Apa Yang Menjadi Trend  Cewek Cantik?

Apa Yang Menjadi Trend Cewek Cantik?

Nah, ini dia yang perlu diketahui. Mungkin sudah pada tahu. Bagi yang belum tahu, mungkin tulisan ini bisa menjadi informasi baru. Apa yang menjadi trend cewek cantik sekarang? Trend tersebut diposting secara viral di media sosial seperti instagram, facebook, tweeter, dan wechat.
Berikut beberapa contoh status dan postingan tersebut. “Jual Pembesar dan Pemanjang Mr. P, Sex tahan lama, Promo”;  “Jual Pembesar dan Pemanjang Penis”;  “Mau Mr. P Jreng? Minat PM”; dan sebagainya yang pada intinya obat tersebut apa pun produknya diikat dengan kata kunci ‘membesarkan, memanjangkan, dan tahan lama.’

Dan siapakah mereka yang menawarkan obat-obatan tersebut? Mereka rata-rata mahasiswi, cewek/gadis, atau lulusan sekolah menengah. Menurut mereka, pekerjaan sampingan dan santai tersebut dapat menambah penghasilan. Bahkan, ada yang memang menjadikannya pengahasilan satu-satunya yang menggiurkan karena ada tip-nya.

Berikut pernyataan beberapa ahli sosial dan marketing. Menurut Louie, Obermiller, dan Stafford dalam Ishak (2008) daya pikat fisik akan cenderung memberikan dampak persuasi bagi orang yang melihatnya. Kahle, Homer dan Rex, dalam Ishak (2008) endorser yang mempunyai daya pikat lebih mampu mendorong munculnya niat beli audiennya dari pada yang kurang mempunyai daya pikat. Sedangkan menurut Goldsmith dalam Ishak (2008) daya pikat fisik (cantik atau tampan) selebriti dapat mempengaruhi opini audience dalam mengevaluasi produk.

Dengan kata lain, produk yang dijual cewek cantik akan lebih diminati daripada cewek yang sedang-sedang saja. Makanya ramai di media sosial iklan-iklan tentang obat-obat memperbesar Mr. P dan memanjangkannya yang diposting oleh cewek-cewek yang sebagian besar cantik.

Perhatikan beberapa contoh dalam gambar!

Ada pertanyaan, apakah semua display picture (DP) di media sosial yang bergambar cewek cantik semua adalah asli orangnya? Ataukah mereka sebagian menggunakan foto orang lain? Ataukah sebenarnya yang menjual adalah para cowok? Hal itu akan tampak dalam realitas jika pembeli menggunakan metode COD (cash on delivery) karena pembeli dan penjual akan bertemu langsung saat transaksi.

Para pembaca, adakah anda mempunyai tafsiran lain atas fenomena ini? Adakah pikiran menggelitik dengan maraknya penjualan obat pembesar dan pemanjang Mr. P ini? Gejala apakah sebenarnya ini? Apakah masyarakat di kampung Indonesia sebagian besar telah impoten? Atau mereka yang sudah berusia lanjut dan mengalami faktor U, tapi masih ambisi untuk bisa dikatakan perkasa? Apa yang ada dalam pikiran anda?
Kampung Indonesia

Kampung Indonesia

“Bang Badrul mau kemana?” Tanya seorang temannya.
“Saya mau mencari kampung Indonesia.”
Ternyata berkeliling se-Indonesia, tak satu pun ada nama kampung Indonesia. Sebuah kampung berbeda dengan kampung lain. Ada ciri khususnya. Kampung Jawa pasti ada adat Jawa, bahasa Jawa, dan masakan Jawa. Kampung Betawi pasti bahasa Betawi, kesenian Betawi, dan orang betawi.
Nah, ini katanya ada kampung Indonesia tapi di mana? Se-Indonesia tidak ada yang namanya kampung Indonesia. Fiktif kayaknya. Sepertinya hanya sebuah ilusi. Sebuah mimpi. Ciri-cirinya juga tak ada baik-baiknya. Mochtar Lubis sampai-sampai membuat buku tentang ciri-ciri kampung Indonesia. Dalam bukunya ia menggambarkan bahwa orang-orang yang ada di kampung Indonesia itu hipokrit, enggan bertanggung jawab, berjiwa feodal, percaya tahayul, berwatak lemah, boros, pemalas, suka menggerutu, cepat cemburu, dengki, dan plagiat.
Tak berbahasa Indonesia, budayanya pemalas,  hipokrit, korup, pengkhayal, bahkan di pusat negara Indonesia tak ditemukan kampung Indonesia. Malah yang ada kampung Inggris. Muncul satu cirinya yakni berbahasa Inggris, tapi berbudaya Jawa. Ada lagi kampung Arab. Cirinya penduduknya berketurunan Arab, tapi berbahasa macam-macam seperti bahasa Arab, Madura, dan Jawa. Aneh Kampung Indonesia.
Di manakah kampung Indonesia itu? Katanya ciri yang tampak pada kampung Indonesia berkibar bendera Indonesia, terpajang Pancasila dan pejabat tertinggi eksekutif negara, tapi kenapa ciri itu adanya justru di kampung yang bukan kampung Indonesia. Bahkan, di kampung yang disebut sebagai kampung Indonesia itu anak-anak kecil di kampung itu lebih hafal lagu pop, rock, dan dangdut daripada lagu-lagu wajib nasional (apalagi Indonesia Raya). Di kampung yang bernama Indonesia juga masyarakatnya paling suka lagu dangdut, paling suka menonton sinetron, dan bergosip. Budayanya yang lain adalah terlambat. Bagi sebagian masyarakatnya terlambat menjadi sebuah prestise. Orang yang datang terlambat akan tampak seperti orang yang sibuk dan penting.
Di kampung yang dinamai kampung Indonesia itu juga hampir semua masalah tidak ada yang selesai. Korupsi menjadi kelaziman. Berlibur ke kampung Bali dianggap orang kaya. Mahasiswanya suka berdemo. Ahli menipu dan membajak. Maling ayam biasanya dihabisi sedangkan yang korup dikamarhotelkan. Wao, hebat!
Tunjukkan satu kampung saja yang berbahasa Indonesia, berbaju ala Indonesia, dan berbudaya Indonesia. Kalau memang ada, saya akan berkunjung. Mengapa kampung Indonesia yang dikenal justru tabiatnya yang kebanyakan tidak baik? Jangan-jangan, kampung Indonesia hanyal virus yang menyebarkan ketidakbaikan?
Di kampung Indonesia juga paling banyak pengemisnya, suka dengan gelar-gelar (seperti gelar haji), merasa paling pintar, merasa paling religius, gemar mencaci dengan kata-kata binatang. Badrul menjadi makin bingung, di manakah kampung Indonesia itu. Kok ya ada kampung yang seperti itu.
Katanya juga, orang-orang di kampung Indonesia itu lebih Inggris daripada orang Inggris. Lebih suka makanan junk food. Lebih arab daripada orang Arab. Suka membuat hal sederhana menjadi rumit. Segala urusan uang yang berbicara. Wah, wah, wah!
Badrul sendiri sebenarnya bukan dari kampung Indonesia. Badrul berasal dari kampung Jawa. Kampung yang kental dengan bahasa Jawa yang medhok. Kamping yang berbudaya becik setitik olo ketoro, wayang, beskap, gamelan, kidung, topeng, blangkon, dan gethuk. Isteri Badrul juga bukan dari kampung Indonesia. Maiyah, isteri Badrul berasal dari kampung Madura. Sebuah kampung yang berbudaya setara dengan kebudayaan Jawa. Bercirikan andhap asor, ayam cukir, soto dan sate, sarungan, kerapan sapi, tandhuk majang, sakera, dan Arya Wiraraja.
Kampung Jawa dan Madura memiliki ciri yang jelas. Kedua berbudaya tinggi. Nah, ini kampung Indonesia, di manakah letaknya? Siapakah sebenarnya yang menghembuskan nama kampung Indonesia ini? Apakah orang asing atau musuh yang mencoba menyaingi kampung-kampung nusantara? Ataukah kesepakatan sejati atas kampung-kampung untuk mendirikan kampung baru yang lebih besar dari sebuah kampung yang ada? Ataukah hanya muslihat yang tersembunyi untuk menjadikan kampung-kampung yang ada menjadi tambang industri untuk kepentingan tertentu dan orang tertentu? Kasihan kampung-kampung yang telah diIndonesiakan menjadi hilang jati dirinya, menjadi hilang kekayaannya.
“Hei, Bang Badrul, sudah ketemu kampung Indonesianya?”
“Dari ujung tanah Rencong hingga tanah Papua, saya belum bertemu dengan kampung Indonesia! Mustahil kan? Ada ciri-cirinya tapi tidak ada wujud dan tempatnya. Tapi, saudaraku, saya kan masih mencarinya melalui jalur darat. Belum jalur air, udara, dan alam gaib.”
“Begitu ya, Bang?”
“Ho oh!”
Sumber laman sendiri pada http://www.kompasiana.com/sherianto/kampung-indonesia_57404a7921afbd8608826b0a