KULINER ATAS NAMA SETAN

KULINER ATAS NAMA SETAN

Para makhluk gaib sedunia dan akhirat pantas jika merasa dimanfaatkan manusia. Untuk kepentingan urusan perut manusia telah banyak yang menggunakan nama-nama iblis dan setan dalam menu-menu kuliner di hampir seluruh dunia. Perhatikan gambar-gambar banner atau spanduk yang mengatasnamakan setan dan sebangsanya.
Nah, Mie Setan. Itu salah satunya. Apakah sebenarnya modus yang melatarbelakangi penamaan kuliner tersebut? Apakah sekedar sensasi agar menimbulkan kesan penasaran biar lebih banyak pengunjung? Sejak kapan setan boleh dicatut namanya untuk kepentingan ekonomi manusia? Pernahkah manusia mendapatkan legalitas resmi penggunaan nama-nama tersebut dari yang bersangkutan? 
Ada nuansa pemanfaatan yang parasitisme. Menguntungkan satu pihak. Atau malah menguntungkan setan karena bisa lebih populer di kalangan manusia dan lebih akrab dalam kehidupan manusia sehingga setan tidak lagi menakutkan.

Coba perhatikan gambar lain yang bernuansa sama berikut. Kalau yang gambar sebelumnya mengatasnamakan setan, gambar berikutnya mengatasnamakan nenek moyang setan, yakni iblis. Wah, wah, keterlaluan sekali apa yang dilakukan manusia terhadap setan. Apakah sudah tidak ada lagi nama-nama yang baik yang bisa digunakan untuk mengundang keberkahan? Apakah dengan menggunakan setan yang jelas-jelas musuh manusia dan kemanusiaan membawa keberkahan? Apakah ada dasar anjuran dari kitab, filsafat, ilmu, konsep dan sebagainya yang menganjurkan untuk menggunakan nama setan dan ibis untuk keberkahan urusan manusia? Sepertinya tidak ada satu pun yang menghimbau demikian.
Anjuran penggunaan nama-nama yang baik merupakan doa kepada Tuhan agar apa yang kita beri nama memberikan kebaikan dan keberkahan sesuai dengan pilihan nama baik yang disandangkan. Entah sebagai nama manusia yang baru lahir, nama lembaga kemanusiaan, lembaga agama, nama-nama barang, nama-nama alat, nama-nama toko, alamat, jalan, instansi, dan sebagainya. 
Mie Pedas Jahanam. Hmmm, penggunaan kata jahanam biasa digunakan pada konteks perbuatan yang sangat keji atau sifat kesetanan. Apakah penjual mie tersebut bekerja sama dengan setan? Apakah ia juga mengundang orang-orang yang jahanam untuk menjadi pelanggannya? Apakah ini sebuah gerakan pembesar-besaran kejayaan dan kebesaran setan? Apakah si pengguna nama-nama tersebut sadar dengan apa yang dilakukannya? Atau justru tidak tahu atau juga tidak tahu-menahu yang penting laris? Atau jangan-jangan pengabdi setan?
Ada lagi banner "Rawon Setan." Mengerikan sebenarnya. Tapi karena setiap hari melihatnya menjadi terbiasa. Dan setan dan nenek moyangnya mungkin terbahak-bahak karena mereka telah dicintai banyak manusia melalui makanan.
Terakhir, Nasi Pocong. Sebenarnya banyak hal senada dengan contoh-contoh tersebut. Namun, cukup beberapa saja sebagai sampel bahwa manusia telah melampuai ketidaktahumehahuannya, Sudah melewati batas kewajaran sebagai manusia yang normal. Dan jangan lupa, apa pun yang kita lakukan akan tetap dimintai pertanggungannya di depan Tuhan nantinya setelah dipocongkan.
MENGUBUR PANCASILA DALAM-DALAM

MENGUBUR PANCASILA DALAM-DALAM



”Suatu bangsa akan besar dan kuat bukan oleh bangsa lain, demikian pula lemah dan hancurnya juga bukan oleh bangsa lain, tetapi oleh bangsa itu sendiri” (Ryamizard Ryacudu, 2008).

Sengaja kutipan di atas disertakan dalam tulisan ini untuk sekedar refleksi tentang beberapa pernyataan hasil investigasi sederhana. Beberapa pernyataan tersebut digali dari komunikasi personal dari berbagai kalangan dan diakumulasi dengan mewakilkan tiga nara sumber. Nara sumber  tersebut berasal dari beberapa kota antara lain Malang, Surabaya, dan Sumenep. Juga dari beberapa kota melalui kontak online. Berikut beberapa pernyataan sebagian orang-orang Indonesia tentang Pancasila.
Sebut saja nama orang pertama ini Pak Samad, 63 tahun, asal Sumenep. Menurutnya, dia sama sekali tidak paham apa, mengapa, dan bagaimana tentang Pancasila. Yang ia tahu hanyalah Pancasila disepakati sebagai dasar Negara, berlambang burung Garuda. Ia juga memperkuat bahwa Pancasila itu penting karena di setiap sekolah dan kantor, pasti dipajang Pancasila. Bagi Pak Samad yang ia tahu betul adalah .... (Red. Maaf ia menyebut salah satu organisasi massa). Itu saja, sangat sederhana.
Orang Indonesia yang lain, sebut saja Mas Bro Hendra, 23 tahun, asal Surabaya. Menurutnya secara sadar dan jujur Pancasila adalah korban politik. Ditanya lebih mengapa ia menyebutnya demikian, ia pun menjawab bahwa Pancasila telah diperkosa. Pancasila telah dinodai kesuciannya untuk kepentingan oknum politisi. Pancasila telah diselewengkan menjadi doktrin. Orang-orang pejabat tinggi bernaung di bawah pengaruh saktinya Pancasila sehingga ia sendiri menyatakan bahwa ia benci Pancasila. Dia alergi dengan kata Pancasila. Hmm.
Seseorang yang lain, sebut saja Rini, 35 tahun, asal Kota Bunga, Malang. Janda ini menyatakan bahwa ia dulu pernah hafal butir-butir Pancasila. Menurutnya, butir-butir tersebut harus menjadi bagian dari ruh perilaku setiap orang Indonesia. Namun, ia menyatakan miris ketika semua orang menyalahkan Pancasila bahkan pemerintah mengubur Pancasila dan butir-butirnya. Lebih tragis lagi Pancasila dilenyapkan dari materi pendidikan dan pembelajaran. Akhirnya ia merasa bahwa Pancasila tidak efektif dijadikan sebagai pedoman dan pandangan hidup bangsa karena Pancasila tidak mampu mengikat perilaku kehidupan orang-orang Indonesia. Pernyataan yang cukup memikat.
Ada juga seorang penulis terkenal, kawakan, dan senior menulis buku tentang watak orang-orang Indonesia. Dalam buku tersebut ia menceritakan sifat-sifat yang melekat pada orang-orang Indonesia. Ia katakan dalam dua belas buah watak  yaitu pertama, munafik atau hipokrit. Kedua, enggan bertanggung jawab atas perbuatannya. Ketiga, sikap dan perilaku yang feodal. Keempat, masih percaya pada takhayul. Kelima, artistic tapi suka menjual warisan budaya. Keenam, lemah dalam watak dan karakter.  Ketujuh, tidak hemat bahkan lebih suka berhutang untuk menikmati  keinginannya. Kedelapan, pemalas. Kesembilan, suka mengeluh. Kesepuluh, pencemburu dan dengki. Kesebelas, sok. Dan, keduabelas, orang Indonesia peniru, plagiator hebat. Hmmm, untungya penulis ini telah meninggal dunia, pertengahan 2004 lalu sehingga energi negatif yang ia tulis melemah pengaruhnya.
Beberapa pernyataan yang dihimpun di atas sangat tidak mencerminkan orang-orang Indonesia yang Pancasilais. Atau dengan kata lain, orang-orang Indonesia sangat tidak bermoral Pancasila. Apa benar demikian? Apakah boleh digeneralisasi seperti itu? Melalui media ini, penulis, ingin memberikan satu konsepsi tentang revitalisasi Pancasila yang didasarkan pada hasil pembasisan Pancasila selama 6 tahun, oleh Pergerakan Kebangsaan yang didokumentasikan pada tahun 2012.  Konsepsi tersebut adalah sebagai berikut.
Pertama, adanya kesalahan persepsi dan atau sosialisasi tentang mempersepsikan Pancasila sebagai kaidah moral individual, bukan sebagai dasar negara.  Sebagai dasar negara Pancasila itu mengatur “budi pekerti” negara, bukan budi pekerti orang per orang warga Negara Indonesia. Pidato Bung Karno tanggal 1 Juni 1945, yang kemudian dikenal sebagai Lahirnya Pancasila, adalah untuk menjawab pertanyaan Ketua Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) atas dasar apakah negara Indonesia nanti didirikan. Rapat-rapat BPUPKI tidak pernah membicarakan keutamaan moral orang per orang warga negara dalam negara Indonesia yang akan didirikan nanti tapi lebih pada moral Negara. Moral pelaksana amanah rakyat. Budi pekerti pengemban amanah orang-orang Indonesia, bangsa Indonesia.
Kedua, kesalahan mempersepsikan bahwa seolah-olah Negara Pancasila itu dapat terwujud ketika setiap hidung orang-orang Indonesia sudah hafal Pancasila, butir-butirnya dan mengamalkannya sebagai keutamaan moral individual. Kalau sekarang ini belum terwujud orang-orang Indonesia Pancasilais, itu karena masih ada warga negara yang belum yakin betul atas Pancasila karena teladan yang tampak dari aktor-aktor pengemban amanah Negara Indonesia belum tampak mencerminkan moral Negara yang Pancasilais dan belum bisa dijadikan suri teladan bagi orang-orang Indonesia.
Berpegang pada ketentuan normatif berdasarkan Pembukaan Undang Undang Dasar 1945, bahwa sebagai pokok kaidah fundamental Pancasila akan terwujud melalui pembuatan dan pelaksanaan peraturan perundang-undangan negara, serta terungkap dalam praktik dan kebisaaan bertindak penyelenggara kekuasaan negara. Kesimpulannya: (1) negara Pancasila akan terwujud kalau peraturan perundang-undangan yang dibentuk oleh para penyelenggara negara memang sudah benar-benar sesuai dengan Pancasila dan dilaksanakan sesuai dengan semangat itu, dan (2) para penyelenggara negara, baik eksekutif, legislatif, maupun yudikatif mempunyai kebisaaan bertindak yang sesuai dengan norma-norma Pancasila dan menghindari kebisaaan untuk menyiasati peraturan yang ada demi kepentingannya sendiri atau golongan.
Simple. Sangat sederhana, tapi apakah dengan sadar dan jujur para pengemban amanah rakyat sebagai penyelenggara negara berkenan melakukan dua hal tersebut? Inilah masalah yang sebenarnya. Pancasila adalah dasar negara, “Pokok Kaidah Fundamental Negara”) dan sebagai dasar negara Pancasila mengatur perilaku negara, yang terwujud dalam pembuatan dan pelaksanaan peraturan perundang-undangan (konstitusi, undang-undang, peraturan pemerintah, dan seterusnya) yang sesuai dengan nilai-nilai Pancasila serta terungkap dalam praktek dan kebisaaan bertindak para penyelenggara kekuasaan negara.
Pancasila Sebagai Cita-cita Moral Bangsa mempunyai akar langsung pada kehendak sejarah suatu bangsa, dasar yang membentuk negara tersebut, sebagai konsensus atau keputusan politik yang diambil oleh para pendiri negara. Mengapa founding fathers negara Republik Indonesia dengan sepakat bulat menerima Pancasila sebagai konsensus dasar berdirinya negara ? Kalau kita ikuti “suasana kebatinan” yang terungkap dalam sidang-sidang BPUPKI dan PPKI nampak jelas bahwa founding fathers kita berupaya dengan semangat yang gigih untuk menetapkan dasar negara yang dirumuskan sedemikian rupa hingga tiap-tiap suku, golongan, agama, dan kebudayaan dapat  menerimanya. Dengan menerima Pancasila sebagai dasar negara, berarti tiap-tiap suku, golongan, agama, dan kebudayaan bersedia untuk tidak memutlakkan cita-cita golongannya sendiri, tetapi sekaligus juga tidak perlu mengorbankan identitasnya masing-masing.

What the next? Bagaimana ujud revitalitasi yang dapat dilakukan agar orang-orang Indonesia tidak kehilangan identitas dan jati dirinya sehingga tidak lagi dipandang rendah oleh bangsanya sendiri? Dengan semangat Kebangkitan Pancasila ada dua solusi: pertama, mengembalikan konstruksi pemahaman Pancasila, baik sebagai dasar negara maupun sebagai cita-cita moral bangsa. Kedua, dengan melembagakan dan mengaplikasikan Pancasila secara benar.  Pelembagaan Pancasila harus steril dari versi lama bentukan kepentingan politik yang mengatasnamakan BP7. Langkah yang pertama menentukan langkah berikutnya. Ketika itu tercapai, maka semaraklah bunyi-bunyian tentang Pancasila dari ruang-ruang kelas, dari mulut-mulut orang-orang Indonesia yang berharuman serta mempelangilah pesona orang-orang Indonesia yang beradab dan beradat ke-Timur-an yang pernah hidup di masa silam. Merdeka!