seperti orang yang menantang.  Dadanya melengkung ke atas dan dagunya terangkat.
Karnos melempar selembar Kartu Keluarga (KK) ke meja ke arah mertuanya. “Saya Cuma mau bertanya apa benar apa yang tertulis di situ?”
Tanpa melihat kertas yang tergeletak di meja sang mertua menjawab, “Apanya yang salah? Semua benar!”
“Coba lihat lagi yang jelas pada kolom terakhir! Apa benar begitu?” Karnos setengah memaksa.
Dengan sangat terpaksa juga karena penasaran sang mertua membaca KK yang dilempar Karnos tadi, tapi tetap menjawab SEMUA SUDAH BENAR. “Sudah, benar?” Karnos mengulang dan mempertajam intonasi.
“Iya, apanya yang salah?”
“Baik, kalau semua itu benar, mulai detik ini saya minta Bapak memberikan surat resmi kematian saya!”
“Lho, ada apa Ayah?” tanya istri Karnos kaget dan raut wajahnya mengkerut seketika.
“Kamu belum lihat atau pura-pura tidak tahu?”
“Benar Ayah, aku tidak mengerti. Ada apa?”
“Coba baca KK itu!”
KK itu diambilnya dari tangan bapaknya dan ia pun langsung menangis.
Tanpa menghiraukan air mata sang istri, Karnos melanjutkan pembicaraan dengan sang mertua. “Bapak saya beri waktu satu hari mulai detik ini untuk membuat surat resmi atas kematian saya sesuai dengan yang tertulis di KK itu. Kalau tidak, Bapak saya tuntut telah mencemarkan nama baik dan telah dengan sengaja membunuh saya hidup-hidup!”
Sang mertua tampak gelisah. Mungkin juga lagi cari akal untuk menjawab pertanyaan menantunya. Istri Karnos masih menangis sambil memegangi tangan suaminya. Tidak sepatah kata pun lagi keluar dari mulutnya. Sang mertua perempuan juga diam sehingga suara yang ditunggu-tunggu hanya dari mertua laki-laki.
“Bapak tadi bilang bahwa semua yang tercantum di KK itu benar. Jadi kapan pastinya saya mendapatkan surat resmi kematian saya?”
“Ini kesalahan ketik pihak kelurahan!”
“Tidak mungkin Pak. Sebelum saya ke sini menanyakan kepada Bapak, saya sudah ke pihak kelurahan. Saya juga sudah bertemu dengan pihak kecamatan. Bahkan saya juga telah menemui pihak catatan sipil bahwa Bapak yang mengusulkan perubahan KK itu. Dan saya tahu betul tulisan itu tulisan Bapak. Apa perlu saya datangkan orang-orang kelurahan?”
“Tidak mungkin, ini pasti salah ketik!”
“Tidak bisa, Pak. Bapak orang berpedidikan dan lebih dewasa dari saya. Masak tidak bisa membaca dan menulis dengan jelas ketika mengusulkan perubahan KK? Dan orang-orang kelurahan juga kecamatan saya  kira bukan orang yang bodoh yang mengetik usulan Bapak dengan terpejam.”
“Saya beri Bapak waktu sampai besok pada jam yang sama dengan sekarang. Bapak harus sudah menyiapkan surat resmi kematian saya. Wassalam!” Karnos langsung pergi dengan tidak lupa mengambil sebungkus rokok yang ia letakkan di meja tadi.
“Ayah,” istri Karnos masih berlinang air mata. Ia menarik tangan Karnos, tapi tak mampu menahannya pergi.
Ternyata, dalam KK itu status istri Karnos adalah CERAI MATI. Wao! Ini bukan sebuah cerita fiktif. Ini benar-benar terjadi. Bahwa di dunia ini, ada manusia yang berani membuat status manusia lainnya menjadi MATI. Bahwa di dunia ini, ada seorang manusia yang begitu tega mencerai anak dan menantunya. Tapi aneh juga ya? Mengapa pihak kelurahan atau kecamatan tidak meminta surat resmi kematian Karnos? Menurut Karnos, orang kelurahan bilang mertuanya meminta segera dibuatkan untuk persyaratan kuliah anaknya. Mertuanya juga bilang sehari sesudah itu akan disusulkan surat resmi kematian Karnos. Mari kita analisis. Dapatkah hal itu dibenarkan secara akal dan hukum? Sepertinya tidak mungkin pihak kelurahan menerbitkan perubahan KK tanpa bukti fisik surat resmi kematian. Kecuali: satu, pihak kelurahan telah mendapat angpau. Dua, mereka mempunyai hutang jasa yang tak mungkin terbayar kepada sang mertua Karnos. Tiga, mereka sangat bodoh tidak tahu tentang aturan tapi kalau mereka bodoh apa mungkin menjadi pejabat kelurahan? Kalau ternyata jawabannya seperti nomor satu, berarti pihak kelurahan, kecamatan, dan catatan sipil daerah semua mendapat angpau. Kalau jawabannya alternatif kedua tampaknya tidak mungkin. Tidak mungkin  semua pihak tersebut mempunyai hutang jasa kepada sang mertua Karnos. Kalau ketiga, bisa terjadi bahwa semua pihak itu memang bodoh-bodoh.
Sehari setelah kejadian itu, Karnos kembali ke rumah mertuanya. Ia menagih surat resmi kematiannya. Sang mertua tidak bisa memberikan surat yang dimaksud.
“Kalau begitu,” kata Karnos, “saya minta Bapak urus KK itu kembali seperti semula. Dan saya tunggu di sini. Kalau Bapak tidak sanggup, saya sendiri yang akan urus.”
Sang mertua terdiam. Metua laki-laki dan perempuan hanya bisa terdiam. Sang istri Karnos juga tidak bisa berkata apa-apa. Keluarga macam apa itu? Bisakah disebut keluarga? Menurutku sih lebih cocok kalau sekawanan dan atau segerombolan daripada keluarga. Kok bisa ya sekawanan itu membuat skenario penceraian hingga terbit surat cerai dengan status cerai mati? Apakah sang mertua itu mengaku tuhan sehingga bisa membuat siapa saja menjadi mati hanya dengan selembar kertas? HEBAT. SALUT.
Secara resmi Karnos telah digugat cerai oleh istrinya. Dunia memang terbalik. Posisi talak sebenarnya menjadi wewenang sang suami, tapi khusus kasus ini istri dengan tangan mertuanyalah yang bisa membuat yang tidak mungkin menjadi benar-benar terjadi.  Dari sisi hukum, sebenarnya mudah dibuatkan surat resmi kematian Karnos. Tinggal bayar orang dan bunuh Karnos tanpa jejak. Kemudian, buatkan surat  resmi kematiannya dengan mengubah tanggalnya sesuai yang diinginkan dengan cara sedikit mengeluarkan kocek.  Beres. Bisa jadi kronologis pikiran jelek ini sudah ada dibenak mertua Karnos. Mungkin belum sempat dieksekusi sudah lebih dulu ketahuan Karnos. Terlambat. Tapi, kalau itu benar-benar terjadi dan tercium hukum, sang mertua sekawanan bisa terjerat pasal pembunuhan berencana. Pasal 340 KUHP menyatakan: “Barang siapa sengaja dan dengan rencana lebih dahulu merampas nyawa orang lain diancam, karena pembunuhan dengan rencana (moord), dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu, paling lama dua puluh tahun.” Mengerikan!
Kembali ke rumah mertua Karnos.
“Saya sedang menunggu, Paaak?” Karnos mulai berteriak.
Bapak mertua diam saja, tapi tampak terlihat kaget saat Karnos teriak. Karena tidak sabar dengan sikap mertuanya itu Karnos dengan sedikit menggertak meminta KK itu. “Mana KK nya?” KK yang dipegang mertuanya direbutnya.
Kemudian, ia mengarahkan telunjuk kirinya ke arah istrinya dan lantang sekali berkata: “Kamu ikut tidak? Kalau tidak ikut, berarti jatuh talakku. Kuhitung sampai tiga. Satu, ….” Sebelum Karno melanjutkan berhitungnya, sang istri bangun masih dengan linangan air mata. Karnos sudah tidak sabar, dengan kelemahlembutan istrinya, ia pun segera menariknya pergi dari rumah itu.
Tanpa salam tanpa pamit, Karnos langsung pergi. Seperti sebuah sinetron sangat seru. Tiba-tiba listrik padam. Begitulah Karnos. Hingga saat ini pun, Karnos dan istrinya tidak pernah menginjakkan kakinya lagi di rumah mertuanya. Batinnya berbisik, ia hanya akan menginjakkan kakinya di tanah pemakaman sekawanan itu.


Ngamen Gratis, Mekso Karepmu!

Ngamen Gratis, Mekso Karepmu!

“Ngamen gratis, mekso karepmu!” begitu tulisan yang dibaca anakku tepat di pagar rumah yang kami lewati. Anakku berpendapat itu hal yang kasar dan kejam. Entah karena alasan malas membawakan rejeki si pengamen, membuka pintu rumah, menuju pagar, dan menyerahkan rejekinya; atau memang sebenarnya pelit sekeluarga dan merasa hartanya terbebas dari hak milik orang lain. Begitu kira-kita aku memberikan penjelasan yang singkat.
“Semestinya, tidak seharusnya begitu, ya Yah?” anakku sepertinya menyesalkan.
Aku hanya mengiyakan dengan sedikit rasa humor kulanjutkan begini. Seharusnya di pintu pagar itu dibuatkan kotak dengan tulisan, “Pengamen, silakan ambil seribu rupiah saja hari ini saja!” Sediakan saja misalnya sepuluh ribu rupiah dengan pecahan seribuan. “Gimana kalau pengamennya tidak jujur, Ayah? Dan mengambil semua uangnya.” Ya, biarkan saja. Berarti si pengamen tidak jujur atas rejekinya. Dia mengambil rejeki si pengamen lainnya. Kalau si pemilik rumah berpikiran dan berprasangka seperti itu, berarti tidak ikhlas.
“Terus kalau uangnya sudah habis gimana? Kan kasihan pengamen lain jadi kecewa setelah merogoh kotaknya?” iya juga sih. Biarlah, Nak! Yang penting kita tidak boleh melakukan seperti itu. Tidak ada salahnya kita bilang maaf kepada mereka jika kita memang tidak berniat dan berminat memberikan sebagian kecil rejeki kita. Sebenarnya eman lho, kita memberi sedikit rejeki kita selain mendapatkan pahala, kita juga dapat banyak hal.
“Contohnya apa, Yah?”
Contohnya, kita akan diberikan rejeki sehat. Kita akan jarang sakit. Kita juga akan dipanjangkan umur oleh Tuhan. Dan satu hal lagi, si pengamen itu mendoakan kita. Pasti doa yang baik-baik. Enak, kan? Hanya dengan bermodal seribu atau dua ribu, kita sudah mendapatkan doa gratis.
“Gimana kalau pengamen hanya berdoa tidak dari hati, hanya sekedar menghibur kita, Ayah?”
Tidak masalah, Anakku. Doa pura-pura dari mereka juga didengar Tuhan, kok. Itu pasti. Makanya, kita kudu hati-hati dalam berdoa, karena doa dalam keadaan bergurau pun Tuhan bisa saja kabulkan. Masih ingat cerita Ayah tentang seorang yang tekun ibadah dan berdoa agar bisa makan setiap hari tiga kali tanpa harus repot-repot bekerja? “Pasti, Ayah, aku selalu mengingatnya. Dan orang yang berdoa itu akhirnya masuk penjara, kan? Dan bisa makan tiga kali sehari tanpa bekerja!”
Betul, betul. Kami pun tertawa. Anakku cerdas. Semoga kamu jadi cahaya mata dan hati keluarga, Nak. Doaku dalam hati.
“Yah, gimana kalau kita memberi pengamen sesuatu tapi kita tidak ikhlas? Misalnya orang yang punya rumah tadi itu, kadung buat kotak dengan isi sepuluh ribu setiap hari. Tapi karena banyak pengamen yang tidak jujur, si pemiliki rumah akhirnya tidak ikhlas. Apakah akan dapat pahala?” Pahala sih, mungkin tidak ya, tapi Tuhan akan mengganti apa yang mereka keluarkan sebanyak uang yang mereka berikan kepada si pengamen. Tidak ada bonus. Tidak lebih. Seandainya ia ikhlas, pasti banyak bonusnya.
“Terus, sekarang kan banyak pengemis, Yah. Gimana kalau seandainya mereka sebenarnya kaya raya? Apakah Tuhan akan tetap memberikan pahala kepada kita?” Ketika mereka menadahkan tangan, berarti mereka termasuk orang-orang yang tangannya di bawah. Kita tangan di atas atau yang memberi. Apapun yang kita berikan kepada mereka dengan ikhlas sekecil apapun akan tercatat sebagai amal, Nak. Tuhan akan melipatgandakan pahalanya. Kita akan dapat banyak bonus. Transaksi dengan Tuhan tidak pernah ada ruginya. Yakinlah!

“Baiklah, Ayah!”
TVRI DAN DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN DULU KREATIF

TVRI DAN DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN DULU KREATIF

Dulu, ada banyak produksi acara televisi yang mendidik. Paling tidak minimal sebagai penghibur. Saluran televisinya dulu juga masih satu, Televisi Republik Indonesia yang kemudian disingkat TVRI. Mulai dari masa televisi hitam putih hingga berwarna. Warga Indonesia pun dulu hanya sebagian kecil yang memilikinya. Warga yang memilikinya dulu dianggap sebagai orang yang kaya. Rumah orang yang memiliki televisi dulu sehabis Maghrib selalu dikunjungi para tetangganya. Mulai anak-anak hingga kakek-nenek. Semua begitu mesra menggelar tikar berkumpul saling santun hanya untuk menonton acara-acara televisi. Bahkan satu RT bisa berkumpul dengan damai.
Secara garis besar acara TVRI dibagi menjadi beberapa bagian. Ada acara untuk anak-anak, acara berita, acara pendidikan, filler, hiburan, olah raga, religi, sinetron, sosial, talkshow, dan variety. Acara-acara TVRI waktu itu sangat menarik. Mungkin juga karena tidak ada acara lain yang menandinginya. Ada ACI (Aku Cinta Indonesia), Film SI Unyil, Film Sengsara Membawa Nikmat, Siti Nurbaya, Senam Pagi Indonesia, Srimulat, Rumah Masa Depan, Jendela Rumah Kita, Apresiasi Film Indonesia, Serial Losmen, Penginapan Bu Broto, Ria Jenaka, keluarga Cemara, Serial Keluarga Rahmat, Berpacu Dalam Melodi, Nostalgia SMA Kita, dan sebagainya. Ketika listrik padam, mereka pun menggerutu karena mereka merasa telah kehilangan momen berharga.
Rata-rata acara dan film pada masa itu memang selektif dan untuk semua kalangan usia. Adapun kalau ada adegan yang tidak berkenan, anak-anak mereka dampingi dan diberinya penjelasan. Benar-benar wajah Indonesia yang dirindukan kebersamaan dan kemesraannya. Salah satunya didukung oleh acara-acara televisi yang hiburannya mendidik.
Bagi yang kelahiran di atas tahun 1970 bisa menonton acara-acara tersebut pada masa itu. Itulah acara-acara yang sangat diminati waktu dulu karena selain menghibur memberikan pesan-pesan positif. Beberapa acara dan film tersebut merupakan hasil kerjasama dengan kementerian pendidikan bahkan ada yang memang murni kreasi dari kementerian pendidikan waktu masih bernama Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Selain beberapa produksi acara di atas, yang terkenal pada masa itu pula adalah Dunia Dalam Berita. Acara yang menjadi favorit kedua setelah acara hiburan. Acara tersebut menyajikan berita yang selektif dan obyektif. Adil dalam pemberitaan dan akurat. Pengetahuan-pengetahuan yang menjadi konsumsi publik waktu itu salah satunya bersumber dari Dunia Dalam Berita. Dalam acara berita tersebut terdapat beberapa sekuen yakni berita nasional, international, berita olahraga, dan perkiraan cuaca.
Sedangkan film seri yang populer pada masa itu—buatan departeman pendidikan dan kebudayaan—adalah ‘Jendela Rumah Kita, Rumah Masa Depan, dan Keluarga Cemara.’ Ketiga film seri tersebut penuh dengan muatan karakter yang bagus. Cocok untuk media penanaman karakter anak-anak. Untuk yang belum sempat nonton film-film seri tersebut bisa ditelusur di youtube dengan mengetikkan judul film seri tersebut. Memang jaman dulu (jadul) tapi tontonlah mungkin jadi inspirasi untuk masa depan.
Sayangnya, departeman pendidikan dan kebudayaan yang sekarang bernama kementerian pendidikan dan kebudayaan tidak sekreatif dulu. Kementerian pendidikan sekarang sibuk mengaduk-aduk kurikulum pendidikan. Sibuk dengan menghitung-hitung jam mengajar guru. Sibuk dengan semua yang berbau administrasi. Bahkan sibuk membuat ancaman bagi guru yang tidak memenuhi jumlah jam mengajar harian.
Selain acara televisi buatan Indonesia, acara televisi masa dulu juga diwarnai dengan produksi luar negeri yang juga mendidik seperti Oshin, Little House on Prairie, Bionic Woman, Bonanza, Hunter, Six Million Dollar Man, Full House, Little Missy, Chips, Land of the Giant, BJ and the Bear, Rin Tin-Tin, The A Team, dan sebagainya. Benar-benar menarik dan selektif editornya. Silakan yang mau mengenang masa lalu atau ingin menonton pertama kalinya jelajah di youtube ketikkan judulnya. pasti menarik.

Acara-acara yang ditayangkan TVRI itulah yang banyak memberikan gizi karakter kepada anak-anak bangsa yang sukses pada zaman sekarang. Mereka hidup dengan tontonan-tontonan masa lalu yang memberikan banyak tuntunan perilaku sosial yang sangat Indonesia, sangat nusantara sekali. TVRI kini telah tenggelam, begitu juga kementerian pendidikan dan kebudayaan sekarang. Tidak lagi produktif dan sekreatif dulu. Kembalilah TVRI, kembali kementerian pendidikan dan kebudayaan. Media massa sekarang telah banyak meracuni generasi muda. Saatnya revolusi.
FILOSOFI BAJU KOTAK-KOTAK JOKOWI

FILOSOFI BAJU KOTAK-KOTAK JOKOWI

Orang-orang yang aneh. Siapakah orang-orang yang aneh itu? Orang-orang yang aneh itu adalah orang yang suka berceramah tentang agama di rumah orang yang beragama lain. Orang-orang yang aneh itu adalah orang-orang yang tidak pernah menganggap orang lain ada karena perbedaan agama, tapi orang-orang yang aneh ini memanfaatkan fasilitas apa pun milik orang-orang yang berbeda agama. Orang-orang yang aneh itu adalah orang-orang yang mencaci maki orang lain yang berbeda agama, tapi ia suka dengan barang-barang orang yang berbeda agama. Orang-orang yang aneh adalah orang yang mencela orang-orang yang seagama karena berteman dengan orang-orang yang berbeda agama.
Loh, kok bilang begitu? Apa buktinya? Mau bukti? Baiklah.
Orang-orang yang aneh itu adalah orang yang suka berceramah tentang agama di rumah orang yang beragama lain. Orang-orang pada berceramah agama di facebook, di intagram, di twitter, dan media sosial yang lain, sementara media sosial yang dijadikan tempat mereka adalah buatan dan milik orang yang berbeda agama. Tanpa menganggap mereka ada, tanpa menganggap mereka manusia, dan bahkan tanpa terima kasih telah membuatkan mereka panggung untuk ceramah. Orang-orang yang aneh itu adalah orang-orang yang tidak punya rasa malu menjelek-jelekkan orang-orang yang berbeda agama di dalam rumah mereka. Padahal mereka menyaksikan semua yang orang-orang aneh lakukan.
Orang-orang yang aneh itu adalah orang-orang yang tidak pernah menganggap orang lain ada karena perbedaan agama, tapi orang-orang yang aneh ini memanfaatkan fasilitas apa pun milik orang-orang yang berbeda agama. Fasilitas yang paling fital dan fatal adalah akses internet, mesin pencarian, serta bloging. Mereka juga memanfaatkan fasilitas apapun dari orang yang berbeda agama. Apapun yang orang-orang aneh ini lakukan diketahui dengan jelas karena semua akses dan fasilitas adalah buatan mereka. Seolah-olah orang-orang yang aneh ini mencari maki seseorang yang orang yang dicacimakinya ada di depannya ada di dalam rumahnya.  Tanpa menganggap mereka manusia, dan tanpa kata maaf telah melukai hatinya.
Orang-orang yang aneh itu adalah orang-orang yang mencaci maki orang lain yang berbeda agama, tapi ia suka dengan barang-barang orang yang berbeda agama. Hampir semua yang mereka pakai adalah buatan mereka yang berbeda agama. Barang apa yang tidak buatan mereka? Bahkan bila anda membaca ini, saya yakin ada yang sadar bahwa ia membaca di ruang yang disediakan oleh orang yang beragama lain. Tidak serta merta ada di depan mereka. Paling tidak bersikaplah sedikit bijaksana berdasarkan rasa kemanusiaan.  Rasa terima kasih seharusnya ada sebagai penghormatan kemanusiaan apalagi sebangsa.
Orang-orang yang aneh adalah orang yang mencela orang-orang yang seagama karena berteman dengan orang-orang yang berbeda agama. Saudara  seagama saja dibenci dan dicaci maki apalagi yang berbeda agama? Benar-benar aneh.  Padahal mereka bertetangga dengan orang-orang yang berbeda adama. Mereka datang ke toko-toko orang-orang yang berbeda agama. Padahal baju mereka, jam tangan mereka, celana dalam mereka, tempat tidur mereka, dan sebagainya adalah buatan orang-orang yang berbeda agama.
Adakah yang tahu persis dari sumber yang valid bahwa baju kotak-kotak Jokowi mempunyai makna tertentu yang mendasar? Jangan dulu berprasangka aneh-aneh jika belum bertanya kepada sumbernya. Mengapa Jokowi mengenakan baju kotak-kotak? Karena dia tahu betul bahwa bangsa kita ini terkotak-kotak, begitu banyak perbedaan, tetapi ketahuilah bahwa yang terkotak-kotak itu ada dalam satu badan bangsa Indonesia. Semua kotak itu ada dalam NKRI. Mau mau mengobrak-abrik? Mau memecah belah? Mau menghancurkan NKRI? Mau mendirikan negara lagi dalam satu negara? Ingat sejarah Bung, negara ini dibangun tidak oleh satu agama. Maka saling berbuat baiklah. Saya, anda, dan mereka adalah manusia yang paling suka dihormati, dihargai, dianggap saudara paling tidak sebagai saudara sebangsa senegara. TITIK.


Doktrinisasi Melalui Lagu

Doktrinisasi Melalui Lagu

Tanpa mengurangi penghargaan terhadap pencipta lagu anak-anak, tulisan ini hanya sebuah hasil isengnya berpikir. Ada beberapa lagu anak yang menurut saya lemah logikanya. Entah disengaja untuk kepentingan notasi atau memudahkan diingat, tapi agak menggelitik jika terpikirkan. Contoh lagu anak Bintang Kecil. Lirik lagu tersebut ada dua versi. Perbedaannya terletak pada satu kata pada baris pertama lirik. Satu versi menyebut kata ‘biru’ dan satu lagi kata ‘tinggi.’ Penciptanya juga ada dua versi. Ada yang mengaku ciptaan Meinar Loeis, satu lagi mengaku bernama Daldjono. Entah siapa yang benar. Perhatikan liriknya secara seksama berikut. Bintang Kecil Bintang kecil/di langit yang biru (tinggi)/amat banyak/menghias angkasa Aku ingin/terbang dan menari/jauh tinggi/ke tempat kau berada Yang paling terkenal dan paling lama menjadi lagu kesukaan ibu-ibu guru Taman Kanak-Kanak dan anak kecil adalah yang menggunakan kata ‘biru.’ Bintang kecil logikanya hanya muncul pada malam hari. Seharusnya bukan ‘di langit yang biru’ tapi ‘di langit yang hitam.’ Karena mungkin terasa aneh di logika, kemudian populerlah versi kedua dengan menggunakan kata ‘tinggi.’ Lumayan, sudah masuk akal. Pertanyaannya, apakah si penciptanya, yang entah siapa itu, tidak menggunakan logika yang kongkrit? Ataukah dibiarkan ‘nyeleneh’ begitu biar populer? Materi begini memang cocoknya di cocokpedia.com. Hahaha. Lagu kedua, yang tak kalah anehnya adalah Lagu Balonku. Perhatikan liriknya berikut. Balonku Balonku ada lima/rupa-rupa warnanya/merah kuning kelabu/merah muda dan biru/ Meletus balon hijau/dor/hatiku amat kacau/balonku tinggal empat/kupegang erat-erat. Lagu ini sunggur benar-benar menyesatkan. Korupsi. Curang. Ada sesuatu yang tidak lugas, tapi disembunyikan. Baru setalah tidak berguna dan meletus, balonnya baru disebutkan. Seandainya balon hijau tidak meletus, pasti akan tetap mengaku mempunyai balon lima sedangkan balon hijau tetap disembunyikan, entah di mana. Kalau pada kenyataannya memang ada lima balon, mengapa muncul balon hijau? Mengapa harus hijau yang dikorbankan? Lagu ketiga, Menanam Jagung. Perhatikan liriknya. Menanam Jagung Ayo, kawan kita bersama/menanam jagung di kebun kita Ambil cangkulmu/ambil pangkurmu/kita bekerja tak jemu-jemu Cangkul, cangkul yang dalam/tanah yang longgar jagung kutanam Beri pupuk supaya subur/ tanamkan benih dengan teratur Jagungnya besar lebat buahnya/ tentu berguna bagi semua Cangkul, cangkul aku gembira/menanam jagung di kebun kita Lirik lagu yang inkonsisten. Pada baik pertama mengajak teman-teman sedangkan pada baik terakhir hanya dirinya (aku) sendiri yang bergembira. Kasihan teman-temannya. Inkonsisten yang kedua adalah kata ‘pangkur’ dan ‘cangkul.’ Pangkur menurut pengertian dalam kamus Bahasa Indonesia adalah cangkul sedangkan cangkul mempunyai makna alat untuk menggal yang terdiri dari gagang dan daun cangkul alias tetap berarti cangkul. Coba tanyakan anak-anak! Pada lagu tersebut mereka membawa berapa alat untuk menggali tanah? Pasti mereka menjawab dua padahal satu alat yang memiliki nama ganda. Inkonsistensi ketiga adalah pada ‘cangkul yang dalam’ dan diulang-ulang. Yang ditanam bukankah biji jagung yang hanya sebutir atau tiga butir? Bukan segerobak atau bahkan satu truk yang dimasukkan dalam satu lubang? Tidak perlu dalam, bukan? Hahaha. Baru tiga lagu. Bagaimana dengan lagu anak yang lain? Harus lebih hati-hati, harus lebih selektif karena apa pun yang dibiasakan kepada anak-anak akan menjadi materi bawah sadarnya yang suatu hari akan muncul sebagai sikapnya. Anak-anak mudah menyerap pembelajaran. Melalui lagu, mereka terhibur. Dan melalui lagu doktrin apa pun akan tertanam. Perilaku korup, pembohong, suka menyembunyikan sesuatu, pintar mengakali, tidak konsisten, tidak logis, suka tahayul, terburu-buru, dan sebagainya rata-rata ada tersembunyi di balik lirik lagu-lagu anak-anak. Pembiasaan dimulai dari rumah, dari PAUD dan TK, SD, dan sampai dewasa pun mereka ingat lagu-lagu masa kecilnya yang secara tidak sadar memberikan andil terbentuknya sikap mereka kelak ketika dewasa. Ada beberapa lagu lagi sebenarnya yang ingin dikupas tuntas tas tas. Seperti lagu Bangun Tidur, Pok Ame-Ame, Burung Kutilang, Naik-Naik Ke Puncak Gunung, Pelangi, dan sebagainya. Silakan, dirasa-rasa sendiri, dinikmati, dikupas, dianalis logikanya, temukan kemudian share.
Yang Suka Menyanyikan Lagu Nina Bobo Harus Tahu Sejarahnya

Yang Suka Menyanyikan Lagu Nina Bobo Harus Tahu Sejarahnya

Di negara nusantara ini, lagu Nina Bobok sudah tidak asing. Sebagian besar sudah menjadi riuala menidurkan anak. Tapi, tahukan ibu tentang sejarah lagu ini? Berikut mungkin manjadi pengetahuan tambahan tentang lagu Nina Bobok.
Kisah bermula dari menikahnya Van Rodjnik berkebangsaan Belanda, dengan Mustika, berkebangsaan Jawa Nusantara. Lahirnya seorang puteri bernama Helelina Mustika Van Rodjnik. Setiap akan tidur, sang mama selalu menyanyikan lagu buat Helelina Mustika Van Rodjnik (Nina) hingga Nina pulas. Tapi, belum mencapai remaja Si Nina meninggal dunia. Sang mama terpukul hebat jiwanya. Ia tak menerima kenyataan tersebut.
Sejak kepergian Nina pada tahun 1929, sang mama sering jatuh sakit. Tapi ia tetap tak mau berhenti menyanyikan lagu untuk Nina. Seetiap malam menjelang tidur, sang mama selalu menyanyikannya. Karena sakit parah ditambah sakit secara psikologis, sang mama akhirnya meninggal pula.
Menyanyikan lagu Nina Bobok kemudian dilanjutkan oleh sang papa yakni Van Rodjnik. Karena kesedihannya yang mendalam ia tetap menjaga kebiasaan tersebut, menyanyikan lagu Nina Bobok. Itu ia lakukan selam bertahun-tahun. Ia selalu menyanyikannya di tempat tidur Nina.

Setelah bertahun-tahun pula, ia pernah berhenti menyanyikannya. Lalu pada malam hari, Van Ridjnik merasa ada suara tangisan anak perempuan kecil. Ia mencari sumber suara itu. Ternyata ia mendapati Nina bertanya pada dirinya, ”Papa, kenapa Papa tak pernah menyanyikan lagu untuk Nina lagi?” Pertanyaan tersebut ditanyakan oleh Nina sambil menangis. Sejak itu, Van Rodjnik kembali menyanyikan lagu tersebut untuk Nina setiap malam sehingga suara tangisan anak kecil tak pernah terdengar lagi. 

Tak hanya menyimpan sejarah panjang mengenai cerita di balik nama Nina dalam lagu Nina Bobo, ternyata hingga kini pun lagu Nina Bobo masih dikenal sebagai lagu yang dapat menenangkan anak kecil yang belum bisa tertidur dan juga sedikit rewel. Bahkan ada cerita yang menyebutkan bahwa apabila seseorang menyanyikan lagu Nina Bobo untuk anaknya, maka Nina akan hadir di tempat tersebut dan juga turut menenangkan anak kecil yang masih sulit tertidur agar akhirnya dapat tertidur dengan tenang. 

Di kalangan masyarakat Nusantara, lagu ini sebenarnya telah menjadi salah satu lagu legendaris yang selalu dinyanyikan untuk menenangkan anak kecil yang tak kunjung tertidur. Dan banyak orang tua yang memiliki anak yang masih kecil mengatakan bahwa biasanya anak yang terus-terusan menangis pasti akan tenang setelah dinyanyikan lagu Nina Bobo. Anehnya, cerita mengenai Nina tak hanya terkenal di Pulau Jawa saja, melainkan juga terkenal hingga ke seluruh sudut nusantara. Bahkan, Lagu ini pernah dibawakan oleh band orkestra dalam konser yang diadakan di Belanda. 

Maka dapat disimpulkan bahwa lagu Nina Bobo pun telah terkenal hingga ke luar negeri. Terlepas dari kemampuan lagu Nina Bobo untuk menenangkan anak kecil yang sulit tertidur, namun sebenarnya lagu Nina Bobo tersebut diawali dari sebuah ungkapan cinta dari orang tua untuk anaknya, meski hingga akhirnya anak tersebut telah meninggal dunia, namun mama dan papanya tak pernah berhenti menyanyikan lagu tersebut untuk putrinya agar bisa tertidur dengan nyenyak. Bahkan setelah pada akhirnya mama Nina juga turut meninggal dunia, papanya pun masih tetap setia menyanyikan lagu tersebut untuk Nina Putrinya, Mustika yang merupakan mama Nina, ternyata dapat menciptakan sebuah lagu yang indah dengan nada dan lirik yang sederhana dan mudah untuk dihafalkan sehingga pada akhirnya lagu Nina Bobo melegenda. (Sumber asli : Setiono Hadi)



Mahasiswi Ma Chung Mewawancaraiku

Mahasiswi Ma Chung Mewawancaraiku

Ketika sedang menikmati secangkir kopi di sebuah cafe kecil di kota Malang, seseorang menginboxku dan meminta waktu bertemu. Baiklah, sekarang bisa, balasku. Sesampai di tempat, dia menyatakan tujuannya. Apa yang sebenarnya terjadi dengan sistem pendidikan saat ini? Tanyanya.
Dia adalah seorang mahasiswi Ma Chung semester awal. Dilihat dari bentuk matanya, sepertinya dia Chiness. Sebut saja namanya Meme. Bukan Meme yang lagi trend di instagram dengan joke-jokenya yang kritis. Dengan kaca matanya, terkesan ia memaksakan diri agar terlihat matanya agak lebar. Boleh lah.
Mengapa dia bertanya seperti itu? Ternyata dia ingin membuat essay untuk ikut lomba penulisan essay tingkat mahasiswa yang diadakan kam
pusnya. Kubilang essay itu sangat sulit. Menulis essay butuh jam terbang lama dengan membiasakan budaya literasi yang disiplin. Artinya butuh wawasan yang luas dan banyak tentang apapun.
Baiklah dengarkan baik-baik dan cepat catat titik-komanya karena pembicaraan kita ini menyangkut nasib 20 tahun ke depan anak-anak bangsa. Jadi tidak bisa membahasnya dengan tidak serius. Dia mengangguk dan menyiapkan alat tulis, siap mencoret.
Karena kamu bertanya apa yang terjadi dengan sistem pendidikan sekarang, maka aku akan menjawabnya beberapa hal. Pertama, sistem pendidikan sejak dulu telah dipisahkan dari agama. Sontak matanya tajam memandangku dengan dilanjutkan pertanyaan ‘mengapa bisa begitu?’ 1 +1 = 2. Itu pasti dalam bilangan asli. Itu dari pelajaran Matematika, kan? Ia pun mengangguk. Kulanjutkan, Matematika, IPA, dan sebagainya itu adalah pelajaran agama. Tidak perlu dipisahkan dengan agama pelajaran agama secara terpisah. Kasarnya pendidikan kita telah menganut sistem sekuler. Sebenarnya tidak juga perlu dipisahkan antara kementerian pendidikan dan kebudayaan dengan kementerian agama. Akibatnya kita tidak pernah menemukan satu titik kesepakatan tentang pendidikan yang dipayungi oleh dua kementerian.
Kulihat dia tampak serius mencatat, sambil sesekali kulirik hasilnya. Sambil sesekali kuberi tahu cara mencatat cepat. Kedua, sistem pendidikan sekarang terindikasi dijauhkan dari Pancasila. Pancasila yang disepakati secara nasional hanya dijadikan tambal butuh dalam pendidikan. Tidak pernah serius menjadikannya pedoman hidup bermasyarakat dan bernegara. Pancasila berkali-kali dikebiri di dalam pendidikan. Pendidikan dengan merk pendidikan karakter dan sebagainya tidak pernah mempunyai frame yang jelas tentang karakter padahal pada Pancasila benar-benar disebutkan secara rinci dalam butir-butir Pancasila. Dulu ada mata pelajaran bernama PMP, Pendidikan Moral Pancasila, berubah menjadi PPKN yakni Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan. Kemudian, menjadi PKn saja, Pendidikan Kewarganegaraan. Pancasilanya disembelih. Hahahahah.
Kulihat dia hanya mengernyitkan kulit dahinya. Baiklah kita lanjutkan yang ketiga. Ketiga, sistem pendidikan kita akhir-akhirnya mencoba menjauhkan sejarah dengan pendidikan. Banyak di antara kita tidak banyak tahu siapa itu Panglima Polim, Cut Nyak Dien, Dewi Sartika, dan sebagainya. Yang mereka tahu adalah pahlawan-pahlawan sinetron dan iklan di televisi. Kementerian pendidikan yang dulu aktif membuat literasi audio visual sekarang sudah vakum. Dulu pernah ada pendidikan sejarah, ada PSPB kepanjangan dari Pendidikan Sajarah Perjuangan Bangsa. Sekarang murni tematik, dan hanya sedikit sekali bagian sejarah bangsa yang mendapatkan tempat di halaman-halaman buku wajib siswa. Miris, kan? Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai pahlawanannya. Benar atau salah?
Keempat, pendidikan sejak dulu selalu memisahkan pengetahuan dan keterampailan dengan dunia nyata. Di kelas hanya membelajarkan konsep tanpa diberi tahu apa manfaatnya nanti. Pendidikan yang jauh dari kenyataan tidak banyak memberikan keahlian kepada para siswa. Siswa yang berada di daerah pesisir harusnya diajak ke pesisir, diberi pengetahuan secara langsung tentang jenis-jenis perahu, mata pencaharian, dan suka duka nelayan, serta teknologi tepat guna untuk meningkatkan pengahasilan sebagai nelayan.
Dan yang kelima, lima saja ya? Dengan lima pernyataanku ini semoga menjadikanmu lebih luas lagi mengkajinya untuk kemajuan pendidikan nasional. Yang kelima, kurikulum kita selalu dijadikan bahan ujicoba. Coba nanti kamu kaji perubahan kurikulum dari tahun 1975, 1984, 1996, 2004, 2006, dan 2013. Pasti kamu akan menemukan perbandingan-perbandingan visi misinya, tujuannya, dan kompetensi yang diharapkan pemerintah dapat membekali para siswa. Dan perlu kamu ingat, ketika kurikulum baru diluncurkan mengganti kurikulum sebelumnya, butuh waktu 20 tahun untuk melihat hasilnya. Ketika dalam 5 limat sudah berganti kurikulum dua kali, maka berapa tahun kita telah rugi. Dan korbannya adalah kita, para siswa, para orang tua siswa, masyarakat, dan bangsa kita sendiri.
Sudah, itu saja ya. Kalau nantinya ketika kamu browsing menemukan hal-hal lain seperti campur tangan pihak asing mencengkram dan mendikte sistem pendidikan kita sehingga seperti sekarang ini, itu fakta juga. Kajilah dengan bijaksana. Kalaupun ada yang kusampaikan tidak sesuai dengan hukum dan undang-undang sistem pendidikan nasional serta Undang-Undang Dasar 1945, kabari saya.
Sudah kuduga, kamu akan bertanya bagaimana solusinya. Ada beberapa pemikiran. Pertama, kembali kepada ruh Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional dan Undang-Undang Dasar 1945. Kedua, kementerian pendidikan harus dipimpin oleh praktisi bukan akademisi. Ketiga, kembali gali sistem pendidikan kita yang pahlawan kita wariskan kepada kita seperti sistem pendidikan Taman Siswa, warisan Ki Hajar Dewantara; Belajar Sejati, warisan Romo Mangunwijaya; dan konsep pendidikan pesantren. Tiga itu sudah cukup, tidak perlu mengimpor konsep dan sistem pendidikan yang telah kadaluarwa dari negara lain. Dengan konsep tiga itu tadi, bangsa kita menjadi guru. Masyarakat asing banyak yang berguru kepada bangsa kita, sekarang terbalik kita yang berguru kepada mereka. Sudah ya, cukup. Semoga tulisanmu tajam analisisnya. Semoga juara. Sukses.


Keahlihan Berteriak

Keahlihan Berteriak

Apa mereka kira kita ini buta huruf? Buta aksara? Para calo terminal berteriak-teriak menyebutkan kota-kota tujuan pemberangkatan. “Malang, Solo, Madium, Jogja, Madura, dan sebagainya. Mereka bertanya: Tujuan ke mana Pak? Tujuan ke mana Bu? Tujuan ke mana Mbak? Tujuan ke mana Mas? Ketika jawaban kita sesuai dengan kota tujuan yang mereka siarkan, mereka akan menyeret kita hingga ke bus. Sebaliknya ketika jawaban kita tidak diharapkan mereka menghindar, membiarkan kita pergi. Lain halnya ketika kita tidak menjawab, dan membiarkan mereka berkali-kali bertanya, maka mereka pun akan meresponnya dengan tidak baik. Ada juga yang mengumpat.
Pada siang hari, mereka diawasi oleh petugas dari DLLAJ. Mereka dipaksa berbaris rapi tidak lagi mengejar-ngejar calon penumpang bus. Berbeda ketika sore atau malam hari, mereka memburu calon penumpang, ditarik lengannya, disentuh, atau bahkan dipisuhi.
Sebenarnya mereka tidak menganggap kita bodoh. Pada tiap cluster, tempat antre bus, di atasnya ada nama-nama kota tujuan yang tertempel dan bertuliskan sangat besar. Tidak mungkin para calon penumpang salah memilih bus. Sebenarnya mereka tidak mempunyai pekerjaan lain selain meneriakkan nama-nama kota tujuan kepada calon penumpan. Mereka berteriak seperti itu agar terlihat seolah-olah mereka bekerja sehingga ketika bus berangkat, kennek bus memberi mereka uang sekedarnya. Ada yang mendapatkan lima ribu rupiah per bus, ada yang sepuluh ribu. Bergantung seberapa dermawan kennek bus yang mereka caloi.
Selain mereka, ada juga pedagang asongan. Jumlahnya juga tidak sedikit. Keahliannya juga berteriak sambil menjajakan dagangannya. Cara mereka menjajakan juga bisa dinilai tidak sopan. Mengganggu ketenteraman penumpang. Asongannya beterbangan di atas kepala kita. Mereka menaruh dagangan satu per satu di pangkuan penumpang. Apa saja dari mereka. Kadang satu pangkuan penumpang kadang ada lebih dari tiga jenis barang dagangan. Ketiak mereka juga berlesatan di atas hidung kita. Benar-benar pemandangan yang tidak indah.
Pada saat kita pura-pura tidur pun mereka mengencangkan urat leher mereka dan tetap saja mereka meletakkan dagangannya di pangkuan kita. Semisal di pangkuan kita ada tas, atau penghalang, tetap saja mereka mencari cara meletakkan barang dagangannya bertengger. Adakah yang marah? Tampak tak satu pun. Para penumpang memakluminya walaupun dengan sedikit jengkel. Ya sudah tidak mengapa, toh mereka mencari makan. Nasib kita masih lebih baik dari mereka. Anggapan demikian yang sedikit membuat rasa jengkel kita mereda.
Terakhir, yang juga mempunyai keahlian berteriak-teriak adalah pengamen. Masih mending kalau suaranya bagus, atau tampilannya sedap dipandang, atau harum, atau sedikit profesional. Kenyataannya mereka hanya bermodalkan gitar yang juga tidak enak didengar malah ada juga yang hanya menggunakan alat nada ritmis, tutup botol, ecek-ecek. Setelah menyanyikan satu atau dua buah lagu, mereka pun menadahkan tangan. Yang pura-pura tidur atau tidur beneran akan mereka bangunkan. Bahkan ada pula yang memaksa meminta, jika tidak diberi mereka akan mengomel aneh-aneh sambil berlalu.

Begitu unik pemandangan di terminal. Pemandangan yang membuat kita menggeleng-geleng kepala. Sungguh, Tuhan Maha Kreatif, menggelar situasi seperti itu dan menampilkan tokoh kehidupan seperti mereka, melengkapi drama kehidupan yang singkat ini. Asal mereka senang dan bahagia kehidupannya, tak ada salahnya kita berbagi.
Poem of the Day

Poem of the Day


Untuk Mata-Mata Yang Kutinggalkan


kutahan tumpahan air mata di rongga dada
kutahan arus kesedihan di ujung tenggorokan
agar tangis tidak menjadi luka
sedih di mata-mata itu tak sanggup kutatap
semakin dalam kutatap
semakin dalam pula luka menggurat
rasa kehilangan yang memekat
merusak warna langit hati
kepergian ini untuk perjumpaan yang sarat rindu
kepergian ini membawa bermacam kenangan
yang tak dapat dibeli
antara kita ada ikatan hati
terbungkus oleh berkesannya hari-hari
ikatan yang tak mungkin diputus oleh sejuta kerusakan
ikatan yang bila berada di hadapan tuhan
akan disambut dengan senyum ketentraman
perjumpaan yang pernah terjadi takkan pernah berakhir
bila kepergian ini diartikan jarak
maka nantikan sebuah perjumpaan meluapkan samudera rindu
rindu yang memuncakkan kedamaian
luka dan air mata yang pernah menyayat hari dan hati
menjadi sapuan angin yang menumbuhkan harapan
wahai, mata-mata yang menyimpan kesedihan sesaat
tapi menyinarkan semangat hidup yang kuat
bila suatu hari tiba masa perjumpaan
pastikan aku melihat mata-mata yang pernah kutinggalkan
mengerling lincah diikuti sebaris senyum
yang tumbuhnya dari dasar hati
kan kupinta hadiah kemenanganmu tlah lalui jarak ini
berupa kerling mata dan senyum itu
seperti saat kutinggalkan
semoga tuhan menyayangimu selalu
sehingga tak ada satu pun permintaanmu kepada-Nya
yang tak Dia kabulkan.

(Malang, Mei 2012)


Sejak Mengenalmu

jantung ini cuma bisa berdetak
menghasilkan irama
tapi sejak mengenalmu
jantung ini berani menyebut namamu
bahkan memanggil-manggil

sejak mengenalmu
jantung ini telah berani merindu
bahkan telah berani mencinta
aku tak kuasa menahannya
kubiarkan mengalir
karena kalau kubendung
ia akan menyerang jantungku
menghentikannya berdetak
(Malang, 070312)


Beri Aku Cahaya


daun-daun akan segera ditinggalkan warna
warna pun kembali ke pusat cahaya
ranting yang menopang daun juga dahan batang dan akar
yang saling mendukung tegaknya tumbuh
akan diminta kembali kepada tanah

bulan pun dimakan oleh waktu
akan meninggalkan masa-masa purnama
akhirnya lenyap dari pandangan berganti bulan baru dan muda

ya allah sisakan hijau daun untuk kunikmati
sisakan keindahan purnama untuk kesyukuranku pada malam yang berrselimut
engkau pemilik warna dan penggenggam purnama

atau

beri saja aku cahaya

(Sumenep, 290212)
Potret Kecil


potret kecil itu
membuat rindu ini besar
hanya itu yang kupunya
tapi mengundang harapan perjumpaan
yang menghebat setiap saat

potret kecil itu
masih saja kubawa
membuat rindu ini kian besar
kerinduan dan pengharapan ini
membuat segalanya berarti
(Paliat, 18 Juni 2011)


Yang Terindah : Mati Dalam Tatapanmu


tatapanmu lembut
lebih-lebih kepada bayi hati
hingga seluruh gerak dalam tubuhku merasa bersalah
dalam arah tatapanmu aku senang bermanja seperti bocah
kadang pergi jauh
kadang di pangkuanmu dengan rasa aman
bila tatapanmu engkau tarik
siapa lagi yang akan perrhatikan tingkahku yang nakal
dan memanggilku dengan teguran
bila tatapanmu engkau tarik
siapa lagi yang akan mengusap air mata dan memberiku mainan
bila tatapanmu saja sudah kau tarik
tentu tidak ada lagi tempat berharap
bila tatapanmu saja sudah kau tarik
bagaimana bisa aku memandang
bila tatapanmu saja sudah kau tarik
ke mana akan kuhadapkan wajahku
bila tatapanmu saja sudah kau tarik
bukankah aku menjadi bangkai
wahai pemilik tatapan maha lembut
bila sampai mati pun hanya tatapan itu
anugerah terbesarmu bagiku
sungguh nikmat dapat menutup mata dalam tatapanmu  yang terindah

(Sumenep, 190311)

Salam Sejahtera Dari Para Malaikat

mama zi, salam sejahtera dari timur
melalui ini ada yang harus kusampaikan dari hati
kuharap diterima pula oleh hati

tak terhitung pengorbanan kita dalam jarak ini
tapi allah tidak tidur
paham betul dengan keinginan kita
sampai tiap detik kegelisahan kita waktu terlelap
ketahuilah jarak ini putusannya
pilihannya
keridhaannya
yang ada di sekitar kita adalah para malaikat
sibuk menghitung tetesan air mata

hati ikhlasku meninggalkanmu dan zi
membuat para malaikat menangis karena tak sanggup
melakukan seperti yang kita bisa
hati ikhlasmu melepasku pergi dengan lambaian kesabaran
membuat para malaikat bersama-sama turun dari langit
mendoakan keselamatan dan kesejahteraan buat kita dengan rasa haru
sekali-kali mereka tak sanggup berbuat demikian untuk tuhan mereka

harimu dengan berbagai beban yang mestinya kita pikul bersama
demikian pula dengan hariku
telah membuat langit terkuak buat kita
mengundang kita menatap wajah
mencicipi nikmatnya tatapan maha lembut

malammu dan malamku yang semestinya selimut
ketahuilah, para malaikat menjaga tidur kita
merelakan jubah-jubah mereka menyelimuti kita
dan berdoa agar dosa-dosa kita diampuni dalam silih bergantinya terbit fajar

begitulah, sehingga saat kita bertemu kembali
para malaikat pun ikut bersuka melihat kita semua dalam lingkaran kemesraan
yang tak ada bandingannya dengan keluarga ‘siapapun’ saat ini

atas semua ujian keimanan ini semoga kita ikhlas
sehingga kita termasuk orang-orang yang sabar dan pandai bersyukur
sebab dari nafas saja kita sudah tak sanggup menghitung curahan nikmatnya
walau begitu tetap saja tuhan mahatahu apa yang baik buat kita

mama, zi, salam sejahtera dari para malaikat!  
(Sumenep, 130311)

Kerinduan


bulan sabit mengintip dari celah pelampung
angin menusuk-nusuk kulit
laut menghitam menyimpan kerinduan
cahaya cinta membuat sinar di mata
seraut wajah menampak nyata
ombak yang bergelora membawa diri
lari menjauhi rembulan
meninggalkan negeri yang jauh
dengan rindu yang tak habis-habis
pergi untuk menemukan cintanya
yang hampir busuk merindu
(Banyuwangi, 26 Juni 2010)


LOVE IN NAGA CITY

you have to know
since I’ve been meeting
I like u
can't be explained why
but I can  feel
with the time I fall in love
I know this is impossible situation
however you will never forget
here
 a foreigner always loving you

I will bring this feeling
like I bring my heart
feel it
like I feel this love
forever until the last second tick
(phillipiness, 18-12-2008)


yang

yang datang saat sepi
yang menyinari saat  gelap
yang mendampingi saat menangis
yang mengulur tangan saat tenggelam
yang menghapus air mata saat derai
yang mengobati saat luka
yang memapah saat lumpuh
yang menengok saat sakit
yang menjaga saat sehat
yang merangkul saat takut
yang memeluk saat cemas
yang mengingatkan saat lupa
yang menegur saat khilaf
yang membangunkan saat lelap
yang mengantar saat berangkat
yang menyambut saat datang
yang merasakan saat sedih
yang menyenangkan saat bertemu
yang mengenang saat berdoa
kau-lah yang datang

(Surabaya, Juni 2009)

Di Balik Dinding Itu Ada Rahasia
                                                                     

di balik dinding itu
ada warna-warna
endapan suara-suara
terekam kenangan paling manis
tak ada yang tahu
hanya seorang yang telah lama meninggalkannya
tak ada yang ‘kan menengok-nengoknya lagi
karena tak ada yang berani terluka
tak ada yang ‘kan membuka-bukanya lagi
selain terkelupas
                            sendiri
                                              oleh
                                                          takdir
di balik dinding itu
ada rahasia-rahasia
yang menyimpan gerak-gerak
yang menyimpan getar-getar lembut
menguatkan pori-porinya semakin kukuh
tak ada yang menyentuhnya
hanya seorang yang setia menikmati sakit yang termanis
tak ada yang kan menyentuhnya lagi
karena tak ada yang mampu merobohkannya
selain rubuh
                      sendiri
                                  oleh
                                              takdir
(Malang, Mei 2009)






Yang Menggoda Untuk Mencinta

bila semua sudah tiada
baru terasa berarti

bila semua telah hilang
baru terasa hadir

bila semua sudah sunyi
baru terasa lengkap

bila semua telah usai
baru terasa genap

tapi apa yang pernah ada, tiada
yang pernah datang, hilang
hanyalah perjalanan
yang jejaknya pun memudar

tapi apa yang pernah ada tiada
yang pernah datang hilang
hanyalah putaran samudera kasih
yang takkan ada kasih itu
kecuali selalu menggoda untuk mencinta

(Sumenep, Oktober 2004)



le Avila

honesty since fist time i know
flowers
light of the sun
light of the moon and stars
the gold
all of them say about who you are
but so hard to be sure
what did happen before we meet
I thought just dream

so hard to find you
long trip and distance
I do with one reason : love
when I really see your face
sure the angel has been coming for me with smile
I hug you, angel
we are to be one
all of flowers to became smell of you
sun moon and stars in my heart bright again
my soul full spirit cause you
all of my tired restored
thank God sent me the angel in my life
deep faith for you
and thanks giving to angel
the one who present in my heart
love you so much
(Batangas-Philippine, 2009)